Bab 1

Sore itu, tepatnya pukul empat sore hari, Friska berniat pulang dari sekolah ia sedang menunggu Papanya yang akan menjemput dirinya. Menunggu jemputan itu tiba, sesekali ia melihat ponsel yang di genggamnya untuk menghilangkan rasa bosan.

Setelah cukup lama menunggu, gadis itu pun dibuat kesal sendiri. Sudah hampir setengah jam Friska menunggu, namun tanda-tanda kehadiran yang ayah juga belum kelihatan. Akhirnya ia pun memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Ia berharap ada sesekali kendaraan umum yang lewat di dekatnya, agar bisa pulang secepatnya. Masalahnya hari itu terlalu mendung.

Awa-awan hitam bergumul dan berarak tepat di atas kepala Friska. dan benar saja, beberapa menit selepas ia meninggalkan titik lokasi pertama, Friska merasakan ada yang tengah berjatuhan dari atas sana. Ia pun mendongak, memastikan. Ternyata awan kelabu itu sudah membelah diri dan mengeluarkan isi kandungannya. Meskipun baru gerimis, tetapi sudah berhasil membuat Friska cemas tak karuan. Turun lah hujan, yang membuat Friska basah kuyup dan membuatnya merasa kedinginan.

"Aku harus bisa pulang tepat waktu, aku gak mau Mama menungguku dan cemas," ucap Friska dengan berlari, menerobos di saat derasnya hujan.

Karena tidak ingin membuat Mamanya khawatir, dengan dirinya tak kunjung pulang Friska pun nekat untuk pulang di saat hujan deras. Tiba-tiba dari belakang, Friska merasakan ada mobil yang selalu mengikutinya secara diam-diam. Ia pun tidak tahu, apa maksud dari mobil tersebut.

Semakin cepat Friska berlari, semakim cepat pula mobil yang dari belakang selalu mengikuti Friska pun mencoba untuk mengejarnya. Friska semakin panik, dan terus berlari di saat hujan deras. Mobil itu pun, semakin melaju kencang mengikuti Friska dan ia terjatuh. Karena rasa lelah, dan dingin dengan guyuran hujan, Friska tak sanggup melanjutkan perjalanannya. Sehingga ia hanya pasrah, ketika mobil yang berada di belakangnya terus mendekatinya. Dan apa yang Friska takutkan terjadi, mobil itu berhasil menabrak Friska hingga ia terluka parah.

Lalu tidak lama, banyak orang yang membantu dirinya dan membawa Friska ke rumah sakit terdekat. Tidak ada rasa tanggung jawab, mobil yang telah menabrak Friska pun pergi tanpa rasa bersalah.

Sementara Papa Darwin yang sangat cemas, mencari kabar di mana Friska berada tiba-tiba, ia menerima pesan bahwa Friska sedang berada di rumah sakit, akibat kecelakaan. Sontak membuat Papa Darwin panik dan segera bergegas untuk ke rumah sakit tempat Friska di rawat.

Sampailah di rumah sakit, Papa Darwin melihat anak kesayangannya tersebut, terbaring lemah tak berdaya. Dengan luka di wajahnya yang cukup parah. Ia pun bertanya kepada Dokter, bagaimana kondisi anaknya itu, Dokter iya pun menjawab, bahwa keadaan Friska kritis dan nyaris tidak bisa di selamatkan.

Dengan wajah sedih ia pun tidak ingin kehilangan putri kesayangannya, dan teringat siapa yang telah menabrak Friska dan tidak ada pertanggung jawaban dari orang yang telah menabrak Friska. Ia pun akan mencari tahu siapa yang tega menabrak putrinya itu.

"Siapa pun, yang berani menabrak anak kesayanganku, akan mendapatkan balasan!" gumam Papa Darwin dengan kesal.

Papa Darwin menyuruh anak buahnya, untuk mencari tahu siapa yang sudah menabrak Friska, sehingga Friska terbaring lemah di rumah sakit. Mama Andin pun, terus menenangkan Papa Darwin yang sedang berada dalam amarahnya.

Beberapa bulan saat pencarian, anak buah dari Papa Darwin berhasil menemukan siapa yang berani menabrak Friska. Setelah Agus, anak buah dari Papa Darwin memberikan bukti siapa yang telah menyebabkan Friska kecelakaan. Ternyata orang tersebut adalah rekan bisnis dari Papa Darwin sendiri. Dengan wajah yang terlihat kesal, ia pun menyuruh Agus untuk memberikan pelajaran kepada orang yabg telah membuat Friska sakit.

Malam hari, pada saat itu, Papa Darwin sedang berada di rumah seorang diri. Mama Andin sedang menjaga Friska di rumah sakit. Papa Darwin pun menyuruh Agus untuk membawa orang yang telah menyebabkan Friska kecelakaan itu, untuk datang menemuinya.

Selepas beberapa saat menunggu, ia melihat Agus menarik paksa orang tersebut masuk menemui Papa Darwin di salah satu ruangan kosong di rumah barunya yang belum di tempati.

"Darwin? Jadi, kamu yang membawa saya kesini! Ada apa ini?" tanya orang tersebut.

"Surya! Apa anda sengaja, menabrak putri saya hingga kritis? Saya tahu, anda ada masalah dengan saya dan Anda dendam terhadap saya!" ucap Papa Darwin dengan mendekati, orang yang bernama Surya.

Orang yang bernama Surya menjelaskan, bahwa ia sengaja menabrak Friska anak dari Papa Darwin itu untuk membalaskan dendamnya. Yang bermula dari bisnisnya bersama Papa Darwin.

"Kamu pantas menerima semua itu, Darwin! Kamu, adalah seorang pengusaha yang licik, dan kamu telah membuat saya dan keluarga saya hancur dengan kelicikanmu!" ucap orang bernama Surya dengan menahan kesal.

Kesal mendengar ocehan dari musuh besarnya itu, Papa Darwin pun, hilang kendali mendengar ucapan pedas dari musuhnya. Lalu, ia mengambil sebuah benda tajam yang berada di meja makannya dan melampiasakan dendamnya dengan menusuk orang tersebut dengan benda tajamnya hingga tak sadarkan diri.

"Apa yang sudah saya lakukan? Mengapa, saya sangat bodoh?" ucapnya dengan penyesalan.

Papa Darwin tidak ingin semua orang tahu, tentang pembunuhannya itu. Termasuk Agus anak buahnya yang sempat melihat dirinya membunuh Surya. Ia meminta kepada Agus untuk menyimpan rahasia besar itu dan membantunya untuk membuang jenazah Surya dengan diam-diam.

"Ta-tapi saya, takut bos bagaimana jika polisi tahu?" ucap Agus dengan cemas.

Papa Darwin pun memberikan sejumlah uang yang cukup besar untuk Agus, agar ia bisa menutupi pembunuhan itu dari orang lain. Agus pun menerimanya dan segera membantu membuang jenazah orang yang bernama Surya.

Di saat pembuangan jenazah, Papa Darwin tidak tahu bahwa kedatangan Surya itu bersama anaknya yang bernama Davin. Davin, tampak melihat Papa Darwin sedang membawa Papanya yang sudah terbaring lemah. Dengan penasaran apa yang telah terjadi dengan Papanya itu ia pun mengikutinya secara diam-diam.

Sampailah di sebuah jurang, yang tidak jauh dari rumahnya. Papa Darwin bersama anak buahnya Agus. Mereka pun melemparkan jenazah Surya Papa Davin ke dalam juarang agar orang lain tidak tahu tentang pembunuhan itu.

"Papa! Gak mungkin, Papa gak mungkin meninggal apa salah Papa gue, mengapa mereka tega!" teriak Davin, dalam mobilnya sambil berurai air mata.

Setelah kejadian itu, Davin pun berjanji ia akan membalaskan dendamnya kepada keluarga Papa Darwin. Ia pun akan mengikuti perjalanan hidup keluarga Papa Darwin untuk membalaskan dendamnya karena sudah membunuh Papanya.

****

Kini Friska sembuh dari sakitnya. Dan melanjutkan kesehariannya kembali dengan bersekolah dan menjalankan aktivitas lainnya seperti biasa. Papa Darwin, mencoba untuk melupakan kejadian yang beberapa waktu terjadi akibat ulahmya.

Pada saat kejadian pembunuhan itu, lalu Friska bersama keluarganya pindah ke rumah barunya. Di mana, rumah tersebut adalah tempat kejadian pembunuhan, yang di lakukan oleh Papa Darwin beberapa waktu yang lalu.

Bab 2

Karena sebelum kejadian tersebut, Friska bersama keluarga tinggal di rumah lamanya. Dan karna sudah tidak lama di tempati, rumah kosong itu pun akhirnya bisa di tempati oleh Friska untuk memulai kehidupan baru bersama dengan keluarganya.

Setelah beberapa hari tinggal di rumah baru tersebut, seketika mata batin Friska terbuka, sesekali ia melihat makhluk tak kasat mata yang berkeliaran di hadapannya. Ia pun tidak tahu, mengapa tiba-tiba ia menjadi anak indigo yang bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata dan merasakan hal yang aneh terhadap dirinya.

Dan pada malam yang sunyi, Friska duduk di bangku kamarnya yang berada di dekat jendela, seraya menunggu kepulangan Mama Andin dan Papa Darwin.

Bosan yang kian menghadang selalu menghampiri. Ia pun berniat, untuk mengambil sebuah cemilan dari dalam kulkas yang berada di dapur.

"Lapar sekali, bibi masak apa ya malam ini?" tanya Friska dengan mengusap perut yang sedang kelaparan.

"Eh, Non Friska. Ada apa Non malam-malam di dapur? Non pasti lapar ya?" tanya Bi Sumi dengan tersenyun ramah kepadanya.

Friska lalu meminta Bi Sumi, untuk memasak makanan kesukaannya. Karena ia sudah sangat lapar menunggu Mama Papanya pulang. untuk makan bersama dengannya dengan berniat membelikan makanan kesukaannya di salah satu restoran ternama.

"Bi, Mama Papa kok sangat sibuk ya. Mengapa mereka tidak pernah ada waktu untukku?" tanya Friska kepada Bibi sambil memainkan sendok yang berada di depannya.

Lalu, Bi Sumi pun berkata kepada Friska bahwa Mama Andin, dan Papa Darwin bekerja untuk menafkahinya agar Friska mempunyai masa depan yang cerah seperti anak lain di luar sana. Ia pun hanya terdiam memikirkan apakah yang di maksud Bi Sumi itu benar atau tidak.

Akan tetapi Friska merasakan bahwa, ia tidak nyaman dengan kesehariannya yang selalu sendiri tanpa ditemani oleh kedua orang tuanya yang super sibuk. Ia ingin seperti anak yang lain. Yang bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

"Ini Non makanannya, silakan di makan kalau begitu bibi mau izin ke kamar dulu ya Non," ucap bibi kepada Friska sambil pergi meninggalkan Friska.

Lalu Friska menyantap makanannya kembali yang sudah disediakan oleh Bi Sumi. Dikesunyian malam, ia hanya makan malam dengan seorang diri tanpa ditemani oleh kedua orang tuanya. Suara rintikan hujan pun kian terdengar oleh Friska, yang menemani makan malamnya hanya seorang diri.

Setelah menghabiskan makan malamnya, Friska pun kembali ke kamar, untuk beristirahat kembali sembari menunggu Mama Andin dan Papa Darwin pulang. Di saat ia sedang berjalan ke atas lantai rumahnya, tiba-tiba Friska mendengar suara tangisan yang terdengar dari kamar kosong yang sudah lama, tidak di tempati itu. Dengan rasa penasaran, ia pun menghampiri suara tersebut.

BRUKK!

Suara keras, yang terdengar kembali dari dalam kamar kosong, membuatnya merasa semakin penasaran.

Lalu, Friska memastikan tidak ada siapa pun yang berada didekatnya itu. Ia semakin penasaran dan membuka pintu kamar itu dengan pelan. Di saat itu ia tidak melihat seseorang yang berada di dalam kamar kosong tersebut.

Hati kecilnya berkata bahwa itu adalah perasaannya saja yang berpikir seolah ada seseorang yang berada di kamar itu.

"Kakak, kamu mengapa ada di sini? Bukannya kamu lagi gak enak badan?" tanya seseorang yang mengagetkannya dan membuat Friska terkejut.

Mama Andin sendiri yang baru saja pulang kerja bersama dengan Papa Darwin. Lalu Friska pun menjawab bahwa ia mendengar suara aneh ya terdengar dari arah kamar kosong.

Papa Darwin berusaha untuk menenangkannya dengan berkata, bahwa itu adalah perasaannya saja yang sedang tidak enak badan. Sehingga muncullah pikiran yang negatif dari kepalanya itu.

"Istirahat lagi sana kak, Mama antar ya," ucap Mama Andin kepada Friska dengan menarik tangan Friska dengan lembut.

Ia pun menuruti keinginan Mama Andin, untuk kembali beristirahat di kamar. Karena hari sudah malam. Di dalam kamar dengan rasa penasaran yang terus menghantuinya, ia teringat kembali dengan kejadian tadi yang dimana ia bisa merasakan hal yang sangat ganjal.

"Terus yang menangis di kamar kosong itu, siapa ya?" ucap Friska dengan rasa penasaran.

Kejadian yang terjadi membuat Friska, takut dan susah untuk tidur. Tetapi, ia teringat bahwa besok ada ujian pagi di sekolah. Friska pun tidak boleh telat, dan memberanikan diri melupakan kejadian yang ia alami.

Keesokan harinya, sinar matahari yang kian masuk kedalam kamar jendelanya, membuat Friska terbangun lalu mengambil jam alarm yang berada di meja kecilnya, Friska pun terkejut, ketika melihat jam yang menunjukan pukul 06.30 di mana seharusnya ia sudah bersiap untuk berangkat sekolah pagi. Lalu Friska duduk sejenak, sambil merapikan rambutnya yang berantakan, dan segera bergegas untuk mandi, dan bersiap untuk berangkat sekolah.

"Kakak, ayo bangun udah siang ini. Kakak?" ucap Mama Andin, sembari mengetuk pintu kamar Friska dengan keras.

"Sebentar Mah, aku sedang merapikan buku," jawab Friska, dengan nada panik.

Setelah selesai merapikan buku, Friska pun segera membuka pintu kamarnya dan menemui Mama Andin, yang sedang panik karena Friska terlambat bangun.

Lalu ia menanyakan kepada Friska, apa yang terjadi sehingga membuat Friska telat bangun di pagi itu. Mama Andin sangat heran tidak bisanya Friska terlambat bangun seperti ini. Lalu Friska menjelaskan bahwa ia sangat sulit untuk tidur dikarenakan selalu mengingat dengan kejadian yang Friska alami sewaktu malam.

"Sudah kak, kamu gak usah terlalu mikir yang aneh-aneh seperti itu. Sekarang kita berangkat sekolah nanti kamu terlambat ayo," ajak Mama Andin kepada Friska, sambil memberinya roti yang sudah di olesi dengan coklat.

Friska bersekolah disalah satu sekolah elit yang berada di Jakarta. Kini, ia menginjak kelas 3 SMA setiap pagi, Friska selalu diantar ke sekolah dengan supirnya dengan mengendarai mobil mewah yang ia punya saat itu. Akan tetapi orang tua Friska tidak mengizinkannya untuk berangkat sekolah sendiri. Karena mereka takut jika terjadi sesuatu.

Di saat sedang menyantap makanan dipagi itu, tiba-tiba Friska mendengar suara aneh dan misterius yang berasal dari dalam kamar kosong yang ada di rumahnya. Ia pun merasa bingung dan sangat penasaran siapa orang yang selalu mengusik ketenangannya itu.

"Kakak, ayo habiskan makanannya, jangan sampai kamu terlambat masuk ya," ucap Mama Andin sambil menyantap sarapanya.

"A-aku mau tanya sama Mama Papa boleh?" tanya Friska dengan sedikit gugup.

Lalu ia pun menanyakan kepada Mama Andin dan Papa Darwin, tentang kejadian yang ia alami selama beberapa hari, setelah ia dan keluarganya menempati rumah baru itu. Lalu, Mama pun dengan penasarannya menanyakan kembali apa maksud Friska

Bab 3

Kamu meras"kan apa sayang? Bukannya kamu sangat senang, ketika kita tinggal di rumah baru ini?" tanya Mama Andin dengan tersenyum kepada Friska.

Lalu Friska menjelaskan kejadian yang menimpa dirinya akhir-akhir ini, awalnya Mama Andin tidak percaya dengan apa yang Friska katakan. Bagi mereka, Friska hanyalah halusinasi karena suka menonton video horor.

Akan tetapi, Friska menentang apa yang mereka katakan itu bahwa dirinya tidak berhalusinasi.

Dengan kesalnya Friska pun meminta, agar Mama Andin dan Papa memberitahu dirinya tentang apa yang terjadi dengan rumah, serta menjelaskan tentang kamar misterius yang berada di dalam rumah tersebut.

"Sebenarnya di dalam kamar itu ada apa, Mah? Mengapa, aku suka mendengar suara orang menangis tiap malam dan juga sering mendengar suara seperti barang terjatuh," tanya Friska dengan serius.

"Kak, ayo berangkat udah siang, nanti aja bahasnya ya," jawab Mama Andin tidak menjawab pertanyaan Friska, dan dengan tergesa-gesa ia menyuruh Friska segera berangkat sekolah.

Friska semakin heran dengan apa yang Mama Andin lakukan, mengapa Mama selalu terlihat gugup ketika Friska menanyakan tentang kamar misterius itu. Lalu Friska segera bergegas untuk berangkat sekolah. Dan tidak lupa pamit kepada orang tuaku yang masih menyantap sarapan paginya.

Setibanya di sekolah, seperti biasa yang Friska lakukan, adalah dengan pergi ke perpustakaan dan mencari buku-buku yang berhubungan dengan mistis.

Tiba-tiba di saat ia sedang berjalan menuju ruang perpustakaan, lalu datanglah seorang pria yang tidak lain Kakak kelasnya sendiri. Ia menyapa Friska dengan lembut dengan tatapan yang terus menatap Friska dengan dalam.

"Hey, mau ke perpus ya? Kalau begitu kita bareng ya,"sapa Kakak kelas Friska yang bernama Davin.

Friska pun hanya tersenyum, sambil mempersilahkan Davin, untuk mengikutinya menuju ruangan perpustakaan. Friska terlihat begitu nyaman ketika dekat dengan Davin. Sedari dulu, Friska menyimpan perasaan terhadap Kakak kelas tampan itu.

Di saat Friska sedang membaca buku bersama dengan Davin, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh kembali. Davin melihat Friska bersikap aneh, lalu Davin bertanya apa yang terjadi dengan Friska.

"Kamu, gak papa? Sepertinya kamu tidak nyaman di ruangan ini," tanya Davin kepada Friska dengan memegang tangan Friska dengan lembut.

Friska melihat ke arah belakang, untuk memastika bahwa tidak ada orang yang mengikutinya. Davin merasa bingung melihat Friska yang sedang bersikap aneh dengan tingkahnya seakan ia melihat sesuatu yang menakutkan disekitarnya.

"Kamu kenapa Fris? Apa yang kamu lihat?" tanya Davin kembali dengan bingung.

"Aku gak papa, tadi cuma ngerasain ada yang ngikutin kita aja," jawab Friska dengan menghela napas panjang.

Davin pun mengajak Friska untuk ke kelas, karna ia tahu Friska tidak nyaman berada di ruangan itu. Davin pun terus mencoba menenangkan Friska dan berusaha menjaganya.

Kembali Friska merasakan hal yang aneh ketika saat sedang berjalan menuju ruang kelasnya. Ia kembali menoleh ke arah kanannya karena ingin memastika siapa, yang berani mengikutinya itu. Tetapi tempat yang ia lewati itu sepi tidak ada siswa yang berada di lorong sekolahnya.

"Aku, gak tahu apa yang terjadi denganku. Akhir-akhir ini aku merasakan hal yang aneh. Seperti ada seseorang yang berusaha untuk mengusikku," jelas Friska, kepada Davin sambil berjalan menuju ruang kelasnya.

"Kamu, masuk ke dalam perangkapku Friska!" batin Davin sambil tersenyum licik.

Davin mengantarkan Friska ke kelas. Ia mencoba untuk menenangkan Friska agar Friska tidak ketakutan kembali. Friska pun senang dengan apa yang telah dilakukan oleh Davin. Ia merasa sangat nyaman ketika berada di dekat Davin.

"Kamu, baik-baik ya! Jangan takut, karena aku selalu ada di dekatmu, tinggal teriak saja, panggil namaku," ucap Davin dengan bercanda sambil memegang kepala Friska dengan gemas.

Friska hanya tersenyum, mendengar Davin berucap manis kepadanya. Davin pun pamit kepada Priska karena ia harus kembali ke kelasnya dan berjanji akan mengantarkan Friska pulang nanti setelah jam pulang sekolah di Siska pun sangat senang ketika mendengar Davin akan mengantarkannya pulang.

Dalam hati Davin sangat senang karena, berhasil menaklukkan hati fisika agar Davin, bisa membalaskan dendam keluarganya kepada Friska secara diam-diam. Tanpa Friska tahu dan mencoba untuk dalam kehidupannya agar Friska semakin menderita.

"Lihat Friska. Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku. Dan dengan mudahnya, aku menghancurkan kamu!" ucap Davin dengan pelan.

Tidak sengaja salah satu teman Friska mendengar ucapan Davin, ia yang berada di belakang Davin merasa sangat heran. Mengapa Devin berkata jahat seperti itu kepada Friska, dan Keyla mencoba untuk menanyakan apa maksud ucapan jahat Davin tersebut.

"Dendam? Dendam apa maksudnya?" sahut teman Friska yang bernama Keyla.

Davin merasa terkejut dengan kedatangan Keyla, yang secara tiba-tiba menanyakan Apa maksud dari ucapannya itu Davin pun mengelak dan tidak menjawab jujur pertanyaan dari Keyla. Davin takut, Keyla memberitahu Friska tentang tujuannya yang ingin mendekati Friska hanya untuk balas dendam.

"A-apa maksudnya Key? Kamu salah denger kali," ucap Davin dengan gugup kepada Keyla dengan memalingkan wajahnya.

"Tadi yang kakak bilang? Balas dendam, sama siapa kak?" tanya Keyla kembali dengan penasaran.

Mendengar pertanyaan Keyla kembali, membuat Davin risih dan memutuskan untuk pergi dan menghindar dari Keyla. Karena terus mempertanyakan dirinya kepada siapa Davin alan membalaskan dendamnya.

Keyla semakin curiga, dengan sikap Davin yang terlihat aneh, pada saat Keyla menanyakan tentang kepada siapa Davin akan membalaskan dendamnya. Ia berpikir bahwa Friska tahu tentang Apa maksud dari pembicaraan Davin dan Friska mencoba untuk menanyakannya nanti setelah pulang sekolah kepada Friska.

"Sial! Hampir saja, anak itu tahu tentang pembicaraan gue tadi!" gumam Davin dengan kesal.

Davin sangat cemas dan takut, Keyla akan membicarakan kejadian tadi kepada Friska. Maka itu akan membuat rencana balas dendamnya gagal, ketika Friska tahu.

Waktu pulang sekolah pun tiba Friska yang tengah bersiap-siap merapikan bukunya, dihampiri oleh Keyla yang ingin bicara kepadanya. Friska penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Keyla kepadanya. Mengapa Keyla terlihat serius dan tidak biasanya Keyla ingin berbicara serius itu kepadanya.

"Ada apa sih? Kok, kamu terlihat serius banget?" tanya Friska dengan penasaran.

"Ta-tadi, aku sempat mendengar ucapan Davin, tentang balas dendam yang aku sendiri pun gak tahu apa maksudnya," jelas Keyla kepada Friska dengan menatapnya dengan serius.

"Kamu nguping ya? Terus apa maksud kamu, bilang semua itu sama aku?" tanya Friska kembali dengan penasaran.

Lalu Keyla menjelaskan bahwa Davin berkata seperti itu setelah pergi menemui Friska dan ia pun berpikir bahwa tujuan dari omongannya itu tentang balas dendam kepada Friska.

Friska hanya tertawa mendengar ucapan temannya, yang berkata bahwa Davin akan membalaskan dendamnya kepada dirinya sendiri. Friska pun masih tidak percaya bahwa Davin akan melakukan hal serendah dan sejahat itu kepada dirinya, karena ia tahu kakak kelas tampan yang sangat ia sukai adalah orang yang baik, dan tidak mungkin menyakiti dirinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED