Cukup lama aku berusaha menetralkan perasaanku. Dada yang sesak, hati yang luka, bahkan jiwa yang seakan-akan terombang-ambing membuat fisikku semakin lemah. Aku benar-benar tak berdaya karena luka yang digores ini adalah ulah orang-orang yang sangat dekat denganku.
Jika bukan mereka, mungkin aku sudah mengamuk dan meluapkan emosiku agar hati ini plong. Namun, kembali aku berpikir jika aku bersikap bar-bar maka ibukulah yang akan menjadi korban.
Mas Bram dan Yuni sudah keterlaluan. Mungkin ini bukan yang pertama kali karena tadi di dalam pesan yang dikirim oleh Nur, ia mengatakan sudah sering kali melihat Mas Bram kembali ke sini dan itu artinya Mas Bram sudah sering kembali ke rumah ibuku untuk bertemu Yuni.
Astaghfirullahalazim ..., aku benar-benar merasa telah ditipu mentah-mentah oleh dua orang yang sangat dekat denganku.
Setiap minggu selalu dengan alasan memancing, Mas Bram selalu saja menyibukkan dirinya di luar pada hari liburnya. Bahkan tak jarang ia menginap dan mengaku kelelahan sehingga memutuskan tidur di tenda darurat bersama teman-temannya.
"Dek, maafkan aku!" Tiba-tiba Mas Bram datang dan bersimpuh di hadapanku sambil mengucapkan kata maaf. Ia menggenggam tanganku, tetapi dengan cepat kutepis karena luka ini tak akan sembuh hanya dengan permintaan maaf semata darinya.
"Mbak Ainun, maafkan Yuni, Mbak!" Tak lama disusul pula oleh Yuni-adik kandungku.
Lengkap sudah, kedua pengkhianat hadir di hadapanku, membawa muka memelas dan berharap kata maaf dariku.
"Mbak, bicara, Mbak! Aku siap dipukul atau dihukum, dicacimaki, tapi tolong, Mbak Ainun jangan diam saja."
"Kamu mau aku bicara apa, Yun?"
"Mbak boleh marah, maki aku, hina aku, terserah, Mbak Ainun. Tapi tolong jangan diam aja, Mbak! Aku nggak mau Mbak kenapa-kanapa. Aku takut Mbak ...."
"Mati karena sakit hati? Begitu maksud kamu?"
Aku tersenyum sumbang sembari melihat wajah kedua penghianat yang ada di hadapanku ini. Rasanya sangat muak, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam.
"Bukan begitu maksudnya, Mbak. Tapi ...."
"Kenapa kalian tega melakukan ini terhadapku?"
"Maafkan aku, Dek! Aku khilaf!"
"Khilaf sudah yang keberapa kalinya?" Aku hanya bisa berbicara sumbang tanpa tau kemana arah tujuan di setiap perkataanku karena pikiran ini sudah terasa benar-benar buntu karena penghianat mereka.
"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, Mbak. Aku menyesal. Mohon maafkan aku!"
"Apa kata maaf dariku bisa merubah semua keadaan kembali seperti semula?"
"Maaf, Dek!"
"Sudahlah, aku nggak akan kenyang dengan kata maaf dari kalian!" ucapku. Lalu aku berdiri karena percuma ada di sini. Toh semua sudah terjadi.
"Mbak mau ke mana?"
"Pulang."
"Dalam keadaan marah? Bahaya, Mbak!"
"Kalaupun aku mati maka tak akan ada yang perduli!"
"Dek, jangan bicara begitu! Kami masih sangat menyayangi kamu."
"Iya, saking sayangnya kalian terhadapku, sampai kalian tega mengkhianati rasa sayang dan cinta yang sudah kuberikan selama ini." Entah kenapa aku merasa hatiku sepertinya telah mati saat ini. Sehingga kali ini, tak setitik pun air mataku mengalir setelah menyaksikan perbuatan bejat mereka tadi. Hatiku seolah-olah sudah tak mempunyai rasa pada keduanya karena sudah terlanjur sakit dan luka.
"Mah!" Secara kebetulan Karin pun sudah kembali dari bermain dengan temannya dan aku mengajaknya untuk pulang. Karena karin sudah tahu bahwa sang nenek sedang tidak ada di rumah maka dengan mudah Karin menurut kepadaku dan kami pun naik ke motor yang kuparkir di pinggir jalan tadi lalu memutuskan untuk kembali ke rumah.
Setelah melajukan kuda besiku, barulah aku menumpahkan semua rasa sakit yang tadi berkumpul di dalam hati. Barulah semua rasa kecewa dan sejak itu berubah menjadi air mata dan mengalir deras di pipiku.
Beruntung kali ini Karina lebih memilih untuk duduk di belakang dan memeluk pinggangku dari belakang. Sehingga aku bisa bebas tanpa khawatir ia bisa melihat air mataku.
"Mama nangis?"
Astaghfirullahaladzim, baru saja aku berpikir Karina tidak menyadari bahwa aku saat ini sedang menangis, tetapi ternyata pertanyaan itu meluncur juga dari mulutnya.
"Nggak kok, Sayang. Emang kenapa?" tanyaku berubah menetralkan suaraku saat berbicara dengannya.
"Ini, kok dari tadi, Karin merasa perutnya Mama seperti gerak-gerak. Kayak waktu Karin kalau sedang nangis, pasti perut Karina juga gerak-gerak gitu," jawabnya sambil berusaha untuk mengintip wajahku.
"Kamu tuh, ya! Mama lagi nyanyi jadi mungkin karena itu Karin merasa perut Mama gerak-gerak." Dengan cepat kuhapus air mataku menggunakan lengan baju panjang yang saat ini kukenakan, lalu aku sedikit menolehkan wajahku sambil tersenyum untuk meyakinkan dirinya bahwa saat itu aku tidak sedang menangis.
"Oohh ..., kirain Mamah lagi nangis kangen sama nenek karena tadi kita ke sana tapi nenek belum pulang." balasnya lagi.
"Nggak kok, Sayang. Kamu aja yang salah sangka sama Mamah," sambungku.
Setelah percakapan itu akhirnya kami pun kembali diam dan tanpa terasa kini kuda besiku sudah tiba di halaman rumah tempat kami tinggal selama enam tahun belakangan ini.
Setelah menyimpan motorku di teras lalu kami masuk dan kami sama-sama membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamar kami masing-masing.
Karin sudah berusia hampir tujuh tahun dan sudah kubiasakan untuk mandi sendiri karena aku ingin mendidik dirinya menjadi anak yang mandiri dan tidak manja.
Setelah mandi aku keluar dari kamar mandi hanya dengan membalut tubuhku deng handuk. Namun, aku terpaku di depan pintu kamar mandi karena saat itu ada seorang pria yang berdiri di hadapanku dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Dek, aku benar-benar minta maaf! Aku khilaf, Dek. Tolong jangan pernah tinggalkan aku!" Mas Bram langsung memelukku sambil menangis terisak. Bahkan aku bisa merasakan tubuhnya yang bergetar karena tangis yang sedang menguasai dirinya.
Seperti apa ya... tanggapan Ainun setelah di khianati?
Sudah cukup rasanya aku menumpahkan segala kekesalan yang ada di hatiku selama di perjalanan tadi. Kini harus ditambah lagi, saat aku menerima perlakuan dari Mas Bram di mana aku harus menyaksikan dirinya yang terlihat begitu menyesal atas segala apa yang telah ia lakukan.
Mas Bram memeluk tubuhku dengan begitu erat seperti enggan melepaskan, sambil menangis tergugu.
"Jangan pergi, Dek! Jangan tinggalin aku sendirian! Aku janji, aku tidak akan mengulangi semua ini lagi, ini yang terakhir kalinya, Dek." ujar Mas Bram yang menangis memelukku.
Entah mengapa, sekalipun hatiku sama sekali tak tergetar ketika mendengar ucapan maaf yang ia ucapkan. Hatiku kali ini sepertinya benar-benar telah mati untuknya, sehingga semua kini terasa begitu hambar, tak ada lagi rasa kecewa, sedih, maupun sakit hati. Semua rasa begitu datar seakan-akan sudah tak ada lagi luka yang perlu kubalut dengan air mata.
"Kenapa harus berjanji kalau kamu tidak bisa menepatinya, Mas? Kenapa tidak kau lepas saja aku? Kenapa tidak kau ceraikan saja aku? Agar kau bisa bebas melakukan apapun di luar sana agar tak ada lagi yang menahanmu!"
"Dek, dengarkan aku, kita tidak boleh egois, kita harus sama-sama memikirkan Karina. Bagaimana perasaannya nanti, jika melihat orang tuanya berpisah. Tolong, Dek, pikirkan baik-baik! Ini semua demi masa depan kita, masa depan anak-anak kita. Tolong Adek pikirkan baik-baik dan aku juga berjanji, aku tidak akan pernah mengulangi perbuatan ini lagi. Aku khilaf, Dek. Aku benar-benar khilaf, aku berjanji untuk saat ini dan seterusnya, Kamu dan Karina akan menjadi prioritasku dalam segala hal. Dan aku berjanji di setiap akhir pekan, kita akan selalu melakukan family time bersama, ke mana pun dan kapanpun yang Karina mau aku akan siap, Dek."
Panjang lebar Mas Bram menjelaskan semua keinginannya kepadaku. Namun, tak satu pun dari perkataannya yang berhasil menyentuh hatiku. Tetap saja perasaanku hanya datar-datar saja.
"Kenapa sebelum berbuat, kamu tidak memikirkan akibatnya terlebih dahulu, Mas? Kenapa baru sekarang kamu meminta untuk aku yang memikirkan masa depan kita, masa depan anak kita? Terus ..., selama ini apa yang kamu pikirkan?" Aku mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang justru membalikkan pertanyaan itu kepada dirinya.
Mas Bram memegang kedua bahuku dan ia menatap mataku dengan tajam. Sepertinya ia hendak marah tetapi tertahankan karena aku yakin ia pasti tidak mau jika aku benar-benar pergi meninggalkan dirinya dan membawa Karina. Bisa habis disembelih oleh orang tuanya dia nanti, jika aku membawa Karina pergi dari kehidupan mereka.
Aku sangat tahu, bahwa Mas Bram dan keluarganya sangat menyayangi Karina karena ia merupakan cucu satu-satunya di keluarga Mas Bram. Ia merupakan anak tunggal, sehingga jika bukan dari dirinya, maka dari siapa lagi orang tuanya akan mendapatkan cucu. Apalagi selama ini Karina sudah sangat mereka sayangi.
"Maaf, Dek! Maaf ...." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Melihat dirinya sudah mulai lengah, dan tidak lagi memegang atau memeluk tubuhku, aku langsung bergerak dan melangkah menuju ke dekat lemari untuk mengambil pakaian yang akan kukenakan karena saat ini aku masih mengenakan handuk yang hanya melilit di tubuhku.
Setelah mengambil semua pakaian yang hendak kukenakan, lalu aku masuk kembali ke kamar mandi mengenakan pakaian di dalamnya. Aku tidak ingin Mas Bram bisa bebas melihatku berganti pakaian seperti biasa. Entahlah ..., kini aku merasa dirinya seperti orang asing bagiku.
Setelah selesai menggunakan semua pakaianku, aku kembali keluar dan melihat Mas Bram sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan mengacak-acak rambutnya. Ia terlihat seperti orang yang sedang frustasi. Pasti karena ia menyesali apa yang telah terjadi hari ini.
Aku berjalan keluar tanpa memperdulikan dirinya. Melanjutkan langkah menuju ke dapur berencana ingin memasak untuk makan malam kami di rumah ini nanti.
"Dek, nggak usah masak, ya! Kita makan di luar saja. Aku ingin mengajak Karina jalan-jalan di luar. Anggap saja sebagai penebus hutangku karena tadi siang aku sempat mengabaikan dirinya."
"Apa? Papah mau ajak aku jalan-jalan malam ini? Horeeee .... Jalan-jalan ...! Jalan-jalan ...!"
Belum sempat aku menolak ajakan Mas Bram, ternyata Karina lebih dulu mendengar kata-katanya barusan, sehingga ia berteriak kegirangan karena malam ini akan berjalan-jalan dengan papanya.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan mengembalikan semua peralatan dan bahan-bahan yang hendak kumasak ke tempatnya semula. Kemudian aku berlalu ke belakang dan mengangkat jemuran cucianku tadi pagi.
Aku membawa pakaian yang baru saja kau angkat masuk ke kamar dan meletakkannya di kasur lalu aku lanjut duduk dan melipat pakaian tersebut. Hanya memisahkan beberapa pakaian-pakaian penting yang akan masuk pergunakan untuk bekerja karena nanti akan kusetrika.
Mas Bram masuk kembali ke kamar ini dan sesaat pandangan kami sempat bertemu. Namun, dengan segera aku mengalihkan pandanganku dengan cara menyibukkan diri kembali pada pakaian-pakaian yang hendak masukkan di dalam lemari.
Setelah selesai dan pakaian-pakaian itu telah tersusun rapi di dalam lemari, tiba-tiba aku merasakan Mas Bram berjalan mendekat kepadaku dan langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.
"Bicara, Dek! Jangan diamkan aku seperti ini." ujarnya sembari menyusupkan wajahnya di leherku.
"Tidak ada yang perlu kubicarakan, Mas. Karena apapun yang akan kukatakan, semuanya pasti hanya akan sia-sia. Semua perkataanku hanya seperti kaleng rombeng yang ditendang ke sana ke sini dengan suara yang tak ada artinya bagi kamu." balasku sembari menahan sesak di dada.
Seperti itulah biasanya yang akan terjadi jika aku bersuara atau menyuarakan pendapat dalam rumah tangga kami. Apapun yang ku katakan semuanya seolah-olah tak berarti, tak pernah didengarkan, bahkan terkadang ucapanku justru hanya dianggap seperti celotehan anak-anak kecil yang tak ada arti baginya.
"Maafkan aku, jika selama ini aku sudah sering sekali melukai perasaanmu, Dek!" Mas Bram memelukku semakin erat. Namun kenapa, aku tak lagi bisa merasakan kehangatan hatiku seperti dulu jika ia memelukmu seperti ini. Semua rasa di hatiku benar-benar sudah hambar.
Ya Allah, maafkan aku jika kali ini aku tak lagi memiliki rasa untuk suamiku. Walaupun nanti aku bertahan, mungkin semua yang tersisa hanyalah sebatas tuntutan kewajiban semata, bukan lagi atas dasar cinta karena rasa itu telah berubah menjadi hambar dan meluap begitu saja, menghilang bersama dengan kenyataan pahit atas pengkhianatan yang dilakukan oleh suamiku dan adik kandungku hari ini
Hanya demi Karina. Ya ..., semua yang mungkin kulakukan saat ini hanyalah demi Karina. Demi kebahagiaan Karina. Karena aku belum sanggup untuk melihat kesedihan di wajahnya jika ia tahu, Mama dan papahnya akan berpisah.
Biarlah aku berkorban perasaan untuk saat ini, hingga aku benar-benar siap dan meminta Karina untuk memilih ikut bersamaku atau bersama ayahnya.