Siapa sih yang tidak mengenal Zifran, pria tampan dan mapan berusia 25 tahun dari keluarga terpandang, anak semata wayang dari pasangan Tuan Arya dan Nyonya sarah yang merupakan CEO dari perusahaan terbesar di kotanya.
Pria dengan tingkat kemesuman level akut yang memiliki sejuta pesona yang dapat memikat hati setiap wanita.
Karena sifat itulah, Zifran terkenal akan julukan Sang Casanova yang membuat dirinya digilai banyak wanita yang siap menyerahkan tubuhnya kepada Zifran.
Meskipun Zifran adalah seorang casanova, pria sang penakhluk wanita, namun tidak pernah sedikitpun terbesit dalam hati Zifran untuk mempunyai hubungan yang serius dengan seorang wanita, karena menurutnya terikat dalam suatu hubungan sangat merepotkan
Berbeda dengan Zifran, kedua orang tua Zifran selalu dibuat ketar-ketir dalam menghadapi sifat putranya yang selalu bergonta-ganti pasangan. karena itulah orang tua Zifran selalu menjodohkan Zifran dengan beberapa wanita yang mereka pilih. Namun, Zifran selalu menolaknya dengan dalih 'Dia bukan tipeku'.Tetap saja orang tua Zifran terus kekeh dengan rencana mereka.
Di kamar sebuah apartemen mewah terdengar Suara des*ahan dan erangan dari sepasang manusia yang tengah larut dalam hasrat dan gairah mereka ketika melakukan suatu hubungan yang terlarang, siapa lagi jika bukan Zifran bersama wanitanya.
"Terus, yang agresif dong. Gue bayar lo kan mahal." Suara berat Zifran yang menahan hasratnya. Disaat seperti ini miliknya semakin meminta lebih untuk menuntaskan gairah yang tak tertahankan.
Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung melakukan tugas dengan sebaik mungkin sesuai dengan arahan dari Zifran. Tubuh wanita itu meliuk-liuk bak ulet keket di atas tubuh Zifran yang tengah larut dalam buaian hasrat. Setiap gerakan dan goyangan wanitan itu mampu membuat kejantanan Zifran semakin tak kuasa menahan hingga membuat keduanya merasakan kenikmatan yang sulit diungkapkan.
Kini Zifran berada di atas tubuh wanita itu dan memimpin permainan mereka, dengan ritme permainan yang semakin cepat Zifran berusaha untuk mencapai puncaknya.
"Aahkh" Zifran menumpahkan benih miliknya di atas pa**dara wanita itu ketika sudah mencapai puncaknya.
Zifran langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bersama wanita yang ia sewa.
****
Keesokan paginya...
Pergulatan panas kembali terjadi di dalam apartemen Zifran. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya, hingga suara panggilan telepon menghentikan kegiatan mereka berdua.
Dengan deru nafas yang masih memburu Zifran menjawab panggilan teleponnya,
"Ada apa?" tanya Zifran.
"Lagi dimana lo? Kok ngos-ngosan gitu?" tanya balik seseorang dari sebrang sana.
"Apartemen," jawab Zifran singkat.
"Jangan bilang lo sekarang lagi enak-enak. Wah, parah nih anak udah jam berapa nih woy! Masih aja celap-celup."
"Nggak usah banyak bacot! Ngapain Lo pagi-pagi udah gangguin gue?"
"Lo nggak lupa 'kan sama meeting hari ini?" ucap seseorang dari sambungan telepon.
"Tapi meeting-nya kan dimulai jam sembilan."
"Meeting di majuin, lo nggak baca pesan yang gue kirim? Jam delapan meeting di mulai," ucap orang itu.
Zifran langsung melirik kearah nakasnya. "Shi*tt!" umpatnya saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07:13 wib. "Ya udah gue ke sana sekarang!" timpalnya lagi.
Tutt.
Suara sambungan terputus, dan pelakunya adalah Zifran.
Zifran langsung berlari ke arah kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang menutupi bagian tubuhnya. Sementara itu, seorang wanita yang berada di kamar zifran sedang mengomel tidak jelas saat Zifran meninggalkannya begitu saja.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Zifran berjalan cepat menuju ruang gantinya.
"Bayaran lo udah gue transfer, sekarang lo boleh pergi!" ucap Zifran yang baru keluar dengan setelan jas rapih.
"Aku ikut sama kamu ya, pliss," ucap wanita itu menggoda dengan mengelus lembut dada bidang Zifran yang terlapisi oleh baju.
"Tapi lo jangan macem-macem Ra, gue mau ke kantor." ucap Zifran kepada wanita bernama Rara. Ia takut jika Rara menggodanya seperti yang sudah-sudah dan berujung dengan keterlambatannya.
"Oke." balas Rara.
****
Jalanan ibukota pagi ini tidak terlalu padat seperti hari-hari biasanya sehingga Zifran lebih leluasa mengendarai mobilnya sedikit lebih kencang agar ia tidak telat untuk sampai ke kantor.
Ciiiittttt...
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar begitu nyaring bagi siapa saja yang mendengarnya.
Zifran yang terlalu fokus pada jalanan tidak memperhatikan jika lampu lalulintas sudah berganti warna menjadi merah, dengan gerakan cepat Zifran mengerem mobilnya secara tiba-tiba untuk menghindari tabrakan dengan mobil yang ada di hadapannya.
"Sia*lan," umpat Zifran sambil memukul setir mobilnya.
"Dahi lo berdarah!" ucap Rara panik.
"Aauwsh...!"desis Zifran.
"Sakit ya?" ucap Rara sambil membersihkan luka Zifran.
"Lum-ma..." ucapan Zifran terhenti.
Tok tok tok!
Suara ketukan kaca pintu mobil di ketuk oleh seseorang, "Ada apa?" tanya Zifran yang baru menurunkan kaca jendela mobilnya.
" Om, kalau mau berbuat mesum jangan di sini, Malu sama orang lewat," tegur seseorang yang berada di atas motor sport di samping mobil Zifran.
Zifran yang mendapat teguran seperti itu masih mencerna kata 'Mesum' yang baru saja di tujukan kepadanya.
'Emang gue ngelakuin apa?' batin Zifran.
"Siapa yang lo bilang mesum?"
"Ya, Om, siapa lagi?"
"Kamu--" Zifran menghentikan ucapannya.
"Buruan jalan Om, tuh lampunya udah hijau!" tunjuk wanita itu kearah lampu lalulintas yang ada di seberang jalan. "Hati-hati awas keciduk lagi Om," timpalnya lagi.
Sementara Zifran yang mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan wanita itu merasa kesal dan hendak turun dari mobil miliknya. Namun Zifran kalah cepat karena wanita itu sudah melajukan motornya di jalan raya.
"Turun!" Zifran melampiaskan kekesalan pada Rara.
"Tapi--."
"Gue bilang turun SEKARANG!" bentak Zifran.
Mau tidak mau akhirnya Rara turun dari mobil Zifran sambil menghentak-hentakan kakinya dengan rasa kesal. Segala umpatan kasar ia tujukan untuk Zifran yang sudah berani menurunkannya di jalan.
Demi cepat sampai di kantor, Zifran mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi hingga membuat pengguna jalan lain mengumpat kasar kepada Zifran yang seenaknya saja melajukan mobilnya di jalan raya.
***
Di sisi lain.
Seorang gadis dengan seragam SMA'nya baru saja memarkirkan motor sport nya di parkiran sekolah khusus untuk para siswa dan siswi SMA Bunga Darma.
Gadis itu turun dari motornya setelah melepaskan helm yang ia gunakan dan kemudian di letakkan di atas jok motor miliknya.
"Maisya, tunggu!" teriak seseorang dari arah gerbang sekolah. Gadis yang bernama Maisya itu menoleh kearahnya.
"Kok naik motor, mobil Lo kemana?" timpalnya lagi ketika sudah berada di samping Maisya.
"Mobil gue kemaren masuk bengkel gara-gara gue lupa buat ganti oli."
"Ah, elo mah kebiasaan. Nggak heran gue,"
"Isshhh. Lo mah nggak asik," dengus Maisya yang mengerucutkan bibirnya.
"Bibir Lo itu minta gue ci*ok ya?"
"Ih najis. Amit-amit gue masih normal kali Alya!" ucap Maisya sambil mengetuk kepalanya kemudian beralih ke lutut secara bergantian beberapa kali.
"Hahaha becanda Sya, gue juga masih normal kali?!"
"Kok lo nggak bareng sama Andin? Kemana tuh anak." Alya mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Tak tau!" timpalnya lagi.
Ya begitulah, jika mereka sudah bersama sikap absurd keduanya akan terlihat nyata bagi siapa yang memandang, dan jika mereka sudah bertiga maka seluruh sekolah akan heboh karenanya.
Maisya dan Alya berjalan beriringan, sesekali keduanya saling melemparkan celotehan yang membuat suasana pagi itu menjadi riuh sejak Maisya tiba di sekolah.
Di kelas XII IPA-2.
Suasana di dalam ruangan terlihat begitu ramai dengan beberapa siswa dan siswi yang sedang santai di kursi mereka masing-masing dan ada juga yang sedang sibuk dengan urusannya. Maisya, dan Alya yang baru datang langsung menghampiri tempat duduk mereka. Namun tiba-tiba...
"Eh, eh. Kalian udah pada tau belum kalau hari ini sekolah kita bakal kedatangan pemilik dari SMA Bunga Darma?" ucap seorang siswi perempuan yang baru masuk dengan nafas terengah-engah.
Seja
Siang ini sekitar pukul 10, cuaca cukup menyengat kulit bagi siapa saja yang berada di bawah sinarnya.
Terdengar suara sorak-sorai memenuhi tribun penonton yang memadati lapangan basket SMA Bunga Darma.
Suara teriakan penonton yang berasal dari para siswa dan siswi yang tengah memberi semangat kepada pemain kebanggaan mereka yang saat ini sedang bertanding basket melawan antar sekolah.
Namun, yang menjadi titik fokus kini adalah teriakan heboh para siswa yang menyemangati makhluk tercantik diantara para pemain basket yang lain. Bagaimana tidak? Diantara mereka hanya Maisya lah perempuan satu-satunya.
Kok bisa?
Karena kemampuan Maisya dalam bidang olahraga terutama basket tidak dapat diragukan lagi dan membuatnya terpilih menjadi captain dari tim Putri. Makanya pelatih sekolah meminta Maisya untuk membantu tim putra yang di pimpin oleh Leon sebagai captain nya.
"MAISYA. AYO DONG SEMANGAT!!" teriak siswa yang ada di bangku penonton sambil bertepuk tangan dengan hebohnya.
"JANGAN KASIH KENDOR, SYA!" teriak siswa yang satunya saat Maisya mendribble bola kearah ring lawan.
"AWAS SYA DI BELAKANG LO!!" teriak siswa yang duduk di pinggir lapangan.
"WOY, JANGAN MAIN KASAR DONG SAMA BEBEB GUE!" teriak seorang pria tak terima saat Maisya terjatuh karena permainan yang tidak sportif.
Dan masih banyak lagi berbagai teriakan dengan beragam ekspresi yang mereka tunjukkan hanya untuk satu nama, yaitu Maisya.
Sedangkan para siswi menutup telinga mereka kala mendengar teriakkan para makhluk pecinta Maisya. kalau pun mereka berteriak, sudah tentu pasti akan kalah jika dibandingkan dengan mereka kaum pria.
Di sisi lain, Maisya yang sempat terjatuh menepi kepinggir lapangan ketika water break untuk mengobati lututnya yang terluka akibat jegalan dari lawan mainnya.
"Lo nggak papa, Sya?" ucap Leon si captain basket. Cowok yang selalu menyatakan cintanya namun berkali-kali di tolak Maisya.
"Nggak papa kok." balas Maisya sambil membalut lukanya.
"Ke UKS aja ya, biar lo di gantiin sama yang lain," Leon berjongkok memperhatikan luka Maisya.
"Nggak perlu, gue masih sanggup kok. Lagian entar lagi juga selesai, kan?"
"Yuk balik kelapangan, waktu istirahat udah selesai." timpalnya.
Setelah selesai membalut lukanya, Maisya dan Leon kembali ketengah lapangan dan melanjutkan permainan mereka yang sempat tertunda karena waktu.
Saat ini permainan cukup sengit diantara dua kubu yang saling memperebutkan skor. Tidak ada permainan yang sportif yang mereka lakukan, kini waktunya Maisya beraksi untuk membalas perlakuan yang mereka lakukan kepadanya beberapa waktu lalu.
Dengan gerakan gesit dan lincah, Maisya berlarian kesana-kemari mencari partner yang cocok untuk menangkap bola saat ia menyadari bahwa dirinya mulai terkepung oleh lawannya dari segala sisi hingga tak ada celah untuknya bisa lolos.
Saat situasi tak memungkinkan, sambil mendribble bola, Maisya menatap fokus ke depan tepat ke arah Ring basket lawan. Dengan gerakan memutar, Maisya mencoba untuk menghindar ketika lawan hendak merebut bola yang ada di tangan.
Tanpa berpikir panjang, Maisya yang melihat waktu hampir usai, ia melompat setinggi yang ia bisa, dan langsung menembakkan bola itu kedalam ring yang jaraknya lumayan jauh. Namun dengan keyakinan sepenuh hati, akhirnya bola yang Maisya tembakan tepat sasaran dan...... MASUK.
Bersamaan dengan itu terdengar bunyi Pluit panjang dari wasit.
"YEAY KITA MENANG!!"
"KEREN LO SYA."
"GOOD JOB SYA!"
Terdengar suara riuh tepuk tangan dan sorak-sorai dari penonton yang menyaksikan pertandingan hingga akhir.
Acara pertandingan telah usai, kini mereka saling bersalaman satu sama lain sebagai tanda persahabatan antar sekolah.
"Selamat ya! Lo hebat juga ternyata, dan maaf untuk yang tadi," ucap seseorang yang mengulurkan tangannya memberi selamat kepada Maisya.
"It's okay. Gue nggak papa kok, dan makasih atas pujiannya." Maisya tersenyum menerima uluran tangan dari lawan mainnya. kemudian Maisya melanjutkan sesi salaman nya kepada lawan mainnya yang lain.
Setelah selesai acara salam menyalami, Maisya berjalan menghampiri kedua sahabatnya yang sudah menunggunya di pinggir lapangan basket.
"Sumpah, Lo tadi keren banget Sya!" puji Andin. Salah satu sahabat Maisya selain Alya.
"Iya keren. Sangking kerennya jadi pengen nutup mulut lo yang nggak ada akhlaknya teriak di telinga gue." omel Alya.
Maisya yang melihat adu mulut antara kedua sahabatnya bukan menengahi, malah menjadi kompor bagi Alya.
"Kalau gue jadi lo, udah blacklist dia jadi temen gue." ucap Maisya melirik kearah Andin.
"Sialan lo."
Andin melemparkan botol minuman kearah Maisya, dan itu tepat sasaran mengenainya. Tak tinggal diam, Maisya yang merasakan sakit di kepalanya pun membalas perlakuan yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
Di sisi lain. Sebuah mobil sport mewah baru saja terparkir di pekarangan sekolah SMA Bunga Darma. Terdengar suara teriakan histeris dari murid terutama para wanita, saat melihat siapa yang baru saja keluar dari dalam mobil mewah tersebut.
Seorang pria berpenampilan begitu sexi dengan mengenakan celana hitam panjang berbahan kain yang dipadukan dengan kemeja biru muda yang membalut tubuh atletisnya, dengan kedua tangan di gulung hingga siku dan kancing baju yang di biarkan terbuka satu di bagian atasnya. Dan tidak lupa ia memakai jam tangan serta kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Pria itu berjalan dengan santainya hingga membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona oleh ketampanan dirinya.
Sementara di lain tempat.
"Eh, berhenti-berhenti. udah dong jangan kayak bocah Napa?" ucap Alya yang melerai pertikaian antara Maisya dan Andin.
"Tuh liat, ada apa rame-rame!" tunjuk nya kearah kerumunan.
Seketika keduanya menghentikan pertikaian yang terjadi. "Palingan juga anak-anak itu pada mau balik." ucap Maisya menunjuk salah satu anak basket yang menjadi rival nya barusan.
"Oh," jawab keduanya kompak.
"Eh tunggu! Kayak nggak mungkin deh karena anak SMA Tunas Bakti?" ucap Alya menyebutkan nama sekolah dari anak basket yang bertanding dengan sekolah nya.
"Atau jangan-jangan?" ucap Andin terhenti saat ia sedang memikirkan sesuatu. "Anjir, gue lupa!" sambungnya sambil memukul pundak Maisya dengan sekuat tenaganya.
Setelah menyadari siapa yang datang, Andin berlari ke arah yang menjadi tujuannya. Namun sayang, ia harus kembali berurusan dengan Maisya.
"Woy, tunggu! Sialan lo!"
Teriak Maisya sambil berlari mengejar Andin. Maisya yang melihat bola basket menghentikan langkahnya, kemudian ia mengambil bola tersebut dan melemparnya kearah Andin, "MAMPUS LO!" teriaknya.
BUGHH!!
"Shitt." umpat seseorang.
Sementara Maisya yang melihat tembakannya meleset menelan salivanya dengan susah payah, "Mampus. Mati gue," monolog nya sendiri.
Melihat seseorang yang sedang menahan sakitnya, Maisya segera menghampiri orang tersebut yang sudah dikerumuni banyak orang. Termasuk Andin dan guru yang melihat kejadian itu.
"Anda tidak apa-apa pak?" tanya seorang guru yang membantunya.
"Hem" jawab pria itu singkat.
Maisya yang baru sampai langsung membelah kerumunan. "Maaf pak, saya nggak--" ucap Maisya terhenti saat melihat siapa orang yang ia lukai barusan.
Begitupun dengan pria yang semula menundukkan kepalanya karena pusing, kini saat mendengar suara yang ia kenal langsung mengangkat wajahnya.
"OM. LO!" teriak keduanya bersama. Sementara Maisya semakin sulit untuk menelan ludahnya yang tersangkut di dalam tenggorokan.
Maisya yang menyadari akan situasi yang ada, dengan segala keberanian yang ia punya Maisya berbalik badan dan hendak lari. Namun sayang, tangannya sudah dicekal terlebih dahulu.
"Mau kemana lo? Tanggung jawab." tegas pria itu.
Maisya membalikkan tubuhnya."Sorry om, gue nggak sengaja."
"Jangan panggil gue om. Gue bukan om lo, ngerti!" geram pria yang di panggil om. pria itu adalah Zifran.
"Cepetan tanggung jawab."
"Tanggung jawab apaan?"
"Ya tanggung jawab karena Lo udah ngelempar kepala gue pake bola."
Selagi keduanya beradu mulut, seluruh manusia yang ada di sekitarnya hanya bisa menyaksikan drama yang sedang berlangsung secara live.
Hingga suara seseorang menghentikan keduanya, "Anda tidak papa, pak? Maaf atas ketidak nyamanan yang di lakukan oleh murid kami. Sekali lagi saya minta maaf," ucap kepala sekolah yang baru saja tiba. Zifran tidak berkata sepatah pun.
"Mari pak, saya antar keruangan Bapak."
Akhirnya Zifran mau menuruti permintaan kepala sekolah. Namun sebelum itu, "Suruh dia keruangan saya!" Zifran berjalan sambil melirik kearah Maisya.
"Baik pak!" jawab kepala sekolah yang menatap Maisya sambil menggerakkan kepalanya kearah kanan seakan berkata 'ikut saya'. Begitulah kira-kira.
Dengan berat hati Maisya pun mengikuti kepala sekolah yang membawanya entah kemana. Dan seluruh siswa dan siswi maupun guru kembali ke tempatnya masing-masing. Namun berbeda dengan kedua sahabat Maisya, mereka mengikuti Maisya sampai di depan pintu ruangan yang di tuju.
Maisya yang baru pulang sekolah langsung memarkirkan motor di garasi. Maisya berjalan dengan langkah gontai setiap kali ia menatap kearah pintu yang dahulu selalu terbuka lebar untuk menyambutnya kini seakan tak berpenghuni.
Maisya menarik nafas dalam-dalam lalu ia membuangnya kasar, "Huh!"
Perlahan Maisya masuk ke dalam rumah dan langsung menaiki tangga menuju kearah kamarnya.
Maisya yang merebahkan tubuh di atas kasur king size kesayangan sambil menikmati kesendirian yang selalu menemani dirinya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu kamar mengalihkan pandangan Maisya.
"MASUK!" teriaknya.
Ceklek..
Pintu kamar Maisya terbuka, menampilkan wanita paruh baya yang tengah berdiri diambang pintu.
"Masuk aja Bi! Ada apa?" tanya Maisya baru bangun dari rebahannya, melihat Bibi menghampiri.
"Non Sasa mau makan sekarang atau mandi dulu?" tanya wanita paruh baya yang di panggil 'Bi' oleh Maisya.
Jangan heran dengan nama Sasa yang ditujukan untuk Maisya. Sejak Maisya kecil, Bi 'Nana' itu nama wanita paruh baya yang selalu merawat Maisya dan selalu memanggilnya dengan sebutan Sasa sebagai nama kesayangan untuk Maisya.
"Papa udah pulang Bi?" Bukannya menjawab Maisya malah balik bertanya.
"Belum Non, mungkin sebentar lagi," jawab Bik Nana seadanya.
"Hemm." Maisya menghembuskan nafasnya berat. "Selalu aja," gumamnya.
Maisya turun dari ranjangnya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan Menganti seragam sekolahnya.
Maisya menuruni anak tangga menatap hampa kearah pintu utama. Berharap sang Papa pulang dan menikmati waktu bersamanya. Namun, semua itu hanya khayalan yang entah sampai kapan ia nikmati.
Srettt.
Maisya menarik kursinya untuk ia duduki.
"Non Sasa mau makan apa biar Bibi yang ambilin," tawar Bik Nana.
"Nggak usah Bi, Sasa bisa sendiri kok Bi," tolak Maisya.
"Bi Nana makan juga ya, temenin Sasa," timpalnya.
"Tapi Non... Bibi harus beresin dapur terlebih dahulu."
"Ya udah kalau gitu, Sasa nggak jadi makan," ancam Maisya.
"Aduh, jangan ngambek Non. Ya udah nih Bibi nemenin Non Sasa makan, tapi jangan ngambek lagi ya?" ucap Bik Nana mengalah.
Maisya tersenyum penuh kemenangan setelah Bik Nana akhirnya pasrah dengan ancaman yang ia ucapkan.
Di waktu yang sama. Namun berbeda tempat.
Tap tap tap...
Terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang menuju kearah dapur untuk mengejutkan Mama nya yang tengah di sibukkan dengan adonan kue yang hendak dimasukkan kedalam oven.
Pria itu adalah Zifran. Dengan langkah mengendap-endap Zifran menghampiri sang Mama yang berdiri membelakanginya.
Namun naas, sebelum ia melakukan aksinya tiba-tiba saja sebuah panci mendarat mulus di dahi Zifran,
Tuenggg...
(anggap aja bunyi panci yang dipukul)
Zifran memegangi dahinya yang terasa amat sangat sakti dan menatap sang pelaku utamanya.Dan pelakunya adalah Mamanya sendiri.
"Sakit?" tanya Mamanya dengan nada meledek.
"Seket?" ucap Zifran menye-menye. "Ya sakit lah! Kalau mukul kira-kira dong Ma." timpalnya ngegas.
"Makanya kalau pulang itu jangan suka ngagetin Mama dong, kamu mau Mama mati muda?" omel Mama.
Mama Sarah membawa Zifran duduk di kursi yang ada di dapur dan mendudukkan tubuhnya di sana.
Mama Sarah datang membawa baskom berisi air hangat dan memberikannya kepada Zifran. "Nih, kamu obati sendiri, di kompres yang bener biar memarnya berkurang," ucap Mama dengan nada judesnya.
"Kok bisa sih Papa yang lembut dan penyayang dapat istri galak bener," gumam Zifran lirih. Namun masih bisa didengar.
"Ngomong apa kamu barusan?" sentak sang Mama yang mendengar gerutuan Zifran.
"Nggak ada. Ngomong apa aku emangnya?" elak Zifran.
"Tau ah. Mama malas untuk berdebat sama kamu!"
Setelah itu Mama kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama setelah itu, terdengar suara dekheman tepat di belakang Mama Sarah, Mama Sarah kemudian berbalik dan menatap wajah siapa yang ada dihadapannya saat ini.
"Papa. udah pulang?" ucap Mama Sarah.
"Tentu saja sudah. kalau belum, mana mungkin Papa ada dihadapan Mama." balas papa Arya dengan senyuman.
Zifran yang mendengar ucapan sang Papa akhirnya bersuara, "Uuuhh, romantisnya papaku!" seru Zifran.
"Makanya kamu cepetan menikah, udah tua juga," saut sang Mama.
Mendengar kata 'Menikah' dari sang Mama, tiba-tiba saja mood Zifran yang awalnya baik-baik saja seketika berubah.
"Nggak usah ngomong nikah, kalau ujung-ujungnya di jodohkan," sungut Zifran.
"Nggak usah kayak cewek baperan!" balas Mama Sarah.
"Tau ah! Aku mau ke kamar dulu males lama-lama disini," ucap Zifran yang melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.
Sementara itu, Papa dan Mama yang melihat tingkah Zifran saling memandang satu sama lain, sambil mengangkat kedua bahu mereka bersamaan.
****
Di sebuah ruang keluarga. Seorang gadis remaja yang dalam sepi malam masih setia menunggu sang Papa yang belum juga pulang.
Gadis itu menatap ke arah jam yang bertengger indah di hadapannya, ternyata jam itu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Hampir tiga jam sudah Maisya menunggu kepulangan Papanya. Namun semua itu serasa percuma saat papanya tak kunjung datang.
Dengan perasaan kecewa Maisya menutup kembali kotak kue yang sempat ia beli beberapa waktu lalu, Maisya berjalan dengan langkah gontai.
Sesekali ia menghapus jejak air mata yang tidak sengaja luruh begitu saja tanpa ia minta. Di hari ulang tahun Papanya, Maisya mencoba memberikan sedikit kejutan untuk sang Papa. Tetapi rasa kecewa lah ia dapat.
Di kamar Maisya menjatuhkan tubuhnya di kasur kesayangannya sambil memandang ke arah langit-langit kamarnya.
Larut dalam lamunannya, Maisya tersentak ketika suara panggilan telepon terdengar nyaring tepat di sebelahnya.
Kemudian Maisya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya. Di gesernya ikon berwarna hijau sebagai tanda panggilan diterima.
"Ada apa kak?" ucap Maisya sedikit ketus.
"Kamu kenapa, kok jutek gitu sih? Ada masalah? Cerita sama kakak," ucap seseorang dari sambungan telepon.
"Nggak ada kok. Kak Dion sibuk nggak?" tanya Maisya.
"Nggak! Kenapa?" balas Dion.
Dion adalah kekasih Maisya. Mereka berpacaran sudah sudah tahun lamanya. Dion itu mahasiswa di salah satu kampus terkenal di Jakarta. Dan dia jiga yang selalu membuat Maisya tersenyum di saat sang Papa mengabaikan gadis itu.
"Jalan-jalan yuk! Kan udah lama kita nggak jalan malem, mau nggak?" tawar Maisya.
"Ya udah, Kakak jemput sekarang!"
"Jangan lama-lama."
"Iya-iya, bawel banget sih,"
"Aku tunggu. Bye."
Tut!
Setelah memutuskan panggilan telepon. Maisya berjalan ke arah cermin untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan tak lupa ia juga memoles wajahnya senatural mungkin agar terlihat lebih fresh untuk menutupi jejak kekecewaan yang baru saja ia alami.
Tinn...tinnn!
Suara klakson motor dari luar membuat Maisya yang baru menuruni anak tangga terakhir berjalan cepat menuju pintu utama.
"Udah siap?" tanya Dion kekasih Maisya.
"Yuk kak! Entar keburu malem," Ucap Maisya yang sudah nangkring di jok belakang.
"Pake dulu nih helm nya!" seraya memberikan helmet yang ia pegang kepada Maisya.
"Terimakasih, kak!" ucap Maisya menerima pemberian Dion.
BRUMMM....
Suara deru motor sport yang membelah jalanan ibukota yang ramai di malam hari.