Happy Reading....
Hera Altezza, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu menyapu lembut perutnya yang membesar. Kehamilannya sudah memasuki usia delapan bulan membuat dia sedikit kesulitan melakukan kegiatannya. Bahkan saat keluar dari mobil, Hera harus dibantu oleh sang supir.
"Terimakasih," ujar Hera tersenyum manis ke arah pria paruh baya itu.
"Sama-sama, Nona," timpal pria itu mulai melepaskan tangan Hera perlahan.
Dengan langkah pelan Hera masuk ke dalam rumah berlantai dua tersebut. Namun sebelum masuk Hera sempat menoleh ke arah garasi di mana sebuah mobil berwarna grey terparkir.
"Bukankah Jayden mengatakan jika dia lembur malam ini?" gumam Hera pelan. Pada detik ketiga dia menggidikkan bahunya lalu masuk ke dalam rumah tanpa berpikir macam-macam.
Keadaan rumah begitu sunyi dan sedikit gelap. Maklum karena para maid yang bekerja di rumahnya sudah pulang. Hera melanjutkan langkah untuk mencari eksistensi sang suami ke lantai dua rumah itu.
Keheningan malam tiba-tiba hilang saat Hera mendengar lenguhan samar dari arah kamarnya. Mata Hera menyipit melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Awalnya Hera berpikir mungkin dia salah dengar namun semakin dekat suara lenguhan itu semakin jelas.
Hera tersentak kaget. Tubuh wanita dengan rambut sebahu itu bergetar dengan telapak tangan yang berkeringat dingin.
Suara itu kembali terdengar. Hera tidak mungkin salah. Itu suara desahan seorang wanita. Hera menelan salivanya berat berusaha melanjutkan langkah yang terasa sangat berat. Hera bukan hanya mendengar erangan dari seorang wanita namun juga dari seorang pria.
Perlahan Hera membuka pintu itu dan apa yang terjadi di sana sontak membuat tas yang dia genggamnya jatuh begitu saja. Menimbulkan suara yang membuat dua sosok yang sedang bergulat mendapatkan kenikmatan menghentikan aktifitas mereka dan menatap Hera yang membatu.
"Apa yang kau lakukan, Jayden!!!"
***
"Kau yakin istrimu akan pulang terlambat?" tanya Elena Darwin mengalungkan tangannya di leher Jayden seraya menatap pria itu penuh damba.
"Keluarganya akan menahannya di sana. Jadi kau tenang saja," tutur Jayden menghilang di ceruk leher wanita yang telah menjadi kekasihnya tiga tahun belakangan ini. Bahkan statusnya yang telah menikah tidak membuat hubungan mereka kandas.
"Bukankah kau seharusnya ada di sana juga, Jay?" tanya Elena dengan susah payah karena Jayden terus mengecup lehernya. Tepatnya mencumbu leher wanita itu dengan ganas.
"Untuk apa? Lagi pula aku sudah bersamanya seharian. Jadi malam ini aku ingin bersamamu, Elena," kata Jayden membuat Elena tersenyum lebar.
Setelahnya, bibir tebal Jayden langsung mendarat dengan lembut di atas bibir tipis Elena. Mereka menuangkan rasa rindu setelah hampir satu minggu tidak bertemu dengan cara yang paling nikmat.
Pakaian keduanya berserakan di atas lantai. Tempat tidur berukuran king size yang biasa di tempati Jayden dan sang istri, Hera, kini menjadi saksi bisu menyatuan Jayden dan Elena.
"A--aku sangat merindukanmu, Elena," racau Jayden mulai memacu di atas tubuh Elena.
Tangan kecil Elena terulur, mengusap lembut pipi Jayden membuat pria itu tersenyum seraya terus menghentakkan pinggulnya di inti tubuh wanita itu dengan kuat.
Kulit eksotis Jayden yang mengkilap dan basah karena keringat bak lelehan madu manis yang begitu indah dipandang mata. Menambah gairah Elena. Tangannya kini terselip di sela-sela rambut Jayden, sedikit menjambaknya saat apa yang ia rasakan semakin tidak masuk akal.
Jayden merasakan miliknya diremas kuat oleh Elena membuat gelombang nikmat itu semakin dekat. Darah Jayden berdesir kuat.
"Katakan, Jay! Aku lebih hebat dari istrimu, bukan?"
Elena memang tidak pernah ingin kalah dari istri kekasihnya itu. Dalam hal apapun. Namun pada kenyataannya Elena kalah karena yang menjadi istri Jayden sekarang adalah Hera bukan dirinya. Menyebalkan sekali.
"Kenapa aku harus membandingkanmu dengannya?"
"Kau hanya perlu menjawab, Jay!" Ucapan itu terdengar semakin menuntut.
"Tentu saja. Kau yang terbaik, Elena," kata Jayden kembali menyatukan kedua bibir mereka untuk saling mengecup dan melumat. Seiring dengan puncak yang sebentar lagi datang mereka terus meracau tidak jelas.
Namun belum sempat keduanya menuntaskan hasrat, suara seorang wanita membuyarkan segalanya.
"Apa yang kau lakukan, Jayden!!!"
Jayden dan Elena berbalik menatap Hera yang sedang berdiri di depan pintu. Tangan mengepal serta air mata yang membasahi kedua belah pipinya menjadi tanda jika wanita itu sedang marah besar. Bagaimana tidak pria yang sangat kau percaya, suamimu, bercinta dengan wanita lain di rumahmu, di tempat tidurmu.
"Sial!" umpat Jayden memutuskan penyatuannya dengan Elena. Padahal putihnya sudah hampir tiba. Mengambil handuk untuk menutupi area pribadinya, lalu menghampiri wanita yang ia nikahi hampir satu tahun itu.
Plak!
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kiri Jayden.
"Dasar pria brengsek! Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?!" umpat Hera dengan napas tersengal menahan amarah yang seakan bertumpuk di dadanya.
Jayden terkekeh seakan sedang mengejek Hera. Hal yang membuat emosi Hera tak terkendali. Jayden menoleh menatap wanita itu tajam.
Untuk pertama kalinya Hera melihat Jayden menatapnya seperti itu. Jika tatapan bisa membunuh mungkin Hera sudah bersimbah darah di sana.
"Berani sekali kau membawa wanita lain ke rumah kita lalu bercinta dengannya?! Apa kau sudah tidak waras?! Aku istrimu, Jayden!"
Namun hal itu tak membuat emosi Hera redam justru malah membuatnya semakin marah.
"Itu hanya status, Hera!" Jayden pun ikut meninggikan suaranya.
"Apa?" lirih Hera.
"Apa kau masih tidak mengerti juga? Aku tidak pernah setuju dengan pernikahan ini. Aku benci pernikahan ini, asal kau tahu!"
"Lalu apa arti dari semua perhatianmu selama ini padaku, huh?" kata Hera mendorong tubuh Jayden namun tak membuat pria itu goyah sedikitpun.
"Itu karena aku hanya sedang menjalankan kewajibanku sebagai suami, namun sekarang aku sudah muak dengan semua sandiwara ini," kata Jayden tersenyum miring.
Hera bergeming. Perutnya terasa keram membuat dia memeganginya dengan erat.
"Sekarang aku ingin bersama Elena, wanita yang aku cintai," lanjut Jayden sambil menunjuk Elena yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
Ya Tuhan, kenapa hal seperti ini terjadi dipernikahanku. Jerit batin Hera. Rasa sakit bukan hanya menghantam dadanya namun juga perutnya.
"Akh!!!"
Hera tak lagi bisa menahan rasa sakit pada perutnya hingga tubuh mungil itu tumbang tanpa ada yang menahannya. Yang Hera lihat terakhir kali hanya dua orang manusia tak berperasaan yang hanya menatapnya tanpa ada niat untuk menolong.
Aku berharap, aku tidak akan mati sekarang. Lirih Hera dalam hati sebelum gelap menyelimuti.
To be continue....
Happy reading...
" ... untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
Kata-kata Jayden masih teringat dengan jelas dalam benak Hera. Saat itu Hera berpikir jika Jayden sedang memainkan perannya dengan baik, sama seperti dirinya. Karena tak satupun dari keduanya menginginkan pernikahan itu terjadi. Mungkin Hera dan Jayden mengatakan 'Iya' untuk menikah namun hal itu hanya untuk memenuhi keinginan keluarga besar mereka. Dan mereka hanya menjadi avatar di sana.
Namun selama hampir satu tahun bersama, pikiran itu perlahan menghilang. Kebaikan, kasih sayang serta perhatian Jayden membuat Hera begitu larut dalam kebahagian semu. Dan sialnya lagi, Hera jatuh cinta pada pria itu.
Lalu sekarang apa?
Pria itu telah menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Sosok yang sangat membenci Hera lebih dari apapun di dunia ini. Padahal Jayden adalah sosok pria pertama yang membuat Hera jatuh cinta. Dalam artian Jayden adalah cinta pertama Hera. Sungguh miris rasa cinta yang mulai tumbuh kini berubah benci. Hera juga sangat membenci Jayden. Mungkin (?)
Hera menoleh saat seseorang membuka pintu kamar inapnya. Saat melihat siapa yang datang, Hera membuang muka tak ingin menatap sosok itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jayden sambil membuka jas dan sedikit melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
"Apa pedulimu?" Hera ketus. Bahkan dia sama sekali tidak menjatuhkan pandangannya pada sang suami.
Jayden terkekeh pelan lalu mendekat ke arah ranjang yang ditempati Hera selama beberapa hari ini di rumah sakit. Karena setelah kejadian malam itu Hera harus segera melahirkan karena mengalami pendarahan hebat. Beruntung karena dia dan bayinya selamat. Walau bayinya harus dirawat intensif karena lahir prematur.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu mati setelah membuatku susah payah menggendongmu kemari," kata Jayden menarik dagu Hera agar menatapnya. Tersenyum miring membuat wanita di depannya mengepalkan tangan seperti ingin menampar lagi pria itu. Tapi yang dia lakukan justru menepis tangan Jayden kemudian membuang muka lagi.
"Seharusnya kau menolak pernikahan kita saat itu, Jayden," kata Hera menumpukan semua kesalahan pada bahu pria itu. Berandai jika saat itu Jayden dengan tegas menolak dia tidak perlu merasakan sakit hati seperti sekarang. Jika bertanya kenapa tidak Hera saja yang menolak, jawabannya karena Hera terlalu takut perbuatannya malam itu diketahui orang tuanya. Dalam artian Hera tidak punya alibi untuk menolak karena sebenarnya dia harus menikah untuk menutupi semua perbuatannya dan juga demi kebahagiaan keluarganya. Lalu kenapa sekarang Hera malah menyalahkan Jayden? Sungguh wanita yang sangat naif.
"Jika aku menolak ... keluargamu akan hancur, Hera," kata Jayden. Dia tak perlu lagi menarik dagu Hera. Wanita itu dengan senang hati menatapnya sekarang.
Jayden tersenyum tipis lalu duduk di kursi yang ada di sana. Melipat tangan di dada dengan angkuh.
"Kita menikah memang hanya untuk saling menguntungkan," kata Jayden lagi.
Hal itu memang tidak bisa dipungkiri. Dan mungkin menjadi alasan terkuat pernikahan itu terjadi. Jika bukan karena keluarga Jayden, mungkin Hera dan keluarganya sudah tinggal di kolong jembatan sekarang. Saat itu keadaan perusahaan ayah Hera memang sangat memprihatinkan, hingga datang keluarga Jayden bagai malaikat yang akhirnya membuat keadaan kembali stabil.
"Lalu kenapa kau memperlakukan aku seakan kau menyukaiku? Seharusnya jika kau memang membenciku, perlakukan aku seperti sampah saja!" kata Hera meluangkan segala kekesalan dan kecewanya. Setidaknya jika Jayden berlaku kasar, Hera tak harus jatuh cinta.
"Seorang penggembala harus memberi makan dombanya dengan baik dan benar agar jika akan disembelih nanti sang penggembala mendapatkan domba yang gemuk," jawab Jayden. Dia memajukan sedikit wajahnya ke arah Hera. "Begitupun dengan dirimu. Aku harus memanfaatkanmu dengan baik," lanjutnya.
Plak!
Sudah cukup. Hera benar-benar muak dengan pria itu. Jayden menoleh dengan tatapan tajamnya. Memegang rahang Hera kuat.
"Kau pikir siapa dirimu, huh? Berani sekali menamparku?" kata Jayden dengan kilat kemarahan di matanya.
Air mata Hera lolos di kedua sudut matanya. Dia meringis pelan merasakan sakit pada rahang dan perutnya. Tidak adakah sedikit belas kasihan Jayden padanya? Dia baru saja melahirkan anak pertama mereka. Namun Hera salah mengharapkan belas kasih dari pria seperti Jayden. Dia tidak akan pernah mendapatkannya.
"Dasar wanita tidak tahu diri!" kata Jayden kemudian melepaskan tangannya dari Hera. Dia merasa buang-buang waktu saja menghadapi wanita itu. Jayden beranjak mengambil jas dan kunci mobilnya.
"Kalau begitu ceraikan aku, Jayden!"
Teriakan Hera membuat langkah Jayden kembali terhenti. Dia berbalik, menaikkan satu alisnya.
"Aku akan melakukannya dengan senang hati," kata Jayden dengan wajah sumbringah seakan kata-kata itulah yang paling dia tunggu dari Hera. Dada wanita itu semakin berdenyut merasakan sakit yang luar biasa.
"Ya. Itu memang lebih baik," kata Hera menunduk.
"Tapi kau juga harus memikirkan keluargamu."
Untuk kedua kalinya Hera mendongak. Menatap bingung Jayden. Apa maksud pria itu?
"Jika kita bercerai sekarang. Mereka akan kehilangan segalanya karena bisnis ayahmu sekarang berada dalam naungan perusahaanku," kata Jayden seketika membuat Hera bergeming.
Jayden memakai jasnya sambil mendekat kembali ke ranjang Hera. Menunduk sedikit agar wajahnya berada tepat di depan wajah Hera.
"Dan satu lagi, bukankah ayahmu memiliki riwayat penyakit hipertensi yang lumayan parah?" tanya Jayden memainkan kartu utamanya. "Apakah dia sanggup mendengar berita jika anak kesayangannya yang baru saja melahirkan akan bercerai dengan suaminya," lanjut Jayden.
Hera menggretakkan giginya. Kenapa Jayden begitu banyak memegang kelemahan Hera? Sementara Hera tidak memiliki apapun. Lalu sekarang apa yang harus dilakukan Hera?
Hatinya menolak dengan keras jika dia harus bertahan dengan pernikahannya bersama Jayden. Itu terlalu menyakitkan. Tapi Hera juga tidak bisa melihat keluarganya hancur apalagi jika harus kehilangan sang ayah. Bahkan membayangkannya saja dada Hera sudah terasa sangat sesak seakan oksigen di sekitarnya dirampas dengan paksa.
"Bagaimana? Apa kau masih ingin bercerai denganku?" tanya Jayden.
"Dasar pria brengsek!" umpat Hera sebagai jawabannya.
Jayden terkekeh remeh lalu menegakkan tubuhnya setelah mengecup dahi wanita itu sekilas.
"Itu kuanggap sebagai jawaban tidak," katanya kemudian berlalu dari sana.
"Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah, Hera Altezza. Kau harus membayar semuanya terlebih dahulu," gumam Jayden dengan nada penuh dendam.
To be continue....
Happy reading...
Hera sebisa mungkin tersenyum tanpa beban saat kedua orang tuanya dan orang tuan Jayden datang berkunjung. Mereka terlihat begitu bahagia walau hanya bisa melihat bayi Hera dan Jayden dari balik kaca transparan. Bayi lucu itu masih dalam inkubator. Bahkan Hera sendiri masih belum diizinkan untuk melihat sang anak dari dekat.
"Dia tampan sekali," puji Elvis, ayah Jayden merangkul bangga sang anak yang sedang berdiri di sampingnya.
"Tentu saja. Bukankah dia putraku?" kata Jayden juga ikut memuji bayi kecil itu mengundang tawa dari mereka semua.
"Jayden, Hera, apakah kalian sudah punya nama untuk bayi tampan kalian itu?" tanya ibunda Hera, Anne.
Jayden dan Hera saling menatap. Setelah kepergian Jayden hari itu dia tidak pernah datang ke rumah sakit untuk menjenguk Hera. Dia terlalu sibuk menghabiskan waktu bersama Elena dan juga mengurus pekerjaannya. Hingga dua hari berlalu, barulah dia datang bersama orang tuanya dan orang tua Hera. Itu pun karena terpaksa.
Hera dan Jayden tidak punya waktu untuk berdiskusi tentang nama anak mereka. Bahkan Hera berpikir Jayden tidak akan peduli sama sekali.
"Tentu saja."
Namun jawaban Jayden membuat Hera menatapnya bingung.
"Juan Xavier," lanjut Jayden.
"Wah! Nama yang sangat bagus sekali, Jayden," kata Jane, ibunda Jayden.
Mereka semua tersenyum puas dengan jawaban Jayden. Namun tidak dengan Hera. Dia malah menatap tajam Jayden di sana.
Seharusnya aku yang memberi nama pada putraku, bukan pria brengsek itu. Jerit batin Hera. Dia tidak terima Jayden yang memberi nama pada anaknya. Walau tak bisa dipungkiri Jayden ayah dari anak itu. Dia juga punya hak.
***
"Jadi kapan kau bisa pulang, Nak?" tanya Anne seraya memegang tangan putrinya yang masih terlihat pucat.
"Hanya tinggal menunggu keadaan bayiku membaik, Ibu," jawab Hera tersenyum tipis.
Orang tua Jayden dan Jayden sudah pulang lebih dulu. Hera yakin jika Jayden tidak akan kembali lagi ke sana, jadi dia harus mempersiapkan jawaban jika sampai orang tuanya bertanya.
Anne mengelus pipi sang anak pelan. "Kau baik-baik saja, Nak?" tanya wanita itu dengan nada sedikit khawatir.
"Aku baik-baik saja, Bu. Memangnya kenapa?" Hera sebisa mungkin menyembunyikan rasa paniknya. Apakah sangat terlihat jelas jika dia sedang tidak baik-baik saja? Padahal Hera sudah merasa menyembunyikan masalahnya dengan baik.
"Tapi kau tidak terlihat seperti itu, Nak. Apa kau ada masalah dengan Jayden?"
Naluri seorang ibu memang tidak pernah salah. Jika saja Hera sudah tidak memikirkan apapun, dia pasti sudah menceritakan segala apa yang diperbuat Jayden padanya. Namun Hera tidak bisa melakukannya membuat dia hanya memeluk sang ibu. Bersembunyi di balik tubuh wanita yang telah melahirkannya.
"Aku tidak apa-apa, Ibu. Sungguh. Aku baik-baik saja," lirih Hera mulai terisak.
Anne sangat tahu jika putrinya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi sebagai seorang ibu dia tidak bisa memaksa Hera untuk bercerita apalagi jika itu menyangkut rumah tangganya dengan Jayden.
Anne sebisa mungkin tidak ikut campur. Hal yang juga diminta pada besannya. Biarlah anak-anak mereka sendiri yang membereskan masalah mereka. Tapi jika mereka yang datang untuk bercerita, Anne juga tidak akan keberatan.
"Baiklah jika kau tidak ingin bercerita. Ibu hanya berharap agar kau selalu bahagia. Apalagi sekarang kau sudah punya Juan," kata Anne mengelus lembut rambut Hera.
"Iya, Bu. Hera juga selalu mengharapkan hal yang sama," kata Hera. Itu bukan hanya kata-kata namun sebuah doa.
Mereka mengurai pelukan saat mendengar suara riuh dari dua orang pria menghampiri ruang inap Hera. Itu suara Jayden dan Andrew, ayah Hera.
Hera dan sang ibu hanya tersenyum tipis melihat kedua pria itu masuk. Jika sedang berada dalam situasi seperti sekarang, Hera seakan lupa jika dia dan Jayden sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Mereka terlihat seperti keluarga besar yang bahagia. Penuh canda dan tawa. Hera terkekeh miris seperti sedang mengejek takdirnya sendiri.
"Sayang, kata dokter kau sudah bisa pulang lusa," kata Jayden mendekat ke arah Hera lalu mengelus rambut wanita itu lembut.
Hera mendongak. Tersenyum miring melihat sang suami dengan segala sandiwaranya. Mungkin jika Hera belum tahu kebusukan Jayden keadaannya pasti akan berbeda. Di mana dia akan sangat bersyukur memiliki Jayden bersamanya.
"Apakah anak kita sudah baik-baik saja?"
Seperti Jayden, Hera pun memainkan perannya dengan baik.
"Ya, karena dia anakku jadi dia harus kuat," jawab Jayden.
Dalam tatapan Hera, Jayden sudah bisa menebak wanita itu sedang menyumpahserapahi dirinya dalam hati. Dan hal itu yang memang diinginkan Jayden. Hera terluka dalam permainannya sendiri.
"Dia memang harus seperti itu." Hera berkata penuh penekanan.
"Kalian ini membuat ayah dan ibu iri saja," kata Andrew menatap bahagia anak dan menantunya itu tanpa tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Jayden tiba-tiba merangkul Hera. "Kau tahu 'kan ayah jika aku sangat mencintai putrimu ini?"
Bullshit!
"Tentu saja, Nak. Dan ayah juga yakin jika Hera pun demikian. Iya 'kan, Hera?"
Dua pria itu menatap Hera menuntut jawaban. Dengan senyum tipis wanita itu mengangguk pelan. Mereka bisa saja tersenyum bahagia namun Anne tidak bisa tertipu dengan semua itu. Dia mengenal putrinya lebih dari siapapun.
Senyum yang dipancarkan Hera bukanlah yang sebenarnya. Ada sesuatu yang coba dia tutupi di balik senyum itu.
"Hera, bagaimana jika kau tinggal bersama ibu dan ayah beberapa hari ke depan?"
Dan Anne tidak akan bisa diam saja melihat putrinya seperti itu. Dia harus mencari tahu. Walau dia harus tetap bersabar menunggu Hera mengatakan semuanya.
"Kenapa tiba-tiba ibu ingin Hera tinggal bersama ibu dan ayah?" tanya Jayden heran.
"Ibu sangat merindukan Hera. Lagipula menjadi ibu baru bukan hal yang mudah. Ibu akan mengajari Hera bagaimana caranya merawat bayi dengan baik," kata Anne. Itu adalah alasan paling masuk akal. "Bagaimana, Hera. Kau mau 'kan tinggal bersama ibu dulu?" tanya Anne menatap Hera.
Bagai sedang bersama dewi keberuntungan, Hera langsung mengangguk. "Tentu, Bu." Hera lalu menatap Jayden. "Bagaimana, Jay. Tidak apa-apa 'kan aku tinggal bersama ibu dulu?" tanya Hera.
Sial!
Jayden tidak punya pilihan lain. Jika menolak, alasan apa yang harus dia berikan.
Sekarang kau menang Hera.
"Baiklah. Jika memang itu yang kalian inginkan," jawab Jayden pada akhirnya.
To be continue....