Karena sebelum kejadian tersebut, Friska bersama keluarga tinggal di rumah lamanya. Dan karna sudah tidak lama di tempati, rumah kosong itu pun akhirnya bisa di tempati oleh Friska untuk memulai kehidupan baru bersama dengan keluarganya.
Setelah beberapa hari tinggal di rumah baru tersebut, seketika mata batin Friska terbuka, sesekali ia melihat makhluk tak kasat mata yang berkeliaran di hadapannya. Ia pun tidak tahu, mengapa tiba-tiba ia menjadi anak indigo yang bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata dan merasakan hal yang aneh terhadap dirinya.
Dan pada malam yang sunyi, Friska duduk di bangku kamarnya yang berada di dekat jendela, seraya menunggu kepulangan Mama Andin dan Papa Darwin.
Bosan yang kian menghadang selalu menghampiri. Ia pun berniat, untuk mengambil sebuah cemilan dari dalam kulkas yang berada di dapur.
"Lapar sekali, bibi masak apa ya malam ini?" tanya Friska dengan mengusap perut yang sedang kelaparan.
"Eh, Non Friska. Ada apa Non malam-malam di dapur? Non pasti lapar ya?" tanya Bi Sumi dengan tersenyun ramah kepadanya.
Friska lalu meminta Bi Sumi, untuk memasak makanan kesukaannya. Karena ia sudah sangat lapar menunggu Mama Papanya pulang. untuk makan bersama dengannya dengan berniat membelikan makanan kesukaannya di salah satu restoran ternama.
"Bi, Mama Papa kok sangat sibuk ya. Mengapa mereka tidak pernah ada waktu untukku?" tanya Friska kepada Bibi sambil memainkan sendok yang berada di depannya.
Lalu, Bi Sumi pun berkata kepada Friska bahwa Mama Andin, dan Papa Darwin bekerja untuk menafkahinya agar Friska mempunyai masa depan yang cerah seperti anak lain di luar sana. Ia pun hanya terdiam memikirkan apakah yang di maksud Bi Sumi itu benar atau tidak.
Akan tetapi Friska merasakan bahwa, ia tidak nyaman dengan kesehariannya yang selalu sendiri tanpa ditemani oleh kedua orang tuanya yang super sibuk. Ia ingin seperti anak yang lain. Yang bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Ini Non makanannya, silakan di makan kalau begitu bibi mau izin ke kamar dulu ya Non," ucap bibi kepada Friska sambil pergi meninggalkan Friska.
Lalu Friska menyantap makanannya kembali yang sudah disediakan oleh Bi Sumi. Dikesunyian malam, ia hanya makan malam dengan seorang diri tanpa ditemani oleh kedua orang tuanya. Suara rintikan hujan pun kian terdengar oleh Friska, yang menemani makan malamnya hanya seorang diri.
Setelah menghabiskan makan malamnya, Friska pun kembali ke kamar, untuk beristirahat kembali sembari menunggu Mama Andin dan Papa Darwin pulang. Di saat ia sedang berjalan ke atas lantai rumahnya, tiba-tiba Friska mendengar suara tangisan yang terdengar dari kamar kosong yang sudah lama, tidak di tempati itu. Dengan rasa penasaran, ia pun menghampiri suara tersebut.
BRUKK!
Suara keras, yang terdengar kembali dari dalam kamar kosong, membuatnya merasa semakin penasaran.
Lalu, Friska memastikan tidak ada siapa pun yang berada didekatnya itu. Ia semakin penasaran dan membuka pintu kamar itu dengan pelan. Di saat itu ia tidak melihat seseorang yang berada di dalam kamar kosong tersebut.
Hati kecilnya berkata bahwa itu adalah perasaannya saja yang berpikir seolah ada seseorang yang berada di kamar itu.
"Kakak, kamu mengapa ada di sini? Bukannya kamu lagi gak enak badan?" tanya seseorang yang mengagetkannya dan membuat Friska terkejut.
Mama Andin sendiri yang baru saja pulang kerja bersama dengan Papa Darwin. Lalu Friska pun menjawab bahwa ia mendengar suara aneh ya terdengar dari arah kamar kosong.
Papa Darwin berusaha untuk menenangkannya dengan berkata, bahwa itu adalah perasaannya saja yang sedang tidak enak badan. Sehingga muncullah pikiran yang negatif dari kepalanya itu.
"Istirahat lagi sana kak, Mama antar ya," ucap Mama Andin kepada Friska dengan menarik tangan Friska dengan lembut.
Ia pun menuruti keinginan Mama Andin, untuk kembali beristirahat di kamar. Karena hari sudah malam. Di dalam kamar dengan rasa penasaran yang terus menghantuinya, ia teringat kembali dengan kejadian tadi yang dimana ia bisa merasakan hal yang sangat ganjal.
"Terus yang menangis di kamar kosong itu, siapa ya?" ucap Friska dengan rasa penasaran.
Kejadian yang terjadi membuat Friska, takut dan susah untuk tidur. Tetapi, ia teringat bahwa besok ada ujian pagi di sekolah. Friska pun tidak boleh telat, dan memberanikan diri melupakan kejadian yang ia alami.
Keesokan harinya, sinar matahari yang kian masuk kedalam kamar jendelanya, membuat Friska terbangun lalu mengambil jam alarm yang berada di meja kecilnya, Friska pun terkejut, ketika melihat jam yang menunjukan pukul 06.30 di mana seharusnya ia sudah bersiap untuk berangkat sekolah pagi. Lalu Friska duduk sejenak, sambil merapikan rambutnya yang berantakan, dan segera bergegas untuk mandi, dan bersiap untuk berangkat sekolah.
"Kakak, ayo bangun udah siang ini. Kakak?" ucap Mama Andin, sembari mengetuk pintu kamar Friska dengan keras.
"Sebentar Mah, aku sedang merapikan buku," jawab Friska, dengan nada panik.
Setelah selesai merapikan buku, Friska pun segera membuka pintu kamarnya dan menemui Mama Andin, yang sedang panik karena Friska terlambat bangun.
Lalu ia menanyakan kepada Friska, apa yang terjadi sehingga membuat Friska telat bangun di pagi itu. Mama Andin sangat heran tidak bisanya Friska terlambat bangun seperti ini. Lalu Friska menjelaskan bahwa ia sangat sulit untuk tidur dikarenakan selalu mengingat dengan kejadian yang Friska alami sewaktu malam.
"Sudah kak, kamu gak usah terlalu mikir yang aneh-aneh seperti itu. Sekarang kita berangkat sekolah nanti kamu terlambat ayo," ajak Mama Andin kepada Friska, sambil memberinya roti yang sudah di olesi dengan coklat.
Friska bersekolah disalah satu sekolah elit yang berada di Jakarta. Kini, ia menginjak kelas 3 SMA setiap pagi, Friska selalu diantar ke sekolah dengan supirnya dengan mengendarai mobil mewah yang ia punya saat itu. Akan tetapi orang tua Friska tidak mengizinkannya untuk berangkat sekolah sendiri. Karena mereka takut jika terjadi sesuatu.
Di saat sedang menyantap makanan dipagi itu, tiba-tiba Friska mendengar suara aneh dan misterius yang berasal dari dalam kamar kosong yang ada di rumahnya. Ia pun merasa bingung dan sangat penasaran siapa orang yang selalu mengusik ketenangannya itu.
"Kakak, ayo habiskan makanannya, jangan sampai kamu terlambat masuk ya," ucap Mama Andin sambil menyantap sarapanya.
"A-aku mau tanya sama Mama Papa boleh?" tanya Friska dengan sedikit gugup.
Lalu ia pun menanyakan kepada Mama Andin dan Papa Darwin, tentang kejadian yang ia alami selama beberapa hari, setelah ia dan keluarganya menempati rumah baru itu. Lalu, Mama pun dengan penasarannya menanyakan kembali apa maksud Friska
Kamu meras"kan apa sayang? Bukannya kamu sangat senang, ketika kita tinggal di rumah baru ini?" tanya Mama Andin dengan tersenyum kepada Friska.
Lalu Friska menjelaskan kejadian yang menimpa dirinya akhir-akhir ini, awalnya Mama Andin tidak percaya dengan apa yang Friska katakan. Bagi mereka, Friska hanyalah halusinasi karena suka menonton video horor.
Akan tetapi, Friska menentang apa yang mereka katakan itu bahwa dirinya tidak berhalusinasi.
Dengan kesalnya Friska pun meminta, agar Mama Andin dan Papa memberitahu dirinya tentang apa yang terjadi dengan rumah, serta menjelaskan tentang kamar misterius yang berada di dalam rumah tersebut.
"Sebenarnya di dalam kamar itu ada apa, Mah? Mengapa, aku suka mendengar suara orang menangis tiap malam dan juga sering mendengar suara seperti barang terjatuh," tanya Friska dengan serius.
"Kak, ayo berangkat udah siang, nanti aja bahasnya ya," jawab Mama Andin tidak menjawab pertanyaan Friska, dan dengan tergesa-gesa ia menyuruh Friska segera berangkat sekolah.
Friska semakin heran dengan apa yang Mama Andin lakukan, mengapa Mama selalu terlihat gugup ketika Friska menanyakan tentang kamar misterius itu. Lalu Friska segera bergegas untuk berangkat sekolah. Dan tidak lupa pamit kepada orang tuaku yang masih menyantap sarapan paginya.
Setibanya di sekolah, seperti biasa yang Friska lakukan, adalah dengan pergi ke perpustakaan dan mencari buku-buku yang berhubungan dengan mistis.
Tiba-tiba di saat ia sedang berjalan menuju ruang perpustakaan, lalu datanglah seorang pria yang tidak lain Kakak kelasnya sendiri. Ia menyapa Friska dengan lembut dengan tatapan yang terus menatap Friska dengan dalam.
"Hey, mau ke perpus ya? Kalau begitu kita bareng ya,"sapa Kakak kelas Friska yang bernama Davin.
Friska pun hanya tersenyum, sambil mempersilahkan Davin, untuk mengikutinya menuju ruangan perpustakaan. Friska terlihat begitu nyaman ketika dekat dengan Davin. Sedari dulu, Friska menyimpan perasaan terhadap Kakak kelas tampan itu.
Di saat Friska sedang membaca buku bersama dengan Davin, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh kembali. Davin melihat Friska bersikap aneh, lalu Davin bertanya apa yang terjadi dengan Friska.
"Kamu, gak papa? Sepertinya kamu tidak nyaman di ruangan ini," tanya Davin kepada Friska dengan memegang tangan Friska dengan lembut.
Friska melihat ke arah belakang, untuk memastika bahwa tidak ada orang yang mengikutinya. Davin merasa bingung melihat Friska yang sedang bersikap aneh dengan tingkahnya seakan ia melihat sesuatu yang menakutkan disekitarnya.
"Kamu kenapa Fris? Apa yang kamu lihat?" tanya Davin kembali dengan bingung.
"Aku gak papa, tadi cuma ngerasain ada yang ngikutin kita aja," jawab Friska dengan menghela napas panjang.
Davin pun mengajak Friska untuk ke kelas, karna ia tahu Friska tidak nyaman berada di ruangan itu. Davin pun terus mencoba menenangkan Friska dan berusaha menjaganya.
Kembali Friska merasakan hal yang aneh ketika saat sedang berjalan menuju ruang kelasnya. Ia kembali menoleh ke arah kanannya karena ingin memastika siapa, yang berani mengikutinya itu. Tetapi tempat yang ia lewati itu sepi tidak ada siswa yang berada di lorong sekolahnya.
"Aku, gak tahu apa yang terjadi denganku. Akhir-akhir ini aku merasakan hal yang aneh. Seperti ada seseorang yang berusaha untuk mengusikku," jelas Friska, kepada Davin sambil berjalan menuju ruang kelasnya.
"Kamu, masuk ke dalam perangkapku Friska!" batin Davin sambil tersenyum licik.
Davin mengantarkan Friska ke kelas. Ia mencoba untuk menenangkan Friska agar Friska tidak ketakutan kembali. Friska pun senang dengan apa yang telah dilakukan oleh Davin. Ia merasa sangat nyaman ketika berada di dekat Davin.
"Kamu, baik-baik ya! Jangan takut, karena aku selalu ada di dekatmu, tinggal teriak saja, panggil namaku," ucap Davin dengan bercanda sambil memegang kepala Friska dengan gemas.
Friska hanya tersenyum, mendengar Davin berucap manis kepadanya. Davin pun pamit kepada Priska karena ia harus kembali ke kelasnya dan berjanji akan mengantarkan Friska pulang nanti setelah jam pulang sekolah di Siska pun sangat senang ketika mendengar Davin akan mengantarkannya pulang.
Dalam hati Davin sangat senang karena, berhasil menaklukkan hati fisika agar Davin, bisa membalaskan dendam keluarganya kepada Friska secara diam-diam. Tanpa Friska tahu dan mencoba untuk dalam kehidupannya agar Friska semakin menderita.
"Lihat Friska. Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku. Dan dengan mudahnya, aku menghancurkan kamu!" ucap Davin dengan pelan.
Tidak sengaja salah satu teman Friska mendengar ucapan Davin, ia yang berada di belakang Davin merasa sangat heran. Mengapa Devin berkata jahat seperti itu kepada Friska, dan Keyla mencoba untuk menanyakan apa maksud ucapan jahat Davin tersebut.
"Dendam? Dendam apa maksudnya?" sahut teman Friska yang bernama Keyla.
Davin merasa terkejut dengan kedatangan Keyla, yang secara tiba-tiba menanyakan Apa maksud dari ucapannya itu Davin pun mengelak dan tidak menjawab jujur pertanyaan dari Keyla. Davin takut, Keyla memberitahu Friska tentang tujuannya yang ingin mendekati Friska hanya untuk balas dendam.
"A-apa maksudnya Key? Kamu salah denger kali," ucap Davin dengan gugup kepada Keyla dengan memalingkan wajahnya.
"Tadi yang kakak bilang? Balas dendam, sama siapa kak?" tanya Keyla kembali dengan penasaran.
Mendengar pertanyaan Keyla kembali, membuat Davin risih dan memutuskan untuk pergi dan menghindar dari Keyla. Karena terus mempertanyakan dirinya kepada siapa Davin alan membalaskan dendamnya.
Keyla semakin curiga, dengan sikap Davin yang terlihat aneh, pada saat Keyla menanyakan tentang kepada siapa Davin akan membalaskan dendamnya. Ia berpikir bahwa Friska tahu tentang Apa maksud dari pembicaraan Davin dan Friska mencoba untuk menanyakannya nanti setelah pulang sekolah kepada Friska.
"Sial! Hampir saja, anak itu tahu tentang pembicaraan gue tadi!" gumam Davin dengan kesal.
Davin sangat cemas dan takut, Keyla akan membicarakan kejadian tadi kepada Friska. Maka itu akan membuat rencana balas dendamnya gagal, ketika Friska tahu.
Waktu pulang sekolah pun tiba Friska yang tengah bersiap-siap merapikan bukunya, dihampiri oleh Keyla yang ingin bicara kepadanya. Friska penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Keyla kepadanya. Mengapa Keyla terlihat serius dan tidak biasanya Keyla ingin berbicara serius itu kepadanya.
"Ada apa sih? Kok, kamu terlihat serius banget?" tanya Friska dengan penasaran.
"Ta-tadi, aku sempat mendengar ucapan Davin, tentang balas dendam yang aku sendiri pun gak tahu apa maksudnya," jelas Keyla kepada Friska dengan menatapnya dengan serius.
"Kamu nguping ya? Terus apa maksud kamu, bilang semua itu sama aku?" tanya Friska kembali dengan penasaran.
Lalu Keyla menjelaskan bahwa Davin berkata seperti itu setelah pergi menemui Friska dan ia pun berpikir bahwa tujuan dari omongannya itu tentang balas dendam kepada Friska.
Friska hanya tertawa mendengar ucapan temannya, yang berkata bahwa Davin akan membalaskan dendamnya kepada dirinya sendiri. Friska pun masih tidak percaya bahwa Davin akan melakukan hal serendah dan sejahat itu kepada dirinya, karena ia tahu kakak kelas tampan yang sangat ia sukai adalah orang yang baik, dan tidak mungkin menyakiti dirinya.