Bab 2

apa itu," seru Edward menoleh ke belakang.

Suara itu berasal dari ruang tamu, Aaron yang lain segera ke ruang tamu.

Seseorang kini sedang cekikikan tertawa setelah berhasil mengusik acara yang akan di gelar oleh Daddynya.

"Biarlah menganggu sebentar." Arthur lalu pergi dari tempat itu.

Acara pernikahan di gelar dengan mewah, Rosalie di dandani oleh MUA ternama di Washington. Ia memakai gaun pengantin yang begitu indah, keduanya lalu mengucap janji suci. Winona yang melihat itu ia begitu terharu dan mengusap air matanya yang jatuh begitu saja di pipinya.

"Selamat Momy, semoga Momy dan Daddy berjodoh hingga maut memisahkan," ucap Winona memeluk ibunya.

Setelah acara pernikahan, pada malam hari acara resepsi di gelar, ribuan tamu undangan teman dan kolega bisnis Edward menghadiri undangan pernikahan Rosalie dan Edward.

Edward dan rosalie sibuk menemui tamu undangan sedangkan Winona termenung di kolam renang.

"Hai, jangan bengong!" Sapa Belinda dan Alice dari belakang winona.

"Eh, kalian juga di sini! Sejak kapan kalian di situ!" Tanya Winona berdiri mendekati wuda sahabatnya itu.

"Kita sudah sejak tadi di sini, kamu yang malah bengong!" Tukas Alice menyilangkan tangannya di dada.

"Maaf Aku tadi melamun, makanya tidak sadar ada kalian!"

Acara resepsi begitu meriah, setelah itu mereka pulang ke rumah mewah milik Edward peterson.

"Sayang, kamarmu di sini sedangkan kamar Daddy dan Momy ada di bawah! Kalau kamu buru sesuatu tinggal panggil bibi Jane ya!" Kata Edward memberikan arahan pada anak sambungnya di rumah Edward.

Winona menurut saja dengan ayah tiri dan juga ibunya, ia lalu masuk ke dalam kamar barunya yang terbilang mewah dan jauh dari kamarnya yang ada di kampung kecil tempat asalnya.

Esok harinya ...

"Winona, hari ini Daddy yang akan antarkan kamu ke sekolah!" seru Edward pada putri sambungnya yang masih sekolah menengah pertama di kota Haines city Florida.

Winona dan sang ibu pindah ke kota itu mengikuti sang ayah barunya, kota asal winona berasal dari sebuah kota kecil di webster Florida.

"Tidak usah Daddy, Daddy kan sibuk! Nona tidak ingin mengganggu pekerjaan Daddy," tolaknya.

"Hem ... Kamu ikut saja sama Daddy kamu sayang, sebab Daddy juga kan setelah mengantar kamu bisa langsung ke kantor!" jelas rosalie meyakinkan sang putri yang terlihat malu-malu.

Rosalie memegang tangan Winona tersenyum menganggukkan kepalanya.

"Baik Momy," sahutnya menuruti permintaan sang Momy.

Edward tersenyum manis pada sang istri, ia begitu menyayangi wanita yang ia kenal 3 tahun silam.

"Andai Arthur juga tinggal dengan Kita, pasti Aku sangat bahagia!" lirih Edward menunduk sedih.

Rosalie mengusap tangan sang suami, Edward membalas senyuman sang istri yang begitu perhatian dengannya.

Arthur putra kandung Edward dari istrinya terdahulu yang sudah meninggal 12 tahun silam, kala itu Arthur masih berumur 8 tahun ia sedang di taman menunggu sang ibu yang membelikan dirinya es cream. Ibu Arthur tertabrak mobil saat menyebrang jalan, sejak itulah Arthur Tan pernah mengijinkan sang Ayah menikah lagi.

"Sudah jangan sedih lagi sayang, nanti juga harus Arthur luluh dan mau tinggal dengan Kita!" kata Rosalie menenangkan.

"Iya Sayang, semoga impianku bersama kalian orang yang Aku sayangi segera terkabul,"

Edward lalu segera menyelesaikan sarapannya ketika ia melirik jam di tangannya.

"Ayo sayang," ajaknya menenteng tas kerja.

Rosalie mengantar suami dan putrinya ke depan pintu, Rosalie juga tak lupa membenahi dasi Edward yang kurang rapi.

"Thank you baby," ucap Edward mencium bibir Rosalie.

Winona memalingkan wajahnya ketika mereka sekilas berciuman.

"Ayo putri manisku," ajak Edward pada winona yang masih terpaku mematung.

"Eh, iya Daddy." Winona masuk ke dalam mobil duduk di jok depan.

Rosalie yang melihat putri kecilnya itu, ia menggelengkan kepalanya.

"Memang benar-benar anak itu," gumam Rosalie Menutup rapat pintu rumahnya.

Rosalie membantu pembantunya di rumah itu, Bibi Jane tak membiarkan sang majikan melakukan pekerjaan rumah.

"Jangan Nyonya, kalau Nyonya melakukan pekerjaan Saya. Nanti Saya bisa di pecat Tuan Edward.

Aaron sang supir saat ini sedang menyiram tanaman yang ada di taman belakang rumah mewah itu, sebab saat ini Edward memilih menyetir sendiri mobil ingin lebih dekat dengan anak sambungnya.

"Aaron kau menyiram tanaman!" Sapa Jane yang datang membawa secangkir kopi hitam dan juga biskuit.

"Iya Jane, tadi Tuan menolak untuk saya kemudikan mobilnya. Katanya Tuan ingin lebih dekat dengan putrinya itu," jelas Aaron sambil menyiram tanaman.

"Oh, baguslah Tuan lebih bahagia sejak keberadaan Nyonya Rosalie dan Non Winona!" Pikir Jane sambil meletakkan secangkir kopi itu di meja.

"Iya saya juga pikir begitu," tukas Aaron membenarkan.

Rosalie saat ini sedang berada di kamar sang putri, ia membersihkan kamar putrinya sendiri yang tanpa di bersihkan sebenarnya kamar itu sudah rapi karena Winona selalu membersihkan kamarnya setiap bangun tidur.

"Hem ... Winona sepertinya sudah mulai bisa akrab dengan Edward, semoga dia bisa menerima Edward menjadi ayahnya pengganti Daniel!" gumam Rosalie menatap sendu foto sang putri yang terpajang di nakas.

Rosalie mengambil pakaian kotor milik Winona yang ada di keranjang, lalu Rosalie membawa pakaian kotor itu untuk ia cuci.

Di tengah perjalanan ke sekolah winona, Edward berusaha lebih dekat dengan sang putri sambung.

"Nona, apa kamu pernah bertemu dengan kakakmu Arthur?" tanya Edward berusaha mendekatkan sang putra dengan anak tirinya.

"Belum Daddy, mungkin kak Arthur masih tak ingin menerima Winona dan Momy!" lirih Nona sedih.

"Sabar Sayang, Daddy ingin kamu dan kakakmu akur serta saling menyayangi seperti kakak dan adik pada umumnya." Edward berharap mereka akur.

Nona mau anggap kak Arthur seperti abang nona sendiri, Nona ingin punya abang yang bisa jagain dan melindungi Nona Dad," tandasnya penuh harap.

"Semoga saja nantinya pintu hati Kakakmu terbuka dan mau tinggal serumah dengan Kita!" harap Edward tersenyum samar pada putrinya.

Selang beberapa waktu, mobil Edward tiba di depan pagar sekolah. Beberapa pasang mata tertuju pada seseorang yang keluar dari mobil mewah limited edition itu.

Edward turun membukakan pintu untuk sang putri kecilnya, ia lalu tak lupa mencium kening Nona layaknya putri tersayang. Setelah itu Winona menenteng tasnya memasuki area sekolah.

"Semoga harimu menyenangkan sayang," teriak Edward melambaikan tangan.

Winona berbalik badan juga membalas lambaian tangan sang ayah, lalu dengan langkah bersemangat Winona berjalan menyusuri koridor sekolah.

Brugh!

Winona terjatuh saat ia lengah kakinya di jegal Bella, Belinda dan Alice yang melihat sahabat mereka lagi dan lagi terkena Bullyan Arabella Lewike si Siswi paling populer di sekolah itu. Serta selalu berkuasa di bawah kekuasaan sang ayah yang memiliki separuh saham yayasan sekolah itu.

"Win ..." teriak Belinda dan Alice setengah berlari ke arah Winona yang masih bersimpuh meringis kesakitan.

Belinda dan Alice membantu winona masuk ke dalam kelas mereka, sedangkan Winona begitu kesakitan di bagian pergelangan tangannya yang terkilir.

"Mampus kamu!" umpat Arabella mencebikkan bibirnya.

Arabella bersama kedua temannya Felicia dan Agnes mereka pergi dari tempat itu menuju kantin sekolah.

Setiap hari winona selalu menerima perundungan dari seniornya itu.

Arabella dan kedua temannya duduk di kantin yang sepi tak ada seorangpun di kantin itu, sebab saat ini sedang jam pelajaran.

"Nes, cepat pesan nasi goreng dan teh," titah Bella pada agnes.

Agnes tanpa banyak bicara beranjak dari bangku segera memesan 3 piring nasi goreng dan juga teh hangat.

Bella merogoh ponsel di saku bajunya, ia lalu menghubungi seseorang.

"Hallo kak, Bella sudah selesaikan tugas dari kakak. Dan kakak tenang saja. Bella Pastikan dia akan menderita selama di sekolah!" ungkap Bella dengan tawa cekikikan.

"Bagus," suara di sebarang telepon.

Lalu seseorang itu memutuskan sambungan teleponnya.

"Bagus, Aku tak ingin dia bahagia di atas penderitaanku!" seru pemuda yang saat ini sedang duduk di bangku di taman samping kampus ternama university of south Florida.

Lalu pemuda itu tersenyum menyeringai masuk ke dalam kampusnya,

"Kamu kenapa Arthur kok senyam-senyum begitu?" tanya Adrian menatap heran sahabatnya yang aneh itu.

"Aku bahagia setelah puas selalu membuat gadis kecil itu menderita di luar kuasa ayahku," pekik Arthur duduk di kursi dalam ruang kelasnya.

"Kau tak merasa kasihan dengan gadis itu Arthur, gadis itu baik serta ibu tirimu juga baik!"

tukas Adrian membela orang yang arthur benci.

Brak!

Bab 3

Kau tak merasa kasihan dengan gadis itu Arthur, gadis itu baik serta ibu tirimu juga baik!" tukas Adrian membela orang yang arthur benci.

Brak!

Arthur menggebrak meja di kelasnya, semua mata tertuju padanya yang terlihat kilatan amarah di wajahnya.

"Sorry Arthur bukannya aku ingin menyinggungmu," ujar Adrian menunduk.

"Kamu sih adrian malah membuat Bos kita marah lagi, walau bagaimanapun Arthur tak akan pernah mau menerima mereka dalam kehidupannya!" imbuh Daren membela Arthur.

"Iya-iya aku minta maaf, aku hanya kasihan dengan gadis kecil itu yang tak bersalah!" cela Adrian lalu beranjak pergi dari kelas itu.

"Hem ... terus saja kau bela dia," maki Arthur kesal.

"Sabar Bos, mungkin saja Adrian teringat dengan almarhum adiknya dulu yang di bawa oleh ibunya saat orang tuanya cerai, adiknya itu bernama Sean meninggal saat masih berusia 10 tahun ketika di siksa oleh ayah tirinya tanpa sepengetahuan Ibunya, Aku memahami sikap Adrian itu yang tak tega jika orang lain di perlakukan tidak adil!" jelasnya membuat hati Arthur sedikit melunak.

"Bagaimana dengan ibu Adrian?" tanya Arthur penasaran.

"Ibu Adrian juga meninggal ketika berusaha melaporkan kejadian itu pada pihak berwajib, Ibu Adrian di pukuli hingga tewas di tangan suami barunya itu." Daren bercerita sambil menghela nafas prihatin.

"Hem ... Kenapa dia tidak pernah bercerita tentang hidupnya itu pada kita, selama ini Adrian hanya perlihatkan sisi hidupnya yang baik," tanya Arthur merasa iba.

"Kau kasihan dengan apa yang menimpa arthur?" tanya Daren.

"Iya," jawabnya tegas.

"Lalu apa kau tidak kasihan dengan Winona yang selalu kau buat menderita, jika Winona sampai mati di tangan orang suruhanmu apa kau tak kasihan dengan ayah dan ibu tirimu." Daren mencoba mengembalikan sisi baik sahabatnya itu.

"Aaarrrgghhh ..." Teriak Arthur yang bingung dengan perasaanya, ia lalu membawa tasnya keluar dari ruang kelas itu tak lagi mengikuti matkul hari itu.

"Arthur, mau kemana?" tanya Daren yang tak di gubris oleh sahabatnya itu.

"Mereka memang selalu mengedepankan hatinya dari pada masa depannya!" gerutu Daren pada dua sahabatnya yang telah pergi meninggalkan dirinya.

Adrian saat ini sedang duduk di bangku taman samping kampus itu, ia sedang sedih mengingat kembali kejadian yang menimpa ibu dan adiknya.

"Andai aku dulu bisa melindungi Sean dan ibu, pasti mereka saat ini masih bisa bersamaku!" gumamnya mengenang dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.

"Maaf, aku tak sengaja membuatmu teringat dengan adik dan ibumu. aku harap kau tak ikut campur dengan masalah aku dan Winona!" pinta Arthur pada sahabatnya itu.

"Baiklah, tapi jika kau Sampai melukai Winona. Kau akan berhadapan denganku!" Ancamnya merasa perduli.

"Yah, aku tak akan Sampai membuatnya mati begitu saja. Itu sangat mudah baginya!" pekik Arthur berlalu pergi.

Adrian yang merasa kasian dengan Winona, ia bertekad melindungi Winona di balik orang lain yang akan di jadikan pelindung Winona.

Saat Arthur hampir saja menyalakan mesin motor ducatinya.

"Hay baby," sapa manja dari pacar Arthur yang bernama Caroline itu.

"Hem ... Ikut aku jika kau ingin bersenang-senang!" tawar Arthur mengedipkan sebelah matanya.

"Oke ..." sahut Caroline yang sudah hafal dengan kode dari kekasihnya itu.

Caroline dengan mesra melingkarkan tangannya di perut Arthur, ia memeluk Arthur sebegitu eratnya.

"Honey," lirih Caroline.

"Kamu hanya punya satu wanita kan?" tanyanya memastikan kekasihnya selalu setia.

"Tentu dong, siapa lagi wanita yang mampu menyaingi kecantikan dan kepandaianmu di ranjang!" puji Arthur di tengah perjalanan ke apartemennya.

Arthur saat ini hanya tinggal seorang diri di apartement miliknya, hadiah dari Edward saat ia berulang tahun di usia 17 tahun, Edward memanjakan Arthur apapun yang di mintanya selalu di penuhi.

"Ih ... Beneran kan honey, aku sangat tersanjung," tutur Caroline begitu meleleh dengan sikap manis Arthur.

Tak lama Mereka Sampai di sebuah apartement mewah di kota Haines city Florida.

Arthur memarkirkan mogenya di tempat parkir penghuni apartement mewah itu.

"Ayo baby," ajaknya menggoda di telinga Caroline.

Arthur bergandengan dengan Caroline kekasihnya, mereka lalu memasuki lift menuju kamar Arthur di lantai 29.

Di dalam lift mereka hanya berdua saja, Arthur yang memang haus akan kepuasan nafsu birahinya yang tinggi ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bercumbu dengan kekasihnya.

"Ah ..."

Satu desahan lolos dari mulut Caroline ketika Arthur bergerilya memasukkan kedua tangannya menembus bermain di antara buah melon kembar menjulang milik Caroline, itulah mengapa Sampai detik ini Caroline tetap menjadi kekasih Arthur karena tubuh seksi sang kekasih mampir menjadi mainannya setiap ia menginginkan kenikmatan.

Saat pintu lift terbuka, mereka segera masuk ke dalam Apartement melanjutkan hasrat yang sudah menggebu-gebu.

"Baby, kali ini kau yang memimpin. Aku sedang ingin menikmati permainanmu!" Rengekan manja Arthur membuat Caroline begitu bergairah.

"Tentu honey, aku akan memuaskanmu!" Satu kecupan mendarat di pipi Arthur.

Arthur melepas semua pakaiannya hingga saat ini ia hanya bertelanjang bulat tanpa sehelai benang, sedangkan Caroline melepas semua pakaiannya dan mendorong keras tubuh Arthur ke ranjang.

"Ah," desah nikmat dari Arthur ketika Caroline begitu buas menjilat lehernya menuruni dada serta menggigit puting milik Arthur yang begitu menggoda caroline.

Caroline tak hanya berhenti di situ saja, ia lalu semakin turun hingga menjilat-jilat perut Arthur semakin turun lagi ia malah mengulum memasukkan senjata yang sudah tegak berdiri kokoh.

"Punyamu tetap yang paling membuatku rindu honey, tak ada yang bisa menandingi besar dan panjangnya milikmu ini!" puji caroline bermain di bawah sana menjilat sesekali memasukkan pusaka Arthur.

Lalu tak perlu menunggu lama lagi, Caroline yang sudah tak bisa menahan nafsu birahinya ia segera memasukkan pusaka milik Arthur ke dalam lembah sempit miliknya.

"Ah ..."

Desah arthur penuh nikmat ketika miliknya di tekan lebih dalam.

"Nikmatilah honey, aku akan memuaskanmu!" Bisik Caroline di telinga Arthur, sesekali Caroline mengigit penuh nafsu bibir tebal milik Arthur.

Dengan berbagai gaya Caroline bermain di atas kekasihnya itu, Arthur yang sudah sampai di puncak kenikmatannya ia lalu menghempas Caroline berbalik menyerang Caroline dengan ganas, Arthur lalu membuat Caroline dengan gaya doggy-style memaju mundurkan miliknya di lembah sempit milik Caroline. Tak lama Arthur menghentakkan Kuat pusakanya menekan lebih dalam. Dan sampainya di akhir puncak permainan adegan panas itu.

Arthur ambruk di tubuh seksi kekasihnya, ia memeluk Caroline sambil meremas-remas buah melon yang menjadi bagian yang paling di sukainya.

"Thanks baby," ucap Arthur mencium bibir Caroline.

Lalu keduanya segera turun dari tempat tidur dan mereka melanjutkan mandi bersama

Di kamar mandi itu, tak lupa keduanya mengulang adegan yang sama di kamar mandi.

Setelah mereka selesai mandi, keduanya kelelahan mereka lalu berbaring di ranjang

Tempat tidur saling berpelukan mesra layaknya suami istri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED