Alvaro kembali memimpikan wanita itu. Wanita yang sangat dicintainya dan tak sedetikpun Alvaro mampu melupakannya. Sosoknya sudah melekat dalam jiwa dan raga Alvaro.
"Lyn," gumam Alvaro menyebut nama wanita yang sangat di rindukannya.
Sepuluh tahun sudah berlalu, tapi tidak pernah sekalipun ia bertemu dengan sosok Lyn yang seakan lenyap di telan bumi.
Sampai sekarang Alvaro bahkan tidak berhenti mencarinya. Walau sampai ke ujung dunia pun Alvaro akan terus mencarinya.
Tapi Lyn benar-benar pintar bersembunyi hingga sampai sepuluh tahun pun Alvaro tidak juga menemukannya.
"Mungkin memang belum waktunya aku bertemu dengannya. Ataukah Tuhan tidak akan mengizinkan ku untuk bertemu dengannya lagi?" gumam Alvaro mengusap kasar wajah tampannya.
Wajah tampan yang membuat para wanita tergila-gila padanya. Tak sedikit wanita yang antri dan suka rela menyerahkan diri mereka ke dalam pelukannya. Tapi Alvaro hanya menginginkan Marilyn, wanita yang pernah hadir di hidupnya.
Tapi kini wanita itu menghilang. Menghilang dari hidupnya yang semula bahagia kini menjadi murung.
Pencapaian yang dia dapat sekarang ini terasa tak berarti tanpa adanya Lyn di sisinya. Tapi ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ini semua murni karena kesalahannya.
Alvaro akui dia sangat bajingan, mencintai wanita lain disaat ia sendiri sudah memiliki tunangan.
Namun perasaan cinta itu tidak bisa dicegah, justru semakin bertambah seiring kedekatannya dengan Lyn.
"Wajar jika dia marah dan benci padaku. Wajar jika dia pergi menjauh dariku." Alvaro tersenyum sedih sembari membayangkan wajah cantik Lyn.
Alvaro merasa sesak dengan perasaan rindu yang begitu menggebu-gebu ini. Ya Tuhan! Ingin sekali rasanya Alvaro bertemu dengan Lyn, meminta maaf dan menumpahkan segala kerinduannya lewat pelukan hangat dan juga kecupan mesra.
Sekelebat ingatan bayangan mereka berdua yang tengah bercinta kembali berputar di kepala tampan Alvaro. Dia benar-benar rindu saat-saat seperti dulu dengan Lyn.
Satu hal yang Lyn tidak tahu adalah, Alvaro memutuskan tunangannya dan lebih memilih Lyn. Sayangnya Lyn tidak pernah mau mendengarkan ucapannya. Jangankan itu, Lyn bahkan tak sudi bertemu dengannya lagi.
Lalu setelahnya Alvaro mendengar kabar Lyn pergi dari kota ini. Kota yang penuh kenangan mereka berdua.
Alvaro mengabaikan teleponnya yang terus berbunyi, nama Feldo pun tertera dilayar ponselnya.
Hari ini ia sangat malas sekali beraktifitas. Padahal hidupnya selama ini memang tidak pernah ada gairah semangatnya semenjak Marilyn pergi.
Astaga! Nama itu lagi.
Sial! Benar-benar sedetikpun Alvaro tidak bisa melupakannya.
Terdengar ketukan pintu di kabarnya, dengan kesal pun Alvaro menyuruh seseorang itu untuk masuk.
"Ada apa?" tanya Alvaro dingin pada salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.
"Nyonya Samira berpesan pada saya, beliau meminta anda untuk mengangkat panggilan teleponnya Tuan—"
"Hmm ya, pergilah." usir Alvaro tak acuh.
"B-baik Tuan." sedikit terbata pelayan itu menganggukkan kepala dan segera beranjak pergi dari kamar sang majikan.
Pelayan tersebut bisa bernafas lega, sungguh ia merasa sangat gugup dan juga takut pada majikan tampannya. Sayangnya majikannya itu sangat dingin dan kejam.
Walau begitu, pelayan tersebut tetap mengagumi sosok Alvaro. Mengidolakan Alvaro terlalu berlebihan.
Pelayan itu merasa beruntung karena bisa bekerja di rumah ini. Rumah besar nan mewah yang terasa sangat sunyi karena hanya dihuni satu orang saja, yaitu Alvaro sendiri.
"Hmm, ya Ma?" ucap Alvaro setelah mengangkat panggilan telepon mamanya.
Mamanya dan Feldo tidak akan berhenti mengganggunya dan akan terus menelponnya sepanjang hari.
Alvaro bahkan menganggap panggilan telepon mereka sebagai gangguan. Gangguan yang terus menerornya tiada henti. Bar-bar sekali!
"Iya Ma," kata Alvaro yang setelahnya mematikan panggilan telepon sepihak. Padahal mamanya masih bicara ini dan itu.
Alvaro kesal pada mamanya yang setiap hari mengomel saja. Rasanya tiap hari Alvaro selalu salah dimata mamanya.
Bagi nyonya Samira, kesalahan terbesar anaknya adalah ketika Alvaro memutuskan hubungan dengan Marissa. Wanita yang ia pilihkan untuk menjadi pasangan hidup putranya. Tapi Alvaro dengan sangat jahatnya malah membatalkan perjodohan yang sedikit lagi ke tahap pernikahan.
Semua ini karena wanita itu, wanita pengganggu yang telah membuat Alvaro berpaling dari Marissa. Padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja, tapi semenjak wanita itu hadir Alvaro jadi lupa diri.
Lupa diri akan segalanya, termasuk pada Marissa. Alvaro seakan lupa jika dirinya sudah bertunangan dengan Marissa.
"Entah apa yang sudah dilakukan wanita itu hingga membuat Alvaro terlena padanya." gumam nyoya Samira kesal dan menduga jika wanita yang bernama Marilyn itu memakai pelet untuk menarik Alvaro ke dalam pelukannya.
Jika Alvaro mendengar ucapan nyonya Samira ini, pastilah Alvaro marah dan tidak terima dengan tuduhannya.
Dan dengan bangganya Alvaro mengatakan jika Marilyn berbeda dengan wanita lainnya. Marilyn istimewa, memiliki sesuatu yang tidak ada di diri Marissa.
Yaitu kenyamanannya. Bersama dengan Marilyn, Alvaro merasakan kenyamanan yang sejati. Berbeda dengan Marissa yang justru selalu membuat Alvaro merasa tertekan.
Sifat pemaksa Marissa membuat Alvaro tidak tahan dan segera memutuskan hubungan mereka. Kini meskipun perjodohan sudah dibatalkan, tetapi Marissa tidak lelah mendekatinya kembali.
Pernah suatu hari Marrisa memohon pada Alvaro untuk melanjutkan hubungan mereka. Tak sekali dua kali, Marissa kembali memohon-mohon padanya.
Tapi sekeras apapun usaha Marissa tetap tidak membuahkan hasil. Alvaro tidak akan pernah mau kembali lagi padanya. Karena perasaan tidak bisa dibohongi, dihatinya hanya ada nama Marilyn. Dulu, kini, dan selamanya. Sampai kapanpun hanya Marilyn yang Alvaro mau.
***
Feldo membawa kabar gembira untuk ia sampaikan pada sahabatnya. Sahabat yang merangkap jadi bosnya sekarang ini, Alvaro.
Pria itu menatap malas pada Feldo yang nyengir cengengesan. Tampak sekali raut bahagia di wajah Feldo.
"Kelihatannya lo lagi senang ya?"
"Banget. Gue memang lagi senang banget. Lo tahu kenapa?"
Alvaro menggelengkan kepalanya, "sayangnya gue gak ingin tahu tuh."
"Yakin lo gak mau tahu gue lagi senang karena apa?"
"Yes! Malas banget gue dengarnya."
"Yakin?" goda Feldo memancing reaksi Alvaro yang tadinya tak acuh namun kemudian jadi penasaran.
"Penasaran kan, lo?!" tebak Feldo benar.
"Udah, gak usah bertele-tele. Cepat katakan!"
"Dih, maksa! Sabar atuh Mas bro, rileks."
Alvaro menghela nafas sabar menghadapi temannya yang satu ini. Feldo tersenyum puas melihat Alvaro yang mulai tenang.
"Gue yakin lo pasti senang banget dengar kabar ini."
Alvaro tersenyum sinis, merasa tak yakin dengan ucapan Feldo. "Tak ada kabar yang membahagiakan selain tentang Marilyn."
"Lah, gue memang mau kasih kabar mengenai Marilyn." Alvaro langsung menatap tajam Feldo.
"Serius lo? Jangan coba-coba ngerjain gue ya. Gue hajar lo!" ancam Alvaro agak kurang yakin meskipun ia sangat berharap temannya ini bicara serius.
"Iya, gue serius Al."
Dada Alvaro berdebar bahagia mendengarnya, ia pun meminta Feldo untuk segera mengatakannya.
Feldo pun mengatakan jika ia tahu dimana keberadaan Marilyn saat ini. Dengan penuh semangat Alvaro ingin pergi menemui Marilyn tapi Feldo by dengan cepat mencegahnya.
"Jangan gegabah! Kamu akan bertemu dengannya tapi tidak begini caranya."
"Lalu bagaimana caranya? Kenapa harus menunggu lagi jika aku sudah mengetahui dimana keberadaannya?"
"Hei, dengarkan aku. Aku mempunyai cara untuk mempertemukan kalian berdua kembali. Tapi tidak dengan cara kamu menemuinya."
"Lalu?"
Feldo membisikkan sesuatu di telinga Alvaro yang mengangguk-angguk mengerti dan kemudian setuju. Setuju dengan usulan Feldo.
Alvaro tersenyum puas dengan ide Feldo, tapi ia tak yakin jika ide sahabatnya ini akan berhasil. Menurutnya, peluang menang untuk ide ini sangat kecil.
Bagaimana caranya menarik Marilyn untuk kembali lagi ke kota ini? Itu yang dari tadi Alvaro pikirkan.
"Pasti tidak akan mudah membuat Marilyn kembali ke sini." kata Alvaro yang diangguki Feldo.
Dengan berat hati Feldo akui itu, tapi seberat apapun mereka akan tetap berusaha mencoba menarik Marilyn kembali lagi ke kota ini.
"Aku rasa Marilyn tidak akan menolak untuk kembali ke kota ini disaat keadaan mendesaknya."
"Maksudmu?"
"Ya, perlu kau tahu saja. Jika Marilyn saat ini tengah mengalami masa-masa yang sangat sulit. Kehidupannya yang miskin pasti membuatnya sangat tersiksa. Biaya keperluan sehari-hari yang pas-pasan, belum lagi hutang piutang keluarganya yang sangat banyak."
"Jangan bilang kalau kau ingin menjebaknya."
Feldo mengendikkan kedua bahunya tak acuh. "Jika cuma itu jalan satu-satunya, kenapa enggak?"
"Tapi Fel—" ucapan Alvaro tersendat. Ia memang ingin Marilyn kembali padanya namun bukan dengan cara yang licik.
Menjebak sepertinya bukan hal yang baik untuk dilakukan. Tapi seperti yang Feldo bilang, jika cara satu-satunya cuma menjebak Marilyn kenapa tidak?
"Sudahlah Al, kau tenang saja. Serahkan semuanya padaku. Aku janji ini tidak akan lama, dan aku janji akan mengembalikan Marilyn secepatnya ke dalam pelukanmu."
"Bukan hanya ke dalam pelukan ku saja, tapi juga ke dalam hidupku untuk selama-lamanya."
Feldo mengangguk, "tentu saja."
"Thanks ya bro."
"Oke. Tapi lo harus janji sama gue. Setelah ini lo harus hidup dengan penuh semangat. Karena jika tidak, aku akan menarik kembali kata-kataku barusan." ucap Feldo kembali bicara pakai lo dan gue.
"Tidak!" tolak Alvaro cepat. "Gue janji setelah ini akan hidup dengan penuh semangat asal lo bisa bikin Marilyn kembali ke kota ini dengan cepat."
"Siapp!" tukas Feldo seraya mengacungkan kedua jempolnya pada Alvaro yang tersenyum senang.
"Lo gak ke kantor hari ini?"
Alvaro menggeleng, "malas."
"Astaga! Kebangetan banget lo malasnya."
"Hari ini aja, besok-besok udah enggak kok."
"Janji?"
"Iya gue janji, asal lo benar-benar bisa balikin Marilyn ke hidup gue."
"Iya gue janji. Ya ampun, perasaan lo jadinya ancam gue terus sama janji itu deh."
Alvaro nyengir, "harus dong! Biar lo gak lupa kalau terus gue ingetin."
"Kampret lo!" umpat Feldo kesal.
Temannya ini jadi manja, dikit-dikit menyerahkan segala urusan kantor padanya setiap kali malas.
Dan Feldo dengan senang hati akan melakukannya. Kan, lumayan gajinya jadi nambah banyak. Hehe.
"Oke, gue cabut ya." ucap Feldo berpamitan.
"Kemana?"
"Ke kantor keluarga lo lah. Memangnya mau kemana lagi Bapak Alvaro yang terhormat?"
Alvaro tertawa geli mendengarnya, "biasa aja kali ngomongnya."
"Kesel gue sama lo. Sumpah!" Alvaro bersikap biasa saja, sebab ia tahu jika temannya ini tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Seusai kepergian Feldo temannya, Alvaro kembali memutuskan untuk naik ke atas ranjang. Bukannya sarapan Alvaro justru kembali lanjut tidur lagi. Benar-benar pria yang mageran sekali.
Tak ada satupun dari pelayannya yang berani membangunkannya. Alvaro akan bangun saat perutnya sudah terasa sangat lapar.
Para pelayan akan semakin sibuk setelah dia bangun dan meminta ini itu, termasuk makanan.
Alvaro adalah pria yang makan dengan porsi banyak. Namun beruntungnya tubuh Alvaro tetap ideal, gagah dan tegap berisi.
Tentu tubuh proporsional itu adalah impian semua pria, begitupun dengan para wanita yang mengidamkan tubuh pasangannya kekar dan berotot.
Seharusnya Marilyn merasa beruntung memiliki Alvaro yang nyaris mendekati kata sempurna. Dan Marilyn lebih beruntung lagi karena Alvaro sangat mencintainya.
***
Marilyn sebenarnya tidak ingin kembali ke kota kelahirannya. Kota dimana penuh banyak kenangan entah itu buruk maupun baik.
Tapi karena keadaan yang mendesak membuatnya terpaksa memilih untuk kembali kesana.
Paman Razak membawa seorang pria asing ke rumahnya. Paman Razak bilang pria itu menawarkan lowongan pekerjaan sebagai pelayan di rumah orang kaya dengan gaji yang sungguh menggiurkan.
Bagaimana tidak menggiurkan jika gaji menjadi pelayan di rumah orang kaya itu besar. Marilyn sendiri saja sampai tidak percaya mendengarnya, takutnya hanya orang yang ingin menipu. pikirnya merasa was-was.
Tapi pria itu menyakinkan Marilyn dan keluarganya jika ia bersungguh-sungguh dan bersumpah tidak bermaksud untuk menipu.
Paman Razak dan keluarga Marilyn langsung percaya begitu saat kata sumpah terucap dari bibir pria itu. Tapi tidak dengan Marilyn yang masih merasa ragu.
Marilyn pun meminta waktu sebentar untuk bicara berdua dengan paman Razak.
"Dimana Paman mengenal pria itu?" tanya Marilyn penasaran. Bagaimana bisa pamannya mengenal laki-laki kaya asing.
Wajah paman Razak terlihat gugup saat mendapati pertanyaan seperti itu dari Marilyn. Tapi segera saja wajah yang tadinya gugup berubah menjadi marah.
"Mar, kamu menghina Paman ya? Kenapa pakai ditanya lagi, tentu saja Paman banyak kenalan orang kaya." kata paman Razak sewot.
"Bukan begitu Paman, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menghinamu. Hanya saja—"
"Ah, sudahlah Mar. Intinya gini saja, kamu mau tidak menerima pekerjaan dari pria kaya itu? Jika tidak mau ya sudah tidak apa-apa, paman dan yang lainnya tidak akan memaksa." sela paman Razak yang setelahnya beranjak masuk ke dalam rumah keluarga Marilyn.
Marilyn kaget dengan reaksi pamannya yang langsung marah. Padahal kan Marilyn bertanya secara baik. Lagian sejak kapan paman Razak memiliki banyak kenalan orang kaya?
Setahu Marilyn enggak deh, tapi ya sudahlah. Marilyn tidak ingin berpikiran buruk pada paman Razak-nya.
Tatapan pria itu langsung tertuju pada Marilyn yang ikut masuk ke dalam setelah beberapa menit kemudian.
Seluruh orang yang ada disitu kembali membahas soal pekerjaan yang ditawarkan pria itu. Pria itu sendiri berharap Marilyn mau menerima tawaran pekerjaan darinya. Karena itulah yang diinginkan bosnya, Feldo.
Feldo menegaskan padanya untuk bisa membawa Marilyn apapun caranya. Jadi sebisa mungkin ia berusaha keras membujuk Marilyn dan keluarganya agar mau menerima tawaran pekerjaan darinya.
"Ibu, aku tidak mau." bisik Marilyn pada ibunya. "Aku merasa ragu dan juga takut Bu."
"Apa yang membuatmu merasa ragu dan takut sayang?" tanya sang ibu balas berbisik di telinganya.
"Dia terlihat sangat misterius dan mencurigakan. Aku merasa kalau dia ini hanya seorang penipu, Bu."
"Sayang, apa kamu tidak dengar tadi apa yang dia bilang? Dia sudah bersumpah sayang. Ibu rasa dia tidak mungkin ingin menipu, apalagi membawa-bawa sumpah segala." kata ibunya tidak setuju dengan pendapat Marilyn.
"Ya, tapi Bu—"
"Sudahlah sayang, jangan berpikiran buruk pada orang lain. Cobalah untuk berpikir positif. Kapan lagi coba kita bisa mendapatkan tawaran menggiurkan seperti ini? Cuma hari ini sayang, dan tidak akan ada kesempatan kedua." bujuk ibunya berharap putrinya mau. "Ya sayang, kamu mau ya?"
"Aku butuh waktu, Bu." tukas Marilyn pergi masuk ke dalam kamarnya.
Ibu Marilyn meminta maaf pada semuanya atas sikap tidak sopan Marilyn yang main pergi begitu saja.
Dengan santainya pria itu mengatakan tidak apa-apa. Dia mencoba mengerti posisi Marilyn yang pasti saat ini merasa bimbang.
Pria itu pamit pergi pada keluarga Marilyn setelah memberikan batas waktu pada Marilyn. Ibu dan ayah Marilyn tampak senang dan sangat berterima kasih pada pria itu yang sudah berbaik hati mau menunggu keputusan Marilyn.
Ayah dan ibu Marilyn juga berterima kasih pada paman Razak yang merasa sangat bangga.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, paman Razak sudah bekerjasama pada pria itu yang merupakan suruhan Feldo.
Pria itu menjelaskan semua maksud dan tujuannya pada paman Razak. Jiwa mata duitannya paman Razak muncul begitu pria tersebut menawarkan sejumlah uang yang banyak untuk kerjasama ini.
Dan pria itu menjanjikan bonus tambahan yang banyak, asalkan paman Razak berhasil membujuk Marilyn agar mau menerima tawaran kerja darinya.
Siapa yang tidak merasa tergiur dengan pekerjaan semudah itu. Hanya membujuk keponakannya agar mau ikut ke kota asalnya.
Tentu saja paman Razak langsung menyetujuinya, dan yakin jika Marilyn tidak akan mungkin menolak. Mengingat kehidupan susah keluarga keponakannya, lagian Marilyn bukanlah anak yang pembangkang. Sangat susah bagi Marilyn menolak permintaan orang tuanya.
"Tapi kenapa anda memberi waktu untuk Marilyn menjawabnya? Bukankah seharusnya Marilyn menjawabnya sekarang juga?" tanya paman Razak tak mengerti dengan jalan pikiran pria itu yang malah memberi waktu.
Dengan santai pria itu menggeleng, "saya harus melakukan ini karena saya tidak ingin terlihat terlalu menekannya. Apalagi terkesan memaksanya, tentu saya tidak mau melakukan itu. Karena itu justru malah menimbulkan kecurigaan bagi Marilyn dan keluarganya." jelas pria itu yang. Paman Razak mengangguk-angguk paham.
Paman Razak takjub dengan ide pria itu yang luar biasa. Memikirkan secara detail rencana mereka, tidak sepertinya yang berpikiran pendek. Tadinya paman Razak ingin terus membujuk bahkan kalau perlu memaksa Marilyn.
Syukurlah ia biar menahan diri, kalau tidak maka kemungkinan besar rencana mereka berdua gagal.
Paman Razak tidak ingin bertanya apa-apa mengenai Alvaro, pria yang pernah singgah di hidup keponakannya itu. Setelah sepuluh tahun berlalu, kenapa baru sekarang nama itu kembali muncul lagi? Memangnya selama ini kemana pria itu baru mencari keponakannya lagi?
Hanya saja satu hal yang masih mengganjal di hati paman Razak yang merasa sangat penasaran. Namun ia tidak ingin menanyakannya pada pria itu.
Rasa-rasanya tidak ada yang lebih penting bagi paman Razak kecuali uang. Ya, uang. Seketika ia tersenyum senang saat membayangkan banyaknya uang di hadapannya.
Dia akan menjadi orang kaya apabila memiliki banyak uang. Uh, paman Razak ingin uang banyak.
Pria itu geleng-geleng kepala melihat tingkah paman Razak. Dasar matre! batin pria itu mengumpat.
Seharusnya sebagai paman beliau bisa menjaga dan melindungi Marilyn. Tapi ini tidak, paman Razak seolah-olah menjadikan Marilyn sebagai tumbal untuk keinginan dan tujuannya yang besar.
Ingin kaya bukan berarti harus mengobarkan keponakannya untuk pria yang pernah menyakiti Marilyn di masa lalu.
Paman Razak benar-benar jahat!
Marilyn termenung di kamarnya, memikirkan kembali soal tawaran kerja yang menggiurkan dari pria kaya tersebut.
Sungguh, Marilyn belum siap jika kembali ke kota asalnya. Dan juga ia tidak sanggup berpisah dengan keluarganya. Berpisah dari ibu, ayah dan juga kedua adiknya yang masih bersekolah.
Ayahnya yang sakit-sakitan tidak lagi bisa bekerja. Hanya dia dan ibunya yang banting tulang mencari uang untuk biaya sekolah dan juga kehidupan sehari-hari mereka yang selalu pas-pasan. Bahkan terkadang kurang, belum lagi hutang-hutang yang menumpuk untuk biaya pengobatan ayahnya. Obat-obat rutin yang harus di minum ayahnya bukanlah murah.
Ya Tuhan! Lengkap sekali kenikmatan hidup yang engkau berikan pada hidupku. ucap batin Marilyn.
Tanpa sadar airmata itu keluar dengan sendirinya, rasanya sangat berat bagi Marilyn untuk memutuskan.
Semoga saja jawaban yang ia ambil nantinya adalah keputusan yang tepat untuk dirinya dan juga keluarganya.
Marilyn cepat-cepat menghapus air matanya saat mendengar suara ketukan pintu di kamarnya. Tersenyum seraya membuka pintu, menyapa dan mempersilakan ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Nak," panggil sang ibu menyentuh lembut bahunya. "Paman Razak dan pria kaya itu sudah pergi." kata ibunya memberitahu.
Marilyn mengangguk, "lalu apalah dia mengatakan sesuatu sebelum pergi, Bu?"
"Ya, ada nak. Pria kaya itu memberikanmu waktu kamu memutuskan jawabannya. Pria kaya itu sangat baik dan pengertian sekali ya mau memberi waktu dan kesempatan untuk keluarga kita."
"Nak, Ibu berharap kamu mau menerima tawaran pekerjaan darinya ya." bujuk ibunya tak lelah.
"Aku sih mau-mau saja, Bu. Asalkan tidak kembali ke kota itu." ungkap Marilyn. "Ibu jelas tahu dan masih ingatkan dengan masa laluku di kota itu?"
Sang ibu mengangguk, "tentu saja Ibu masih mengingatnya sayang. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pekerjaan yang menggiurkan selain pekerjaan yang ditawarkan pria kaya itu nak."
"Jadi Ibu sangat berharap kamu mau demi keluarga kita nak. Jangan egois memikirkan diri sendiri, tapi pikirkanlah tentang keluarga kita. Ya?"
"Ibu, aku—" ucapan Marilyn tersendat oleh tangisnya sendiri. Marilyn tak mampu menolak jika ibunya sudah memintanya seperti ini.
Tapi, sanggupkah ia menerima tawaran pekerjaan dari pria kaya itu?
***
Mungkin berat bagi Marilyn untuk mengambil keputusan ini. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain menerimanya.
Ia tidak mau dianggap egois apalagi durhaka pada orang tuanya. Lagian sampai kapanpun Marilyn tidak akan pernah sanggup menolak permintaan ibu dan ayahnya.
Marilyn menanamkan kata-kata di dalam dirinya jika semua yang dia lakukan ini untuk keluarganya. Demi keluarganya tercinta.
Semoga saja ini keputusan yang benar dan tepat. Aminn.
Paman Razak dan pria kaya itu senang dengan keputusan Marilyn. Akhirnya wanita itu menerima tawarannya.
Dengan cepat pria itu memberikan kabar pada bosnya, Feldo. Secepat itu juga Feldo mengabarkannya pada Alvaro yang bersorak gembira.
Wanita yang dicintainya akan kembali ke sini, ke kota yang banyak dengan kenangan mereka berdua.
Karena rencana mereka berjalan sukses, Feldo akan memberikan bonus pada pria itu dan juga paman Razak.
Sebelum pergi paman Razak menahan pria itu, menanyakan bonus tambahan yang pria itu janjikan padanya.
"Akan ku berikan nanti, tenang dan percayalah." janji pria itu berusaha sabar menghadapi paman Razak yang tak sabaran jika mengenai uang.
"Oke, baiklah. Aku akan percaya dan aku harap anda tidak berbohong." kata paman Razak sedikit mengancam.
"Tenang saja, saya bahkan sudah menyimpan nomor ponsel dan juga nomor rekening anda Pak Razak. Jadi jangan khawatir, saya tidak akan mungkin membohongi anda." paman Razak mengangguk.
Sekali lagi pria itu berpamitan pada keluarga Marilyn. "Kami pamit pergi Bu, Pak."
"Iya nak, kami mengucapkan terima kasih banyak padamu. Kamu sungguh pria yang baik, menawarkan pekerjaan yang menggiurkan dan juga uang tunai ini—"
"Iya Bu, sama-sama. Saya juga berterima kasih pada keluarga ini yang telah mempercayai saya." sela pria itu tak ingin paman Razak mendengar ucapan ibu Marilyn yang membahas soal uang tunai yang ia berikan.
Jumlah uang tunai yang ia berikan terbilang cukup banyak untuk keluarga Marilyn gunakan.
Marilyn memeluk erat ibu, ayah dan kedua adiknya yang hari ini tidak bersekolah khusus untuk melihatnya yang ingin pergi.
"Belajar yang rajin dan giat ya adik-adikku. Kakak titip Ayah dan Ibu sama kalian." kedua adik Marilyn mengangguk sedih dan melambai-lambaikan tangan mereka pada mobil yang melaju pergi membawa Marilyn.