Brukk! Dia didorong dengan kasar hingga jatuh ke sofa.
"To-tolong, tolong aku, Kak, ... aku mohon tolong aku!" Tubuh gadis itu bergetar hebat.
Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.
Dia, kini berada dalam satu ruangan remang dengan suara musik yang cukup keras, hingga membuat telinganya tidak dapat mendengar dengan baik.
Beberapa orang laki-laki memandangi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mereka semua tertawa dan terlihat sangat menantikan sesuatu yang akan membuat mereka senang.
Gadis itu seperti masuk ke dalam sarang serigala kelaparan.
"Adikku sayang tenanglah sedikit. Sebentar lagi kau akan merasakan enak!" ucap gadis berambut keriting dan pirang. Dengan make-up yang terlihat tebal, baju yang dikenakannya terlihat kekurangan bahan.
Dia mencengkram kasar wajah gadis itu yang terlihat ketakutan. Air matanya sudah membasahi pipinya yang chubby.
"Ka-kakak? Kak Shasa ada disini juga, tolong aku kak! Aku tidak mengenal mereka!" pekiknya.
Dia menggenggam erat tangannya penuh harap. Berharap dia mendapatkan pertolongan dari kakaknya.
"Menolongmu, tentu saja aku akan menolongmu. Tapi, sebelum itu kau harus membantu kakakmu ini. Oke?" ucapnya dengan seringai licik yang tak dimengerti oleh gadis itu.
"Membantu apa Kak? Asalkan bisa keluar dari tempat ini, aku akan membantumu!" ucapnya dengan air mata yang masih berlinang.
Segenap harapan yang tersisa. Dia hanya bisa menggantungkan keselamatannya kali ini dengan memohon kepada sang kakak.
"Kau memang gadis yang penurut dan baik hati, Maureen! Kakak tak salah memilihmu!"
Shasa mengusap kepala adiknya dengan sangat lembut. Membantu adiknya tenang dari kondisi yang membuatnya seperti orang gila.
Beberapa saat Shasa tampak menenangkan hati adiknya. Dia memberikan minuman untuk adiknya.
Maureen menolaknya, karena dia tidak tahu minuman apa yang kakaknya berikan.
Namun, ancaman dari kakaknya membuatnya terpaksa meminum.
Kakaknya, mengancam akan menghentikan semua perawatan yang sedang dijalankan oleh ibunya. Mana tega seorang anak membiarkan ibunya tersakiti begitu saja didepan matanya.
"Anak pintar, kau memang anak yang berbakti. Tunggu disini sebentar. Aku keluar mencari camilan!" Seringai licik memberikan kode pada beberapa laki-laki yang sudah tak sabar menunggu dari tadi.
Mereka langsung bersemangat saat mendapatkan kode dari Shasa.
"Aku ikut saja kak. Aku tidak mau ditinggal sendiri. Disini sangat menakutkan!"
Maureen memegangi lengan kakaknya dengan sangat erat. Dia tak ingin melepaskan.
Apalagi dia melihat sorot mata-mata yang seperti akan menelannya hidup-hidup.
"Apa yang harus ditakutkan? Mereka semua teman-teman kakak, Maureen sayang. Tenang saja, mereka pasti akan memperlakukan dirimu dengan sangat baik."
Sasha kembali berkata sesuatu yang tak dimengerti olehnya.
Kenapa kakaknya terus saja ngotot meninggalkan dia bersama laki-laki yang tak dikenalnya.
Dia pun berpikir, pasti ada sesuatu yang tak beres.
"Pokoknya aku ikut Kakak, Aku tidak mau ditinggalkan sendiri disini!" cetusnya. Tetap menggenggam erat lengan kakaknya.
Sasha sedikit geram, dia merasa adiknya sudah dapat membaca rencananya.
Jadi, dia putuskan, "Kakak, akan berbicara dengan mereka. Kamu tidak usah khawatir. Jika mereka macam-macam denganmu. Mereka semua, kakak sendiri yang akan menghajarnya!" Sasha berkelit, memberikan keyakinan pada Maureen agar dia bisa pergi darinya.
"Be-benar, Kak? Janji, Kakak jangan lama-lama!"
"Uhm!" Sasha tersenyum penuh kemenangan. Perlahan melepaskan pegangan adiknya tadi. Kemudian dia berjalan menghampiri mereka dan berkata,
"Dia masih eksklusif dan tersegel. Aku jamin kalian akan puas malam ini. Transfer sekarang juga!" ucapnya.
Namun, matanya melirik Maureen dengan senyuman yang berbinar yang memperhatikannya dari di sudut sofa.
"Kemana kakak pergi? Kenapa dia lama sekali. Apa yang sebenarnya sedang terjadi kenapa dia meninggalkanku disini?"
Batin Maureen melihat sekitar ruangan yang sudah dipenuhi dengan kepulan asap rokok dan beberapa orang laki-laki yang bahkan Maureen tak mengenalnya.
Maureen mencoba merogoh tas mencari ponsel dan mencoba menghubungi Sasha.
Tapi, meskipun sudah beberapa kali dia coba. Telepon Shasa tidak bisa dihubungi. Nomornya mendadak tidak aktif.
"Maureen?" seorang laki-laki bertubuh gendut dengan kepedean tingkat tinggi menghampiri lalu menyerobot duduk di sebelahnya.
Dia terlihat tak sabaran. Sejak kepergian Sasha dia terus saja mengincarnya. Seperti kucing garong ketemu tulang ikan. Siap menerkamnya kapan saja.
"I-i-ya, kau siapa?" Maureen bergeser duduk memberikan jarak.
Dia jenggak dengan lelaki tadi yang langsung menaruh tangan pada pinggangnya.
"Aku, Roland. Apa Shasa tidak berbicara padamu tadi? Uhm, kalau malam ini kita ada kencan!" ucapnya tanpa basa basi meraih dan menciumi rambut Maureen, menatapnya penuh nafsu.
"Kencan? Kakak nggak membahas apapun tadi soal kencan ini. Dia hanya bilang akan keluar sebentar membeli camilan."
Batin Maureen bergemuruh kembali. Semakin merasa tidak beres.
"Ma-af mungkin kau salah mengenali orang dan aku bukan Maureen yang kau maksud!" tegas Maureen berusaha menguatkan hati yang tak bisa dijabarkan. Rasanya seperti gado-gado, bercampur aduk.
"Kau, Maureen Angelia kan? Dan, Sasha Angelica tadi kakakmu kan? Dia sudah bilang padaku, kalau kau bersedia kencan denganku malam ini," ucapnya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagaimana bisa kakaknya menjebak sang adik untuk melakukan kencan buta seperti ini.
Dia bahkan tak meminta persetujuan darinya untuk melakukan ini semua.
Ponselnya bergetar. Maureen melirik ponselnya.
Akhirnya orang yang dia tunggu menelpon, "Ha-hallo, kak Shasa, kau ada dimana? Kenapa belum juga datang aku sudah menunggumu sejak tadi."
Maureen berbicara setengah berteriak karena suaranya hampir benar-benar tidak terdengar oleh dirinya sendiri.
Suara musik dalam ruangan bergema semakin sangat keras.
Orang bernama Roland terus menatap Maureen dengan intens.
Menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Memperhatikan setiap detail lekuk tubuh gadis itu. Walaupun penampilannya biasa saja, bagi laki-laki hidung belang seperti itu tidak akan dipermasalahkan.
Apalagi, dia sudah dijanjikan oleh Sasha bahwa Maureen masih tersegel dengan sangat rapi.
"Maureen, maaf kakak tidak bisa datang kesana. Kakak ada urusan mendadak dan disana sudah ada Roland kan? Dia akan menggantikan kakak untuk menemanimu!" ucapnya terdengar sangat enteng.
Dia bahkan tega meninggalkan adiknya bersama kumpulan para lelaki yang tak dikenal.
"Roland? Siapa dia kak? Aku bahkan tidak mengenalnya? Bisakah kakak datang sekarang? Aku tidak kenal siapapun disini, kak!" Maureen setengah merengek agar dituruti oleh kakaknya.
"Ayolah, Maureen bantu kakak dan keluarga kita kali ini. Temani, Roland ya. Jadilah anak yang baik dan berbakti. Kau kan masih sangat menginginkan biaya perawatan untuk ibumu? Kau harus bisa menemani dan membuatnya puas malam ini!" perkataan yang membuat tubuhnya bergetar.
Bagaimana bisa kakaknya menyuruh adiknya untuk menemani seorang laki-laki.
Ah ... tidak bukan seorang melainkan ada empat orang disana. Sepertinya untuk kakaknya itu hal yang biasa dan lumrah.
"Menemani? Maksudnya apa kak? Aku tidak mengerti. Aku mohon kak, kembalilah kesini. Aku benar-benar takut sendirian disini!" sambil berbicara Maureen terus melirik kearah Roland.
Dia sudah terlihat semakin tidak sabar dan
bangkit dari duduknya. Menghampirinya.
"Bagaimana?" ucapnya.
Belum selesai dia berbicara dengan kakaknya. Tangan Roland langsung melingkar di pinggang dengan bebas.
Maureen terus bergerak dan menghempaskan tangan nakal laki-laki itu. Sasha sudah memutuskan telepon.
"A-aku, tidak bisa!" tegasnya.
Dia menolak laki-laki gendut menyebalkan yang akan menariknya duduk kembali bersama dengan para lelaki lainnya.
"Ayolah, jangan pura-pura sok polos. Masa yang seperti ini saja kau tidak mengerti! Aku dan yang lain sudah bayar mahal dirimu! Jadi, jangan buat kami kecewa malam ini!" dia terus memaksanya untuk ikut.
Menarik paksa hingga tubuh gadis itu terhuyung. Jatuh ke beberapa pangkuan laki-laki yang tak dikenal.
Mereka tertawa dengan sangat puas. Mempermainkan Maureen seperti boneka yang baru dibelinya.
Menyentuh rambut, mencubit pipinya yang chubby dan sesekali menggerayangi tubuhnya dengan bebas.
"Arrgghh!!" pekiknya.
Dia terus berusaha melepaskan diri dari sergapan orang yang menantikannya terus berteriak.
Sekali Maureen berteriak membuat mereka yang sudah panas terbakar oleh minuman semakin bergelora.
Mereka siap menyantap Maureen seperti ayam tanpa tulang. Mereka tinggal melumat Maureen pelan-pelan secara bergantian.
"Roland, siapa dulu nih? Aku sudah tak kuat lagi menahannya!" salah satu dari mereka berkata dengan sangat menjijikan.
Terdengar di telinga Maureen sungguh memekakan.
Dia bahkan tak mengira hal buruk seperti
ini akan terjadi pada dirinya.
Maureen menggeleng kuat dan memberikan pertahanan kuat di tubuhnya.
Dia mencoba melindungi tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Kesal dengan semua perlakuan mereka, saat itu pun dia sudah merasa terjepit.
Maureen kembali melawan dengan sekuat tenaga. Dia menendang kuat-kuat orang yang sudah berada di atas tubuhnya. Hingga membuatnya tersungkur di lantai.
"Arrgghh! Sial sekali, kucing liar ini benar-benar sulit diatasi!" pekik orang tadi meradang.
Dia mengepalkan kedua tangan dengan erat. Lalu, satu tamparan keras membuat tubuh Maureen terhuyung.
Sedangkan yang lainnya hanya menjadi penonton dan tertawa.
Karena ketika mereka memutuskan siapa yang lebih dahulu menjamah gadis itu, mereka tidak akan ikut campur.
"Hahaha, salahmu sendiri. Yang pertama pasti akan sulit diatasi. Apalagi gadis itu masih tersegel rapi!" cetus salah seorang yang tampak menikmati pertunjukan live show temannya itu.
"Cih, benar-benar menyebalkan. Kau tidak tahu aku siapa, hah?" laki-laki itu sudah terlihat emosi hingga dia kehilangan kontrol dan mencekik leher Maureen.
Maureen masih merasakan pipinya panas akibat tamparan tadi.
Kini lehernya sudah dicekik dengan sangat kuat. Sepertinya dia belum puas kalau Maureen belum pingsan.
Maureen sudah benar-benar kehabisan napas.
Tangannya tak sengaja menyentuh satu botol. Dengan sekuat tenaga dia meraih dan memukul kepala lelaki tadi saat dia sedikit lengah.
"ARRGGHH!!" teriaknya.
Darah segar langsung mengalir dari kepala. Dia memegangi kepalanya.
Disaat lengah, Maureen mendorong tubuhnya. Orang tadi tergeletak di lantai.
Maureen membulatkan mata. Bahkan cipratan darah tadi sempat terpercik ke wajahnya.
Yang tertawa menyaksikan pertunjukan berubah menjadi gerhana. Mereka semua bangkit dan mengecek kondisi temannya yang sudah tak sadarkan diri.
Maureen meraih tasnya. Disaat mereka benar-benar lengah. Dia harus bisa menguasai dirinya sendiri dahulu.
Dia tak ingin menjadi santapan orang-orang tak bermoral itu.
Maureen berdiri dan segera berlari dari ruangan yang tertutup dengan rapat. Seolah memang ruangan tersebut terkunci untuk orang-orang luar.
"Sebaiknya kita kembali, Tuan Max. Anda sudah cukup mabuk malam ini," ucap seorang yang sedang memapah orang yang bertubuh besar.
Dia cukup kewalahan memapah tubuh besar tuannya.
Beberapa orang pengawal mengikuti mereka dari belakang.
Brukk! Satu tubrukan keras membuat tubuh keduanya terjatuh.
Maureen yang panik tanpa sengaja menabrak orang tadi.
Dia berlari menghindari kejaran dari orang-orang di ruangan gelap tadi.
"Ma-maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja, Tuan!" ucap Maureen terbata.
Kini sudah berada di atas tubuh laki-laki tadi.
Meski berkata seperti itu, kepalanya tidak fokus. Dia masih menengok ke belakang.
Tanpa dia sadari orang di depannya sudah menaikan rahangnya dengan keras.
Dia ingin sekali marah. Namun, melihat wajah gadis itu yang berantakan dengan tubuhnya yang bergetar. Dia tahu gadis itu memang tak sengaja.
"Kau! Berani sekali kau!" hardik seseorang di samping tubuh tuannya.
Dia berteriak sangat keras dan akan menarik tubuh Maureen dari tuannya.
"Aw, aw, sa-sakit!" Maureen memekik ketika rambutnya tersangkut di salah satu kancing jas tuannya.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya akan membereskan wanita ini!" ucapnya.
Dia sangat tahu tuannya tak suka sembarangan disentuh oleh siapapun.
Tanpa izin darinya, jika ada yang salah menyentuh hukumannya tidak main-main. Mati ditembak olehnya.
Namun, tangan tuannya malah melingkar di pinggang Maureen dan menariknya lebih dalam ke pelukannya.
Mungkin karena tuannya sedang mabuk.
Saat orang tadi berniat melepaskannya.
"Jangan sentuh! Ayo, kita pulang, Martin!" ucapnya.
Membuat Maureen kalang kabut.
Namun, sedetik kemudian dia melihat orang-orang yang sedang mengejarnya.
Dia tak punya pilihan selain pura-pura mengenal pria itu dan membenamkan wajahnya lebih dalam di dada orang tadi.
"Ta-pi, Tuan, Anda?" Martin menatap tuannya yang tak mau melepaskan pelukan tersebut.
"Sepertinya ada yang aneh dengan, Tuan. Biasanya dia tidak seperti itu!" bisik Martin di dalam hati.
Memperhatikan setiap gerak gerik tuannya.
"Kau tuli. Ayo, kita kembali!" perintahnya lagi.
Martin pun tak berani menentang perintah tuannya.
"Mati aku. Tuan terlalu banyak minum malam ini. Besok pagi saat dia bangun, pasti dia membunuhku dan wanita itu."
Kembali suara hati Martin bergema, tapi tetap tidak melawan perintah Tuannya.
Terlihat dihadapan semua orang Max seperti mabuk.
Namun, sebenarnya dia memang sengaja menunjukkan peran agar bisa menghindari perjamuan yang menurutnya membosankan.
Dia tak ingin berlama-lama disana. Baginya membuat muak.
Apalagi tempat pesta yang diadakan seperti itu pasti hanya untuk menjebak dirinya.
Dengan adanya Maureen, dia tidak akan melepaskan kesepakatan tersebut.
Maureen mencoba melepaskan pelukannya dari pria yang tak dikenalnya.
Dia, baru saja terlepas dari jebakan serigala-serigala kelaparan. Kini dia merasa terjebak dengan raja serigala.
"Tu-Tuan, maaf. Bisakah kau melepaskannya."
Maureen mencoba memberanikan diri saat dia sudah melintasi di pintu keluar pub.
Tangannya masih terus berusaha melepaskan pegangan erat pria tadi di pinggangnya.
Dia sekarang merasakan tubuhnya sudah tidak nyaman.
"Martin!" Ketika mendengar suara Tuannya penuh penekanan. Dia, menyadari Tuannya pura-pura mabuk.
"Ada perintah, Tuan?" dia langsung mengerti setelah Tuannya memberi kode pada orang-orang dibelakang mereka.
Mereka sepertinya sedang mencari seseorang.
Tubuh Maureen dilemparkan kasar ke dalam mobil.
Saat dia mencoba keluar dari mobil menggunakan pintu satunya. Pintu tiba-tiba saja dikunci otomatis oleh pria tadi.
"Ma-maafkan, Aku, Tuan. Aku mohon izinkan aku kelu-ar!" Maureen berbicara sambil memegangi kepalanya.
Rasa tidak nyaman itu semakin nyata.
Penglihatannya mulai kabur dan dia tiba-tiba pingsan dalam pelukan laki-laki tadi.
"Wanita benar-benar merepotkan!" dengus Max kesal.
Tubuh Maureen yang pingsan kembali dilemparkan begitu saja. Dia, seperti jijik saat kulitnya bersentuhan secara sadar.
Dia tak ingin disentuh oleh wanita itu.
Namun, saat melihat wajahnya entah mengapa perasaannya menjadi tak menentu.
Ada getaran yang tak dapat diartikan olehnya.
Pintu kemudi ditutup, membuyarkan lamunan, "Tidak ada hal yang mencurigakan Tuan. Wanita itu memang tak sengaja menabrak anda. Sepertinya ada orang yang menjebaknya."
"Di ruangan itu ada seseorang yang terluka akibat botol minuman. Tidak ada kematian. Sepertinya orang yang terluka dari keluarga Henson, putra pertama mereka, Greg Hanson!" Martin menjelaskan laporannya secara detail.
Martin melirik Tuannya setelah memberikan laporan karena Tuannya tak berkomentar sedikitpun.
"Saya akan membereskan wanita itu, Tuan!" Martin berniat akan membuka pintu.
Martin tahu, Tuannya pasti tidak akan suka berdekatan dengan seorang wanita.
"Eum, kita kembali saja. Periksa dengan detail kembali laporanmu dan cari tahu siapa wanita ini untukku," ucap Max tiba-tiba sambil melipat kedua tangannya, berkata acuh tak acuh.
Tapi, Martin merasa, itu bukan seperti kebiasaan tuannya.
Martin merasa ada yang salah dengan pendengarannya, "Kita kembali, Tuan? Lalu, dia?" Martin melirikkan matanya pada Maureen yang masih tak sadarkan diri.
"Apa telingamu sudah mulai bermasalah, Martin? Kau tidak mendengar perintahku!" dia menaikkan rahangnya kembali dengan kasar saat menatap wajah bawahannya.
"Ba-baik, Tuan!" dia memutarkan stirnya tanpa ingin mendengar ledakan amarah tuannya.
"Aku ingin laporan lengkap tentangnya malam ini, Martin!"
Max berkata dengan penuh penekanan.
"Baik, Tuan!" ucap Martin tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
"Argh, panas sekali! Ini benar-benar nggak enak?"
Maureen tiba-tiba berkata dengan matanya yang masih tertutup.
Tubuhnya sudah bergerak kesana kemari.
Dia, menendang-nendang sepatu yang dipakainya hingga terlepas.
Lalu tangannya mulai menyusup ke bawah gaun yang dia pakai.
Max mendelikkan mata saat melihat aksi gila Maureen, "Nah, akhirnya lepas juga!" dengan setengah kesadaran Maureen membuka matanya sambil terkekeh seperti orang gila.
Dia mengibas-ngibaskan kain penutup bawah miliknya dan melemparkannya sembarangan.
Tanpa Maureen sadari, kain bawah miliknya itu tepat mendarat di wajah Max. Saking ugal-ugalan nya gerakan tak sadarkan dirinya Maureen.
Max memicing tajam pada wanita itu. Dia terkejut sekaligus tidak percaya ada wanita sebar-bar dirinya.
Martin penasaran oleh suara teriakan tak karuan dari Maureen. Dia akan menoleh.
"Berani kau menoleh, aku tembak kepalamu!" ancaman Tuannya membuat nyali Martin menciut.
Dia urungkan kembali fokus menjalankan mobilnya pada tujuan.
Walaupun Max sangat ingin marah terhadapnya. Tapi, entah kenapa saat melihat wajahnya, dia seakan terhipnotis.
Biasanya untuk berdekatan dengan seorang wanita Max memiliki kriteria sangat ketat. Dan Maureen bukan salah satu kriteria wanita itu.
Maureen semakin menggila. Saat matanya melihat Max, dia langsung melompat ke pangkuannya.
"Hei, wanita, jaga sikapmu. Kalau kau terus bergerak seperti itu, aku tak berani menjamin bisa menahannya lagi!"
Jelas walau dia seorang laki-laki dingin dan keras hati, ketika mendapatkan serangan mendadak seperti itu, dia pun tak akan bisa menahannya.
"Aw, sa-sakit sekali, Nick!" ucap Maureen saat merasakan kedua tangannya dicengkram dengan kuat.
"Hah, dasar wanita gila. Bisa-bisanya dia menyebutkan nama pria lain ketika dia berada di atas tubuhku. Sudah bosan hidup rupanya." Rutuk Max dalam hati.
Max mendorong kasar tubuh Maureen hingga tubuhnya terhempas di kursi penumpang.
Gadis itu masih membuat gerakan yang membuat Max ikut tidak bisa mengontrol tubuhnya.
Maureen mengalungkan kedua tangannya di leher Max dan terus menarik kepala Max agar mendekati bibirnya.
"Martin! Keluar dan menjauhlah!" teriak Max.
Martin paham. Dia segera menghentikan mobil dan memberikan pengarahan untuk para mobil lain yang mengikuti mobilnya.
Para pengawalnya berjaga-jaga sedikit menjauh dari mobil tuannya.
"Kak Ni-Nick, sa-sakit!" pekik Maureen saat merasakan tangan seseorang mencengkram wajahnya dengan kasar.
Dia menekan kesadaran Maureen. Max, ingin memastikan gadis itu sadar.
"Buka mata dan lihat jelas siapa diriku!" delik Max penuh kemurkaan.
Suara laki-laki tadi membuat kesadaran Maureen sedikit pulih.
"Egh. Ka-kau? Siapa kau? Pe-pergi sana!"
Maureen berusaha keras menguasai tubuhnya yang sudah sangat kacau.
"Sudah terlambat. Berani kau membangunkannya. Kau harus bertanggung jawab dan rasakan sendiri akibatnya!" tangan Max tanpa ragu menyingkap gaunnya. Lalu meluncur mulus disana.
Maureen menjadi gelisah diantara di harus menolak atau meneruskan. Tangan dingin Max sedang menari indah dibawah sana.
Tubuhnya semakin panas. Perasaan yang mengalir sejak tadi membuatnya hilang kewarasan. Tubuh Maureen tak menolaknya.
Kedua tangan tangan Maureen malah meremas ujung kursi dengan sangat kuat.
"Ehem, rupanya kau sudah cukup basah!" seringai Max tanpa ragu membuka sarang miliknya dan menghujam masuk secara kasar pada kepemilikan Maureen yang sudah basah tersebut.
Mata Maureen mendelik. Dia merasakan sakit yang luar biasa ketika tubuhnya dihujani benda tumpul besar milik Max.
"Sa-sakit!" teriaknya.
Air mata Maureen tanpa sadar mengalir.
Dia kini sepenuhnya sadar saat benda itu mulai bergerak di tubuhnya dan lelehan mengeluarkan cairan amis sudah keluar di benda milik Max.
Dia sudah kehilangan mahkota yang selalu dijaganya.
"Rupanya Kau masih P3 R4 WAN!" dengus Max melihat ke bawah.
Dia menyadari sesuatu yang berbeda saat benda besar miliknya masuk dan merobek dengan paksa.
Maureen hanya mengangguk perlahan dengan deraian air matanya.
Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Max. Dia tak menyangka Maureen masih tersegel dengan sangat rapi.
"Tenanglah, aku pasti akan membayarmu double untuk malam ini. Jadi, servicelah aku sampai puas. Oke!" ucapnya seakan menilai gadis itu sebagai gadis bar.
Dia sepertinya tak peduli dengan tangisan Maureen yang mengiba untuk berhenti.
Maureen dengan kesadaran yang sudah waras.
Dengan rasa perih yang masih sangat terasa di area sana, sekuat tenaga dia mencoba melawan.
Mendorong tubuh Max yang masih menghimpitnya dan sedang asik bergerak maju mundur diatas tubuh Maureen.
"Sa-sakit, Tu-Tuan, aku mohon berhenti!" dia tetap berusaha mengiba.
Berharap laki-laki yang sedang menggagahinya berhenti. Ataupun kasihan saat melihatnya.
"Kau gila, mana mungkin aku berhenti sekarang! Ini sangat enak dan nikmat. Aku masih menginginkan dan aku masih belum puas!" cetusnya dengan senyuman smirk dari wajahnya yang tampan.
Dia bahkan tak peduli wanita itu menangis meraung sangat keras.
Mungkin saja suara tangisan Maureen terdengar sampai keluar mobil. Dan malah membuat seluruh jiwa Max lebih membara.
Sedetik kemudian dia membuat ritmenya lebih cepat. Membuat mata Maureen tertutup.
Dia bukan merasakan enak dan nikmat, melainkan rasa sakit yang tak terhingga membakar bagian miliknya panas dan perih.
"Tahan sebentar lagi, aku akan keluar!" ucap Max, lalu sedetik kemudian dia pun menjadi menggila dengan lengkuhannya sendiri juga mengeluarkan beberapa kali didalam milik Maureen.
Dia menarik benda tumpulnya yang masih menegang secyperlahan dari area milik Maureen. Membuat gadis itu langsung menutupinya rapat-rapat.
Maureen masih dengan isak tangisnya.
Yaa ... sakitnya masih benar-benar sangat terasa. Membuat Maureen ingin membunuh dirinya.
Namun, perasaan itu dia buang jauh-jauh saat wajah ibunya melintas dalam bayangan. Dia, harus mencoba lebih tegar.
"Sudah jangan menangis lagi, aku kan sudah bilang akan membayarnya double!" ucap Max membuat seluruh hati Maureen terluka sambil dia merapikan kain miliknya.
Maureen hampir tiap percaya. Bagaimana seorang pria berpenampilan sempurna dapat melakukan hal gila dan berkata seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.
Bahkan sesuatu yang berharga milik Maureen pun sepertinya tak dipedulikan.
Maureen tetap diam. Dia membisu.
Namun, semua kesadarannya sudah pulih. Dia segera merapikan diri. Meraih tas miliknya yang tergolek lalu memakai sepatunya.
Dia dengan cepat membuka pintu mobil Max dan keluar.
Dia sudah tak ingin berlama-lama disana.
Setelah kakaknya menjebak secara tak terduga.
Dia berpikir sudah lolos dari nasib buruk, kini sebaliknya dia malah kehilangan semua yang sudah dijaganya.
"Maaf Nona, apa Tuan sudah membolehkan anda pergi?"
Martin bertanya dan menghalangi Maureen bersama para pengawal lainnya.
"Dia tak punya hak apapun melarangku. Apa perbuatannya barusan terhadapku masih belum membuatnya puas, hah!"
Maureen berteriak histeris menumpahkan seluruh amarah.
Dia benar-benar kesal. Hari ini dipenuhi dengan kesialan.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu, apa kau tidak tahu siapa aku?" perkataan sama yang mengancamnya seperti dalam ruangan gelap tadi.
Perkataan dari laki-laki yang bahkan Maureen tak mengenalinya.
Max keluar dengan tubuhnya masih setengah telanjang dada dan mendengar Maureen berteriak pada Martin mencengkam lengannya dengan sangat kuat.
"AKU TIDAK PEDULI! LEPASKAN!!"
Maureen dengan tenaganya yang tersisa.
Menghempaskan tangan Max dan berteriak sekali lagi dengan sangat lantang di depan wajahnya.
Dia bahkan tak peduli lagi dengan kemarahan yang ditunjukkan oleh Max.
Dia, mendorong kasar tubuh Martin dan memecah kerumunan yang mengelilinginya.
"Hei, kau!" hardik Martin.
Berbalik dan menatap Maureen.
Sepersekian detik tadi dia sempat terkejut oleh sikap Maureen.
Gadis itu bahkan berani berteriak sangat keras di hadapan wajah tuannya secara langsung.
"Saya, akan urus dan lenyapkan wanita itu, Tuan!"
Martin meminta persetujuan terlebih dahulu sebelum memulai debutnya lagi.
Dia tak ingin ada kesalahan karena sebelumnya Tuannya sempat melarang.
"Tidak, jangan berani kau mengusik. Kita ikuti saja dia!"
Max berkata dengan sangat geram menatap kepergian Maureen.
Dia masih sangat kesal dengan sikap gadis itu.
Namun, Lagi-lagi setelah dia menatap wajah Maureen saat berteriak seperti tadi, hatinya entah kenapa menjadi tidak tega.