Bab 1

LELAKI YANG KAU TOLAK JADI SUAMI TERNYATA SEORANG MILYARDER TAMPAN

#Terima_Kasih_Telah_Mencintaiku (1)

“Sukma, kamu itu sudah numpang di rumah ini! Pendidikan kamu juga cuma SMP! Kamu sudah ngerepotin Abah sama Ambu bertahun-tahun. Nih denger, ya! Harusnya kamu balas budi. Kamu jadi orang jangan gak tahu diri gitu, dong! Harusnya kamu bela aku di depan Abah, harusnya kamu bilang biar kamu saja yang nikah sama pria cacat yang sudah duda itu!” Prisilia melempar satu buah gelas yang tadi dipakainya untuk minum tepat di depan sukma yang sedang mencuci pakaian.

Gelas itu seketika pecah berserakan. Sukma menatap Prisilia dengan nanar.

“Sisil, yang sudah dijodohkan itu kamu kata Abah. Jadi seperti sudah ada kesepakatan gitu waktu Abah dulu susah dan ditolong mereka!” Sukma menjawab.

Selama ini dia diam bukan takut. Namun lebih pada mawas diri karena semenjak dia menjadi yatim piatu, dia diurus oleh keluarga Abah. Hanya keluarga Abah yang bukan siapa-siapa yang mau menampungnya. Karena kemiskinan keluarga Sukma, bahkan sanak saudara pun tak ada yang mau menerimanya.

Ambu dan Abah yang baru saja datang menghampiri keduanya di dapur. Abah menatap Prisilia.

“Sisil! Maafin Abah, tetapi Abah memang sudah berjanji menikahkan putri Abah dengan Putra keluarga mereka. Maafin Abah, tapi kamu memang harus menikah dengannya!"

“Gak mau! Abah kenapa gak nikahin Sukma saja! Dia selama ini cuma ngerepotin kita doang! Numpang makan, numpang tidur, gak ada guna juga Abah sama Ambu merawat dia dari kecil! Pokoknya aku mending mati dari pada nikah sama pria cacat itu! Aku ini cantik, berpendidikan, Bah! Aku ini calon orang sukses di masa depan! Gak mau aku menggadaikan kebahagiaan aku dengan menikah sama pria itu, mana cacat, duda lagi!” Prisilia berbicara panjang lebar.

Abah hanya menggeleng kepala. Watak Sisil memang keras.

“Ambu, tolong! Nikahin saja si Sukma, Bu! Ambu juga akan bahagia kalau dia udah gak numpang di sini lagi!” Sisil meraih tangan Ambu.

Ambu menoleh pada Abah. Benar mungkin yang dikatakan oleh putri semata wayangnya. Jika mereka harus mencoba.

“Abah coba bilang sama mereka, bagaimana kalau yang dinikahkan itu Sukma. Abah bisa bilang kalau Sukma ini putri angkat kita! Kasihan Sisil juga, Bah! Ambu juga gak setuju sih sebetulnya. Masa putri cantik kita harus punya suami orang lumpuh udah gitu duda lagi. Anggap saja Sukma membayar hutang budi sama kita, Bah! Toh hanya kita yang selama ini peduli.” Ambu menatap harap pada Abah.

Lalu Ambu melirik pada Sukma.

“Sukma, kamu sudah kami rawat selama ini! Numpang makan, numpang tidur di sini! Sudah saatnya kamu balas budi. Ingat hutang budi itu bisa dibawa mati, Sukma! Kamu mau, ya menikah dengan anak Pak Bagas gantiin Sisil?” Ambu menatap Sukma dengan tatapan tajam.

Sukma terdiam. Hatinya berontak tapi bisa apa. Sebetulnya dia sudah berjanji akan menerima lamaran Ahsan---putra dari Pak Camat. Lelaki itu sudah beberapa bulan ini menjalin hubungan dengannya.

“T—tapi aku sudah terlanjur menyanggupi kalau akan menerima lamaran Mas Ahsan, Ambu!” Sukma menunduk. Ucapannya lirih hampir tak terdengar.

Ahsan berjanji setelah wisuda S1 nya digelar, dia akan datang melamarnya. Lelaki itu sering ketemu ketika Sukma diminta Ambu membantu acara-acara di kecamatan. Ambu ini salah satu pegawai PKK juga dan dia selalu melibatkan Sukma untuk meringankan pekerjaannya. Dari saat itulah hubungan keduanya semakin dekat.

“Ahsan biar nanti Ambu yang urus. Lagian Sisil juga baru saja putus. Mungkin nanti kalau Sisil mau, biar dia yang menggantikan kamu menikah sama Ahsan, kamu menggantikan Sisil menikah sama anak Pak Bagaskoro itu.” Ambu memutuskan.

“Ambu!” Abah hendak menyahut. Namun kedua netra Ambu membulat mengisyaratkan Abah untuk diam.

“Ambu nanti yang urus sama Nak Ahsan. Kalau dia ke sini kamu gak usah temui dia. Kamu bersiap saja untuk merawat diri agar nanti anaknya Pak Bagas suka sama kamu. Biar Sisil nanti anter kamu ke salon kalau keluarga mereka mau datang!” Ambu bertitah.

“Baik Ambu kalau dengan menikahinya bisa membalas hutang Budi. Aku bersedia!”

Sukma akhirnya menyerah. Toh selama tinggal bersama keluarga Ambu dirinya hanya seperti pembantu saja. Setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah dari shubuh sampai malam lagi. Jika sudah selesai, tak ada waktu juga untuknya bersantai. Ambu akan menyuruhnya menunggui toko sembako miliknya yang ramai dan memang kekurangan pegawai.

Selama ini, Sukma hanya menumpang hidup dan dimanfaatkan tenaganya. Awalnya dia sudah bahagia ketika Ahsan hendak melamar. Berharap memiliki kehidupan masa depan yang bahagia. Namun semuanya buyar, ketika ternyata dia hanya harus menikahi seorang duda lumpuh yang bahkan dia belum tahu mukanya.

Abah tidak banyak bisa melawan Ambu. Dia juga takut akan ancaman Sisil yang mengancam akan bunuh diri jika tetap dipaksa menikahi anaknya Pak Bagas---teman Abah masa muda dulu. Akhirnya hari itu, Abah mengurus kartu keluarga dan memasukkan Sukma menjadi anak angkatnya.

Setelahnya Abah mengirimkan foto Sukma yang sudah didandani. Gadis berlesung pipit itu tampak sangat cantik sekali bahkan melebihi kecantikan Sisil. Tidak berapa lama, Pak Bagas membalas dan menyetujuinya. Selama perempuan itu anak dari Abah, baginya tak apa.

Sisil tersenyum senang. Ambu yang menemui Ahsan ketika pria itu datang. Dia meminta Ahsan melupakan Sukma. Sebagai gantinya, Ambu mengenalkan Sisil pada Ahsan.

“Nak Ahsan, Sisil ini juga lagi kuliah S1 Cuma baru semester dua! Kalau Sukma itu malah gak ada pendidikan apa-apa, dia cuma SMP. Ambu sering ajak dia kalau ada kegiatan karena emang di sini gak ada kerjaan! Mungkin mulai hari ini, Nak Ahsan mulai lupakan Sukma, ya! Dia sendiri yang meminta untuk menikah dengan anak Pak Bagas. Mungkin sudah bosan hidup alakadarnya bersama kami di sini. Dia ingin hidup serba kecukupan di kota nanti!” Ambu menjelaskan panjang lebar.

“Saya gak nyangka pikiran Sukma sesempit itu! Baik Bu kalau begitu saya permisi!”

Ahsan berpamitan meninggalkan kediaman Ambu. Dia hanya melirik sekilas pada Sisil yang tersenyum malu-malu. Sukma yang mendengarkan dari balik kamarnya mengigit bibir. Menahan rasa yang tiba-tiba menyesak.

“Ya Allah, semoga aku bisa benar-benar hidup bahagia bersama anaknya Pak Bagas itu. Entah dia cacat, entah dia duda, jika Engkau sudah menentukan dia berjodoh denganku semoga semuanya yang terbaik.” Sukma menyeka air matanya sambil menatap punggung Ahsan yang sudah mulai menjauh dari jendela kamar.

Bab 2

PENJUAL REMPEYEK YANG DIHINA SAUDARA TIRINYA ITU DINIKAHI SULTAN

#MENIKAH DENGAN SULTAN (2)

[Ibu Erni! Minta tolong untuk check plat nomor mobil ini! Apakah ini mobil inventaris perusahaan! Lalu minta check juga wajah ini, apakah ini salah satu karyawan di perusahaan?!] sederet kalimat itu dikirimkannya pada Bu Erni---bagian HRD&GA.

Wira kembali memasukkan gawai itu ke dalam saku lusuhnya. Dia memastikan tidak ada yang melihatnya atau semua penyamarannya akan berakhir.

Dia bergegas mendorong kembali gerobak berisi sampah-sampah yang bisa didaur ulang. Penyamarannya kali ini bukan tanpa alasan. Namun dia sedang menyelidiki kasus pembengkakan anggaran untuk project pembebasan lahan. Sudah beberapa laporan masuk jika dana pembebasan lahan ternyata di luar perkiraan.

Tanah yang diperkirakan hanya memiliki kisaran harga tiga ratus ribu rupiah permeter, pada kenyataannya dalam laporan, bisa menjadi naik tiga kali lipatnya. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Wira memutuskan untuk menyelidikinya sendiri ke lapangan.

Beberapa fakta mengejutkan terjadi. Pada kenyataan di lapangan, tanah yang sudah termasuk dalam laporan dan sudah mendapatkan uang pembebasan lahan, ternyata kebanyakan tanah girik. Bahkan ada tanah kosong yang memang milik negara yang berjejer di samping kali malang. Wira melakukan survey, beberapa orang menyebutkan betul jika ada orang yang memeberi mereka uang, akan tetapi karena tanah itu memang entah milik siapa, mereka pun hanya meninggalinya. Ada yang diberikan harga hanya 50.000 per m2. Bahkan ada juga yang tidak dibayar alias gratis hanya diberikan kesempatan untuk segera memindahkan barang-barang mereka.

Hari itu Wira kembali berkeliling, masih butuh beberapa keterangan saksi lagi untuk menjerat pelaku. Dia menyusuri jalanan sepanjang kali malang itu sambil memunguti botol-botol bekas. Langkahnya terhenti ketika di teras sebuah rumah yang sangat kecil, tampak gadis yang tadi ditolongnya sedang membantu meminumkan obat pada seorang wanita sepuh yang duduk bersandar. Di depan rumah yang ditaksir hanya memiliki luas 24 m3 itu tampak ada kompor dan panci adonan.

Wira berhenti mengayun langkah. Tertegun sejenak. Hati kecilnya merasa iba. Mungkin ini yang tadi dibilang Rinai---gadis penjual rempeyek itu jika dia sedang butuh uang. Gadis yang baru beberapa hari ditemuinya sedang berjualan di tepi jalan.

“Rongsok! Rongsok! Ada botol aqua bekas? Panci bekas? Wajan bekas?!” Wira mendekat dan berdiri tidak jauh dari Rinai yang baru saja selesai memberikan obat pada ibunya.

“Gak ada, Bang!” Rinai menjawab tanpa menoleh. Dia tidak menyangka jika Wira akan mengikutinya ke sana.

“Saya mau beli rempeyeknya, Mbak!” ucap Wira sambil menatap rempeyek yang masih tampak berenang-renang di wajan. Rupanya Rinai tengah menyiapkan untuk jualan esok pagi lagi.

Rinai menoleh. Selalu ada getar senang ketika ada orang yang berkenan membeli barang dagangannya.

“Belum matang, Bang! Tunggu bentar, ya!” ucap Rinai. Namun netranya terkesima ketika ternyata yang berdiri itu seorang pemulung tampan yang tadi membeli semua dagangannya.

Wira mendekat, lalu duduk pada balai-balai. Dia mengedarkan pandang. Rumah itu benar-benar kecil, jauh dibawah kata sederhana.

“Saya nunggu di sini saja!”ucap Wira.

Rinai mengangguk. Dia beringsut ke dalam dan membawa semua bungkusan obat yang tadi diberikan pada ibunya. Tak berapa lama, dia keluar lagi dengan membawa secangkir teh manis pada nampan.

“Silakan, Bang!” ucapnya sambil meletakkan gelas itu di samping Wira.

“Kenapa dibuatkan ini? Saya bukan tamu.” Wira menatap garis wajah manis yang tampak penuh beban itu.

“Anggap saja ucapan terima kasih, karena bantuang Abang membeli semua rempeyek saya tadi, saya bisa membeli bahan untuk berjualan lagi dan membelikan obat untuk ibu. Selain itu, tadi saya kebele gula dan teh manis … alhamdulilah bisa membuatkan ibu. Sudah lama, gula kami habis, Bang! Saya gak ada uang buat beli,” ucap Rinai.

Kalimat panjang lebar itu membuat hati Wira terenyuh. Ternyata beberapa lembar rupiah yang baginya tidak seberapa bisa begitu berarti buat gadis itu. Bahkan, dengan mata berbinar dia begitu bahagia ketika berbicara bisa membeli teh dan gula. Bisa membuatkan ibunya. Seolah teh manis itu minuman langka.

“Kamu hebat, Mbak! Kamu tampak begitu pekerja keras!” Wira memuji gadis itu dengan tulus. Selama ini tidak ada sosok unik seperti Rinai. Gadis-gadis yang dikenalnya rata-rata bergaya hidup hedon, suka menghamburkan uang, mengikuti trend mode dan sibuk dengan gossip-gosip murahan.

“Saya bukan hebat! Keadaan yang memaksa saya menjadi seperti ini!” Rinai menjawab sambil mengangkat rempeyek yang sudah matang. Kemudian tangannya dengan cekatan kembali memasukkan adonan rempeyek it uke dalam wajan. Membuat cipratan-cipratan minyak kecil dan suara gemericik.

“Sudah matang, Bang! Tunggu dingin sebentar,” ucap Rinai sambil meniriksan rempeyek yang baru saja diangkatnya. Wira mengangguk sambil meneguk teh manis yang disuguhkan padanya.

“Oh iya, kenalkan … nama saya Wira! Mbak namanya siapa?” Wira mengulurkan tangan. Rinai yang baru saja menyimpan centong adonan mengelap sebentar tangannya yang penuh minyak lalu menerima uluran tangan Wira.

“Nama saya Rinai. Mungkin gak usah panggil, Mbak! Sepertinya Abang lebih tua dari saya!” ucapnya sambil tersenyum samar. Wajahnya tampak semakin manis di mata Wira.

Mereka melepas jabatan tangannya. Wira kembali duduk dan menikmati teh manisnya. Sementara itu, Rinai kembali fokus pada wajan berisi rempeyek yang sedang dimasaknya.

Wira mengedarkan pandang. Dia menangkap beberapa sosok berpakaian rapi sedang berjalan menyusuri pinggiran kali. Menatap bangunan-bangunan setengah kumuh yang berdiri di sana. Ada empat orang totalnya. Salah satu dari mereka mengenakan pakaian dengan lambing yang Wira sangat kenal. Dia sepertinya salah satu pegawai yang ditugaskan di lapangan dari perusahaannya.

Keempat orang itu berpencar. Dua orang mendekat ke arah Wira dan Rinai. Sementara itu, dua orang lagi memasuki bangunan setengah kumuh lainnya.

“Permisi, Mbak! Kenalkan, kami dari perusahaan Wira Eka Dharma yang bergerak di bidang property. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengurus pembebasan lahan karena kami sedang ada project komersil di daerah sini!” ucap salah satu memperkenalkan diri. Wira menunduk dan duduk menepi. Membiarkan dua orang itu duduk pada balai-balai dan lebih dekat pada Rinai.

“Iya silakan duduk, Pak! Ada perlu apa, ya?” Rinai mematikan kompor. Mengelap tangan lalu duduk pada balai terpisah yang ada di sana.

“Kami ingin membeli area ini. Ini juga ‘kan masih tanah pengairan ‘ya? Per meternya kami hargai lima puluh ribu rupiah! Ini sudah mutlak, semua harga di sini sama. Kalian bisa pindah dan mencari tempat lain nanti dengan uang yang kami berikan!” ucapnya. Sontak darah Wira mendidih. Mendengar dengan telinga sendiri sebuah kecurangan yang ada di depan matanya.

Bab 3

Lelaki Yang Kau Tolak Jadi Suami Ternyata Seorang Milyarder Tampan

#TERIMA_KASIH_TELAH_MENCINTAIKU (BAB 3)

Selamat membaca! Jangan lupa subscribe dan tinggalkan komen dan lovenya, ya!

Namun sial, terdengar suara Abah memanggil Sukma. Dasar Abah, memang gak tahu situasi dan kondisi.

“Sukma! Sini, Nak! Ini calon mertuamu ada datang!” panggil Abah. Membuat langkah Sisil dan Sukma terhenti begitu saja.

“Iya, Bah!” ujar Sukma sambil menarik tangannya dari Sisil.

“Abah, aku mau dandanin Sukma dulu!” ucap Sisil sambil melotot ke arah Abah.

“Pak Bagas gak lama, kok! Ke sini saja gak apa,” ujar Abah sambil melambaikan tangan pada Sukma dan Sisil.

Sukma berjalan mendekat. Sisil melanjutkan langkahnya menuju pintu samping. Sisil takut, Pak Bagas akan berubah pikiran ketika melihat penampilan Sukma. Bajunya sudah lusuh, rambut ikalnya dikuncir ekor kuda, sudah gitu, pakaiannya penuh dengan sisa tepung yang menempel.

“Assalamu’alaikum!” Sukma mengucap salam ketika sudah tiba di ambang pintu. Di ruang tengah tampak Ambu tengah menyajikan minuman dan camilan.

“Wa’alaikumsalam!” jawab semua yang ada di ruang tengah serempak. Tampak ada wanita paruh baya dengan pakaian anggun, juga ada seorang laki-laki paruh baya yang tampak masih gagah. Wajahnya masih menggariskan ketampanan usia muda.

“Mas Bagas, Mbak Ayu! Perkenalkan ini Sukma---anak angkat kami. Sukma, ini Pak Bagas sama Bu Ayu---calon mertua kamu!” Abah berbicara sambil menepuk bahu Sukma lembut.

“Wah alhamdulilah akhirnya bisa ketemu langsung sama Sukma,” ujar Bu Ayu.

Sukma membungkuk hormat lalu mendekat pada kedua orang itu dan mengulurkan tangan untuk menyalaminya. Sementara itu, netranya kembali mengedar ke seluruh ruangan. Meskipun sudah ikhlas dan pasrah, akan tetapi tetap saja Sukma penasaran pada sosok yang akan jadi calon suaminya. Namun tak ada orang lagi di ruang tengah itu selain mereka berlima. Setelah itu Sukma duduk pada sofa terpisah di samping Ambu.

“Sukma, maaf kami mendadak mampir. Tadi sekalian ada urusan soalnya. Jadinya Raga---calon suami kamu memang tidak ikut!” Pak Bagas berbicara pada Sukma.

“Oh jadi nama calon suamiku Raga?” batin Sukma. Sementara itu, bibirnya melengkung membuat senyum dan kepalanya mengangguk tanda mengiyakan perkataan Pak Bagas.

“Kami ada satu hal lagi yang mau disampaikan! Tidak enak juga jika berbicara melalui telepon. Kami ingin Sukma tahu semuanya sebelum pernikahan ini dilangsungkan!” ujar Bu Ayu.

“Hal apa ya, Mbak Ayu?” Ambu menyahut. Dia menatap wajah calon besannya penasaran.

“Sebetulnya kenapa kami meminta Abah menjadi besan, karena Raga---putra kami sudah memiliki anak dari pernikahan pertamanya! Cucu kami bernama Khairani, usianya kini sudah dua setengah tahun! Kami tahu Abah orang baik, kami berharap menantu kami kelak selain bisa menerima Raga yang kondisinya masih belum normal, juga bisa menerima keberadaan Khairani---cucu kami!” ujar Bu Ayu.

Sukma menarik napas. Mencoba berdamai. Kata ikhlas yang pagi dia ucapkan, dia lafalkan lagi berulang. Sedangkan Ambu tampak lega. Dalam hatinya bersyukur karena bukan Sisil yang dinikahkan dengan anak Pak Bagas dan Bu Ayu itu.

“Gak apa, Mbak Ayu! Sukma ini dewasa kok orangnya! Dia juga sudah menyatakan kalau rela menerima calon keluarga suaminya apapun kondisinya! Iya ‘kan, Sukma?” Ambu menyenggol lengan Sukma.

Sukma mengangguk. Tak ada yang bisa dia perbuat selain mengangguk dan menerima.

“Alhamdulilah, benar begitu Nak Sukma?” Bu Ayu menatap Sukma.

“Iya, Bu! Saya bersedia,” jawab Sukma sambil tersenyum.

“Alhamdulilah,” ucap Pak Bagas dan Bu Ayu hampir bersamaan.

“Mungkin saya mau ngasih tahu Bu Ayu sama Pak Bagas juga,” ucap Ambu menjeda.

“Ngasih tahu apa, Mbak?” Bu Ayu menatap pada calon besannya.

“Sukma ini sekolahnya dulu cuma sampai SMP. Mungkin gak pintar-pintar banget. Jadi mohon sekalian dibimbing nanti ya, Mbak Ayu, ya! Takutnya nanti malu-maluin keluarga! Tadi denger-denger kalau Raga punya wirausaha ‘kan ya?” Ambu menatap Pak Bagas dan Bu Ayu bergantian.

“Oh gak ada masalah kalau itu sih, Mbak! Saya lihat Sukma sudah cocok, santun dan lembut. Yang paling penting itu saja, sih! Masalah sekolah sampai mana gak ada masalah … Sukma ini mau jadi bagian dari anggota keluarga toh, bukan buat melamar jadi karyawan saya!” kekeh Pak Bagas.

Obrolan berlangsung beberapa lama. Pak Bagas langsung membahas masalah pernikahan dan menentukan harinya. Sekilas dia menunjukkan foto Raga dan Aira pada Sukma yang kembali hanya dibalas oleh anggukan.

Keduanya telah berpamitan pulang. Sukma bergegas menunaikan shalat zuhur lalu beranjak ke dapur. Kini dia mulai menyiapkan masakan untuk makan sore nanti.

Dari ruang tengah terdengar samar obrolan Ambu dan Sisil. Dapur mereka hanya ada batas tembok saja. Ketika pintu tengah terbuka otomotis suara terdengar meskipun sedikit samar.

“Ambu cantik gak pakai baju ini?” Sudut netra Sukma menangkap bayangan Sisil yang sedang memamerkan dress baru. Tampak seksi dengan belahan dada yang rendah dan rok di atas lutut.

“Cantik, emang mau ke mana?” Terdengar suara Ambu. Sukma tak lagi menoleh, hanya menyimak apa saja yang memang terdengar. Tangannya dengan gesit memotong-motong bahan untuk membuat sayur lodeh. Hari itu dia akan memasak ayam serrundeng, sayur lodeh, tempe goreng dan urap daun kencur---makanan kesukaan Abah.

“Pokoknya sore ini aku seneng banget! Akhirnya Ahsan mau diajak ketemuan!” pekik Sisil.

Nyesss!

Ada yang terasa menusuk pada batin Sukma. Semudah itukah Ahsan melupakannya? Namun dia tetap berusaha abai. Mulai hari ini dia harus benar-benar melupakan Ahsan. Bagaimanapun hari pernikahannya dengan Raga sudah ditentukan.

“Ya Allah … semoga semua masa ini bisa kulalui dengan baik … ikhlas … ikhlas … ikhlas ….” Sukma kembali berucap dalam hati. Menekankan pada perasaannya sendiri.

Ba’da maghrib terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Sukma yang baru selesai shalat dan melipat mukena beranjak hendak membukakan pintu. Namun langkahnya terhenti, ketika tampak pintu sudah terbuka.

Sesil sudah berjalan menuju teras. Namun ada pemandangan yang terasa menyayat luka di hatinya ketika tanpa sengaja bersitatap dengan lelaki yang baru saja duduk di kursi rotan itu. Sukma memalingkan wajag dan kembali masuk ke dalam kamar.

“Aku kuat … aku kuat … aku harus melupakan dia … selamat tinggal Mas Ahsan!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED