"Tolong bujuk Nazharina untuk pulang sekarang juga. Kami akan memakamkan ibunya pagi ini," ucapnya pilu.
Alicia menoleh ke belakang, tepat di mana siswi yang dimaksud sedang mencoret-coret kertas ujian sambil merebahkan kepala di atas meja.
"Ibunya meninggal?" tanyanya memastikan. Antara terkejut dan ikut berduka.
"Iya, kecelakaan tadi pagi saat pergi ke pasar untuk bekerja menjual sayuran," jawab pria itu.
"Nazharina pasti akan sangat terkejut mendengar berita ini."
"Dia sudah tahu. Jenazah ibunya kami antar ke rumah, tepat sebelum ia berangkat ke sekolah pagi ini," jawab pria itu dengan yakin.
Alicia terkejut. "Dia tahu ibunya meninggal, tapi tetap pergi ke sekolah?!" suaranya nyaris terdengar seperti sebuah teriakan tertahan.
"Kami sudah berusaha menahannya, tapi dia bilang hari ini ada ujian."
Alicia menggelengkan kepala. Tak mengerti akan jalan pikiran salah satu siswinya itu.
"Tunggu sebentar. Aku akan menyuruhnya bersiap untuk pulang."
Sang guru masuk. Mengambil tempat duduk di samping Nazharina. Wajah gadis itu tampak murung, namun tak terlihat air mata atau bahkan jejaknya sekalipun.
Nazharina masih asyik mencoret kertas ujiannya. Seolah-olah ia melakukan itu tanpa sadar.
"Nazh, kau boleh pulang sekarang. Ibumu... mereka... sedang menunggu," Alicia berkata dengan hati-hati.
"Aku tak mau pulang. Setidaknya sampai aku selesai mengerjakan soal ujianku," jawab Nazharina. Masih dengan kepala yang merebah dan tangan mencoret-coret kertas ujian yang sudah tak berbentuk lagi.
Sang guru tahu, bahwa Nazharina sekarang hanya sedang mencoba untuk tak menangis. Gadis itu terlihat kuat dan biasa saja di luar, namun sudah pasti sangat hancur di dalam.
"Tak apa. Kau bisa mengerjakannya besok. Ada keringanan yang diberikan untuk kejadian tak terduga seperti ini," bujuk Alicia.
Nazharina menegakkan punggung. Menatap wajah cantik di hadapannya. Kali ini, netranya mulai berkaca.
"Miss Alicia, bolehkah aku tetap di sini? Tolong jangan paksa aku pulang ke rumah," pintanya memelas.
Hati Alicia berdenyut sakit. Tak tahu apa yang menjadi penyebab Nazharina memilih untuk tetap bertahan di sekolah, alih-alih pulang untuk mengantarkan sang ibu ke tempat peristirahatan terakhir.
"Kenapa? Bisakah kau memberitahuku alasannya?" tanya Alicia.
Nazharina menunduk dalam, sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang nyaris tak tertangkap telinga.
"Miss Alicia, ayahku meninggal setahun yang lalu karena sakit. Aku tak punya saudara maupun kerabat. Jadi satu-satunya yang kupunya dalam hidup ini hanyalah ibuku. Tadi pagi, dia pun meninggalkan aku. Tanpa firasat, tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal. Bisakah kau bayangkan, betapa sepinya rumah itu saat nanti aku pulang? Ibuku sudah tak ada lagi. Dia yang biasa menemaniku, kini tak lagi bisa kulihat raganya dan kudengar suaranya. Karena itu, biarkan aku di sini. Aku tak bisa membiarkan rasa sepi membunuh jiwaku secara perlahan."
Kali ini, Alicia tak mampu lagi membendung tangis. Bisa ia bayangkan nestapa yang diderita Nazharina.
Gadis kecil yang malang.
Setelah itu, secara serentak teman-teman sekelas Nazharina berdiri dan berkeliling memeluknya. Membuat gadis berusia 12 tahun itu merobohkan benteng pertahanannya.
Nazharina akhirnya menangis.
Seorang siswa lelaki merekam momen dramatis itu dengan ponsel dan menyebarkan lewat sosial media.
Kejadian itu viral.
Terdengar ke seantero kota bahkan seluruh negeri. Menarik perhatian seorang wanita yang begitu mendambakan anak perempuan.
"Malang sekali nasib anak ini," ucap Erina lirih, menoleh ke arah sang suami yang duduk di sampingnya. "Bisakah kita mengadopsinya untuk menjadi teman bagi Arian?"
Marco menghela napas, menatap istrinya yang begitu menginginkan seorang anak perempuan. "Kamu yakin, Sayang? Mengadopsi anak itu bukan perkara mudah. Dia baru saja kehilangan ibunya. Akan ada banyak hal yang perlu kita pertimbangkan."
"Aku yakin." Erina menggenggam tangan Marco. "Aku selalu ingin memiliki anak perempuan. Lagipula, Arian sendirian. Dia butuh seseorang untuk menemaninya."
Setelah melewati proses hukum yang panjang dan pertimbangan matang, akhirnya Nazharina resmi menjadi bagian dari keluarga mereka.
Saat pertama kali menjejakkan kaki di rumah barunya, Nazharina merasa takjub. Rumah ini jauh lebih besar dari yang pernah ia tempati. Tapi lebih dari itu, ia merasa sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya-kehangatan sebuah keluarga.
Erina memeluknya erat, berjanji bahwa gadis itu tak akan pernah sendirian lagi.
Namun, tidak semua orang di rumah itu menyambutnya dengan hangat. Arian, anak kandung Erina dan Marco, hanya menatapnya dingin saat pertama kali diperkenalkan.
"Nazharina, ini Arian. Dia kakakmu sekarang," kata Erina dengan senyum lembut.
Nazharina mengulurkan tangan. "Hai, senang bertemu denganmu, Kak Arian."
Arian menatap tangan itu tanpa ekspresi. Detik berlalu, tapi tangan Nazharina tetap menggantung di udara tanpa disambut.
Sedetik... dua detik... tiga detik...
Hingga akhirnya, Nazharina menarik kembali tangannya dan tersenyum canggung, berpura-pura menggaruk hidungnya untuk menutupi rasa malu.
Sejak saat itu, ia tahu... Arian tidak menyukainya.
Tapi tidak apa.
Ia sudah terbiasa tidak disukai. Sudah terbiasa dengan kesendirian. Namun, setidaknya kali ini ia memiliki tempat yang bisa ia sebut "rumah". Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nazharina merasa bahagia.
Tapi kebahagiaannya tak bertahan lama.
Hari itu, telepon rumah berdering nyaring. Suara dari seberang sana membawa kabar buruk yang seketika meremukkan hati Nazharina.
Erina dan Marco mengalami kecelakaan mobil.
Nazharina dan Arian bergegas ke rumah sakit, berharap mendapatkan keajaiban. Tapi harapan itu hancur berkeping-keping.
Marco meninggal di tempat. Sementara Erina masih bertahan... tapi kondisinya kritis.
Di ranjang rumah sakit, dengan suara lemah dan napas tersengal, Erina menggenggam tangan Arian dengan erat.
"Arian...," bisiknya.
"Iya, Mama? Aku di sini."
"Tolong... jaga Nazharina... Jangan biarkan dia sendirian..."
Arian menggigit bibirnya, menahan emosi yang bercampur aduk di dalam dirinya.
"Dan saat dia berumur 20 tahun... nikahilah dia."
Mata Arian membelalak. "Mama-"
"Tolong..." suara Erina semakin melemah, sebelum akhirnya mata wanita itu tertutup untuk selamanya.
Dunia Arian dan Nazharina hancur dalam sekejap. Hari itu, mereka kehilangan satu-satunya orang yang menghubungkan mereka.
Dan kini, Arian terikat pada janji yang tak pernah ia inginkan.
Saat Nazharina berusia 20 tahun, janji itu ditepati. Pernikahan mereka diadakan tanpa kemeriahan. Tanpa senyum bahagia. Arian menikahi Nazharina bukan karena cinta. Tapi karena wasiat terakhir ibunya.
Dan Nazharina tahu itu.
Malam pertama mereka bukan malam yang penuh gairah, melainkan keheningan yang menyesakkan. Arian tetap dingin. Tidak menyentuhnya, tidak berbicara padanya kecuali jika perlu.
Bagi Arian, pernikahan ini adalah beban. Dan bagi Nazharina... pernikahan ini adalah pengingat bahwa ia tak pernah benar-benar menjadi bagian dari hidup Arian.
Namun, ia bertahan.
Selama sepuluh tahun.
Ia berharap suatu hari nanti, Arian akan menerimanya. Akan melihatnya bukan sebagai beban, tapi sebagai seseorang yang bisa ia cintai.
Tapi harapan itu sia-sia.
Selama sepuluh tahun pernikahan mereka, Arian tetap dingin. Tetap menjaga jarak.
Pada akhirnya... Nazharina menyerah.
Di depan rumah megah itu, Nazharina berdiri dengan koper di tangannya. Arian, seperti biasa, hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Siang hari ini matahari menyengat kulit, namun hati Nazharina seakan gelap kelabu. Ada mendung yang menciptakan awan hitam dalam jiwanya. Seakan ingin menjatuhkan hujan air mata, namun guruh di hati menahannya.
Ia tak tahu apakah tangisan itu perlu?
Haruskah ia bersedih saat ini?
Bagaimana kalau ternyata mulai hari ini ia bisa mencoba hidup yang sesuai dengan kemauannya?
"Terima kasih atas waktumu Arian. Akhirnya selesai juga. Bolehkah kita berjabat tangan karena mungkin tak akan ada lagi pertemuan setelah ini?" Nazharina menyodorkan tangan pada lelaki tampan namun beraura dingin di hadapannya.
Sedetik... dua detik... hingga beberapa detik Arian tak menyambut uluran tangan itu, hanya menatap Nazharina dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Ternyata tak boleh," gumam Nazharina pelan, seraya menggenggam kembali jemari tangan dan memilih untuk menggaruk ujung hidung yang sebenarnya tidak gatal. Membuang rasa malu.
Tak apa, dia sudah terbiasa. Begitu pikirnya.
Nazharina sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, sedingin itu. Seharusnya dia tahu kalau Arian yang telah ia kenal selama delapan belas tahun dan menjadi suaminya selama sepuluh tahun itu tak akan pernah mau menjabat tangannya.
Tidak dulu saat pertama kali mereka dikenalkan ketika ia berumur 12 tahun, tidak juga saat ini ketika ia sudah resmi bercerai dengan lelaki tanpa ekspresi itu.
"Aku pamit. Terima kasih karena telah menjagaku selama ini. Jaga dirimu baik-baik, Arian."
Susah payah Nazharina membuat nada suaranya terdengar normal, tapi entah kenapa rasa sesak di dada membuat ia terdengar seperti ingin menangis.
Ah, sial. Ia tak boleh terlihat sedih di hadapan lelaki yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Ia membalikkan badan, berjalan menuju SUV hitam yang menunggunya.
Sebelum naik, ia menoleh sekali lagi.
Menatap balkon tempat ia biasa termenung. Tempat di mana ia sempat memiliki sebuah keluarga.
Menatap Arian, yang masih berdiri di sana, diam seperti patung.
"Tak kusangka, hari ini terjadi juga. Akhirnya aku meninggalkan rumah yang telah memberiku tempat berteduh dan berlindung selama 18 tahun. Selamat tinggal," ucapnya dalam hati dengan mata yang berembun.
Desahan napas sedih mengiringi geraknya yang langsung duduk di belakang sopir pribadi Arian. Pria itu yang akan mengantar untuk pulang ke rumah lamanya.
"Terima kasih Ernando, atas pelayananmu selama ini. Terima kasih karena mau mengantarkan aku ke mana-mana. Senang bisa mengenalmu." Nazharina berusaha beramah-tamah dengan salah satu orang kepercayaan Arian itu.
"Sama-sama Nyonya. Saya juga merasa terhormat karena pernah melayani Anda," sahut Ernando dengan senyum pahit.
Nazharina membuang pandangan keluar dengan tatapan kosong. Tak ada siapa pun yang memahami bagaimana perasaannya saat ini, kecuali dirinya sendiri.
"Kau tak perlu memanggilku lagi dengan sebutan Nyonya, Ernando. Aku dan Arian sudah resmi bercerai."
Mobil melaju, meninggalkan rumah itu. Meninggalkan semua kenangan yang pernah terjadi. Dan meninggalkan seseorang yang selama ini tak pernah menyayanginya.
Arian masih berdiri di tempatnya. Memandang mobil yang membawa Nazharina semakin menjauh. Kakinya berat untuk melangkah, seperti hatinya yang berat untuk mencegah Nazharina agar tak pergi, meski ia sangat ingin berkata demikian.
Ia tak bisa melarang Nazharina untuk pergi.
Dan untuk pertama kali dalam hidup...
Ia bertanya-tanya apakah ia telah kehilangan sesuatu yang sebenarnya sangat berharga?
*
Nazharina berdiri di depan pagar besi tua yang sudah mulai berkarat. Rumah itu masih seperti yang ia ingat-kusam, sedikit terbengkalai, tetapi tetap memberikan rasa akrab yang membawanya kembali ke masa lalu. Aroma kayu basah bercampur dengan tanah yang mengering setelah hujan pagi tadi. Ia menarik napas dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian sebelum akhirnya mendorong pintu pagar dan melangkah masuk.
Hening.
Tidak ada suara langkah kaki pelayan, tidak ada suara mobil mewah yang masuk ke garasi, tidak ada denting gelas kristal dari ruang makan seperti di rumah tempatnya tinggal selama ini. Yang ada hanyalah keheningan yang menggema, seakan menyambut kepulangan yang tertunda bertahun-tahun lamanya.
Meletakkan koper di dekat sofa, Nazharina menyapu pandang ke seluruh ruangan. Debu menumpuk di beberapa sudut, perabotan masih sama seperti yang ia tinggalkan belasan tahun lalu. Ada kehangatan samar di tempat ini, meskipun sepi.
Kini, ia sendiri lagi.
Namun, belum sempat menikmati momen tersebut, suara ketukan di pagar depan membuyarkan lamunannya.
"Nazharina?"
Suaranya melengking, penuh rasa ingin tahu yang tidak terselubung.
Nazharina menoleh. Seorang wanita berusia sekitar empat puluhan berdiri di sana dengan kedua tangan bertumpu di pinggangnya, seakan siap melancarkan interogasi. Ia mengenakan long dress longgar dengan corak bunga-bunga yang sudah pudar warnanya, rambutnya disanggul tinggi, dan matanya menyorotkan sesuatu yang sulit diartikan-antara terkejut, skeptis, dan puas.
"Jadi kau benar-benar kembali," lanjutnya, tanpa menunggu jawaban. "Aku pikir hanya desas-desus belaka."
Nazharina menahan napas sejenak sebelum melangkah mendekat. "Selamat sore, Aunty."
Aunty Ersa-tetangganya sejak kecil, yang selalu memiliki kebiasaan untuk tahu segalanya tentang semua orang.
Ia memiringkan kepala, menyipitkan mata seakan meneliti setiap inci dari Nazharina. "Kudengar kau sudah bercerai," ujarnya begitu saja, tanpa basa-basi. "Sungguh mengejutkan. Kukira kau sudah terbiasa hidup nyaman di rumah suamimu yang kaya itu."
Nazharina tersenyum tipis. Ia sudah mengantisipasi ini.
"Aku hanya ingin menjalani hidup yang lebih sederhana, Aunty."
Aunty Ersa tertawa kecil, geli. "Oh, tentu. Tapi berapa lama kau akan bertahan? Hidup di lingkungan ini tidak seperti di rumah mewah yang penuh dengan pelayan. Kau harus belanja sendiri, memasak sendiri, bahkan membersihkan rumah sendiri. Aku penasaran... apakah kau bisa?"
Nada suaranya terdengar manis, tetapi setiap katanya membawa tantangan terselubung.
Nazharina tetap tenang. "Aku akan mencobanya," jawabnya tanpa ragu.
Aunty Ersa mengangkat alis, lalu tersenyum miring, seakan menunggu kapan Nazharina akan menyerah. "Baiklah. Kita lihat saja nanti," ujarnya sebelum berbalik, meninggalkan Nazharina dengan keheningan sore yang kembali menyelimuti.
Nazharina merapatkan pagar dengan perlahan, kembali masuk ke dalam rumah. Ia tahu bahwa kepulangannya tidak akan luput dari perhatian, dan ia tahu bahwa Aunty Ersa tidak akan menjadi satu-satunya orang yang mengawasi setiap langkahnya.
Saat Nazharina hendak menutup tirai, sesuatu membuatnya berhenti. Perasaan aneh menjalar di tengkuknya, seolah ada mata yang mengawasi.
Naluri membawanya menoleh ke arah rumah sebelah. Jendela di lantai atas sedikit terbuka, dan di baliknya-di tengah kegelapan-ada siluet seseorang berdiri diam.
Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri di sana, seperti bayangan tanpa suara.
Nazharina menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan dorongan untuk segera menutup tirai dan berpura-pura tidak melihat apa pun.
Tetapi nalarnya menolak. Dari yang ia dengar sebelum pulang kemari, rumah itu kosong. Tidak ada yang menempatinya selama bertahun-tahun.
Jadi, siapa yang berdiri di sana?
Langit masih kelabu ketika Nazharina melangkah keluar dari rumahnya pagi itu. Udara dingin sempat menggigit kulitnya, tetapi ia tidak membiarkan keraguan merayap ke dalam hati. Hari ini, ia memulai sesuatu yang baru-tanpa embel-embel sebagai istri seseorang, tanpa bayang-bayang nama besar yang pernah menaunginya.
Butik tempatnya bekerja terletak di pusat kota, di sebuah gedung megah dengan arsitektur modern yang dipenuhi kaca reflektif. Sebuah plakat elegan dengan huruf berwarna emas terpampang di atas pintu masuk, menyatakan nama butik yang selama ini hanya ia kenal dari majalah mode.
Ia menarik napas dalam, lalu melangkah masuk.
Dari dalam, butik itu tampak lebih menawan. Lantainya berkilau, dipadukan dengan pencahayaan yang memancarkan kemewahan. Rak-rak pakaian tersusun rapi, menampilkan koleksi eksklusif dari berbagai desainer ternama. Tidak ada yang tampak biasa di tempat ini.
"Nazharina, bukan?"
Nazharina menoleh. Seorang wanita muda dengan seragam butik yang sama mendekatinya, senyumnya ramah, matanya berbinar penuh antusiasme. Rambut hitamnya dipotong pendek dengan gaya berantakan, memberi kesan ceroboh namun manis.
"Aku Kinoshita. Kau bisa memanggilku Kinos." Gadis itu mengulurkan tangan dengan ceria. "Aku mendengar kau mulai bekerja hari ini. Selamat datang!"
Nazharina menyambut uluran tangannya. Kinoshita terasa seperti angin segar di tengah suasana butik yang begitu formal.
"Kau sudah bertemu supervisor?" tanya Kinoshita.
"Belum."
"Oh, kalau begitu, ayo kutunjukkan."
Dengan langkah ringan, Kinoshita membawanya melewati rak-rak pakaian menuju bagian belakang butik, di mana ruangan kantor kecil berada. Sepanjang perjalanan, ia berbicara dengan gaya yang penuh semangat, seolah mereka sudah berteman lama.
"Jangan tegang. Toko ini memang terasa kaku, tapi tidak semua orang di sini menakutkan," ujarnya dengan nada bercanda.
Nazharina mengulas senyum tipis.
Begitu mereka sampai di ruangan supervisor, perkenalan berlangsung singkat. Supervisor butik, seorang wanita berkemeja rapi dengan ekspresi serius, menjelaskan tugas-tugas dasar yang akan Nazharina emban. Melayani pelanggan dengan ramah, memahami produk, menjaga kebersihan dan kerapian butik-semua hal yang bisa ia pahami dengan mudah.
Namun, ada satu hal yang tidak disebutkan.
Seseorang berdiri di ambang pintu, memperhatikannya dengan tatapan tajam. Seorang wanita muda berambut panjang bergelombang, mengenakan seragam yang sama, tetapi dengan aura yang berbeda. Sikapnya angkuh, bibirnya membentuk seringai kecil seakan menilai tanpa perlu berbicara.
"Ah, Shelby," ujar supervisor. "Tolong bantu Nazharina menyesuaikan diri."
Shelby mengangkat alis. "Tentu," jawabnya, tetapi nada suaranya mengisyaratkan hal lain.
Nazharina tidak melewatkan kilatan di mata wanita itu-sesuatu yang samar, seperti ketidaksukaan yang sudah ada bahkan sebelum mereka sempat saling mengenal.
Namun, ia mengabaikannya.
Ia datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk menciptakan musuh.
*
Hari berjalan lancar-setidaknya sampai siang menjelang.
Nazharina sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Ia melayani pelanggan dengan sopan, menjelaskan koleksi butik dengan tenang, dan menghafal detail produk dengan cepat.
Kinoshita sesekali datang untuk mengobrol atau membantunya, tetapi Shelby tetap menjaga jarak. Wanita itu lebih sering sibuk dengan pelanggannya sendiri, sesekali melirik ke arah Nazharina seakan menunggu sesuatu terjadi.
Dan akhirnya, itu terjadi.
Seorang wanita paruh baya dengan penampilan mewah melangkah masuk ke butik. Langkahnya anggun, tas tangan berlogo desainer tergantung di lengannya, dan parfum mahalnya memenuhi udara.
Shelby tidak bergerak. Ia hanya menatap, lalu tersenyum tipis.
"Coba kutebak, kau belum pernah menangani pelanggan VIP?" bisiknya pelan, tepat saat wanita itu melewati mereka.
Nazharina menoleh.
"Apa maksudmu?"
Shelby melipat tangan di depan dada. "Kalau begitu, ini kesempatanmu."
Sebelum Nazharina bisa menjawab, pelanggan itu sudah berdiri di hadapannya.
"Permisi." Suaranya lembut, tetapi memiliki nada otoritatif. "Aku mencari gaun untuk acara malam ini. Sesuatu yang elegan, tetapi tidak berlebihan."
Nazharina menarik napas. Ini pertama kalinya ia menangani pelanggan sekelas ini, tetapi ia tidak ingin terlihat ragu. Dengan sopan, ia mulai menunjukkan beberapa pilihan yang menurutnya sesuai.
Wanita itu mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk. Percakapan mereka berjalan lancar, dan Nazharina mulai merasa percaya diri.
Namun, ketika wanita itu akhirnya menemukan gaun yang ia suka dan berjalan menuju kasir-Shelby melangkah maju.
"Oh, Madam Caroline," ujarnya dengan senyum manis, seakan baru menyadari keberadaan wanita itu. "Senang bertemu Anda lagi! Aku ingat, terakhir kali Anda mencari sesuatu dengan warna yang lebih terang, bukan?"
Nazharina melihat bagaimana pelanggan itu langsung tersenyum akrab. "Oh, Shelby! Aku tidak tahu kau masih bekerja di sini."
"Tentu saja. Aku tidak bisa meninggalkan butik ini begitu saja." Shelby terkekeh, lalu menoleh ke arah gaun di tangan wanita itu. "Oh, pilihan yang bagus. Kau menyukai rekomendasiku terakhir kali, bukan? Aku yakin yang ini akan terlihat sempurna untukmu."
Nazharina merasakan sesuatu yang tidak beres.
Dan benar saja-ketika transaksi selesai, komisi dari penjualan itu tidak tercatat atas namanya.
Melainkan atas nama Shelby.
Shelby menoleh dengan senyum puas. "Kau melakukan pekerjaan yang baik," katanya, suaranya lembut tetapi menusuk. "Aku hanya memastikan pelanggan setia tetap merasa dihargai."
Nazharina mengepalkan tangan di balik punggung. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia merasa, ke depannya akan selalu ada hal tak menyenangkan seperti ini.
Namun, tepat ketika ia hendak melangkah pergi, suara lembut namun penuh wibawa memecah keheningan.
"Oh, sebelum aku pergi," Madame Caroline menoleh dengan senyum ramah, "aku ingin berterima kasih pada nona Nazharina."
Nazharina mengangkat wajahnya, begitu pula supervisor mereka yang kebetulan tengah berdiri di dekat meja kasir.
"Dia benar-benar melayani dengan sangat baik," lanjut Madame Caroline. "Bantuannya luar biasa, dan dia memilihkan gaun ini dengan sempurna. Aku jarang bertemu staf baru dengan pemahaman mode sebaik dirinya."
Supervisor mengerutkan kening, matanya segera beralih ke layar kasir, di mana nama Shelby tercatat sebagai penerima komisi penjualan.
Shelby berdiri kaku di tempatnya, ekspresi wajahnya seketika berubah.
Madame Caroline tersenyum tipis, lalu menambahkan, "Kuharap butik ini tahu bagaimana menghargai staf yang memang bekerja keras. Komisi untuk penjualan ini, pastikan diberikan pada orang yang tepat."
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Supervisor menatap Shelby dengan tajam. "Shelby," suaranya datar namun tegas. "Bisa kau jelaskan?"
Shelby membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata yang keluar. Napasnya memburu, jemarinya yang terampil merapikan dress pelanggan kini menggenggam erat seragamnya sendiri.
Supervisor tidak menunggu jawaban. Ia langsung memberikan instruksi kepada kasir untuk memperbaiki transaksi tersebut-membatalkan pencatatan atas nama Shelby dan mengalihkannya pada Nazharina.
"Dan ini bukan pertama kalinya aku mendengar keluhan seperti ini," lanjut supervisor, tatapannya masih terarah pada Shelby. "Kita tidak mentoleransi tindakan semacam ini di butik ini."
Shelby menunduk, wajahnya pucat pasi.
Sementara itu, Madame Caroline melirik Nazharina dan mengedipkan sebelah mata, seolah mengatakan bahwa semuanya sudah beres.
Nazharina tersenyum tipis, tetapi dalam hati ia tahu-ini bukan sekadar kebetulan.
-
Di luar butik, angin sore bertiup lembut ketika Madame Caroline melangkah menuju mobil hitam yang telah menunggunya. Begitu pintu terbuka, ia masuk dengan anggun, duduk di kursi belakang, dan menyilangkan kakinya.
Seorang pria sudah ada di sana.
Arian.
Tatapannya tajam saat ia menatap keluar jendela, matanya masih terarah pada butik tempat mantan istrinya bekerja.
"Sudah beres," Madame Caroline berbicara lebih dulu. "Wanita licik itu ketahuan, dan Nazharina mendapatkan haknya."
Arian mengangguk pelan, ekspresinya tetap tak terbaca. "Bagus," gumamnya. "Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyusahkan dia."
Madame Caroline tersenyum, lalu menoleh ke arah amplop coklat yang kini tergeletak di atas pangkuannya. Isinya tebal, lebih dari cukup untuk 'pekerjaan kecil' yang baru saja ia lakukan.
"Aku tidak keberatan jika lain kali kau butuh bantuanku lagi," ujarnya santai, memasukkan amplop itu ke dalam tasnya.
Arian hanya menatap lurus ke depan.
"Aku membayarmu mahal," katanya, suaranya rendah tetapi penuh ketegasan. "Bukan untuk memberi komisi besar kepada orang lain selain dia." Ia menoleh, menatap Madame Caroline dengan dingin. "Apalagi kalau dengan cara licik seperti itu."
Madame Caroline terkekeh kecil, tetapi tidak membantah.
Mobil pun melaju, meninggalkan butik di belakang.
Dan Nazharina, tanpa ia sadari, tetap dalam perlindungan Arian-meski dari balik bayang-bayang.