Brak!!
Pintu ruangan itu terbuka dan muncullah seorang wanita cantik berambut pendek dan dibelakangnya ada dua orang yang mengiringinya.
Wanita itu berjalan mendekat ke arah seorang pria yang tengah duduk di meja kebesarannya.
“Selamat sore La Rossa, apa khabar?” sapa pria itu ramah.
“Jangan basa basi berikan uangnya,” ucap La Rossa dingin.
“Tidak bisakah kamu santai sejenak Ross?” tanya pria itu dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
“Cepat berikan uangnya sekarang!” ucap La Rossa dengan nada penuh penekanan.
“Ambilkan uangnya Daniela!” perintah pria itu pada asistennya yang tengah berdiri disisi kirinya.
Daniela lalu beranjak pergi dari sisi pria itu, dan kemudian membuka lemari brangkas yang ada di ruangan itu. Daniela membawa setumpuk demi setumpuk uang dari dalam brangkas lalu meletakkannya di atas meja pria itu.
“Silakan hitung uangnya La Rossa!” perintah pria itu sambil menyodorkan setumpukan uang itu ke hadapan La Rossa.
Lalu La Rossa memberi kode orang yang ada di belakangnya, mereka berdua pun maju kehadapan meja pria itu, mereka memasukkan semua uang itu ke dalam sebuah koper kecil.
Saat uang terakhir akan dimasukkan tiba-tiba La Rossa menghentikan mereka.
“Stop!” perintah La Rossa, membuat ke dua orang itu menghentikan gerakkannya.
La Rossa mengambil ikatan uang terakhir itu, lalu melemparkannya ke wajah pria itu.
“Jangan menipuku! Uang itu palsu, dan jumlahnya juga kurang!!” ucap La Rossa dengan suara lantang.
“Bagaimana bisa? Aku sudah menghitungnya semalam dan jumlahnya cukup!” kata pria itu sambil meraih segepok uang yang La Rossa lemparkan kewajahnya.
Pria itu memeriksa uang itu dan menghitung ulang yang ternyata benar uang itu kurang 5 lembar dan ada yang palsu juga.
‘Tapi bagaimana La Rossa bisa tahu kalau uangnya kurang’ gumam pria itu lirih.
“Jangan pernah menipuku, cepat berikan sisa uangnya!” perintah La Rossa dengan nada marah dan penuh penekanan.
Daniela dengan tangan gemetaran menyerahkan sisa uangnya, ia mencukupi kekurangan uangnya dan mengganti uang palsu itu dengan yang asli.
“La Rossa matamu sungguh jeli, ternyata rumor itu bukan omong kosong, wanita kejam berdarah dingin itu memang pantas kamu sandang,” ucap pria itu sambil tersenyum kagum pada La Rossa.
Namun La Rossa menanggapinya dengan dingin, ia berlalu pergi begitu saja dari hadapan pria itu, tapi kemudian langkahnya terhenti. Ia menatap tajam ke arah Daniela lalu ia pun membalikkan badannya dan menghampiri Daniela.
Daniela yang tiba-tiba didekati oleh La Rossa ketakutan. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetaran, tangannya saling bertautan.
La Rossa mengangkat dagu Daniela dengan ujung jari telunjuknya, ia menatap tajam tepat menembus kedalam retina Daniela.
“Jangan pernah mengulanginya lagi, atau kamu dalam bahaya!” ujar La Rossa dingin.
Lalu ia pergi dari ruangan itu bersama dengan ke dua orang pengikutnya, La Rossa meninggalkan area gedung perkantoran itu.
Tibalah mereka disebuah cafe yang sudah disepakati bersama dengan cliennya. La Rossa masuk kedalam cafe itu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu dan ia menemukan seorang wanita paruh baya tengah minum secangkir teh.
La Rossa menghampiri wanita itu, lalu ia duduk di kursi tepat di seberang wanita itu. La Rossa menyerahkan koper itu kepada wanita itu.
“Sesuai perjanjian dan waktu yang sudah ditentukan, silakan periksa.” Ucap La Rossa sambil menyodorkan koper itu.
Wanita itu membuka koper itu lalu ia tersenyum senang.
“Tak sia-sia aku membayarmu mahal, cara kerjamu sesuai dengan bayarannya. Aku akan mentransfer sisa pembayarannya” ucap wanita itu.
“Atur saja!” kata La Rossa dingin.
Lalu ia pun beranjak dari hadapan wanita yang sudah menyewa jasanya itu.
Ia kembali ke apartemennya, sesampainya di apartemen La Rossa langsung masuk kamar mandi. Setelah mandi lalu ia memakai baju santai, baru juga ia duduk di depan meja kerjanya, handphonenya berdering.
“Hallo, ada apa Jhon?” tanya La Rosaa.
“Ada misi untukmu,” ucap Jhonny, dari seberang telpon.
“Apa misinya?” kembali La Rossa bertanya pada Jhonny dengan nada dingin dan datar.
“Membunuh orang,” kata Jhonny.
“Aku tahu! Bukankah itu pekerjaanku? Sejak kapan kamu jadi bego Jhon?” tanya La Rossa.
“Dan sejak kapan kamu begitu berani padaku, Ros?” Jhonny balik bertanya pada La Rossa.
“Katakan siapa targetnya?” tanya La Rossa tidak sabar ingin mengetahui target misinya.
“Aku akan kirim filenya sekarang,” kata Jhonny.
Lalu La Rossa langsung mematikan sambungan telponnya, hal itu membuat Jhonny menggerutu kesal di seberang sana.
“Ish! Selalu saja begini, dasar cewek dingin nggak punya aturan dan perasaan,” gerutu Jhonny kesal.
Lalu Jhonn pun mengirim file itu ke La Rossa melalui e-mail. Sementara itu di tempatnya La Rossa, ia membuka file yang Jhonny kirim, ia membaca dan mempelajari misi yang Jhonny berikan.
La Rossa mengamati targetnya, ternyata ia seorang pria yang memiliki cacat mental alias idiot. Wajahnya bagaikan monster, disebelah kanan wajahnya memiliki bekas luka bakar, bahkan matanya tak memiliki bola mata. Kakinya lumpuh, ia mengenakan kursi roda, dari keterangan yang La Rossa dapat ia tidak pernah meninggalkan mansionnya selama hidupnya. Ia adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis milik mendiang orang tuanya, sebuah kerajaan bisnis terbesar se-Asia Tenggara, yaitu SKYLINE
Selama ini yang memegang bisnis milik orang tuanya adalah pamannya, adik tiri satu-satunya dari ayahnya. Karena sang pewaris tidak memiliki kemampuan untuk memimpin kerajaan bisnis milik orang tuanya, maka pamannyalah yang menjalankan bisnis itu.
‘Jika ia seorang idiot dan cacat, lalu kenapa ada orang yang menginginkan nyawanya? Bukankah dia adalah orang yang tidak berguna?’ Gumam La Rossa sambil terus menatap sang target.
Lalu La Rossa pun menghubungi Jhonny melalui telpon selularnya.
“Bagaimana? kamu terima La Rossa?” tanya Jhonny, langsung menanyakan kesanggupan La Rossa.
“Aku ambil!” jawab La Rossa dengan nada tegas.
“Ok! Besok berangkat,” kata Jhonny.
“Aku akan mempersiapkan semuanya,” sambung Jhonny
“Ok!” jawab singkat La Rossa.
“Aku akan mengirim alamatnya,” kata Jhonny.
“Setelah kamu sampai di Indonesia,” sambung Jhonny
“Baik!” Kata La Rossa singkat.
Lalu La Rossa kembali memutuskan sambungan telponnya, ia berkemas. Besok pagi ia akan terbang kembali ke negaranya. Setelah berkemas La Rossa meraih sebuah kotak yang berisi kalung, yang selalu ia simpan di laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya, ia memandangi kalung itu.
'Sudah saatnya aku membalaskan kematian kalian, aku kembali,' gumam La Rossa lirih.
Tak terasa air mata La Rossa menetes, ia merasa sangat sedih setiap kali melihat kalung itu.
Keesokan harinya La Rossa pergi meninggalkan apartemennya menuju bandara dengan langkah tegap ia memasuki bandara. La Rossa tiba di bandara Changi Airport, ia akan melakukan penerbangan dari Singapoer ke Indonesia.
Setelah melakukan penerbangan selama beberapa jam, tibalah La Rossa di bandara internasional Soekarno Hatta, ia berjalan menuju pintu keluar. Ia menyewa sebuah taxi menuju sebuah hotel yang telah Jhon siapkan.
Sesampainya La Rossa di hotel, ia langsung membersihkan diri karena merasa seluruh tubuhnya lengket. La Rossa berendam untuk menyegarkan diri, lalu membilas tubuhnya di bawah guyuran shower.
La Rossa keluar kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melilit diatas dadanya, suara ponsel berdering, ia pun mengangkat panggilan itu. Suara Jhon terdengar dari seberang telpon.
“Aku sudah mengirim alamatnya, lakukan malam ini juga!” perintah Jhon.
“Ok!” jawab singkat La Rossa.
“Sediakan aku motor Ninja H2,” ucap La Rossa pada Jhon.
Tanpa menunggu persetujuan dari Jhon ia langsung menutup sambungan telpon itu. kemudian La Rossa bersiap untuk mendatangi sang target, ia mengecek alamat yang Jhon berikan padanya. Lokasi itu terletak dipinggiran kota, ini sangat memudahkannya.
Setengah jam kemudian pintu kamar ada yang mengetuk, La Rossa membuka pintu kamarnya, ia melihat seorang pria berkaos hitam dengan tubuh yang kekar. Ia menyerahkan sebuah kunci motor pada La Rossa, tanpa sepatah kata pun, ia langsung membalikkan badannya dan pergi dari hadapan La Rossa.
La Rossa menyimpan kunci itu di atas nakas, ia Kembali merapikan peralatan yang akan dibawanya. Setelah semuanya siap ia meletakkan tas rangsel berwarna hitam itu dilantai, ia kemudian merebahkan tubuhnya.
Sekali lagi ia melihat targetnya melalui layar handphone miliknya, ia mengamati dengan detail wajah sang target, ‘sebenarnya wajahnya cukup lumayan, tapi apa yang terjadi dengan wajah sebelahnya, seperti sebuah luka bakar. Apa ia pernah mengalami kejadian yang menyebabkan luka diwajahnya membekas dan terlihat seperti monster?’ gumam La Rossa lirih, ia terus menatap target.
‘Sungguh miris nasibmu, seorang pewaris tunggal kerajaan bisnis terbesar se-Asia Tenggara harus mengalami kematian dengan tragis ditanganku,’ Kembali La Rossa bergumam dengan penuh rasa percaya diri, karena ia selalu berhasil dalam menjalankan misinya.
La Rossa terus menatap wajah targetnya, ia merasa wajah itu begitu familiar, tapi ia lupa dimana La Rossa pernah bertemu atau melihatnya. Ia memilih untuk menutup layar ponselnya dan meletakkannya begitu saja di sampingnya. La Rossa memejamkan matanya, ia akan beristirahat sejenak sebelum melakukan aksinya.
Malam kian beranjak semakin larut, La Rossa terbangun tepat jam 00.00 WIB. Ia menenteng ranselnya dan menyematkan di pundaknya. Ia keluar dari kamar hotel menuju parkiran, La Rossa meninggalkan hotel dengan mengendarai sepedah motor dengan kecepatan tinggi.
Setelah menempuh perjalanan menyusuri jalanan ibu kota menuju ke pinggiran kota, tiba lah La Rossa di sebuah rumah mewah namun terlihat tua yang letaknya cukup jauh dari keramaian. Ia memarkirkan motornya kemudian ia berjalan kebelakang rumah, sebuah tembok tinggi mengitari rumah itu.
La Rossa melempar tali yang telah ia siapkan sebelumnya, kemudian ia memanjat tembok itu dan melompat turun masuk ke pelataran belakang rumah, ia berlari mendekat ke rumah tua itu.
Rumah itu cukup besar dan luas, semua jendelanya terbuat dari kaca. La Rossa mencari letak kamar target, setelah mengitari rumah itu akhirnya ia menemukan kamar Gilbert sang target yang letaknya di lantai atas.
La Rossa Kembali melempar tali di pagar balkon kamar, ia memanjat dan kemudian mendarat dengan sempurna di atas balkon.
La Rossa mencongkel jendela kamar Gilbert, ia melihat target tengah tertidur lelap. Tanpa menunggu lama La Rossa langsung mengarahkan belatinya tepat ke jantung Gilbert. Tanpa disangka Gilbert menangkap lengan La Rossa.
Gilbert membuka matanya, ia menatap langsung kedalam retina La Rossa. Pandangan mereka bertemu dan lama saling menatap, La Rossa sadar dan langsung menyerang Gilbert dengan belatinya. Gilbert menghindari serangan La Rossa dengan gesit.
Ia tidak ada tanda-tanda seperti orang lumpuh, La Rossa terkejut Ketika mengetahui ternyata targetnya seorang ahli bela diri dan tidak lumpuh.
“Ternyata kamu tidak lumpuh?” ucap La Rossa dingin.
“Menurutmu?” jawab Gilbert tak kalah dingin.
“Kamu actor yang hebat, mampu mengelabui semua orang,” Kembali La Rossa berucap dengan nada yang dingin dan datar tanpa emosi dan ekspresi.
“Kalau aku tidak melakukan peranku dengan baik, sudah lama aku berpindah tempat ke alam baka,” ujar Gilbert.
“Jadi selama ini kamu tahu siapa yang ingin mencelakaimu bahkan menginginkan nyawamu?” tanya La Rossa menyelidik.
Gilbert tidak menjawab pertanyaan La Rossa, ia kembali menatap ke dalam mata La Rossa. ‘Sorot mata itu,’ batin Gilbert.
Perkelahian diantar mereka terdengar oleh Jonathan, orang yang selalu ada di samping Gilbert. Jonathan menerobos masuk kedalam kamar Gilbert dan langsung membantu Gilbert dengan menyerang La Rossa.
La Rossa yang mendapatkan serangan dari dua sisi mulai kewalahan, Jonathan merebut belati yang ada di genggaman La Rossa lalu mengarahkan ke perutnya dan La Rossa yang tidak sempat menghindar tertusuk tepat di perutnya. Darah menyembur dari luka itu.
La Rossa menahan keluarnya darah dari luka tusuk itu dengan menekannya menggunakan sebelah tangannya. Jonathan tidak merasa puas kalau hanya melukainya saja, ia pun Kembali menyerang La Rossa dengan mengarahkan belati ke jantungnya, dengan cepat La Rossa menghindar dan menedang tepat di perut Jonathan.
Melihat ada peluang untuk kabur, La Rossa langsung berlari keluar dari jendela dan melompat dari lantai dua ke bawah, La Rossa mendarat di tanah dengan berguling.
Ia berlari menembus gelapnya malam dan meraih tali yang ia tinggalkan di belakang rumah, lalu ia memanjat tembok dan melompat, kali ini ia tidak mampu mendarat dengan mulus karena harus menahan luka di perutnya. Kakinya pun terkilir, ia berdiri dan berjalan dengan tertatih dan menyeret langkah kakinya.
La Rossa menghampiri motornya dan langsung melajukannya dengan kecepatan yang sangat tinggi, ia Kembali ke hotel.
Baru saja ia akan membersihkan lukanya, ia sudah mendapat panggilan telpon dari Jhon. La Rossa tahu kalau ia telah gagal menjalankan misinya.
“Hallo,” sapa La Rossa.
“Ros, apa yang terjadi?” tanya Jhon.
“Kamu tahukan kalau aku sudah gagal menjalankan misiku?” tanya La Rossa dingin.
“Aku tidak ingin kehilanganmu Ros,” ucap Jhon dengan nada sedih.
La Rossa terdiam, ia tahu akibat dari kegagalan maka nyawa adalah taruhannya, sebagai anggota dari kelompok pembunuh bayaran Vangsed yang terkenal di hampir seluruh belahan dunia.
"Ini semu akibat dari salah...," La Rossa menghentikan ucapannya. "Apa?" tanya Jhon penasaran dengan ucapan La Rossa yang menggantung.
"Tidak ada," jawab La Rossa singkat.
"Jaga dirimu Jhon dan menikahlah! Tidak baik menjomblo selamanya," ujar La Rossa.
La Rossa menutup sambungan telpon itu, ia menyingkap baju bagian bawahnya. La Rossa menatap luka diperutnya begitu dalam dan panjang, darah terus mengalir dari luka itu.
Saat La Rossa akan meraih kotak obat, pintu kamarnya ada yang menggedor dan ia pun mengurungkan niatnya.
La Rossa membuka pintu kamarnya, ia melihat empat orang yang berpakaian serba hitam didepan pintu dan Jleb! Sebuah pisau menancap tepat diperutnya dengan kecepatan kedipan mata saja.
La Rossa terhuyung kebelakang dan ia pun jatuh tersungkur dengan bersimbah darah.
Ke empat orang itu pergi begitu saja saat melihat La Rossa ambruk dan tidak bergerak lagi.
"Apa yang terjadi?" gumam pria bertopeng perak, seraya menghampiri La Rossa yang tergeletak dilantai.
Ia langsung membopong tubuh La Rossa dan menghilang dari pandangan.
Pria bertopeng itu membopong La Rossa dipelukannya, ia terus berlari menyusuri lorong kamar hotel dan keluar menuju parkiran basement hotel. Ia masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Lalu ia tiba disebuah Rumah Sakit, ia masuk melalui jalur khusus sambil membopong La Rossa dipelukannya, sorot matanya menunjukan kalau ia merasa cemas dengan keadaan La Rossa.
"Cepat siapkan ruang operasi, mana dr. Lucas?" tanya pria itu masih dalam posisi membopong La Rossa dalam pelukannya.
"Maaf tuan, dr. Lucas sedang cuti," jawab seorang perawat yang sedang berjaga.
Pria itu meletakkan La Rossa dibrangkar dalam ruang operasi sebuah Rumah Sakit ternama di Ibu Kota. Ia terlihat sangat ditakuti oleh para pegawai Rumah Sakit. Pria itu meraih handphonenya dari balik jubah hitamnya.
Ia terlihat sedang mencari sebuah kontak dan tidak lama kemudian ia menyambungkannya kepada orang yang namanya terpangpang dilayar telpon, Lucas nama yang ada dikontaknya.
"Cepat datang ke Rumah Sakit sekarang juga, sepuluh menit!" ucap pria bertopeng itu.
"Kamu gila ya, aku ini manusia bukan Om Jin yang bisa menghilang dalam sekejap mata," ucap seseorang yang ada diseberang telpon.
"Tidak ada penolakan," ujar pria bertopeng lalu menutup sambungan telponnya.
"Beri penanganan pertama pada pasien, kenapa kalian hanya bengong saja. Rumah Sakit ini menggaji kalian untuk bekerja bukan untuk bengong, jika sudah tidak mau bekerja berikan surat pengunduran diri kalian," tegas pria bertopeng itu dengan nada dingin.
Tanpa menunggu instruksi kedua kalinya mereka langsung mengerjakan tugasnya, memberi pertolongan pertama pada La Rossa.
La Rossa masih menutup matanya rapat, sementara pria itu masih berdiri dengan angkuh dan arogannya, sikap dinginnya membuat suasana dalam ruangan itu terasa sangat mencekam. Ia melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah delapan menit berlalu, orang yang ia telpon belum juga kelihatan batang hidungnya.
'Sial kemana sibrengsek itu pergi!' umpat pria bertopeng itu kesal.
Ia gelisah dan merasa sangat khawatir dengan keadaan La Rossa yang mengalami luka tusuk diperutnya. Saat ia tengah merenung datang seorang dokter jaga menghampirinya.
"Permisi tuan, nona kehilangan banyak darah dan butuh transfusi darah ...," ucapan dokter itu terpotong.
"Lakukan yang terbaik," ucap pria bertopeng datar tanpa emosi dengan nada dingin.
"Masalahnya kami kekurangan stock darah AB-, golongan darah ini termasuk langka," ucap dokter itu.
"Cari sampai dapat!" ucap pria bertopeng itu dengan nada tinggi yang membuat dokter itu langsung pergi dari hadapannya tanpa menunggu perintah darinya untuk kedua kalinya. Akan berakibat sangat fatal jika ia mendapatkan perintah untuk yang kedua kalinya, tidak hanya dirinya yang ada dalam bahaya, bahkan keluarganya pun terancam.
Siapa yang tidak mengenal kekejaman pria bertopeng perak dengan ukiran bunga teratai disudut topengnya, selain kejam ia juga sangat dingin. Semua karyawan Rumah Sakit akan memilih menghindarinya jika bertemu atau berpapasan dengannya.
Tidak ada yang tahu wajah asli pria bertopeng itu, yang mereka tahu ia adalah pemilik dari beberapa Rumah Sakit terbesar dan terbaik yang ada di Ibu Kota.
"Ada apa?" tanya Lucas dengan nafas yang tersengal-sengal akibat ia berlarian disepanjang lorong Rumah Sakit.
"Cepat lakukan perawatan untuk gadis yang ada diruang operasi itu, aku tidak mau menerima kata gagal!" ucap pria itu dingin.
"Aku bukan Tuhan!" tegas Lucas.
"Lakukan saja yang terbaik!" balas pria bertopeng itu dingin.
"Huh! Kebiasaan selalu saja semaunya sendiri, masih saja sama tidak pernah berubah," dengus Lucas kesal dengan perintah pria bertopeng itu.
"Lakukan saja! Keluarkan semua kemampuanmu untuk menyembuhkannya, untuk apa menyandang gelar Dokter terbaik jika kamu tidak mau menyelamatkan nyawanya," cibir pria bertopeng itu.
"Kebiasaan selalu saja membawa-bawa gelar untuk mengancamku," ujar Lucas sambil pergi dari hadapan pria bertopeng itu dan memasuki ruang operasi.
Lucas melihat sudah banyak Dokter dan Perawat dalam ruang operasi itu, ia hanya menggelengkan kepalanya saja sambil menghampiri kerumunan para Dokter terbaik yang ada di Rumah Sakit ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Lucas.
Kerumunan itu memberi ruang untuk Lucas ketika mereka mendengar suaranya, Lucas maju kedepan dan ia melihat seorang gadis tengah terbaring dengan mata yang terpejam. Ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat dan ada semburat senyuman dibibirnya,
Kini ia paham kenapa pria bertopeng itu mendesak dirinya untuk menanganinya. Lucas memeriksa gadis itu dia sangat terkejut ketika melihat luka yang panjang dan sangat dalam diperut gadis itu. Ususnya hampir keluar dan darah terus mengalir dari luka yang menganga itu.
Ia lalu melakukan operasi dan meminta Dokter yang lainnya untuk membantunya, rupanya La Rossa tidak hanya mengalami luka tusuk saja, ia juga mengalami gejala keracunan.
"Dok, pasien ini tidak hanya kehilangan banyak darah tapi ia juga keracunan, dan racun itu sudah hampir menyebar keseluruh darahnya,
" ucap salah satu Dokter yang ada di ruangan itu.
"Kalian sudah menetralkan racunnyakan?" tanya Lucas.
"Sudah, hanya saja kami mengalami kendala yaitu tidak adanya stock darah AB-, kami sudah menghubungi beberapa Rumah Sakit dan mereka tidak memilikinya," ucap dokter itu menjelaskan kondisi pasien.
"Apa tidak tersisa sedikit pun?" tanya Lucas.
Mereka semua menggelengkan kepala, raut wajah mereka sudah menampakkan kekhawatiran yang tak bisa dilukiskan.
Mereka semua sudah membayangkan hal terburuk yang akan terjadi pada mereka, saat semuanya tengah tegang dan khawatir, pintu ruang operasi terbuka dan datang lah seorang dokter dengan wajah lelahnya.
Ia menenteng kantong darah ditangannya. Melihatnya membawa kantong darah semua orang bernafas lega, tanpa menunggu lama lagi mereka melakukan operasi pada La Rossa, jika tidak cepat ditangani taruhannya adalah nyawa.
Dua jam sudah mereka berkutat diruang operasi dan akhirnya dengan wajah yang lusuh Lucas keluar dari ruang operasi dan memberi khabar prihal kondisi La Rossa pada pria bertopeng itu.
"Bagaimana?" tanya pria bertopeng itu dengan nada cemas dan khawatir.
"Semuanya lancar, tapi___"
"Tapi apa?" tanya pria bertopeng itu dengan tidak sabar.
"Tapi dia mengalami koma," ucap Lucas.
"Apa maksudmu dengan koma?" kembali pria bertopeng itu bertanya cemas.
"Siapa dia?" tanya Lucas, "Kenapa kamu begitu mencemaskannya?"
"Bukan siapa-siapa," jawab dingin pria bertopeng.
"Ayolah, aku tahu siapa kamu, untuk apa menutupinya dariku," desak Lucas.
"Sekarang pindahkan dia keruang VVIP, dan jangan sampai ada seekor lalat pun yang tahu tentang dia," perintah pria bertopeng berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Lakukan saja sendiri!" ujar Lucas dengan nada marah dan kesal, lalu ia pun pergi dari hadapan pria bertopeng itu.
'Huh! Enak saja ia main perintah, kalau bisa lakukan saja sendiri,' dengus Lucas kesal.
Ia pun meninggalkan Rumah Sakit itu tanpa menoleh sedikit pun kebelakang, ia sudah mengenal pria bertopeng itu selama puluhan tahun, jadi dia tidak merasa takut terhadapnya. Hanya segelintir orang saja yang mengetahui identitas asli dari pria bertopeng itu termasuk dirinya.
Ia meminta pada para perawat untuk memindahkannya ke ruangan VVIP dan membawa semua peralatan yang ada diruangan ICU untuk dipindahkan ke ruangan VVIP.
Selama La Rossa koma, ia selalu ada disampingnya. Ia dengan setia menemani La Rossa meski hanya dimalam hari saja.
Satu bulan sudah La Rossa berada dalam perawatan di Rumah Sakit itu, selama itu pula ia belum ada tanda-tanda akan sadar, dan pria bertopeng itu selalu menemaninya dengan setia.
"Cepatlah sadar, apa kamu tidak ingin melihat kembali indahnya dunia?" ucap pria itu lirih ditelinga La Rossa.
"Apa kamu tidak ingin bertemu denganku?" lanjut pria itu bertanya pada La Rossa yang tengah terbaring tanpa bergerak.
"Aku merindukanmu," ucap Pria itu sambil menggenggam erat tangan La Rossa, lalu ia mendekat ke wajah La Rossa.
Ia mencondongkan badannya membungkuk mendekatkan kepalanya ke wajah La Rossa, ia mengelus lembut pipi mulusnya lalu ia juga menyentuh bibir pucat La Rossa dengan ujung jarinya. Ia lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir tipis La Rossa, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Pria bertopeng itu kaget ketika mendengar pintu kamar terbuka dan secara spontan menoleh ke belakang dan ternyata Lucas yang datang, ia telah mengejutkannya.
"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan," kata Lucas sambil melangkah maju menghampiri pria bertopeng.
"Kenapa masuk tanpa mengetuk?" ujar pria bertopeng itu kesal.
"Terserah aku dong!" jawab Lucas dengan santainya.
"Minggir, aku mau memeriksanya," ucap Lucas ketus.
Pria bertopeng itu memiringkan badannya, ia menyingkir dari hadapan La Rossa dan memberi ruang kepada Lucas untuk memeriksa La Rossa.
"Sepertinya ia enggan untuk bangun, kemungkinan terbesar ada sebuah trauma yang membuatnya tidak ingin kembali ke dunia ini," ucap Lucas menjelaskan kondisi La Rossa pada pria bertopeng itu.
"Trauma?" ulang pria bertopeng itu.
"Huum," jawab Lucas singkat.
Pria bertopeng itu mengerutkan dahinya, ke dua alisnya bertaut menjadi satu. Nampak ia tengah berpikir keras.
"Apa yang membuatmu takut untuk kembali ke dunia ini? Apa tragedi itu?" gumam pria bertopeng lirih.
"Aku kesini mau pamit sama kamu, kalau malam ini aku akan pergi ke Amerika dan pekerjaanku dilimpahkan pada dokter Harun," kata Lucas.
"Kenapa mendadak!" ucap pria bertopeng kesal dengan penjelasan dari Lucas.
"Semuanya mendadak, aku juga baru dapat khabar dari Papa barusan, kalau Oma masuk Rumah Sakit," ucap Lucas dengan nada sedih karena Omanya sakit.
"Pergilah!" ucap pria bertopeng.
"Tidak bisakah kamu berubah menjadi seperti dulu lagi, orang yang ku kenal dengan kehangatannya, senyuman itu, aku rindu," ucap Lucas sedih.
"Dia sudah mati! Jangan pernah mengingatkanku tentangnya," pria bertopeng itu marah.
"Tapi ...," Lucas menghentikan ucapannya ketika ia menatap kedalam retina pria bertopeng itu.
Ada kebencian dan kemarahan dalam tatapan matanya, ia menatap tajam ke arah Lucas dengan sorot mata yang penuh dengan amarah.
"Maafkan aku," lirih Lucas dengan nada yang sedih.
Disaat mereka tengah berdebat, La Rossa menggerakkan jari tangannya. "Air," lirihnya.
Lucas yang berada dekat dengan La Rossa mendengar suara lirihnya, ia langsung membalikkan badannya menghadap ke arah La Rossa yang tengah terbaring tak berdaya. Pria bertopeng pun mendekat dan pada saat Lucas akan memberinya minum, tiba-tiba tindakannya dihentikan oleh pria bertopeng.
"Biar aku saja," pinta pria bertopeng.
Lucas menyerahkan botol air mineral yang ada dalam genggamannya pada pria bertopeng dan ia juga mundur kebelakang memberi ruang pada pria bertopeng.
Pria bertopeng itu meraih air mineral dalam botol itu dan meneteskannya pada bibir La Rossa setetes demi setetes menggunakan sedotan, La Rossa yang bibirnya basah mencoba menyesap air itu dengan mata masih terpejam.
Pria bertopeng itu terus memberi La Rossa air melalui sedotan sedikit demi sedikit karena ia masih belum pulih sepenuhnya. Melihat La Rossa menyesap air itu, pria bertopeng menyunggingkan sudut bibirnya, ada binar bahagia dimatanya. Sayangnya Lucas tidak melihat itu.
"Kamu sudah sadar?" pria bertopeng itu bertanya pada La Rossa saat melihatnya membuka kedua matanya.
La Rossa mengerjap-ngerjapkan matanya, ia mencoba untuk mengatur cahaya yang masuk kedalam retinanya.
"Dimana aku?" tanya La Rossa dengan suara lirih dan lemah.
"Kamu ada ditempat yang aman," jawab pria bertopeng.
La Rossa yang sudah mampu melihat dengan jelas mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia melihat sebuah ruangan yang serba putih. Didepannya berdiri sosok yang tinggi dan gagah meski tubuhnya dibalut dengan jubah hitam yang hampir menjuntai dilantai. Wajahnya tertutupi topeng perak yang hanya menyisakan kedua bola mata dan bibirnya saja.
"Kamu siapa?" tanya La Rossa lirih.
"Aku ...," Pria bertopeng itu menghentikan ucapannya ketika ia melihat La Rossa yang sedang berusaha bangun dari tidurnya dan meringis menahan rasa sakit diperutnya.
"Jangan bangun dulu!" teriak Lucas yang dengan cepat bergegas menghampiri La Rossa.
Lucas menghentikan gerakan La Rossa, ia menahan tubuhnya yang sedang berusaha untuk bangun.
"Lukamu belum benar-benar sembuh, jangan banyak bergerak dulu," ucap Lucas.
Lalu Lucas memeriksa kondisi La Rossa, ia merasa heran dengan daya tubuh gadis yang ada dihadapannya. Bagaimana bisa gadis yang terlihat begitu lemah namun menyimpan kekuatan yang begitu besar, jika bukan dirinya mungkin ia sudah meninggal akibat tidak kuat menahan serangan racun dalam darahnya dan menahan luka tusukan yang hampir mengenai organ vitalnya.
"Kamu hebat mampu bertahan sampai saat ini, itu merupakan sebuah keajaiban." puji Lucas pada La Rossa.
Lucas yang tidak mengetahui profesi La Rossa menganggap lemah gadis yang ada dihadapannya, kalau saja ia tahu siapa La Rossa sesungguhnya, mungkin ia tidak akan percaya. Bagaimana tidak, La Rossa yang memiliki tubuh mungil dengan wajah yang begitu imut menjadi wanita yang kejam berdarah dingin dengan profesi sebagai pembunuh bayaran profesional.
Dalam kelompoknya ia sebagai anak emas, misinya tidak pernah gagal. Tapi saat menjalankan misi kali ini ia hampir kehilangan nyawanya akibat dari tidak validnya data yang ia terima.
La Rossa menatap pria bertopeng, ia membatin dalam hatinya, 'sorot mata itu.'