Kita ke mana, Om?”
Pertanyaan seperti itu sudah dilayangkan oleh Alenka Gealova sejak ayah sambungnya menariknya paksa dari kampus tanpa basa-basi. Alenka sudah berusaha melepas tangan sang lelaki itu, tapi cekalan tangan dari lelaki yang sudah menikahi mamanya sejak dua tahun lalu itu sungguh sangat kuat.
“Diam!”
Kalimat yang selalu sama keluar dari mulut lelaki bernama Dirga itu membuat Ale begitu panggilan gadis berusia Sembilan belas tahun itu muak bukan main.
“Om, lepas!” Ale menepiskan tangan Dirga bahkan memukul berkali-kali, tapi tetap saja tidak bisa terlepas. Malah semakin menyeret dan mendorong masuk ke dalam mobil.
“Kamu diam, Ale! Turuti saja saya.” Memasang sabuk pengaman kepada Ale.
“Om itu aneh! Tiba-tiba saja datang ke kampus aku, lalu menarik dan sekarang membawaku entah ke mana.” Ale protes.
Jujur, sebenarnya dirinya dan suami dari ibunya yang sekarang itu alias ayah sambungya tidak pernah akrab dengannya. Lelaki itu selalu saja menganggap Ale sebagai anak manja yang boros yang menumpurkan dirinya. Padahal menurut Ale sendiri, uang yang ia gunakan selama ini adalah uang sang mama dari hasil kerja keras perempuan yang melahirkannya itu.
"Diam! Kalau kamu masih saja memberontak, kamu akan saya bius."
Ale diam.
Dibius? Gila memang. Ayah tirinya itu selalu saja membuat masalah dalam hidupnya. Kemarin, ia dijadikan jaminan agar mobil lelaki itu kembali dari penadah. Sekarang, entah apa lagi yang dilakukan si tua itu kepadanya?
Mobil itu membelah jalan Jakarta. Alenka diam dengan pertanyaan-pertanyaan yang membebani pikirannya.
Cukup lama perjalanan yang ditempuh oleh mereka hingga pada waktu tiga puluh menit, mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah.
Entah rumah siapa, Ale tidak tahu dan tidak paham betul.
"Turun!" teriaknya kepada Ale tanpa peduli pada rungu gadis manis itu yang mungkin akan tuli dalam hitungan detik.
Dari pada berurusan lebih panjang lagi dengan lelaki yang tidak pernah dianggap sebagai ayah oleh Ale, maka Ale memilih keluar dari mobil dan menuju ke Dirga yang sudah menunggu dengan mimik tidak sabar.
"Buruan!" Menarik tangan Ale dan memaksa mengikuti langkah dari belakang dan sedikit terseot-seot lantaran langkah Dirga yang lebar.
"Maaf, mencari siapa?"
Seorang lelaki berpakaian serba hitam menahan mereka saat melewati pintu gerbang yang terbuka dan menjulang tinggi itu.
"Dirgantara Sidoarjo," kata ayah sambung Ale itu.
Lelaki yang merupakan pengawal di rumah besar itu mengangguk dan mempersilakan keduanya masuk.
"Tuan sudah menunggu kalian di dalam." Memberi izin untuk masuk.
Lagi dan lagi tangan Ale ditarik paksa oleh Dirga menuju ke dalam rumah.
"Om, lepas! Atau aku teriak!" Ale mengancam.
Dirga melotot dan kemudian menoyor kepala Ale. "Diam. Kamu juga akan tahu setelah tiba di dalam sana."
Helaan napas kasar Ale terdengar. Ayah tirinya itu sangat kasar dan tidak punya peri kemanusiaan bahkan jiwa keayahannya juga tidak ada sama sekali.
"Ayo, bodoh!" teriak Dirga.
Ale kembali terseret bersama langkah Dirga yang masuk ke dalam rumah mewah bagai istana itu.
Ale masih sempat-sempatnya memuji apa yang ada di depan matanya. Demi apa pun, sungguh interior serta desain rumah itu sangat unik luar biasa. Ditambah warna cet yang terlihat maskulin menandakan kalau sang empunya rumah adalah lelaki sejati, dominan dan juga arogan.
Itu menurut Ale.
Warna apa itu?
Hitam keabuan bercampur warna putih.
"Kalian sudah di tunggu di ruang kerja Tuan Antares." Seorang pengawal dengan pakaian yang sama seperti pengawal pertama mencegat langkah mereka untuk memberitahukan informasi jika mereka sudah ditunggu.
"Terima kasih." Dirga terdengar lembut berbicara kepada pengawal itu.
"Om," cicit Ale.
Lelaki itu menatap Ale geram sembari melotot tajam. "Diam!"
Ale kembali diam. Sungguh, ia benci lelaki seperti Dirga. Entah apa yang mamanya lihat dari lelaki gila itu!
Ale dan Dirga mengikuti langkah pengawal itu menuju ruang kerja lelaki bernama Antares. Pemikiran Ale kacau bukan main. Ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya saat ini. Lalu saat ruang pintu ruang kerja itu terbuka, Ale melotot tajam saat menyaksikan seorang lelaki dengan keangkuhan duduk seraya kaki naik di atas meja kebesarannya.
Senyum jengkel Ale terpatri. Menyebalkan!
"Akhirnya kamu datang!" Suara bariton itu terdengar memenuhi ruangan membuat bulu kuduk Ale merinding.
Lelaki penuh dengan aura dominan, arogan dan penguasa.
Ale menelan salivanya apalagi saat terdengar pintu di belakang mereka tertutup. Sekarang di ruangan itu hanya mereka bertiga. Dirinya, ayah tirinya dan lelaki bernama Antares itu.
"Maaf, Tuan. Saya terlambat datang. Tapi, saya bawa jaminan untuk uang yang akan saya pinjam."
Ale menoleh pada Dirga. Dugaannya benar. Ia dijadikan jaminan lagi untuk uang yang akan dipinjam.
"Jaminan? Coba tunjukkan!" perintah Antares.
Dirga mendorong Ale ke depan dan tersenyum semringah. "Dia jaminannya, Tuan. Anda bisa memilikinya dan menggunakan dia untuk apa saja bahkan jika Anda ingin bermain kuda-kudaan juga tidak masalah. Nikmati saja. Masih suci dan jelas perawan."
Ale melotot pada Dirga.
"Om!" pekiknya marah. Lelaki itu bukan hanya menjadikannya jaminan, tapi juga menjualnya.
"Dia siapa?" Suara Antares terdengar lagi.
"Dia putri dari istriku. Anak tiriku!" jawab Dirga cepat.
"Om menjualku? Om gila! Aku mau pulang!" Ale melepaskan cekalan tangan Dirga darinya, lalu berlari menuju pintu.
"Keluar dari sini tanpa seizinku, kamu mati!"
Suara Antares menghentikan langkah Ale. Ia menoleh ke belakang dan kemudian mendelik tajam.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengancam aku? Kamu kira aku takut?" Ale mencoba melawan. Ia berusaha tidak takut dengan intimidasi yang dilakukan Antars saat ini.
"Itu jaminan yang kamu berikan kepada saya?"
Dirga menoleh pada Ale. "Kamu bisa diajak kompromo gak, sih?" Dirga menarik tangan Ale agar kembali ke posisi semula.
"Aku gak mau dijual, Om!" Ale berusaha melepas lagi cekalan tangan Dirga, tapi ia gagal.
"Hanya ini yang saya punya, Tuan."
"Aku aduin Om sama Mama." Ale berteriak.
Dirga mengalihkan tatapannya kepada Ale. "Mama kamu juga setuju untuk menjual dirimu ke Tuan Antares."
Deg
Apa katanya? Mamanya setuju? Gila! Apa perempuan yang selalu ia banggakan dalam hidupnya sudah berubah jadi mata duitan hanya karena menikah dengan Dirga?
Kenapa mamanya sejahat itu?
"Tidak mungkin!" Ale mencoba menepis pemikiran bodoh itu.
"Tanyakan saja nanti kalau tidak percaya."Dirga menyarankan.
"Kalian sudah selesai berdrama?" Antares menatap keduanya tanpa berkedip.
"Maafkan saya, Tuan." Dirga memohon seraya bersujud di depan Antares.
Ale menggeleng. Lelaki itu telah dibutakan oleh uang sehingga rela menjatuhkan harga diri di depan lelaki penguasa seperti Antares.
“Jangan batalkan pinjaman uangnya.” Dirga kembali berkata.
Antares berdiri dari tempat kuasanya dan berjalan menuju ke mereka.
“Berapa yang kamu inginkan?” tanya Antares kepada Dirga, tapi matanya mengarah kepada Ale. Ale merasa sangat risih sekaligus jijik pada tatapan tanpa ekspresi itu.
“Setengah miliar, Tuan.” Dirga menyahut.
Antares mengeluarkan selembar cek dan menyerahkan ke depan Dirga.
“Jumlahnya ada satu miliar. Tidak perlu kamu kembalikan, tapi gadis ini akan menjadi milikku. Akan aku kembalikan ke kalian jika aku sudah bosan.” Antares berucap dengan nada datar.
Dirga mengangguk dan segera mengambil cek itu. “Kalau sudah bosan, jualkan saja ke tempat pelacuran, Tuan. Untung-untung bisa mengembalikan uang Anda sedikit.” Dirga menyarankan.
“Kalian gila!” Alenka berteriak tidak suka.
Marah? Jelas! Ia sangat ingin memaki keduanya tanpa sisa, tapi entah kenapa mulutnya terlalu sulit mengeluarkan kalimat tajam.
“Kamu boleh pergi!” Antares menyuruh Dirga pergi. setelah menelepon orangnya, pintu terbuka dan Dirga diseret keluar dari ruangan itu menyisakan Ale sendiri.
“Om, jangan tinggalin aku!” Ale berlari menuju pintu, tapi pintu itu tertutup rapat kembali. Ia menoleh kepada Antare. “Aku mau pulang.”
Antares menggeleng. “Kamu tinggal di sini mulai sekarang.”
“Tidak!” tolak Ale.
Antares menyeringai.”Kamu pilih di sini atau kamu mau berakhir di tempat pelacuran dan ditiduri beberapa pria dalam satu malam?”
Ale merinding mendengarnya. Ia diam lalu menghela napas berat. Mulai detik ini, jalan hidupnya berubah total.
terjebak di rumah Antares sama saja terjebak dalam neraka.
Tersiksa!
Hanya air mata yang Ale bisa persembahkan sejak mendekam di dalam kamar berukuran luas yang dipenuhi barang-barang mewah. Sungguh, ia tidak menyangka hidupnya yang baik-baik saja awalnya berubah drastis hanya karena lelaki yang bernama Dirga yang sekaligus ayah sambungnya itu.
Bagaimana ia menjalani hidup dengan tekanan dan air mata seperti sekarang ini? Usianya bahkan masih terlalu muda dan seharusnya sekarang ini, ia bersenang-senang dengan teman-teman kampusnya bukan meneteskan air mata tanpa henti di rumah bagai neraka itu.
Tuan Antares! Lelaki itu licik pada orang yang lemah.
Bagaimana ia bertahan?
Krek
Pintu terbuka. Ale menghapus air matanya, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya lalu berpura-pura tidur. Itu adalah hal terbaik yang ia pikirkan dari pada berurusan dengan lelaki bernama Antares.
Nama yang aneh!
"Nona Alenka," panggil seseorang lembut. Suara seorang perempuan.
Terdengar ketukan antara sepatu dengan lantai menandakan jika pemilik langkah kaki itu semakin mendekat ke arah Ale.
Ale menghela napas pelan, berharap perempuan itu tidak akan memaksanya untuk menemui Antares atau hal.lain yang ia tidak sukai.
"Nona Alenka. Waktunya makan malam." Suara perempuan itu terdengar lagi.
Ale masih memilih diam dan berupa-pura tidur.
"Saya membawa makan untuk Nona Alenka. Setelah selesai makan malam, akan ada yang datang ke sini untuk mendandani Nona Alenka. Cepatlah dimakan makanannya."
Slepp
Selimut disingkap oleh perempuan itu dan terlihat jelas Alenka yang tidak tidur.
"Berhenti berpura-pura tidur. Jika Nona Alenka ingin baik-baik saja, cepat makan. Jangan membantah Tuan Antares. Saya tidak bisa membantu Anda jika Tuan Antares sudah menggunakan kekerasan nantinya." Perempuan yang entah siapa namanya itu memberi isyarat agar segera bangun.
"Aku mau pulang!" teriak Ale seraya menolak untuk bangun.
"Nona Alenka. Jangan sampai Tuan Antares yang datang ke sini. Karena jika dia yang datang ke sini, Anda bisa dalam masalah besar." Perempuan itu kembali memperingati.
"Tapi–"
"Jika ingin selamat dari kekerasan fisik dan mental yang akan diberikan Tuan Antares ke Anda, mending Nona Alenka mendengarkan saya. Saya hanya bisa membantu dengan nasihat seperti ini."
Ale terpaksa bangkit lalu dengan malasnya dia memakan makanan yang dibawa oleh pelayan cantik itu.
"Untuk apa datang si perias ke sini?" tanya Ale penasaran. Meskipun ia benci dengan segala hal yang terjadi kepadanya, tapi bukan berarti ia tidak berhak untuk tahu apa yang sedang ada di depannya saat ini.
"Untuk merias Anda," sahut perempuan itu dengan nada suara yang lebih lembut lagi.
"Kenapa?" Ale mengaduk-aduk makanannya. Ia tidak selera sama sekali untuk menelan makanan yang ada di hadapannya.
"Tuan Antares ingin memberi kejutan kepada Anda."
"Kejutan?" Ale menyudahi makannya.
"Iya, kejutan." Kening perempuan itu mengerut. "Kenapa tidak dilanjutkan makannya? Nona Alenka baru makan sedikit."
"Aku kenyang." Ale membaringkan kembali tubuhnya.
Helaan napas perempuan itu terdengar. "Baiklah." Lalu mengambil piring yang masih menyisakan makanan itu dan memilih membawa keluar kamar. Sebelum itu, ia menoleh kepada Ale.
"Nama saya Velove. Nona Ale bisa memanggil saya dengan nama Ve. Jika butuh sesuatu, tekan saja bel yang ada di atas kepala ranjang dan saya akan datang." Menjelaskan panjang lebar tentang dirinya lalu pergi keluar kamar.
Ale memutar bola matanya malas. Perempuan itu terlihat seusia dirinya dan juga sangat cantik. Bagaimana bisa menjadi pelayan di rumah besar Natares yang kayak neraka.
Apa dijebak juga?
Apa dijual?
Atau memang sengaja menjual harga diri?
Ale menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk melepas pikiran bodohnya itu. Ia tidak boleh memikirkan hal negatif pada orang yang belum ia kenal dengan baik.
Tidak boleh.
Kecuali kepada Antares!
***
"Dia tidak makan?" Antares menatap Ve dengan datar.
Ve tersenyum sekilas. "Sedikit, Tuan. Mungkin dia masih shock sehingga terlalu cepat kenyang."
"Jangan mengelabui saya, Ve. Kamu tahu siapa saya, kan?" Antares masih menatap Ve datar.
Ve mengangguk. "Saya kenal betul, Tuan. Saya tidak mungkin mengelabui Anda. Dia memang makan, tapi hanya sedikit saja."
"Baiklah!" Antares percaya kepada Ve. Velove adalah salah satu yang ia percaya dari sekian banyak orang di sampingnya. Perempuan yang ia selamatkan dari perdagangan ilegal yang dikirim ke luar negeri untuk menjadi pekerja komersial atau simpanan dan lainnya.
Ve bekerja untuknya setelah itu. Mungkin sebagai rasa terima kasih perempuan muda itu.
Bisa jadi!
"Antarkan mereka ke kamar Alenka setelah kamu membawa ke belakang piring kotor itu."
Ve menoleh ke arah dua perempuan yang duduk di sofa tepat di hadapan Antares.
Tunggu, sepertinya satu perempuan dan satu lagi perempuan bukan, lelaki juga dipertanyakan.
"Ve." Antares menyebut nama Ve yang lagi melamun.
"Oh, iya, Tuan." Ve segera menuju ke belakang untuk meletakkan piring kotor. Selang beberapa menit setelahnya, ia kembali sembari memberi isyarat agar dua orang tamu itu mengikutinya.
Mereka berjalan menuju kamar yang ditempati Ale.
Krek
Membuka pintu sembari mempersilakan keduanya masuk.
"Nona Alenka," panggil Ve kepada Ale yang tertidur.
Ale masih belum membuka mata.
"Nona Alenka!" Ve berteriak. Berharap dengan teriakannya bisa membuat Ale bangun.
Benar saja. Ale mengerjap dan mengucek matanya berkali-kali.
"Ada apa?" tanya dengan bingung.
"Anda tertidur?" tanya Ve.
Ale mengangguk.
"Sebaiknya cuci muka Anda di kamar mandi." Ve membantu Ale menuju kamar mandi.
Ale yang berada di kamar mandi menghela napas. Ia mengedarkan pandangannya di kamar mandi luas itu, tapi tidak ada jalan sedikit pun untuk melarikan diri.
Ia pasrah!
Entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini?
Ale segera membasuh muka. Setelah merasa sudah lebih segar, ia kembali keluar.
"Silakan duduk." Salah satu dari dua penata rias itu menyuruh Ale duduk di depan kaca.
Ale yang belum mengerti dengan apa yang akan terjadi hanya bisa mengangguk. Duduk seraya memejamkan mata sesuai arahan.
Ale mulai merasakan jari-jari menari di atas wajahnya. Entah apa yang keduanya lakukan, yang jelas ia merasakan wajahnya yang seperti tertimpa beberapa beban.
Cukup lama ia memejamkan mata bahkan sampai tertidur. Berapa jam? Sejam? Dua jam? Entahlah. Ia terbangung saat tepukan halus mendarat di bahunya.
"Nona Alenka, bisa bangung buka mata sekarang."
Ale membuka mata dan betapa kagetnya dirinya saat menyaksikan seseorang di depannya. Ah, di dalam kaca. Bukan, tepatnya pantulan di kaca. Ale menyentuh wajahnya.
Benarkah itu dia?
Sangat cantik!
Ale tersenyum lalu menoleh pada dua perias itu. "Ini aku?"
Keduanya mengangguk seraya tersenyum.
"Tentu." Salah satunya menjawab.
"Aku tidak menyangka bisa secantik ini."
"Nona Alenka cantik bahkan sebelum berdandan." Ve menyahut.
Ale melirik Ve dan kemudian bertanya. "Ya, aku tahu." Ale memuji dirinya sendiri. "Tapi aneh."
Ketiga orang di kamar itu menatap fokus pada Ale.
"Make up ini seperti make up pengantin." Menatap wajahnya kembali ke cermin. "Jangan bilang kalau–"
"Ya, Nona Alenka akan menikah," potong Ve.
"Silakan ganti pakaian." Perempuan atau bisa dibilang separuh perempuan separuh lelaki itu mengeluarkan gaun putih dari tas besar dan kemudian menyerahkan kepada Ale.
Ale menggeleng. "Aku gak mau menikah." Lantas mendorong separuh lelaki separuh perempuan itu hingga menabrak Ve. Kesempatan diambil oleh Ale untuk kabur.
Ale berhasil melewati pintu kamar dan keluar dari sana.
Ve yang menyadari segera menyusul, tapi Ale sudah terlalu jauh.
Ale yang kebingungan di mana dia berada hanya bisa mematung. Rumah Antares terlalu banyak pintu sehingga ia bingung pintu mana yang harus ia lewati untuk keluar dari rumah besar itu.
Seperti labirin saja.
"Nona Alenka!"
Terdengar suara Ve membuat Ale mendorong pintu di depannya. Ia yakin jika pintu itu akan membawanya keluar lantaran dari celah-celah ventilasi terpantulkan cahaya.
Namun, yang didapatkan olehnya adalah sapaan dari seseorang yang terdengar datar dan dingin.
"Mau kabur?"
Deg
Ale melotot. Di depannya ada Antares. Lelaki itu menyeringai ke arahnya.
Ale mematung. Seketika seluruh tubuhnya lemas seolah tulangnya seperti jeli yang siap lunglai ke bawah.
"Tuan, maaf." Ve yang datang dengan napas ngos-ngosan menundukkan kepala seraya menarik tangan Ale untuk mengikutinya kembali ke kamar perempuan itu.
"Biar saya saja, Ve."
Antares bangkit dari duduknya lalu mendekat. Menggenggam kuat tangan Ale lalu memaksa mengikuti langkahnya.
"Sakit," cicit Ale.
Antares tidak peduli. Saat mereka tiba di kamar, Antares mendorong Ale hingga terjatuh di atas tempat tidur.
"Kenakan gaunnya sekarang!" perintah Antares.
"Tidak mau!" tolak Ale.
"Tidak mau?" Antares mendekat, menggenggam ujung dress yang dikenakan Ale lalu dengan sekali hentakan dress itu koyak hingga menunjukkan tubuh Ale.
"Kamu!" Ale marah.
"Saya bisa melakukan lebih dari ini!" peringat Antares.
Ale menangis. Terpaksa ia mengenakan gaun pernikahan itu. "Aku gak mau nikah." Kalimat itu diucapkan olehnya seraya memakai gaun.
Antares tidak peduli. Lelaki itu malah fokus pada tubuh Ale yang aduhai.
Ia spontan menelan ludahnya lalu kemudian menghela napas.
"Ve, kalau sudah selesai. Segera ke bawah."
"Baik, Tuan." Ve menyahut.
"Sah?"
"Sah!"
Ya, seketika dalam beberapa jam Ale sudah menjadi seorang istri. Istri dari lelaki arogan bernama. Antares Gumilang Dhananjaya.
"Tuan Antares, Anda sudah bisa mencium kening istri Anda." Lelakinyang menjadi oenghulu nikah itu memberi aba-aba kepada Antares.
Ale menelan ludahnya susah payah lalu kemudian menunduk. Sementara Antares hanya diam dengan gerakan lambat menghadap kepada Ale. Lantas setlah itu ia mendaratkan kecupan di kening Ale dengan cepat.
"Semoga kalian bahagia hingga kelak sampai akhir hayat."
Ale tidak peduli dan tidak mau mendengar apa yang dikatakan penghulu itu.
Bahagia apa? Apakah memaksa menikah itu bisa dikatakan adalah kebahagiaan?
Bulshit!
"Terima kasih, Pak Penghulu." Antares tersenyum kepada lelaki tua itu. Ale yakin senyum itu terpaksa. Mana mungkin lelaki licik itu bisa tersenyum tulus. "Orang saya akan menemani Anda keluar dari sini."
Ale kaget.
Apa Antars mengusir penghulu itu? Apa orang kaya semaunya melakukan hal yang menurut mereka tidak salah padahal itu salah?
"Kai!" Suara Antares meninggi.
Lelaki bermama Kai itu tiba di depan Antares dengan gagahnya. Ale pernah melihat lelaki itu, tapi entah di mana.
"Urus Pak Penghulu. Berikan bayarannya seperti apa yang telah tersepakati."
Kai mengangguk.
"Dan kamu."Menunjuk kepada Ale. "Ikut saya."
Ale membisu tanpa berani mengeluarkan kata-kata saat Antares menggandeng tangannya dan membawa menuju kumpulan orang yang entah siapa saja. Ia tidak ingin gaun pengantin yang cantik itu dikoyak oleh tangan jahil itu. Bukan karena takut koyak karena cantiknya melainkan takut jika tubuhnya tampak di depan semua orang jika tangan Antares bermain di gaun itu.
Ada beberapa orang di depannya saat ini. Terlihat jelas jika orang-orang itu adalah orang penting. Mereka memakai jas dan juga gaun mewah yang mungkin keluaran baru dan terbatas.
Astaga!
Para orang kaya.
"Antares!"
Seorang perempuan berteriak memanggil nama Antares. Lelaki itu dan juga Ale menoleh pada sumber suara. Terlihat seorang perempuan cantik, anggun sekaligus seksi berjalan ke arah mereka dengan senyum lebar.
Ale menelan ludah. Betapa cantiknya perempuan itu layaknya seperti bidadari.
Apakah kayangan sedang kosong saat ini karena bidadari turun ke bumi?
Lupakan.
"Selamat atas pernikahan kamu." Perempuan itu mengulurkan tangan.
Antares hanya menatap tanpa berkedip pada perempuan itu.
"Terima kasih." tanpa menyambut uluran tangan itu.
Ale sempat mengulum senyum. Ternyata Antares memang sudah mendarah daging menjadi orang dingin dan arogan. Namun, pertanyaan, siapa perempuan cantik itu.
"Aku gak nyangka kalau kamu menikah secepat itu."
Antares yang tadinya sudah kembali fokus pada yang lain, kini menoleh kepada perempuan itu lagi.
"Aku kira, kamu akan tetap memilih menjadi lajang."
Antares menuguk minumn yang ada di tangannya. "Kenapa harus melajang jika sudah ada yang tepat." Antares menjawab.
"Yang tepat? Masa? Bukankah kamu hanya mencintai aku saja?"
Antares mengulum senyum. Lelaki itu pandai sekali menutupi rasa amarah yang menderanya saat ini. "Mungkin dulu sebelum saya mengenal istri saya yang sekarang. Alenka adalah perempuan yang saya cintai dan wajar jika saya menikah, kan?"
Perempuan itu diam. Terlihat ada amarah yang menghantam dirinya.
"Untuk apa saya terus mencintai perempuan yang sudah memilih menjadi istri simpanan lelaki tua? Tidak menguntungkan untuk saya."
Perempuan itu merasa malu. Ia melirik kanan dan kiri lalu fokus pada Antares.
"Kamu!"
"Kamu yang memulai Clarisa," potong Antares. Antares benar-benar mempermalukan Clarisa di depan orang banyak. "Kamu menjalin hubungan dengan saya, lalu kemudian memilih menjadi simpanan ayah saya. Di mana harga diri kamu? Bahkan lelaki itu masih memiliki iatri sah."
"Cukup Antares!"
Antares mengangguk. "Oke. Cukup!" Meraih tangan Ale lalu berpamitan kepada yang lain. "Kami ke sana dulu."
Ale hendak mengeluh sakit lantaran tangannya dicekal kuat oleh Antares. Namun, karena mereka di muka umum maka ia memilih diam saja.
"Ve!" Antares berteriak memanggip Ve.
Seketika perempuan itu datang dengan langkah berlari.
"Ya, Tuan."
"Pantau terus Clarisa. Jika dia melakukan hal aneh, suruh pengawal mengusirnya."
"Baik, Tuan." Ve berlalu meninggalkan keduanya.
Kini tinggal Antares dan Ale.
"Masuk ke kamar kamu." Antares menyuruh Ale segera masuk ke kamar.
Ale mengangguk.
"Yang kamu dengar tadi itu hanya kebohongan semata. Jangan merasa kamu beruntung."
Ale mengangguk.
"Kamu adalah jaminan. Kapan saya bosan, kamu akan saya buang."
Ale tidak mengangguk mendengar kalimat itu. Sungguh sangat menyakitkan. Seperti sampah saja, karena tidak diperlukan maka akan dibuang.
Ya, Tuhan. Apa dosa yang telah ia perbuat di masa lalunya sampai terjebak dalam pernikahan dengan Antares?
***
Anteres terduduk di sofa ruang kerjanya. Di tangannya ada sebotol minuman beralkohol, anggur merah.
Glup glup glup
Antares meninum tanpa menggunakan gelas, langsung dari botol. Tidak ada wibawa sama sekali layaknya orang gila yang kehausan minuman beralkohol.
Antares menghabiskan separuh lalu kemudian melempar ke lantai.
Prang
Pecah berserakan. Bahkan isinya memberi jejak di lantai.
"Clarisa, sialan! Kenapa dia bisa datang ke pernkahan saya. Siapa yang memberitahukan ke dia?" Antares memijit pelipisnya.
Jika boleh ia jujur. Perasaannya kepada perempuan itu utuh. Namun, mengingat apa yang sudah Clarisa lakukan, rasa jijik, marah dan murka bercampur menjadi satu. Mereka menjalin hubungan selama tiga tahun dan Antares tidak menyangka selama itu pula, Clarisa menjalin hubungan gelap dengan ayah Antares.
Antares benci lelaki tua itu setelah tahu kebenarannya apalagi saat Clarisa memilih sang ayah. Antares ingin memberitahu ibunya, tapi ia tidak tega lantaran ibunya terlalu bahagia bersama sang ayah. Ayahnya yang pandai berakting atau ibunya yang bodoh? Entahlah!
Tok
Tok
Tok
Terdengar ketukan di pintu. Antares mengubah ekspresinya menjadi datar kembali.
"Masuk!" perintahnya.
Ia yakin yang mengetuk itu jika bukan Ve pasti Kai. Hanya dua orang itu yang berani masuk ke ruang kerjanya. Pengawal lain akan menemuinya di ruang rapat atau di ruang tamu!
"Tuan." Itu Kai.
"Ya?" Antares menyahut singkat.
"Di luar ada Taun Feraldy Dhananjaya." Kai menyahut.
Antares mengepalkan jari-jarinya.
"Untuk apa dia datang ke sini?"
Kai menggeleng. "Saya tidak tahu, Tuan."
"Sendirian?" tanya Antares lagi.
"Bersama Nyonya Melati Dhananjaya," sahut Kai..
Antares meluluhkan ekspresinya saat nama sang ibu disebut. Ia tidak boleh menunjukkan amarahnya di depan perempuan yang sudah melahirkannya itu dengan cinta.
"Saya akan segera ke sana." Antares keluar dari ruang kerjanya menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.
Saat ia menuju ruang tamu, sambutan hangat diberikan oleh sang ibu. Seperti anak kecil, Antares masuk ke dalam pelukan sang ibu.
"Ibu merindukan putra kecil ibu ini." Antares tersenyum mendengar itu.
Umurnya sudah 33 tahun dan bagi sang ibu, dirinya masih putra kecil berusia 5 tahun. Antares membantah? Tidak! Ia tidak ingin ibunya menangis lalu kecewa padanya. Jadi, ia membiarkan ibunya menganggap dirinya seperti apa saja asalkan masih bisa ia terima dengan akan sehat.
"Saya juga." Antares membalas.
Cup
Cup
Lelaki arogan mendapatkan ciuman di kedua pipinya.
"Ibu tidak menyangka jika putra ibu menikah malam ini. Kenapa tidak memberitahu?" Melati protes.
Antars menggaruk kepalanya. Niatnya tidak ingin menunjukkan Alenka ke keluarganya sebagai istri. Ia menjadikan Alenka istri di depan rekan kerjanya saja, tapi ia tidak punya pilihan sekarang selain menjelaskan dengan belokan kanan kiri agar ibunya tidak kecewa.
"Maaf, Bu. Niat saya awalnya mau memberitahu Ibu sama Ayah ketika resepsi. Tapi, ya … sudah terlambat. Semua sidah ketahuan."
"Ayah tidak menyangka anak ayah ini bisa menaklukan perempuan lain di hidupnya."
Antares menyeringai kepada ayahnya. "Kenapa tidak? Saya punya uang, punya jabatan punya harga diri dan tentu saja tampan. Perempuan akan datang tanpa harus saya rayu." Itu sindiran untuk sang ayah.
Feraldy tertawa. "Kamu memang putraku. Nyatanya kita berhasil meluluhkan wanita cantik."
Antars paham. Wanita cantik yang dimaksud bukanlah sang ibu melainkan wanita lain. Ya, pasti Clarisa.
"Mungkin sama, tapi mungkin juga beda."
Melati menyudahi adu mulut ayah dan anak itu. "Sudahlah, Ayah. Jangan terus pamer kehebatan saat meluluhkan hati ibu. Gak baik loh."
Feraldy tertawa seraya mengecup pipi istrinya.
Cup
"Kamu yang terbaik, Sayang." Feraldy memuji istrinya sampai wajah sang istri merona layaknya tomat.
Rasanya Antares ingin muntah. Apa yang ditunjukkan ayahnya kepadanya saat ini? Atau ayahnya mengajak perang dingin? Dia siap.
"Ibu boleh melihat istri kamu?" tanya Melati.
Antares menghela bapas pelan. "Dia sudah tidur, Bu. Terlalu lelah."
"Ah, maaf. Ibu lupa jika kedatangan kami terlalu malam ke sini."
"Menginaplah." Antares memberi saran. "Besok pagi Ibu dan Ayah bisa bertemu dengannya."
"Mungkin hanya ibumu, Antares."
Antares menaikkan sudut bibirnya. Ia yakin ayahnya menolak untuk menginap. Kebiasaan! Pasti saat menginap, maka sang ayah memilih ke rumah simpanannya.
"Ayah harus ke Bandung malam ini. Besok pagi ada rapat."
Alasan konyol.
Antares mengangguk. "Baiklah, Yah. Semoga selamat sampai tujuan. Hati-hati jangan sampai mendapat halangan di jalan."
Entah peringatan atau hanya sekedar pengingat saja. Antares berhasil membuat Feraldy merinding.
"Ayah pamit."
Cup
Feraldy mengecup kepala sang istri. Antars hanya menatap tanpa berkedip.
Setelah Feraldy pergi, Antares fokus pada sang ibu. "Ibu sudah makan?" tanya Antares lembut pada Melati.
"Sudah, Nak." Melati menyahut.
"Mari saya antarkan ke kamar." Antares menggandeng tangan Melati menuju kamar yang baisa ditempati sang ibu saat bertamu ke rumah sang anak.
"Apa menantuku cantik?" Melati mengulum senyum ketika bertanya.
"Tentu. Dia sangat cantik. Ibu akan suka saat melihatnya."
Melati mengangguk. "Ibu tidak sabar menunggu esok."
"Tidurlah, Bu."
Cup
Antars mengecup kening Melati yang berbaring sembari menyelimuti sebatas dada.
"Jaga istrimu baik-baik." Melati berpesan.
"Tentu, Bu." Antares keluar dari kamar sang ibu.
Saat matanya menangkap kamar Ale, Antares memilih membelok.
"Tuan Antares?" Ve yang baru keluar dari kamar Ale menyapa.
"Dia sidah tidur?" tanya Antares.
"Sudah, Tuan. Harus berjuang keras. Dia terus berusaha kabur."
"Jaga dia jangan kabur. Dia tidak boleh pergindari rumah ini jika bukan aku yang menyuruhnya pergi."
"Baik, Tuan."
Antares lalu kembali melanjutkan langkahnya dan kali ini memilih kembali ke kamarnya.