"Selamat pagi, Sayang."
Bibir Raisa mengembang. "Selamat pagi juga, Sayangku." Kemudian dia memejamkan mata dan menerima kecupan hangat dari pacarnya.
Raisa Anastasya, perempuan berusia 24 tahun yang kini berada di posisi ketua divisi perencanaan. Berparas cantik, rambut panjang bergelombang, dan pipi merona. Iris matanya yang berwarna coklat cerah sering membuat beberapa pria salah fokus. Namun, statusnya tak lagi sendiri. Dia sudah bertunangan dengan pacarnya. Hubungan mereka terjalin begitu lama dari SMA. Sehingga rasanya tak akan ada yang bisa memisahkan keduanya.
Arzan Pamungkas namanya. Dia berada di posisi yang sama dengan Raisa, yaitu sebagai ketua divisi produksi. Perbedaan bidang dan kesamaan kedudukan seringkali memudahkan keduanya untuk bekerja sama setiap ada proyek baru. Kinerja mereka jadi dinilai bagus oleh perusahaan. Bahkan keduanya sepakat untuk menikah setelah kenaikan jabatan.
"Nanti malem mau jalan ke mana?" tanya Arzan sembari menekan tombol lift untuk keduanya masuk. Meski mereka adalah pasangan, di dalam kantor mereka ingin terlihat sebagai partner kerja saja lantaran khawatir hubungan mereka jadi mengganggu profesionalitas kerja.
"Emm ...." Raisa tampak memikirkannya baik-baik. Setiap akhir pekan mereka memang selalu menghabiskan waktu bersama. Ada baiknya Raisa mengajak Arzan untuk mendatangi beberapa tempat yang baru dibuka. "Mungkin kita bisa--"
Ting!
Bunyi lift yang dibuka menginterupsi ucapan Raisa. Saat keduanya mendongak untuk melihat keadaan di dalam lift, tampak seorang perempuan yang tersenyum ramah. Dia melambaikan tangan tanpa peduli dengan raut Arzan dan Raisa.
"Anja ... ni?"
Raisa menoleh ke arah Arzan yang tampak sangat syok. Apa ini adalah momen reuni? Tanpa pikir panjang, Raisa memeluk lengan Arzan dan menariknya masuk ke dalam. "Hai, Nja! Lama nggak ketemu, ya? Ada keperluan apa kamu ke sini?" tanya Raisa dengan tatapan menyelidik.
"Oh, hai, Ca!" Raisa memang selalu dipanggil dengan sebutan 'Caca'. Rasanya sedikit aneh kalau diucapkan oleh mantannya pacar. "Aku mau mengantar dokumen ini ke pabrik, sesuai perintah wakil ketua divisi."
"Kenapa kamu--"
"Ah, iya! Aku udah diterima sebagai karyawan di sini. Mohon kerja samanya, ya," ucap Anjani dengan senyuman lebar.
"Kerja di sini?" gumam Arzan yang tampak merenung.
"Divisi mana?" tanya Raisa.
"Perencanaan," jawab Anjani tanpa beban. Lagi-lagi Raisa terkejut sebab divisi itu adalah miliknya.
"Kebetulan aku juga di divisi perencanaan. Selamat bekerja, ya," ucap Raisa, bersamaan dengan Anjani yang berjalan ke luar lift. Wanita itu membalas ucapan Raisa dengan senyuman, kemudian melirik Arzan yang masih terpaku. Pria itu tampak sama seperti saat bersamanya. Dia hanya bertambah tinggi dan tampan.
"Duluan, Arzan."
Hingga lift menutup kembali, Arzan hanya terdiam. Raisa jadi merasa aneh. Sepanjang lift naik, pria itu tak lagi merespon ucapannya. Seperti sedang fokus dengan pikirannya sendiri. "... tapi mungkin bisanya begitu ya, Zan."
Bahkan sampai akhir, ucapan Raisa diabaikan. Hingga akhirnya Raisa memutuskan untuk menggoyangkan lengan Arzan. "Zan?"
Arzan tersadar dan langsung menatap Raisa. "Eh, ya? Maaf tadi kamu ngomong apa?"
Ada banyak hal yang tadi sudah dia katakan. Rasanya akan berbeda kalau diulang. Raisa pun menjawab dengan gelengan. "Bukan apa-apa. Kita sudah sampai. Selamat bekerja!"
"Iya, kamu juga."
Mereka pun berpisah ke ruangan masing-masing. Kalau dipikir-pikir, sikap Arzan tadi sangat aneh. Baru kali ini pria itu mengabaikan ucapan Raisa. Padahal selama ini, dia akan selalu menjadi pendengar pertama. Apa Arzan sedang tidak enak badan, ya? Setelah ini Raisa harus sering-sering mengecek kondisi pria itu dan memastikannya dalam keadaan sehat. Dia jadi mengkhawatirkan kekasihnya.
"Halo, Ca! Ini buat kamu." Linda datang dan meletakkan sebuah cup kopi di atas meja Raisa.
"Makasih."
Kemudian Linda mendudukkan diri di meja yang ada di depan Raisa. Dia memang bagian dari divisi perencanaan, sekaligus teman akrab Raisa. "Eh, kamu udah ketemu belum sama anak baru itu?"
"Anjani?" Raisa langsung mengucapkannya karena kenal dan baru saja bertemu.
"Loh, kok tau? Kalian saling kenal?" Tatapan Linda sudah dipenuhi rasa penasaran. Pasalnya dari awal kedatangan Anjani, perasaan Linda sudah tidak enak. Cara berpakaian dan ekspresi Anjani terlihat tidak tulus, tapi mana mungkin Linda berani mengatakannya secara gamblang? Bisa saja itu hanya prasangka buruknya.
"Kebetulan dia mantannya Arzan."
"HAH?!" Bola mata Linda langsung melebar. Saking kagetnya, dia sampai berdiri dari tempatnya dan menghampiri Raisa lagi. "Kamu serius, Sa?"
Raisa mengangguk dua kali. "Kenapa, sih?"
"Kamu bilang kenapa?" Linda mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja Raisa. Walaupun posisinya adalah bawahan, Linda berani melakukan ini karena karyawan lain belum datang. "Kamu kan pernah bilang sama aku kalau mantan Arzan cuma satu. Itu artinya, anak baru itu cinta pertamanya Arzan, kan? Emang kamu nggak khawatir gitu?"
"Kenapa aku harus khawatir?" Raisa masih belum menemukan maksud ucapan Linda sebenarnya.
"Duh, masa nggak ngerti? Biasanya ... cinta pertamanya cowok itu selalu membekas di hati! Apalagi kalau ketemu lagi di usia matang begini. Bisa-bisa mereka balik lagi, Caca!"
"Nggak mungkin," jawab Raisa langsung. Dia mulai menyalakan laptopnya dan memakai kacamata miliknya. "Aku percaya sama Arzan."
"Yakin?"
"Ya. Aku percaya sama dia."
Awalnya itu yang ingin Raisa percaya.
***
"Eh!"
Arzan merasa pinggangnya di senggol seseorang. Lantas dia berbalik dan melihat Anjani sudah berjongkok dengan kertas-kertas yang berserakan. Spontan pria itu ikut berjongkok untuk membantu Anjani memunguti kertasnya. "Habis fotokopi?" tanya Arzan.
Anjani mendongak. Dia menggerai anak rambutnya ke belakang telinga agar bisa melihat lebih jelas. "Eh, Arzan? Iya, aku habis diminta fotokopi."
Arzan dan Anjani pun kembali berdiri. Sebelum mengembalikan kertas itu, Arzan menatap isi kertasnya. "Proyek iklan mobil?"
"Iya. Baru nekan kontrak sama perusahaan kita," kata Anjani, dia menerima kertas yang diulurkan Arzan padanya. "Ngomong-ngomong, lama ya kita nggak ketemu?"
Entah mengapa Arzan bisa merasakan sinyal yang dikirim Anjani lewat kedua matanya. "Emm, ya."
"Aku seneng lihat kamu sama Caca masih langgeng."
Arzan berdeham sebentar. Dia tidak tau harus bicara apa untuk menanggapinya.
"Emm, kalau dilihat-lihat ... kamu makin tinggi, ya?" Tangan Anjani yang masih dalam posisi memegang kertas yang dipegang Arzan tiba-tiba mengelus jemari Arzan. "Makin ganteng juga."
Sontak Arzan menjauhkan tangannya. "Aku udah tunangan."
Mendengar itu, Anjani terkekeh. Dia memberikan tatapan kuat untuk memikat Arzan. "Memangnya aku bilang apa? Aku kan nggak ada ngajak kamu balikan."
Kemudian Anjani melewati tubuh Arzan untuk pergi lebih dulu, tapi sebelum itu dia sempat berbisik di samping Arzan. "Tapi kalau kamu kesepian, nomorku masih yang lama."
Darah dalam tubuh Arzan langsung berdesir. Daya pikat yang sulit dia lupakan dari tubuh Anjani hampir membuat Arzan kehilangan kendali. "Aku ... waktu itu ... kenapa kamu ninggalin aku?"
Anjani menatap Arzan dengan seulas senyuman. "Kalau mau dengar jawabannya, malam minggu nanti aku kosong."
"Tapi ... Caca ...."
"Kenapa? Bukankah ini pertemuan antar teman biasa?" ucap Anjani yang diakhiri oleh tawa kecil.
"Ssst!" desis Linda untuk memanggil Raisa yang masih fokus dengan pekerjaannya. Saking fokusnya, desisan Linda jadi seperti angin lalu saja.
"Ssst! Hus! Ca! Caca!"
Raisa mendongak untuk melihat siapa yang di situasi sibuk begini malah berisik. Saat tau kalau itu adalah Linda, sebelah alisnya terangkat naik. "Apa sih, Lin?"
Linda menganggukkan dagunya untuk menunjuk Arzan yang terlihat berada di dekat ruang divisi perencanaan. Raisa jadi ikut menoleh ke tempat yang Linda tunjuk.
"Arzan?"
"Dia bukannya mau ketemu kamu? Coba samperin! Siapa tau penting?" ucap Linda.
Apa yang disampaikan Linda benar juga. Lantas Raisa beranjak dari tempatnya untuk mendatangi Arzan.
"Kenapa, Zan?" ucap Raisa ketika berada di dekat Arzan.
"E--eh, Caca? Enggak kok, bukan apa-apa. Aku cuma lagi penasaran sama proyek yang digarap divisi perencanaan. Sekali-kali aku boleh mampir nggak, sih?" kata Arzan dengan senyuman lebar.
Raisa memiringkan kepalanya. Lagi-lagi Arzan tampak aneh, tidak seperti biasanya. Memang sudah dua minggu Raisa tidak bertukar kabar atau menghabiskan waktu berdua, tapi hal itu biasa terjadi karena kesibukan masing-masing setiap ada proyek besar. Dan juga, toh mereka akan bertemu di kantor. Jadi baik Raisa maupun Arzan tak terlalu mencemaskan masalah komunikasi.
Tapi kali ini aneh. Arzan tidak terlihat seperti lelah karena lembur. Dia malah tampak bersemangat.
"Kamu baik-baik aja, Zan?"
"Iya, dong!" Arzan terkekeh. "Jadi gimana? Boleh?"
Raisa menggaruk pelipisnya. "Boleh-boleh aja, sih. Tapi anak-anakmu di divisi nggak pada nyariin?"
"Santai aja."
Sejak saat itu, sejak Raisa mengijinkan Arzan untuk datang ke ruangannya kapan saja, Arzan jadi sering terlihat di divisi perencanaan. Raisa memang tak terlalu terganggu. Toh, Arzan juga banyak membantu di sini.
Tapi yang aneh adalah keakrabannya dengan Anjani. Raisa tak tau sejak kapan mereka terlihat lebih dekat daripada kali pertama bertemu di lift dulu. Apa mungkin Raisa hanya terlalu cemas saja?
"Kalau yang ini gimana, Jan?" tanya Anjani sambil menunjuk layar laptop. Lantas Arzan menundukkan tubuhnya dan membantu Anjani menyelesaikan hal itu.
"Yakin nggak cemburu?" tanya Linda yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Raisa. Gadis itu ternyata menarik kursinya sampai di samping kursi Raisa. "Mau nutup mata dan telinga sampai kapan, sih? Jelas-jelas tunanganmu itu lagi pacaran sama mantannya. Jangan sok-sok-an pengertian kalau soal kayak gini!"
Raisa mendorong kursi Linda darinya. "Aku percaya sama Arzan."
"Percaya kok sama cowok? Percaya tuh sama Tuhan!"
Benar kalau dibilang Raisa tidak berprasangka buruk pada Arzan, tapi jelas dia mencemaskan sikap Anjani. Entah mengapa gadis itu seolah berusaha membuat Raisa tidak kasatmata.
Sepulang dari kantor, seperti biasanya Raisa hendak menunggu Arzan untuk pulang bersama. Tapi sudah dua jam Raisa menunggu dan Arzan tak kunjung turun juga. Karena cemas, Raisa memutuskan untuk masuk gedung lagi. Dia memilih naik tangga darurat karena lift sudah diisi banyak orang.
Baru sampai di lantai lima, langkah Raisa berhenti. Dia segera berbalik dan sembunyi di balik tembok. Terdengar bunyi tawa dari seseorang yang sangat Raisa kenal. Saat mengintipnya kembali, Raisa melihat Anjani yang berdiri di dalam kukungan lengan Arzan. Keduanya tampak senang. Bahkan saling melemparkan gurauan dan berakhir berciuman.
Ya, mereka berciuman.
Spontan Raisa menutup bibirnya. Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat. Semuanya terlalu tiba-tiba. Arzan yang selalu dia percaya kini berkhianat. Apalagi hubungan mereka bukan hanya setahun dua tahun pacaran, tapi kenapa kepercayaan yang sudah terbentuk kuat dihancurkan semudah ini?
"Kenapa ... Zan?" Tangis Raisa mulai luruh. Dia susah payah untuk menghapus air mata.
Tiba-tiba sebuah sapu tangan diulurkan di sampingnya. Raisa tak mengerti, tapi dia terima saja sapu tangan itu karena malu. Raisa gunakan sapu tangannya untuk menghapus air mata dan ingusnya.
"Dia nggak pantas untukmu."
Raisa tau, di situasi begini orang akan mudah menilai kalau Raisa baru saja diselingkuhi. "Terima kasih," jawabnya seadanya tanpa berusaha menatap orang itu.
Kemudian Raisa beranjak pergi dari sana. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi kalau terus melihat adegan itu.
Sampai di depan gedung, Raisa menutup wajahnya. Tangisnya masih belum juga berhenti. Dia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Semuanya terlalu tiba-tiba. Kalau sudah begini, bagaimana dengan orang tuanya? Bagaimana dengan rencana pernikahan mereka? Bagaimana dengan perbincangan yang sudah didiskusikan dua keluarga? Bukankah semuanya akan hancur seketika jika Raisa langsung memutus hubungan mereka?
Apalagi ... Raisa sangat mencintai Arzan. Bagaimana semuanya bisa jadi begini? Apa salah Raisa pada Arzan? Apa yang membuat Arzan merasa kurang puas dengan Raisa?
"Caca!"
Raisa mendongak. Dia mulai menghapus semua air mata itu lagi dan berbalik. Dia lihat Arzan yang tersenyum lebar di samping Anjani.
"Hari ini Anjani nebeng kita juga, ya? Kasihan dia pulang sama taxi. Malam-malam begini kan susah carinya," ucap Arzan yang tak terlihat merasa bersalah sama sekali. Saat Raisa menatap bibir Arzan, di ujungnya ada bercak lipstik yang Anjani kenakan. Karena hari ini mereka akan makan malam bersama keluarga Raisa, Raisa tak ingin kejadian ini sampai disadari orang tuanya.
Raisa mengangguk. Dia berjalan mendekati Arzan lalu mengulurkan tangannya. Dia usap bibir Arzan dengan ibu jarinya untuk menghapus bekas itu.
"Ca--Caca?"
Raisa tersenyum miris. Dia menarik napas dalam-dalam dan meminta Arzan untuk segera menyiapkan mobilnya.
***
"Bagaimana kabar kamu, Nak Arzan?" tanya papa Raisa.
Sontak Arzan tersenyum lebar. Dia genggam tangan Raisa begitu eratnya. "Sangat bahagia, Pa! Karena Caca selalu ada di samping Arzan."
"Hahaha, kalian kelihatan kasmaran sekali. Papa jadi ingin cepat-cepat ngemong cucu," ucap papa Raisa.
"Iya, nih! Nggak sabar banget lihat anak mirip Arzan sama Caca," kata mama Raisa yang ikut mendesak.
Mendengar itu, Arzan terkekeh canggung. "Sesegera mungkin, Pa, Ma. Arzan dan Caca sedang mengusahakan agar tahun ini naik jabatan. Proyek kali ini besar, jadi akan cukup berpengaruh."
"Waduh! Keren-keren!"
Arzan melirik Raisa yang sepanjang makan malam hanya diam saja. Ini rasanya aneh. Padahal biasanya Raisa akan merebut celah untuk menjawab pertanyaan orang tuanya sendiri.
"Pelan-pelan aja, Ma, Pa. Kalau buru-buru takut hasilnya nggak sesuai ekspektasi," ucap Raisa akhirnya, tapi bukannya membantu membela, Raisa malah terdengar seperti mulai meragukan Arzan.
"Ca?"
Raisa tak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis sebagai balasan.
"Ya sudah. Yang penting papa sama mama akan selalu mendukung kalian. Soalnya kami sudah merasa cocok sama hubungan kalian. Terus sama-sama, ya?" ucap mama Raisa.
"Pasti, Ma," kata Arzan yang begitu yakin
Raisa jadi meliriknya. Apa maksud ucapan Arzan, pria itu akan tetap bersama Raisa walau sudah menemui perempuan lain di belakangnya? Ini jadi semakin tidak benar.
Kejadian yang dialaminya kemarin membuat Raisa sulit untuk fokus kerja. Rasa sakit terus menyerang kepalanya. Mungkin karena dia susah tidur dan sengaja menunda-nunda makan. Memang, cara satu-satunya untuk menghapus segala keresahan dan ingatan buruk adalah dengan menyibukkan diri. Itu yang Raisa lakukan sekarang.
"Ini dokumen yang sudah ditandatangani pihak penanggung jawab," ucap Anjani dan memberikan mapnya pada Raisa.
Raisa menerima map itu setelah menghela napas berat. "Anjani," panggil Raisa.
"Ya?"
"Buat 100 referensi dari data yang perusahaan punya dan rangkum bagian-bagian penting untuk dibahas di rapat nanti. Kirim semuanya lewat surel padaku," ucap Raisa dengan tegas. Dari tadi pandangannya selalu terjebak pada bibir tebal Anjani.
"Ma--maaf? 100 video?" tanya Anjani yang baru pertama kali diberikan tugas lebih berat.
"Ya, apa kamu nggak bisa? Apa perlu aku lemparkan tugas ini ke yang lain?" Nada bicara Raisa yang lebih tegas dan dingin membuat karyawan divisi perencanaan langsung bertukar pandang. Mereka menduga telah terjadi sesuatu di antara Raisa dan Anjani.
"Bi--bisa kok! Aku bisa! Akan aku selesaikan," kata Anjani yang langsung kembali ke tempat duduknya. Rapat resmi akan diadakan besok pagi. Jadi kalau ingin selesai tepat waktu, Anjani harus lembur untuk menyelesaikannya.
"Baiklah."
Raisa melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah waktunya makan siang. Mari," ajak Raisa pada para rekan kerjanya. Mereka pun bangkit dan bergantian ke luar dari ruangan, kecuali Anjani.
Di jalan menuju kantin perusahaan, Raisa melihat Arzan yang berjalan ke arah ruang divisi perencanaan. Raisa tau betul kalau yang akan pria itu temui adalah Anjani. Maka lebih baik untuknya tidak menyapa dan bersembunyi di balik tubuh Linda.
"Hei? Hei? Kamu kenapa?" tanya Linda yang bingung dengan tingkah Raisa.
Raisa menggeleng. "Jangan tanya apa-apa, Nda."
Setelah malam tiba, seluruh karyawan akan pulang seperti biasa. Tapi berbeda dengan Anjani yang masih harus menyelesaikan semua pekerjaannya. Merasa bahwa tugas itu bahkan bukan apa-apa dari rasa sakitnya, Raisa pun berjalan angkuh ke luar ruangan lebih dulu. Tapi dia tidak pulang. Dia masih tetap di dalam gedung sembari menunggu hujan reda.
"Aku bantuin, ya?"
Raisa yang sedang duduk di dekat jendela ruang divisi perencanaan tak sengaja mendengar semua percakapan yang ada di dalam. Tentang bagaimana manisnya Arzan memperlakukan Anjani, tentang bagaimana Arzan membantu pekerjaan yang harus dituntaskan Anjani, dan ....
Tubuh Raisa membeku di tempat saat mendengar bahwa Arzan dan Anjani bercerita tentang pengalaman mereka menghabiskan malam bersama beberapa waktu lalu.
Sepertinya ini sudah di luar batas. Raisa tak bisa mentoleransinya lagi. Kalau Arzan memang menginginkan Anjani, maka tidak perlu mempertahankan Raisa lagi, kan?
Raisa bangkit dan berjalan kembali ke ruang divisi. Di ambang pintu dia berucap, "Kalau kamu cinta dia, kenapa nggak bilang sama aku?"
"CACA?!" Spontan Arzan bangkit dari tempatnya dan menatap lekat Raisa. Tubuhnya sudah kaku sejak tau kalau Raisa mendengar semua percakapan mereka.
"Kenapa kamu nggak bilang apa-apa dan tetap berhubungan di belakangku? Padahal kalau ...." Air mata Raisa jatuh. Apalagi dia bisa melihat jelas bibir Anjani yang tersenyum puas. "... kalau kamu bilang masih mencintainya, aku nggak akan nahan kamu."
"Nggak kayak gitu!" Arzan berjalan mendekati Raisa. Dia mengambil kedua tangan gadis itu. "Kamu salah paham. Aku nggak akan pisah dari kamu! Aku akan menikahi kamu!"
Raisa langsung menghempas tangan Arzan darinya. "Jangan konyol!"
"Kumohon, Ca! Aku nggak mau orang tuaku kecewa. Mereka suka sama kamu!"
"Harusnya dari awal kamu mikirin perasaan mereka sebelum melakukan itu!" bentak Raisa yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Ini semua juga salah kamu! Kenapa kamu kalah cantik sama Anjani dan membuatku tergoda padanya?!" Bentakan Arzan kali ini benar-benar membuat Raisa terluka. Jadi maksudnya ... sekarang Arzan menyalahkan Raisa? Menyalahkan fisik Raisa?
"Kalah ... cantik?"
"Ya! Kamu nggak ada apa-apanya dari Anjani! Dia selalu bisa menyenangkan aku, menyenangkan hasratku sebagai pria, juga bersikap manis seperti sangat-sangat membutuhkanku. Setidaknya kalau mau terjebak dalam pernikahan seumur hidup sama kamu, biarkan aku menikmati masa lajangku dengan perempuan yang kumau! Apa kamu mengerti, Ca?!" kata Arzan yang di telinga Raisa semakin terdengar tidak karuan.
Sepertinya di mata Arzan, Raisa adalah gadis sok independen yang perlu digertak sedikit agar menurut.
"Udah, Zan!" seru Anjani yang tiba-tiba sudah berada di antara Raisa dan Arzan. Dia memeluk lengan Arzan agar pria itu berhenti marah. "Jangan marah lagi, ya? Tenangin diri kamu."
Padahal jelas sekali siapa biang masalah di sini, tapi tampaknya Arzan sudah dibutakan oleh tubuh seksi Anjani. Lantas Raisa mengangguk berulangkali sembari berusaha mengusap air matanya.
"Jadi gitu?" Raisa berbalik dan berlari pergi dari pandangan Arzan.
"Raisa!" Setelah melihat kepergian Raisa yang diiringi air mata, tanpa sadar Arzan ingin mengejarnya. Apalagi sekarang sedang hujan deras. Bahaya kalau gadis itu pulang sekarang. Arzan takut Raisa mengadu pada orang tua dan membuat semuanya berantakan. "Raisa!"
Raisa tak mengindahkan panggilan Arzan. Bahkan hujan deras langsung dia terjang. Petir yang terus menyambar tak menghalangi langkah Raisa sedikit pun. Saat merasa jalanan sepi, Raisa langsung menyebrang. Tanpa menyadari bahwa dari arah kanan ada truk bermuatan besar yang mulai hilang kendali. Rem yang harusnya langsung berhenti ketika diinjak tak berefek apa-apa. Supir pun semakin panik ketika melihat seorang perempuan di depannya.
"CACA!"
Tubuh Raisa langsung terhempas jauh dan berguling di atas aspal. Dia menubruk tiang lampu jalan sampai seluruh tubuhnya terasa patah.
Apa aku mati hari ini?
Malah itu yang Raisa pikirkan.
Satu-satunya yang dia benci di akhir hidupnya adalah suara teriakan Arzan yang berlari menyebut namanya. Raisa tak suka.
Ketika kesadarannya mulai hilang perlahan-lahan, Raisa menyebut sebuah permohonan.
Yaitu, untuk terlahir kembali dan diberi kesempatan balas dendam.
Seluruh pandangan Raisa berubah gelap. Dia tau betul kalau mungkin saja kematian sedang menyelimuti dirinya. Hanya saja, dia merasa sedikit tidak adil. Mengapa kematian datang di situasi yang tidak tepat? Setelah ini, Raisa hanya akan terlihat semakin menyedihkan.
Bagaimana kalau sampai beredar kabar seorang perempuan berlari menerjang truk karena sakit hati diselingkuhi pacar? Itu pasti akan sangat memalukan.
Raisa menghela napas berat. Dia mengusap keningnya untuk menetralkan emosi.
Eh!
Tapi, tunggu!
Kenapa tangannya bisa digerakkan?
Spontan Raisa membuka kedua matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah langit kamar berwarna biru muda. Saat mengedarkan pandangan, Raisa juga melihat benda dan barang-barang asing yang bukan miliknya. Kalau dia bukan berada di kamarnya, harusnya dia ada di rumah sakit, kan? Tapi apa ini?
Bunyi ketukan pintu terdengar yang kemudian dibuka. "Raisa! Ayo turun dan sarapan!"
"Siapa ...," gumam Raisa yang tidak kenal siapa wanita yang menyuruhnya sarapan ini.
"Kenapa masih bengong gitu? Mama udah selesai masak. Nanti kamu yang cuci piring, ya?" Wanita paruh baya itu masuk dan mulai membuka tirai-tirai jendela kamar. "Atau mandi dulu sana terus turun. Jangan bengong begitu."
Mama? Kenapa wanita asing ini adalah mamanya? Raisa masih ingat betul wajah mamanya yang berbeda.
Lantas dia mulai bangkit dan menurunkan kakinya ke atas lantai.
Rasanya aneh. Seperti baru belajar berjalan. Kakinya terasa kesemutan dan canggung. Perasaan lega ini juga tidak familiar bagi Raisa.
Hingga akhirnya Raisa melirik ke arah cermin tegak yang ada di dekat lemari. Di sana, dia melihat wajah orang lain tengah menatap dirinya. Saat mendekat, orang itu juga ikut mendekat.
Tunggu!
Raisa memicingkan kedua matanya. Jangan bilang, ini adalah tubuhnya? Jangan bilang, Raisa memasuki tubuh perempuan ini?
Sebenarnya, apa yang terjadi?!