Bab 1

Selina Aurelia Vianey melangkah dengan penuh percaya diri memasuki ruang kantor rumah sakit milik keluarganya, Rumah Sakit Vianey. Pagi itu, seperti biasa, wajahnya dihiasi senyum ramah yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa hangat dan nyaman. Sebagai direktur medis sekaligus pemimpin di rumah sakit yang terkenal di kota itu, Selina tidak hanya dikenal sebagai seorang dokter yang kompeten, tetapi juga sebagai pribadi yang penuh empati dan kecerdasan.

Tak heran, bila setiap langkahnya selalu menarik perhatian. Banyak yang memujinya-terutama para pria-yang melihat Selina sebagai sosok sempurna, wanita idaman yang bisa memenuhi segala kriteria kecantikan, kepintaran, dan kebaikan hati. Namun, di balik kesempurnaannya yang tampak, ada sebuah rahasia besar yang tak banyak orang tahu. Selina, meskipun memiliki segalanya, sering kali merasa terjebak dalam kehidupan yang dipenuhi dengan ekspektasi yang terlalu tinggi dari orang tuanya.

"Selina, pagi ini ada pertemuan dengan para dokter spesialis untuk evaluasi pasien," kata dokter Arjuna, rekan kerjanya yang selalu tampak tenang dan profesional.

"Terima kasih, Dokter Arjuna. Saya akan segera bergabung," jawab Selina sambil melirik jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 08:30 pagi-waktu yang tepat untuk mulai bekerja setelah beberapa menit berbincang dengan staf medis di ruangannya.

Namun, suasana yang tenang di rumah sakit itu segera terganggu oleh kejadian yang tak terduga. Di tengah kesibukannya, Selina mendapat telepon dari ibunya, Diana Vianey.

"Selina, ibu ingin berbicara serius. Ini tentang masa depanmu," suara ibunya terdengar penuh ketegasan, jauh lebih serius dari biasanya.

"Ada apa, Bu?" tanya Selina, sedikit bingung.

"Ibu dan ayah sudah memutuskan sesuatu yang sangat penting untukmu. Kami telah mengatur perjodohan dengan anak dari teman lama kami, Rafael Ardan. Kami ingin kamu bertemu dengannya malam ini. Dia adalah pilihan yang tepat untukmu, Selina."

Selina terdiam. Perasaannya bercampur aduk. Ia tahu keluarganya selalu berusaha mengatur masa depannya dengan cara yang mereka anggap terbaik, tetapi ini terasa terlalu jauh. Menjodohkannya dengan seorang pria yang bahkan belum ia kenal dengan baik?

"Bu, aku... aku belum siap untuk ini. Aku belum tahu siapa dia dan apakah kami cocok," jawab Selina, mencoba menahan amarah yang mulai menggelora dalam dadanya.

"Ibu tahu apa yang terbaik untukmu, Selina. Jangan menentang keputusan ini. Kamu harus bertemu dengannya malam ini, dan kita akan bicara lebih lanjut. Jangan kecewakan ibu," kata ibunya dengan nada yang tak bisa dibantah lagi.

Selina menggigit bibirnya, menahan emosinya. Ia tahu tidak ada gunanya melawan orang tuanya, apalagi ketika mereka sudah membuat keputusan bulat. Namun, ia juga merasa dikhianati-terlebih oleh perasaan bahwa hidupnya telah ditentukan oleh orang lain sejak awal.

Malam itu, Selina merasa tidak nyaman saat duduk di ruang makan keluarganya, menunggu kedatangan pria yang akan dijodohkan dengannya. Ia berpura-pura tersenyum saat orang tuanya menyambut tamu yang tiba. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang pria masuk ke dalam ruangan. Pria itu tampak rapi, dengan jas hitam yang pas dan rambut gelap yang sedikit berantakan, memberi kesan bahwa ia baru saja terburu-buru keluar dari mobil.

"Aku Rafael Ardan," pria itu memperkenalkan diri sambil menawarkan tangan untuk berjabat.

Selina menatapnya dengan bingung. Nama itu terdengar familiar, namun ia tidak dapat mengingat di mana ia pernah mendengarnya. Matanya menilai Rafael dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di balik penampilannya yang tampan dan percaya diri, ada sesuatu yang tidak ia bisa ungkapkan-sesuatu yang tampak misterius dan tak bisa ia baca.

"Selina, ini Rafael, anak dari teman lama kami," kata ayahnya, menggoda dengan nada yang sangat meyakinkan. "Kami berharap kamu berdua bisa segera mengenal satu sama lain."

Selina merasa terperangkap dalam situasi yang sangat tidak diinginkannya. Meski ia mencoba tersenyum, hatinya penuh dengan kebingungan dan kekesalan. Mengapa ia harus menjalani kehidupan yang ditentukan oleh orang tuanya? Mengapa ia harus terperangkap dalam permainan perjodohan yang tidak pernah ia inginkan?

Malam itu berlalu begitu saja dalam kebisuan yang tak menyenangkan. Pembicaraan mereka terbatas pada percakapan ringan tentang keluarga, pekerjaan, dan masa depan. Selina hanya sesekali menganggukkan kepala, berusaha menjaga kesopanan meskipun hatinya dipenuhi perasaan tidak nyaman. Rafael, di sisi lain, tampak santai dan ramah, seolah tidak ada masalah dengan situasi tersebut. Namun, ada tatapan kosong yang kadang melintas di matanya, yang membuat Selina bertanya-tanya apa yang sebenarnya ia rasakan.

Selesai makan malam, Rafael meminta izin untuk berbicara dengan Selina di luar rumah. Mereka berjalan di halaman belakang rumah Vianey yang dihiasi dengan taman yang indah. Hening menyelimuti mereka berdua saat langkah kaki mereka bergema di jalan setapak.

"Aku tahu ini mungkin tidak mudah bagimu," Rafael memulai percakapan. "Aku juga tidak berharap perjodohan ini menjadi beban bagi kita berdua. Tapi aku rasa kita tidak bisa menentang takdir."

Selina menatapnya tajam, merasa kebingungannya semakin mendalam. "Takdir?" katanya sinis. "Sejak kapan takdir bisa dipaksakan seperti ini? Aku tidak menginginkan ini, Rafael. Aku punya hidup sendiri, dan aku tidak ingin dikendalikan oleh orang tuaku."

Rafael berhenti sejenak, menatapnya dengan ekspresi serius. "Aku tidak berniat mengendalikan hidupmu, Selina. Aku hanya berusaha untuk menjadi orang yang kamu percayai dalam keadaan yang sulit ini."

Selina menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosi yang mulai menguasainya. "Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan sekarang. Aku merasa terjebak."

Rafael mendekat, suaranya berubah menjadi lebih lembut. "Aku mengerti, Selina. Aku juga tidak ingin menjadi beban bagimu. Tapi kita bisa mencoba. Setidaknya memberi kesempatan untuk saling mengenal lebih baik."

Selina menatap matanya, merasa ada kejujuran di balik kata-kata itu, namun entah mengapa, ia tidak bisa menepis perasaan kecewa yang mendalam. Ini bukan hidup yang ia inginkan. Tapi takdir-entah bagaimana caranya-telah memutuskan untuk menempatkannya di jalan ini.

Apakah ia akan menerima kenyataan ini? Ataukah kebencian dan kekecewaan yang ada di dalam hatinya akan mengalahkan segala sesuatu yang mungkin tumbuh antara mereka?

Bab 2

Pagi berikutnya, Selina bangun dengan perasaan berat. Matahari yang menyinari kamar tidurnya tidak mampu mengusir kegelapan yang mengisi hatinya. Pikirannya terus teringat pada pertemuan semalam dengan Rafael. Di bawah sinar matahari yang cerah, hidupnya terasa semakin gelap. Keputusan orang tuanya untuk menjodohkannya dengan pria yang bahkan belum ia kenal dengan baik seolah mengurungnya dalam sangkar emas yang tidak pernah ia inginkan.

Selina berusaha menepis perasaan itu, tetapi suara ibunya yang menekan di telinganya terus bergema: "Jangan kecewakan ibu. Ini demi masa depanmu."

Langkahnya terasa berat ketika ia berjalan menuju ruang makan, tempat orang tuanya sudah duduk menikmati sarapan. Ayahnya, yang selalu tampak tenang dan bijaksana, memandangnya dengan senyum yang mengingatkan Selina pada kenyataan yang tak bisa ia hindari.

"Selina, bagaimana pertemuanmu dengan Rafael semalam?" tanya ayahnya, nada suaranya penuh dengan harapan.

Selina menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang sudah mulai menggelegak di dadanya. "Kami hanya berbicara sedikit. Tidak ada yang spesial," jawabnya, mencoba terdengar tenang meskipun hatinya penuh kebingungan.

"Ibu dan ayah ingin agar kamu segera mempertimbangkan hal ini dengan serius, Selina. Kamu tahu bahwa perjodohan ini adalah bagian dari keluarga besar kita, dan itu akan memberikan banyak manfaat. Kami berharap kamu bisa membuka hati," kata ibunya dengan senyum lembut namun tegas.

Selina mengangguk perlahan, meskipun di dalam hatinya ia meronta. Ia tidak bisa melawan orang tuanya, tetapi ia juga tidak bisa menerima kenyataan ini. Kehidupannya yang selalu berjalan dengan aturan dan harapan orang tuanya kini terancam berubah menjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Bagaimana bisa orang tuanya memaksanya untuk menikah dengan seseorang yang bahkan tidak ia kenal sepenuhnya?

Setelah sarapan, Selina memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lebih awal, berusaha mengalihkan pikirannya dari masalah yang semakin menumpuk. Namun, meski ia sibuk dengan tugas-tugasnya yang padat, pikiran tentang Rafael dan perjodohan ini tetap menghantui setiap langkahnya. Ia merasa terperangkap dalam dunia yang tidak pernah ia pilih.

Saat berjalan di koridor rumah sakit, Selina disapa oleh beberapa kolega dan pasien yang mengenalnya. Wajahnya yang cantik dan penuh kebaikan hati selalu membuat orang merasa nyaman di sekitarnya, tetapi kali ini, ia merasa ada beban yang sangat berat di pundaknya. Setiap orang yang menyapanya membuatnya merasa semakin terasing. Ia tidak bisa menepis perasaan bahwa kehidupannya kini bukan miliknya lagi, melainkan milik orang tuanya yang sudah memutuskan segala sesuatunya untuknya.

Namun, saat ia memasuki ruangannya dan duduk di meja kerja, ada ketukan di pintu yang membuatnya terjaga dari lamunannya.

"Selina," suara dokter Arjuna terdengar dari balik pintu. "Ada pasien yang perlu segera ditangani di ruang UGD. Sepertinya cukup serius."

Selina segera berdiri dan mengangguk, bergegas menuju ruang UGD. Pekerjaan di rumah sakit adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa bisa melepaskan diri dari tekanan yang mengurungnya. Di dunia medis, ia tahu apa yang harus dilakukan, dan itu memberi sedikit kenyamanan di tengah kekosongan emosional yang ia rasakan.

Sesampainya di UGD, seorang perawat mengarahkan Selina ke sebuah ruangan di sudut, di mana seorang pria terbaring dengan tubuh penuh keringat. Di sekelilingnya ada beberapa rekan medis yang sedang berusaha mengatasi kondisinya.

"Dokter, pasien ini dalam kondisi cukup parah," ujar perawat itu sambil menjelaskan. "Dia tampaknya mabuk berat, dan ada luka-luka di tangannya. Kami tidak tahu apa yang terjadi."

Selina menghentikan langkahnya sejenak, mencoba untuk menilai situasi dengan tenang. Namun, saat matanya bertemu dengan wajah pria yang terbaring di atas meja perawatan, ia merasa sesuatu yang aneh. Pria itu terlihat sangat familiar, dan ada rasa cemas yang mendalam di dadanya.

"Siapa dia?" tanya Selina, berusaha menjaga ketenangannya.

"Rafael Ardan, dokter," jawab perawat itu dengan cepat. "Kami baru saja mendapat informasi bahwa dia kecelakaan karena mabuk. Sepertinya dia baru saja mengalami patah hati yang cukup berat."

Selina terkejut. Nama itu, Rafael Ardan, kembali muncul dalam hidupnya, kali ini dengan cara yang tak terduga. Tanpa pikir panjang, ia mendekat, dan wajah pria itu mulai tampak jelas. Mata yang sebelumnya penuh kebingungannya kini tertutup rapat, dan di sana, Selina bisa melihat luka-luka yang cukup parah di tubuhnya. Ia merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres.

"Rafael?" Selina memanggil namanya dengan suara rendah, memastikan pria itu mendengarnya.

Namun, Rafael hanya mendengus pelan, seolah berusaha mengabaikannya. Dalam keadaan mabuk, pikirannya tampaknya kacau. Selina tidak bisa menahan rasa kasihan yang tiba-tiba mengalir begitu saja. Meski ia merasa kesal dan terkejut, ada sesuatu dalam dirinya yang tergerak untuk membantunya.

"Dia perlu perawatan segera. Siapkan ruang operasi," perintah Selina kepada tim medis dengan suara yang mantap. "Segera beri infus dan stabilkan kondisinya. Kita tidak bisa menunda lebih lama lagi."

Saat para perawat bergerak dengan cepat untuk menindaklanjuti perintahnya, Selina merasa ada ketegangan yang membelit hatinya. Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Rafael dalam situasi yang benar-benar berbeda. Pria yang tadinya tampak terkesan sangat percaya diri dan mengontrol situasi, kini tergeletak tak berdaya di ruang perawatan.

Setelah beberapa jam penuh ketegangan, akhirnya Rafael berhasil diselamatkan. Namun, meski kondisi fisiknya stabil, Selina merasa ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu ia perhatikan-sesuatu yang menyangkut perasaan dan ketegangan yang muncul begitu mendalam.

Selina berdiri di depan kamar perawatan, menatap pria yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ada perasaan yang sulit dijelaskan di dalam hatinya. Di satu sisi, ia merasa marah dan kecewa karena Rafael tidak mengendalikan dirinya. Di sisi lain, ia merasa kasihan dan ingin membantu.

Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah pertemuan ini akan mengubah hidupnya lebih jauh lagi? Dan, apakah kebencian yang ia rasakan terhadap perjodohan ini akan terus tumbuh, atau malah menemukan jalan lain menuju kenyataan yang lebih rumit?

Bab 3

Selina kembali ke rumah sakit keesokan harinya, meski pikirannya masih terperangkap oleh kejadian semalam. Rafael yang sebelumnya terbaring tak berdaya kini sudah mulai stabil. Namun, meski fisiknya telah pulih, luka emosional yang ada dalam dirinya tetap tidak bisa disembuhkan dengan cepat. Itu yang Selina rasakan saat ia memasuki ruang perawatan dan mendapati pria itu duduk di ranjang, matanya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak kosong dan hampa.

Sore itu, udara di rumah sakit terasa lebih berat, seolah dunia sedang mengawasi mereka berdua. Selina menatap Rafael yang terlihat begitu rapuh-tidak seperti pria yang ia temui semalam dalam kondisi mabuk. Dia tampak seperti seorang pria yang pernah memiliki segala sesuatu yang berharga dalam hidupnya, namun kini kehilangan segalanya dalam sekejap.

Rafael menoleh saat mendengar langkah Selina. Matanya yang tajam menatapnya penuh perhatian, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ada kekosongan yang terasa lebih dalam dari biasanya.

"Dokter Selina, terima kasih telah menyelamatkan hidup saya," ujarnya dengan suara serak, matanya masih terfokus pada wajah Selina.

Selina hanya mengangguk. Ia belum bisa sepenuhnya memahami mengapa ia merasa sangat terhubung dengan pria yang baru saja ia kenal dan bahkan dalam keadaan mabuk telah melanggar batasan. Ia menghela napas dan duduk di kursi yang ada di dekat ranjang, mencoba berbicara dengan lebih tenang.

"Jangan terlalu banyak berpikir, Rafael. Kamu baru saja melewati keadaan yang sangat buruk. Mungkin ini waktunya untuk merenung dan memulihkan diri." Suaranya terdengar lembut, meskipun hatinya sedang dipenuhi amarah dan kebingungan.

Rafael hanya tersenyum pahit. "Merenung?" katanya, dengan nada sinis. "Saya rasa merenung tidak akan mengubah apapun. Hidup ini hanya tentang keputusan yang kita buat, bukan?"

Selina menatapnya, merasa ada kekesalan yang mengalir dalam kata-kata Rafael. Ia tak bisa menyangkal bahwa ia merasa tersentuh dengan penderitaan yang dialami pria itu, meskipun ia tidak sepenuhnya memahami alasan di baliknya.

"Apakah kamu ingin berbicara tentang apa yang terjadi? Mungkin itu bisa membantu," tawar Selina, lebih karena rasa ingin tahu daripada keinginan untuk membantu.

Rafael menunduk, tangan yang terkulai di samping tubuhnya menggenggam selimut dengan erat. "Saya tidak tahu lagi apa yang bisa saya katakan, Selina. Semua terasa begitu rumit... semuanya sudah berantakan."

Suasana menjadi hening sejenak. Selina merasa kesulitan untuk memahami apa yang sedang dirasakan oleh Rafael. Ia tahu bahwa pria ini bukan orang yang mudah untuk mengungkapkan perasaan, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatnya merasa perlu untuk lebih bersabar.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dan seorang perawat masuk dengan dokumen medis. "Dokter Selina, ada beberapa laporan terbaru yang perlu Anda lihat." Perawat itu menyerahkan berkas-berkas yang Selina perlukan untuk mengecek kondisi pasien lainnya.

Tanpa berkata apapun lagi kepada Rafael, Selina berdiri dan melangkah ke luar kamar. Namun, sesaat sebelum pintu menutup, ia mendengar suara berat Rafael memanggilnya.

"Selina..."

Ia berhenti dan menoleh, merasa ada sesuatu yang menggantung di udara.

"Apa kamu akan menghindariku setelah ini?" tanya Rafael, suaranya penuh keraguan.

Selina tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ia bukan tipe orang yang suka membiarkan orang lain terluka, namun ia juga tidak tahu bagaimana menghadapinya. Hubungan mereka baru saja dimulai dalam kondisi yang kacau, dan ia merasa terseret dalam sesuatu yang lebih besar dari sekadar masalah pribadi.

"Aku tidak akan menghindarimu," jawabnya dengan suara pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi, kita harus menghadapinya satu per satu. Aku ingin kamu sembuh dulu."

Rafael hanya mengangguk, namun ada keheningan yang sangat panjang antara mereka. Ia merasa ada ketegangan yang sulit dijelaskan, sebuah ketertarikan yang berkembang begitu cepat namun sulit untuk diungkapkan. Selina pun merasakan hal yang sama, meskipun ia berusaha keras untuk menolaknya.

Setelah beberapa menit, Selina kembali ke ruang kerjanya, namun pikirannya terus teralihkan oleh Rafael. Entah mengapa, pria itu tidak pernah bisa ia lupakan. Meskipun perasaan yang ia rasakan lebih rumit dan sulit untuk diterima, ada semacam rasa ingin tahu yang menguasainya.

Namun, saat ia memasuki ruang kerjanya, sebuah panggilan telepon tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. Selina mengangkatnya tanpa berpikir panjang.

"Selina, kamu sudah memikirkan tentang apa yang kami bicarakan kemarin?" suara ibunya terdengar langsung di telinganya, keras dan jelas.

Selina menatap layar ponselnya, berpikir sejenak. "Ibu, ini bukan waktu yang tepat. Aku sedang sangat sibuk di rumah sakit," jawabnya, mencoba terdengar tenang meskipun hatinya terasa seperti dibebani.

"Aku mengerti, tapi kamu harus memikirkannya dengan baik. Kamu tahu bahwa ini adalah kesempatan yang baik. Kamu harus menghargai keinginan orang tua," ujar ibunya, tidak memberikan ruang untuk diskusi lebih lanjut.

Selina menutup telepon itu dengan hati yang semakin berat. Ia merasa terperangkap antara apa yang diinginkan keluarganya dan apa yang ia rasakan. Pikirannya kembali ke Rafael, dan bagaimana kehidupannya akan berubah setelah pertemuan mereka yang tak terduga. Ia tak pernah membayangkan akan berada di persimpangan jalan yang begitu rumit.

Hari-hari setelahnya terasa semakin sulit bagi Selina. Ia mencoba untuk melanjutkan hidupnya seolah-olah semuanya normal, tetapi hatinya terus dihantui oleh perasaan yang semakin kuat terhadap Rafael. Setiap kali ia melihatnya, setiap kali ia mendengar suaranya, hatinya berdebar lebih cepat.

Namun, ia juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa ia terikat oleh perjodohan yang sudah diatur untuknya. Keluarganya menginginkan ini, dan ia tahu betul bahwa menentang mereka bukanlah pilihan yang mudah. Di sisi lain, ada perasaan yang semakin sulit untuk disembunyikan terhadap Rafael-perasaan yang membuatnya bingung dan terperangkap dalam dilema yang tak terpecahkan.

Selina tahu, keputusan yang ia ambil ke depan akan mengubah hidupnya selamanya. Tetapi apakah ia cukup berani untuk memilih jalannya sendiri? Ataukah ia akan terus terjebak dalam peran yang telah ditentukan untuknya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED