"Dek, aku pamit untuk mancing dulu, ya!"
"Loh ..., kok mancing lagi, Mas?"
"Iya, biar nggak stress, Dek. Seminggu ini sudah kerja, jadi sekarang mau have-fan buat nge-refresh otak biar nggak jemu, Dek."
Selalu itu yang ia ucapkan. Selalu itu alasannya jika aku mulai mendebat langkahnya untuk memancing. Padahal setiap minggunya selama beberapa bulan ini ia selalu pergi memancing disetiap hari liburnya.
"Masalahnya, Karin sudah lama nungguin Mas libur. Dia pengen jalan-jalan sama kamu, Mas. Masa sih Mas nggak bisa buat ngasih waktu Abang buat keluarga, sehari aja!"
Dari minggu ke minggu, Mas Bram hanya memberikan janji palsu untuk anaknya. Padahal Karina hanya meminta waktu sehari untuk bisa bersama papahnya.
"Kenapa sih di bikin ribet, Dek! Urus dong Karinnya! Itu 'kan urusan kamu! Mau kamu kalo aku stress, terus nggak bisa bekerja lagi, dan kalian nggak bisa makan ..., mau?" sergah Mas Bram mulai naik darah.
"Tapi, Mas. Sudah beberapa minggu ini aku sudah membujuk Karin untuk sabar menunggu kamu. Masa sekarang harus suruh sabar lagi? Uang ada Karinnya bakal sedih, Mas." Protesku.
"Bodoamat ...! Aku nggak mau tau. Karena aku sudah janji dan harus aku tepati dengan tamanku."
Tanpa perduli pada janjinya terhadap perasaanku dan anaknya, Mas Bram berlalu pergi dan meninggalkan aku. Hanya demi kata merefresh-kan otak, ia sudah lupa tentang kewajibannya untuk menyenangkan anak dan istrinya.
Tanggung jawab menafkahi, tidak hanya cukup untuk nafkah lahiriah saja yang wajib terpenuhi, tetapi nafkah batin berupa kebahagiaan dan ketenangan untuk keluarga juga wajib dijalankan.
Apa susahnya jika ingin refreshing, ia bisa membawa serta anak dan istrinya, dan sama-sama mencari hiburan di luar sana. Namun, Mas Bram terkesan tak perduli. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri.
Aku hanya bisa menatap nanar pada motor yang dikendarai oleh Mas Bram. Motor yang kini sudah semakin jauh dan menghilang di balik tikungan gang yang ada di komplek ini.
"Mah, Papa pergi lagi, ya?"
Pertanyaan dari so kecil-Karin mengalihkan perhatianku.
"Eh, Sayang. Udah bangun?" Aku merapikan rambut anak gadis kecilku sembari tersenyum karena ia pun ikut tersenyum sembari menganggukkan kepala melihatku.
"Papa pergi lagi, ya, Mah?" Ia mengulangi perbuatannya.
"Iya, Sayang. Maaf ya ... karena Mama belum bisa nepatin janji." balasku.
Aku bisa melihat kekecewaan di wajahnya kala ia menundukkan wajah dengan lesu.
Sebisanya aku membujuk Karin agar kembali ceria dan alhamdulillah, ia bisa dengan cepat mengubah mimik wajahnya untuk kembali tersenyum karena aku menjanjikan untuk membawanya jalan-jalan.
Bukankah Mas Bram mengatakan bahwa aku harus mengurus Karin? Maka dengan senang hati, akan aku urus dia dengan penuh kasih sayang.
Jika peran ia sebagai Ayah tidak bisa di jalankan dengan baik, maka peranku sebagai Ibu harus bisa berjalan dengan sebaik-baiknya.
***
Tepat pukul 09.00 pagi aku dan Karin-putriku sudah siap untuk bepergian karena tadi aku sengaja membujuk dirinya dengan cara menjanjikan ia untuk jalan-jalan ke mall sekadar bermain.
Kami berangkat dengan menggunakan motor matic yang kumiliki. Motor itu sengaja aku minta kepadamu Mas Bram untuk memberikannya, agar mempermudah aku jika ingin mengantar jemput Karin ke sekolah maupun ke tempat ia mengaji.
Begitu sampai di sebuah mall yang berada di pusat Kota Pontianak ini, aku sangat senang karena bisa melihat senyum dan kebahagiaan Karin hari itu.
Karin bermain dengan penuh ceria, sambil sesekali ia juga mengajak untuk aku ikut serta bersama dirinya dalam memainkan beberapa game yang ada di wahana game zone ini.
Saat aku memperhatikan Karin yang begitu bersemangat bermain, tiba-tiba aku mendengar suara notifikasi yang masuk di ponselku.
Gegas aku mengeceknya dan ternyata di layar depan ada sebuah balon notifikasi pesan yang masuk dari Nur tetanggaku yang tinggal di sekitar rumah ibuku.
(Nun, kamu balik ke rumah ibumu, ya, setiap minggu? Soalnya, sudah berapa kali aku lihat ada suami kamu di rumah ibumu. Tapi kok kamu nggak pernah main-main ke sini?)
Deg!
Aku kaget membaca isi pesan yang dikirim oleh Nur. Dan saat kubuka, ternyata pesan itu dikirim Nur sekitar 10 meniti yang lalu. Itu artinya Mas Bram masih di sana.
Nur melihat Mas Bram di rumah ibu? Bahkan saat ini Ibu sedang tidak ada di rumah karena sudah selama dua minggu ini ia berangkat umroh. Lalu ngapain Mas Bram di sana? Tidak mungkin ia ke sana jika tidak berkepentingan.
Setelah membaca pesan dari Nur itu membuat hatiku mulai merasa tidak tenang. Banyak pertanyaan yang bermunculan di dalam benakku. Mulai dari apa, mengapa, dan siapa, semua itu menjadi pertanyaan di hari ini, tentang apa sebenarnya yang Mas Bram cari di sana? Mengapa Mas Bram pergi ke rumah ibu tanpa mengajakku? dan juga, siapa teman yang Mas Bram maksud saat hendak berangkat memancing?
Karena merasa hatiku semakin kalut, akhirnya aku memutuskan untuk membuktikan sendiri, apa benar pesan yang dikirim oleh Nur ini. Sehingga aku memutuskan untuk pergi ke rumah Ibu dan melihat apa yang sedang Mas Bram lakukan di sana.
Jarak dari rumahku ke rumah ibu sekitar 40 menit. Namun, karena saat ini aku berada di mall yang berada pada tepat pertengahan rumah aku dan Ibu, akhirnya aku bisa menempuh perjalanan ke sana hanya dengan 20 menit saja.
Begitu masuk ke dalam gang di mana tempat komplek perumahan yang ibu dan adikku tempati, aku pun mulai memelankan motorku dan berhenti di pinggir jalan tidak jauh dari rumah ibu.
Benar saja, dari kejauhan aku bisa melihat motor Mas Bram sedang terparkir di halaman rumah ibu. Akan tetapi, aku melihat kondisi rumah ibu saat itu sedang tertutup rapat.
"Apa mereka ada di dalam?" gumamku sembari memperhatikan ke arah rumah Ibu.
"Karina! Ayok main!" Suara seorang teman bermain Karina mengalihkan perhatianku beberapa saat.
"Boleh aku ikut main sama Deva, Mah?" tanya Karin.
"Iya, tapi nggak usah jauh-jauh karena mama nggak lama kok," balasku.
Aku bersyukur karena dengan membiarkan Karin bermain bersama teman-temannya maka akan mempermudah aku untuk melihat ke dalam tanpa dicurigai.
Setelah Karin berlari dan bermain bersama teman-temannya, aku pun memulai aksiku.
Aku melangkah mendekati rumah ibu sembari terus memperhatikan kondisi sekitar yang sepertinya memang terlihat begitu sepi, tetapi kenapa motor Mas Bram bisa ada di sini?
Aku membuka pintu rumah ibu dengan kunci cadangan yang pernah Ibu berikan padaku sebelum berangkat umroh beberapa minggu yang lalu. Untuk jaga-jaga takut ada hal-hal yang ia butuhkan di sana dan tertinggal. Maka di simpanlah kunci cadangan itu padaku.
Perlahan aku membuka pintunya, dan masuk ke dalam dengan melepaskan sandal yang saat itu kukenakan. Entahlah, aku pun merasa aneh atas perasaanku sendiri karena perasaan dan dorong diri untuk melihat keadaan rumah Ibu di bagian dalam ini begitu besar.
Hingga aku tiba di depan kamar Yuni-Adikku, tiba-tiba aku mendengar percakapan dua orang yang terdengar sangat tidak asing di kupingku.
"Kamu hebat! Kamu selalu memberikan kepuasan untukku, Sayang."
"Ah ..., Mas Bram bisa aja. Pasti Mbak Ainun juga dibilang hebat kayak aku."
"Pastinya iya, tapi itu dulu. Karena sekarang dia sudah nggak sehebat kamu. Apalagi dia sudah turun mesin. Jadi ya, tau sendiri lah bagaimana kondisinya. Mas juga nggak mau bohongin kamu cuma buat ngegombal. Karena pada kenyataannya memang sekarang ini kamu yang hebat dalam memuaskan aku."
Sreekkk!
Bagai dihiris pisau tajam, kemudian di tusuk-tusuk, lalu di remas-remas. Begitulah kira-kira gambaran kondisi hatiku saat ini.
Sakiiiittt ..., periiiihhhh ....
Seluruh tubuhku tiba-tiba terasa gemetar. Jangankan untuk berteriak, sekedar bernapas saja rasanya begitu sesak. Namun, sekuat tenaga aku berusaha melangkah dan mendekati pintu kamar itu.
"Mau lagi ...," Suara Yuni kembali terdengar seperti sedang merengek meminta sesuatu. Setelah itu kamar itu kembali senyap bagai tao berpenghuni.
"Mmmm ..., ssshhh ..., aahhh ..., enak, Mas!" Racauan dari mulut Yuni semakin membuatku hilang kesabaran, dan dengan sekali dorong, pintu kamar itu langsung berdentum hebat karena memang tidak dikunci.
Braaakk!
Pemandangan menjijikkan terpampang jelas di hadapanku. Yang mana, kedua orang yang seharusnya mendukung dan melindungi rumah tanggaku justru berbuat asusila di rumah kediaman ibuku.
Saat mendengar suara pintu yang terbuka, sontak saja kedua orang itu langsung mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Mbak Ainun!"
"Ainun!"
Tak ada kata yang bisa kuucapkan selain terpaku menatap penuh benci kepada kedua orang yang ada di hadapanmu saat ini.
Mas Bram dengan cepat mengenakan pakaiannya secara asal, sedangkan Yuli hanya tertunduk entah karena malu atau takut terhadap diriku.
"Yu-Yuli, ke-kenapa ...."
"Karena aku ingin melihat ikan seperti apa yang sedang kamu pancing, Mas!" sergahku memotong ucapan Mas Bram.
"I-i-ini ... ti-tidak ...."
"Yaa ..., tidak seperti memancing pada umumnya. Iya kan? Bahkan umpanmu sangat jauh berbeda, mengalahkan pemancing-pemancing lainnya. Dimana mereka memancing dengan umpan cacing dan sejenisnya, tetapi kamu ..., memancing dengan umpan len**rmu, Mas!"
"Mbak ..., aku bisa jelasin!" Yuli masih berkilah setelah apa yang aku temukan.
"Coba jelaskan! Aku mau dengar!" Sengaja mengikuti alur yang ia ciptakan, dan menunggu apa yang akan ia ceritakan, tetapi hingga beberapa menit Yuni tak kunjung berbicara lagi.
"Jelaskan, Yun! Aku tidak punya kekuatan telepati yang bisa memahami bahasa batinmu!" Sindirku.
Yuni tak menjawab, tetapi ia hanya menoleh ke arah Mas Bram.
Ya Tuhan, haruskah aku berbuat kejam terhadap adik kandungku? Ingin rasanya aku mempermalukan dirinya di hadapan orang ramai, tetapi tetap saja peranku sebagai seorang kakak seolah menahan keinginan yang muncul di hati.
Bagaimana dengan Ibu jika ia tahu masalah ini. Bahkan aku berfikir, jika aku mengungkap kebenaran ini di muka publik maka nama baik keluargaku akan tercoreng.
Ibu masih di Mekkah dan jika hal ini terungkap maka akan membuat nama baiknya ikut tercoreng.
"Astaghfirullahalazim ..., astaghfirullahalazim ..., astaghfirullahalazim ...!" Berkali-kali aku selalu beristighfar. Mencoba menahan luapan emosi yang siap meledak jika saja tak ada beban pikiran yang sedang kupikirkan saat ini.
"Allah ... Allah ... Allah ....!" Hingga akhirnya aku berusaha menguatkan diriku sendiri dan mundur perlahan menuju sofa yang tak jauh dari kamar itu.
Ternyata pamitnya suamiku untuk memancing bersama temannya, adalah memancing dengan umpan yang berbeda dan itu pun dilakukan di dalam kamar adikku. Bahkan karena ketagihan memancing itu ia sampai melupakan kewajiban untuk membahagiakan anak dan istrinya di rumah.
Cukup lama aku berusaha menetralkan perasaanku. Dada yang sesak, hati yang luka, bahkan jiwa yang seakan-akan terombang-ambing membuat fisikku semakin lemah. Aku benar-benar tak berdaya karena luka yang digores ini adalah ulah orang-orang yang sangat dekat denganku.
Jika bukan mereka, mungkin aku sudah mengamuk dan meluapkan emosiku agar hati ini plong. Namun, kembali aku berpikir jika aku bersikap bar-bar maka ibukulah yang akan menjadi korban.
Mas Bram dan Yuni sudah keterlaluan. Mungkin ini bukan yang pertama kali karena tadi di dalam pesan yang dikirim oleh Nur, ia mengatakan sudah sering kali melihat Mas Bram kembali ke sini dan itu artinya Mas Bram sudah sering kembali ke rumah ibuku untuk bertemu Yuni.
Astaghfirullahalazim ..., aku benar-benar merasa telah ditipu mentah-mentah oleh dua orang yang sangat dekat denganku.
Setiap minggu selalu dengan alasan memancing, Mas Bram selalu saja menyibukkan dirinya di luar pada hari liburnya. Bahkan tak jarang ia menginap dan mengaku kelelahan sehingga memutuskan tidur di tenda darurat bersama teman-temannya.
"Dek, maafkan aku!" Tiba-tiba Mas Bram datang dan bersimpuh di hadapanku sambil mengucapkan kata maaf. Ia menggenggam tanganku, tetapi dengan cepat kutepis karena luka ini tak akan sembuh hanya dengan permintaan maaf semata darinya.
"Mbak Ainun, maafkan Yuni, Mbak!" Tak lama disusul pula oleh Yuni-adik kandungku.
Lengkap sudah, kedua pengkhianat hadir di hadapanku, membawa muka memelas dan berharap kata maaf dariku.
"Mbak, bicara, Mbak! Aku siap dipukul atau dihukum, dicacimaki, tapi tolong, Mbak Ainun jangan diam saja."
"Kamu mau aku bicara apa, Yun?"
"Mbak boleh marah, maki aku, hina aku, terserah, Mbak Ainun. Tapi tolong jangan diam aja, Mbak! Aku nggak mau Mbak kenapa-kanapa. Aku takut Mbak ...."
"Mati karena sakit hati? Begitu maksud kamu?"
Aku tersenyum sumbang sembari melihat wajah kedua penghianat yang ada di hadapanku ini. Rasanya sangat muak, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam.
"Bukan begitu maksudnya, Mbak. Tapi ...."
"Kenapa kalian tega melakukan ini terhadapku?"
"Maafkan aku, Dek! Aku khilaf!"
"Khilaf sudah yang keberapa kalinya?" Aku hanya bisa berbicara sumbang tanpa tau kemana arah tujuan di setiap perkataanku karena pikiran ini sudah terasa benar-benar buntu karena penghianat mereka.
"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, Mbak. Aku menyesal. Mohon maafkan aku!"
"Apa kata maaf dariku bisa merubah semua keadaan kembali seperti semula?"
"Maaf, Dek!"
"Sudahlah, aku nggak akan kenyang dengan kata maaf dari kalian!" ucapku. Lalu aku berdiri karena percuma ada di sini. Toh semua sudah terjadi.
"Mbak mau ke mana?"
"Pulang."
"Dalam keadaan marah? Bahaya, Mbak!"
"Kalaupun aku mati maka tak akan ada yang perduli!"
"Dek, jangan bicara begitu! Kami masih sangat menyayangi kamu."
"Iya, saking sayangnya kalian terhadapku, sampai kalian tega mengkhianati rasa sayang dan cinta yang sudah kuberikan selama ini." Entah kenapa aku merasa hatiku sepertinya telah mati saat ini. Sehingga kali ini, tak setitik pun air mataku mengalir setelah menyaksikan perbuatan bejat mereka tadi. Hatiku seolah-olah sudah tak mempunyai rasa pada keduanya karena sudah terlanjur sakit dan luka.
"Mah!" Secara kebetulan Karin pun sudah kembali dari bermain dengan temannya dan aku mengajaknya untuk pulang. Karena karin sudah tahu bahwa sang nenek sedang tidak ada di rumah maka dengan mudah Karin menurut kepadaku dan kami pun naik ke motor yang kuparkir di pinggir jalan tadi lalu memutuskan untuk kembali ke rumah.
Setelah melajukan kuda besiku, barulah aku menumpahkan semua rasa sakit yang tadi berkumpul di dalam hati. Barulah semua rasa kecewa dan sejak itu berubah menjadi air mata dan mengalir deras di pipiku.
Beruntung kali ini Karina lebih memilih untuk duduk di belakang dan memeluk pinggangku dari belakang. Sehingga aku bisa bebas tanpa khawatir ia bisa melihat air mataku.
"Mama nangis?"
Astaghfirullahaladzim, baru saja aku berpikir Karina tidak menyadari bahwa aku saat ini sedang menangis, tetapi ternyata pertanyaan itu meluncur juga dari mulutnya.
"Nggak kok, Sayang. Emang kenapa?" tanyaku berubah menetralkan suaraku saat berbicara dengannya.
"Ini, kok dari tadi, Karin merasa perutnya Mama seperti gerak-gerak. Kayak waktu Karin kalau sedang nangis, pasti perut Karina juga gerak-gerak gitu," jawabnya sambil berusaha untuk mengintip wajahku.
"Kamu tuh, ya! Mama lagi nyanyi jadi mungkin karena itu Karin merasa perut Mama gerak-gerak." Dengan cepat kuhapus air mataku menggunakan lengan baju panjang yang saat ini kukenakan, lalu aku sedikit menolehkan wajahku sambil tersenyum untuk meyakinkan dirinya bahwa saat itu aku tidak sedang menangis.
"Oohh ..., kirain Mamah lagi nangis kangen sama nenek karena tadi kita ke sana tapi nenek belum pulang." balasnya lagi.
"Nggak kok, Sayang. Kamu aja yang salah sangka sama Mamah," sambungku.
Setelah percakapan itu akhirnya kami pun kembali diam dan tanpa terasa kini kuda besiku sudah tiba di halaman rumah tempat kami tinggal selama enam tahun belakangan ini.
Setelah menyimpan motorku di teras lalu kami masuk dan kami sama-sama membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamar kami masing-masing.
Karin sudah berusia hampir tujuh tahun dan sudah kubiasakan untuk mandi sendiri karena aku ingin mendidik dirinya menjadi anak yang mandiri dan tidak manja.
Setelah mandi aku keluar dari kamar mandi hanya dengan membalut tubuhku deng handuk. Namun, aku terpaku di depan pintu kamar mandi karena saat itu ada seorang pria yang berdiri di hadapanku dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Dek, aku benar-benar minta maaf! Aku khilaf, Dek. Tolong jangan pernah tinggalkan aku!" Mas Bram langsung memelukku sambil menangis terisak. Bahkan aku bisa merasakan tubuhnya yang bergetar karena tangis yang sedang menguasai dirinya.
Seperti apa ya... tanggapan Ainun setelah di khianati?
Sudah cukup rasanya aku menumpahkan segala kekesalan yang ada di hatiku selama di perjalanan tadi. Kini harus ditambah lagi, saat aku menerima perlakuan dari Mas Bram di mana aku harus menyaksikan dirinya yang terlihat begitu menyesal atas segala apa yang telah ia lakukan.
Mas Bram memeluk tubuhku dengan begitu erat seperti enggan melepaskan, sambil menangis tergugu.
"Jangan pergi, Dek! Jangan tinggalin aku sendirian! Aku janji, aku tidak akan mengulangi semua ini lagi, ini yang terakhir kalinya, Dek." ujar Mas Bram yang menangis memelukku.
Entah mengapa, sekalipun hatiku sama sekali tak tergetar ketika mendengar ucapan maaf yang ia ucapkan. Hatiku kali ini sepertinya benar-benar telah mati untuknya, sehingga semua kini terasa begitu hambar, tak ada lagi rasa kecewa, sedih, maupun sakit hati. Semua rasa begitu datar seakan-akan sudah tak ada lagi luka yang perlu kubalut dengan air mata.
"Kenapa harus berjanji kalau kamu tidak bisa menepatinya, Mas? Kenapa tidak kau lepas saja aku? Kenapa tidak kau ceraikan saja aku? Agar kau bisa bebas melakukan apapun di luar sana agar tak ada lagi yang menahanmu!"
"Dek, dengarkan aku, kita tidak boleh egois, kita harus sama-sama memikirkan Karina. Bagaimana perasaannya nanti, jika melihat orang tuanya berpisah. Tolong, Dek, pikirkan baik-baik! Ini semua demi masa depan kita, masa depan anak-anak kita. Tolong Adek pikirkan baik-baik dan aku juga berjanji, aku tidak akan pernah mengulangi perbuatan ini lagi. Aku khilaf, Dek. Aku benar-benar khilaf, aku berjanji untuk saat ini dan seterusnya, Kamu dan Karina akan menjadi prioritasku dalam segala hal. Dan aku berjanji di setiap akhir pekan, kita akan selalu melakukan family time bersama, ke mana pun dan kapanpun yang Karina mau aku akan siap, Dek."
Panjang lebar Mas Bram menjelaskan semua keinginannya kepadaku. Namun, tak satu pun dari perkataannya yang berhasil menyentuh hatiku. Tetap saja perasaanku hanya datar-datar saja.
"Kenapa sebelum berbuat, kamu tidak memikirkan akibatnya terlebih dahulu, Mas? Kenapa baru sekarang kamu meminta untuk aku yang memikirkan masa depan kita, masa depan anak kita? Terus ..., selama ini apa yang kamu pikirkan?" Aku mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang justru membalikkan pertanyaan itu kepada dirinya.
Mas Bram memegang kedua bahuku dan ia menatap mataku dengan tajam. Sepertinya ia hendak marah tetapi tertahankan karena aku yakin ia pasti tidak mau jika aku benar-benar pergi meninggalkan dirinya dan membawa Karina. Bisa habis disembelih oleh orang tuanya dia nanti, jika aku membawa Karina pergi dari kehidupan mereka.
Aku sangat tahu, bahwa Mas Bram dan keluarganya sangat menyayangi Karina karena ia merupakan cucu satu-satunya di keluarga Mas Bram. Ia merupakan anak tunggal, sehingga jika bukan dari dirinya, maka dari siapa lagi orang tuanya akan mendapatkan cucu. Apalagi selama ini Karina sudah sangat mereka sayangi.
"Maaf, Dek! Maaf ...." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Melihat dirinya sudah mulai lengah, dan tidak lagi memegang atau memeluk tubuhku, aku langsung bergerak dan melangkah menuju ke dekat lemari untuk mengambil pakaian yang akan kukenakan karena saat ini aku masih mengenakan handuk yang hanya melilit di tubuhku.
Setelah mengambil semua pakaian yang hendak kukenakan, lalu aku masuk kembali ke kamar mandi mengenakan pakaian di dalamnya. Aku tidak ingin Mas Bram bisa bebas melihatku berganti pakaian seperti biasa. Entahlah ..., kini aku merasa dirinya seperti orang asing bagiku.
Setelah selesai menggunakan semua pakaianku, aku kembali keluar dan melihat Mas Bram sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan mengacak-acak rambutnya. Ia terlihat seperti orang yang sedang frustasi. Pasti karena ia menyesali apa yang telah terjadi hari ini.
Aku berjalan keluar tanpa memperdulikan dirinya. Melanjutkan langkah menuju ke dapur berencana ingin memasak untuk makan malam kami di rumah ini nanti.
"Dek, nggak usah masak, ya! Kita makan di luar saja. Aku ingin mengajak Karina jalan-jalan di luar. Anggap saja sebagai penebus hutangku karena tadi siang aku sempat mengabaikan dirinya."
"Apa? Papah mau ajak aku jalan-jalan malam ini? Horeeee .... Jalan-jalan ...! Jalan-jalan ...!"
Belum sempat aku menolak ajakan Mas Bram, ternyata Karina lebih dulu mendengar kata-katanya barusan, sehingga ia berteriak kegirangan karena malam ini akan berjalan-jalan dengan papanya.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan mengembalikan semua peralatan dan bahan-bahan yang hendak kumasak ke tempatnya semula. Kemudian aku berlalu ke belakang dan mengangkat jemuran cucianku tadi pagi.
Aku membawa pakaian yang baru saja kau angkat masuk ke kamar dan meletakkannya di kasur lalu aku lanjut duduk dan melipat pakaian tersebut. Hanya memisahkan beberapa pakaian-pakaian penting yang akan masuk pergunakan untuk bekerja karena nanti akan kusetrika.
Mas Bram masuk kembali ke kamar ini dan sesaat pandangan kami sempat bertemu. Namun, dengan segera aku mengalihkan pandanganku dengan cara menyibukkan diri kembali pada pakaian-pakaian yang hendak masukkan di dalam lemari.
Setelah selesai dan pakaian-pakaian itu telah tersusun rapi di dalam lemari, tiba-tiba aku merasakan Mas Bram berjalan mendekat kepadaku dan langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.
"Bicara, Dek! Jangan diamkan aku seperti ini." ujarnya sembari menyusupkan wajahnya di leherku.
"Tidak ada yang perlu kubicarakan, Mas. Karena apapun yang akan kukatakan, semuanya pasti hanya akan sia-sia. Semua perkataanku hanya seperti kaleng rombeng yang ditendang ke sana ke sini dengan suara yang tak ada artinya bagi kamu." balasku sembari menahan sesak di dada.
Seperti itulah biasanya yang akan terjadi jika aku bersuara atau menyuarakan pendapat dalam rumah tangga kami. Apapun yang ku katakan semuanya seolah-olah tak berarti, tak pernah didengarkan, bahkan terkadang ucapanku justru hanya dianggap seperti celotehan anak-anak kecil yang tak ada arti baginya.
"Maafkan aku, jika selama ini aku sudah sering sekali melukai perasaanmu, Dek!" Mas Bram memelukku semakin erat. Namun kenapa, aku tak lagi bisa merasakan kehangatan hatiku seperti dulu jika ia memelukmu seperti ini. Semua rasa di hatiku benar-benar sudah hambar.
Ya Allah, maafkan aku jika kali ini aku tak lagi memiliki rasa untuk suamiku. Walaupun nanti aku bertahan, mungkin semua yang tersisa hanyalah sebatas tuntutan kewajiban semata, bukan lagi atas dasar cinta karena rasa itu telah berubah menjadi hambar dan meluap begitu saja, menghilang bersama dengan kenyataan pahit atas pengkhianatan yang dilakukan oleh suamiku dan adik kandungku hari ini
Hanya demi Karina. Ya ..., semua yang mungkin kulakukan saat ini hanyalah demi Karina. Demi kebahagiaan Karina. Karena aku belum sanggup untuk melihat kesedihan di wajahnya jika ia tahu, Mama dan papahnya akan berpisah.
Biarlah aku berkorban perasaan untuk saat ini, hingga aku benar-benar siap dan meminta Karina untuk memilih ikut bersamaku atau bersama ayahnya.