*Bab 1*
Lisa merebahkan tubuhnya setelah membersihkan tubuhnya.
Lisa merasa penat setelah berkutat menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Wanita itu hampir saja terlelap. Namun, dia terbangun ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk.
Lisa tampak aneh, siapa yang mengetuk pintunya itu. Padahal semua penghuni kost sudah berangkat bekerja. Karena, semua penghuni kost di sana adalah teman-teman yang satu tempat kerja dengan Riko- suaminya.
"Siapa yang mengetuk pintu? Bukannya semua sudah berangkat bekerja?" Gumam Lisa dalam hati sambil bangkit dari ranjangnya.
Lisa lupa membenahi pakaiannya dan mengganti pakaian. Karena, pintu sudah diketuk dengan cukup kencang.
Lisa membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang sedang berada di hadapannya dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun.
"Bastian?" ucap Lisa heran.
Bastian- sahabat, saudara sekaligus rekan kerja suami Lisa yang juga indekos di tempat yang sama.
Bastian meneguk salivanya berkali-kali dengan mata yang masih memandang Lisa seakan menelanjangi.
"Bastia! Kamu ngapain kesini? Nggak kerja?" Tanya Lisa sedikit meninggikan suaranya yang membuat lelaki itu membuyarkan lamunannya.
Bastian yang memang sengaja tidak bekerja. Karena, dia selalu memikirkan Lisa setelah beberapa hari yang lalu lelaki itu melihat tubuh molek wanita itu.
Bastian menggosok-gosok lehernya yang tidak gatal, dia memikirkan sesuatu bagaimana cara mencicipi tubuh wanita itu.
"Em, iya mbak. Aku lagi tidak enak badan. Apa Mbak lisa punya obat?" Bastian berusaha berbohong.
"Ada, tunggu sebentar mbak ambilkan dulu." Lisa menjawab sambil masuk kedalam. Namun, siapa sang Bastian juga ikut masuk dan mengunci pintu kamar tersebut.
Perlahan lelaki itu mendekati Lisa yang sedang memunggunginya sambil mencari obat, saat wanita itu menegakkan tubuhnya hendak berbalik , tiba-tiba saja ada tangan yang memeluknya pinggang rampingnya dari arah belakang.
Wanita itu menjerit kaget. Ingin membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang sudah memeluknya dengan agresif.
"Aw!" pekik Lisa dengan tubuh bergetar, keringat dingin mulai bercucuran.
Lisa tahu siapa yang memeluknya meskipun dia tidak bisa melihat ke arah belakang.
Wanita itu memberontak ingin melepaskan pelukan dari lelaki itu. Namun, tenaga dia tak sekuat itu. Justru lelaki itu semakin mempererat pelukannya.
" Lepaskan aku Bastian! tolong... tolong... !" Lisa menjerit ketakutan.
Lelaki itu membekap mulut wanita itu, dia menghirup aroma tubuh Lisa yang wangi. Karena, baru saja selesai mandi.
Air mata Lisa jatuh, wanita itu terisak. Dia berharap agar Riko suaminya datang menolong dia. Akan tetapi, harapannya sia- sia, lelaki itu tidak muncul juga.
Lisa berteriak minta tolong dengan kondisi mulut di bekap. Namun, itu semua sia-sia
Sedangkan lelaki yang diharapkan bisa menolongnya itu sedang tidak ada di sana. Karena, sedang bekerja.
Bastian mencium tengkuk Ratih, membuat wanita itu tersentak. Rasa geli dan jijik menyelimutinya. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa dia juga merasakan nikmat.
Bahkan lelaki itu menggigit- gigit kecil leher wanita itu, hati Lisa merintih harapan demi harapan agar ada orang yang menolongnya.
Tangan Bastian mulai menyusuri tubuh wanita yang sudah bersuami dan mempunyai anak, yang masih terbungkus oleh lingerie berwarna merah menyala.
Lisa berteriak, hatinya semakin merintih dan merutuki dirinya yang tidak mengganti pakaiannya dulu.
" Tolong! lepaskan Aku Bastian. Aku mohon." Lisa terisak, badannya sudah mulai lemas. Karena, sedari tadi dia memberontak.
Bastian terus meremas benda kenyal itu sambil mencumbu leher jenjang milik Lisa dengan penuh nafsu dan meninggalkan kissmark.
Lelaki itu membawa Lisa ke ranjang. Sesampainya di ranjang, wanita itu langsung di baringkan dengan sangat kasar.
Lisa pun berusaha bangun dan memberontak. Akan tetapi, Bastian langsung menghimpit dan mengungkung tubuh gadis itu.
Sehingga, Lisa tidak bisa berbuat apa-apa selain berontak di bawah tubuh kekar saudara suaminya itu.
Hati Lisa semakin sakit melihat siapa yang sudah tega melakukan hal keji itu kepadanya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa tubuhnya justru menginginkan sentuhan itu.
Bastian menyambar bibir seksi Lisa dengan kasar, melumatnya, dan menggigit bagian bibir bawah istri sahabatnya itu.
Dengan keadaan mulut yg terus melumat bibir Lisa, tangan Bastian berusaha membuka tali lingerie yang dikenakan oleh wanita itu. Sehingga, tubuh Lisa yang mulus dan wangi sehabis mandi pun terpampang dengan jelas di bawah tubuh lelaki itu.
Karena, telah berhasil membuka tali lingerie yang Lisa kenakan, Bastian pun tidak sabar untuk mencicipi gunung kembar yang masih tertutup oleh kacamata berenda berwarna merah menyala itu.
Bastian melepaskan pagutannya di bibir Lisa dan beralih ke bukit sintal nan padat di dada wanita cantik itu.
Setelah bibirnya yang sudah terasa kebas akibat dihisap dan digigit dan bebas dari pagutan pria yang sedang di mabuk birahi itu, Lisa pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari Bastian.
Lisa berusaha berteriak meminta tolong sekencang mungkin. Bahkan, wanita itu berteriak mengeluarkan semua suaranya yang ada.
"Tolong....tolong...tolong...!" Jerit Lisa.
Namun, percuma saja tidak akan ada yang mendengar teriakannya, lelaki itu kini melumat kembali bibir seksi Lisa bahkan semakin memperdalam pagutannya dengan tangan masih meremas bukit kenyal dan sekal itu.
Mendapat rangsangan seperti itu membuat tubuh Lisa seakan tidak menolak justru menikmatinya, tidak hanya itu wanita itu pun mulai mengerang.
Melihat mangsanya sudah pasrah akhirnya Bastian melepaskan tangan sebelahnya yang memegangi kedua tangan Lisa.
"Mbak, tubuhmu wangi dan menggairahkan." Bastian berbisik di tengah ciumannya yang liar.
Mendapat pujian seperti itu membuat wanita itu melayang menikmati setiap sentuhan demi sentuhan.
Bastian pindah ke gunung kembar Lisa dengan satu tangan meremas sedangkan tangan satunya bergerilya ke pangkal paha wanita itu bahkan mengusap-usap dengan lembut lembah kenikmatan wanita itu.
Bastian menyesap puting gunung kembar Lisa bak bayi yang sedang menyusu.
Lisa mendesah mendapat sentuhan kenikmatan itu.
"Ah... Oh... !" Lisa mendesah dengan bernafsu.
Bastian merasa senang, melihat wanita itu mulai menikmati permainannya.
Bastian berhenti menyesap kini lelaki itu berpindah ke telinga wanita itu sambil menjilat-jilatnya. Jari-jarinya ditusuk-tusukkan ke lembah kenikmatan Lisa yang membuatnya menggelinjang.
"kamu sudah basah, sayang. Sepertinya sangat nikmat, ya?" Bastian bertanya sambil meremehkan wanita yang awalnya menolak itu.
Bahkan kini Bastian menusuk-nusuk kewanitaan Lisa dengan sangat cepat yang membuat Lisa semakin berteriak histeris mendapat serangan ke nikmat.
"Ah... Ah... Ah...! Brengsek kamu Bastian!" Lisa meracau.
"Aku brengsek. Tetapi, kamu sangat kenikmatan kan, sayang." Ejek Bastian semakin mempercepat sodokannya.
Bastian menggigit-gigit leher Lisa. Namun, dia menghentikan tusukannya dan menarik jari-jarinya yang membuat Lisa kecewa. Karena, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya.
Bastian menatap wajah Lisaa yang tampak kecewa, dia pun merasa kasihan. Akhirnya lelaki itu turun tepat di depan goa yang rimbun itu. Bastian melebarkan kaki Lisa yang membuat dia menelan salivanya.
Bastian menggigit-gigit leher Lisa. Namun, dia menghentikan tusukannya dan menarik jari-jarinya yang membuat Lisa kecewa. Karena, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya.
Bastian menatap wajah Lisa yang tampak kecewa, dia pun merasa kasihan. Akhirnya lelaki itu turun tepat di depan goa yang rimbun itu. Bastian melebarkan kaki Lisa yang membuat dia menelan salivanya.
Bastian yang sama sekali tidak punya pengalaman dalam berhubungan, dia hanya menyaksikan adegan seperti itu lewat video.
Lelaki itu tidak henti-hentinya mengagumi kewanitaan Lisa yang tampak indah, tanpa menunggu lama Bastian mendekatkan wajahnya ke area intim wanita itu. Aroma keintiman Lisa membuat lelaki itu semakin bernafsu.
Bastian menjulurkan lidahnya dan menyapu area kewanitaan Lisa yang membuat wanita itu menggelinjang dan mendesah.
"Ah... Ah ... Brengsek kamu Bastian!" Lisa mendesah sambil memaki Bastian.
Mendapat makian dari Lisa membuat Bastian semakin buas, dia kini menjulurkan lidahnya kedalam liang kewanitaan wanita tersebut dan menusuk-nusuknya semakin dalam.
Lisa semakin melayang, dia sudah tidak sadar bahwa Bastian tengah memperkosanya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa wanita itu juga sangat menikmatinya.
Bastian semakin memperdalam tusukan lidahnya bahkan salah satu tangannya meremas bongkahan pantat Lisa juga meremas buah dada yang masih ranum meskipun sudah menyusui dua anak.
Lisa merasakan ada yang mau keluar, tubuhnya bergetar hebat dan tidak lama kemudian tubuh Lisa mengejang, dia mengeluarkan cairan putih dari area kewanitaannya.
"Ah... !" Jerit Lisa di sela-sela organsmenya.
Tubuh Lisa lemas, wanita itu meneteskan air matanya dan merutuki dirinya sendiri.
"Kamu bodoh Lisa, kenapa justru menikmatinya!" Lisa berkata dalam hati.
Bastian merasa puas sudah membuat Lisa klimaks, tanpa menunggu lama Bastian kini menarik tubuh Lisa agar duduk. Lelaki itu menyodorkan rudalnya ke mulut wanita itu.
Namun, Lisa menolak dan merasa jijik. wanita itu kembali menangis, merasa dirinya sangat hina. Karena, secara langsung dia menikmati apa yang dilakukan Bastian kepadanya.
Karena, merasa geram dengan Lisa yang tidak mau menurutinya. Bastian terpaksa menarik rambut Lisa yang membuat wanita itu menengadah dan menjerit kesakitan.
Akibat jeritannya itu oleh Bastian di jadikan peluang, lelaki itu menyodorkan rudalnya ke mulut Lisa yang sedang menganga.
Bastian memaju mundurkan rudalnya, bahkan menekan pusakanya sangat dalam hingga membuat Lisa terbatuk-batuk.
Bastian merasakan kenikmatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Karena, baru pertama kali ini dia melakukannya.
"Uh... Ah... Enak sekali, Mbak. Ayo! lebih dalam lagi, sayang." Bastian berkata sambil merem-melek.
Tidak lama kemudian, Bastian merasakan akan ada yang meledak dan, "Ah... Ah...!" Jerit Bastian. Benar saja dia memuntahkan lahar panasnya untuk yang pertama kalinya kedalam mulut wanita.
Karena, terlalu dalam rudal Bastian masuk membuat cairan putih kental yang ditembakkannya itu masuk semua kedalam mulut Lisa dan ditelannya hingga tidak tersisa.
Lisa kembali menangis. Karena, selama dia berhubungan dengan sang suami tidak pernah sekalipun suaminya melakukan itu kepada dirinya.
Batang rudal Bastian masih berdiri tegak, nafsu lelaki itu belum surut. Karena, sudah tidak sabar lagi lelaki itu membaringkan tubuh Lisa di atas ranjang secara kasar, yang membuat wanita itu memekik.
"Aw... !" Pekik Lisa kesakitan.
Kini Bastian sudah berdiri tepat di depan Lisa, lelaki itu membuka paha wanita itu secara lebar. Tanpa menunggu lama laki-laki itu mengarahkan kejantanannya ke arah lubang surgawi Lisa.
Namun, berkali-kali dia mencoba memasukkannya tidak juga berhasil membuat Bastian semakin heran.
"Shit! Kenapa susah sekali. Padahal dia bukan perawan bahkan sudah mempunyai dua anak." Batin Bastian sambil kembali berusaha memasukkan kejantanannya.
Setelah berkali-kali berusa yang membuatnya gagagal. Akhirnya ujung tombak Bastian masuk kedalam lembah kenikmatan Lisa.
Lisa meringis kesakitan, dia baru pertama kalinya di tusuk dengan rudal yang sangat besar.
Bastian mendiamkan rudalnya hingga Lisa merasa rileks, dia pun kini memasukkan secara perlahan. Bastian merasakan batangnya seperti dihimpit dan di urut yang membuat semakin kenikmatan.
Sedangkan Lisa lubang surgawinya terasa penuh dan sesak. Dia memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang belum pernah dia dapatkan dari sang suami. Wanita itu sekuat tenaga menahan agar tidak mengerang dan mendesah.
Namun, dengan satu kali sentakan kini kejantanan Bastian sudah masuk sepenuhnya ke dalam liang kewanitaan Lisa bahkan sampai mentok ke rahim wanita itu.
"Ah... sakit, Bastian! Kamu memang kurang ajar!"Lisa menjerit sambil memaki lelaki itu.
Mendapat makian dari Lisa bukan membuat Bastian tidak suka, justru itu membuat dia semakin terangsang. Batang kejantanannya terasa dijepit oleh kewanitaan Lisa membuat lelaki itu ke enakan.
"Nikmati saja, sayang. Pasti kamu bakalan ketagihan." Ejek Bastian sambil memaju mundurkan rudalnya.
Bastian memaju mundurkan rudalnya secara perlahan. Namun, semakin lama dia semakin mempercepat temponya.
Tidak hanya disana, kini bastian mulai menyesap bibir mungil wanita itu dengan kedua tangan meremas gundukan Lisa.
Lisa sudah pasrah, bahkan kini dia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa. Bastian turun ke gundukan gunung wanita itu menyesap bagaikan bayi yang sedang kelaparan dengan satu tangan meremas bahkan memelintir puting berwarna merah muda itu.
Bastian menghentikan genjotannya dan terlentang di sebelah Lisa.
"Ayo, naik, Sayang!" Perintah Bastian kepada Lisa.
Lisa yang awal mulanya menolak tetapi, entah mengapa dia justru menuruti perkataan Bastian bagaikan sapi yang dicucuk hidungnya.
Kini Lisa merangkak menaiki tubuh Bastian, mengarahkan kewanitaannya di atas rudal lelaki tersebut.
Bles!
Batang kemaluan Bastian melesak begitu saja ke dalam liang kewanitaan Lisa. Kini bergantian Lisa yang memainkan temponya.
Wanita itu menaik turunkan badannya sambil meremas kedua buah dadanya dengan kepala mendongak ke atas.
"Uh... Ah... Iya, disana, Sayang. Enak, lebih cepat lagi!" Perintah Bastian yang diikuti oleh Lisa.
Beberapa menit kemudian Bastian dan Lisa mengejang, kedua orang tersebut menyemburkan cairan cintanya, bahkan cairan itu melesak masuk ke dalam rahim Lisa.
Setelah mencapai kenikmatan Lisa turun dari tubuh Bastian dan berlari ke kamar mandi. Wanita itu membersihkan cairan Bastian yang masuk ke dalam kewanitaannya. Ada rasa takut dalam hati jika sampai dia hamil.
Lisa mengguyur tubuhnya dengan shower, wanita itu merutuki dirinya yang tidak bisa menjaga harga dirinya bahkan dia menuruti semua ucapan Bastian.
"Mas, Riko. Maafkan aku sudah mengkhianatimu." Gumam Lisa sambil terisak dan memeluk kedua kakinya di bawah guyuran air shower.
Sedangkan Bastian merasa sangat puas. Namun, dia merasa bersalah kepada Lisa.
Ada rasa takut dalam hatinya jika sampai Lisa membenci dirinya. Namun, hasratnya sudah menutupi akal sehatnya.
Lelaki itu bangkit dan memakai pakaiannya, dia menghampiri Lisa yang masih ada di dalam kamar mandi. Bastian merasa khawatir takut terjadi apa-apa kepada Lisa. Karena, sedari tadi wanita itu belum juga keluar dari kamar mandi.
"Mbak! Kenapa lama sekali di kamar mandi?"
"Mbak! Tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf!" Bastian berkata sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Namun, tidak ada jawaban dari wanita itu.
Lelaki itu bangkit dan memakai pakaiannya, dia menghampiri Lisa yang masih ada di dalam kamar mandi. Bastian merasa khawatir takut terjadi apa-apa kepada Lisa. Karena, sedari tadi wanita itu belum juga keluar dari kamar mandi.
"Mbak! Kenapa lama sekali di kamar mandi?"
"Mbak! Tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf!" Bastian berkata sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Namun, tidak ada jawaban dari wanita itu.
Lisa tidak henti-hentinya menangis dan merutuki dirinya, bahkan wanita itu menyiram kewanitaannya dengan shower.
Bastia semakin khawatir, lelaki itu menggedor pintu kamar mandi dengan sangat kencang.
Tok... Tok... Tok...
"Mbak, tolong! bukan pintunya. Jangan buat aku semakin khawatir." Bastian berkata sambil menggedor- gedor pintu kamar mandi itu.
Namun, tidak ada jawaban dari wanita itu hanya bunyi air yang mengguyur saja terdengar. Karena, merasa sangat khawatir Bastian langsung mendobrak pintu kamar mandi itu.
Dengan dua kali dobrakan akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka, betapa terkejutnya Bastian yang mendapati Lisa sedang menangis di bawah guyuran air shower dengan tubuh yang sudah membiru.
"Mbak, apa yang kamu lakukan?" Bastian berkata sambil mengangkat tubuh mungil yang sudah menggigil kedinginan itu.
Bastian meraih kimono dan memakaikannya kepada wanita itu.
"Maafkan aku, Mbak."
"Aku berjanji akan merahasiakan ini semua dan akan selalu ada untuk kamu." Bastian berkata sambil memeluk wanita itu.
Entah mengapa pelukan Bastian itu membuatnya tenang, padahal lelaki itu yang sudah melecehkannya.
"Kamu jahat, Bastian. Kenapa tega kau melakukan ini kepada aku?" Lisa berkata sambil terisak.
"Maaf, Mbak, aku khilaf. Karena, rasa cintaku ini membuat aku lupa diri." Ucap Bastian sambil mencium kening Lisa dengan penuh kasih.
Lisa semakin terisak, entah mengapa dia merasa takut jika sang suami tahu apa yang sudah menimpa dirinya. Wanita itu yakin bahwa sang suami pasti akan membenci dirinya dan bisa saja menceraikannya.
Lisa semakin terisak, dia merasa berdosa dan hina. Kini dia tidak ingin hidup lagi, mungkin dengan mengakhiri hidupnya dia tidak akan merasa bersalah dan berdosa lagi meskipun itu bukan murni kesalahannya.
Bastian semakin mengeratkan pelukannya, dia tidak ingin membuat Lisa depresi atau pun stress karena perlakuannya itu.
"Mbak, jangan menangis lagi. Aku akan bertanggung jawab dan tidak akan membeberkan masalah ini kepada siapa pun," Bastia berusaha meyakinkan Lisa.
Dengan segala upaya Bastian berusaha meyakinkan Lisa dan membuat wanita itu tidak merasa bersalah. Karena, dia tahu semua ini kesalahannya bukan Lisa.
Akhirnya, Lisa luluh juga dengan ucapan Bastian dan keduanya tidur sambil berpelukan.
Setelah beberapa jam tertidur, bastian mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jam dinding yang berada tepat di hadapannya itu.
Bastian terlonjak, dia tahu bahwa sebentar. karena, sebentar lagi kedua anak Lisa pulang dari sekolah. Lelaki itu pun akhirnya membangunkan wanita yang berada di sampingnya itu.
"Mbak, bangun. Ini sudah siang dan jam anak-anak pulang sekolah." Ucap Bastian sambil menggoyang-goyangkan tubuh Lisa.
Lisa mengerjapkan matanya, dia tampak kaget melihat Bastian berada di sampingnya. Namun, dia mengingat-ingat apa yang sudah terjadi sambil mengusap wajahnya secara kasar.
Bastian melihat Lisa yang tampak kelelahan, dia tidak tega jika wanita itu keluar sendiri menjemput kedua anaknya.
"Mbak istirahat saja, biarkan aku saja yang menjemput anak-anak." Bastian berkata sambil mencium kening Lisa lalu bangkit dan keluar dari kamar wanita itu.
Lisa memejamkan matanya, dia sudah merasa menjadi wanita yang tidak tahu diri. Wanita itu tidak habis pikir mengapa dia sangat menikmati pergumulannya dengan Bastian.
Hari sudah menjelang sore, Lisa berkutat di dapur menyiapkan makan malam untuk sang suami dan kedua anaknya. Namun, dia tidak bisa fokus karena mengingat kejadian dengan Bastian tadi.
Setelah selesai, Lisa masuk ke dalam kamar mandi wanita itu ingin membersihkan tubuhnya yang sudah mulai gerah.
Lisa berdiri di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi. Wanita itu memandangi tubuhnya, dia tidak tahu apa yang membua Bastian menyukainya hingga membuat lelaki itu berbuat nekat.
Beberapa menit kemduian Lisa lekuar dari kamar mandi dan dia sudah melihat sang suami yang duduk bersandar di atas ranjang.
"Sudah datang, Mas." Ucap Lisa sambil menjabat tangan sang suami dan menciumnya.
"Sudah, Sayang. Kamu masak apa hari ini, hem?" Tanya Riko sambil benagkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Lisa mengenakan pakaian, setelah selesai dia berjalan keluar untuk memanggil kedua anaknya yang kamarnya berada di lantai bawah.
Saat sedang menuruni anak tangga dan hampir sampai di lantai bawah, tangannya ditarik oleh Bastian dan memeluk tubuh rampingnya.
"Bastian lepaskan, kamu sudah gila, ya? Bagaimana jika ada yang melihat, hah!" Lisa berkata dengan suara pelan dengan penuh penekanan.
Bukannya dilepaskan, Bastian membalikkan tubuh Lisa dan melumat lembut bibir wanita tersebut. Kemudian dilepaskan sambil tersenyum
"Manis, aku suka. Terima kasih, sayang." Bastian berkata sambil memegang dagu Lisa, kemudian laki-laki itu berjalan menaiki anak tangga meninggalkan Lisa yang masih berdiri mematung.
Hati Lisa bergemuruh dan berdebar-debar, entah mengapa sebutan sayang dari Bastian membuatnya salah tingkah. Tiba-tiba saja dia ingat tujuan awalnya turun.
Lisa kembali menuruni anak tangga dan memanggil kedua anaknya, setelah selesai memanggil mereka wanita itu kembali berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Saat Lisa akan masuk ke dalam kamarnya, ternyata di balkon tempatnya tinggak sang suami bersama teman-temannya dan juga Bastian duduk santai sambil berbincang-bincang.
Lisa menghela nafas panjang berusaha menetralisirkan perasaannya. Jantungnya berdebar-debar melihat tatapan nakal dari Bastian.
"Mas, ayo makan dulu!" Ajak Lisa kepada sang suami.
"Ayo semua makan dulu," Lisa juga menawarkan kepada teman- teman Riko.
Lisa dan Riko berjalan masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Bastian masih menatap ke arah wanita yang sudah di cicipinya itu.
Setelah mereka selesai makan, kedua anaknya kembali turun dan masuk ke kamar mereka. Sedangkan Riko kembali duduk santai bersama teman-temannya.
Lisa merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berada di lantai sambil menonton televisi.
Tiba-tiba saja, Bastian masuk ke dalam tanpa permisi terlebih dahulu. Laki-laki itu duduk di samping Lisa dan melumat bibir wanita itu sambil tangannya meremas gundukan kenyal milik Lisa.
"Ehm ... ehm ... " suara Lisa yang tertahan.
Setelah puas melumat bibir seksi Lisa, Bastian bangkit dan berjalan menuju lemari pendingin lelaki itu mengambil satu bungkus bongkahan es batu.
Mata Lisa masih membulat sempurna, dia tidak menyangka bahwa Bastian sangat pintar memanfaatkan waktu dalam kesempitan. Namun, tidak bisa di pungkiri bahwa dia juga sangat menikmati cumbuan lelaki itu.
"Love you, sayang. Aku suka bibirmu, manis." Ucap Bastian lirih sambil berjalan keluar.
Wajah Lisa merah merona seperti kepiting rebus, dia salah tingkah dengan ucaoan Bastian.