Bab 1

Namaku Luna Valleryn, biasa dipanggil Luna. Aku seorang gadis muda berusia dua puluh lima tahun yang baru menikah satu bulan yang lalu. Suamiku bernama Dion Wijaya, seorang arsitektur. Usia kami tidak terpaut jauh, hanya tiga tahun saja. Dahulu dia adalah kakak kelasku di SMA, dan kami tidak sengaja bertemu kembali ketika reuni. Satu minggu setelah pertemuan itu, Mas Dion langsung datang ke rumah dan melamarku.

Aku menerima lamaran Mas Dion karena kurasa aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Dia pria yang tampan dan mapan. Apa lagi yang harus aku pertimbangkan? Lagipula, usiaku pun sudah cukup matang untuk berumah tangga. Kupikir Mas Dion laki-laki yang baik, buktinya ia langsung meminangku. Bukankah itu salah satu bukti nyata bahwa dia serius dan sungguh-sungguh mencintaiku? Tapi ternyata, setelah menjadi istrinya, aku baru menyadari bahwa anggapan itu keliru.

Orang bilang, masa-masa pengantin baru adalah masa-masa yang menyenangkan. Namun yang kurasakan justru sebaliknya. Setiap hari Mas Dion sibuk dengan pekerjaannya, dan hampir setiap akhir pekan ia melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Boro-boro mau bulan madu, bahkan Mas Dion saja baru satu kali menyentuhku, itu pun pada saat malam pertama, hanya sekitar setengah jam setelah itu ia mendengkur tidur. Saat itu aku masih memaklumi, mungkin Mas Dion lelah karena resepsi yang memakan waktu seharian. Aku pun begitu. Kupikir, kami akan mengulangnya di malam berikutnya, dengan persiapan yang lebih matang dan terencana mungkin. Nyatanya, malam-malam yang kunantikan itu tidak pernah datang lagi.

“Pakaianku sudah siap, Lun?” tanya Mas Dion yang baru ke luar dari kamar mandi.

“Mas jadi berangkat ke Bali hari ini?” balasku.

“Iya. Aku sudah membuat janji dengan klien di sana,” jawabnya.

Aku memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper, sebenarnya aku juga telah mempersiapkan pakaian itu sedari tadi karena Mas Dion memang sudah memberi tahuku dari tiga hari yang lalu.

“Aku ikut ya, Mas,” pintaku penuh harap.

“Jangan dong. Aku di sana sibuk, nanti kamu malah sendirian di hotel.”

“Apa bedanya dengan di sini? Toh sepanjang hari aku juga sendiri,” balasku sarkas.

Ia membelai rambutku. “Nanti kalau aku udah nggak terlalu sibuk, kita liburan satu minggu full, okay?”

Aku mendengus, sudah begitu muak mendengar kata ‘nanti’ itu.

“Entar malam aku ke rumah Tante Maya ya, kemarin anaknya ulang tahun, aku mau ngasih kado sekalian silaturahmi. Tante Maya juga udah nyuruh aku main ke sana dari kemarin-kemarin,” ujarku beberapa menit berselang.

“Ya, sampaikan salamku pada Tante Maya dan Om Berend,” balas Mas Dion sambil mengenakan pakaian yang telah aku sediakan untuknya.

“Padahal Tante Maya juga pengen ketemu kamu lho, Mas. Mereka kan nggak sempat hadir ke pernikahan.”

“Iya, nanti, ya. Kalau aku sudah sibuk.”

Aku mendengus untuk yang kedua kalinya. Kalau aku sedang sibuk? Kamu tidak pernah tidak sibuk, Mas, batinku.

Tidak lama berselang, Mas Dion pun berangkat ke Bali. Aku tidak ikut mengantar ke Bandara karena rasanya juga akan percuma. Di sepanjang perjalanan Mas Dion hanya akan membahas agendanya bersama Galih, asistennya. Yang ada aku hanya akan semakin makan hati.

Pukul setengah tujuh malam, aku tiba di kediaman Tante Maya. Niko langsung menyambutku dengan girang, apa lagi saat tahu aku datang membawa kado untuknya.

“Bilang apa ke kakaknya, Sayang?” ujar Tante Maya yang datang menghampiri aku dan Niko.

“Terima kasih, Kakak Cantik,” ujar bocah sepuluh tahun itu.

“Iya, sama-sama, Niko Ganteng,” balasku,

Lantas aku menyalami Tante Mira dan dia langsung membalas dengan pelukan hangat, lengkap dengan ciuman di pipi kanan dan kiri. “Kok datang sendiri sih, Lun? Suami kamu mana?” tanya Tante Mira.

“Mas Dion baru berangkat ke Bali tadi sore, Tante, ada urusan kerjaan,” jawabku.

“Lho, kamu kok nggak ikut? Kan bisa sekalian bulan madu.”

Aku mengibaskan tangan. “Nggak nyaman juga bulan madu tapi suami masih sibuk dengan kerjaannya.”

Tante Mira terkekeh. “Iya, iya, mending nyari waktu yang tepat dulu, ya.”

Aku menanggapi dengan senyum tipis. Lantas Tante Maya mengajakku mengobrol di sofa. Tante Maya ini adalah sepupu jauh mamaku, tapi aku cukup dekat dengannya karena aku pernah menginap di rumahnya beberapa bulan saat kuliah dahulu. Saat tengah mengobrol, Om Berend, suaminya Tante Maya pulang bekerja.

“Eh, ada tamu rupanya,” sapa Om Berend hangat. Aku langsung menyalami suami tanteku itu.

“Kapan datang, Lun?” tanya Om Berend lagi.

“Baru banget, Om, sekitar lima menit yang lalu.”

“Ooohh.” Om Berend beralih mendekati istrinya. Ia memeluk dan memberikan kecupan hangat di dahi Tante Maya. Om Berend memang tidak pernah berubah, ia selalu memperlakukan Tante Maya dengan romantis meski usia pernikahan mereka sudah lebih sepuluh tahun.

“Kamu kok cantik banget sih hari ini, Sayang,” puji Om Berend pada Tante Maya.

“Apaan, ibu-ibu pake daster gini kok dibilang cantik?” elak Tante Maya, meski kulihat pipinya merona merah saat mendapatkan pujian itu.

“Justru karena pakai daster kamu terlihat lebih seksi,” goda Om Berend lagi.

Tante Maya langsung mencubit pinggang suaminya itu. “Malu tahu, ada Luna.”

Om Berend hanya terkekeh sendiri. “Aku mau mandi dulu ya, Sayang. Udah keringetan banget nih rasanya.”

“Iya, aku langsung nyiapin makanan, ya.”

“Okay.” Om Berend pun menaiki lantai dua, menuju kamarnya.

Jujur saja, aku iri melihat keromantisan Om Berend pada Tante Maya. Mas Dion tidak pernah memperlakukanku sehangat itu. Jangankan memeluk dan memberikan kecupan setiap berangkat dan pulang kerja, memuji aku saat aku berdandan cantik saja Mas Dion tidak pernah.

Aku membantu Tante Maya menyiapkan makan makan malam. Sekitar setengah jam kemudian, Om Berend kembali bergabung bersama kami. Rambutnya basah habis keramas, menyeruakkan aroma shampoo yang menggelitik penciuman. Ia mengenakan celana pendek dan baju kaos polos. Dengan penampilan seperti itu, Om Berend sama sekali tidak terlihat seperti bapak-bapak kepala empat. Ia justru terlihat sepuluh tahun lebih muda dari umurnya.

Om Berend memang merawat tubuhnya dengan baik. Dia rajin berolahraga, seminggu tiga kali. Ia juga selalu mewarnai rambutnya dengan warna hitam dan mencukur berewoknya secara berkala. Dahulu, ketika masih tinggal di rumahnya, aku pernah tidak sengaja melihat Om Berend bertelanjang dada. Perutnya kotak-kotak, dadanya bidang. Sepertinya juga belum berubah hingga sekarang.

“Malam ini kamu menginap di sini, Lun?”

Pertanyaan Tante Maya berhasil membuyarkan lamunanku yang sedang membayangkan keindahan tubuh Om Berend.

“Eng-enggak, Tante, lain kali saja,” jawabku dengan sedikit tergagap. Saat itu Om Berend juga melirik padaku, wajahku langsung berubah merah padam. Apa Om Berend tahu bahwa tadi aku memerhatikannya?

Bab 2

“Menginap saja di sini, dari pada di rumah sendirian,” ujar Tante Maya lagi sambil mengambilkan lauk untuk Om Berend.

“Memangnya suami kamu ke mana, Lun?” Om Berend turut bertanya.

“Sedang ke luar kota, Om,” jawabku.

“Oh.” Om Berend mengangguk-angguk. “Ya, mending nginap di sini saja,” ujarnya lagi.

“Iya, Kak. Nginap di sini aja. Niko juga kangen ingin main PS sama Kak Luna lagi,” imbuh Niko.

Aku tersenyum pada bocah sepuluh tahun itu. “Ya, malam ini kakak nginap di sini,” ucapku.

“Yeee.” Niko langsung tertawa girang.

Aku, Tante Maya, Om Berend dan Niko kembali melanjutkan makan malam. Setelah makan malam, aku menemani Niko bermain PS, sementara Om Berend dan Tante Maya naik ke lantai dua, memasuki kamarnya. Kenapa mereka sudah masuk kamar jam segini? Apa jangan-jangan mereka…

Aku bergegas mengusap wajahku sendiri. Untuk apa juga aku mempertanyakan apa yang dilakukan Tante Maya dan Om Berend di kamar? Mereka itu sepasang suami istri. Mereka bebas melakukan apa saja. Lagipula rumah ini juga rumah mereka.

Sekitar dua jam kemudian, Om Berend turun ke lantai satu. Ia hanya mengenakan celana boxer. Badannya tampak berkilat-kilat karena keringat. Kontan saja aku melongo melihatnya, bukan hanya karena melihat tubuhnya nan atletis itu, tapi juga karena membayangkan apa yang telah ia lakukan sehingga berkeringat seperti itu.

“Niko, sudah malam, Nak. Waktunya tidur, ya,” ujar Om Berend menghampiri kami berdua.

“Tapi kan besok libur, Pa,” bantah Niko.

“Iya, tapi ini udah jam sepuluh malam. Anak kecil nggak ada yang tidur di atas jam sepuluh malam. Udah gih, tidur sana, biar Kak Luna bisa istirahat juga.”

Niko pun akhirnya menurut. Om Berend mengantarkan Niko di ke kamarnya, setelah itu ia kembali lagi. “Nanti kalau udah mau tidur, langsung ke kamar tamu aja, ya, Lun. Jangan sampai ketiduran di sofa,” ujar Om Berend setengah menyindir, karena dahulu aku memang sering ketiduran di sofa saat menonton televisi.

“Hehe, iya, Om,” lirihku.

Om Berend ke dapur. Ia tampak mengambil minuman dingin dari kulkas. Lagi-lagi mataku bergerak mengikuti gerak-geriknya. Aku meneguk ludah melihat jakunnya yang bergerak turun naik saat meneguk minuman dingin itu. Aku jadi ingin menjadi minuman itu agar bisa menjalar di sekujur tubuh atletisnya. Ah, sial, pemikiran apa ini? Luna, sadar, Luna. Dia itu suami tantemu! Aku memaki diri sendiri.

Om Berend mendekatiku. Ia membuatkan kopi untukku. “Nih, mending minum kopi dari pada ngelamun aja,” ujar Om Berend.

“Eh, makasih banyak, Om. Harusnya Om Berend nggak perlu repot-repot bikinin kopi segala, aku kan bisa bikin sendiri,” balasku yang merasa sungkan.

“Gimana mau bikin kopi, kamu dari tadi ngelamun mulu.” Om Berend duduk di sebelahku.

Oh Tuhan, kenapa dia harus duduk di sebelahku dengan pakaian seperti itu? Tidak sadarkah dia bahwa mataku akan semakin salah fokus pada tubuhnya dan pada titik keperkasaannya yang kuyakini begitu perkasa itu? Aroma tubuhnya yang menyeruak bersama keringat membuatku memejamkan mata. Sial, pikiranku jadi semakin melayang kemana-mana.

“Tante sudah tidur, Om?” tanyaku. Aku sengaja mencari topik pembicaraan untuk mengalihkan pikiranku yang semakin liar.

“Iya,” jawab Om Berend. “Dia selalu tidur pulas setelas Om puaskan.”

Aku melotot mendengarnya. Oh, Damn! What the hell! Berani-beraninya dia menceritakan permainan ranjangnya pada aku yang haus akan itu.

Melihat reaksiku, Om Berend terkekeh sendiri. “Kamu tahu Luna, di atas umur tiga puluh, gairah bercinta seorang perempuan akan menurun. Sementara gairah laki-laki tidak berbatas waktu,” ucap Om Berend.

Aku tidak menanggapi. Aku juga pernah membaca artikel tentang itu. Tapi yang jadi pertanyaan, apa maksud Om Berend membahas hal itu denganku? Apa maksudnya Tante Maya sudah mulai kehilangan gairah sementara gairah Om Berend sendiri masih menggebu-gebu?

Om Berend melirikku. Tatapannya seperti menelanjangiku, terang saja aku salah tingkah karena lirikan itu. Aku membasahi tenggorokanku dengan kopi yang telah dibuatkan Om Berend untukku.

“Gimana pernikahan dengan suamimu, Luna? Apakah menyenangkan?” tanya Om Berend.

“Ya,” jawabku singkat dengan anggukan kepala.

“Berapa frekuensi bercinta kalian dalam seminggu?”

Aku melongo mendengarkan pertanyaan yang begitu berani itu. “Tidak terlalu sering, Om.”

Om Berend mengerutkan dahi. “Kenapa?”

Aku tidak menjawab, tidak mungkin juga kuceritakan bahwa aku baru satu kali disentuh oleh suamiku.

“Ah, sayang sekali. Kalau aku jadi suamimu, mungkin aku tidak akan melewatkanmu setiap malam, apa lagi sampai meninggalkanmu ke luar kota seperti ini,” cetusnya. “Kamu cantik dan menggairahkan,” sambungnya.

Aku tersenyum tipis. “Tidak semua laki-laki punya pemikiran seperti itu, Om. Mungkin suamiku pengecualiannya,” balasku getir.

Di luar, hujan mulai turun, sebelum pembicaraan itu semakin melebar kemana-mana, aku langsung berinisiatif untuk menyudahinya. “Om, aku mau tidur dulu. Terima kasih untuk kopinya,” ucapku sambil bangkit berdiri.

“Luna…”

Aku kembali menoleh ketika Om Berend memanggil namaku. Mataku bertatapan dengan mata coklatnya, menimbulkan detakan yang sulit untuk didefinisikan. “Kalau kau butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk mengabariku,” ucapnya.

Debaran di dadaku semakin kencang saja mendengar kalimat itu. Aku memang sedang membutuhkanmu? Apa aku boleh memintanya malam ini? Bola mataku kembali menjalar ke tubuh atletisnya. Aku bergegas mengalihkan pandangan dan langsung memasuki kamar yang sudah disediakan untukku.

Di kamar, aku tidak bisa tidur. Aku terus membayangkan tubuh Om Berend lengkap dengan segala pertanyaan dan pernyataannya tadi. Tiba-tiba aku mendengar suara televisi di luar. Apa Om Berend belum tidur? Aku pun melangkah pelan menuju pintu. Dengan tempo selambat mungkin kubuka pintu itu. Dan mataku kontan terbelalak ketika melihat apa yang sedang dilakukan suami tanteku itu.

Om Berend masih duduk di sofa tadi sambil memainkan keperkasaannya sendiri. Ia melakukan itu dengan sebelah tangannya. Meski samar, dapat kudengar Om Berend mengeluarkan desahan-desahan kecil. Oh, aku jadi terangsang.

Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak membuka kancing kemejaku sendiri, meraba-raba dua gundukan di dadaku yang sudah mengencang. Aku menggigit bibir ketika merasakan sengatan dari sentuhan tanganku sendiri. Mataku terpejam sementara tanganku sudah bergerak turun ke balik celana jeans yang kukenakan, mencari kenikmatan lain di dalam sana. Ah, sial, kenapa juga aku harus mengenakan jeans hari ini? Seharusnya aku memakai dress saja.

“Kau belum tidur, Lun?”

Aku tersentak mendengar suara Om Berend. Saat membuka mata, laki-laki itu sudah berada di depan pintu kamar yang memang kubuka sedikit untuk mengintipnya tadi. Wajahku langsung berubah merah padam. Sejak kapan ia berdiri di situ? Apa dia melihat yang kulakukan barusan? Bergegas kurapikan kembali kancing kemejaku.

“Be-belum, Om.” Aku terbata. Oh sial, kenapa juga aku menyahut dengan kata belum.

Om Berend mendorong pintu kamar itu, mendapati aku yang masih sibuk merapikan kancing kemeja. Ia tersenyum penuh arti. “Kenapa tidak bilang, kalau kamu butuh aku, Luna?” ucapnya.

Bab 3

Om Berend melangkah masuk, sementara kakiku beringsut mundur. “Om … mau ngapain?” lirihku. Kuyakini wajahku pucat pasi saat itu.

“Aku ingin membantumu,” jawabnya. Om Berend menutup pintu, aku semakin gemetaran. Oh Tuhan, apa yang akan dilakukan suami tanteku ini?

Om Berend semakin mendekat. Tangannya mulai membelai leherku. Sialnya, bibirku spontan mengeluarkan desahan kecil. Untung saja aku cepat sadar. Aku pun menepis tangan Om Berend. “Jangan, Om. Tante Maya akan marah besar,” ucapku.

“Tantemu itu sudah tertidur pulas, Lun. Dia tidak akan terbangun sampai pagi. Sekarang giliran kamu yang kupuaskan hingga tertidur pulas juga,” balasnya setengah berbisik.

Apa? Dia ingin memuaskanku? Oh, aku memang sudah lama sekali ingin dipuaskan oleh seorang laki-laki, tapi suamiku tidak pernah memberikan itu. Lantas, apa aku harus mendapatkannya dari suami tanteku sendiri?

Tangan Om Berend semakin bergerak membuka kancing kemejaku satu per satu. Kepala dan hatiku sedang berperang. Nuraniku mengatakan bahwa hal ini terlarang, aku sama saja mengkhianati Tante Maya yang telah begitu baik padaku. Tapi logikaku justru mengatakan bahwa aku membutuhkan suami tanteku ini. Aku punya kebutuhan juga sebagai seorang wanita dewasa, dan ini adalah kesempatan yang belum tentu akan datang dua kali.

Aku masih sibuk dengan pikiranku. Tahu-tahu aku sudah berada dalam pelukan Om Berend. Pakaianku juga sudah jatuh ke lantai, entah kapan ia melucutinya. Om Berend memberikan cumbuan panas di bibir, sementara tangannya terus menjalar di tubuhku. Aku gelagapan menanggapi ciuman itu. Om Berend benar-benar buas. Ia seperti tidak ingin melewatkan satu inci pun dari tubuhku. Boro-boro berontak, aku justru hanyut dalam sentuhannya.

“Puaskan aku, Om!”

Shit! Aku mengumpat bibirku sendiri yang dengan biadapnya sudah mengatakan kalimat tersebut. Sadar Luna! Sadar! Laki-laki ini adalah suami tantemu! Tapi, bagaimana mungkin aku bisa sadar jika setiap sentuhan Om Berend terus membuatku melayang-layang.

Detik demi detik berlalu. Aku dan Om Berend menyatu di atas ranjang. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki itu, bahkan aku tidak sempat melihat seberapa besar keperkasaannya. Aku hanya merasakan kenikmatan yang dahsyat ketika benda itu menghujam goaku.

Aku berusaha menggigit sudut bibirku agar desahan-desahan itu tidak keluar. Jangan sampai Tante Maya terbangun dan melihatku apa yang aku lakukan dengan suaminya. Ah, tolol, kenapa juga aku harus terus-terusan memikirkan Tante Maya? Yang ada aku jadi tidak fokus menikmati permainan ini.

Om Berend semakin beringas saja. Aku semakin hilang kendali. Sekitar setengah jam berselang, aku mengerang. Om Berend berhasil membawaku ke puncak yang aku inginkan.

Kami berdua terengah-engah di atas ranjang itu. Aku menarik selimut dan memalingkan wajah. Perasaanku berkecamuk, antara malu, sedih, merasa bersalah, tapi juga merasa senang di saat yang bersamaan. Om Berend bangkit berdiri dan mengenakan kembali celana boxer pendeknya, setelah itu ia ke luar dari kamar tersebut.

***

“Nyenyak tidurnya semalam, Lun?” tegur Tante Maya ketika melihatku ke luar dari kamar.

Mukaku langsung berubah merah padam. Aku merasa malu bangun lebih siang dari pada tuan rumah, meski tuan rumah itu juga tanteku sendiri. Ya, tidurku tadi malam memang nyenyak sekali. Tapi, tahukan Tante Maya, aku bisa tidur nyenyak setelah dipuaskan oleh suaminya?

Aku tersenyum tipis dan menghampiri Tante Maya di dapur. Aku membantunya menyiapkan sarapan.

“Lain kali, kalau suamimu ke luar kota, kamu menginap di sini saja, Lun,” ujar Tante Maya.

“Ah, Mas Dion hampir setiap akhir pekan ke luar kota, Tan,” balasku.

“Oh ya? Berarti setiap akhir pekan juga kamu sendirian di rumah?”

“Hmmm, berdua dengan asisten rumah tangga.”

Tante Maya menatapku prihatin. “Suamimu sibuk banget ya, Lun?”

“Ya, begitulah, Tan.”

Tante Maya mengusap bahuku. “Sabar, ya. Iya sih, kita butuh uang untuk kebutuhan hidup. Tapi kita juga butuh waktu untuk menikmatinya, Lun. Coba deh kamu ajak suamimu bicara baik-baik untuk mengurangi kesibukannya, supaya punya waktu juga buat kalian berdua.”

“Iya, Tan. Makasi, ya, Tan.”

Tante Maya tersenyum menatapku. Seiring dengan itu Om Berend turun dari lantai dua. Ia mengenakan setelan olahraga, celana training dan baju kaos ketat. Om Berend terlihat gagah. Tapi aku tidak berani menatapnya lama-lama.

“Kamu mau fitness, Sayang?” tanya Tante Maya pada suaminya.

“Iya, Sayang. Aku kan selalu fitness setiap minggu pagi,” jawab Om Berend.

“Tapi kan aku mau pakai mobil untuk belanja bulanan, sementara mobil satu lagi masih di bengkel, kan? Kamu pakai taxi online aja, ya.”

“Hmmm, kamu bawa mobil kan, Lun?” tanya Om Berend padaku.

“Hah?” Aku masih bengong karena sedari tadi berusaha untuk tidak menyimak pembicaraan suami istri itu.

“Mobil silver yang di depan itu punya kamu, kan?” Om Berend memastikan.

“Iya, Om.”

“Nanti Om nebeng sampai tempat fitness ya,” pintanya.

Aku melirik Tante Maya. Bukannya tidak mengizinkan, aku hanya tidak nyaman lagi dengan Om Berend semenjak kejadian tadi malam.

“Memangnya kamu mau pulang pagi ini, Lun?” tanya Tante Maya padaku.

Aku bingung harus menjawab apa. Jika aku mengiyakan, maka tentu aku akan berangkat bersama Om Berend. Tapi jika aku menggeleng, aku juga tidak punya alasan untuk lebih lama di rumah itu.

“Iya, Tante,” jawabku akhirnya.

“Ya, sudah kalau gitu, kamu bareng Luna aja, Sayang,” ujar Tante Maya pada suaminya.

Mampus kamu, Lun! Aku mengumpat diri sendiri. Aku tidak bisa membayangkan apa lagi yang akan Om Berend lakukan padaku nanti. Tapi, tidak bisa dibohongi juga bahwa hati kecilku sebenarnya menantikan masa-masa berdua dengan Om Berend.

Usai sarapan, aku pun pamit pada Tante Maya. “Aku pulang dulu ya, Tante,” ujarku sambil memeluk tanteku itu.

“Nanti siang Tante akan nelpon kamu. Tante akan ngasih tips gimana caranya supaya suamimu betah di rumah,” balas Tante Maya, aku menanggapi dengan tawa lirih.

Setelah itu, aku dan Om Berend memasuki mobil. Om Berend yang menyetir, sementara aku duduk di sebelahnya.

“Kapan suamimu pulang dari luar kota, Lun?” tanya Om Berend memecah hening yang berlangsung cukup lama.

“Besok pagi, Om,” jawabku.

Om Berend langsung tersenyum arti. Firasatku mulai tidak enak. Om Berend menambah kecepatan mobil.

“Bukannya itu tempat fitness langganan Om?” tanyaku pada Om Berend ketika kami telah melewati sebuah tempat fitness.

“Aku ingin fitness di rumahmu saja, Lun,” jawabnya.

Aku kontan melotot. “Ma-maksud Om apa?”

Ia melirikku. “Kau menyukai olahraga seperti tadi malam, kan?”

Wajahku mendadak panas, pasti sudah persis kepiting rebus. “Jangan aneh-aneh lagi, Om. Cukup tadi malam saja,” tandasku.

Om Berend justru terkekeh. “Bagaimana mungkin kau mengatakan cukup sementara tadi malam saja kau selalu meminta lebih. Kau lupa, Lun? Tadi malam kau selalu mengatakan, ‘Om, jangan berhenti!’” Om Berend menirukan suaraku dalam desahan penuh gairah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED