“Ouch!” seru Nathan terkejut.
Sore hari di pusat kota Singapura, seorang laki-laki dengan topi pet dan pakaian serba hitam, sengaja menubruk Nathan.
Tanpa merasa bersalah, laki-laki itu berlalu begitu saja dan meninggalkan Nathan yang segera menyadari bahwa ada sesuatu di dalam saku celana bahan yang dikenakannya.
Nathan, yang memiliki nama lengkap Nathan Evano Dharmendra, mengayunkan langkah dengan santai menuju ke sebuah taman kecil yang sepi dan ia segera mengaktifkan earphone khusus seraya menyambungkan bluetooth pada jam tangan yang dimasukkan oleh seorang laki-laki tadi ke dalam saku celananya.
Setelah siap, Nathan menekan salah satu tombol untuk mendengarkan sebuah pesan suara. “Pembagian warisan yang tidak merata menjadi masalah besar dan ancaman bagi sebagian besar orang yang bahkan tidak ada sangkut pautnya. Besok, di bagian kedatangan, menjelang waktu istirahat, berkas bertuliskan isi warisan itu harus diambil dan diserahkan pada pemilik yang sebenarnya.”
Usai pesan suara diperdengarkan, layar pada jam tangan menunjukkan semua detail yang harus diingat dengan cepat oleh Nathan, lalu tulisan menghilang dan jam tangan berubah fungsi menjadi penunjuk waktu biasa.
Pesan itu hanya untuk didengarkan sekali dan sebagai sleeper agent, Nathan tidak merasa terkejut dengan cara penyampaian pesan yang seperti itu. Pun pesan yang terdengar aneh itu mampu dicerna dengan baik oleh Nathan. Ia tahu, ada tugas untuknya besok di bandara.
***
Sementara itu di Pulau Bali.
"Jadi, kamu lulusan sarjana?" Arsenio bertanya setelah meminum hot americano di atas meja.
Davina menengadahkan wajah, lalu berdeham untuk memberi respons.
"Bukan masalah. Itu tidak memalukan. Sebenarnya aku baru saja lulus S2," sambung Arsenio.
"Oh ya?" Davina bertanya seolah ia tertarik dengan topik pembahasan ini.
Arsenio mengangguk dan menambahkan, "Namun, aku belum punya tabungan untuk pernikahan."
Ada nada lesu yang bisa Davina dengar dari pria yang baru saja ia kenal sepuluh menit yang lalu.
"Jadi, Davina, jika kita menikah nanti, bisakah kamu tetap bekerja?" tanya Arsenio.
Itu hanya perasaannya saja atau memang benar pria itu sedikit aneh?
Bukankah kebanyakan pria lebih suka istrinya berada di rumah? Apalagi jika laki-laki itu berasal dari keluarga konglomerat seperti Arsenio. Biasanya mereka lebih suka wanita tinggal di rumah saja.
"Kamu tidak keberatan jika aku tetap bekerja?" Davina bertanya untuk memastikan.
Arsenio mengangguk mantap.
“Walaupun aku anak orang kaya, namun aku tidak memiliki tabungan sedikit pun. Sedikit bayangan saja untukmu, setelah menikah nanti, orang tuaku mungkin tidak akan memberiku uang bulanan. Jadi, sebaiknya kamu tetap bekerja. Itu akan sangat membantu keuangan kita di masa depan.” Arsenio berkata.
Balasan tak terduga itu langsung membuat mulut Davina terbuka. Sial! Pria macam apa Arsenio itu?
Pria itu lulus S2, tetapi belum bekerja. Lalu ingin mempersuntingnya menjadi istri hanya untuk menafkahi?
Sangat tidak waras!
Tidak lagi peduli dengan tata krama, Davina yang terlalu kesal segera meraih tas selempang yang diletakkannya di atas meja dan beranjak meninggalkan Arsenio, pria yang dikenalkan Mira untuk kencan buta dengannya.
“Davina? Kamu mau ke mana? Aku belum selesai bicara! Bagaimana dengan minuman ini? Siapa yang akan membayar?” seru Arsenio.
Semua tamu yang ada di dalam cafe praktis memandang ke arahnya. Namun, Davina tidak berhenti. Gadis cantik dengan rambut panjang yang diikat ekor kuda itu tidak memedulikan seruan Arsenio dan terus melangkah pergi.
Siapa yang ingin bertemu? Laki-laki itu, bukan? Biar saja dia yang bertanggung jawab membayar minumannya. Lagi pula Davina hanya memesan air mineral. Itu tidak mungkin menguras habis rekening orang tua Arsenio.
Senja sudah berlalu, tetapi langit masih belum terlalu gelap.
Kebetulan cafe berada di dalam mall yang berhadapan langsung dengan pantai. Davina yang merasa kecewa segera berlari keluar dari dalam mall menuju ke Pantai Kuta dan berteriak sekencang-kencangnya, “Argh! Kenapa kalian semua senang mengatur acara kencan buta untukku? Kenapa kalian semua ingin mengatur hidupku? Kenapa memangnya kalau aku belum menikah? Apa aku pernah menyulitkan hidup kalian? Apa kalian tidak tahu kalau sikap kalian itu membuatku benci dengan diriku sendiri? Aku benci kalian semua! Aku benci?!”
Davina terengah-engah sambil membungkuk dengan kedua tangan memegangi lutut untuk mengatur napas yang terasa sangat sesak. Keadaan itu sungguh membuatnya frustasi.
Beruntung pantai sudah sepi. Pengunjung yang masih ada di sana pun tidak memedulikan dirinya.
Davina seketika duduk di atas pasir sambil melepaskan sepatu heels berwarna hitam yang dikenakannya. Ia lalu menengadah ke langit, membiarkan butiran air mata jatuh ke pipinya yang putih mulus.
Davina Ismajaya, putri dari pasangan suami istri Pramudya Ismajaya dan Indri adalah seorang gadis berparas cantik yang sangat tertutup dan lebih suka bicara seperlunya.
Kebanyakan orang di sekitarnya selalu mengira gadis itu tidak pernah memiliki masalah. Siapa yang menyangka, hilangnya pesawat dengan tujuan ke Singapura beberapa tahun silam telah merenggut nyawa kedua orang tuanya?
Badai hidup yang dilalui semasa ia remaja itu yang membentuk karakter Davina menjadi seperti sekarang ini.
Setelah merasa lebih baik, Davina pulang ke rumahnya yang berada di area Jimbaran dengan berjalan kaki sambil menunduk. Penampilannya terlihat sangat berantakan. Tangan kanannya memegangi sepatu heels dan ikatan rambutnya sudah ia lepas.
Setibanya di rumah, Davina langsung mandi air hangat dan sesudahnya ia segera menyalakan laptop untuk memesan tiket perjalanan menuju ke Singapura.
Semuanya terjadi begitu saja. Davina bahkan sudah melunasi pembayaran dan memesan kamar hotel untuk tiga malam. Besok Davina akan berlibur ke Singapura.
***
Keesokan harinya di bandara Changi, Singapura.
Nathan terlihat semakin tampan dalam kemeja putih bergaris vertikal biru muda lengan panjang yang dilipat sampai siku, berpadu celana panjang jeans warna biru tua.
Laki-laki itu berjalan dengan raut wajah datar seolah tidak sedang memperhatikan apa pun, padahal di balik kacamata hitamnya ia sedang menunggu sosok pria paruh baya yang akan segera melewati pintu masuk dari arah kedatangan pesawat.
“Target berada di arah tepat pukul dua belas, Tuan,” Suara seorang kepercayaan terdengar jelas di telinga Nathan.
“Berapa kali aku harus mengatakan agar kamu berhenti memanggilku tuan?” ujar Nathan dalam bahasa Inggris sembari mempercepat langkahnya. Ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ketika pria paruh baya yang dimaksudkan sedang berhenti di sebuah konter untuk membeli nomor telepon yang baru dan melepaskan genggamannya dari koper berukuran kecil untuk mengambil dompet di saku celana.
Tanpa ragu, Nathan menukar koper dan bergerak ke arah pintu keluar.
“Oh, tidak! Pria tua itu memiliki pengawal. Aku ketahuan!” Nathan berkata seraya berbelok ke arah yang lain.
“Alihkan perhatian! Aku siap mengurusnya,” sahut Mark, orang kepercayaan Nathan.
Nathan melihat seorang pengawal sudah hampir mendekat ke arahnya, tetapi masih terhalang oleh rombongan tour yang baru datang. Secara kebetulan ia melihat seorang gadis berambut panjang hitam kecokelatan yang baru saja melepas kacamata hitamnya melangkah mendekat ke arahnya.
Tak ada waktu lagi! Nathan menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya sampai semua pengawal bergerak melewati mereka.
Nathan sukses membuat gadis itu terbelalak karena mendapatkan ciuman yang tiba-tiba.
Sesaat setelah Nathan melepaskan panggutannya, mereka berdua saling berpandangan.
“Davina?”
“Nathan?”
“Nathan! Halo! Apa kamu baik-baik saja?” tanya Mark membuyarkan lamunan Nathan yang tak kalah terkejutnya dengan Davina.
“Ah, iya, aku baik-baik saja,” jawab Nathan tak melepaskan tatapannya dari sosok gadis yang pernah menjadi teman mainnya di masa lalu.
“Astaga! Sepertinya ide mengalihkan perhatian dengan cara berciuman itu sangat menarik. Aku harus mencobanya di lain waktu,” goda Mark.
“Apa kamu berhasil?” tanya Nathan tak memedulikan candaan Mark.
“Tentu saja! Usulmu untuk mengenakan pakaian dan membawa koper yang sama mampu membuat mereka terkecoh. Apa mereka tidak tahu kalau tinggi dan wajah kita berbeda? Aku sudah melihat mereka semua pergi bersama bapak tua ….”
“Baik. Kamu langsung pulang saja! Aku akan menyusul nanti,” tukas Nathan.
“Hei! Apa kamu mengusirku?” Mark bertanya dengan nada suara tidak percaya. Namun, Nathan sudah memutuskan sambungan komunikasinya.
“Hai! Maaf. Tadi aku ….” Terlalu gugup membuat Nathan kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya sehingga ia memilih untuk berhenti dengan tatapan lembut yang mengunci pandangan Davina.
Gadis yang baru saja menginjakkan kakinya di sebuah tempat yang masih terasa asing itu terlihat memegangi bibirnya dan perlahan mengerjap. Ia masih berusaha memulihkan kesadaran dan debaran di dadanya.
“Lama tidak berjumpa.” Akhirnya Davina bersuara.
“Iya,” sahut Nathan salah tingkah.
“Sambutan yang tak terduga.” Davina berkata seraya tertawa geli melihat sikap pemuda di hadapannya itu.
Melihat reaksi Davina yang cukup santai, membuat Nathan bernapas lega dan ikut tertawa.
“Maaf,” ucap Nathan lagi.
Wajah Davina merona karena menahan malu. Pun dadanya berdebar-debar.
Bagaimana bisa Davina marah pada Nathan? Laki-laki itu teman masa kecilnya dan bisa dikatakan cinta pertama di hatinya. Dulu mereka pernah hidup bertetangga. Bermain setiap sore. Hingga tragedi itu terjadi dan mengharuskan dirinya mengikuti saran Steven, kakaknya, untuk pindah ke rumah yang berukuran lebih kecil.
Sejak kepindahannya, ini pertama kali Davina kembali bertemu dengan Nathan.
“Apa kamu sedang berlibur?” tanya Davina melirik ke arah koper di samping Nathan.
“Tidak. Aku tinggal di sini. Apa Steven tidak pernah menceritakannya padamu?” jawab Nathan.
Davina menggeleng pelan. Ia tahu, kemungkinan Steven tidak ingin mengungkit masa lalu karena khawatir akan menimbulkan kenangan pahit di dalam ingatannya.
“Bagaimana denganmu? Apa kamu sedang berlibur?” tanya Nathan.
“Iya. Aku sedang berlibur dan baru saja tiba,” jawab Davina yang tiba-tiba menepuk dahinya dengan sebelah tangan, “oh, aku hampir saja lupa untuk mengambil koper.”
“Aku akan menemanimu,” ujar Nathan ikut melangkah di samping Davina dengan pandangan yang terus mengedar ke sekitar untuk memastikan keadaan tetap aman.
Davina mengangguk dan merasa heran ketika Nathan menariknya ke satu konter yang berada di paling ujung. Tidak ada antrean di sana.
Nathan menunjukkan sebuah kartu yang menurut Davina terlihat seperti kartu identitas yang cukup sakti. Terbukti ketika melihat kartu tersebut, petugas imigrasi yang tadinya memasang raut wajah sangat mengerikan praktis tersenyum ramah dan segera mengangguk, memberi tanda agar Davina menyerahkan passpor miliknya. Hanya dalam sekejab, Davina sudah mendapatkan izin masuk di Negara Singapura.
“Selamat berlibur, Davina!” ucap gadis itu pelan pada diri sendiri seraya memasukkan passpor ke dalam tas.
Sesudah mengambil koper, Davina bermaksud untuk pamit dan mencari taxi. Namun, Nathan kembali menarik tangannya dan berkata, “Aku akan mengantarkanmu.”
“Eee, tidak perlu. Aku kemari untuk berlibur dan tidak ingin mengganggu aktivitasmu,” tolak Davina merasa sungkan.
“Kamu menginap di mana?” tanya Nathan mengabaikan penolakan Davina.
“Hotel Oba. Kalau tidak salah terletak di kawasan Queensway,” sahut Davina masih tidak sadar kalau pergelangan tangan kanannya berada di dalam genggaman Nathan.
“Kita searah,” jawab Nathan yang sudah kembali melangkah, diikuti oleh Davina.
***
Sementara itu di sebuah toko kecil yang sudah lama kosong, yang terletak di kawasan Little India, Singapura.
“Apa maksud kalian sudah melihat koper itu ditukar, tetapi tidak bisa mengambil koper itu kembali?!” Bernard menghardik dalam bahasa Inggris.
Tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara. Mereka semua bahkan menunduk seolah khawatir kepala mereka akan meledak sewaktu-waktu jika bertatapan langsung dengan sorot tajam mata Bernard.
“Bagaimana denganmu, pak tua? Untuk apa kamu melepaskan koper dari tanganmu?” tanya Bernard beralih menatap Dedi, seorang pria paruh baya yang sebenarnya asli dari Indonesia, hanya sudah lama tinggal di Singapura.
Dedi adalah seorang pengacara yang selama lima tahun belakangan ini hanya bekerja untuk Bernard, seorang mafia yang terkenal sangat kejam.
Kedatangannya di bandara tadi lantaran Dedi mendapat tugas untuk mengatur agar seluruh warisan orang tua Bernard yang baru saja meninggal di Australia hanya jatuh ke tangan Bernard seorang.
Bisa dibayangkan, seluruh harta dan pulau pribadi yang terletak di kawasan Asia Pasifik milik orang tua Bernard akan membuat ketua mafia itu semakin mudah membangun markas yang tidak akan bisa disentuh oleh siapa pun. Itu sungguh sangat berbahaya.
“Aku hanya ingin membeli nomor baru untuk memudahkan berkomunikasi denganmu, mengingat nomorku yang lama sudah kamu hancurkan,” jawab Dedi dengan berani. Lama-lama dia kesal juga dengan sikap semena-mena tuannya itu.
“Hei, pak tua! Kamu pikir aku bodoh?” murka Bernard, membuat Dedi tak ingin membalas kemarahannya lagi.
“Aku sudah berhasil merentas CCTV di bandara. Pencuri itu seorang sleeper agent yang ternyata masih berkeliaran dengan seorang gadis ketika kalian semua meninggalkan bandara.” Tiba-tiba Willie menyela. Ia adalah seorang ahli IT kepercayaan Bernard.
“Ha! Sudah kuduga. Mereka semua selalu saja ikut campur urusanku. Bunuh sleeper agent dan wanitanya!” titah Bernard.
Perintah yang sudah dikatakan, tidak mungkin ditariknya kembali. Laki-laki itu memang luar biasa kejam.
Tak perlu terkejut! Bernard bahkan memiliki dua adik perempuan yang seharusnya ia lindungi. Namun, keserakahan membuatnya tak berperasaan hingga mengabaikan saudara kandungnya sendiri.
***
Di dalam sebuah city car berwarna perak, Davina menyeringai penuh kemenangan ketika membaca pesan dari Mira yang berisi umpatan akibat dirinya meninggalkan Arsenio semalam. Setidaknya untuk saat ini, teman kantor yang sangat menjengkelkan itu tidak mungkin bisa memaksanya untuk bertemu Arsenio lagi.
“Ada kabar baik?” tanya Nathan ketika sudut matanya menangkap senyum Davina yang terlihat manis.
Davina memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, tanpa memberikan jawaban. Gadis introvert itu tidak akan mudah menceritakan masalahnya pada orang lain, termasuk Nathan.
Tanpa disadari oleh Davina, ternyata Nathan juga menyukainya sejak mereka beranjak remaja. Waktu itu mereka hanya masih terlalu kecil untuk memahami arti cinta sesungguhnya.
Sepuluh tahun telah berlalu dan baru sekarang mereka kembali berjumpa. Senyum itu masih mampu membuat Nathan berdebar-debar.
Getar ponsel membuat Nathan terkesiap dan segera mengaktifkan bluetooth earphone miliknya.
“Jangan tinggalkan gadis itu sendirian! Ia dalam bahaya. Ralat! Kalian berdua dalam bahaya,” ujar Mark melalui telepon.
Tanpa membalas perkataan Mark, Nathan segera menginjak pedal gas dan memegang erat kemudinya melaju ke kawasan Gunung Faber. Padahal, mereka sebenarnya sudah dekat dengan kawasan Queensway.
Hingga beberapa saat kemudian, laki-laki tampan itu menghentikan kendaraannya, membuat Davina sibuk mencari-cari tulisan Hotel Oba dengan raut wajah bingung.
“Kita ada di mana? Apa kamu tidak jadi mengantarku ke hotel?” Davina bertanya.
“Lupakan hotelmu itu! Kita akan jalan-jalan dan menginap di sekitar sini,” jawab Nathan sembari turun dari mobil.
Pandangan Davina hanya mengikuti gerakan Nathan di luar mobil. Ia lantas kembali mengedarkan pandangan ke sekitar.
Sejauh Davina memandang, sepertinya tidak ada tempat penginapan. Padahal gadis itu sudah membayangkan akan beristirahat sebentar di salah satu kamar hotel bintang empat yang sudah dipesannya semalam, sebelum ia mulai mengunjungi tempat-tempat yang indah di Singapura.
Davina tersentak ketika mendengar suara ketukan di kaca.
Rupanya Nathan sudah berdiri di samping mobil dengan dua koper yang sudah diletakkan di dekatnya, sambil menunggu Davina keluar.
Tidak ada pilihan. Davina mendesah pelan dan melangkah keluar dari mobil, mengikuti Nathan yang sesekali meletakkan koper, lalu menyuruhnya berpose dan mengambil foto dengan ponselnya.
“Kita mau ke mana?” tanya Davina untuk kesekian kalinya.
“Lihatlah! Pemandangan alam dari sini sangat indah.” Bukannya menjawab, Nathan justru terlihat menikmati pemandangan di sekitarnya.
Davina yang masih kebingungan perlahan melihat ke sekeliling dan mendadak rasa jengkelnya berganti dengan rasa kagum. Nathan benar! Keindahan Singapura dapat dilihat dari posisinya berdiri saat ini.
Nathan melirik sekilas ke arah Davina, lalu kembali berkata, “Aku akan menjadi pemandu wisata untukmu.”
Davina dengan cepat menoleh ke arah Nathan.
“Eee, tidak perlu! Aku tidak ingin merepotkan,” tolak Davina sungkan.
“Sampai kapan kamu di sini?“ tanya Nathan mengabaikan penolakan Davina.
“Hanya tiga malam,” jawab Davina.
Itu hanya perasaan Davina saja atau memang benar Nathan terlihat sedikit mengernyit. Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan Nathan. Namun, laki-laki itu melanjutkan langkah dengan kedua tangan yang menarik koper, membuat Davina semakin merasa tidak enak hati.
“Nathan, kenapa kopernya tidak ditaruh di mobil saja?” tanya Davina.
“Kita akan ke Pulau Sentosa dengan cable car dan tidak akan kembali ke sini lagi,” jawab Nathan.
“Kalau begitu, aku akan membawa koperku sendiri.” Davina berkata seraya berusaha mengambil alih kopernya.
“Biar aku saja. Ini ringan. Kamu cukup menikmati liburan,” cicit Nathan tak memberikan Davina kesempatan untuk membawa kopernya sendiri.
Davina terlihat merasa tidak nyaman dengan sikap baik Nathan karena meskipun dulu mereka akrab, tetapi sudah lama mereka tidak berjumpa. Lagi pula, gadis itu merasa sepertinya ada sesuatu yang membebani pikiran Nathan. Ia khawatir Nathan hanya merasa tidak enak hati sehingga memaksakan diri untuk menemaninya.
Davina tidak tahu kalau sebenarnya Nathan sibuk memikirkan keselamatannya.
Sebelum naik cable car, Nathan mengajak Davina memasang gembok dengan menuliskan harapan mereka. Itu mungkin seperti di film-film Korea yang tokohnya memasang gembok di Namsan Tower. Tak lupa, Nathan juga mengajak Davina membunyikan lonceng yang bernama bell of happiness. Lalu minta tolong seseorang untuk mengambil gambar mereka di bawah lonceng.
Davina tidak tahu sejarah lonceng tersebut. Dia dengan polosnya hanya menuruti semua yang dikatakan oleh Nathan.
Menurut cerita yang pernah Nathan dengar, terdapat kepercayaan dari para pengunjung. Apabila ada dua orang atau lebih yang membunyikan lonceng maka mereka akan diberikan kebahagiaan, keharmonisan, dan kedamaian.
Di tengah usahanya untuk membuat Davina bisa merasakan liburan di Singapura, Nathan tahu ada masalah besar yang sedang dihadapinya. Laki-laki itu berharap semua masalah dapat diselesaikan dengan baik dan Davina bisa pulang dengan selamat.
“Wow! Aku khawatir kita akan jatuh di tengah laut!” pekik Davina yang tidak berani bergerak.
Nathan tersenyum sambil menjawab, “Kita tidak mungkin jatuh. Duduklah dengan tenang! Kamu bisa melewatkan pemandangan yang sangat indah.”
Saat ini, mereka sudah berada di dalam cable car dan Davina terlihat penuh perjuangan untuk bisa menikmati pemandangan, seperti yang dikatakan oleh Nathan.
Tak lama kemudian, ketika mereka tiba di Pulau Sentosa.
“Hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih sudah membawaku kemari,” ucap Davina sembari tersenyum bahagia. Gadis yang tidak tahu apa-apa itu tak henti-hentinya mengambil gambar dan video pemandangan di sekitarnya.
“Ini sudah menjadi tugasku,” lirih Nathan yang baru saja membaca pesan dari Mark yang mengatakan bahwa orang-orang Bernard sudah mulai mengacaukan tempat kerja dan unit apartment tempat tinggalnya.
***
Setelah puas bermain di Universal Studio dan berkeliling di Pulau Sentosa, Nathan mengajak Davina menginap di sebuah hotel bintang lima. Mereka masih berada di Pulau Sentosa.
Sebagai pekerja di hotel yang ada di Pulau Bali, Davina merasa ada sesuatu yang janggal dengan Nathan. Pasalnya, laki-laki itu tidak mengunjungi bagian resepsionis terlebih dahulu untuk mengambil kunci kamar dan mereka bisa langsung memiliki akses untuk masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di lantai dua puluh dua.
“Apa kamu tinggal di hotel ini?” tanya Davina usai membersihkan tubuhnya.
Nathan yang sedang sibuk berkomunikasi dengan Mark melalui pesan seketika menoleh ke arah Davina yang hendak bergabung bersamanya di sofa.
“Istirahatlah! Aku akan tidur di kamar sebelah. Jangan mengunci pintu penghubung dan jangan membuka pintu untuk siapa pun! Apa kamu mengerti?” Bukannya menjawab, Nathan justru memberi pesan pada Davina.
Gadis berbalut piyama bahan satin berwarna merah maroon itu mengangguk.
Nathan memperhatikan Davina sejenak dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan kagum sebagai laki-laki normal. Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya seraya menarik koper yang tadi ia tukar di bandara.
Davina yang merasa sakit pada sekujur tubuhnya memilih untuk mengabaikan sikap aneh Nathan yang menjengkelkan dan naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat.
Tanpa Davina ketahui, di kamar Nathan sudah ada Mark, Justin, dan Felix. Mereka adalah tim inti yang selalu membantu Nathan untuk menyelesaikan tugas, seperti sekarang ini.
“Sudah siap?” Itu suara Justin, ahlinya menyamar.
“Apa sistem keamanan sudah aktif?” tanya Nathan.
“Sudah. Sepuluh orang yang kau minta juga sudah berjaga-jaga di depan,” jawab Felix, ahli IT.
“Ck, selalu saja berlebihan dan bercanda di tengah situasi hati Nathan yang buruk,” sungut Mark.
“Ketua mengirimkan lima orang jagoan untuk menjaga gadismu,” ringis Felix meralat perkataannya.
Nathan mengangguk dan menyerahkan koper yang ada di tangannya pada Justin.
Di dalam mobil SUV berwarna hitam, Justin yang sudah berhasil membuka koper, dengan cekatan membuka amplop secara perlahan dan menyerahkan isinya pada Felix agar dibuat duplikatnya. Sementara Mark langsung membantu Justin memasang topeng berbahan silikon di wajahnya.
Mereka harus bergegas karena Moiz, pengacara keluarga Bernard akan segera mendarat untuk memberikan surat wasiat yang baru. Rupanya Bernard sudah bisa menduga kejadian yang dialaminya tadi sehingga sudah membuat rencana cadangan.
Rencananya, Justin akan berperan sebagai Moiz yang akan memberikan surat wasiat yang sudah diduplikat dan tentu saja sudah direvisi untuk bagian tertentu pada orang kepercayaan Bernard. Sedangkan Moiz yang asli akan berurusan dengan Nathan dan Mark. Tentu saja, kali ini Nathan harus lebih berhati-hati agar tidak sampai ketahuan.
Setibanya di bandara, Felix menyerahkan surat wasiat palsu beserta seluruh berkasnya pada Justin yang sudah berpenampilan seperti Moiz. Ahli IT kepercayaan Nathan itu lantas mulai menampilkan seluruh CCTV yang ada di bandara dan di dalam pesawat yang ditumpangi oleh Moiz.
“Kita bersiap sekarang!” titah Nathan.
Mark, Justin, dan Felix mengangguk secara serempak. Akan tetapi, gerakan mereka seketika terhenti ketika mendengar suara getar ponsel Nathan.
Laki-laki tampan yang sudah siap dengan maskernya itu terpaksa menerima sambungan telepon karena di layar tertera nama seorang pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Davina hotel.
“Nona panik mencari Tuan Nathan.” Seorang pengawal itu berkata dalam bahasa Inggris.