Bab 2

Tap

Tap

Raka melangkah masuk ke dalam rumah besar yang sepi. Pekerja rumah tampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing.

Dengan langkah yang tenang, ia mengangguk singkat kepada mereka sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.

Suasana di dalam rumah ini terasa hampa, seperti ada sesuatu yang hilang sejak kepergian ibu mereka.

Raka terus berjalan dengan mengingat memori kecil walau waktu itu sudah sangat berlalu.

Tiba-tiba, ada suara bariton yang di kenal Raka muncul.

"Raka!" Suara Papanya, Malik Abraham muncul dari arah ruang makan.

Raka menoleh, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi apapun.

Sejak kecil, ia terbiasa dengan sikap Papanya yang sering memberi perintah.

Malik Abraham, seorang pria berkumis tebal yang dikenal berwibawa di dunia bisnis, sedang duduk di meja makan.

"Ayo, nanti makan malam bersama klien, mau ikut Papa?" Ujar Malik sambil menyandarkan tubuhnya di kursi makan, tampak berusaha mencairkan suasana.

Raka menghela napas panjang. "Tidak, Raka males kemanapun Pa, lain kali saja." jawabnya singkat, lalu berbalik melangkah menuju tangga.

Tap

Tap

Malik menatap punggung anaknya, seolah menunggu ada tanggapan lebih lanjut, namun Raka tidak menoleh lagi. "Raka..." Malik menyebut nama anaknya sekali lagi, namun Raka hanya terus berjalan tanpa peduli.

Helaan napas Malik terdengar begitu dalam. Ia memandangi foto mendiang istrinya yang masih terpasang di dinding ruang makan. Malam ini, meski harus menghadap klien-klien penting, hatinya tetap merasa kosong.

**

Raka tidak peduli, ia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kasar. Tubuhnya ambruk ke atas kasur, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesendirian.

Ia menarik selimut dan menutupi wajahnya dengan satu tangan. Air mata yang tak bisa ia tahan akhirnya mengalir.

Tanpa suara, Raka merasakan kepedihan itu lagi, sebuah luka yang tak pernah sembuh.

Beberapa saat kemudian, ia membuka mata, mengusap air mata yang masih membasahi pipinya.

Raka bangkit dan duduk di tepi ranjang. Matanya jatuh pada sebuah foto yang tergeletak di meja.

Sebuah foto wanita cantik yang tersenyum memeluk seorang anak kecil.

Tanpa sadar, bibirnya terangkat sedikit, meski hatinya terasa berat. Ia memeluk foto itu, menatap keluar jendela.

Pikiran Raka terhenti ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.

Tok

Tok

Ia menghapus sisa air mata dan membuka pintu. Papanya berdiri diambang pintu dengan nampak wajah lelah.

"Kamu tidak mau ikut makan malam? Temani Papa ya." tanya Malik.

Raka mengangguk pelan. "Aku tidak lapar."

Malik menghela napas. "Tapi ini penting, Raka. Ini untuk bisnis kita dan Papa harap kamu bisa memaklumi hal itu dan juga Papa ingin memperkenalkan seseorang sama kamu. "

Raka hanya diam. Ia tidak ingin melibatkan dirinya dalam dunia yang dipenuhi dengan pembicaraan bisnis.

Ia lebih memilih diam dan menghindar, daripada terlibat lebih jauh.

Dengan perasaan yang campur aduk, mereka berdua pun naik ke mobil.

**

Malik terus berusaha membuka percakapan, namun Raka tetap terdiam, hanya sesekali mengangguk atau menggeleng.

Sejak kejadian yang mengubah hidup mereka, hubungan mereka semakin terasa renggang.

Mobil akhirnya berhenti di sebuah kafe mewah, tempat pertemuan dengan klien-klien ayahnya.

Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Di dalam Cafe, sepasang pria tua dan wanita anggun yang cukup sudah berumur sudah menunggu Raka dan Papanya.

Malik langsung berjabat tangan dengan pria tua yang terlihat serius, lalu menyapa wanita cantik di sampingnya.

"Kenalkan dia ini anakku, Raka Abraham." ujar Malik, memperkenalkan Raka dengan senyum tipis.

Raka menjabat tangan pria tua itu dengan sopan, meski ekspresinya tetap datar.

"Panggil saya Wijiaya Kusuma, Nak Raka!" Pria tu itu tersenyum.

Raka hanya mengangguk sopan.

Wanita cantik itu kemudian menyapa, matanya tidak lepas dari Raka.

"Senang bertemu denganmu, Raka," kata wanita itu dengan suara lembut, membuat Raka sedikit menoleh.

Raka hanya membalas dengan anggukan singkat, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Matanya kembali menatap layar ponsel di tangan, mencoba mengabaikan percakapan di sekitarnya.

Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga muncul di layar ponselnya.

Tling

Sebuah video pendek muncul di grup WhatsApp sekolah.

Nadia, gadis yang baru ia lihat beberapa hari lalu, sedang bermain basket dengan teman-temannya.

Video itu hanya berdurasi beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Raka berhenti sejenak dan menontonnya dengan penuh perhatian.

Tanpa sadar, bibirnya terangkat sedikit dalam senyum miring.

Raka segera menekan tombol pause, merasa canggung dengan reaksi yang baru saja ia alami setelah melihat video Nadia.

"Raka kenapa diam aja? Tidak apa-apa kan?" Suara wanita cantik itu kembali terdengar, membuat Raka mendongkak dan menatap.

Wanita itu tersenyum padanya, menunggu jawaban.

"Oh ya, Raka ini Sekolah di mana kalo boleh saya tahu?" tanyanya dengan nada ramah.

Raka menatapnya sejenak, lalu menjawab, "Di SMA Abadi."

Wanita itu mengangguk, senyumnya semakin lebar.

"Oh, aku pikir kamu lebih muda. Ternyata kita hampir sebaya," katanya dengan nada santai, sambil merapikan rambutnya.

Raka hanya mengerutkan alis, bingung dengan sikap wanita ini.

Tanpa sadar, ia mendengarkan percakapan di antara ayahnya dan klien-kliennya.

Namun, perhatian Raka kembali teralihkan ketika ia melihat Papanya Malik menggenggam tangan wanita cantik itu dengan lembut.

Wanita itu tersenyum, dan Raka merasakan sesuatu yang aneh. Apa hubungan mereka? Pikir Raka.

"Raka, sebenarnya Papa undang kamu kesini mau bilang kalo wanita disamping Papa ini namanya Maria Alora , dia ada lah calon Ibu tirimu yang akan menjadi ibumu Raka." ujar Malik memperkenalkan wanita itu kepada Raka.

**

Raka terkejut, matanya membelalak sejenak. Ia menatap wanita itu dengan wajah datar, berusaha menutupi rasa kagetnya.

"Calon ibu tiri?" ucapnya perlahan, seolah tidak percaya.

Maria Alora tersenyum lebar, namun Raka tetap tak menunjukkan reaksi apapun.

Ia merasa kebingungan, hatinya di penuhi dengan pertanyaan yang tidak terjawab.

Papanya yang biasanya sangat menghargai mendiang ibunya, kini memperkenalkan wanita ini sebagai calon ibu tirinya.

Raka hanya menatap mereka berdua dengan mata datar, seolah tak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan.

Sesuatu dalam dirinya terasa berat, seakan masa lalu dan kenyataan saat ini beradu di dalam dirinya.

Papa Malik memandang Raka dengan sedikit cemas, namun tetap tersenyum.

"Kamu akan terbiasa Raka, dengan hal ini." Katanya pelan. Namun, itu kata-kata yang seakan tidak cukup untuk menenangkan hati anaknya yang terluka karena kejadian ini.

Bersambung*

Bab 3

Raka masih duduk diam di meja pertemuan itu. Ekspresinya tetap datar meski hatinya berkecamuk hebat. Pikiran tentang Maria sebagai calon ibu tirinya terus berputar di kepalanya.

Pria tua di samping Maria, yang tidak lain adalah ayahnya Maria, Mario Aritama, memecah keheningan.

"Raka, apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan nada ramah namun tegas.

Raka menoleh, menatap pria tua itu dengan pandangan kosong, lalu kembali diam tanpa menjawab.

Malik, yang duduk di sebelah Raka, menghela napas berat.

"Raka," Malik akhirnya angkat bicara.

"Papa ingin menikah lagi dengan Maria. Papa harap kamu bisa memahamai semua keputusan Papa ini."

Raka mendecih, menunjukan ketidaksukaannya dengan jelas. "Lakukan saja, Pa Toh, aku tidak bisa mencegahnya, bukan?" jawabnya ketus.

Maria menoleh ke arah Malik, matanya tampak khawatir. Malik hanya tersenyum tipis, berusaha menenangkan suasana.

Sementara itu, Mario memperhatikan Raka dengan tatapan penuh pengertian, seolah memahami perasaan anak muda itu.

"Sepertinya kami harus pulang dulu," ujar Mario dengan sopan, memecah ketegangan.

Malik segera bangkit dari kursinya. "Maafkan jika ada sikap Raka yang kurang sopan," ujarnya dengan nada menyesal.

Mario menggeleng pelan, lalu berdiri sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Malik. Anak muda memang memang butuh waktu untuk menerima keputusan ini."

Maria menyentuh lengan Malik dengan lembut sebelum melangkah pergi.

Ia memeluk Malik singkat, lalu menoleh ke arah Raka.

"Semoga kita bisa saling mengenal lebih baik, Raka, dan semoga bahagia selalu." ucapnya dengan senyum hangat.

Raka hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa, lalu bergegas pergi ke arah parkiran.

Malik menatap punggung anaknya dengan pandangan sendu, merasa berat dengan situasi ini.

**

Di dalam mobil, Malik mencoba memulai percakapan saat mereka dalam perjalanan pulang. "Raka, Papa tahu ini sulit, tapi Papa ingin kamu mencoba menerima Maria."

Raka, yang duduk di kursi penumpang, hanya memalingkan wajah ke luar jendela.

"Papa tidak perlu repot-repot menjelaskan. Aku sudah bilang, terserah dan lakukan saja."

Jawaban itu membuat Malik terdiam sejenak.

Ia menghela napas panjang, menyadari betapa keras hati anaknya.

Suasana di dalam mobil pun menjadi hening sepanjang perjalanan pulang.

**

Sesampainya di rumah, Raka segera turun dari mobil dan melangkah masuk tanpa menunggu ayahnya.

Para pelayan menyapanya dengan ramah, namun hanya mendapat anggukan kecil sebagai balasan.

Begitu tiba di kamarnya, Raka membanting pintu dengan keras, membuat beberapa pelayan yang kebetulan lewat menoleh dengan kaget.

Brakkk

Den Raka, kenapa Tuan?" Salah satu pelayan bertanya.

"Raka hanya kecapean, jadi seperti itu." ujar Malik pelan, mencoba menenangkan para pekerja rumah.

Para pelayan pamit undur diri untuk segera istirahat karena hari sudah malam.

Malik masuk ke kamarnya sendiri dan langsung menuju meja tempat foto mendiang istrinya diletakkan.

Ia memandangi foto itu dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku, sayang. Aku hanya ingin melanjutkan hidup bukan aku bermasud melupakanmu tapi Maria ada wanita yang baik dan soal permintaan kamu akan aku kabulkan sayang, dengan persetujuan Maria." bisiknya.

**

Di tempat lain Nadia Anindita sedang tersenyum dengan aksi kecilnya yang biasa dia lakukan.

Gadis itu tepat berdiri dipagar sekolahan di pagar rumahnya, memandang sekeliling untuk memastikan situasi aman. Melihat jalanan sepi, ia tersenyum lebar.

Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara deheman. Nadia menoleh dengan terkejut, mendapati seorang pria berdiri di dekatnya.

"Berani sekali, ya lo! Lo mau loncat di pagar ini!" ujar pria itu dengan nada datar.

Raka berdiri di sana, bersedekap dengan wajah tanpa ekspresi.

Nadia mendecih kesal. "Apa peduli lo, heh!"

Tanpa menjawab, Raka berjalan mendekat.

Dan menarik Nadia ke Ruang BK. Nadia terus berontak dari tarikan Raka dan semua siswa dan siswi melihat hal itu.

"Pasti deh, Nadia membikin masalah lagi!"

"Ya benar, capek bener melihat Nadia seperti itu, kasian Ayang Raka!"

"Untung Raka sabar ya."

**

Dalam sekejap, keduanya sudah berada di ruang BK. Guru BK menggeleng pelan sambil menatap Nadia.

"Nadia, lagi-lagi kamu membuat masalah," ujar guru itu dengan nada tegas.

Nadia hanya mendengus, menolak untuk bicara dengan wajah kesalnya.

Raka, yang duduk di sebelahnya, menyenggol pelan lengan Nadia sambil memasang wajah datar. "Diam saja, ya? Biasanya kamu cerewet dan mulut lo tidak bisa berhenti."

Nadia hampir saja membalas dengan suara keras, namun langkah seseorang yang masuk ke ruangan menghentikannya. Itu adalah Deni Anindita, Ayah Nadia.

"Maaf, Bu," ujar Deni dengan sopan. "Saya sudah diberitahu tentang masalah ini."

Guru BK mengangguk dan mempersilakan Deni duduk.

"Pak Deni, Nadia memang perlu diawasi lebih ketat. Kami sering mendapati dia melanggar peraturan sekolah."

Deni tersenyum tipis. "Saya benar minta maaf atas kelakuan anak saya. Saya akan lebih memperhatikannya lagi dan mohon kedepanya untuk lebih sabar menghadapi Nadia."

Guru BK akhirnya memberikan hukuman bagi Nadia untuk membersihkan toilet sekolah selama seminggu.

Nadia, yang mendengar keputusan itu, menggerutu sambil memasang wajah kesal. "Hukuman bersihkan toilet! Membuat gue bikin kesal saja!"

Nadia menoleh dengan wajah kesal untuk Ayahnya.

"Kenapa sih, Pa? Selalu aku yang disalahin, Papa juga tidak membela aku." Nadia begitu

kesal keluar dari ruangan BK.

Deni menatap anaknya dengan tajam. "Karena kamu memang salah, Nadia. Kamu harus bertanggung jawab atas yang kamu lakukan."

Nadia hendak membalas dengan suara keras, namun suara lain memotong.

"Kamu tidak sopan kalau bicara seperti itu sama Ayahmu," ujar Raka, yang tiba-tiba muncul di dekat mereka dengan wajah datar

Nadia menatap Raka dengan kesal, namun tidak berani membalas.

Sementara itu, Deni hanya tersenyum tipis yang samar menatap Raka yang bersede dada di tangan menatap Nadia dengan wajah tanpa takut.

Bersambung*

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED