Arlena melangkah keluar dari ruangan pesta dengan hati yang remuk. Gaun anggun berwarna perak yang ia kenakan malam itu kini terasa seperti beban. Pesta pertunangan itu-yang awalnya ia kira hanya sebuah acara formal perusahaan-mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Di tengah riuh tawa dan percakapan tamu, matanya tanpa sengaja menangkap sosok kekasihnya, Iqbal, tengah berdiri di sisi seorang wanita. Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Iqbal.
Arlena seakan tak percaya. Selama ini, ia mencintai Iqbal sepenuh hati, mempercayakan seluruh perasaannya pada pria itu. Ia berpikir bahwa Iqbal adalah masa depannya, pelindung hatinya. Namun, kenyataan di hadapannya meruntuhkan semua harapan itu seketika.
Tanpa arah, Arlena melangkah keluar dari gedung, mengabaikan panggilan teman-temannya yang bingung melihat wajah pucatnya. Ia terus berjalan, masuk ke dalam lift tanpa tujuan. Kepalanya berdenyut-denyut, campuran amarah, kecewa, dan kesedihan yang begitu mendalam menguasai dirinya.
Saat pintu lift terbuka di lantai dua puluh lima, Arlena melangkah keluar dengan pandangan kosong. Entah bagaimana, langkahnya membawanya ke depan sebuah kamar hotel yang pintunya sedikit terbuka. Mungkin akibat ketidakjelasan dalam pikirannya, ia pun masuk, mencari ruang untuk menangis tanpa ada yang melihat.
Di dalam kamar, Arlena duduk di tepi tempat tidur, wajahnya yang sembab menatap ke cermin besar di depannya. Air matanya mengalir, membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi.
"Tega sekali kamu, Iqbal..." bisiknya lirih sambil memeluk dirinya sendiri, mencoba mengumpulkan serpihan hatinya yang telah pecah berantakan.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan, hingga tiba-tiba pintu kamar terbuka lebih lebar. Seorang pria masuk ke dalam kamar dengan langkah mantap. Pria itu terdiam sejenak ketika melihat Arlena di sana, dan begitu pula Arlena yang tercengang saat menyadari kehadiran orang asing di ruangan itu.
"Siapa kamu?" suara pria itu terdengar dalam dan tajam, sorot matanya penuh ketidakpercayaan saat melihat wanita asing duduk di kamarnya.
Arlena tergagap, kaget dan bingung. "Maaf... aku... aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya..."
Pria itu mengerutkan kening, menatap Arlena dengan tajam. Ia adalah Leonard Hartanto, pewaris tunggal dari salah satu konglomerat besar di negeri itu. Dengan setelan jas rapi dan aura dingin, ia terlihat seperti seseorang yang tak akan mudah menerima penjelasan sembarangan.
"Kenapa kamu ada di sini? Ini kamarku," ujarnya dengan nada rendah namun penuh tekanan.
Arlena merasa semakin tak nyaman. Ia berdiri, berusaha menjelaskan dirinya meski lidahnya kelu. "Maaf, aku hanya... aku hanya butuh tempat untuk menenangkan diri."
Leonard memandangnya dengan sorot tajam, lalu menghela napas panjang. "Tempat untuk menenangkan diri? Kau pikir kamar hotel ini adalah tempat umum yang bisa dimasuki siapa saja?"
Arlena tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menunduk, merasa malu sekaligus canggung di hadapan pria asing ini.
"Maafkan aku," bisik Arlena, suaranya nyaris tak terdengar. Namun, saat hendak melangkah keluar, matanya mendadak kabur, tubuhnya melemah. Emosi yang terlalu intens membuatnya merasa lelah. Sebelum ia sempat keluar, pandangannya mengabur, dan ia pun jatuh terkulai.
Leonard segera bergerak cepat, menangkap tubuh Arlena yang hampir jatuh ke lantai. Tubuh wanita itu terasa ringan, namun kulitnya panas, tanda bahwa ia sangat kelelahan. Dengan wajah dingin, Leonard membaringkan Arlena di tempat tidur.
"Dasar merepotkan..." gumamnya pelan, namun ia tak bisa mengabaikan wanita ini begitu saja. Leonard menatap wajah Arlena yang basah oleh air mata. Di balik ekspresinya yang penuh kepedihan, ada kesan ketulusan yang membuatnya heran. Ia menghela napas panjang, merasa ada sesuatu yang berbeda dari wanita ini, meski mereka baru saja bertemu.
Malam itu, Leonard membiarkan Arlena tertidur di kamar itu, tak ingin mengusiknya lebih jauh. Meski merasa risih dan kesal, ia tetap menjaga jarak. Namun, di luar dugaannya, malam itu menjadi awal dari kejadian yang tak akan pernah ia lupakan.
---
Keesokan Harinya
Pagi hari ketika sinar matahari mulai menerobos melalui jendela kamar, Arlena terbangun dengan kepala berat. Ia melihat sekeliling, mendapati dirinya berada di kamar yang asing. Perasaan panik segera menyergapnya.
"Apa yang terjadi?" pikirnya. Ingatannya tentang malam itu kabur, tetapi perasaan terluka di hatinya masih tersisa.
Ia beranjak dari tempat tidur, dan matanya menangkap sosok pria yang berdiri di dekat jendela dengan setelan yang sama seperti semalam. Pria itu berbalik, menatapnya dengan ekspresi dingin yang membuat Arlena merinding.
"Kau sudah bangun," ucapnya dingin, sambil melemparkan sebuah amplop ke atas meja di dekat tempat tidur.
"Ambil cek itu untuk bayaran semalam," lanjutnya dengan nada ketus.
Arlena membelalakkan matanya, perasaan tersinggung dan terhina memenuhi dirinya. "Apa maksudmu? Aku bukan wanita seperti itu!" serunya, berusaha menahan getaran di suaranya.
Leonard menatapnya dengan sinis. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Datang ke kamar hotel seorang pria asing tanpa alasan yang jelas?"
Arlena merasa hatinya hancur. Dalam kebingungan, ia tidak mampu menjelaskan atau membela dirinya. "Aku tidak membutuhkan uangmu!" katanya dengan nada terluka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ia meraih tasnya dan bergegas keluar dari kamar itu, meninggalkan Leonard yang hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Arlena berjalan keluar dari hotel dengan langkah tergesa, perasaannya campur aduk antara malu, marah, dan terhina. Angin pagi yang sejuk tak mampu menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Bayangan wajah pria asing itu-dengan sikap sinis dan ucapannya yang menusuk-terus berputar di kepalanya, membakar setiap urat amarah yang ada di dalam dirinya.
"Apa dia pikir aku ini wanita murahan?" gumam Arlena sambil menggigit bibirnya, menahan perasaan sakit yang sulit ia cerna.
Semalam sudah menjadi malam yang sangat melelahkan dan menghancurkan, namun kini, dengan perlakuan pria itu, luka yang ada di hatinya seakan makin dalam.
---
Di sisi lain, Leonard masih berdiri di kamar hotelnya, menatap pintu yang baru saja dilewati Arlena dengan pandangan kosong. Ia menghela napas panjang, seolah ingin mengusir perasaan yang entah mengapa sedikit mengusik dirinya.
"Kenapa aku harus merasa bersalah?" bisiknya pada diri sendiri. "Dia yang datang tanpa izin..."
Namun di balik nada dinginnya, ada sedikit ketidaknyamanan yang mulai menjalar di hatinya. Sosok wanita itu tak seperti yang ia bayangkan. Ada kesedihan mendalam di matanya, dan itu bukanlah ekspresi seorang wanita yang sengaja datang untuk mencari perhatian.
Tanpa ia sadari, pikiran tentang Arlena terus menghantui. Bahkan saat ia kembali ke rutinitasnya, sosok wanita itu masih terbayang di benaknya.
---
Beberapa Hari Kemudian
Arlena mencoba melanjutkan hidupnya, walaupun kejadian beberapa malam lalu masih menyisakan bekas. Hari-harinya terasa kosong, dan kekecewaannya pada Iqbal begitu mendalam. Ia tak pernah menyangka akan kehilangan segalanya-cinta dan kehormatannya-hanya dalam satu malam yang mengubah segalanya.
Di kantor, Arlena berusaha bersikap profesional, menenggelamkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan, berharap bisa melupakan semuanya. Hingga suatu pagi, ketika ia sedang sibuk di depan komputernya, seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
"Arlena, ada tamu untukmu," ujar rekan kerjanya.
Arlena mendongak, sedikit terkejut. "Siapa?"
Rekannya mengangkat bahu. "Dia bilang namanya Leonard."
Nama itu seketika mengirimkan perasaan tidak nyaman ke dalam diri Arlena. Tanpa sadar, jantungnya berdebar kencang, dan tubuhnya membeku. Pria itu... kenapa dia ada di sini?
Arlena mencoba menguasai dirinya. Dengan langkah penuh keraguan, ia menuju ruang tunggu, dan di sana berdiri Leonard dengan tampilan formal yang sama dinginnya. Tatapannya tajam, tapi ada sedikit keraguan di matanya saat ia melihat Arlena.
"Arlena," panggilnya singkat saat ia menyadari kehadiran Arlena di sana.
"Kenapa kamu ke sini?" Arlena bertanya, berusaha tetap tenang meskipun hatinya masih penuh amarah dan luka.
Leonard menarik napas panjang sebelum menjawab, "Aku datang untuk membicarakan sesuatu yang penting."
Arlena mengerutkan kening. "Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku tidak ingin berurusan denganmu."
Namun Leonard tetap tenang, suaranya rendah namun tegas. "Arlena, ini bukan tentang keinginanmu atau keinginanku. Ini tentang tanggung jawab."
Kata-kata itu membuat Arlena tercengang. Ia menatap Leonard dengan sorot penuh pertanyaan, tapi pria itu hanya memberikan isyarat dengan kepalanya agar mereka pindah ke ruangan yang lebih privat.
Mereka berdua akhirnya duduk di ruangan kecil dan tenang. Leonard menatap Arlena sejenak sebelum berbicara, seolah mencoba mencari kata yang tepat.
"Aku tahu... apa yang terjadi malam itu salah. Dan aku juga tahu bahwa semua ini karena kesalahan dan kecerobohan yang seharusnya tidak pernah terjadi." Leonard terdiam sejenak, menatap tangan yang ia lipat di pangkuannya. "Tapi, aku juga tidak bisa mengabaikan apa yang sudah terjadi."
Arlena mengerutkan kening, masih bingung dengan arah pembicaraan Leonard. "Apa maksudmu?"
Leonard menghela napas, tampak sedikit kesulitan menjelaskan maksudnya. "Aku tahu ini akan terdengar gila, tapi... orangtuaku sudah menjodohkanku dengan seseorang. Dan wanita itu... ternyata adalah kamu."
Arlena terkejut, mulutnya terbuka sedikit, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa? Kamu bercanda?"
"Aku tidak sedang bercanda, Arlena." Leonard menatapnya serius. "Mungkin ini terlalu mendadak, tapi aku rasa, dengan apa yang sudah terjadi antara kita, mungkin perjodohan ini bukanlah ide yang buruk."
Arlena menatap Leonard dengan tatapan penuh emosi, campuran antara amarah, kebingungan, dan rasa sakit yang ia pendam. "Kamu pikir pernikahan ini akan menyelesaikan segalanya? Kamu pikir dengan menikah, semua yang terjadi malam itu bisa dianggap selesai begitu saja?"
Leonard mendesah, merasa bahwa situasi ini memang tidak akan mudah. "Aku tidak berharap semuanya berjalan mulus, Arlena. Tapi aku juga tidak bisa lari dari kenyataan ini. Aku mengerti bahwa kamu membenciku, dan kamu punya alasan untuk itu. Tapi jika kamu mau... aku ingin mencoba menebus kesalahan ini dengan cara yang terbaik yang bisa aku lakukan."
Arlena terdiam, matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh. Segala rasa sakit yang ia rasakan selama ini kini terasa makin nyata. Tapi, di sisi lain, ada sesuatu di dalam dirinya yang menyadari bahwa mungkin ia bisa mencoba menerima kenyataan ini.
Setelah hening beberapa saat, Arlena mengangkat wajahnya, menatap Leonard dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu atau tidak, Leonard. Tapi... aku juga tidak ingin terus terjebak dalam perasaan sakit ini."
Leonard tersenyum tipis, meskipun sorot matanya masih terlihat tegang. "Aku tidak meminta kamu untuk langsung mempercayaiku, Arlena. Aku hanya ingin... kita mencoba. Jika kita bisa memulai dari awal, meskipun sulit, aku ingin memperbaiki semuanya."
Arlena memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan hatinya. Perlahan, ia membuka matanya kembali dan mengangguk pelan. "Baiklah... kita bisa mencoba. Tapi ingat, aku tidak akan mudah memberikan kepercayaan yang sudah kau hancurkan."
Leonard menatapnya dengan kesungguhan yang tak biasa. "Aku akan menghormati itu, dan aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu lagi."
Keduanya terdiam, seakan menyadari bahwa keputusan yang mereka buat ini akan membawa mereka ke dalam perjalanan panjang yang tidak mudah. Namun, di tengah segala kesulitan dan luka yang mereka rasakan, ada harapan kecil yang mulai tumbuh di antara mereka.
Arlena tahu bahwa luka di hatinya tidak akan sembuh dalam sekejap, dan Leonard pun menyadari bahwa ia harus bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan Arlena. Tapi untuk saat ini, mereka memilih untuk melangkah bersama, meski penuh dengan ketidakpastian.
Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan tegang mereka di kantor. Arlena dan Leonard menjalani hari-hari mereka dengan pikiran yang campur aduk. Keduanya berusaha menjalani kesepakatan untuk 'mencoba' menjalani perjodohan ini, meskipun ketegangan di antara mereka masih sering terasa seperti jarak yang tak terlihat.
Di satu sisi, Arlena masih dihantui perasaan luka yang dalam dan kekesalan terhadap Leonard. Namun, di sisi lain, ia mencoba merelakan, memulai hidup baru tanpa terus-menerus dibayangi trauma masa lalu.
Sementara itu, Leonard menjalani hari-harinya dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Meski dirinya berusaha bersikap tegas dan profesional, ia merasa tergugah setiap kali teringat tatapan kecewa Arlena. Suatu hal di dalam dirinya seolah mendesaknya untuk melindungi wanita itu, untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah ia lakukan.
---
Di Suatu Pagi, di Rumah Arlena
Arlena sedang duduk di ruang tamunya, menyesap teh hangat sambil memikirkan rencana ke depannya. Pagi itu ia merasa sedikit lega, karena akhirnya bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri tanpa gangguan. Namun ketenangannya terhenti ketika ponselnya berdering. Nama Leonard tertera di layar.
"Ada apa lagi?" gumamnya sambil menatap ponsel dengan cemas.
Perasaannya bercampur antara enggan dan penasaran. Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan.
"Ya, ada apa, Leonard?" tanyanya dengan nada dingin.
"Aku ingin kita bertemu hari ini. Ada sesuatu yang perlu kita bahas," jawab Leonard, suaranya terdengar tegas namun hangat.
"Bahas apa lagi? Bukankah kita sudah sepakat tentang semua ini?" Arlena mencoba mempertahankan nada dingin, meskipun ada sedikit kegugupan di hatinya.
"Ini tentang... rencana pernikahan kita," ucap Leonard. "Aku ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu. Aku tahu ini mendadak, tapi bisakah kita bertemu?"
Arlena terdiam sejenak. Hatinya menimbang, namun akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah, di mana kita bertemu?"
"Kafe di dekat kantormu. Aku akan menunggumu di sana jam 11," jawab Leonard, sebelum menutup telepon.
---
Di Kafe
Arlena tiba di kafe tepat waktu. Ia melihat Leonard sudah duduk di salah satu meja di sudut, tampak sibuk membaca sesuatu di ponselnya. Arlena menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum menghampiri Leonard. Pria itu mendongak dan tersenyum singkat saat melihatnya datang, namun senyum itu tidak bisa menyembunyikan ketegangan di matanya.
"Terima kasih sudah datang, Arlena," Leonard memulai percakapan setelah mereka berdua duduk.
"Jadi, apa yang ingin kau bahas?" Arlena menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Leonard dengan ekspresi waspada.
Leonard menghela napas, menatap Arlena dengan tatapan serius. "Aku tahu hubungan kita tidak mudah. Tapi aku ingin kita benar-benar mempertimbangkan pernikahan ini dengan matang. Aku... tidak ingin membuatmu merasa terjebak atau terpaksa."
"Terjebak?" Arlena tersenyum pahit. "Apakah kita tidak memang sudah terjebak dalam situasi ini sejak awal?"
Leonard terdiam, merasa tertampar oleh kenyataan yang diucapkan Arlena. Meski begitu, ia berusaha mengendalikan diri, mengangguk pelan. "Ya, mungkin benar. Tapi aku ingin kita memiliki hubungan yang baik, setidaknya... untuk menghormati ikatan ini. Aku ingin mencoba menjadi suami yang... layak untukmu."
Arlena terkejut mendengar ketulusan dalam nada suaranya. Ia tidak menyangka Leonard akan mengatakan hal semacam itu. Sekilas, ia melihat kesungguhan di mata pria itu-sesuatu yang membuatnya sedikit tersentuh, meskipun hatinya masih enggan menerima.
"Leonard... aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu. Setelah semua yang terjadi...," Arlena berhenti sejenak, menelan ludah. "Kau tahu, malam itu bukan sesuatu yang bisa aku lupakan begitu saja."
Leonard merunduk, mengangguk pelan. "Aku tahu. Dan aku minta maaf, Arlena. Aku tahu permintaan maafku tidak akan menghapus apa yang sudah terjadi. Tapi jika ada cara yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik, aku akan melakukannya."
Arlena terdiam, berusaha memproses kata-kata Leonard. Ada nada tulus dalam ucapannya yang membuat hatinya goyah, meski masih ada ketidakpercayaan yang meliputi dirinya.
"Leonard... aku akan mencoba, tapi jangan harap aku bisa langsung menerima semuanya. Luka ini... tidak mudah sembuh."
Leonard mengangguk penuh pengertian. "Aku mengerti, Arlena. Aku tidak akan memaksamu. Kita bisa melangkah pelan-pelan. Aku hanya ingin kau tahu, aku sungguh berniat memperbaiki hubungan ini."
Arlena tersenyum kecil, senyum yang penuh kesedihan namun juga kelegaan. Mungkin, hanya mungkin, ia bisa memberikan kesempatan kecil untuk mencoba.
---
Hari-Hari yang Berjalan Pelan
Setelah pertemuan itu, hubungan mereka perlahan berubah. Leonard berusaha menunjukkan perhatiannya, meski Arlena masih menjaga jarak. Setiap kali mereka bertemu, ada ketegangan yang seolah tak kunjung hilang, namun juga ada percikan kecil harapan yang mulai tumbuh.
Suatu malam, Leonard menjemput Arlena untuk makan malam bersama. Malam itu terasa berbeda, keduanya berbicara dengan lebih santai, bahkan ada beberapa tawa yang mulai menghiasi percakapan mereka. Arlena perlahan mulai merasa nyaman, meskipun hatinya masih penuh keraguan.
"Arlena, aku tahu aku bukan pria sempurna, bahkan mungkin jauh dari itu. Tapi aku sungguh berharap kita bisa... memulai dari awal," ujar Leonard di tengah makan malam mereka, menatap Arlena dengan penuh harap.
Arlena terdiam, menatap pria di hadapannya. Malam itu, di balik segala kebingungan yang ia rasakan, ada secercah kehangatan yang membuatnya merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa mulai memaafkan pria ini.
---
Namun, ketika perasaan Arlena mulai perlahan membuka diri, masalah baru muncul. Di saat hubungan mereka mulai sedikit membaik, mantan kekasih Leonard, seorang wanita bernama Mira, tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Di suatu acara formal yang dihadiri Leonard dan Arlena, Mira datang menghampiri mereka. Dengan senyum angkuh dan tatapan penuh ejekan, ia memandang Arlena dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Oh, jadi ini istri barumu, Leonard?" Mira berbicara dengan nada meremehkan. "Tidak kusangka seleramu berubah drastis."
Arlena terkejut, namun ia mencoba tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh provokasi itu. Leonard, yang melihat ekspresi terluka di wajah Arlena, langsung menggenggam tangan istrinya dan menatap Mira dengan dingin.
"Mira, tolong jangan buat masalah," ucap Leonard dengan nada tegas. "Arlena adalah istriku, dan aku menghormatinya."
Mira tersenyum sinis, melipat tangannya di dada. "Oh, begitu ya? Tapi apakah kau sungguh yakin, Leonard? Karena dari yang aku lihat, kau masih tampak bimbang."
Arlena merasa hatinya sakit mendengar kata-kata itu, namun ia berusaha mempertahankan wibawanya. Sementara itu, Leonard menarik napas panjang, lalu menatap Mira dengan tatapan tajam.
"Mira, aku tidak ingin mendengar apapun darimu lagi. Aku sudah membuat pilihan, dan pilihan itu adalah Arlena. Jadi, tolong, pergi dari sini."
Mira terdiam sejenak, lalu dengan tatapan tajam, ia berbalik dan pergi. Setelah kepergian Mira, Arlena merasa hatinya masih sakit. Ia tahu bahwa bayang-bayang masa lalu Leonard akan selalu menjadi ujian bagi hubungannya. Namun, malam itu, saat Leonard menggenggam tangannya erat, ia merasakan sedikit ketulusan di sana.
Mungkin, hanya mungkin, Leonard benar-benar tulus ingin memperbaiki semuanya.