Bab 1

Menghadiri pesta pernikahan Papa sendiri di saat umur yang sudah layak menikah mungkin terdengar sangat lucu. Tetapi itulah yang Raka alami. Di saat umurnya yang sudah memasuki kepala dua dan layak untuk menikah, tetapi ia harus melihat Papanya yang sudah sedikit berumur menikah dengan wanita yang masih muda. Raka sudah menolak pernikahan Papanya itu, tetapi dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal membuat pernikahan itu tetap berlangsung.

"Mengapa wajahmu kecut seperti itu? Apa kamu tidak menginginkan pernikahan ini?" tanya Satya, sahabat Raka.

"Kau tahu, harusnya aku yang ada di pelaminan dan menikah. Tetapi si tua bangka itu lebih mementingkan nafsunya saja," protes Raka tidak terima.

"Itu karena kau tidak memiliki kekasih, Raka. Tidak ada wanita yang betah menjalin hubungan denganmu, bukan?" ledek Satya dengan kekehan ringannya.

Raka tidak mendengarkan ucapan Satya itu lagi. Pandangannya fokus kepada seorang wanita ralat gadis yang berjalan mendekat ke arahnya. Gadis itu memiliki tubuh yang sangat seksi dan menggoda sekali. Dengan payudara yang menonjol di balik gaunnya yang tipis itu. Raka bisa menebak jika payudara gadis itu berukuran sangat besar sekali. Bahkan tangannya sendiri tidak akan bisa menangkup payudara itu.

Raka menelan salivanya saat gadis yang baru saja ia bayangkan ukuran payudaranya itu berdiri di depannya dan mengulurkan tangan ke arahnya.

"Haii, apa namamu Raka?" tanya gadis yang berdiri di depan Raka dan Satya.

Satya melirik ke arah gadis itu dan membelalakkan matanya saat melihat bentuk tubuh gadis itu yang terlihat sangat molek dan subur sekali. Ia memegang pundak Raka dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.

"Kamu mengenalku?" tanya Raka heran. Pasalnya ia tidak mengenal siapa gadis yang berdiri di depannya.

"Aku Aluna, adik tirimu," kata gadis itu memperkenalkan dirinya.

Raka dan Satya saling berhadapan saat mendengar ucapan gadis di depannya yang bernama Aluna dan mengenalkan dirinya sebagai adik dari Raka. Sebuah hal yang membuat Raka sangat terkejut sekali.

Raka menghela nafasnya dan kembali menatap Aluna. "Kau anak Diana?"

Aluna mengangukkan kepalanya dan tersenyum manis. Senyum yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya langsung jatuh hati termasuk Raka. Tetapi Raka langsung menepis pikirannya itu. Karena tidak mungkin ia jatuh hati kepada gadis yang merupakan anak dari Ibu tiri yang sangat ia benci itu.

"Mama Diana," koreksi Aluna. "Bukankah Papa Tio dan Mama Diana sudah menikah? Jadi kau harus memanggil Mamaku dengan sebutan Mama juga."

"Aku tidak akan sudi memanggilnya dengan sebutan Mama," kata Raka dengan tegas. "Dan aku juga tidak akan pernah menganggapmu sebagai adik tiriku. Karena aku tahu jika kau dan Mamamu itu hanya ingin menikmati harta Papaku dan menumpang hidup dengan kami. Jadi jangan pernah berharap jika hidupmu dan Mamamu yang murahan akan bahagia setelah ini."

Raka melangkahkan kakinya meninggalkan Aluna setelah mengatakan kalimat pedas itu. Kalimat pedas yang langsung keluar dari hatinya karena ia benar-benar tidak menginginkan pernikahan Papanya ini.

Aluna menatap kepergian Raka dengan senyum kecutnya. Harusnya sedari awal ia sudah mengetahui jika Raka tidak akan pernah menginginkan pernikahan ini, terbukti dengan Raka yang tidak pernah datang pada saat pertemuan menjelang pernikahan.

"Tidak usah memikirkan ucapan Raka barusan, Aluna. Dia memang seperti itu jika bertemu dengan orang baru. Tetapi sebenarnya dia sangat baik," kata Satya mengeluarkan suaranya setelah sedari tadi ia hanya diam saja.

Aluna mengalihkan pandangannya menatap ke arah lelaki yang berada di sebelahnya. Karena terlalu fokus dengan Raka, ia sampai tidak menyadari jika ada lelaki di sampingnya sedari tadi.

"Kau siapa?" tanya Aluna.

Satya tersenyum manis dan mengulurkan tangannya ke arah Aluna. "Satya, sahabat Raka."

Aluna mengangukkan kepalanya pertanda mengerti dengan apa yang Satya katakan. Ia tersenyum manis untuk menanggapi ucapan Satya itu.

"Jika aku boleh tahu, kau bekerja dimana?" tanya Satya.

Aluna terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan Satya itu. "Aku masih kelas dua sekolah menengah atas. Aku belum bekerja."

Satya semakin tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bagaimana bisa gadis seperti Aluna yang memiliki bentuk tubuh yang menggoda dan subur ternyata masih kecil. Ahh Satya tidak percaya mendengarnya.

"Aku pergi dulu. Sampai jumpa Satya," kata Aluna sembari melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Satya sendirian.

Satya menenguk salivanya saat melihat bokong Aluna bergerak seirama dengan langkahnya. Ia tidak menyangka jika ada gadis seperti Aluna di dunia ini yang memiliki bentuk tubuh yang begitu membuat siapa saja bergairah, termasuk dirinya sendiri. Bukan hanya dirinya saja, Raka juga pasti akan merasakan hal yang sama dengannya.

****

Hari ini adalah hari paling sial untuk Raka karena ia harus tinggal serumah dengan Diana dan Aluna, dua orang yang tidak pernah ia inginkan kehadirannya di rumah ini. Ia sangat tahu persis jika kedatangan Diana dan Aluna masuk ke dalam keluarganya agar ingin mendapatkan harta Tio, Papanya. Ia tahu wanita-wanita seperti apa Diana.

"Kau ingin makan apa?" tanya Diana kepada Raka. Ia ingin menjadi ibu sambung yang baik untuk Raka.

"Tidak perlu. Saya bisa mengambil makanan untuk saya sendiri," kata Rafa tanpa memandang ke arah Diana sedikitpun. Ia ingin membuat Diana paham siapa posisinya di rumah ini.

Di saat Rafa ingin mengambil nasi ke atas piringnya, tiba-tiba saja Tio menengurnya dan membuat ia mengurungkan niatnya untuk mengambil nasi tersebut.

"Tunggu Aluna datang dulu, Raka. Kita akan makan bersama-sama," kata Tio kepada Raka.

Raka meletakkan kembali sendok nasi yang sudah ada di tangannya. Ia menghela nafas panjangnya dan berusaha menahan emosinya. Ia ingin sekali ia berteriak dan mengatakan jika ia tidak menginginkan kehadiran Aluna dan Diana di rumahnya. Tetapi ia mengurungkan niatnya untuk karena tidak ingin membuat Tio marah dan mencabut semua fasilitas yang ia terima. Maka hal yang bisa ia lakukan adalah diam saja dan mencoba menurunkan emosinya.

"Itu Aluna sudah datang," kata Diana dengan senyum manisnya.

Mendengar ucapan Diana itu membuat Raka membalikkan badannya dan seketika terkejut saat melihat penampilan Aluna yang hanya memakai kaos oblong ketat yang mencetak payudaranya dengan jelas serta hot pants pendek yang hanya menutupi sedikit pahanya saja. Di tambah dengan rambut gadis itu yang sengaja di kuncir dan menampakkan leher jenjangnya dengan jelas. Siapapun yang melihat Aluna saat ini pasti akan langsung bergairah.

Raka menundukkan pandangannya dan menatap juniornya yang sudah membesar dan ingin di keluarkan saat ini. Hal itu pasti karena ia terangsang dengan tubuh Aluna yang begitu menggodanya.

"Sial sekali. Mengapa aku jadi bergairah seperti ini melihat dia."

Bab 2

Raka tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Aluna yang sedang membersihkan rumah. Wanita itu mengepel rumah dengan gerakan erotis yang bisa membuat Raka tergoda hanya dengan melihat bokongnya yang bergerak-gerak. Raka adalah lelaki yang normal. Ia akan langsung tergoda saat melihat pemandangan seperti di depannya.

"Shit! Kali ini aku tidak bisa menahan diriku lagi. Ini karena Aluna yang berusaha selalu menggodaku dengan penampilannya yang seksi itu," kata Raka.

Raka mendekati Aluna dan langsung memegang tangannya. Ia menjatuhkan kain pel yang berada di tangan Aluna dan mendorong tubuh adik tirinya itu ke dinding. Aluna yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Raka itu pun membelalakkan matanya dan mencoba untuk menjauh dari Raka. Tetapi sayangnya, tenaga Raka lebih besar daripada tenaganya.

"Apa yang ingin kak Raka lakukan?" tanya Aluna dengan perasaan takutnya. Ia takut jika Raka melakukan hal buruk kepadanya.

"Kau tahu Aluna, aku tidak menyukai kehadiranmu dan Mamamu disini. Aku tidak suka jika Mamamu menikah dengan Papaku." Raka mengusap pipi Aluna dengan lembut dan memberikan sensasi aneh di tubuh Aluna. Sensasi yang belum pernah Aluna rasakan sebelumnya.

Seakan tidak ingin membuat Aluna memikirkan apa yang Raka lakukan selanjutnya. Raka langsung mencium bibir ranum nan tebal milik Aluna dengan kasar dan menuntut. Aluna menolak dan ingin melepaskan ciuman Raka di bibirnya, tetapi ciuman itu semakin kasar. Tenaganya juga kalah di bandingkan dengan tenaga Raka.

"Kamu selalu menggodaku dengan pakaianmu yang ketat dan tipis itu. Membuat aku ingin menyentuhmu dan merasakan bagaimana jika milikku masuk ke dalam milikmu," kata Raka dengan menatap Aluna dengan intens.

Aluna menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau jika Raka menyentuhnya dan melakukan hal yang di luar batas dengannya. Ia berusaha untuk melepaskan dirinya dari kurungan Raka, tetapi ia tidak bisa.

"Sadar kak Raka. Aku adalah adikmu. Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku," kata Aluna dengan wajah ketakutannya.

Raka tidak memedulikan ketakutan yang terlihat jelas di mata Aluna. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana agar ia mendapatkan pelampiasan atas gairah yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.

Raka menundukkan wajahnya sedikit dan melihat payudara Aluna yang tercetak jelas di balik baju yang ia pakai. Tangannya yang semula hanya diam saja kini bergerak untuk menyentuhnya. Bukan hanya menyentuh, ia juga meremas payudara itu dengan kasar.

"Ahhh ahhh." Desahan keluar dari mulut Aluna yang sekarang sudah menikmati permainan yang Raka berikan.

Raka menarik kaus yang Aluna pakai ke atas dan melepasnya. Ia juga membuka bra kekecilan yang tidak bisa menampung payudara Aluna seluruhnya. Ia mengusap bibirnya terlebih dahulu, sebelum memasukkan payudara Aluna itu ke dalam mulutnya dan mengulumnya. Tangannya juga masih meremas payudara Aluna yang lainnya.

Aluna yang semula menolak, kini beralih menikmati sentuhan Raka di tubuhnya. Ia mengalungkan tangannya di leher Raka dan menarik rambutnya. Suara desahan tidak bisa lepas dari mulut Raka.

"Raka ahhh aku ahhh."

Mendengar desahan Aluna yang memanggil namanya, membuat Raka semakin semangat melakukan permainannya. Tangannya turun ke bawah dan berusaha untuk menurunkan hot pants yang Aluna pakai. Tetapi saat tangannya ingin menyentuh titik sensitif milik Aluna, tiba tiba saja....

"Aaaaaa..."

Raka terjatuh dari ranjang dan langsung tersadar dari tidurnya. Ia mengusap kepalanya yang terasa sakit. Ia mencoba bangkit dan kembali tidur di ranjangnya.

Mimpi basah. Ya, Raka mengingat apa yang baru saja ia mimpikan. Ia bermimpi jika ia menyentuh tubuh seksi Aluna. Mimpi tersebut sangat jelas dan terasa sangat nyata. Payudara besar Aluna dan desahannya masih terngiang jelas di pikiran Raka.

"Kenapa aku bermimpi bersetubuh dengan Aluna. Apa memang aku menyukai tubuh seksinya itu?" Raka mengusap wajahnya karena tidak mengerti apa yang ia rasakan. "Tidak. Tidak mungkin jika aku menyukainya. Aku tidak selera sedikitpun kepadanya. Tapi, ahhh harus ku akui jika dia begitu menggodaku dan sampai membuat aku jadi mimpi basah seperti ini. Aku menginginkan tubuhnya berada di bawahku. Perasaan apa ini."

***

Raka keluar dari kamarnya dan langsung berhadapan dengan Aluna yang juga baru saja keluar dari kamarnya. Saat melihat Aluna, dengan refleks, Raka menelan salivanya. Fokusnya langsung terarah ke payudara Aluna yang besar itu. Dan satu hal yang baru Raka sadari jika Aluna ternyata masih sekolah. Ia bisa melihat itu dari seragam yang melekat di tubuh gadis itu.

"Kau masih sekolah?" tanya Raka.

Aluna mengunci pintu kamarnya dan beralih menatap Raka. Ia tersenyum manis sebelum mengangukkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Raka itu.

"Iyaa. Ada apa yang salah?" tanya Aluna.

Raka mendesis. Sama sekali tidak menyangka jika orang yang menjadi fantasinya saat mimpi basah adalah gadis yang masih menginjak bangku sekolah.

"Badanmu begitu besar dan tidak cocok untuk anak seusia dirimu. Tubuhnya pasti membuat semua orang yang melihatmu langsung bergairah," celetuk Raka.

Raka melangkahkan kakinya meninggalkan Aluna yang diam membeku di tempatnya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Raka lakukan itu.

Aluna melangkahkan kakinya menuju dapur untuk sarapan sebelum ia berangkat ke sekolah. Ia duduk di samping Raka yang sedang mengolesi roti dengan selai coklat. Ia juga melakukan hal yang sama seperti Raka, mengambil roti dan mengolesinya dengan selai.

"Raka, apa kau bisa mengantar Aluna ke sekolahnya? Jarak rumah kita dengan rumahnya sedikit jauh. Jadi, dia akan terlambat ke sekolah jika kau tidak mengantarnya," kata Tio.

"Tidak usah, Pa," tolak Aluna. Ia tidak mau merepotkan Raka. Apalagi ia tahu jika Raka tidak menyukai kehadirannya dan Mamanya disini. "Aku bisa berangkat sendiri."

"Tapi Raka bisa mengantarmu," kata Tio. "Bukan begitu, Raka?"

Raka ingin menolak apa yang Tio katakan itu. Tetapi saat melihat paha Aluna yang terekspos karena roknya sangat pendek di tambah dengan payudara Aluna yang sangat terlihat dengan jelas itu meskipun di tutupi oleh seragamnya. Bahkan saking besarnya, kancing seragam itu hampir terlepas karena tidak bisa menampung payudara itu seluruhnya.

"Raka bisa," kata Raka dengan semangat. Ia bisa sekalian cuci mata dengan melihat tubuh Aluna. Atau mungkin saja ia bisa menikmatinya.

"Tapi kak." Aluna ingin bertanya mengapa tiba-tiba Raka mau mengantarnya ke sekolah. Padahal lelaki itu selalu menunjukkan ketidaksukaannya kepada Aluna.

Raka dengan cepat berkata, "Habiskan makanmu. Aku akan menunggu di mobil."

Raka meminum susunya dan berpamitan kepada Tio. Hanya kepada Tio saja, karena ia tidak mau berhubungan atau menganggap kehadiran Diana di rumah ini.

Aluna sebenarnya merasa aneh karena Raka yang tiba-tiba saja mau mengantarnya. Ia takut jika Raka menurunkannya di tengah jalan atau melakukan hal yang lebih dari itu. Raka sangat membencinya bukan.

Bab 3

Raka tidak bisa melepaskan lirikan matanya dari rok Aluna yang terangkat ke atas saat ia duduk di samping Raka. Raka bahkan tidak bisa fokus menyetir karena paha mulus Aluna yang terekspos itu.

"Apa sekolahmu tidak mempermasalahkan rok dan bajumu yang ketat ini?" tanya Raka memberanikan diri. Ia terus berpikir mengapa tubuh Aluna lebih subur daripada gadis-gadis seusianya.

"Ini sudah ukuran besar. Dan tidak ada baju yang lebih besar dari ini lagi," kata Aluna membela dirinya.

Raka membelalakkan matanya. Ia menatap ke arah buah dada Aluna yang tercetak dengan jelas di balik seragamnya itu. Ia menenguk salivanya saat tiba-tiba saja ia bergairah dan menginginkan tangannya berada di dada gadis itu.

"Tubuhmu sangat molek sekali. Sampai seragam sekolahmu tidak bisa menutupi aset berhargamu dengan baik," celetuk Raka tanpa malu sedikitpun.

"Apa saat ini aku sedang mengalami pelecehan oleh kakakku sendiri?" Aluna mengangkat alisnya ke atas. "Aku juga tidak tahu mengapa tubuhku berbeda dengan gadis-gadis seusiaku. Tapi apapun itu, aku harus tetap bersyukur atas itu."

Raka tidak menjawab ucapan Aluna itu lagi. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan pagar sekolah adik barunya itu dan mengalihkan pandangannya. Ia selalu tersipu saat melihat bentuk tubuh Aluna.

Raka mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya dan memberikannya kepada Aluna. "Tuliskan nomor ponselmu disini."

"Untuk apa?" tanya Aluna.

"Agar aku bisa menghubungimu kapan saja. Dan aku yang akan menjemputmu nanti siang di sekolah," kata Raka tiba-tiba. Mungkin saja dengan selalu berada di samping Aluna, ia bisa mencuri kesempatan dengan menikmati tubuh gadis itu yang sangat menggodanya.

"Sepertinya tidak perlu, kak. Karena aku sudah memiliki kekasih. Dan kekasihku yang akan mengantarku pulang," kata Aluna dengan senyum manisnya. Ia pun keluar dari mobil Raka tanpa mengatakan apapun lagi kepada kakaknya itu.

Raka menatap kepergian Aluna dengan pandangan yang sulit di artikan. Tangannya mencengkram kemudi mobil dengan erat. Penolakan Aluna itu membuat Raka merasa kesal. Dan apalagi Aluna mengatakan jika ia sudah memiliki kekasih, itu semakin membuat Raka kesal. Ia pun mulai memikirkan cara yang tepat agar ia lebih dekat dan menikmati tubuh Aluna seperti apa yang ada di mimpinya tadi malam.

Sementara itu, Aluna menghampiri Daren, kekasihnya. Ia sudah lama menjalin hubungan dengan Daren. Dan selama ini hubungannya dengan Daren selalu baik-baik saja dan jauh dari masalah. Daren sangat pandai memperlakukannya dengan baik.

Daren merangkul pundak Aluna saat gadis itu mendekat ke arahnya. "Siapa yang mengantarmu tadi?"

"Kak Raka. Kakak baruku," kata Aluna dengan singkat.

Daren mengernyitkan keningnya. "Anak dari Papa barumu?"

"Iya. Dia sekitar lima tahun lebih tua dariku," kata Aluna berkata jujur.

Tiba-tiba saja rahang Daren mengeras mendengar ucapan Aluna itu. Ia baru mengetahui jika Aluna akan memiliki saudara tiri laki-laki. Ia takut jika Raka akan tertarik kepada Aluna dan berusaha untuk mendekatinya. Lagipula siapa yang tidak menyukai Aluna. Daren juga mengetahui jika banyak lelaki di sekolahnya ini yang menaruh hati dan menjadikan Aluna sebagai sumber fantasinya. Bahkan tidak jarang ada yang mengajak Daren untuk melakukan taruhan. Dan taruhannya adalah tidur bersama Aluna.

Daren mendorong tubuh Aluna untuk masuk ke dalam gudang yang sudah tidak di pakai lagi. Ia mengurung pergerakan Aluna dengan kedua tangannya. Aluna mengernyitkan keningnya saat Daren melakukan hal seperti ini kepadanya.

"Apa yang ingin kau lakukan, Daren?" tanya Aluna. "Kelas akan di mulai beberapa menit lagi. Dan kita harus segera sampai di kelas."

"Apa Raka mendekatimu?" tanya Daren. Matanya sudah penuh dengan amarah dan nafsu. Ia tidak suka jika kekasihnya ini dekat dengan orang lain selain dirinya.

Aluna memutar bola matanya dan mencoba untuk mendorong tubuh Daren. Tetapi Daren menolak dengan tetap mendorong tubuh Aluna. Sudah sejak lama Daren menginginkan tubuh Aluna, tetapi ia tidak pernah bisa mendapatkannya.

"Apa yang ingin kamu lakukan, Daren. Menjauh-lah," kata Aluna.

Daren tidak memedulikan ucapan Aluna itu. Ia memiringkan wajahnya dan mencium bibir tebal Aluna dengan ganas. Emosinya langsung membara saat Aluna mengatakan jika ia di antar oleh Raka, lelaki yang pasti akan mencuri-curi pandang ke arah Aluna.

Aluna membelalakkan matanya saat Daren mencium bibirnya. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan ciuman. Dan ini adalah ciuman pertamanya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong tubuh Daren untuk melepaskan ciumannya. Ciuman Daren ini sangat ganas sekali dan membuat ia merasa kesakitan.

"Jangan kurang ajar, Daren. Kau tahu jika aku tidak suka dengan apa yang kau lakukan. Apalagi ini di sekolah," kata Aluna dengan marah.

Daren mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa amarahnya. Bagaimana pun ia tidak boleh bertindak kurang ajar kepada Aluna. Ia harus tetap berhati-hati dan bermain rapi sampai ia bisa mendapatkan dan menikmati tubuh molek Aluna ini.

"Aku minta maaf," kata Daren sembari mengusap pipi Aluna. "Aku tidak sengaja, Aluna. Aku minta maaf."

Aluna tidak mendengarkan ucapan Daren itu, ia melangkahkan kakinya keluar dari gudang dan masuk ke dalam kelas. Apa yang sudah Daren lakukan itu sudah sangat kurang ajar. Dan Aluna masih merasa kesal dengan apa yang Daren lakukan itu.

Sementara itu, Daren mengepalkan tangannya. Sudah cukup semua kesabarannya selama ini. Ia selalu merasa tersiksa saat berdekatan dengan Aluna tanpa bisa menyentuhnya sedikitpun. Dan setelah ini, ia akan mencari cara untuk bisa menyentuh setiap inti tubuh Aluna yang begitu menggiurkan. Ia juga akan membuat Aluna tidak berdaya di bawahnya.

***

Aluna mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dan memikirkan Raka. Ia tidak tahu mengapa ia memikirkan lelaki itu sekarang. Ia bahkan tidak memedulikan guru yang menjelaskan di depannya. Ia menyesal mengapa tidak memberikan nomor ponselnya kepada lelaki itu tadi. Saat ini ia sedang kesal dengan apa yang Daren lakukan kepadanya, dan ia juga tidak mungkin mau jika Daren yang mengantarnya pulang.

"Apa kakak tirimu tampan?" tanya Siska, sahabat Aluna yang berada di sebelahnya.

Aluna tersadar dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya menatap Siska. "Biasa saja."

"Ah, aku tidak yakin," kata Siska. "Pasti dia sangat tampan sekali, bukan. Kau pasti tertarik kepadanya."

Aluna terdiam beberapa saat. Ia kembali memikirkan Raka dengan tubuh atletisnya dan wajah yang terbilang cukup tampan. Ah ralat, sangat tampan sekali. Aluna harus mengakui jika Raka memang sangat tampan, lebih dari Daren. Aluna menggelengkan kepala saat tidak sadar ia memuji Raka. Tidak, ia tidak boleh memuji Raka berlebihan seperti itu. Raka adalah kakak tirinya. Dan ia juga merasa jika Raka tidak menyukai kehadirannya dan Mamanya di dalam rumah ini.

Siska mencolek tubuh Aluna dan tersenyum menggoda. "Apa kau baru saja memikirkan kakak tirimu itu?"

"Diam dan dengarkan penjelasan guru di depan. Aku tidak ingin membahas apapun tentang Raka," bisik Aluna pelan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED