Bab 1

Dini hari, di kota Lyon Prancis, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun sedang mengemas semua barang-barangnya, lalu dimasukkan ke dalam koper. Setelah selesai, ia keluar dari dalam kamar sambil menarik kopernya yang terasa berat. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuruni anak tangga.

Elyana terus berjalan menuju pintu keluar dengan mengendap-endap. Matanya penuh waspada menatap kiri dan kanan bagaikan seorang pencuri yang takut tertangkap oleh sang pemilik rumah. Di persimpangan jalan, sudah ada mobil hitam yang menunggunya dengan dua orang—pria dan wanita—di dalamnya.

"Elyana, ayo cepat masuk!" teriak Arani ketika melihat tubuh ramping tersorot oleh lampu jalan berwarna kuning keemasan itu berjalan mendekat sambil menarik koper berwarna merah muda.

Arani segera membuka pintu mobil untuk Elyana, lalu teman prianya membantu memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.

"Apa kau sudah siap?" tanya Arani setelah mereka masuk ke dalam mobil.

"Ya, aku sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang!" balas Elyana dengan pelan. Ia duduk sendiri di kursi belakang dan menyandarkan punggungnya di sana sambil memejamkan mata.

Ada keraguan yang terlintas di hatinya ketika memutuskan untuk kabur dari rumah demi menghindari perjodohan yang akan dilakukan oleh Yuan Louis—kakeknya—besok siang. Ia tidak punya pilihan lain selain pergi meninggalkan kota ini dan bersembunyi di tempat tinggal sahabatnya—Arani. Karena Elyana benar-benar tidak ingin menikah dengan pria pilihan kakeknya.

Terdengar Daniel berkata sambil mengendarai mobilnya, "Baiklah, kita berangkat sekarang. Setelah tiba di bandara, aku harus segera kembali ke rumah, tidak bisa menemani kalian lagi. Tidak apa, kan?"

"Baiklah, tidak masalah! Kami bisa menunggu jadwal penerbangan, berdua. Iya, kan, El?" tanya Arani sambil menoleh ke belakang. Terlihat Elyana menutup mata sambil melipat kedua tangan di depan.

"Hem, Iya!" Elyana menjawab tanpa membuka matanya. "Jika sudah sampai di Kota Paris, kami akan segera menghubungimu!"

Ya, tujuan mereka saat ini adalah kota Paris. Kota besar di negara Prancis, sekaligus tempat tinggal Arani saat ini.

Karena, sudah dua tahun ini Arani tinggal dan bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran yang ada di pusat Kota Paris. Elyana berencana untuk tinggal di rumah sewaan Arani dan mencari pekerjaan juga di sana. Elyana harus mencari pekerjaan yang aman, yang tidak dapat ditemukan oleh orang suruhan Yuan Louis.

Tapi, pekerjaan apa yang tidak mudah ditemukan oleh orang hebat seperti Yuan Louis? Elyana harus memikirkannya dengan sangat matang.

***

Di pagi hari, seisi rumah dihebohkan dengan kemarahan Yuan Louis setelah mengetahui cucunya pergi dari rumah.

Semua orang berkumpul di ruang keluarga dan menerima perintah dari Yuan Louis, termasuk cucu pertamanya, Rosyana.

"Baik, aku akan mencari Elyana ke rumah teman-temannya! Tapi sekarang, Kakek harus tenang dulu, jangan terlaku emosi. Nanti tekanan darah Kakek naik lagi," ucap Rosyana menenangkan. Ia khawatir dengan kondisi kakeknya yang marah tanpa henti.

Pasalnya, semua orang di rumah ini sudah menerima amarah dari Yuan Louis—dari pagi hingga siang. Tentu, itu akan menguras tenaga dan pikiran pria tua itu.

"Rosyana! Dalam keadaan seperti ini, bisa-bisanya kau mendoakan aku darah tinggi. Apa kau ingin aku segera mati, lalu kau bisa mendapatkan setengah dari hartaku lagi?" tuduh Yuan Louis pada Rosyana, masih dengan emosi.

"Apa setengah dari harta peninggalan ayahmu yang aku berikan kemarin, masih tidak cukup untuk hidupmu?" ucapnya lagi, masih belum puas. "Itulah alasan, mengapa kali ini aku ingin menjodohkan Elyana dengan pria pilihanku. Aku tidak ingin Elyana memilih pria yang salah sepertimu. Hanya demi memenuhi syarat dariku, kau mendapatkan suami dengan asal. Dan akhirnya, kau pun bercerai, kan?"

Rosyana tidak berbicara lagi. Ia tahu, semua yang diucapkan oleh kakeknya itu benar. Dirinya menikah, hanya demi mendapatkan setengah bagian dari harta kekayaan peninggalan ayahnya. Dan sekarang, Rosyana sudah bercerai karena suaminya memiliki wanita idaman lain. Hatinya sangat sakit mengikat tentang hal itu.

Terdengar, Yuan Louis berkata pada semua orang, "Periksa kembali rekaman CCTV yang ada di luar. Ke mana arah perginya Elyana tadi malam?"

"Maaf, Tuan Besar! Dari hasil rekaman CCTV, Nona Kedua pergi menggunakan mobil hitam, dibantu dua orang pria dan wanita. Setelah kami cek nomor mobil tersebut, ternyata itu milik teman Nona Kedua," ucap Judis dengan yakin.

Sebagai asisten pribadi yang sudah mengabdikan dirinya lebih dari dua puluh tahu, Judis tahu betul apa yang harus dilakukannya. Tanpa menunggu perintah dari Yuan Louis. Ia sudah melihat rekaman CCTV dan mencari tahu orang yang membawa Elyana pergi. Bahkan ia sudah memberi perintah pada bawahannya untuk segera membawa orang itu kemari.

Benar saja, tidak lama, Daniel pun datang dibawa oleh dua orang pria yang berpakaian hitam dengan tubuh tinggi dan besar. Daniel dipaksa berlutut di hadapan Yuan Louis dan menjelaskan apa yang terjadi semalam.

"Ke mana kau membawa Elyana pergi?" tanya Yuan Louis dengan sorot mata berapi-api. Kemarahannya sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.

Menghilangnya Elyana hari ini akan menghancurkan citranya sebagai orang nomor satu di kota ini. Karena sebelumnya, ia sudah mengumumkan pesta pertunangan Elyana dengan Dimitri Fandes—pengusaha kaya berusia empat puluh tiga tahun—berstatus duda beranak satu.

Jika sampai acara pertunangan itu tiba-tiba dibatalkan karena sang wanita kabur dari rumah ... mau disimpan di mana muka Yuan Lous?

Dimitri dan keluarganya pasti akan marah karena merasa telah dipermainkan oleh Yuan Louis.

Itu sangat memalukan!

Bukan hanya nama Yuan Louis saja yang akan malu, tapi juga seluruh anggota keluarga Louis.

"Cepat katakan!" Yuan Louis tidak sabar melihat Daniel terus bungkam. "Tadi malam ... ke mana kau membawa Elyana pergi? Jika kau masih tidak mau menjawab, aku akan melaporkan ini pada orang tuamu."

Yuan Louis berkata lagi, "Aku ingin tahu, apa reaksi mereka ketika mengetahui anak sulungnya menculik nona kedua keluarga kami? Apa mereka masih ada muka untuk bertahan tinggal di kota Lyon?"

Ancamannya kali ini benar-benar membuat Daniel ketakutan.

Daniel tahu tentang kehebatan dari keluarga Louis yang mampu menyingkirkan satu keluarga hingga menghilang tanpa jejak dari kota Lyon. Ia tidak ingin keluarganya lenyap dan menghilang seperti keluarga yang lain karena menyinggung Tuan Besar Yuan Louis.

Dengan merangkak sambil menyentuh kaki Yuan Louis, Daniel menjawab dengan terbata, "Ta-tadi malam, El-Elyana pergi ke bandara bersama deng-dengan Arani! Me-mereka pergi ke-ke ...."

"Ke mana perginya mereka?" teriak Yuan Louis sambil menghentakkan satu kakinya ke lantai.

"Mereka pergi ke kota Paris!" Akhirnya Daniel mengatakannya.

Walau sejak awal, ia sudah berjanji tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun, tapi saat ini, keluarganya dalam bahaya. Daniel tidak bisa terus diam demi menutupi rahasia Elyana hingga mengabaikan keselamatan keluarganya sendiri. Ia terpaksa memberitahu Yuan Louis demi keselamatan keluarganya.

"Apa? Kota Paris?" Yuan Loius terkejut mendengar jawaban dari Daniel.

"Untuk apa Elyana pergi ke sana?" tanyanya dengan penasaran.

"Saya tidak tahu tentang hal itu, Tuan!" Daniel mengiba. Takut jika Yuan Louis akan memberinya hukuman karena telah membantu Elyana kabur.

"Maafkan saya, Tuan! Saya akan memberitahu Anda alamat tempat tinggal Arani di Paris. Asalkan Anda membebaskan aku!" Daniel terus memohon. Berharap, Tuan Louis membebaskan dirinya.

"Judis!" panggil Yuan Louis dengan suara menggema. "Catat, di mana alamat rumah bocah itu. Segera kau pergi ke sana dan bawa Elyana pulang sebelum acara pertunangan itu dimulai!"

Bab 2

"Baik, Tuan!" Judis segera membawa Daniel ke sebuah ruangan. Dia memaksa Daniel untuk segera mengatakan "Di mana tempat tinggal Arani" secara lengkap.

Setelah itu, Daniel dihajar hingga babak belur oleh dua orang yang tadi membawanya ke rumah Yuan Louis. Ia dilempar ke jalan dengan darah dan luka di sekujur tubuhnya. Tidak diantar pulang oleh mereka, Daniel tertatih menghentikan taksi yang lewat.

Melihat kondisi Daniel yang menyedihkan, tidak ada satu taksi pun yang mau berhenti dan membawa Daniel pergi. Mereka takut disalahkan karena membawa seorang penumpang yang penuh luka di tubuhnya.

Masih untung jika orang itu tidak mati di dalam taksi. Jika mati? Sopir taksilah yang akan disalahkan.

***

Di siang hari, Elyana terburu-buru keluar dari dalam rumah Arani sambil menarik kopernya. Ia memegang ponsel dengan tangan bergetar sambil mendengar seseorang berbicara dari seberang telepon.

"Sekarang, aku dirawat di rumah sakit. Tubuhku terluka karena dihajar oleh anak buah asisten pribadi kakekmu! Elyana, maaf, aku bukan teman yang baik, memberitahu tempat tinggal Arani pada mereka. Mungkin saja, sekarang, orang suruhan kakekmu sedang mencarimu di Paris. Kau harus hati-hati. Jaga diri baik-baik. Kau tidak bisa membantumu lagi," ucap Daniel dengan sedikit lemah. Namun juga masih sangat mengkhawatirkan Elyana.

Elyana pun mengerti. Ia menjawab sambil menghentikan taksi di jalan, "Ya, aku tahu! Kau juga, jaga diri baik-baik. Sekarang, aku harus segera pergi sebelum Judis menemukanku!"

"Baiklah! Aku tutup dulu teleponnya, ya! Nanti kuhubungi lagi," tambah Elyana sedikit tergesa-gesa.

Setelah mendengar jawaban "Ya." dari Daniel, Elyana segera mengakhiri panggilan teleponnya.

Ketika ponselnya dimasukkan ke dalam saku celana, terdengar suara bunyi benturan yang cukup keras diiringi tubuh Elyana yang tiba-tiba terpental sejauh dua meter ke depan lalu mendarat di tanah.

"Aaaah!"

"Aaaah!"

"Aaaah!" jerit para pengguna jalan ketika melihat sebuah mobil menabrak trotoar jalan, lalu menabrak seorang wanita.

Mereka segera menghampiri Elyana untuk memastikan keadaanya.

"Nona! Apa kau baik-baik saja?"

"Nona, kau tidak apa-apa, kan?"

"Nona, bangunlah!"

Elyana membuka sedikit mata sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. Penglihatannya terasa buram dengan bintang-bintang yang terus berputar di atas kepala.

Orang-orang itu seger membantu Elyana untuk bangun dan duduk di tanah. Kakinya terluka, pakaiannya sangat kotor, kesadarannya mulai menghilang. Itu membuat semua orang menjadi panik.

"Nona, kau ba—"

"Kalian semua, minggir!" potong seorang pria tinggi dan gagah berjalan masuk ke dalam kerumunan. Tatapannya sangat tajam melihat semua orang yang sedang berkumpul di sana.

Mereka yang berkerumun segera menyingkir. Aura dari pria itu begitu kuat hingga tidak ada satu orang pun yang berani mendekat lagi.

Pria gagah itu segera berjongkok, melihat Elyana sebentar lalu menggendongnya. Ia segera membawa Elyana masuk ke dalam mobil, satu orang lagi mengambil koper Elyana dan memasukkannya ke dalam bagasi.

"Bawa wanita ini ke rumah!" ucap pria itu sambil menatap Elyana yang duduk di sampingnya.

"Apa lebih baik kita pergi ke rumah sakit saja? Kita tidak perlu membawanya ke rumah, Tuan. Siang ini Tuan ada rapat penting, tidak bisa ditund—"

"Pulang ke rumah! Apa kau tidak bisa lagi mendengar semua perintahku?" sergah pria itu memotong ucapan asistennya.

Dirinya ingin merawat wanita ini di rumah. Mengapa asistennya terus membantah?

Melihat ekspresi wajah mengerikan dari tuannya, asisten itu segera mengangguk.

"Ba-baik, Tuan!" Ia tidak berani membantah lagi, segera membawa mobil yang sudah rusak di bagian depan itu menuju rumah tuannya.

Pria itu menghubungi seseorang melalui sambungan telepon. Berbicara dengan singkat lalu menutupnya.

"Aku sudah menghubungi Felix. Dia akan datang ke rumah dan memeriksa kondisi wanita ini," ucap pria itu pada asistennya.

"Jika kita tidak merawatnya sampai sembuh, bisa-bisa, wanita ini melaporkan kejadian ini pada polisi dengan tuduhan 'tabrak lagi'. Aku tidak ingin terlibat masalah hukum apapun. Itu terlalu merepotkan untukku," tegasnya lagi dengan mata sesekali melihat wanita di sampingnya yang terlihat sangat lemah.

"Ya, Tuan David! Saya mengerti kekhawatiran Anda. Tapi, tidak seharusnya kita membawa wanita ini ke rumah. Kita tidak tahu, wanita ini siapa dan asalnya dari mana? Bisa saja dia seorang buronan polisi. Tadi wanita ini membawa koper yang sangat besar. Tidak menutup kemungkinan, jika saat ini, dia sedang melarikan diri." Asistennya diam sejenak. Lalu melanjutkan ucapannya, "Dan lagi ... kecelakaan tadi karena kecerobohan saya. Tidak seharusnya Anda yang bertanggungjawab dan membawanya ke rumah."

Mendengar semua ucapan asistennya, David hanya mengerutkan kening. Ia menoleh ke samping, melihat wanita lemah ini dengan perasaan tidak tega.

Walau wanita ini seorang buronan polisi, lalu, apa yang bisa dia lakukan pada David? Secara, David adalah seorang pria tinggi dan gagah. Dan wanita ini ... hanya seorang wanita kecil yang lemah. Tidak mungkin dia berbuat macam-macam pada David.

"Sekarang, ke rumah saja dulu! Masalah lain, kita bicarakan lagi, nanti!"

"Baik, Tuan!"

Mobil melaju dengan cepat menuju rumah David. Setelah sampai di halaman rumah, sudah ada Felix sedang menunggu mereka di depan pintu.

Melihat David keluar dari dalam mobil membawa seorang wanita, Felix segera datang menghampiri. Mereka jalan bersama masuk ke dalam rumah.

Dengan panik, Felix bertanya, "Ada apa dengan wanita ini? Mengapa pakaiannya sangat kotor? Tubuhnya penuh luka. Dia juga tidak sadarkan diri! Apa yang kau lakukan padanya?"

"Diam! Tutup mulutmu!" sergah David dengan cepat. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sambil membawa anita itu, lalu naik ke lantai dua, membaringkan Elyana di atas tempat tidur.

"Periksa wanita ini," ucap David dengan tegas.

Setelah memastikan Elyana berbaring dengan baik di atas tempat tidur, David pun keluar dari dalam kamarnya. Ia membiarkan Elyana diperiksa oleh Dokter Felix—dokter pribadi sekaligus teman baiknya.

Tidak lama, datang dua orang pelayang wanita sambil membawa handuk dan air hangat—masuk ke dalam kamar. Tidak lupa, pakaian ganti untuk Elyana yang mereka ambil dari dalam kopernya.

Setelah selesai memeriksa Elyana, Felix keluar dari dalam kamar. Ia turun ke lantai bawah, lalu duduk di ruang keluarga bersama David.

"Kondisinya cukup baik. Luka di kakinya pun tidak terlalu parah. Ada lecet di tangan dan bagian tubuh lain, itu tidak masalah. Istirahat dua atau tiga hari, kondisinya akan segera membaik," ucap Felix mencoba menjelaskan pada David. Sahabatnya itu terlihat sangat khawatir pada wanita yang saat ini ada di dalam kamarnya.

"Lalu, mengapa dia pingsan? Apa otaknya mengalami cedera?" tanya David tidak mengerti.

Tadi, setelah tertabrak mobil, wanita itu pingsan. Jika bukan karena ada masalah di kepalanya, lantas, kenapa?

"Haha .... Kau begitu mengkhawatirkan dia. Apa kau menyukai wanita itu?" ejek Felix pada David.

Ini pertama kalinya Felix melihat David begitu peduli terhadap seorang wanita. Biasanya, dia selalu bersikap dingin dan acuh pada mahluk yang bernama "Wanita". Tapi sekarang ... David sangat berbeda.

"Hey, apa yang kau katakan? Siapa yang menyukai wanita jalanan itu?" David tidak terima dengan tuduhan temannya.

David menjelaskan, "Tadi, Edwin menabrak wanita itu. Jadi, aku sebagai majikannya harus bertanggungjawab untuk merawat wanita itu sampai sembuh."

"Hah, Edwin ... yang menabrak?" Felix tersenyum masih dengan penuh ejekan. "Jika dia yang menabrak wanita itu, mengapa tidak dia saja yang merawatnya? Tidak perlu kau yang melakukannya, kan?"

"Sudahlah!" David bangkit berdiri. Ia tidak ingin melanjutkan percakapan mereka tentang wanita yang saat ini berbaring di atas tempat tidurnya.

"Sekarang, kau sudah boleh pergi. Nanti, jika ada apa-apa pada wanita itu, aku akan menghubungimu lagi!" ucap David lagi.

Lalu ia beranjak pergi menaiki anak tangga, berniat untuk melihat kondisi Elyana.

Terdengar Felix berteriak, "Dia pingsan bukan karena ada masalah di kepala. Tapi ...."

David menghentikan langkah kakinya. Ia menajamkan telinga untuk mendengar ucapan Felix selanjutnya.

"Mungkin dia sedang diet. Di dalam perutnya tidak ada makanan sama sekali. Hanya ada suara gemuruh saja di perutnya! Haha!"

Ucapan Felix selalu saja penuh ejekkan. Semakin suka melihat reaksi David ketika membicarakan kondisi wanita itu.

"Aku pergi dulu. Rawat wanita itu baik-baik, jangan sampai dia mati karena kelaparan!"

Setelah mengatakannya, Felix segera pergi membawa tas hitam di tangannya. Ia keluar dari rumah mewah milik David dengan perasaan senang.

"Aishh, sial!" umpat David setelah melihat sahabatnya pergi.

Bab 3

Setelah Felix benar-benar pergi, David kembali turun ke bawah. Ia meminta pelayan untuk menyiapkan banyak makanan untuk Elyana, karena tadi kata Felix "Tidak ada makanan di perut wanita itu."

Di malam hari, Elyana sudah mulai tersadar. Ia membuka matanya menatap sekeliling ruangan yang nampak redup. Hanya ada lampu berwarna kuning keemasan—di samping tempat tidur—yang menerangi ruangan itu. Elyana tidak bisa melihat setiap sudut ruangan itu dengan jelas. Namun, ruangan itu nampak asing di matanya.

Ketika Elyana mencoba untuk bangun, lalu duduk dan bersandar di kepala tempat tidur, tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Apalagi kaki ... kakinya terasa ngilu dan juga perih.

"Sudah bangun? Apa kau lapar?" tanya seorang pria yang ada di dalam kamar sambil meletakkan majalah di atas meja, lalu ia berdiri.

David berjalan menghampiri Elyana.

Tiba-tiba Elyana terkejut melihat sosok tinggi dan besar itu berjalan ke arahnya. Jika tidak menyangka, ternyata ada seorang pria asing di dalam ruangan itu.

Elyana segera menarik selimut dan menggenggamnya dengan erat. Ia takut, jika pria ini adalah orang suruhan kakeknya yang akan membawanya kembali ke kota Lyon.

"Ka-kau ... siapa kau?" tanya Elyana dengan gugup. Tangannya masih menggenggam selimut dengan erat.

Tadi siang, Elyana sempat sadar beberapa belas menit. Ia dilayani oleh pelayan dan diberi makan, juga diberi obat hingga ia tertidur. Walau antara sadar dan tidak, namun ia yakin, tidak melihat pria itu di sini.

"Apa kau orang suruhan kakekku?" tanya Elyana lagi—memberanikan diri. Tubuhnya bergetar karena takut dan menahan rasa sakit.

"Aku tidak ingin pulang! Menyingkirlah dariku!" Elyana menggeser tubuhnya sedikit karena pria itu semakin mendekat.

"Hem, siapa kakekmu?" tanya David tidak mengerti dengan ucapan wanita di depannya.

"Apa kau kabur dari rumah?" tebak David dengan kening yang mengerut. Ia berdiri di samping Elyana, menatap tubuh wanita itu dengan teliti.

"Pantas saja, kopermu sangat besar. Barang di dalamnya juga cukup banyak!"

Ada senyum yang terlintas di wajah tampan itu. Tapi, Elyana sama sekali tidak bisa melihatnya. Bahkan, tidak bisa melihat wajah David dengan jelas.

"Apa yang kau lakukan pada koperku?" Elyana mendengar pria itu membahas tentang isi kopernya. Tiba-tiba, ia merasa bahwa pria ini begitu berani menyentuh barang milik orang lain.

"Kau tidak boleh membuka barang milik orang lain tanpa izin!" Elyana tidak suka barang pribadinya dibuka oleh orang lain. "Itu namanya 'tidak sopan'!"

David mengangkat kedua alisnya. Berkata dengan penuh godaan, "Jika kami tidak membuka kopermu, harus dengan apa kami mengganti pakaianmu? Di rumah ini tidak ada pakaian untuk wanita. Apa kau mau, memakai pakaianku? Hem?"

"Atau ... kau mau memakai pakaian para pelayan di rumah ini?" godanya lagi sambil mendekat. Tubuhnya membungkuk untuk menatap Elyana.

Mendengar kata "Pelayan" dari mulut David, Elyana jadi teringat sesuatu.

Tadi siang, sebelum menerima telepon dari Daniel, Elyana sedang melihat-lihat lowongan pekerjaan di ponselnya.

'Mengapa tidak mencari pekerjaan sebagai pelayan saja? Dengan begitu, orang suruhan Kakek tidak bisa menemukanku!'

Memikirkan tentang idenya itu, Elyana merasa bersemangat.

"Di mana pakaian yang tadi siang aku pakai?" Dengan berani ia bertanya tanpa rasa takut dan ragu lagi. Karena ternyata, pria itu bukanlah orang suruhan Yuan Louis.

"Sudah dibuang!" jawab David dengan singkat. Ia menegakkan punggunnya kembali, tidak lagi mendekati Elyana.

"Apa ... dibuang? Kemana kau membuang pakaianku?" Elyana menyibak selimut, laku bangkit berdiri, berniat untuk pergi mencari pakaiannya yang dibuang oleh David.

"Tempat sampah yang ada di luar rumah!"

"Apa???"

'Keterlaluan! Dia membuang pakaianku ke tong sampah? Dasar gila! ' maki Elyana dalam hati. Merasa kesal, juga sangat marah pada David.

Elyana segera berjalan menuju pintu keluar, berniat untuk mengambil pakaiannya di tempat sampah yang ada di luar rumah.

Lebih tepatnya, Elyana ingin mencari ponsel yang ada di saku celananya.

Baru tiga langkah berjalan, tiba-tiba Elyana merasakan sakit di kakinya.

"Awhhh!" ringisnya sambil berjongkok di lantai. Ia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

"Kau kenapa?" David cemas melihatnya. Ia segera menghampiri Elyana. "Kakimu masih cedera karena tertabrak mobil. Dokter bilang, kau harus banyak istirahat. Jangan bergerak dulu."

David segera menggendong Elyana, membawa tubuh ramping itu kembali ke atas tempat tidur.

Elyana merasakan sakit di kakinya. Tanpa sadar, tangannya melingkar di leher David, menahan agar dirinya tidak terjatuh.

"Ah, sakit!" ringis Elyana lagi. Tidak kuat menahan denyutan di tulang kakinya yang semakin lama semakin terasa sakit.

Elyana tidak melepaskan ikatan tangannya ketika sudah dibaringkan di atas tempat tidur. Ia terus memeluk leher David, seolah mencari kenyamanan di sana.

David pun hanya diam tanpa bergerak. Membiarkan tubuhnya membungkuk ditarik oleh Elyana. Posisi mereka sangat dekat, saling menempel satu sama lain hingga hembusan napas wanita itu bisa David rasakan.

Entah sudah berapa lama posisi seperti ini berlangsung, hingga rasa pegal mulai terasa di pinggang kekar pria itu.

"Kau masih tidak ingin melepaskan aku?" bisik David di telinga Elyana. Tidak berani melepaskan diri secara paksa karena takut menyakiti wanita itu.

"Kakiku sakit! Kau tidak bisa merasakannya!" balas Elyana dengan kesal.

Ia segera melepaskan tangannya dari leher David. Menatap pria itu sekilas, lalu menarik selimut, menguburkan diri di dalamnya.

Sebagai nona kedua di keluaranya, Elyana memiliki sifat manja. Ia paling tidak bisa menerima rasa sakit di tubuhnya. Luka sedikit saja, akan menjadi sebuah luka besar bagi dirinya.

Biasanya, jika Elyana sedang terluka, akan ada ibunya yang memeluk dan menenangkannya. Tapi sekarang, ibunya sudah meninggal dan dirinya berada di rumah orang asing. Elyana tidak bisa bersikap manja lagi pada pria itu—seperi di rumahnya sendiri.

Melihat Elyana meringkuk di bawah selimut, David segera menegakkan tubyhnya, memijat pinggang yang terasa pegal, lalu beranjak pergi. Ia menatap sekilas Elyana sebelum menutup pintu kamar.

Di luar kamar, David mengambil ponsel dari saku celananya. Ia menuruni tangga sambil menghubungi seseorang.

Terdengar suara kemarahan dari seberang telepon, "Kau gila, ya? Meminta aku datang ke rumahmu sekarang, hanya untuk memeriksa wanita itu!"

"David! Apa kau tidak tahu ... ini sudah jam berapa, hah? Sekarang, sudah jam dua belas malam, waktunya aku tidur sambil memeluk istriku. Bukan waktunya bekerja sebagai dokter!" ucap orang itu lagi masih dengan berteriak. Terdengar kesal dan juga tidak suka.

"Tuan Muda David, usiamu sudah menginjak tiga puluh tahun. Sebaiknya, kau terima saja perjodohan yang lakukan oleh orang tuamu. Setelah menikah, kau bisa tidur nyenyak sambil memeluk istri, tidak perlu lagi merawat wanita yang kau temukan di jalan!" sindir orang dari seberang telepon dengan nada memprovokasi. Nada suaranya sudah mulai diturunkan, tidak lagi sekeras tadi.

"Hey, Felix! Mengapa malah mengguruiku? Kau bersedia datang ke rumahku atau tidak?" sergah David setelah mendengar ocehan Felix.

David tidak butuh omong kosong. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah dokter untuk memeriksa keadaan Elyana.

"Baiklah ... baiklah! Aku segera ke rumahmu. Puas?" teriak Felix, kesal. Dirinya tidak ada kekuatan untuk membantah perintah David. Jika Felix berani membantah perintahnya, mungkin besok, David akan memecatnya sebagai kepala rumah sakit milik keluarga Demino. Itu amat mengerikan dari apapun.

"Dua puluh menit! Harus sampai dalam waktu dua puluh menit. Tidak boleh lebih dari itu!"

"Apa?" Felix terkejut mendengarnya. "Hey, jangan bercanda. Mana bisa dua pul—"

Klik!

David segera menutup teleponnya. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun dari Felix.

Benar saja, dalam waktu tiga puluh menit, Felix baru tiba di rumah David. Felix datang masih memakai pakaian tidur dengan tas hitam di tangannya. Terlihat bahwa dia pergi terburu-buru hingga lupa mengganti pakaian.

"Kau telat sepuluh menit!" ucap David dengan sinis ketika melihat sahabatnya itu berdiri di depan pintu. David duduk di sofa sambil melipat kedua tangan di depan.

"Hah ...." Felix membuka mulutnya lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Dasar gila! Hanya sepuluh menit saja, kau begitu perhitungan sekali."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED