Pagi berikutnya, Selina bangun dengan perasaan berat. Matahari yang menyinari kamar tidurnya tidak mampu mengusir kegelapan yang mengisi hatinya. Pikirannya terus teringat pada pertemuan semalam dengan Rafael. Di bawah sinar matahari yang cerah, hidupnya terasa semakin gelap. Keputusan orang tuanya untuk menjodohkannya dengan pria yang bahkan belum ia kenal dengan baik seolah mengurungnya dalam sangkar emas yang tidak pernah ia inginkan.
Selina berusaha menepis perasaan itu, tetapi suara ibunya yang menekan di telinganya terus bergema: "Jangan kecewakan ibu. Ini demi masa depanmu."
Langkahnya terasa berat ketika ia berjalan menuju ruang makan, tempat orang tuanya sudah duduk menikmati sarapan. Ayahnya, yang selalu tampak tenang dan bijaksana, memandangnya dengan senyum yang mengingatkan Selina pada kenyataan yang tak bisa ia hindari.
"Selina, bagaimana pertemuanmu dengan Rafael semalam?" tanya ayahnya, nada suaranya penuh dengan harapan.
Selina menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang sudah mulai menggelegak di dadanya. "Kami hanya berbicara sedikit. Tidak ada yang spesial," jawabnya, mencoba terdengar tenang meskipun hatinya penuh kebingungan.
"Ibu dan ayah ingin agar kamu segera mempertimbangkan hal ini dengan serius, Selina. Kamu tahu bahwa perjodohan ini adalah bagian dari keluarga besar kita, dan itu akan memberikan banyak manfaat. Kami berharap kamu bisa membuka hati," kata ibunya dengan senyum lembut namun tegas.
Selina mengangguk perlahan, meskipun di dalam hatinya ia meronta. Ia tidak bisa melawan orang tuanya, tetapi ia juga tidak bisa menerima kenyataan ini. Kehidupannya yang selalu berjalan dengan aturan dan harapan orang tuanya kini terancam berubah menjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Bagaimana bisa orang tuanya memaksanya untuk menikah dengan seseorang yang bahkan tidak ia kenal sepenuhnya?
Setelah sarapan, Selina memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lebih awal, berusaha mengalihkan pikirannya dari masalah yang semakin menumpuk. Namun, meski ia sibuk dengan tugas-tugasnya yang padat, pikiran tentang Rafael dan perjodohan ini tetap menghantui setiap langkahnya. Ia merasa terperangkap dalam dunia yang tidak pernah ia pilih.
Saat berjalan di koridor rumah sakit, Selina disapa oleh beberapa kolega dan pasien yang mengenalnya. Wajahnya yang cantik dan penuh kebaikan hati selalu membuat orang merasa nyaman di sekitarnya, tetapi kali ini, ia merasa ada beban yang sangat berat di pundaknya. Setiap orang yang menyapanya membuatnya merasa semakin terasing. Ia tidak bisa menepis perasaan bahwa kehidupannya kini bukan miliknya lagi, melainkan milik orang tuanya yang sudah memutuskan segala sesuatunya untuknya.
Namun, saat ia memasuki ruangannya dan duduk di meja kerja, ada ketukan di pintu yang membuatnya terjaga dari lamunannya.
"Selina," suara dokter Arjuna terdengar dari balik pintu. "Ada pasien yang perlu segera ditangani di ruang UGD. Sepertinya cukup serius."
Selina segera berdiri dan mengangguk, bergegas menuju ruang UGD. Pekerjaan di rumah sakit adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa bisa melepaskan diri dari tekanan yang mengurungnya. Di dunia medis, ia tahu apa yang harus dilakukan, dan itu memberi sedikit kenyamanan di tengah kekosongan emosional yang ia rasakan.
Sesampainya di UGD, seorang perawat mengarahkan Selina ke sebuah ruangan di sudut, di mana seorang pria terbaring dengan tubuh penuh keringat. Di sekelilingnya ada beberapa rekan medis yang sedang berusaha mengatasi kondisinya.
"Dokter, pasien ini dalam kondisi cukup parah," ujar perawat itu sambil menjelaskan. "Dia tampaknya mabuk berat, dan ada luka-luka di tangannya. Kami tidak tahu apa yang terjadi."
Selina menghentikan langkahnya sejenak, mencoba untuk menilai situasi dengan tenang. Namun, saat matanya bertemu dengan wajah pria yang terbaring di atas meja perawatan, ia merasa sesuatu yang aneh. Pria itu terlihat sangat familiar, dan ada rasa cemas yang mendalam di dadanya.
"Siapa dia?" tanya Selina, berusaha menjaga ketenangannya.
"Rafael Ardan, dokter," jawab perawat itu dengan cepat. "Kami baru saja mendapat informasi bahwa dia kecelakaan karena mabuk. Sepertinya dia baru saja mengalami patah hati yang cukup berat."
Selina terkejut. Nama itu, Rafael Ardan, kembali muncul dalam hidupnya, kali ini dengan cara yang tak terduga. Tanpa pikir panjang, ia mendekat, dan wajah pria itu mulai tampak jelas. Mata yang sebelumnya penuh kebingungannya kini tertutup rapat, dan di sana, Selina bisa melihat luka-luka yang cukup parah di tubuhnya. Ia merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres.
"Rafael?" Selina memanggil namanya dengan suara rendah, memastikan pria itu mendengarnya.
Namun, Rafael hanya mendengus pelan, seolah berusaha mengabaikannya. Dalam keadaan mabuk, pikirannya tampaknya kacau. Selina tidak bisa menahan rasa kasihan yang tiba-tiba mengalir begitu saja. Meski ia merasa kesal dan terkejut, ada sesuatu dalam dirinya yang tergerak untuk membantunya.
"Dia perlu perawatan segera. Siapkan ruang operasi," perintah Selina kepada tim medis dengan suara yang mantap. "Segera beri infus dan stabilkan kondisinya. Kita tidak bisa menunda lebih lama lagi."
Saat para perawat bergerak dengan cepat untuk menindaklanjuti perintahnya, Selina merasa ada ketegangan yang membelit hatinya. Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Rafael dalam situasi yang benar-benar berbeda. Pria yang tadinya tampak terkesan sangat percaya diri dan mengontrol situasi, kini tergeletak tak berdaya di ruang perawatan.
Setelah beberapa jam penuh ketegangan, akhirnya Rafael berhasil diselamatkan. Namun, meski kondisi fisiknya stabil, Selina merasa ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu ia perhatikan-sesuatu yang menyangkut perasaan dan ketegangan yang muncul begitu mendalam.
Selina berdiri di depan kamar perawatan, menatap pria yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ada perasaan yang sulit dijelaskan di dalam hatinya. Di satu sisi, ia merasa marah dan kecewa karena Rafael tidak mengendalikan dirinya. Di sisi lain, ia merasa kasihan dan ingin membantu.
Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah pertemuan ini akan mengubah hidupnya lebih jauh lagi? Dan, apakah kebencian yang ia rasakan terhadap perjodohan ini akan terus tumbuh, atau malah menemukan jalan lain menuju kenyataan yang lebih rumit?
Selina kembali ke rumah sakit keesokan harinya, meski pikirannya masih terperangkap oleh kejadian semalam. Rafael yang sebelumnya terbaring tak berdaya kini sudah mulai stabil. Namun, meski fisiknya telah pulih, luka emosional yang ada dalam dirinya tetap tidak bisa disembuhkan dengan cepat. Itu yang Selina rasakan saat ia memasuki ruang perawatan dan mendapati pria itu duduk di ranjang, matanya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak kosong dan hampa.
Sore itu, udara di rumah sakit terasa lebih berat, seolah dunia sedang mengawasi mereka berdua. Selina menatap Rafael yang terlihat begitu rapuh-tidak seperti pria yang ia temui semalam dalam kondisi mabuk. Dia tampak seperti seorang pria yang pernah memiliki segala sesuatu yang berharga dalam hidupnya, namun kini kehilangan segalanya dalam sekejap.
Rafael menoleh saat mendengar langkah Selina. Matanya yang tajam menatapnya penuh perhatian, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ada kekosongan yang terasa lebih dalam dari biasanya.
"Dokter Selina, terima kasih telah menyelamatkan hidup saya," ujarnya dengan suara serak, matanya masih terfokus pada wajah Selina.
Selina hanya mengangguk. Ia belum bisa sepenuhnya memahami mengapa ia merasa sangat terhubung dengan pria yang baru saja ia kenal dan bahkan dalam keadaan mabuk telah melanggar batasan. Ia menghela napas dan duduk di kursi yang ada di dekat ranjang, mencoba berbicara dengan lebih tenang.
"Jangan terlalu banyak berpikir, Rafael. Kamu baru saja melewati keadaan yang sangat buruk. Mungkin ini waktunya untuk merenung dan memulihkan diri." Suaranya terdengar lembut, meskipun hatinya sedang dipenuhi amarah dan kebingungan.
Rafael hanya tersenyum pahit. "Merenung?" katanya, dengan nada sinis. "Saya rasa merenung tidak akan mengubah apapun. Hidup ini hanya tentang keputusan yang kita buat, bukan?"
Selina menatapnya, merasa ada kekesalan yang mengalir dalam kata-kata Rafael. Ia tak bisa menyangkal bahwa ia merasa tersentuh dengan penderitaan yang dialami pria itu, meskipun ia tidak sepenuhnya memahami alasan di baliknya.
"Apakah kamu ingin berbicara tentang apa yang terjadi? Mungkin itu bisa membantu," tawar Selina, lebih karena rasa ingin tahu daripada keinginan untuk membantu.
Rafael menunduk, tangan yang terkulai di samping tubuhnya menggenggam selimut dengan erat. "Saya tidak tahu lagi apa yang bisa saya katakan, Selina. Semua terasa begitu rumit... semuanya sudah berantakan."
Suasana menjadi hening sejenak. Selina merasa kesulitan untuk memahami apa yang sedang dirasakan oleh Rafael. Ia tahu bahwa pria ini bukan orang yang mudah untuk mengungkapkan perasaan, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatnya merasa perlu untuk lebih bersabar.
Tiba-tiba, pintu terbuka, dan seorang perawat masuk dengan dokumen medis. "Dokter Selina, ada beberapa laporan terbaru yang perlu Anda lihat." Perawat itu menyerahkan berkas-berkas yang Selina perlukan untuk mengecek kondisi pasien lainnya.
Tanpa berkata apapun lagi kepada Rafael, Selina berdiri dan melangkah ke luar kamar. Namun, sesaat sebelum pintu menutup, ia mendengar suara berat Rafael memanggilnya.
"Selina..."
Ia berhenti dan menoleh, merasa ada sesuatu yang menggantung di udara.
"Apa kamu akan menghindariku setelah ini?" tanya Rafael, suaranya penuh keraguan.
Selina tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ia bukan tipe orang yang suka membiarkan orang lain terluka, namun ia juga tidak tahu bagaimana menghadapinya. Hubungan mereka baru saja dimulai dalam kondisi yang kacau, dan ia merasa terseret dalam sesuatu yang lebih besar dari sekadar masalah pribadi.
"Aku tidak akan menghindarimu," jawabnya dengan suara pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi, kita harus menghadapinya satu per satu. Aku ingin kamu sembuh dulu."
Rafael hanya mengangguk, namun ada keheningan yang sangat panjang antara mereka. Ia merasa ada ketegangan yang sulit dijelaskan, sebuah ketertarikan yang berkembang begitu cepat namun sulit untuk diungkapkan. Selina pun merasakan hal yang sama, meskipun ia berusaha keras untuk menolaknya.
Setelah beberapa menit, Selina kembali ke ruang kerjanya, namun pikirannya terus teralihkan oleh Rafael. Entah mengapa, pria itu tidak pernah bisa ia lupakan. Meskipun perasaan yang ia rasakan lebih rumit dan sulit untuk diterima, ada semacam rasa ingin tahu yang menguasainya.
Namun, saat ia memasuki ruang kerjanya, sebuah panggilan telepon tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. Selina mengangkatnya tanpa berpikir panjang.
"Selina, kamu sudah memikirkan tentang apa yang kami bicarakan kemarin?" suara ibunya terdengar langsung di telinganya, keras dan jelas.
Selina menatap layar ponselnya, berpikir sejenak. "Ibu, ini bukan waktu yang tepat. Aku sedang sangat sibuk di rumah sakit," jawabnya, mencoba terdengar tenang meskipun hatinya terasa seperti dibebani.
"Aku mengerti, tapi kamu harus memikirkannya dengan baik. Kamu tahu bahwa ini adalah kesempatan yang baik. Kamu harus menghargai keinginan orang tua," ujar ibunya, tidak memberikan ruang untuk diskusi lebih lanjut.
Selina menutup telepon itu dengan hati yang semakin berat. Ia merasa terperangkap antara apa yang diinginkan keluarganya dan apa yang ia rasakan. Pikirannya kembali ke Rafael, dan bagaimana kehidupannya akan berubah setelah pertemuan mereka yang tak terduga. Ia tak pernah membayangkan akan berada di persimpangan jalan yang begitu rumit.
Hari-hari setelahnya terasa semakin sulit bagi Selina. Ia mencoba untuk melanjutkan hidupnya seolah-olah semuanya normal, tetapi hatinya terus dihantui oleh perasaan yang semakin kuat terhadap Rafael. Setiap kali ia melihatnya, setiap kali ia mendengar suaranya, hatinya berdebar lebih cepat.
Namun, ia juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa ia terikat oleh perjodohan yang sudah diatur untuknya. Keluarganya menginginkan ini, dan ia tahu betul bahwa menentang mereka bukanlah pilihan yang mudah. Di sisi lain, ada perasaan yang semakin sulit untuk disembunyikan terhadap Rafael-perasaan yang membuatnya bingung dan terperangkap dalam dilema yang tak terpecahkan.
Selina tahu, keputusan yang ia ambil ke depan akan mengubah hidupnya selamanya. Tetapi apakah ia cukup berani untuk memilih jalannya sendiri? Ataukah ia akan terus terjebak dalam peran yang telah ditentukan untuknya?