Bab 1

"Min, gue udah gituan ...."

Saat aku mengucapkan itu, ya, semua memang sudah terjadi. Mungkin mulai sekarang, aku tidak lagi berada dalam gelembung impian. Kenyataan di depan mata sudah terbentang.

"A apa maksudmu?" Mina Hensel-sahabatku itu bertanya seakan tak percaya. Matanya melebar dan fokus menatapku.

Aku pun gugup, mengalihkan pandangan darinya dan beralih lagi ke bantal, lalu mencubitnya.

"Ada yang ambil keperawanan gue," kataku datar, berusaha terdengar acuh tak acuh. Namun dalam hati, sebenarnya memang sangat gugup.

Dia terlihat tersentak, tetapi selain itu, aku tidak mendengar apa-apa darinya. Hening. Degup jantung terdengar sangat kencang, mungkin karena asrama ini sangat sepi dan sunyi.

Kuangkat pandangan dari bantal, lalu melirik ke arahnya. Mina menatap, dengan mata terbelalak. Mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang keluar. Dia menggeleng.

"Gue serius tauk!" kataku.

Dia terus menggeleng. "Hilih ... gak mungkin," katanya, seakan lebih tahu dariku. "Gue itu dah lama kenal lo, Amel!"

Sambil mendesah, aku bersandar di sofa dan meletakkan kaki di atas meja. “Tapi emang beneran, Min. Gue udah pernah gituan. Gue udah gak perawan," balasku dengan suara rendah.

Mina dan aku berteman sejak tahun pertama kuliah. Kami menjadi akrab karena tinggal sekamar-di asrama. Sifat serupa satu sama lain, menjadi sebab mengapa kami bisa cepat sekali akrab. Kami bersikap riang dan sangat menyukai pesta. Namun, meski pikiran dan pakaian sangat bebas, kami berdua ingin tetap suci sebelum menikah. Ya, sebenarnya kami ingin menikah dulu sebelum berhubungan. Mina pasti tahu seberapa kuat pendirianku. Jadi wajar jika dia tidak percaya, ketika kubercerita. Meskipun begitu, aku tetap ingin ini masih sebuah mimpi-ketika terbangun. Namun, ternyata memang bukan.

"Ke ... kenapa bisa sih? Kapan kejadiannya?" tanya Mina lagi.

"Ingat gak, waktu pesta terakhir di goa?"

Mina mengangguk. Goa-bar elite yang populer-tentu saja, mudah sekali diingat karena saat itu adalah pesta terakhir. Semua yang akan lulus kuliah hadir sebelum ujian, sekitar empat minggu yang lalu.

Aku melanjutkan, "Waktu itu kan lo pulang duluan, dan lo bersikeras gue harus tinggal. Gue nurut dong. Saat itu ada yang ngasih gue minum dan pas ada guru, semuanya kabur. Badan gue jadi terasa sangat panas, karena itulah gue buka baju. Karena mabuk, gue joget sama seseorang dan menciumnya. Abis itu gak tahu lagi apa yang terjadi. Setelah bangun, ada beberapa cowok di samping gue, telanjang. Ada noda darah di seprai dan anu gue sakit.”

"Waktu lo pulang pagi-pagi itu, kan bilang kalo lo tidur sama teman joged," katanya sinis.

Aku membungkuk. "Gue bohong," jawabku seraya menggigit bibir bawah, kebiasaan yang biasa kulakukan, setiap kali merasa bersalah atau tegang.

"Ya Tuhan, Amel. Itu kan udah sebulan yang lalu, dan lo baru ngasih tau gue sekarang!?"

"Iya iya, maaf."

Mina berdiri. Dia mulai mondar-mandir. "Benar-benar sulit dipercaya. Gue cuma gak bisa ... kita kan tahu, Mel, meskipun mabuk, lo gak akan ngebiarin siapa pun sentuh kulit lo."

"Ya. Gue juga mikirnya gitu, Min. Gak tahu kenapa sekarang kek gini."

Mina menghela dan berhenti maju mundur. "Oh jadi lo dibius!? Ya Tuhan! Jadi si bajingan itu mencekoki terus nikmatin tubuh lo? Gue pasti bakal ngebunuh dia, kenapa lo baru bilang sekarang, Amel? Harusnya bajingan itu udah di penjara sekarang!"

Sambil menggeleng dengan panik, aku menatap matanya. "Lo salah paham, Mina." Aku menghela, menekuk lutut dan melingkarkan tangan di kakiku. Seraya meletakkan dagu, aku berkata, "Orang lain yang minumin, tetapi laki-laki yang tidur sama gue, kebetulan ada di sana. Gue yang deketin. Nempelin tubuh ke tubuhnya, dan memulai kecupan. Gue yang benar-benar gatel!" Aku berseru dan tertawa meski tak lucu.

"Jangan bilang kayak gitu, Mel." Mina duduk di sebelahku-di sofa. Menghadapku dan melanjutkan, “lo itu dibius, jadi bukan diri lo sendiri." Dia mengintip di bawah bulu matanya, memberi tatapan yang membuatku semakin gugup. Sepertinya, dia akan mengajukan pertanyaan yang paling kutakuti.

Ya Tuhan Ya Tuhan ... tolong jangan tanya itu ....

"Dia siapa?"

Akhirnya dia menanyakan sesuatu yang membuat seluruh tubuh membeku. Detak jantung semakin cepat. Aku berkeringat sambil menggigit bibir. Haruskah aku memberi tahu Mina? Bagaimana reaksinya jika tahu siapa lelaki itu? Astaga, sepertinya aku akan mati. Tidak mungkin aku memberitahunya, karena si ....

"Sehat?" Mina bertanya, dia mengangkat alis dan melipat tangan di dada.

Karena tenggorokan kering, aku menelan ludah. Ya Tuhan ... apakah dia bakal menganggapku hina?

"si siapa?" Aku bertanya dengan bodoh.

Mina menyipitkan mata, sepertinya dia tahu apa yang kucemaskan.

"Siapa yang petik mawar lo?"

Mataku terbelalak mendengarnya. Kami saling memandang. Setelah itu, kami berdua tertawa. Aku tertawa sangat keras sampai sakit perut. Ketegangan yang terasa, menjadi hilang selamanya.

"Harusnya lo nangis ...," kataku saat akhirnya bangun dan menyeka mata. Aku menangis tersedu-sedu.

"Ya, gue tau." Dia menyeringai. "Jadi, siapa pemetik mawarnya?"

Kutampar wajahnya dengan bantal. Aku tersadar dan menatapnya dengan tegas. "Jadi gimana? Masih mau berteman sama gue?"

"Anj ...."

Aku menarik napas dalam-dalam. Apakah persahabatan kami akan berakhir? Seorang sahabat pergi. Ya Tuhan, aku akan berakhir tanpa teman, sampai mencapai usia sembilan puluh tahun, kemudian hanya kucing yang bersamaku.

Aku berhenti berpikir, ketika sesuatu mengenai bantal di wajahku. Sepertinya Mina melempar sesuatu. Aku memelototinya lalu membungkuk, mengambil bantal di lantai dan kuletakkan di pangkuan.

"Amel, jangan kebanyakan drama, siapa sih dia?"

"Handoko."

"Apa?"

"Iya si Handoko."

"Handoko si Buaya itu?"

Aku meringis dalam hati. "Ya."

Aku tidak melihat ke atas, takut, tidak ingin melihat rasa jijik dan kasihan dalam reaksi Mina. Kami berdua tahu, aku sekarang berada di daftar panjang wanita, yang telah tidur dengan Handoko.

Handoko Wijaya-si Playboy yang disebut Mina tadi. Aku tidak mungkin membantah, karena memang itu benar. Handoko adalah waria, tidak melakukan hubungan, dan nge-ses walau hanya sekali. Namun tetap saja, banyak wanita menginginkannya. Getaran misteriusnya menambah daya tariknya. Wanita menganggapnya seksi dan tentu saja, mereka berlomba-lomba, siapa yang beruntung mengetahui kebenaran Handoko Wijaya.

Dia seperti rasa mentol bagi wanita, dan dia pun menyadarinya. Nah, dengan penampilan dan kekayaan setengah dewa sempurna, siapa yang tidak menginginkannya? Mungkin aku tidak, tidak pernah tertarik padanya. Tidak pernah delusi seperti wanita lain, yang berharap mendapatkan perhatian dan bisa mengubahnya. Tidak! Tidak pernah. Namun, sungguh ironis karena Handoko-lah yang mendapatkan keperawananku.

Bab 2

"Ya, Tuhan. Lo tidur sama cowok nakal tau gak!?"

Kuberanikan diri menatap Mina, dan ya ... tidak ada penilaian di matanya. Namun, kelihatannya dia bahagia dan lega.

Aku heran dong. "Lo gak benci atau apa gitu karena gue cuek? Kamu gak marah sama si Handoko itu?"

Dia menyeringai dan beringsut di sebelah, lalu menepuk pipiku. "Lah ... emangnya kenapa? Ya gue kesel sih, kesel karena lo baru ngasih tau sekarang, tapi bodo amatlah. Lagian menurut gue, itu bukan salah lo. Handoko itu baik, lagian bukan dia yang kasih lo minuman. Gue gak khawatir. Setidaknya, gue tau pengalaman pertama lo gak buruk waktu ngelakuin itu sama dia. Gue yakin dia ngasih kamu pengalaman terbaik yang pernah ada," kata Mina sambil menggoyangkan alisnya.

Aku mendengkus. "Gue malah gak mau inget itu."

"Gue yakin saat itu luar biasa."

Aku tidak menjawab, tetapi serius: Bukan itu yang kuharapkan, Mina!

"Ya Tuhan. Gue tahu lo pengennya dihina-hina kan, Mel? Gak lah ... gue malah lega karena lo cerita. Gue kan sahabat, dan mau yang terbaik buat lo. Gue gak akan jauhin cuma gara-gara lo tidur sama Handoko. Gila sih kedengarannya, tapi Handoko masih lebih baik. Dengan reputasinya, dia bisa ngelindungin, jadi lo aman. Siapa tau nanti lo hamil, gue yakin dia bakal tanggung jawab!"

Seharusnya aku merasa lebih baik setelah apa yang Mina katakan, tetapi kok tidak? Sebaliknya, justru aku merasa lebih buruk. Rasanya perutku bergejolak karena gugup, membayangkan bakal ada masalah yang lebih besar datang. "Mina ...," ucapku dan terdiam. Kugigit bibir ini tapi tidak sampai keluar darah. Kutatap matanya, mungkin saja dia bisa melihat ketakutan di dalam diriku.

Dia seakan paham, lalu menarik napas dengan keras. "Oh tidak ...."

Kutelan seteguk udara, dan ikut menjatuhkan bom ketiga. "Benar, kayaknya gue hamil."

Saat bangun pagi, aku merasa pusing dan tiba-tiba mau muntah. Namun kuabaikan. Apakah mungkin karena belum makan tadi malam? Semoga saja bukan karena hamil. Namun saat pergi ke toko yang ada di luar kampus, aku melewati pajangan pembalut dan saat itulah, sadar ... bahwa belum datang bulan.

Seharusnya sih minggu lalu sudah menstruasi, tetapi kok sekarang tidak? Aku memang taksadar karena stres, apalagi banyaknya pekerjaan harus selesai sebelum wisuda mendatang. Baru sadar waktu merasa mual dan muntah pagi ini. Ditambah lagi ketika melihat kari ayam, aku merasa mual padahal biasa pesan di kantin.

Pikirku sih, Mina bakal panik. Karena setahuku, karakternya seperti itu. Namun yang membuatku heran, dia hanya tertegun sejenak saat aku mengaku, lalu melirik sedikit ke perutku yang tertutup bantal. Pasti dia sedang mencari Baby Bump.

Sikapnya tenang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun-padahal aku terkejut-dia menarikku keluar dari asrama.

"Kita mau ke mana nih?" tanyaku saat kami sudah berada di tempat parkir. Dia tetap diam sampai kami berada di dalam mobil. Aku duduk di belakang, sedangkan dia mengemudi di depan.

"Ke suatu tempat," katanya.

"Mina, tepatnya kita mau ke mana?" Karena penasaran, aku tetap bertanya saat mobil mulai berjalan. Kepalaku bersandar pada bantalan.

"Udah deh, nanti juga kamu tau!" Dia melirik sedikit, lalu melihat kembali ke jalan, jari-jarinya mengetuk setir.

Aku pun menjadi sedikit gugup. Astaga! Sebenarnya apa sih rencana Mina? Jangan-jangan, dia akan membawaku ke tempat Handoko, lalu mengajaknya berkelahi. Walau bukan sepasang teman, tetapi mereka saling mengenal, karena pacar Mina itu adalah salah satu dari temannya. Ya Tuhan ... apakah Mina mau bilang bahwa aku hamil?

Hadeh ....

"Di sini." Mina menghentikan mobil, setelah menemukan tempat yang bagus di tempat parkir mal. Aku heran dan bingung. Bukankah ini tempat terakhir yang kuharapkan untuk dikunjungi?

Kami turun dari mobil.

"Lo serius, Mina? Mau belanja?"

"Siapa bilang kita mau belanja?"

Aku memutar mata dan menyamai kecepatannya. Aku takbisa memikirkan alasan, mengapa setelah pengakuanku, kami langsung pergi ke mal. Mungkin ini sebuah cara untuk mengalihkan perhatia, dan ya, itu efektif.

Meskipun, itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat, saat menyadari alasan kenapa Mina menyeretku ke sini. Bukan untuk berbelanja, tetapi membeli sesuatu. Sesuatu yang akan menutup ketakutanku sepanjang hari.

Bibir kugigit, dan aku tidak bergerak dari tempatku berdiri. Hanya melihat label toko-Farmasi-dan aku berhenti.

"Kita beli Test-Pack, Amelia!" katanya. Dia memanggil nama lengkap, seperti tanda bahwa dia serius, berharap aku tidak keberatan. "Kita harus memastikan!"

Ya Tuhan ....

Sungguh tak pernah terbayangkan, bahwa kami akan membeli tester kehamilan pada usia dua puluh. Mirisnya, itu bersamaan dengan hilangnya keperawanan. Padahal, episode ini diharapkan bakal terjadi di masa depan, yaitu bertahun-tahun dari sekarang. Memiliki karir yang stabil sebagai arsitek lanskap, lalu menikah dengan bahagia. Bukan malah kejadian ini! Namun, sang takdir memang memiliki selera yang buruk. Yah ... terkadang, hal-hal tidak berjalan, sesuai apa yang kita rencanakan..

"Aduh ... gue malu, Min. Iiiiiih ...."

"Amelia ...." Mina menghela dengan berat. "Sekali lagi lo nanya, gue bersumpah bakal ...." Kata-katanya terpotong, hahaha.

Sepertinya Mina sudah taktahan bersamaku, hilang kesabaran. Mungkin karena aku bertanya hampir ratusan kali. Kami sudah pergi ke mal selama tiga puluh menit, tetapi masih belum masuk apotek.

"Dengar, Mel. Kita gak boleh ngulur-ngulur waktu lagi, oke? Kita harus tau secepatnya!"

"Gue takut, Min, hiks ...."

"Ya emang! Tapi tenang aja, apa pun hasilnya nanti, gue tetep temenin lo."

Aku hanya bisa menghela dalam. Yah ... Mina benar. Walau terus menunda-nunda, pada akhirnya pasti tetap tahu juga. Nah, memang sebaiknya harus tahu sedini mungkin! "Okelah ... gue siap!"

"Nah, gitu dong!" Mina menyeringai. Dia melingkarkan tangan di tanganku, lalu membimbing ke apotek.

Ada banyak sekali pembeli. Duh ... membuat gugup saja! Bagaimana kalau orang tahu, bahwa kami sedang membeli tester kehamilan? Apalagi jika mereka tahu, kami seorang mahasiswa yang baru saja lulus, dua minggu yang lalu.

"Tenang, Mel. Gue bakal urus masalah ini," bisik Mina. Kami pun berbaris di konter. Aku percaya, dia tahu apa yang harus dilakukan.

Ketika kami berada di urutan ketiga, dia mengambil ponsel lalu tiba-tiba menempelkannya ke telingaku. Aku melongo, tidak tahu apa yang direncanakannya.

Ternyata, baru 'ku mengerti setelah dia mulai 'berbicara' ke telepon. Bahkan sengaja meninggikan suara, hingga menarik perhatian pelanggan lain dan kasir.

"Astaga, Atien! Bisa gak sih kamu tenang!? Iya gue tahu, gue tahu. Gue ... tahu ...." ucapnya pada Atien-seorang tokoh hayalan yang sedang kami panggil.

Bab 3

Mina meletakkan tangan di dahinya, lalu menghela secara dramatis. "Amel sama gue udah di apotek! Gue berdua lagi beli tiga tester kehamilan, biar lo tahu hamil apa enggak ... jadi gausah panik, oke! Sebentar lagi antreannya. Abis ini gue berdua dateng ke situ."

Aku hanya menatapnya, dia menoleh ke arahku setelah mengantongi ponselnya. Itu ide yang luar biasa. Dia mengedipkan mata padaku, lalu dengan sok percaya diri berbicara kepada kasir-meminta tiga alat uji kehamilan.

Aku menghela lega. Entah apa yang akan kulakukan, jika tanpa dia—sahabat terbaikku.

Kami sudah kembali ke asrama. Mina menyodorkan Paper Bag, berisi alat uji kehamilan. "Nah, ini. Ada cara pakainya," katanya. Tanganku gemetar saat mengangkatnya.

"Kamu bisa pakeknya, Amel." Dia menepuk pundak, memberitahu bahwa semuanya pasti baik-baik saja.

Yah ... aku pun mengharap demikian.

Aku melenggang ke kamar mandi dan mengunci diri di dalamnya. Paket sudah kubuka. Seraya menggigit bibir, aku membaca instruksi tentang cara penggunaan.

Kutatap bayangan diri di cermin. Betapa alat uji ini, akan mengubah hidup, apa pun hasilnya. Sesabar apa pun, aku tetap harus menelan empedu. Baik, akan kumulai pengujian ini!

Tiga alat ... dan ... hasilnya tetap konsisten. Meski sudah menyangkalnya, tetapi inilah buktinya. Dengan lemah aku duduk di lantai keramik kamar mandi, dan bersandar di dindingnya. Kupeluk lutut dan memeluknya ke arahku-mengayunkan diri, akhirnya ... terasa air mata mengalir.

Dua garis, dua garis merah!

Positif.

Aku ... hamil.

A aku ... tidak bisa berbuat apa-apa. Waktu takbisa kembali.

Ya Tuhan .... Aku akan menjadi seorang ibu!

Entah sudah berapa lama berada di posisi itu. Mungkin Mina sudah bosan merasa khawatir di luar. Pintu kamar mandi sudah terketuk sebelumnya, tetapi aku mengabaikannya. Aku ... benar-benar takbisa bicara. Hanya terus menatap ketiga batang itu, sambil menangis dalam diam. Meski terus berharap, semoga sebuah garis terhapus. Doaku ternyata tak terjawab, dua baris tetap ada dan tertawa.

"Ya Tuhan, Amel!" Mina menghela saat melihatku. Kunci tergantung di tangannya. Sepertinya dia memutuskan untuk membuka kamar mandi sendiri, karena tidak mendapat jawaban.

Dia segera bergegas ke sisi, lalu menarikku ke dalam pelukan, menjentikkan pandangan ke tiga batang uji di lantai. Dia membelai punggung. "Udah, gak papa, Mel. Gak papa."

Tangisanku mengeras, bahu bergetar menahan air mata. Tidak lagi peduli apakah air mata ini sudah membasahi bajunya. Kucengke1ram lebih erat dan mencurahkan seluruh rasa kegelapan.

Bagaimana mungkin aku masih baik-baik saja?

Aku hamil, dan akan menjadi seorang ibu di usia dua puluh. Ini bukan yang kurencanakan, ini bukan yang kuinginkan!

Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bayi ini tetap harus kujaga. Dia adalah bagian kepribadianku. Tidak peduli seberapa hancurnya diri sekarang, aku tidak berpikir untuk menyingkirkannya. Selain itu, tangisan ini juga disebabkan oleh perasaan yang takjelas. Kekecewaan dan kemarahan, pada diri sendiri, pada orang yang membius, dan pada Handoko; kebahagiaan karena sekarang ada malaikat di dalam rahim, ketakutan karena tidak tahu apakah bisa menjadi seorang ibu.

Mina membantu berdiri. Aku pun berhenti menangis, mencuci muka, lalu mengernyit saat melihat bayangan di cermin; mata sembab, hidung merah, dan rambut acak-acakan. Kemudian Mina menuntun ke ruang tamu. Aku meringkuk di sofa, tidak berbicara. Dia pun hanya duduk diam di sebelah.

Mina bangun dan pergi ke dapur, lalu kembali dengan semangkuk besar es krim, dan sebungkus besar Keripik Kentang. "Nih, makan. Kamu butuh ini!" katanya sambil menyerahkan mangkuk.

Aku pun mengangguk dan mengatur duduk di sofa. "Makasih ...," kataku, parau.

Dia tersenyum. "Lo pasti baik-baik aja, Mel."

"Ya."

Kami makan dalam diam setelah itu. Kutenggelamkan kesengsaraan dalam es krim saat Mina mengunyah keripik-nya. Setelah habis tiga mangkuk, aku pun merasa lebih baik. Yah ... itu ide geniusnya-membawakan es krim. Aku akan berterima kasih padanya ketika bertemu di akhirat.

Kuregangkan tubuh ini dengan lesu, di sofa. Mina berada di kaki jadi aku meletakkan kaki di pangkuannya.

"Rencana lo sekarang gimana?" tanya Mina

"Gue harus bertemu sama dokter lah, Min!"

"Yess ... itu bagus. Gimana kalo setelah acara kelulusan aja?"

Aku menghela, menyisir rambut dengan jari-jari. "Gue mau pulang aja, gak mau ninjau ujian dewan dulu. Nanti aja kalo udah lahiran."

Karena aku yakin, mempersiapkan diri untuk ujian akan meningkatkan stres. Aku tidak ingin kesehatan bayi terancam. Jadi, aku memilih untuk fokus Debay terlebih dahulu.

Aku juga tidak perlu mencari pekerjaan, karena secara finansial, uang yang ditinggalkan orang tua sudah cukup stabil. Itu lebih dari cukup untuk seluruh durasi kehamilan.

"Emang lo yakin mau pulang? Sama siapa kamu tinggal di sana?"

"Nanti saya cari pembantu."

Karena orang tua sudah meninggal, hanya pengasuh yang mengelola rumah kami. Aku juga tidak punya saudara kandung alias anak tunggal. Sedangkan sanak saudara yang lain tinggal di AS.

Mina menghadapku. "Kayaknya gue gak setuju deh, Mel. Lo kan tau kalo gue sama Lazam mau ngekost. Kenapa gak ikut sama kami aja?"

Mina dan Lazam sudah menjalin hubungan selama hampir setahun. Mereka benar-benar saling menyukai, memutuskan untuk menikah dan tinggal bersama setelah lulus kuliah.

"Please, Amel. Gue gak tega lo sendirian dalam keadaan hamil gitu. Pokoknya gue mau temenin sampai lahiran. Debay nanti jadi anak angkat gue juga."

"Anak angkat?"

Mina menyeringai. "Ya. Gue pasti sayang bangeeet ...."

Kuputar mata ke arahnya. "Hadeeeh ... oke."

Mina benar sih, setidaknya aku punya seseorang yang tepercaya selama kehamilan, agar membuatku tetap merasa nyaman.

"Bagus! Jadi, kita mulainya besok?"

"Gue kan mau ke dokter dulu, Min."

"Oke, nanti kita pergi bareng."

"Ya."

Keesokan harinya, Mina dan aku hanya diam selama perjalanan ke kampus. Kami memutuskan untuk mengambil mobilnya, jadi dia yang mengemudi.

Kami baru saja kembali dari dokter. Sudah kami duga, dokter juga mengkonfirmasi kehamilan. Katanya aku hamil tiga minggu, dan jatuh tempo pada tiga belas Desember. Namun, dokter juga mengatakan, bisa jadi aku melahirkan sebelum atau beberapa hari setelah itu. Beliau meresepkan vitamin dan menginstruksikan, apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Lalu kembali ke sana bulan depan untuk janji yang lain.

"Jadi," seru Mina. "Kamu mau ngasih tau kapan?

Aku meliriknya sedikit, lalu melihat ke luar jendela. Aku tahu apa yang dia maksud-dan siapa yang dia maksud. "Gak tau, Min," jujurku. Memang sama sekali belum terlintas di pikiran.

Haruskah aku memberi tahu Handoko tentang keadaan ini? Bagaimana cara mengatakannya? Hey, Handoko, aku hamil, kamu ayahnya! Apakah dia bakal percaya? Sedangkan kami tidak saling mengenal, bagaimana cara mendekatinya?

Sebenarnya, selain itu ... aku takut. Takut melihat dia bereaksi. apakah dia akan marah, atau justru menerimanya? Meskipun jika dia tahu lalu memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, itu bukanlah masalah. Aku bisa mengatasinya sendiri. Ya, memang aku lebih suka itu.

Sambil mendesah, aku menyeka telapak tangan yang berkeringat-di celana Jins-ku. Dengan tidak menatap Mina, aku berbicara. "Kita berdua tau sih, dia pria yang baik dan suka jalan, tapi gue ragu bisa gak ngomong sama dia."."

Mina tidak menjawab, tetapi sepertinya setuju.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED