Bab 1

"Apa hanya segini yang bisa kau bawa?! Pantas saja Tuan Duke membuangmu! Tidak ada satu pun yang bisa dibanggakan darimu! Tidak berguna! Anak sial!"

Tatapan tajam serta kata-kata kasar yang ditujukan pada anak berusia delapan tahun itu menggelegar hingga ke seluruh penjuru rumah. Tubuh kurus dan lebih kecil dari anak seusianya jelas menunjukkan anak itu kekurangan gizi.

Meski begitu, keindahan paras dengan bibir mungil, hidung mancung dan mata bulat seperti boneka itu tidak bisa disembunyikan. Surai perak panjang dan bola mata sebiru langit melengkapi kecantikan gadis itu.

Azalea Baylass De Lionhart, satu-satunya putri Duke di kekaisaran Xavierth sekaligus gadis dengan status tertinggi di seluruh kekaisaran setelah Permaisuri. Sayangnya, itu hanya sekedar status tidak berguna.

"Maafkan aku, Nyonya. Aku akan bekerja lebih keras."

"Memang seharusnya seperti itu! Bersyukurlah karena aku masih memberimu makan dan tempat tinggal, tidak seperti Tuan Duke yang langsung membuangmu setelah kau lahir."

Dibuang. Satu kata itu sudah terdengar di telinga Azalea sejak dia membuka mata di dunia ini. Sebuah dunia fantasi di mana sihir, aura, peri, naga dan spirit menjadi hal yang biasa.

"Lalu, apa lagi yang kau tunggu?! Cepat pergi dan bawakan kayu bakar lebih banyak! Jangan berani kembali sebelum memenuhi gerobak itu!"

Menghela napas kecil, Azalea segera mengangguk dan menarik gerobak yang biasa digunakannya untuk mencari kayu bakar.

Memasuki hutan lebat di ujung desa, gadis yang sudah berjalan cukup jauh ke pedalaman itu akhirnya berhenti. Netra langitnya menatap hamparan hijau di atasnya. Cabang-cabang pohon menjulang dari satu pohon ke pohon lainnya, menutupi sinar matahari.

Hanya sedikit sinar yang menerobos dedaunan. Tempat yang gelap dan sangat berbahaya itu harusnya tidak pernah didatangi anak-anak, tapi di sinilah Azalea berada.

"Haah ... kupikir bisa hidup lebih baik di kehidupan ini. Nyatanya di mana pun sama saja." Gadis kecil itu bergumam seraya duduk di bawah pohon besar, menyandarkan tubuhnya yang lelah dan meluruskan kaki.

Dia bukan dari dunia ini. Satu fakta yang diingat gadis itu sejak membuka mata di bawah salju, ketika seorang wanita menggendongnya sambil menangis membuat kenangan itu tidak menyedihkan. Hidupnya di bumi, pada zaman modern, jauh lebih mengerikan dari sekedar dibuang ke desa terpencil.

Wanita bersurai perak dengan netra zamrud itu hanya meninggalkan secarik kertas berisi nama sang bayi sebelum meninggalkannya di depan pintu rumah penduduk.

Keluarga yang menyadari bahwa bayi yang ditinggalkan di depan rumahnya memiliki mata berwarna biru, di mana warna itu hanya dimiliki oleh keluarga Duke, memutuskan untuk mengembalikan sang bayi ke keluarganya.

Beberapa hari setelah surat yang menerangkan tentang sang putri pada Duke dikirimkan, sekelompok Ksatria yang mengenakan seragam militer Lionhart datang dan membacakan surat balasan bahwa putri Duke tidak diizinkan hidup.

Keributan itu menyebabkan istri dari pemilik rumah membawa kabur Azalea dan meninggalkannya di sebuah panti asuhan terpencil. Tidak sampai di sana, beberapa minggu setelah Azalea tinggal di panti asuhan, seorang wanita datang dan mengaku sebagai pelayan pribadi Duchess sebelumnya. Pengakuannya menjadi sah dengan surat bertanda tangan Duchess dan wasiat yang tertulis bahwa pelayan itu diberi hak untuk membesarkan putri Duke dalam diam.

Maka sejak itu nama sang bayi hanya tersisa Azalea, seorang gadis yatim piatu yang tinggal sebagai pelayan di kediaman wanita yang membawanya. Meski harus bekerja keras, mendengar cacian dan hinaan serta kata-kata kasar setiap hari, gadis itu harus bersyukur tidak ada yang memukulnya.

Azalea hanya perlu bekerja mencari kayu bakar untuk dijual. Seluruh hasil penjualan itu akan diberikan seluruhnya pada Azalea. Wanita bernama Madelyn yang merawatnya terus mengingatkan bahwa lebih baik makan umbi bakar, umbi rebus atau roti keras dari pada tidak punya tabungan dan mati kelaparan besok.

"Aku jadi tidak tahu harus menilainya sebagai orang jahat atau tidak," gumam gadis bersurai perak sembari menghela napas.

Sejak usianya tiga tahun, Azalea sudah diajari untuk mencari kayu bakar di hutan untuk dijual, mempelajari setiap buah-buahan yang bisa dimakan atau tidak, pohon apa saja yang daunnya bisa dimasak serta manfaat getah dari bermacam tanaman.

Lima tahun sejak Azalea dipaksa mempelajari banyak hal, mencari sesuatu untuk dijual demi bertahan hidup dan menyisihkan setiap penghasilan untuk ditabung. Azalea tidak tahu tujuan Madelyn membawanya dan memaksanya untuk belajar hidup di alam liar sambil mengatakan hal-hal buruk seperti Duke yang membuang dan tidak peduli padanya.

"Seolah dia ingin aku membenci Duke dan tidak pernah mempercayainya. Rasanya juga seperti dia akan segera meninggalkanku cepat atau lambat."

Madelyn tidak biasanya menyuruh Azalea untuk kembali lagi ke hutan setelah gadis itu kembali. Meski mengeluarkan kata-kata kasar ketika melihat hasil bawaannya, Madelyn biasanya akan menyuruh Azalea untuk segera menjualnya ke pasar sebelum pulang lagi untuk makan malam.

Tapi, hari ini Madelyn mengusirnya, seolah menjauhkan Azalea dari desa--!

Pikiran tentang dijauhkan dari desa membuat gadis kecil itu langsung terperanjat bangun. Jantungnya berdebar kencang saat berlari menyusuri jalan setapak, meninggalkan gerobaknya di belakang.

Tidak memperhatikan jalan selama berlari, kaki yang tidak memakai alas apa pun itu menginjak ranting dan batu, menyebabkan lecet dan darah mulai mengalir. Tapi, Azalea terus berlari dengan napas terengah, keringatnya membanjir deras.

Azalea hampir sampai di rumah sederhana yang ditinggalinya sejak bayi, langkahnya terhenti saat sebuah tangan mencengkeram bahunya dan membawa Azalea memasuki sebuah rumah.

"Nenek--"

"Hust!"

Gadis itu langsung terdiam ketika wanita renta yang baru saja menariknya meletakkan tulunjuk di bibir sebelum memberi isyarat agar Azalea melihat ke luar jendela. Melalui celah di antara jendela, Azalea bisa melihat dengan jelas tempat tinggalnya.

"Ksatria?" Netra gadis itu menajam melihat belasan orang berseragam Ksatria Lionhart berbaris di depan rumah.

Madelyn berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap. Tatapan galak wanita itu masih seperti biasa. Tidak ada rasa takut meski belasan Ksatria terlatih berdiri di hadapannya.

"Berapa kali aku harus mengatakan bahwa aku tidak ada urusan lagi dengan keluarga Duke?!" Suara Madelyn terdengar, "Tidak peduli sehebat apa kekuasaan keluarga itu, aku tetap tidak berminat kembali!" ujarnya penuh penekanan.

"Ratu pergaulan kelas atas yang mendapat julukan Mawar Emas Kekaisaran, keluarga Duke memohon kerendahan hati Anda kali ini. Tuan Putri membutuhkan seorang guru dan Anda adalah satu-satunya orang yang tepat."

Azalea menahan napas mendengar kalimat salah satu Ksatria yang kata-katanya diikuti dengan sikap penuh hormat pada Madelyn. Gadis itu menelan ludah dengan julukan yang baru saja disebutkan.

Mawar Emas Kekaisaran, nama itu jelas tidak asing. Di mana Azalea pernah mendengarnya? Tidak mungkin dari para penduduk desa karena tidak ada penduduk yang mengerti tentang pergaulan kelas atas.

Lalu, Tuan Putri? Azalea jelas pernah mendengarnya dari Madelyn bahwa dia adalah satu-satunya putri Duke dan hanya ada Pangeran di kekaisaran.

"Yang kalian sebut dengan Tuan Putri itu adalah palsu! Jangan lupa dari mana dia berasal. Hanya karena dipakaikan sutra dan emas, maka bisa disebut Putri? Dia dan ibunya tidak lebih dari lalat yang hinggap di tempat busuk seperti kediaman Duke!"

Bab 2

Plak!!!

Azalea menahan napas saat sebuah tamparan dilayangkan pada Madelyn. Dia tidak tahu sejak kapan salah satu Ksatria maju selangkah dan langsung melayangkan pukulan pada Madelyn.

Itu adalah Ksatria wanita! Azalea merasakan gemetar di seluruh tubuhnya saat Ksatria itu langsung menarik rambut Madelyn dan menghempaskannya, memaksa wanita itu mencium tanah.

"Sesali perkataanmu di neraka," ucap Ksatria itu seraya mengeluarkan pedang dari pinggangnya.

"Dame Ailyn!"

Sratt!

Pedang mengkilat itu segera dibasahi oleh darah, menutupi teriakan Ksatria lain yang mencoba menghentikan aksi Ksatria bernama Ailyn.

Pemandangan di sekitar Azalea berubah gelap saat sebuah tangan menutupinya. Warna merah yang sebelumnya terlihat membasahi tanah dan sepatu para Ksatria juga ikut tertutupi. Azalea gemetar, tubuh kecilnya mengkerut melihat pembunuhan nyata di hadapannya.

"Nenek?" Azalea memanggil dalam kebingungan saat wanita renta yang sebelumnya menutupi pandangannya menarik tangan gadis itu menjauh dari jendela.

"Mulai sekarang, siapa pun yang bertanya namamu, bilang kalau kau adalah Zhea dan kau adalah cucuku."

Azalea menelan ludah saat memasuki sebuah ruangan, bau menyengat dari berbagai tumbuhan obat dan ramuan di ruangan itu membuatnya mengerutkan hidung.

"Mereka pasti akan mendatangi setiap rumah untuk memberi peringatan agar tidak mengatakan apa-apa tentang kedatangan mereka ke desa ini," ucap wanita renta yang sibuk membuka lemari dan mengeluarkan sebuah ramuan yang terletak di paling ujung.

Azalea mendekat saat wanita itu, Marry, memberi isyarat. "Ini apa, Nek?" tanyanya ketika cairan berwarna biru yang baru saja dikeluarkan Marry menguarkan bau harum yang tidak cocok dengan bau lainnya.

Marry tidak segera menjawab, tangannya dengan cekatan meraih sebuah botol kecil dan menuangkan cairan di tangannya.

"Buka matamu dengan lebar, Zhea."

Azalea menurut ketika Marry memegang dagunya. Gadis itu mendongak dan melebarkan mata sesuai instruksi, sedikit terkejut saat cairan dalam botol kecil itu diteteskan ke matanya.

"Sebisa mungkin tahan untuk tidak menutup matamu," ucap Marry saat melakukan hal yang sama pada mata yang lain. "Nah, sekarang tutup mata sampai aku memintamu untuk membukanya."

Azalea memejamkan mata, mengangguk patuh dan tidak membuka matanya meski merasa Marry berjalan menjauh. Gadis itu mendengar sesuatu ditarik dan didekatkan padanya. Sebuah kursi kayu diletakkan di belakang Azalea.

"Duduklah!" ujar Marry sedikit tergesa.

Terdengar ketukan pintu di depan. Azalea yang juga ikut panik langsung duduk dan tidak sempat bertanya saat merasakan sesuatu membasahi rambutnya.

Sisa cairan dalam botol kecil yang ada di tangan Marry ditumpahkan seluruhnya pada rambut perak Azalea.

"Kamu boleh membuka matamu sekarang dan pegang ini! Campuran bunga Arvensis dan rumput Acalypa berguna untuk menghentikan pendarahan, mengobati luka dan bisa digunakan pada pembengkakan."

Azalea menatap penumbuk kayu yang disodorkan Marry, terdapat rumput Acalypa dan bunga Arvenis yang belum selesai ditumbuk. Gadis itu langsung melakukan pekerjaannya, membiarkan Marry keluar dari ruangan dengan tergesa dan menyahut panggilan di luar.

Rambut panjang Azalea jatuh ke depan saat gadis itu menunduk, netranya melebar saat melihat warna asing pada surainya. Warna perak berkilau itu sudah tidak ada. Azalea hanya melihat warna coklat, warna rambut umum yang dimiliki rakyat kekaisaran Xavierth.

Tidak perlu penjelasan detail, Azalea bisa menebak bahwa warna matanya juga pasti berubah. Gadis itu sedang sibuk menatap warna baru rambutnya ketika mendengar beberapa langkah mendekat.

Seperti tebakan Marry sebelumnya, dua orang Ksatria Lionhart datang. Azalea sedikit terkejut saat para Ksatria itu bahkan tidak mengetuk pintu saat memasuki ruangan. Cara mereka menerobos sangat kasar.

Ada banyak hal tentang dunia ini yang belum Azalea ketahui. Ruang lingkupnya sempit dan sepertinya dia tidak akan punya kesempatan untuk menjelajah, tapi ketidaksopanan para Ksatria yang nampak gagah itu merusak seluruh imajinasinya tentang dunia fantasi.

"A-ada apa, Nek?" Azalea tergagap saat salah satu Ksatria menghampiri dan melototinya terang-terangan.

"Bocah, apa kau keluar dari ruangan ini lima belas menit lalu?"

"Aku tidak keluar lagi sejak kembali dari hutan setelah mengumpulkan akar rumput Acalypa," ucap Azalea gugup, wajahnya memucat seiring dengan tatapan tajam yang dia terima.

"Hei, sudahlah, berhenti melototi anak kecil! Dia ketakutan!" Ksatria lain menegur sembari menepuk bahu temannya.

Azalea menghela napas lega saat dua Ksatria itu pergi. Dia sempat mendengar kata-kata peringatan yang dilontarkan pada Marry tentang kedatangan Ksatria Lionhart hari ini. Entah harus bersyukur karena penduduk desa tidak dibantai demi menutupi tindakan kasar para Ksatria atau harus bersedih karena kehilangan satu-satunya orang yang merawatnya, Azalea tidak tahu.

Gadis itu terduduk di lantai dan menyembunyikan di wajah di tekukan lutut, air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.

"Madelyn," panggilnya lirih.

Meski selalu melontarkan kata-kata kasar dan memaksanya melakukan pekerjaan berat, Madelyn tidak pernah memukul atau membiarkannya kelaparan. Azalea juga tidak kedinginan saat malam.

Madelyn mungkin tidak terlihat seperti wanita yang hangat atau baik hati, tapi ketegasannya mengajarkan Azalea untuk belajar hidup. Dia bahkan sudah tahu bagaimana menghasilkan uang sendiri. Belum lagi uang yang selalu disisihkan sedikit demi sedikit untuk ditabung. Azalea bisa menggunakan uang tabungannya untuk hidup tanpa melakukan apa-apa selama setahun penuh.

Tapi, Madelyn tidak mengajarinya untuk bermalas-malasan. Dunia asing yang tidak dipahami oleh Azalea ini terasa semakin menakutkan.

Saat hidup sebagai gadis yatim piatu bernama Keana, dia bisa bertahan karena beasiswa yang terus diberikan berkat kecerdasannya. Sekarang, tidak peduli secerdas apa Azalea, status keluarga adalah penentu masa depan.

Dia tidak bisa menikmati kehidupan sebagai putri seorang Duke saat ayah kandungnya sendiri yang membuangnya. Sekarang Azalea bahkan tidak bisa mengatakan namanya atau menunjukkan warna mata dan rambutnya.

"Bangunlah, mereka sudah pergi. Tubuh Madelyn juga sudah dibersihkan. Aku tidak tahu ke mana mereka membuang mayatnya."

Suara Marry terdengar seperti angin lalu. Azalea sibuk menangis dan mengasihani hidupnya. Satu-satunya orang yang bisa dia anggap sebagai keluarga sudah tidak ada. Keberadaannya tidak pernah diinginkan siapa pun.

Sebenarnya kenapa? Kenapa dia selalu dibuang? Entah di kehidupan ini atau kehidupan sebelumnya, gadis itu selalu sendirian.

"Nak," Marry memanggil pelan, tangannya mengusap lembut surai gadis kecil yang tengah menangis. "Membalas dendam atas kematian keluarga atau melupakannya dan memilih melanjutkan hidup sambil berpura-pura tidak mengetahui apa pun, kamu memiliki hak untuk menentukan apa yang menurutmu benar untuk dilakukan."

Membalas dendam? Azalea mengangkat wajah, menatap raut teduh wanita renta yang menatap hangat padanya.

"Aku tidak memiliki kekuatan apa pun untuk membalas dendam," lirih gadis itu sembari mengusap pipi, berusaha menghapus cairan bening yang terus jatuh dari matanya. "Tapi, kalau aku melanjutkan hidup sambil berpura-pura tidak tahu apa pun, aku tidak akan berani menemui Nyonya Madelyn setelah mati nanti."

Marry tersenyum. "Kalau begitu hiduplah sebagai orang biasa untuk sekarang, sambil belajar dan mengumpulkan kekuatan untuk membalas dendam. Aku akan mengajarimu semua hal yang kutahu. Lalu, kau mungkin belum tahu, tapi sebenarnya para penduduk di desa ini memiliki keahlian yang sangat hebat."

Bersamaan dengan itu, Azalea mendengar langkah-langkah mendekat. Beberapa wajah yang dikenalnya sebagai tetangga, para petani dan peternak, pedagang dan pencari kayu bakar seperti dirinya memasuki ruangan.

"Kita akan memulai pelajaranmu besok," ucap Marry sembari mengusak sayang surai gadis yang kini berhenti menangis.

Bab 3

"Bagus, Zhea!" Seorang pria bertubuh besar berteriak sembari bertepuk tangan, suara tawanya menggema ke seluruh ruangan.

Azalea yang baru selesai mengayunkan pedang langsung menjatuhkan diri, terbentang dengan napas putus-putus. Pedang besar dan berkilat di tangannya terlepas dan menimbulkan bunyi berdebam yang cukup keras.

Tangannya sakit, tulang-tulang di tangannya terasa sedang diremas. Gadis bersurai perak itu memejamkan mata sebelum menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Azalea melakukannya berulang-ulang, sambil merasakan aura yang menyebar dari jantungnya.

Titik aura dari jantungnya perlahan menyebar ke seluruh tubuh. Satu demi satu, rasa sakit dari hasil latihan berpedang selama berjam-jam mulai berkurang. Azalea terus mengatur auranya hingga seluruh rasa sakit di tubuhnya hilang.

Gadis itu kembali membuka mata, mengangkat tangan dan melihat luka-luka kecil di sana sudah sembuh dengan sempurna.

"Tidak ada lagi yang bisa kuajarkan."

Azalea langsung bangun dan berlutut dengan satu kaki saat seorang pria mendekat. Luka bakar di sisi kanan wajah lelaki itu membuat penampilannya tampak lebih menakutkan.

"Apa maksud Anda, Guru?" Azalea mendongak, netra birunya menatap lekat guru berpedangnya.

"Semua ilmu yang kupunya sudah kuajarkan dan kau juga sudah menguasainya dengan sempurna. Kau bahkan bisa mengatur aura lebih baik dari siapa pun yang pernah kutemui."

Tujuh tahun berlalu sejak Madelyn meninggal. Azalea mendapatkan pendidikan yang tidak pernah terbayangkan akan dia dapat. Beberapa penduduk desa yang memiliki pengetahuan luas, kemampuan berpedang dan bisa merapalkan sihir, menjadi guru yang memaksa Azalea mempelajari semuanya.

Azalea juga menerima pelajaran dari Marry tentang obat-obatan tradisional dan cara menggunakan aura untuk menyembuhkan.

"Tapi, Anda masih tetap akan menjadi lawan berlatih saya, kan?" Azalea bertanya penuh harap.

Pria tinggi yang biasa dipanggil Lock saat sedang menjual minuman beralkohol di pasar itu mengangguk.

"Tentu saja! Aku pun tidak punya teman untuk mengasah pedang."

Jawaban dari gurunya membuat Azalea tersenyum lebar.

"Terima kasih!" serunya tulus.

Lock berdecih. "Sudah sana, kau harus membantu Marry meracik obat, kan? Jadwalmu bahkan lebih padat dari Kaisar."

Azalea terkekeh sembari berdiri. Gadis itu melambai ringan pada Lock sebelum berlari keluar ruangan. Saat pertama kali mengetahui tempat itu, Azalea merasa sangat takjub. Siapa yang menyangka desa terpencil seperti ini memiliki ruang bawah tanah yang cukup lebar untuk latihan berpedang?

Rambut perak Azalea segera berubah warna sejak gadis itu melangkah keluar pintu. Warna coklat yang sedikit kusam pada rambut dan matanya membuat Azalea hampir melupakan warna aslinya karena lebih sering melihatnya dengan warna yang sudah diubah.

Azalea menyapa setiap penduduk desa yang ditemuinya dalam perjalanan menemui Marry. Sepertinya hari ini dia akan belajar tentang segel dan kutukan yang biasa digunakan para penyihir dari benua Timur.

Tidak tahu bagaimana Marry bisa mengetahui segala hal tentang pengobatan dan sihir, bahkan kutukan, Azalea hanya disuruh belajar agar bisa melanjutkan hidup di mana pun berada.

Satu hal yang Azalea sadari saat usianya tiga belas tahun adalah kenyataan bahwa dunia ini adalah novel yang pernah dia baca di kehidupan sebelumnya. Itu pun sebuah novel tragedi.

Kisahnya berpusat pada pemeran utama wanita, seorang Saintess dari kuil Dewa Matahari yang menjalani hidup sebagai tahanan. Satu-satunya tempat yang tidak bisa disentuh oleh kekaisaran atau pun kerajaan lain, kuil tempat orang suci, para pilihan dewa berada.

Azalea tidak langsung mengenali tempat ini karena desa tempatnya tinggal tidak pernah disebutkan. Tidak ada tokoh penting atau figuran yang berasal dari tempat ini. Keberasaan Madelyn juga tidak pernah diceritakan.

Hanya ada kata-kata singkat tentang seseorang yang diberi julukan Mawar Emas Kekaisaran setelah sebutan itu diberikan pada sang pemeran utama.

Sekarang Azalea tahu ketidakhadiran Madelyn di novel dikarenakan dia sudah mati bahkan sebelum novelnya dimulai. Lalu tentang Putri Duke ... gadis itu tersenyum miring, sedikit puas dengan akhir tragis yang dialami penjahat utama.

Bukan Azalea, melainkan putri tiri Duke Lionhart yang menjadi penjahatnya.

"Mengingat kehancuran yang akan keluarga itu terima, ada baiknya untuk tidak mendekat." Azalea bergumam riang, dia juga jadi tidak perlu membalas dendam untuk kematian Madelyn karena kekuasaan Duke Lionhart akan hancur berkeping akibat ulah Duchess dan putrinya.

Meski sayang sekali karena pemeran utama wanitanya juga mati.

"Marry!"

Seorang wanita yang sudah sangat renta menoleh ketika Azalea memanggil. Marry tidak bisa lagi berjalan sekarang akibat usia tuanya. Meski begitu, kecakapannya dalam meracik obat-obatan dan mengajari Azalea masih sangat luar biasa.

"Kau terlambat," ucap Marry pelan, memberi isyarat pada gadis yang baru saja datang untuk segera mendekat.

Azalea biasa melihat tanaman obat di ruangan yang dimasukinya, tapi kali ini seluruh ruangan kosong. Jangankan akar sebuah rumput, satu perabot pun tidak ada. Di tengah ruangan, tepat di depan Marry, terdapat sebuah lingkaran besar yang dilukis dengan rapi.

Sekali lagi Azalea menyadari dunia tempatnya berada sekarang. Lingkaran yang ada di hadapannya sama persis dengan lingkaran sihir yang biasa dilihatnya dalam komik fantasi. Meski tentu saja dunia ini bukan lagi sebuah novel sejak Azalea bisa mati kapan saja.

"Bukankah ini lingkaran sihir? Katanya hari ini kita akan belajar tentang kutukan?" Azalea bertanya setelah berdiri di samping Marry.

"Kau akan memanggil spirit dan membuat perjanjian," ucap Marry singkat.

Jawaban wanita di sisinya membuat Azalea melebarkan mata. Bagaimana mungkin memanggil spirit?

"Aku tidak mungkin bisa--"

"Tidak ada yang tahu kalau belum dicoba," Marry memotong perkataan Azalea, tatapannya terlihat sangat serius. "Kau tahu tentang berita yang sedang beredar sekarang, kan?" tanyanya.

Gadis bersurai coklat itu mengerutkan kening. "Maksudnya tentang Putra Mahkota yang dikutuk oleh penyihir dari benua Timur?"

Ini adalah bagian awal novelnya dimulai, tentang kutukan yang diberikan pada Putra Mahkota kekaisaran Xavierth. Tentu saja pada awal novel, hal ini diceritakan dari mulut ke mulut saat kekaisaran mengumpulkan penyihir dan tabib di seluruh dunia hingga beritanya sampai ke telinga pemeran utama wanita.

Azalea hanya menganggap itu bagian dari cerita, jadi tidak terlalu memikirkannya. Bagaimana pun kutukan itu akan terangkat saat Putra Mahkota yang merupakan pemeran utama laki-laki jatuh cinta pada Saintess. Cinta yang dihalangi banyak hal dan pengorbanan.

Gadis itu menggeleng memikirkan cerita akhirnya. Dia ingat menangis tersedu-sedu selama berhari-hari setelah membaca akhir ceritanya.

'Bukan urusanku, semua orang memiliki takdir dan ceritanya masing-masing.' Azalea membatin sambil menghela napas pelan. Dia percaya di dunia ada banyak kisah. Cerita tragis tentang Putra Mahkota dan Saintess adalah salah satu dari sekian banyak kisah yang tidak diungkapkan.

"Kutukan pada matahari yang akan menyinari kekaisaran sudah disebutkan dalam orakel puluhan tahun lalu. Ini adalah pertanda awal datangnya kehancuran dunia."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED