Seorang gadis muda nan cantik jelita tengah berdiri sembari sedikit menundukkan badannya di balik dinding sebuah restoran mewah yang berada di tengah kota.
Gadis itu melirikkan mata ke arah kiri dan kanannya dengan sibuk seolah dia tengah mencari keberadaan seseorang.
"Mana dia? Aku tidak akan pernah biarkan dia bertemu dan berkencan dengan wanita lain," gerutu gadis itu di dalam hatinya sendiri.
Tak lama setelah itu, sepasang pria dan wanita pun berjalan masuk ke dalam restoran dengan gelak tawa yang cukup sumringah, yang membuat gadis itu semakin merasa marah dan kesal.
"Oh ... Oh ... Kenapa mereka bisa tertawa bahagia seperti itu?"
"Tidak! Ini tidak bisa aku biar kan!" gadis itu berjalan masuk ke dalam restoran mengikuti pasangan yang dia amati itu.
Agar tidak kehilangan jejak mereka, gadis itu memutuskan untuk duduk tepat di belakang meja pasangan itu, sehingga dia pun dapat mendengar percakapan mereka dengan cukup jelas.
Sembari menutupi wajahnya dengan buku menu dari restoran, gadis itu mencoba sedikit mencondongkan kepalanya ke arah pasangan itu.
"Makasih ya Mas, karena kamu sudah mau meluangkan waktu untuk bertemu dengan aku setelah sekian lama," ucap wanita itu kepada pria yang tengah duduk di hadapannya dengan suara yang terdengar sangat elegan sekali.
"Kamu tidak perlu berterimakasih kepada aku, karena aku datang ke sini memang sudah keputusanku sendiri," jawab pria itu dengan ramah.
Sontak saja ke dua mata gadis itu membelalak, sembari keningnya pun ikut mengerut setelah mendengar obrolan singkat itu.
"Apa?"
"Bisa-bisanya dia berkata seperti itu?"
"Dia datang dengan kemuannya sendiri ke sini?" gerutu gadis itu dengan kesal.
Pasangan itu pun kembali saling mengobrol dengan menikmati hidangan yang telah tersedia di hadapannya, sedangkan gadis itu hanya sibuk mendengar dan memperhatikan pasangan yang terlihat cukup akrab di hadapannya dengan wajah kesal.
"Aku sangat senang sekali bisa makan siang bersama kamu sekarang Mas, apa lagi aku sudah lama sekali ingin bertemu secara langsung dengan mu," ucap wanita itu dengan ramah kepada pria di hadapannya.
"Aku juga senang bisa bertemu langsung dengan kamu, karena memang selama ini aku hanya mendengar tentangmu dari Ibu aku saja," jawab ramah pria itu.
Obrolan mereka semakin membuat gadis itu merasa kesal dan marah, sehingga tanpa ia sadari kedua tangannya pun mengepal dengan sangat keras.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu yang cukup pribadi kepada kamu Mas?" tanya wanita itu sembari menatap ramah.
"Silahkan, apa pun itu kamu boleh menanyakannya kepada ku," jawab pria itu sembari menikmati hidangannya.
"Kenapa kamu sampai sekarang masih belum memutuskan untuk menikah Mas?" tanya wanita itu dengan sangat hati-hati.
Sontak saja pria itu meletakkan sendok dan garpu dari tangannya setelah mendengar pertanyaan itu.
"Tidak mudah bagiku untuk bisa menemukan pasangam dengan status yang sedang aku sandang sekarang, karena aku harus lebih teliti lagi untuk bisa menemukan pasangan hidup," jawab pria itu dengan dewasa.
"Tapi apa kamu tidak merasa kesepian Mas?" Kembali wanita itu mengajukan pertanyaan yang semakin membuat gadis itu merasa marah.
"Dengan semua kesibukan yang tengah aku geluti, itu cukup membuat aku tak pernah merasa kesepian."
"Apa lagi aku punya seorang gadis di rumah yang memang harus aku perhatikan setiap waktu," jelas pria itu dengan cukup tegas.
Setelah obrolan itu mereka berdua kembali menikmati makan mereka dengan sesekali saling melempar senyum satu sama lain.
Dilain sisi, gadis yang tengah memperhatikan mereka semakin memperlihatkan perasaan kesalnya dengan wajah cukup memerah, serta kening yang terlihat sangat mengerut.
"Kenapa bisa dia menjawab seperti itu?"
"Aku benar benar sangat merasa marah sekarang," gerutu gadis itu di dalam hatinya sendiri.
Karena rasa amarah telah menyelimuti perasaannya, sehingga gadis itu pun tak menghiraukan hidangan yang telah tersedia di hadapannya kala itu.
"Kenapa Mas tidak bertanya kepada ku? Apa Mas tidak merasa penasaran dengan aku?" ucap wanita itu sembari menatapnya.
"Heh ...! Mau sekali dia ditanya-tanya! Dasar wanita murahan!" guman gadis itu dengan kesal.
Beberapa saat pria itu terdiam sembari menatap balik ke arah wanita itu.
"Kenapa kamu mau bertemu dengan aku hari ini? Padahal kamu sendiri tahu dengan status yang sedang aku sandang, dan tentunya wanita seperti mu pasti sangat teliti sekali dalam memilih pasangan," tanya pria itu.
"Semenjak orang tua aku memberitahukan kalau aku akan dijodohkan dengan kamu, dan mereka pun juga telah memberitahu semua tentang mu, itu cukup membuat aku merasa tertarik Mas."
"Karena bagiku status bukanlah hal yang harus aku permasalahkan, aku lebih suka pria yang pekerja keras seperti mu," jawab wanita itu dengan sedikit malu-malu.
"Huaak ... !"
"Bilang aja kalau kamu suka dengan ketampanan dan keseksian dia wanita jalang!" kembali gadis itu menggerutu setelah mendengar ucapan wanita itu.
Tak henti-hentinya gadis itu memberikan tanggapan setiap kali wanita itu memberikan jawaban kepada pria itu.
"Ternyata kamu memiliki pemikiran yang cukup terbuka," ucap pria itu sembari meneguk segelas kopi di hadapannya.
"Mas ... Lalu bagaimana menurutmu tentang aku?" tiba-tiba wanita itu mengajukan pertanyaan yang cukup membuat pria itu sedikit kebingungan untuk memberikan jawabannya.
"Hmm ... Semua pria pasti akan sangat setuju jika aku mengatakan kalau kamu adalah wanita yang cantik, berpendidikan, elegan, apalagi kamu juga terlahir dari keluarga yang kaya-raya," jawab pria itu sembari sedikit memalingkan pandangannya.
Serasa badannya tak bertulang, gadis itu seketika merasa lemas setelah mendengar jawaban yang telah di berikan oleh pria itu, sehingga tatapan yang awalnya marah seketika berubah sendu, serta kedua ujung bibirnya pun jatuh.
"Apa ini akan menjadi akhir dari semua perjuangan aku selama ini?" gumam gadis itu.
"Lalu apa kamu sudah merasa cocok jika aku menjadi pasangan hidupmu Mas?" lanjut wanita itu bertanya.
Gadis itu pun langsung saja berdiri dari duduknya sembari berjalan keluar dari dalam resteroan sebelum dia mendengar jawaban yang akan diberikan oleh pria itu.
***
Malam pun telah tiba, pria itu pun kembali ke rumah setelah pertemuannya dengan wanita yang ia temui di restoran itu, akan tetapi langkahnya pun terhenti sesaat dia hendak masuk ke dalam kamarnya, karena ia yang mendapati gadis muda nan cantik itu tengah berdiri di hadapannya.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang penuh arti.
"Wajah kamu terlihat sangat bahagia sekali."
"Apa kamu sangat bahagia setelah bertemu dengan wanita itu?"
"Apakah wanita itu adalah orang yang pas untuk kamu jadikan pendamping hidup?"
Pertanyaan yang bertubi-tubi di ajukan oleh gadis itu kepada pria yang tengah berdiri di hadapannya malam itu.
Pria itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sembari menatap dalam kepada gadis yang tengah berdiri di hadapannya dengan wajah berlinang air mata.
"Kenapa kamu selama ini tidak pernah sekali pun melihat aku?"
"Kenapa kamu tidak pernah menganggap aku sebagai seorang wanita yang mencintai kamu?"
"Apa aku memang tidak pantas untuk bisa menjadi pasangan kamu?"
Pertanyaan itu kembali bertubi-tubi di ajukan kepada pria itu.
"Baiklah, kalau memang aku tidak pantas untuk kamu, mulai sekarang aku akan mundur, dan aku tidak akan pernah lagi mengganggu kamu," lirih wanita itu dengan isak tangis sembari membalikkan badannya.
Sontak langkah gadis itu pun terhenti karena pria itu menarik tangannya, dan membawanya untuk masuk ke dalam kamar.
Plak
Pria itu menyenderkan badan gadis itu ke dinding sembari dia pun semakin mendekatkan wajahnya.
"Mulai sekarang kamu akan menjadi milikku, dan akan aku pastikan kamu tidak akan pernah aku biarkan untuk pergi selangkan pun dariku," bisik pria itu.
Mereka berdua pun saling beradu mulut satu sama lain dengan hasrat yang sudah sangat memuncak, sehingga pria itu mengangkat dan meletakkan badan gadis itu ke atas kasurnya.
Suasana pun semakin memanas setelah tubuh mereka berdua sudah tak di tutupi oleh sehelai benang pun.
"Aku mencintai kamu ...."
"Belai aku ... Agh ...."
Rintihan serta desahan pun keluar dari mulut gadis itu dengan setiap sentuhan yang tengah dilakukan oleh pria itu kepadanya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu pun terdengar di tengah-tengah suasana panas itu, sehingga mereka pun terdiam dengan perasaan kaget.
Sepasang kaki tengah berjalan di perkarangan sebuah kampus ternama dengan puluhan pasang mata tertuju ke arahnya seraya mengucapkan rasa kagum.
Kaki yang jenjang, kulit yang putih dan mulus, hidung yang mancung, dagu yang runcing, badan yang terlihat seksi dengan perpaduan pakaian yang tengah ia kenakan, serta rambut lurus sebahu berwarna coklat tergerai semakin membuatnya terlihat menggoda dan cantik.
"Wah ... itu Alea, dia sangat cantik dan seksi sekali."
"Aku sangat berharap bisa menjadi pacarnya."
"Betapa beruntungnya aku jika aku bisa memiliki pacar secantik dan seseksi Alea."
Beberapa pria saling berbisik memberikan kan pujian kepada gadis yang mereka panggil Alea.
Ya, dia adalah Alea gadis bberusia dua puluh tahun, tengah berkuliah di salah satu Universitas swasta ternama di Kota itu dengan jurusan bisnis internasional.
Alea memanglah terkenal dengan kecantikannya sesaat setelah dia memasuki kampus itu, sehingga tak sedikit para mahasiswa laki-laki berusaha untuk mencoba menggoda dan mendekatinya, akan tetapi Alea bukanlah gadis yang gampang dimiliki oleh para laki-laki itu, karena dia pun memiliki standar yang cukup tinggi, sehingga membuat para mahasiswa laki-laki itu hanya bisa mengaguminya dari jauh.
Alea sangatlah tahu dan sadar atas kecantikan yang ia miliki, sehingga dikalangan mahasiswi perempuan dia dikenal memiliki sifat yang angkuh, serta suka merendahkan orang lain.
Banyak dari mahasiswa perempuan merasa tidak suka dengan sikap angkuh yang di miliki oleh Alea, sehingga dia pun selalu menjadi bahan omongan dan di kucilkan.
Meski demikian, itu semua tak membuat Alea harus merasa berkecil hati atau pun harus merasa minder, karena selain kecantikan yang dimilikinya, dia pun juga termasuk mahasiswa pintar dan berprestasi, sehingga keberadaannya pun cukup berpengaruh di kampus itu.
Alea berjalan dengan tatapan lurus ke depan tanpa memperdulikan tatapan serta gunjingan dari beberapa orang yang ditujukan kepadanya kala itu.
"Dia sangat sombong sekali!"
"Coba saja dia tidak cantik, pastinya tidak akan ada orang yang akan mau berkenalan dengan nya."
"Berani sekali dia memakai pakaian minim seperti itu?"
"Aku sangat yakin dia pasti simpanan dari suami orang, dasar wanita murahan!"
Bisikan serta gunjingan terus ditujukan kepada Alea kala itu.
"Aw ...! Langkah Alea terhenti setelah tak sengaja di tabrak oleh seorang gadis berwajah kusam dan mengenakan kacamata yang membuat kakinya pun sedikit terinjak kala itu.
"Ma ... maaf Alea ...."
"Aku tidak sengaja," ucap gadis yang telah menabrak Alea dengan wajah sedikit ketakutan.
"Bersihkan!" gertak Alea dengan wajah marahnya.
"Ba ... baik Alea, aku akan membersihkan sepatumu," ucap gadis itu sembari berlutut untuk membersihkan sepatu Alea yang telah dibuatnya sedikit kotor.
Beberapa orang pun melihat kejadian itu, sehingga membuat Alea semakin jadi bahan gunjingan atas tingkah dan perilaku yang sedang ia perlihatkan kala itu.
"Tega sekali dia seperti itu."
"Dasar dia tidak punya hati sekali."
Bug
Alea mendorong gadis itu dengan kakinya, sehingga membuatnya pun terduduk di tanah.
"Harga sepatuku jauh lebih mahal daripada harga dirimu!"
"Gara-gara kamu moodku pun langsung buruk!"
"Jangan pernah lagi kamu muncul di hadapanku!"
"Karena kamu hanya akan membuatku sial saja nantinya!" bentak Alea dengan kejam sembari berjalan meninggalkan gadis itu.
Dari ujung jalan seseorang pun melihat dan memperhatikan kejadian itu dengan tatapan sinisnya.
***
Sebelum masuk ke dalam kelas, Alea pun memutuskan untuk duduk di sebuah cafe sembari menikmati kopi hangatnya.
"Sial! Hari ini sangat panas sekali, sampai-sampai membuat dandananku luntur saja!" tiba-tiba seorang gadis cantik pun datang menghampiri Alea.
"Kamu tidak usah mengkhawatirkan dandananmu, karena kamu akan selalu kalah cantik dari aku," sindir Alea tanpa menatap gadis itu.
"Sangat angkuh sekali wanita ini!"
"Tetap saja aku jauh lebih laku darimu Alea, sedangkan kamu yang masih saja sendiri tanpa punya pacar," balas gadis itu kepada Alea.
"Meskipun aku tidak punya pacar, tapi aku bisa dengan mudah mendapatkan laki-laki untuk bisa menemani tidurku tiap malam Sella," balas Alea kepada gadis yang ia panggil dengan nama Sella.
Sella adalah merupakan satu-satunya sahabat dari Alea, yang mana mereka telah berteman semenjak kecil, sehingga mereka pun telah saling mengenal satu sama lain dengan karakter yang mereka miliki.
Sella juga termasuk mahasiswa yang cukup terkenal di kampus itu dengan kecantikan dan keseksiannya, ditambah dengan dia yang memiliki sahabat seperti Alea, tentu saja membuatnya ikut terseret setiap kali Alea membuat masalah.
"Cuacana sekarang sudah semakin gila!"
"Aku sangat benci sekali dengan cuaca panas ini!" gerutu Sella sembari memegang sebuah kipas di tangannya.
Alea hanya sibuk menatap ke arah ponselnya tanpa memperdulikan ocehan dari sahabatnya itu.
Tak selang beberapa lama, seorang perempuan pun datang menghampiri mereka, akan tetapi kembali Alea tak memperdulikan hal itu.
"Oh ... ada senior kesayanganku," sapa Sella ramah.
"Apa kamu kekurangan bahan Sella? Kenapa bisa kamu memakai rok sependek itu," ucapnya kepada Sella.
"Oh ... apa kamu tidak lihat bagaimana menggilanya cuaca sekarang? Sudah sewajarnya aku memakai pakaian pendek dan tipis ini, karena aku sangat tidak tahan dengan panas."
"Seharusnya kamu juga pakai pakaian tipis Zila, bukan pakai pakaian berlapis seperti ini," jawab Sella dengan sangat santai.
Zila adalah merupakan senior tingkat mereka, yang mana Zila memiliki karakter yang cukup bertolak belakang dengan Alea dan Sella.
Zila memiliki karakter yang ramah, dan sangat simpel, bahkan dari segi dandanan pun ia selalu memakai pakaian yang cukup sederhana tanpa mencolok sedikit pun, akan tetapi Zila juga merupakan teman terdekat dari Alea dan Sella, karena mereka bertiga telah saling mengenal cukup lama.
"Alea, kenapa kamu tidak balas pesan aku?" tanya Zila kepada Alea.
"Buat apa aku harus balas pesanmu?" jawab Alea dengan cuek.
"Kamu mendapatkan beasiswa dari kampus, seharusnya kemaren kamu sudah mengisi berkasnya," ucap Zila kepada Alea.
"Aku tidak butuh beasiswa itu Zila! Karena uang ku masih banyak."
"Kasih saja beasiswa itu kepada anak miskin di kampus ini," jawab Alea kepada Zila.
"Beasiswa ini khusus buat mahasiswa berprestasi seperti kamu, dan ini bukan berarti kamu miskin," ucap Zila.
"Aku tidak mau! Karena aku masih punya banyak uang!" jawab Alea dengan tegas.
"Ssh ...! Kalau saja aku tidak kenal lama dengan kamu, pasti aku sudah menarik dan merobek mulut kejammu Alea," gerutu Zila dengan kesal.
"Aku setuju, dan kalau nanti kamu sempat melakukan itu kepada gadis kurang ajar ini, aku titip ya Zila," sambung Sella.
"Kalau kamu memang tidak mau, kamu pergi saja ke ruang administrasinya, dan bilang sendiri ke sana," ucap Zila sembari memberikan sebuah kertas kepada Alea.
***
Sorenya setelah selesai jam kuliah, Alea dengan penuh keterpaksaan pergi berjalan ke ruangan administrasi untuk menolak beasiswa itu, akan tetapi dia malah di arahkan untuk bertemu langsung dengan pimpinan kampus itu.
Tok ... Tok ... Tok ...
Alea berhenti di sebuah ruangan dan mengetuk pintu itu.
"Masuk," jawab seorang pria dari dalam ruangan.
Cekrek
Alea pun membuka pintu ruangan dan berjalan masuk ke dalamnya, dan ia pun melihat seorang pria dengan pakaian rapi, memiliki wajah yang tampan tengah berdiri di hadapannya, sehingga mereka pun saling bertatapan satu sama lain.
"Siapa dia ...?"
Dua pasang mata saling menatap satu sama lain di pertemuan pertama mereka, yang mana tatapan itu memberikan arti sebuan kekaguman mereka.
"Ehem ... Aku ke sini mau memberikan surat penolakan untuk menerima beasiswa," ucap Alea dengan sedikit canggung.
"Silahkan letakkan saja di meja itu," jawan pria itu dengan suara bulatnya kepada Alea.
"Tapi aku butuh persetujuan dan tanda tangannya sekarang," ucap Alea kepada pria itu.
Sontak saja pria itu mengambil dan membaca kertas yang dibawa oleh Alea.
"Ini adalah surat penolakan beasiswa."
"Kenapa kamu menolak menerima beasiswa ini? Padahal banyak di luar sana para mahasiswa berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan beasiswa ini," tanya pria itu kepada Alea dengan sedikit heran.
"Karena aku masih mampu untuk membiayai uang kuliah ku, dan uang ku masih sangat banyak."
"Aku tidak butuh beasiswa ini," jawab Alea kepada pria itu.
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Alea membuat pria itu tersenyum tipis.
"Silahkan letakkan saja surat ini di sini, dan nanti aku akan menyampaikan kepada pimpinan kampus ini untuk menandatanganinya," ucap pria itu kepada Alea.
"Jadi kamu bukan orang yang punya ruangan ini?" tanya Alea dengan heran.
"Bukan, saya hanya seorang tamu di sini," jawab pria itu.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" ucap Alea dengan tegas sembari berjalan keluar dari ruangan itu.
Alea berjalan pergi dengan perasaan sedikit kesalnya, karena ia yang merasa telah menghabiskan waktunya dengan orang yang tak ia kenal kala itu.
"Buang-buang waktu saja orang itu! Seharusnya dia bilang aja dari tadi kalau dia bukan pimpinan kampus ini! Dasar!" gerutu Alea sembari berjalan pergi.
"Gadis yang cukup menarik," lirih pria itu setelah kepergian Alea dari hadapannya.
***
Malam harinya, Alea dan Sella tengah duduk di sebuah club malam mewah dengan di hiasi oleh kerlap kerlipnya lampu, serta dentuman musik yang membuat badan mereka ikut bergoyang.
"Akh ...! Sudah lama sekali rasanya aku tidak datang ke sini, dan malam ini aku akan menyenangkan diriku dari semua sesak dan masalab tugaa tugas kuliah ku," ucap Sella sembari mengangkat segelas minuman beralkohol di tangannya.
"Aku juga akan memuaskan diri ku," sambung Alea yang ikut meneguk segelas minuman dari tangannya.
"Mumpung pacarku sedang berada di luar kota sekarang, jadi aku bebas mau ngapain."
"Haha ... Haha ...," teriak Sella dengan perasaan puasnya.
Alea memanglah terkenal dengan sikap cuek dan kejam dikalangam teman-teman kampusnya, akan tetapi ketika dia bersama sahabatnya Sella di tempat yang akan membuatnya nyaman, maka sikap cerianya pun akan keluar.
Bahkan pada malam itu Alea terlihat sangat santai di sana, serta ia pun tak malu untuk menggoyang-goyangkan badannya ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik.
"Alea, aku sangat bahagia sekali sekarang, hahah ...," teriak Sella kepada Alea dengan gelak tawanya.
Malam pun semakin larut, akan tetapi Alea dan Sella pun semakin semangat dan bahagia di dalam club mewah itu, bahkan mereka pun tak ingat untuk pulang dan berhenti menikmati pesta mereka.
Seketika pandangan Alea pun teralihkan ke salah satu ruangan VIP dari club itu, karena ia melihat pria yang pernah ia temui di kampus pada siang itu dengan dikelilingi oleh beberapa wanita cantik dan beberapa pria berpakaian rapi.
"Kamu lihat apa Alea?" tanya Sella kepada Alea.
"Aku melihat pria itu di kampus tadi siang, aku pikir dia bukan orang yang suka datang ke tempat seperti ini, tapi ternyata aku salah," jawab Alea sembari menunjuk ke arah pria itu.
"Oh itu ...," ucap Sella yang terhenti.
"Kamu kenal dengan orang itu?" tanya Alea kepada Sella.
"Tentu aku tahu dia siapa, dia adalah pengusaha kaya raya di negara ini, dan merupakan salah satu duda muda tampan yang sedang banyak di intai oleh para wanita-wanita mata duitan," jawab Sella kepada Alea.
"Jadi dia duda?" gumam Alea di dalam hatinya.
"Dia duda tampan Alea, dan kalau tidak salah dia juga punya seorang putri yang masih kecil."
"Yang aku dengar istrinya meninggal ketika anaknya masih berumur dua tahun karena sebuah kecelakaan, dan semenjak itu dia tidak menikah sampai sekarang," sambung Sella menjelaskan kepada Alea.
Alea hanya diam menatap ke arah pria itu tapa sedikit pun mengedipkan matanya.
"Tapi walaupun dia duda anak satu, umur dia masih cukup muda, karena dia menikah di usia muda juga, dan kalau tidak salah umur dia sekarang tiga puluh lima tahun," kembali Sella menjelaskan kepada Alea.
Tanpa sengaja, dari dalam ruangan yang hanya tertutupi oleh kaca, pria itu pun menyadari jika ia sedang di perhatikan oleh Alea, sehingga membuatnya pun ikut menatap ke arah Alea.
Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain dengan cahaya redup dalam waktu yang cukup lama.
"Apa yang sedang kamu lihat Saga?" tanya salah seorang pria yang berada di sebelahnya.
"Ha? Oh, tidak ada, aku hanya sedang melihat seseorang yang pernah aku lihat saja," jawa pria itu.
Saga, ya itulah nama pria yang di temui oleh Alea.
Saga merupakan seorang dudan tampan beranak satu, yang mana istrinya telah lama meninggal dunia.
Meski menyandang status duda, itu tak membuat Saga susah untuk mendapatkan pasangan, karena dengan ketampanan dan kekayaan yang ia miliki, banyak para wanita cantik berusaja untuk mendapatkan hatinya, akan tetapi Saga bukanlah pria sembarang yang akan bisa memberikan hatinya kepada wanita lain, apalagi itu berhubungan dengan masalah pernikahan.
Saga sangat teliti dalam memilih pasangan hidupnya, apa lagi itu akan menjadi Ibu sambung dari anak semata wayangnya.
"Minumlah Saga, nikmati malam ini," ucap salah seorang temannya.
"Aku sangat tidak suka dengan suasana ini," jawab Saga singkat sembari meneguk segelas minuman di tangannya.
"Kamu mau wanita seperti apa Saga? Biar aku carikan untukmu malam ini," ucap temannya kepada Saga.
Saga hanya tersenyum tipis sembari berdiri dari duduknya.
"Silahkan kalian nikmati pesta ini," ucap Saga sembari berjalan keluar.
Saga pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan di luar ia pun telah di tunggu oleh sebuah mobil mewah dan seorang asistennya.
"Bagaimana pestanya Tuan?" tanya asistennya kepada Saga.
"Sangat membosankan, dan kamu sendiri tahu bagaimana keadaan di dalam sana Jors," jawab Saga kepada asistennya yang bernama Jors.
Jors tak hanya sebagai asisten bagi Saga, tapi Jors juga merupakan sahabat Saga sedari kuliah, sehingga di luar pekerjaan mereka pun akan memperlihatkan sikap santai sewajarnya sebagai seorang sahabat.
Jors hanya tersenyum tipis mendengar jawaban yang di berikan oleh Saga kepadanya.
"Bagaimana masalah yang kemarin Jors? Apa kamu sudah menangkap orang itu?" tanya Saga kepada Jors.
"Sudah Tuan, dan sekarang orang itu sedang di sekap di pelabuhan tepi kota," jawab Jors kepada Saga.
"Antar aku ke sana Jors, karena sudah lama sekali tanganku tidak terkena percikan darah," ucap Saga.
Malam itu dengan laju kencang Jors dan Saga menuju ke salah satu pelapuhan yang terletak di tepi Kota.
Plak
Saga pun keluar dari dalam mobilnya setelah sampai di tempat tujuan, dan sana ia telah di tunggu oleh beberapa orang pria berbadan kekar yang langsung menyambut kedatangan Saga.
"Selamat datang Tuan," sambut para pria itu dengan serempak kepada Saga.
"Jadi kamu orangnya?" kedua mata menatap tajam ke arah seorang pria dengan kondisi luka-luka dan kedua tangan yang terikat.
"Ma ... maafkan saya Tuan Saga ..., saya mohon," ucap pria itu dengan deraian darah bercucuran dari hampir setiap sudut wajahnya.
"Karena ulah kebodohanmu, aku harus menunda segala rencana besar yang selama ini telah aku rencanakan."
Krek
Saga sontak mengeluarkan sebuah senjata api dari balik bajunya sembari mengarahkan tepat di kening pria itu.
"Tu ...," ucap pria itu seketika terputus.
Dor
Tanpa ada rasa kasihan Saga langsung menarik pelatuk dan menembakkannya tepat di kepala pria itu hingga tewas.