Zee berjalan terseok-seok menyusuri koridor hotel. Ia berusaha melangkah secepat mungkin. Namun, kepalanya semakin terasa berat, tubuh Zee terasa terbakar dan kakinya sangat berat untuk digerakkan. Sayangnya, Zee tak boleh menyerah walau sedetik saja. Harga diri dan martabatnya sebagai perempuan sedang dalam taruhan. Sesekali ia menoleh ke belakang.
"Hei, berhenti! Dasar wanita jalang! Aku sudah membayarmu mahal!" teriak seorang lelaki yang sedang mengejarnya. Dengan wajah ketakutan Zee berusaha melawan kondisi tubuhnya yang semakin aneh agar tidak tertangkap lelaki itu. Ia melanjutkan usahanya untuk bergerak dengan cepat. Sayangnya, badannya tak berpihak kepadanya sekarang. Ia merasa kian lemas, tapi bergelora.
Zee memutuskan untuk berbelok dan berharap Tuhan akan segera memberikan pertolongan. Mata Zee pun menatap penuh harap pada sebuah troli makanan lengkap dengan hidangan serta kain putih yang menjuntai menutupinya. Sementara tak jauh dari benda itu terlihat seorang pelayan sedang menerima panggilan. Tanpa pikir panjang Zee segera masuk ke dalam troli itu.
"Baik, Pak. Semua pesanan anda sudah siap saya antarkan," ujar lelaki itu pada seseorang di seberang sana.
"Bagus. Cepat kesini dan jangan bikin Bos saya menunggu!"
"Siap, Pak. Saya datang segera." Tut. Sambungan terputus. Lelaki berpakaian khas pelayan hotel itu segera memasukkan ponselnya sebelum mendorong troli makanan kembali. Baru saja berbelok tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang pria paruh baya.
"Maaf, Pak!" ujar si pelayan saat mereka tak sengaja bertabrakan. Lelaki itu terlihat tak fokus pada si pelayan. Ia terus saja celingukan ke kiri dan kanan seakan sedang mencari seseorang. Hingga akhirnya pandangan lelaki itu beralih pada troli yang ada di depannya. Tangan lelaki itu pun terjulur ke arah troli. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya si pelayan yang membuat gerakan si lelaki terhenti.
"Oh, tidak. Tidak. Silahkan!" balas lelaki gempal itu lalu memberi jalan pada pelayan itu.
"Terima kasih, Pak. Selamat malam."
"Selamat malam," sahut lelaki itu tanpa melepas pandangannya pada troli tadi yang didorong menjauh.
****
"Pesanan anda hampir tiba, Pak," kata seorang lelaki berjas hitam pada seorang lelaki lain yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh atletis lelaki kedua yang hanya mengenakan lilitan handuk di pinggang dan masih menyisakan titik-titik air, membuatnya terlihat semakin seksi. Sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk si lelaki kedua duduk di pinggir kasur ukuran king size di tengah room.
"Loe udah pastikan pesanan gue nggak salah seperti kemarin?" balasnya dengan nada ragu.
"Iya, Pak. Kali ini saya sudah mencobanya sendiri," jawab lelaki berjas itu. Sebagai asisten ia sudah sangat hafal perangai Tuan Muda Nevandra Aditama itu. Dia yang lahir dan besar dari kalangan miliarder. Sudah terbiasa hidup dengan standar yang melebihi orang-orang biasa. Bahkan, hanya sekedar untuk makan saja ia harus memastikan bahan dan bumbu yang digunakan menggunakan takaran tertentu. Sesuai dengan kebutuhan gizi yang dipertimbangkan oleh Dokter keluarga Aditama.
"Oke. Kalau begitu setelah makanan itu masuk loe boleh pergi," timpal Nevan datar. Sembari menggerakkan jarinya di layar iPadnya.
"Ehms…. Bagaimana dengan pengajuan resign saya, Pak?" Nevan mengalihkan perhatiannya saat mendengar pertanyaan lirih dari orang kepercayaannya itu.
"Loe masih mikirin hal itu?"
"Saya… saya sudah dua tahun lebih melayani anda selama dua puluh empat jam, Pak. Jadi, izinkan saya untuk merajut masa depan saya sendiri," timpalnya tegas.
"Baiklah, Irwan. Tunggu gue mendapatkan pengganti loe yang cocok. Setelah itu loe boleh resign." Kalimat dingin itu disambut dengan senyum bahagia Irwan.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih." Irwan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia sudah lama menantikan jawaban itu. Sebab, ia tak bisa menikahi kekasihnya jika ia harus terus bekerja dengan si bayi besar ini. Sekarang tabungannya sudah lebih dari cukup untuk menikah serta membuka bisnis baru dengan sang calon istri.
Ting. Tong. Ting. Tong.
Bel pintu memecah perhatian keduanya.
"Tunggu sebentar, Pak!" kata Irwan riang. Ia bergegas menuju pintu.
"Selamat malam, Pak! Ini hidangan yang sudah anda pesan," ujar si pelayan saat pintu ruangan itu dibuka Irwan.
"Iya. Terima kasih. Ini tip untukmu. Biar saya yang membawanya masuk." Irwan menyerahkan selembar uang seratus ribuan. Lalu mengambil alih troli itu.
"Baik, Pak. Terima kasih." Si pelayan pun segera pergi. Irwan hanya tersenyum sekilas sambil melihatnya berlalu. Kemudian ia segera mendorong troli itu masuk ke kamar Bosnya.
'Ish. Kenapa troli ini terasa lebih berat dari biasanya,' pikir Irwan.
Selain makanan, Nevan juga sangat anti bertemu orang asing. Keluarganya yang merupakan orang terkaya di Indonesia. Selalu membatasi pergaulan Nevan untuk menjaga kehormatan keluarga serta keselamatan Nevan sendiri. Untuk itu, selain orang-orang terdekat Nevan. Mereka harus mengatur jadwal serta melewati berbagai ujian untuk bisa bertemu sang ahli waris perusahaan Adiguna Perkasa Group itu.
"Ini makanan anda, Pak!"
"Biarkan saja disana! Pekerjaan gue hampir selesai." Nevan membalas tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun.
"Baik, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu. Jika anda butuh apa-apa segera telepon saya," pesan Irwan yang tak digubris oleh Nevan.
Setelah kepergian Irwan ruangan itu kembali hening. Tak terdengar suara apapun lagi. Kecuali suara papan ketik layar iPad Nevan yang sangat halus.
Grek! Grek!
Pandangan mata Nevan langsung teralihkan. Ketika mendengar suara asing di sekitarnya. Ia berusaha mencari suara apa itu. Tetapi, tak ada yang aneh di sana. Nevan berpikir hanya berhalusinasi. Sehingga ia memutuskan untuk kembali fokus pada percakapannya dengan seorang rekan bisnisnya di luar negeri.
Grek! Grek! Grekkk!!!
Kali ini Nevan tak salah dengar lagi. Sebab, suaranya semakin terdengar jelas. Netra coklat mudanya pun menangkap getaran dari troli yang ada di depan sana. Ia mengerutkan kening dengan mata yang semakin dipertajam ke arah benda mati itu. Dengan hati berdebar kencang karena mulai merasa ketakutan. Ia perlahan mendekat. Tangannya terjulur untuk meraih kain penutup troli itu. Hingga saat kain itu dibuka….
"Haaa!!" Nevan berteriak histeris seraya terjungkal ke belakang. Tatkala melihat sosok wanita cantik dengan pakaian seksi ada di dalamnya.
"Hai, tampan!" ujar wanita yang tampak sudah kehilangan kesadarannya itu.
"Si… siapa loe?" tanya Nevan terbata. Namun, bukannya menjawab gadis itu malah fokus menatap tubuh Nevan yang belum berpakaian. Ia berjalan mendekat tanpa mengalihkan pandangannya. "Ap… apa yang–" Kalimat Nevan tercekal oleh bibir ranum gadis itu yang sudah menguasainya.
****
Pagi itu secercah cahaya menembus netra Zee yang masih tertutup rapat. Ia pun menguap lebar sambil bangkit dari tidurnya. Akan tetapi, mendadak gerakan Zee tertahan oleh sesuatu yang melingkar di pinggangnya. Gadis itu reflek menoleh. Alangkah terkejutnya ia melihat sosok lelaki tampan berhidung mancung dengan rahang tegas masih pulas dalam tidurnya.
"OMG. Apa yang sudah gue lakuin semalam?" tanya pada dirinya sendiri. Ia berusaha mengumpulkan ingatannya kembali. Hingga terbesit di pikirannya tentang kejadian yang sudah ia lakukan semalam. Mulai dari ia dicekoki obat perangsang oleh pamannya sebelum menjual gadis itu pada seorang pria hidung belang. Sampai pergulatan penuh gairah dengan lelaki tampan di hadapannya. "Oh Tuhan apa yang sudah gue lakukan semalam? Nggak. Nggak. Gue harus segera pergi dari sini sebelum dia bangun."
Pelan-pelan Zee menyingkirkan tangan kekar lelaki itu di pinggangnya. Lalu ia turun dari tempat tidur itu tanpa menimbulkan suara. Sebelum pergi tak lupa Zee menggunakan pakaiannya lagi.
"Pak! Pak! Bangun! Ini sudah pukul delapan! Kita harus segera kembali ke Jakarta," ujar Irwan sambil menggoyangkan tubuh Nevan.
"Ehms…. Sebentar lagi yah, Sayang," balas Nevan sambil menarik selimutnya lagi. Mendengar itu Irwan langsung terkekeh.
"Hahaha. Sepertinya anda terlalu mabuk semalam, Pak," sahut Irwan sambil menahan tawanya. Setelah melirik makanan dan botol minuman beralkohol di atas troli sudah ludes tak tersisa. Mendengar itu Nevan segera membuka matanya. Ternyata orang yang ada di hadapannya bukanlah gadis cantik semalam. Melainkan asisten pribadinya si Irwan. Nevan mencari sosok itu ke sekelilingnya. Namun, tetap saja netranya tak menemukan siapapun kecuali mereka berdua.
Pandangan Nevan pun berlabuh pada troli yang masih berada di pojok ruangan. Ia teringat bagaimana gadis itu keluar dari sana lalu menyerangnya dengan penuh gairah. Bahkan, di tengah permainan panas itu. Mereka sempat makan dan minum bir bersama untuk meningkatkan tenaga dan stamina keduanya.
"Pak! Apa anda masih mengigau? Atau perlu saya carikan obat? Sepertinya anda terlalu banyak minum semalam."
"Tidak. Gue yakin kalau semalam gue nggak bermimpi. Memang ada seorang gadis di tempat ini."
"Benarkah?" Dengan sigap Irwan menyusur ke setiap jengkal ruangan di VIP itu. Takut ada penyusup datang. "Nihil, Pak. Tidak ada siapapun," lapornya pada Nevan yang masih duduk termenung di atas tempat tidur.
Kring. Kring. Kring.
Ponsel Irwan tiba-tiba berdering. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada benda pipih itu.
"Halo. Selamat pagi, Tuan Irwan. Saya dari Istana Food Resto ingin mengabarkan jika hidangan yang anda pesan sudah siap untuk pertemuan Bos anda dan kliennya tiga jam lagi. Silahkan untuk diperiksa sendiri," kata seorang wanita dari seberang sana.
"Baik, saya akan segera kesana." Tut. Sambungan terputus.
"Ada apa?"
"Kita harus segera kembali ke Jakarta, Pak. Anda ada pertemuan dengan Mr. Maxim tiga jam lagi."
"Iya. Loe bener. Tunggu di luar. Gue akan segera menyusul."
"Baik, Pak." Setelah Irwan pergi Nevan tak kunjung beranjak dari duduknya. Ia masih kepikiran dengan kejadian semalam.
"Gue yakin. Kalau semalam gue tidak bermimpi. Gadis itu benar-benar ada di ruangan ini," gumam Nevan. "Ah. Entahlah. Gue harus segera pergi dari sini. Ada hal lain yang jauh lebih penting," tambahnya. Ia pun menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Seketika matanya membulat melihat sebuah noda darah ada di seprai putih itu. Nevan menyentuh noda itu dan kembali teringat kejadian tadi malam. "Benar, kan? Gadis itu benar-benar ada."
****
Zee berjalan dengan sedikit tertatih ke arah rumah Bibi Juwita. Alat reproduksi masih terasa nyeri karena pergulatannya semalam. Namun, ia harus segera pergi sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Blak!
Zee membuka lebar-lebar pintu rumah itu.
"Bik! Bibik Juwita!" teriaknya memanggil nama adik kandung ibunya. Setelah kepergian kedua orang tuanya sepuluh tahun lalu. Zee memang diasuh oleh Paman Gobar dan Bibi Juwita. Sayangnya, Paman Gobar memiliki perilaku buruk. Ia suka mabuk, main judi dan main perempuan. Dia tidak punya hati nurani sedikitpun. Demi mendapatkan uang. Tak segan ia memukuli, bahkan menjual tubuh sang istri. Dan semalam nasib sial ia torehkan pada Zee. Dengan dalih akan memberikan pekerjaan yang bagus. Zee malah dijual pada seorang lelaki hidung belang. Untung Zee berhasil kabur meskipun ia sudah dicekoki dengan obat perangsang yang sangat ampuh. Hanya saja, obat biadab itu tetap menguasai tubuhnya. Sehingga sikap Zee tak terkendali malam tadi.
"Bik! Bibik!" Zee terus mencari sosok Bibi Juwita. Untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Ia tahu pasti Paman Gobar sudah mendapatkan laporan jika ia kabur semalam. Sehingga amarahnya pasti dilampiaskan pada wanita malang itu.
Zee berjalan semakin masuk. Hingga saat ia baru saja melewati sebuah pintu. Tiba-tiba sebuah tangan membekapnya dari belakang.
"Ehmb…!"
Zee yang pernah ikut latihan beladiri pun dengan mudah melepaskan diri. Akan tetapi, ia terkejut saat mendapati orang yang baru saja membekap mulutnya adalah sang Bibik.
"Bibik! Bik Juwita tidak apa-apa?" tanya Zee khawatir.
"Ssst…. Pelankan suaramu! Nanti Pamanmu tau," ujar si Bibik setengah berbisik. "Bibik sudah kemasi semua barang-barangmu. Pergilah secepatnya ke Jakarta. Temui teman Bibik yang bernama Narsih. Ini uang tabungan Bibik untuk bekal kamu kesana. Tempat ini sudah tidak aman lagi untukmu. Cepatlah pergi!" tambah Bibik tanpa menaikkan nada suaranya. Sembari mengulurkan sebuah tas ransel besar serta beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Tapi, Bik. Bagaimana dengan Bibik? Bukankah kita berniat untuk pergi bersama?"
"Bibik bisa jaga diri baik-baik. Yang penting kamu harus pergi dulu. Bibik akan merasa sangat bersalah pada ibumu. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena suami Bibik. Untuk itu, Zee. Pergilah secepatnya!"
"Enggak, Bik. Bibik bisa dibunuh sama Paman kalau tau hal ini. Kita harus pergi bersama, Bik. Kita harus kabur bersama," timpal Zee kekeh.
"Tidak, Zee. Kamu harus pergi. Cepatlah! Bibik mohon!" Bik Juwita mulai memohon. Ternyata ucapannya pun didengar oleh Paman Gobar yang baru saja terjaga dari tidurnya. Ia segera bangkit lalu keluar dari kamar.
"Oh, bagus! Bagus ya kalian berdua!" kata lelaki itu dengan nada tinggi. Zee dan Bik Juwita terkejut. Reflek Juwita segera melindungi keponakan semata wayangnya. "Heh! Gadis nggak tau diri! Sialan kamu ya! Bisa-bisanya kamu kabur semalam. Malu-maluin aku saja! Kamu lupa aku ini siapa? Kamu itu utang Budi banyak sekali padaku! Kalau nggak karena kebaikanku. Mana mungkin kamu bisa hidup dan bersekolah sampai ke perguruan tinggi setelah kedua orang tuamu mati!" hardiknya.
"Jangan asal bicara ya, Mas! Kamu lupa ya! Zee itu aku yang membiayai. Bukan kamu! Jadi, kamu tidak pantas mengatakan hal itu!"
"Heh! Emang kamu bisa apa tanpa aku, hah?! Jual diri saja tidak becus! Harus aku yang carikan pelanggan. Sudah minggir sana! Aku harus bawa keponakan sialanmu ini ke Juragan Romli. Kalau tidak aku harus membayar ganti rugi. Cepat kesini!" Paman Gobar berusaha menarik tangan Zee, tapi segera dihentikan oleh sang istri.
"Cukup aku yang kau sakiti, Mas! Tidak untuk keponakanku!" kata Bik Juwita dengan nada penuh penekanan.
Plakkk!
"Bibik!!" Zee menjerit saat melihat sang Bibik ditampar dengan cukup keras oleh suaminya.
"Dasar wanita jalang! Sini kamu!" Paman Gobar menarik rambut Bik Juwita dengan kasar. Akan tetapi, tanpa ia sadari sang istri sudah menyembunyikan pisau dapur dari balik bajunya. Sehingga….
Jlepp!
Bik Juwita menancapkan benda tajam itu ke perut sang suami. Zee dan Pamannya pun tampak terkejut. Begitu juga dengan Bik Juwita yang tak menyangka akan melakukan ini pada lelaki yang sangat ia cintai itu.
"Juwita!!! Sialan kam–"
Jlepp! Jlepp! Jlepp!!
Sebelum berhasil menjambak rambutnya lagi. Bik Juwita menghunuskan pisaunya di dada sang suami berkali-kali.
"Ju… Juwita…."
Brukkk!
Paman Gobar pun terkapar dengan bersimbah darah. Sementara, Zee masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Bik!" Zee berjalan mendekat dengan wajah khawatir pada sang Bibik.
"Stop, Zee!! Pergilah! Pergilah sebelum ada polisi kesini!" teriaknya dengan sorot mata kosong.
"Tapi, Bik?"
"Pergiiii!!!" teriak Bik Juwita. Akhirnya, dengan berderai air mata Zee meninggalkan tempat itu. Sesekali ia menoleh ke arah rumah paling ujung yang dikelilingi tanah terbengkalai yang dipenuhi semak belukar itu. Sungguh, ia tak tega meninggalkan Bibiknya seorang diri disana. Namun, ia juga sudah berjanji pada mendiang ibunya untuk selalu mematuhi semua perkataan sang Bibik.
"Maafkan Zee, Bik. Maafkan, Zee," gumam Zee dengan bercucuran air mata.
Nevan menatap layar iPadnya yang sedang menampilkan video cctv depan ruangan hotel yang semalam ia pakai. Berulang kali ia memutar potongan video yang menunjukkan seorang gadis keluar dari ruangan itu saat masih pagi buta. Namun, cctv itu tak menangkap wajah sang gadis sehingga tidak bisa ia tunjukkan pada Irwan untuk diselidiki. Apa maksud dan tujuan gadis itu menyelinap ke kamarnya.
Sesekali Irwan melirik sang Bos Muda dari kaca spion yang menggantung di depannya. Ia tersenyum kecil melihat wajah sang Bos tampak tertarik dengan gadis dalam video itu. Hingga membuatnya tak bosan meskipun sudah diputar puluhan kali.
"Gadis itu cantik ya, Pak?" tanya Irwan memecah keheningan. Nevan tersadar jika sedari tadi ia diperhatikan.
"Nggak! Biasa aja," balasnya dingin. Sambil mematikan benda pipih itu.
"Oh, begitu," timpal Irwan dengan menahan senyum gelinya.
"Kenapa respon loe seperti itu?" tanya Nevan curiga. Ketika melihat ekspresi wajah Irwan dari spion.
"Oh, tidak, Pak. Tidak apa-apa. Ehms…. Apa sebaiknya kita ceritakan hal ini pada Nyonya Besar? Saya yakin pasti gadis itu bukan orang sembarangan." Irwan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan!" ujar Nevan cepat. Sampai-sampai membuat Irwan meliriknya lagi. "Maksudnya. Kita jangan terburu-buru kasih tau Omah. Lebih baik kita telusuri dulu identitas gadis itu. Setelah kita tau dia benar-benar orang jahat. Kita atur strategi untuk menangkapnya. Baru kemudian kita laporkan sama Omah kalau keadaannya sudah aman. Gue nggak mau Omah ikut kepikiran atas kejadian ini."
Dera Kiswoyo Aditama adalah nenek Nevan yang sudah mengasuhnya sejak bayi. Kedua orang tua Nevan meninggal karena kecelakaan saat ia masih kecil. Sehingga mau tak mau ia harus tinggal bersama istri pendiri perusahaan Adiguna itu. Dan hal itu pula yang membuat Omah Dera sangat ketat menjaga Nevan. Sekaligus memberi pelajaran mengatur perusahaan sejak dini. Sehingga, Nevan kini mahir menjalankan raksasa bisnis ekspor sang Opah meskipun usianya masih tiga puluh tahun. Kembali pada percakapan Nevan dan Irwan di dalam mobil.
"Tapi, gimana kalau ternyata gadis itu berniat menjebak anda, Pak?" balas Irwan sambil terus mengemudikan mobil bosnya.
"Menjebak?"
"Iya. Dia mengambil foto-foto anda saat anda lengah. Lalu menggunakan foto-foto itu untuk kepentingannya sendiri atau bahkan memeras anda."
"Iya. Loe bener. Pokoknya secepatnya kita harus tangkap gadis itu. Bagaimana pun caranya!"
"Iya, Pak. Tapi, kita tidak memiliki ciri-ciri khusus gadis itu, Pak. Jadi, saya yakin misi ini akan cukup sulit."
"Benar juga." Keduanya berpikir sesaat. "Untuk sementara. Kita selidiki sendiri kasus ini. Karena kita belum tahu pasti siapa musuh kita sekarang. Satu-satunya kunci ada pada gadis itu. Setelah dia tertangkap. Gue yakin kita bisa mendapatkan informasi tentang peneror gue selama ini," tambahnya. Nevan sadar umurnya yang belum matang untuk mengisi posisi penting di perusahaan. Membuat seseorang iri dan sering mengirimkan teror untuk menekannya.
"Baik, Pak. Saya sependapat." Irwan mengangguk setuju.
****
Di dalam bus yang mengantarnya ke Jakarta. Zee terus menatap selembar kertas yang terselip di antara lembaran uang seratus ribuan pemberian Bibinya. Di tengah kertas itu tertulis alamat rumah teman Bi Juwita yang bernama Narsih. Zee yang belum bisa melupakan kejadian beberapa saat yang lalu pun mendadak meneteskan air matanya. Ia sangat kenal kepribadian adik ibunya itu. Meskipun pekerjaannya tidak bisa disebut baik, tapi wanita itu selalu baik padanya. Ia hanya bernasib sial sehingga mencintai lelaki tak bermoral seperti Paman Gobar. Zee pun sering mendengar kalimat penyesalan keluar dari mulutnya dikala sedang menangis. Namun, walaupun begitu ia tetap patuh dan terus mengabdi dengan baik pada sang suami.
Hingga akhirnya kesabaran Bibi Juwita habis. Ketika ia berusaha untuk melindungi keponakannya dari kejahatan suami sendiri. Zee pun semakin sesegukan saat mengingat amarah Bibinya tadi. Ia sangat tau itu bukanlah sifat Bibinya yang sebenarnya. Sebab, ia tau betul Bibinya sangat penakut dan penurut. Untuk itu, Zee kini sangat khawatir. Bagaimana nasib Bibinya sekarang.
'Bagaimana kalau polisi tau dan Bibik dimasukkan ke dalam penjara? Maafkan Zee, Bik. Maafkan, Zee,' batin Zee sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri.
'Andai semalam gue tidak kabur. Mungkin hal ini tidak akan terjadi,' ujarnya dalam hati.
Mata Zee yang sembab serta tenaganya yang kian menguap sejak semalam. Membuat Zee yang tengah menangis sesenggukan pun akhirnya tertidur pulas karena kecapean. Tanpa Zee sadari seseorang yang duduk di sampingnya. Terus saja memandangi tas ransel yang ada di pangkuan Zee. Terutama pada kantong tempat Zee menyimpan kertas tadi.
Dua jam kemudian Zee dibangunkan oleh kondektur bus karena mereka sudah sampai tujuan.
"Neng! Neng bangun! Kita sudah sampai!" kata lelaki paruh baya itu sambil menepuk pundak Zee pelan. Zee segera terbangun.
"Kita udah sampai ya, Pak?" tanya Zee sembari mengumpulkan kembali nyawanya.
"Iya. Makanya cepat bayar! Tuh, semua orang juga sudah keluar!" Zee menatap ke tempat duduk lain dan memang sudah tidak ada orang lain selain mereka berdua di dalam sana.
"Oh, iya. Maaf saya ketiduran tadi, Pak."
"Ya, sudah. Cepat bayar saja! Setelah itu kamu silahkan pergi."
"Baik, Pak!" Zee merogoh kantong tas di bagian depan. Tempat ia meletakkan uangnya tadi. Namun, sesaat kemudian ia baru tersadar jika lembaran uang seratus ribuan itu tak ada lagi disana. Zee segera memeriksa kantong-kantong lain dan hasilnya pun sama. Pak Kondektur menatap Zee curiga.
"Bagaimana? Mana uangnya?"
"Sebentar ya, Pak. Saya cari dulu!" Zee kembali mengorek isi tasnya, tapi tetap tak menemukan apa yang dicarinya. "Ehms…. Maaf, Pak. Sepertinya ada orang yang mengambil uang saya. Saat saya ketiduran barusan."
"Lalu?!" sergah lelaki itu mulai kesal.
"Saya tidak bisa membayar ongkos, Bus," balas Zee dengan wajah ibanya. Lelaki itu menatap Zee dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang berbeda. Meskipun wajah Zee tampak sembab dan berantakan, tapi ia tetap terlihat cantik dengan kulit putih bersih. Sehingga lelaki itu menatap Zee dengan tatapan lain. Hingga Zee merasa risih dibuatnya.
"Oh, begitu. Oke. Tidak masalah. Tapi, kamu harus bayar dengan tubuh kamu!" kata lelaki itu sambil mencolek dagu Zee. Tentu, gadis itu langsung menepis tangan kasar nan hitam terbakar sinar matahari itu.
"Jangan kurang aja ya, Pak! Atau saya teriak nih!" ancam Zee.
"Teriak saja! Semua orang disini adalah teman saya. Kalau mereka tau paling mereka akan datang dan bergabung dengan kesenangan kita. Jadi, teriak saja sesukamu, Manis!" balasnya menantang balik. Tangan lelaki itu kembali hendak menyentuh wajah Zee, tapi Zee buru-buru berpaling.
Cling!
Tiba-tiba Zee mendapatkan sebuah ide brilian.
"Ya, sudah. Jika itu memang keinginan Bapak. Tapi, pertama-tama. Izinkan saya membuka baju terlebih dahulu ya!" ujar Zee.
"Oh, ya. Tentu!" Lelaki itu mundur selangkah dengan tatapan penuh hasrat pada Zee yang beranjak dari duduknya. Bak seekor singa kelaparan ia tak sabar menantikan gadis itu yang mulai mengangkat ujung bawah kemejanya.
Zee melirik tajam pada lelaki itu. Ketika hitungannya sudah pas. Ia pun segera menendang lelaki itu dengan cukup kuat sehingga terjungkal ke belakang. Zee cepat-cepat meraih ranselnya. Kemudian berlari tunggang langgang dari dalam bus itu.
"Wei! Kurang ajar! Kembali kamu gadis jalang!" teriak lelaki itu tak tak digubris Zee sama sekali. Karena ia terus berlari secepat mungkin menjauh dari tempat itu.
"Hosh. Hosh. Hosh." Zee mengatur nafasnya lagi sembari beristirahat sejenak. Setelah ia berhasil kabur dari area terminal. Ia pun memutuskan duduk di emperan toko sembari mengingat kembali kejadian demi kejadian naas yang sudah menimpanya. "Hiks. Kenapa sih nasib gue sial terus? Hiks. Hiks." Air mata Zee kembali membasahi pipi mulusnya.
Ia bingung harus bagaimana sekarang. Di tempat asing ini. Ia tak membawa uang sepeserpun. Hanya tersisa baju-baju dan alamat rumah teman Bibinya saja. Sementara, perutnya mulai meminta jatah makanan.