Bab 1

"Mas kamu lama sekali." Terdengat suara manja seorang wanita.

Alina langsung saja memeluk seorang pria yang baru saja merebahkan diri di sampingnya. Setelah lama menunggu akhirnya pria yang ditinggunya kembali.

Tangannya terus saja mengelus dada pria yang berbaring di sampingnya.

"Malam ini aku menginginkannya Mas," ujarnya. "Entah mengapa aku sangat bergairah, kepalaku juga sedikit pusing." Tanpa tahu pria yang ada di sampingnya Alina terus bicara.

Dariel yang dalam keadaan setengah mabuk membalikan badan, meski remang-remang namun dia masih bisa melihat wajah cantik Alina.

"Siapa kamu? kenapa bisa ada di kamarku?" tanya Dariel keheranan.

Awalnya pria yang bernama Dariel Kyle itu mengira jika Alina adalah wanita penghibur yang disiapkan personal assitennya namun cara wanita itu berbicara dan cara memanggil dengan sebutan Mas, sangat jelas jika dia bukanlah wanita penghibur.

"Jangan buat lelucon mas," sahut Alina dengan tertawa.

Merasa sudah tak tahan lagi, Alina melepas baju tipis yang menutupi tubuhnya, dia menggeliat bak cacing kepanasan, mengirim sinyal agar pria yang ada disampingnya menggaulinya dengan segera.

"Mas ayolah mas, aku sudah tidak tahan." Suaranya begitu berat.

Dengan keadaan yang tidak sadar dengan siapa dirinya kini, Alina membuka kakinya dengan lebar berharap pria yang dikira calon suaminya segera memadamkan panas dirinya.

"Wanita ini," gumam Dariel.

"Mas cepatlah, aku sudah tak tahan." Dia terus merengek meminta pria itu untuk segera melakukan penyatuan.

"As you wish," sahut Dariel.

Tanpa ragu Dariel melepas semua penutup tubuhnya.

Tanpa aba-aba Dariel langsung menindih tubuh mungil Alina, bibirnya menciumi bibir Alina dengan lembut seolah Alina adalah pasangannya.

Keduanya hanyut dalam malam panas yang menggairahkan, sama-sama dalam keadaan yang setengah sadar membuat mereka berdua hanyut dalam cinta satu malam yang nikmat.

Dariel memainkan bagian dada Alina dengan lembut, sesekali dia memberikan sensasi nikmat yang membuat Alina semakin menggila.

"Lebih keras mas," ucapnya.

Dengan senyum yang mengembang dia berusaha menuruti kemauan Alina, ada rasa puas tersendiri melihat lawan mainnya puas dan meminta hal lebih padanya.

Selama ini Dariel yang selalu memerintah wanita untuk memuaskannya tapi kali ini dia yang diperintah wanita.

"Aaahhhhhh mas nikmat sekali." Alina terus menggeliat merasakan kenikmatan yang pria itu berikan.

Mendengar pujian Alina membuat pria itu menggila, dia terus saja memainkannya dengan lembut dan penuh penghayatan.

Baru pemanasan tapi keringat keduanya sudah tumpah, padahal suhu di kamar mereka sangat rendah.

"Mas ayo," rengeknya.

Dariel menarik tubuh Alina dan membuka kakinya, dia kini siap untuk melakukan penyatuan.

"OMG ini yang pertama bagimu."

Di dunia modern dan kontaminasi budaya barat yang sangat besar, dia tidak menyangka masih ada wanita yang menjaga keperawanannya.

Alina mengangguk, tangannya mencengkeram bantal karena dia merasakan sakit ketika batang keras berusaha menerobos miliknya.

"Kemana saja kamu selama ini," sambungnya.

Dengan sedikit hentakan Dariel berusaha berhasil mencetak gol, meski setelahnya dia merasa bersalah karena mengambil sesuatu yang sangat berharga dari seorang wanita yang tidak dia kenal sama sekali.

"Aaaahhhhh sakit," pekik Alina saat Dariel berhasil mengoyak selaput darah miliknya.

Segera Dariel mengesampingkan pikiran itu, dia tidak memintanya tapi wanita inilah yang dengan merengek meminta agar dia melakukannya.

'Shit nikmat sekali' Batinnya sambil menaik dan menurunkan pinggulnya.

Entah sampai berapa lama mereka menghabiskan malam panas bersama, keduanya yang baru saja menikmati surga dunia seakan tidak puas, sehingga keduanya melakukan pergumulan lagi dan lagi.

"Aku lelah mas," kata Alina yang sudah kelelahan karena sedari tadi terus mendapatkan serangan.

"Tidurlah, aku juga lelah," sahut Dariel.

Tanpa sadar mereka berdua tidur saling berpelukan, Alina dan Dariel bak pasangan suami istri meskipun kenyataannya mereka tidak saling kenal.

************

Brak

Terdengar pintu dibuka dengan keras, sayup sayup Alina membuka matanya.

"Mas kamu sudah rapi," kata Alina.

Hans duduk di samping calon istrinya yang hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Apa yang telah kamu lakukan semalam Alina?" tanya Hans dengan mata berkaca.

Alina memijat pelipisnya, samar-samar dia ingat kalau semalam mereka berdua menghabiskan malam panas bersama.

"Mas kenapa kamu malah balik bertanya? bukankah semalam kita berdua telah melakukan penyatuan?" tanya Alina.

Hans tersenyum sambil menatap Alina, aktingnya kali ini akan dimulai, memang semua ini adalah rencannya untuk menjebak calon istrinya tidur dengan pria suruhannya.

"Bagaimana bisa, tiba-tiba aku ada urusan mendadak keluar kota, aku berusaha menghubungi kamu tapi tidak kamu jawab dan pagi ini aku cepat-cepat datang kesini untuk meminta maaf tapi aku malah mendapati kamu telanjang seperti ini Alina."

Tubuh Alina bak disambar petir, dunianya kini runtuh lantas jika bukan Hans siapa yang semalam bersamanya?

Ingatan desahan si pria semalam tiba-tiba terngiang memang itu bukan lah suara Hans.

Air matanya kini meluncur bebas, bagiamana bisa dia meminta orang untuk menyetubuhinya, dia bahkan terus mengemis agar orang tersebut menggagahinya.

"Tidak mas, ini pasti ada kesalahan," kata Alina yang berusaha menyanggah.

"Kesalahan apa? lihatlah dirimu Alina, penuh dengan bekas kecupan," sahut Hans dengan wajah sedihnya.

Hans mengatur raut wajahnya sedemikian rupa seolah dia adalah mahkluk yang paling tersakiti di dunia ini.

"Aku tak tau mas, semalam aku kira pria itu adalah dirimu," timpal Alina.

"Apa kamu tidak bisa membedakan mana aku dan mana orang lain Alina, atau justru kamu dan dia ada hubungan," tukas Hans.

Alina menggelengkan kepala, dia berusaha menjelaskan kepada Hans, kalau dirinya benar-benar tidak tau namun logika Hans yang lebih kuat daripada pernyataannya, padahal semua itu karena pengaruh obat yang Hans berikan kepada Alina, entah obat apa yang dia berikan sehingga membuat Alina bergairah dan tidak sadar jika itu adalah pria lain.

"Aku kecewa dengan kamu Alina dan mohon maaf aku kira kita batalkan saja pernikahan kita bulan depan," kata Hans.

Tubuh Alina mematung dengan air mata yang trus mengalir bebas, hingga suara pintu yang keras mengeluarkannya dalam lamunan.

Hans telah pergi dengan kemenangan, konspirasinya kali ini berhasil kini tinggal pergi ke rumah Alina dan mengadukan semua kepada calon mertuanya.

Sebelum keluar dari mobilnya dia telah menggunakan obat tetas mata untuk membuat aktingnya memukau seolah dia adalah mahkluk yang tersakiti.

Hans keluar dengan wajah yang tak karu-karuan, kedua orang tua Alina yang saat ini tengah bersantai di teras sangat kaget melihat calon mantu mereka yang datang dengan keadaan tak karu-karuan.

"Hans, ada apa?" tanya Mama Alina.

Hans berakting dengan begitu memukau bahkan dia sampai menangis terisak untuk mendukung aktingnya.

Sikap Hans tentu membuat mama dan papa Alina ikut panik.

"Ada apa Hans?" tanya Papa Alina.

"Alina ma, pa, dia telah memberikan tubuhnya kepada pria lain saat malam anniversary kami," jawab Hans dengan menangis.

Bab 2

Seketika tubuh kedua orang tua Alina mematung, mereka sungguh tak percaya jika anak mereka melakukan hal itu.

"Bagiamana bisa Hans, bukankah semalam Alina pergi sama kamu untuk merayakan anniversary kalian?" sahut papa Alina dengan penuh penekanan.

"Memang benar om, tapi malam itu saya ada urusan mendadak yang mana harus meninggalkan Alina di kamar hotel dan keesokannya saat saya kembali...." Air mata buaya keluar dari kedua bola matanya.

Hans terisak sambil memegangi dadanya, seolah dirinya adalah mahkluk yang paling teraniaya di muka bumi ini.

Hans menggantung ceritanya membuat kedua orang tua Alina semakin penasaran dan cemas dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Alina kenapa?" tanya Papa Alina.

"Alina dalam keadaan telanjang," jawab Hans.

Hans banyak menceritakan kebohongan, dia berakting dengan epic membuat kedua orang tua Alina masuk ke dalam alur ceritanya.

Atas segera cerita dan aktingnya, Seharusnya dia memenangkan piala oscar di ajang bergengsi.

Tak berselang lama Alina datang, dia segera mendekat lalu mencoba menjelaskan semua kalau ini hanyalah salah paham.

"Salah paham bagiamana Alina, bagaimana pria itu bisa masuk jika bukan kamu yang membukakan pintu," sahut Papa Alina dengan marah.

"Mana Alina tau pa," sanggah Alina.

"Kamu pikir orang itu bisa menembus tembok?" sahut mamanya.

Alina sudah tak tahu lagi bagaimana menjelaskan semuanya, kedua orang tuanya dan juga Hans selalu menyanggah apa yang dia ucapkan hingga dia tak tau harus bersikap bagaimana lagi.

"Aku benar-benar tidak tau siapa orang itu, malah aku kira itu kamu mas!" Sekeras apapun Alina menjelaskan sangat percuma.

"Sudahlah Alina kamu jangan mengelak, semua sudah jelas. Kalau orang itu bukan aku seharusnya kamu menolaknya tapi apa yang kamu lakukan, kamu membiarkannya dia menikmati dirimu bukan?"

Ucapan Hans membuat Alina tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia sendiri juga tidak tau kenapa dia malah menikmati setiap sentuhan dari pria yang disangka calon suaminya tersebut

"Keterlaluan kamu Alina!" bentak papa Alina.

Plak

Tak kuasa menahan amarahnya, papa Alina menjatuhkan tangannya di pipi mulus Alina. Beliau benar-benar sangat kecewa dengan Alina yang mengkhianati Hans.

"Hans papa mohon maaf atas kelakuan anak papa," kata Papa Alina.

"Saya memakluminya pa mungkin Alina tidak pernah bisa mencintai saya sehingga dia mengkhianati saya seperti ini." Entah berapa kali air mata buaya itu keluar

Lagi-lagi jurus tangisan maut Hans keluarkan untuk menarik simpati kedua orang tua Alina dan mirisnya kedua orang tua Alina semakin iba kepada tangisan buaya Hans.

"Kamu benar-benar pria yang baik Hans, anak papa saja yang bodoh karena mengkhianati pria seperti kamu," sahut papa Alina.

Kekecewaan kedua orang tua Alina semakin dalam saat Hans ingin membatalkan pernikahan mereka, Hans mengatakan tidak sanggup hidup bersama Alina yang sudah memberikan tubuhnya pada pria lain di malam anniversary mereka.

"Kami mohon jangan lakukan itu Hans, semua sudah disiapkan," pinta papa Alina.

Mama Alina juga memohon pada Hans supaya tidak membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata ini, tentu Hans tidak ingin mengabulkan permohonan kedua orang tua Alina karena memang ini semua adalah rencana busuknya.

"Hans paling tidak bisa menerima pengkhianatan Ma, pa. Maafkan Hans," sahut Hans.

"Kalau dipaksakan pun akan menjadi boomerang dalam rumah tangga kami," sambung Hans.

Meski berat mama dan papa Alina tidak bisa dipaksakan, lebih baik batal daripada nantinya akan ada perpisahan.

"Baiklah Hans, papa bisa memaklumi keputusan kamu kalau hal itu terjadi dengan papa pasti papa akan melakukan hal yang sama," ucap Papa.

"Besok mama dan papa akan menemui kedua orang tua kamu, kami akan membahas masalah ini," sambung papa Alina lalu pergi ke dalam.

Mama Alina menepuk pundak Hans lalu menyusul suaminya, kini tinggal lah Hans dan Alina tak ada pembicaraan di antara mereka sehingga Hans pamit pulang.

Selepas kepulangan Hans, Alina pergi ke kamarnya. Dia berteriak sekeras-kerasnya untuk meluapkan rasa sakitnya.

"Kenapa semua harus terjadi padaku!" teriaknya.

Alina berlari masuk ke dalam kamar mandi, dalam posisi tak berbusana dia menatap tubuhnya di cermin, banyak sekali kecupan di sekujur tubuhnya.

"Siapa kamu sebenarnya, kenapa bisa masuk ke dalam kamar aku," gumam Alina dengan menangis.

Puas memandangi dirinya di depan cermin, kini Alina memutar keran shower dan mengguyur tubuhnya dengan air, dia berusaha menghilangkan bau percintaan panasnya semalam, meski bisa hilang namun percintaan panas itu akan tetap membekas di dalam hatinya.

***********

Kedua orang tua Hans dan kedua orang tua Alina sangat sangat menyayangkan perpisahan yang terjadi tapi mereka tidak bisa memaksakan karena memang inilah yang diinginkan.

Kedua orang tua Alina menepati perjanjian pra nikah yang telah disepakati yang mana barang siapa yang berkhianat maka harta warisannya akan jatuh ke pasangan yang dikhianati.

Warisan Alina semuanya kini jatuh ke tangan Hans, sebenarnya kedua orang tua Hans tidak ingin mempermasalahkan hal itu tapi Hans bersikeras.

"Semua telah disepakati pa, ini adalah konsekuensi yang harus Alina terima," sanggah Hans.

Kedua orang tua Alina membenarkan ucapan Hans, ini adalah konsekuensi Alina setelah apa yang telah dibuatnya.

"Alina benar-benar bodoh, aku sungguh kecewa sekali," kata Papa Alina.

"Sudahlah pa, mungkin ini sudah jalan anak kita." hibur mama Alina.

"Kita harus memberi dia hukuman ma, Alina sudah kehilangan warisannya maka dia harus bekerja sendiri untuk menghidupi dirinya," sahut papa.

Sesampainya di rumah, papa Alina pergi ke menemui Alina yang berada di kamarnya.

"Alina mulai hari ini semua fasilitas kamu, mama dan papa cabut, uang jajan dan bulanan kami hentikan, kalau kamu ingin uang untuk beli skincare atau lainnya kamu harus bekerja," kata papa.

"Kenapa bisa begitu pa," sahut Alina yang tidak terima.

"Ini hukuman kamu, dan ingatlah kamu sekarang tidak memiliki warisan lagi," timpal Papa Alina.

Alina terduduk lemas, kenapa semua tidak adil terhadapnya saat ini.

"Kenapa jadi begini," teriak Alina.

Di sisi lain setelah mendapatkan warisan Alina Hans pergi keluar, dirinya menuju sebuah apartemen mewah yang terletak di pusat kota.

Dengan wajah yang sumringah Hans keluar dari mobilnya, sesampainya di depan unit yang dituju Hans membunyikan bel.

"Sayang, kenapa lama sekali," protes seorang wanita.

Hans menyunggingkan senyuman kemudian masuk ke dalam.

"Aku sudah mendapatkan harta warisan Alina, kita sekarang semakin kaya," ucap Hans.

Olivia tertawa senang, sebenarnya ide untuk menjebak Alina adalah darinya, dia tidak rela jika Alina menikah dengan Hans.

Bagi Olivia Hans adalah ATM berjalan, dia tidak ingin setelah Hans dan Alina menikah Hans akan meninggalkannya sehingga dia terus memprovokasi Hans untuk menjebak Alina agar mereka bisa menguasai hartanya.

"Aku sudah mendapatkan harta yang banyak, apa tidak ada upah untukku?" tanya Hans dengan tatapan menggoda.

"Dengan senang hati sayang," jawab Olivia.

Olivia melepas pakaiannya di tempat, hal ini membuat Hans seketika meremang.

"Sungguh indah sekali tubuh kamu sayang," puji Hans.

Hans yang tidak sabar langsung menidurkan Olivia di sofa, hasrat yang membara benar-benar membuat dirinya langsung menerjang Olivia.

"Aku menginginkannya sekarang," bisik Hans.

Bab 3

Hasrat mereka memburu mengejar kenikmatan yang terus membara, baik Hans maupun Olivia terus mendesah menikmati kenikmatan dunia yang mereka rasakan.

Setelah mendapatkan pelepasan masing-masing keduanya memejamkan mata dengan saling berpelukan.

********

Hari itu mau nggak mau Alina harus mencari pekerjaan, hidupnya kini tidak bergantung lagi pada kedua orang tuanya, dia memiliki tanggung jawab penuh atas dirinya.

Mencari pekerjaan ternyata tidak semudah membalikkan tangan, lulusan terbaik tanpa pengalaman juga tidak bisa dijadikan acuan.

Alina terus berjalan menerjang panasnya ibukota, fasilitas mobil yang diambil kedua orang tuanya membuat Alina harus berjalan dari perusahaan yang atau ke perusahaan yang lain.

"Astaga panas dan lelah sekali," kata Alina sambil mengusap keringat yang keluar dari sela pori-pori wajahnya.

Alina sudah berjalan kesana kemari untuk mencari pekerjaan namun tidak ada satu perusahaan pun yang mau menerimanya dan ini membuatnya benar-benar putus asa.

"Perusahaan mana lagi." Suaranya melemah karena dahaga yang dia rasakan.

Tak terasa seminggu sudah berlalu tapi Alina masih saja belum mendapatkan pekerjaan, meskipun dia adalah gadis yang pandai tapi itu tak cukup, buktinya sudah beberapa perusahaan yang didatangi namun tak satupun yang mau menerima Alina karena kurangnya pengalaman kerja.

"Bagiamana Alina, apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Papanya.

Alina hanya menggeleng dan ini membuat papanya tersenyum sinis, rasa kesal dan marah terhadap Alina masih saja membekas di dadanya sehingga papa Alina benar-benar ingin memberikan sock terapi kepada sang anak.

"Papa yakin kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan tanpa bantuan papa." Ucapan sang Papa benar-benar membuat doang tapi hidup terus berjalan.

Dengan tekad yang kuat Alina pergi untuk mencari pekerjaan kembali, dia ingin mematahkan statemen papanya, dia ingin menunjukkan kepada kedua orang tuanya kalau dirinya mampu mendapatkan pekerjaan tanpa bantuan kedua orang tuanya sedikitpun.

Pagi itu Alina mendatangi satu persatu perusahaan yang belum pernah didatangi hingga datanglah dia ke sebuah perusahaan besar Kyle group, perusahaan yang dimiliki oleh seorang billionaire muda yang sangat terkenal.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya satpam yang bertugas.

"Di perusahaan ini apakah ada lowongan pekerjaan pak?" tanya Alina balik.

"Coba anda masuk dan bertanya pada resepsionis," jawab satpam.

Sesuai arahan dari pak satpam, Alina masuk ke dalam perusahaan dan menemui resepsionis. Dia mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke perusahan Kyle grup.

"Perusahaan kami hanya membuka lowongan untuk cleaning service saja karena posisi lain sudah terisi," ungkap resepsionis.

Alina terdiam sembari menatap lamaran pekerjaannya, apa mungkin lulusan terbaik sebuah universitas yang cukup terkenal mendapatkan pekerjaan hanya sebagai cleaning service.

Dirinya kini perang batin antara menerima atau menolak hingga akhirnya suara resepsionis memudarkan lamunannya.

Dengan pemikiran matang Alina mengangguk, "Iya saya terima," kata Alina yang akhirnya berminat dengan pekerjaan sebagai cleaning service.

Resepsionis meminta surat lamaran Alina, dia meminta Alina datang keesokan harinya untuk interview.

Keesokannya saat Alina datang matanya terbelalak melihat banyaknya yang akan interview, meski hanya sebagai cleaning service namun tetap membuat orang-orang berbondong-bondong untuk mendapatkan pekerjaan tersebut mengingat gaji yang ditawarkan perusahaan Kyle cukup besar.

"Astaga hanya cleaning service tapi yang melamar banyak banget," gumam Alina.

Alina duduk di loby menunggu namanya dipanggil, saat asik memandangi setiap sudut perusahaan matanya tertuju kepada seorang pria yang baru keluar dari mobil mewah.

Saat pria tersebut masuk banyak mata yang memandangnya, mereka yang akan interview nampak terpana kemudian mengalihkan pandangan matanya sejenak untuk menatap keindahan dunia yang lewat.

"Selamat pagi pak Dariel," sapa salah satu staf.

Dariel terus berjalan tanpa menjawab sapaan stafnya, memang begitulah dirinya yang dingin dan kurang ramah dengan bawahan.

"Astaga sombong banget, percuma ganteng tapi kalau sombong," batin Alina yang kesal dengan sesosok pria yang muncul.

Tak berselang lama seorang pria yang tak kalah tampan lewat menyusul, berbeda dengan Dariel, Arcelo asistennya lebih ramah, dia tersenyum dan mengangguk setiap disapa bawahannya.

"Ini lumayan ramah," batinnya lagi.

Lama menunggu akhirnya giliran Alina dipanggil untuk interview, saat melihat surat lamaran Alina HRD nampak mengerutkan alisnya, Alina adalah lulusan terbaik dengan nilai IPK yang tinggi tapi kenapa mau menjadi seorang cleaning service?

"Kamu memiliki nilai IPK yang tinggi, kamu juga lulusan terbaik kenapa mau bekerja menjadi cleaning service? apa saat kamu lulus kuliah tidak ada perusahaan yang menawari kamu pekerjaan lebih menjanjikan?" tanya HRD.

Sebenarnya saat lulus dulu banyak sekali perusahaan yang menawarinya untuk kerjasama, Tapi semua ditolak karena rencananya memang Alina bekerja di perusahaan papanya sendiri setelah menikah nanti tapi takdir berkata lain semua fasilitasnya dicabut karena kesalahan malam itu.

Tak ingin pihak HRD tau alasannya dia segera bilang jika sangat membutuhkan pekerjaan.

"Saya sangat memerlukan pekerjaan ini pak," jawab Alina.

Melihat kesungguhan Alina akhirnya HRD memutuskan untuk menerima Alina bekerja sebagai cleaning service di perusahaan Kyle grup.

"Baiklah kamu diterima bekerja di sini dan mulai besok kamu bisa bekerja."

Sebelumnya HRD menjelaskan job deskripsi seorang cleaning service di perusahaan Kyle Grup, karena Alina adalah orang yang baru, dia ditugaskan untuk membersihkan bagian dalam kantor.

Alina yang sangat senang karena mendapatkan pekerjaan keluar ruang HRD dengan hati yang berbunga-bunga tanpa dia sadari saat berjalan dia menabrak seseorang.

Karena insiden itu berkas yang dibawa orang tersebut berceceran di lantai.

Alina segera mengambil berkas-berkas yang berceceran sedangkan orang tersebut yang tak lain adalah Dariel hanya melihat dengan tatapan membunuh.

"Ini Mas, maafkan saya," kata Alina yang kemudian menatap Dariel dengan tersenyum.

Dariel terpaku memandang Alina, ingatannya kini terbang ke malam panas itu dimana dia dan Alina menghabiskan waktu bersama di sebuah kamar hotel.

Nikmat surga dunia yang pertama kali dia nikmati membuat Dariel mematung saat melihat wanita yang mampu membuatnya ke awan.

"Mas, ini berkasnya," kata Alina lagi.

Dariel kemudian mengambil berkasnya tanpa berkata apa-apa dan ini membuat Alina menyeringai. "Dasar."

Setibanya di rumah Alina memberitahu kedua orang tuanya kalau dia telah mendapatkan pekerjaan.

"Memangnya kamu bekerja di bagian apa?" tanya papa Alina.

"Cleaning service," jawab Alina.

Papa Alina nampak kesal tak ingin malu beliau meminta Alina untuk keluar dari pekerjaannya, tapi Alina menolak dia ingin menunjukkan kepada Papanya walaupun hanya menjadi cleaning service setidaknya bisa mencukupi semua kebutuhannya.

"Baiklah Alina tapi ingat jangan bawa nama papa." Suara meninggi keluar dari pria paruh baya tersebut.

Kekesalannya terhadap sang anak membuatnya pergi begitu saja.

"Alina cukup paham akan hal itu Pa," gumam Alina sembari menatap kepergian papanya.

Tak terasa waktu berlalu, dengan cepat pagi datang kembali, hari pertama bekerja membuat Alina bangun lebih pagi, dirinya telah menyiapkan segala sesuatunya.

"Astaga uang tinggal segini," gumam Alina sambil melihat isi dompetnya.

Persediaan uang yang sangat menipis membuat Alina harus benar-benar berhemat, pagi ini dia menggunakan jasa ojek online untuk datang ke kantor, tak hanya itu dia juga membawa bekal dari rumah untuk makan siangnya agar tidak udah beli makanan.

Alina bergegas menuju ruang cleaning service, disana Alina bertemu dengan teman baru yang bernama Tessa.

Mereka semua berkenalan dan bersiap untuk bekerja, kepala cleaning service menjelaskan job diskripsi masing-masing.

Kepala cleaning service adalah orang yang julid dan sok cantik, dia sering mengerjai teman-temannya dengan memberikan pekerjaan membersihkan ruangan bos yang terkenal dingin dan kali ini Alina mendapatkan pekerjaan tersebut.

"Kamu membersihkan ruangan presdir."

Alina mengerutkan alisnya, bukankah pekerjaannya membersihkan bagian dalam kantor?

"Bukankah tugas saya membersihkan bagian dalam kantor?" Dia menunjukkan protesnya.

"Kamu itu anak baru nggak usah ngebantah!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED