Rintik hujan membasahi teras rumah Aruna, sambil membaca buku novel, wanita itu sedang menanti kedatangan suaminya pulang kerja. Sejak menjadi nyonya William dia banyak mengoleksi buku novel dan akan dia baca saat selesai mengerjakan tugas rumahnya. Dia meletakkan buku novel kegemarannya di sofa, lalu mengambil ponselnya karena bunyi. Aruna tersenyum, ternyata suaminya sudah membalas pesan singkat dirinya. Pria itu selalu menyempatkan diri untuk membalas pesannya walau sesibuk apa pun pekerjaannya di kantor.
[ Aku di jalan, sebentar lagi pulang ]
Isi pesan dari William suaminya.
Aruna langsung bergegas mandi, dia tidak mau berpenampilan kucel di hadapan suaminya. Wanita itu selalu berpenampilan sempurna. Sejak menikah dengan William setahun yang lalu, Aruna memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga lalu melepas kariernya, dia menjadi istri yang penurut walaupun di dalam keluarganya dia termasuk anak yang pembangkang.
Aruna mematut wajahnya di cermin setelah selesai mandi, sambil mengoleskan pewarna bibir kesukaan suaminya, dia tersenyum merasa penampilannya kali ini sudah sempurna, baju tipis satin dia kenakan karena dia yakin suaminya malam ini tidak akan mengajak makan malam di luar, karena Aruna sendiri sudah memasak makanan kesukaan suaminya.
Bunyi klakson mobil suaminya sudah terdengar dari depan, dengan langkah cepat Aruna menyambutnya keluar rumah, dia membalas senyum suaminya yang mendekat dan mengambil tas kerja suaminya.
“Aku sudah menyiapkan makan malam untuk mu Will,” kata Aruna, wanita itu menangkup leher suaminya, kemudian mengecup bibirnya ringan “Kamu sepertinya lelah,” kata Aruna lagi, dia mengajak suaminya masuk rumah. William langsung mengendurkan dasinya lalu duduk di sofa, dengan cekatan Aruna memberikan segelas air putih karena ritualnya selalu begitu.
“Terima kasih sayang,” kata William, memberikan kembali gelasnya setelah menandaskan satu gelas air mineral penuh ke mulutnya.
“Kamu sepertinya cape Will, apa perlu aku siapkan air hangat untuk kamu?”
William langsung menarik tubuh Aruna dan membawa istrinya duduk di atas pahanya. Pria itu tersenyum lalu menatap wajah cantik Aruna.
“Semua keletihanku akan hilang jika menikmati malam panas bersamamu Aruna.”
William selalu mengatakan itu, Aruna selalu menjadi candunya saat lelah. Wanita itu langsung tersenyum, lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya. Menempelkan bibirnya pada bibir William.
Milik William langsung mengeras, nafsunya mulai menyelimutinya, tangannya menyelusup ke dalam kain satin tipis milik istrinya, menyentuh kulit halusnya.
“Will, bisakah kita tidak melakukannya di sini,” bisik Aruna, wajahnya sudah memerah karena sensasi yang dia rasakan sudah cukup panas. Pria itu sudah menjilati leher jenjang miliknya.
William tersenyum, dia langsung membawa istrinya ke kamar dengan menggendong ala bidal style. Aruna langsung membantu suaminya membuka kancing kemejanya satu persatu, sementara William sepertinya sudah tidak sabar ingin membongkar gundukan kembar milik istrinya, kain satin tipis itu sudah lepas dari tubuh Aruna karena ulah tangan jahil suaminya, dan William langsung menangkup dua gundukan kenyal dan meremasnya perlahan.
“Love you Aruna,” bisiknya tepat di telinga Aruna, lidahnya bermain di daun telinga Aruna hingga istrinya mengerang karena merasa miliknya sudah basah.
Aruna terbangun saat melihat milik suaminya sudah mengeras, dia menggenggam milik William dan mengulumnya. William mendesah, memegang kepala Aruna, agar istrinya mempercepat temponya.
William langsung mengarahkan istrinya agar segera berbaring di tempat pria itu mencium bibir istrinya sambil menyatukan milik keduanya.
Aruna memejamkan matanya, saat suaminya mulai memompa tubuhnya perlahan, dia mendesah ketika William kembali meremas dada Aruna.
“Kau menyukainya sayang?”
“Aku selalu menyukai setiap sentuhanmu Will."
Napas keduanya naik turun seiring dengan gairah yang sudah membakar keduanya. William mendesah begitu hebat dan miliknya menyembur di dalam sama.
Keduanya terkapar lemas tak berdaya, William mengecup singkat bibir istrinya.
“Kamu wanita hebat sayang, aku selalu menyukai apa yang ada dalam diri kamu.”
Aruna mengangguk, memeluk tubuh suaminya erat, entah kenapa dirinya selalu sendu setelah melakukan ini bersama William, harapan agar ruangan ini riuh dengan tangisan bayi belum juga terwujud, mungkin memang Aruna harus lebih sabar lagi, lagian usia pernikahannya baru genap satu tahun.
“Kamu tidak lapar Will, aku sudah menyiapkan makanan untuk kamu.”
“Aku mandi dulu, setelah ini kita makan malam.” William bangkit dari kasurnya dan menarik tubuh Aruna, Aruna paham apa yang William inginkan bercinta di kamar mandi selalu menjadi ritual tambahan saat keduanya selesai melakukan permainan ranjang.
Aruna sudah memenuhi bathup dengan air hangat dan aroma sabun mawar sudah menyeruak di dalamnya, dia masuk ke dalam bathup dan William mengikutinya dari belakang. Keduanya saling memandikan satu sama lain, meremas bagian sensitif yang paling William suka, Aruna memejamkan matanya saat lidah suaminya bermain-main di leher jenjangnya. Sambil menghirup aroma tubuh istrinya yang sudah wangi aroma mawar.
“Will, aku suka sentuhanmu di sana.” William tersenyum, jari jemarinya memang tidak dibiarkan diam, dua jarinya dia tusukan pada milik istrinya, dan lenguhan pun lolos dari mulut istrinya. Aruna tidak kuasa menahan hasratnya, dia langsung membalikkan badannya untuk menghadap suaminya, dan memimpin permainannya.
“Kau sepertinya menantangku," kata Aruna pada batang milik suaminya yang sudah mengeras. William tersenyum namun dia sudah tidak tahan, di memegang pinggang istrinya dan menuntunnya agar segera memberikan penyatuan. Aruna menggerakkan pinggulnya naik turun, menghunjamnya dengan begitu keras hingga William menyebutkan nama istrinya karena begitu nikmat, dia mendesah sejadi-jadinya hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan.
Pukul sebelas malam, perut mereka lapar karena memang sudah selesai berolah raga malam, keduanya makan malam bersama, karena Aruna memang sudah menyiapkan semuanya.
“Besok kamu lembur Will?”
Aruna bertanya karena biasanya terkadang suaminya, akan lembur di hari weekand, itu pun jika sudah akhir bulan seperti sekarang.
“Entahlah, jika Nikolas membutuhkan aku, aku harus ke kantor, aku tidak enak membiarkan dia bekerja sendiri, kenapa kamu bosan di rumah atau kita mau keluar?”
“Tidak, aku selalu memprioritaskan apa yang menjadi prioritas kamu Will.”
“Baiklah, semoga besok Nic tidak menghubungiku, dan kita akan pergi ke Boshe.”
“Kamu serius Will? ”tanya Aruna sedikit berbinar, wanita itu sudah lama tidak menikmati waktu berdua di luar dengan suaminya, terakhir sebulan yang lalu mereka pergi ke Boshe.
“Aku serius, apa salahnya memanjakan istri di malam minggu, sepertinya akan sangat ramai di sana, kita bisa berdansa menghabiskan malam di sana sayang.”
“Aku sudah tidak sabar ingin segera besok malam Will.”
Keduanya melanjutkan makan malamnya, Aruna sudah senang dengan rencana suaminya, dia bukan tipekel perempuan yang tidak mudah mengeluh, namun keluar rumah bersenang-senang dengan suaminya itu yang dia harapkan.
Saat keduanya selesai makan, dan mulai masuk ke dalam kamar untuk tidur, ponsel Aruna berbunyi.
William menoleh pandangan ke ponsel istrinya yang tidak jauh dari dirinya, dia heran dengan orang yang menghubungi tengah malam seperti ini. Dia melihat nama Karin tertera di layar.
“Karin,” kata William kemudian memberikan ponselnya pada istrinya. Dia merebahkan dirinya di kasur.
“Untuk apa dia menghubungiku, ”rutuk Aruna dalam hati, William tidak tahu Karin itu siap namun bagi Aruna wanita itu sangat licik walaupun dia adiknya sendiri. Entah apa yang dia akan bicarakan, sebab sudah satu tahun Aruna dan dirinya tidak berkomunikasi walaupun Aruna sengaja tidak memblokir semua akses untuk keluarganya. Mereka mengucilkan Aruna seolah memblaklis nama Aruna dari keluarga Brata. Karena Aruna masih memiliki William dia tidak memedulikan semuanya.
“Iya Karin ada apa, malam-malam kamu menghubungi kakak, “kata Aruna begitu menjawab panggilan adiknya, dia sedikit malas sebetulnya menjawab panggilan tersebut.
“Kak Aruna kalian di Bali kan?”
“Iya Karin ada apa? Tolong to the poin ini sudah malam kakak ngantuk.” Aruna ikut merebahkan tubuhnya di kasur, William mendekat dan memeluk istrinya, setelah mendengar dia menyebutkan kakak, William tahu jika itu adiknya Aruna yang menghubunginya.
“Kami berniat ke Bali besok aku dan suamiku akan berbulan madu di sana, Papa ingin kami segera memberikannya cucuk.”
“Ke Balilah jika kalian ingin ke sini,” Jawab Aruna datar.
“Tapi sepertinya kakak yang lebih tahu tempat yang paling hits di sana.”
“Kamu tinggal ke rumah kakak saja, nanti gampang setelah itu nanti suami kakak yang akan mencarikan tempat yang bagus.” Aruna sendiri tidak begitu hapal dengan wisata yang menarik di Bali, setahu dia William yang paling tahu karena William sudah lama menetap di Bali.
Aruna menghela napasnya setelah mengakhiri panggilannya dengan Karin, dia meletakkan ponselnya sembarangan, William melihat istrinya berbeda, dia terlihat sedikit murung, pria itu langsung mengecup kening istrinya pelan, seraya menenangkan. Dia tahu ada segemurat masa lalunya yang dia ingat pada keluarganya.
“Siapa Karin? ”tanya William sedikit ingin tahu jelas dari mulut istrinya,
“Dia adikku, hanya saja dia sudah lama tinggal di Paris menyelesaikan kuliah di sana, dia pulang dan menikah dengan kekasihnya, besok dia bilang mau honeymoon ke Bali dengan suaminya. Dan dia ingin aku menunjukkan tempat yang bagus di sini.”
“Kamu bisa kan? “tanya Aruna pada suaminya.
“Sudah aku bilang bagaimana nanti saja, aku tidak janji takut Nicolas menghubungi aku.”
“Dia bisa tinggal sehari di sini minggu bisa kamu antar Will.”
“Ya sudah kita ajak saja adikmu itu bersenang-senang di Boshe mereka pasti akan suka.”
“William, Adikku tidak suka minum.”
“Aku tidak percaya jika dia tinggal di Paris tapi tidak suka minum.”
“Aku pun tidak tahu karena memang aku sudah lama tidak menemuinya, kami sudah hampir lima tahun tidak bertemu semenjak dia studi di sana sampai saat ini dia sudah menikah,” kata Aruna lirih.
Wanita itu menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya, tidak ingin membahas adiknya lagi. Dirinya sudah cukup lelah oleh gempuran yang dilakukan suaminya berkali-kali malam ini.
Ke esokkan harinya, pagi-pagi William sudah berenang di kolam renang, Aruna tersenyum mendekati kolam renang sambil membawa sarapan untuk suaminya.
“Will, sarapan dulu aku sudah siapkan susu soda kesukaan kamu.”
William naik dari kolam renang kemudian menghampiri istrinya, mengecup singkat bibir Aruna.
“William basah tahu!” Wiliam terkekeh melihat Aruna cemberut.
“Tumben enggak ikut renang?” Kata William duduk di samping istrinya.
“Aku lemas, kamu pagi menggempurku lagi.”
“Biasanya kamu paling bersemangat, apa kamu kurang enak badan sayang?”
“Tidak Will, aku hanya merasa lelah saja, sebaiknya kamu cepat sarapan.”
William mengangguk, dia langsung mengambil satu piring sarapan buatan istrinya. Dan melahapnya. Namun kunyahannya berhenti saat mendengar ponselnya berbunyi.
“Nicolas,” kata Aruna melihat layar ponsel suaminya, dia kemudian mengambilnya dan menjawab panggilan Nicolas, William tidak keberatan jika istrinya yang menjawab panggilan tersebut, karena dia tahu Aruna tidak suka jika dia menjawab panggilan saat sedang sarapan atau makan.
“Iya Nic, ada apa William lagi sarapan.”
“Ada yang harus di tanda tangan William dia harus ke kantor hari ini.”
“Aku sudah menyangka kamu akan menghubungi suamiku saat weekand, bisakah kamu tunda senin besok Nicolas.”
“Tidak bisa Aruna proposal ini harus segera aku kirimkan dan di sana harus dibubuhkan tanda tangan suamimu.”
“Baiklah aku paham, suamiku sebentar lagi akan segera ke sana,” kata Aruna. Tidak ada pilihan lain karena memang suaminya sibuk.
William tersenyum, dia paham jika Aruna ingin menikmati waktu weekand berdua, namun bagaimana lagi kali ini dirinya benar-benar sibuk.
"Sabar ya sayang, aku janji akan sebentar saja setelah tanda tangan aku akan segera pulang, atau kamu ikut ke kantor?”
“Tidak, aku tidak mau jadi patung di sana, lagian Karin akan ke sini dengan suaminya, aku harus menyiapkan semuanya.”
“Beli saja, kamu tidak usaha cape-cape menyuguhkan untuk mereka, dia bukan tamu istimewa.”
“Tidak Will, aku hanya mau membuat makanan sederhana, lagian kamu tahu aku memang suka masak.”
“Baiklah aku siap-siap dulu,” kata William begitu melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
“Will!”
William menoleh pada istrinya.
“Tolong carikan kado untuk Karin setelah kamu pulang dari kantor, aku belum kasih apa-apa pada dia.”
William mengangguk, dia kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk memakai pakaian, walaupun sebetulnya dia kurang begitu paham kado apa yang pantas untuk adik Aruna tersebut.
Lima belas menit bersiap, William berpamitan pada istrinya. Dia mengecup kening Aruna dan mengatakan jika dia tidak akan lama, agar istrinya tidak terlalu jenuh di rumah dan dia akan segera kembali pulang.
“Aku akan kembali pulang sayang kamu jangan khawatir.” Aruna mengangguk dia membalas kecupan William padanya.
“Kamu hati-hati, ingat matanya jangan pernah nakal!” William selalu tergelak tawa saat istrinya setiap hari selalu mengingatkan itu, bagaimana bisa dia melakukan itu sedangkan menurutnya hanya Aruna saat ini yang hebat di atas ranjang.
“Tidak ada wanita yang hebat di atas ranjang selain kamu Aruna. Percayalah.” Aruna tersenyum, wajahnya memerah karena selalu dipuji hebat oleh suaminya, memang dia selalu menuruti apa yang diinginkan oleh suaminya selama ini.
Setelah suaminya pergi, Aruna langsung bergelut di dapur membuat aneka kue dan masakan sederhana untuk adiknya saat nanti mereka berkunjung.
Satu jam berlalu ponselnya berdering saat Aruna sedang membaca novel favoritnya. Dia langsung menjawab panggilan Karin.
“Iya Karin.”
“Kakak di mana? Aku sudah di halaman depan rumah kakak, tolong buka pintu gerbangnya.”
“Kamu sudah sampai?”
“Iya Kak.” Aruna memang selalu menutup kembali gerbang rumahnya karena sudah biasa berjaga saat sendiri.
Dia langsung membuka pintu rumahnya dan melangkah ke halaman rumahnya untuk membuka pagar rumah tersebut, namun saat dia membuka gerbang tersebut dia terkejut melihat adiknya dengan seseorang yang sudah lama tidak dia lihat.
“Jones!”
Hati Aruna bergemuruh, saat kembali melihat Jones, namun satu patah kata pun tidak lolos dari bibirnya, mulutnya seketika membeku seiring dengan hatinya yang bergejolak. Satu tahun sudah dia tidak lagi melihat pria itu.
“Kak Aruna!”
Karin langsung berhamburan memeluk kakaknya itu, meski banyak pertanyaan yang mengusik hati Aruna saat ini, dia masih bisa bersikap tenang dan membalas pelukan adiknya, saat berpelukan dia menatap lekat Jones, yang terlihat sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Aku kangen banget Kak, kita sudah lama tidak ketemu,” ucap Karin terdengar senang, wanita itu melepaskan pelukannya kemudian menatap kakaknya yang mempunyai tubuh tinggi bak model.
“Kakak semakin cantik saja.”
Aruna tersenyum kecil, mencoba menetralkan hatinya yang bergemuruh kemudian menatap tubuh Karin dari atas sampai bawah, dalam hatinya dia tidak menyangka adiknya begitu cantik setelah lima tahun lamanya dia tidak melihat.
“Kakak juga tidak menyangka jika kamu ternyata sudah dewasa dan sudah menikah, maaf kakak tidak sempat ke Jakarta, saat itu William sibuk dan tidak bisa meninggalkan kantor,” kata Aruna beralasan. Padahal William suaminya melarangnya, untuk tidak usah menghadiri pesta itu. Karena dia tidak ingin Aruna bersedih.
“Oya Kak aku hampir lupa, ini Jones suamiku,” kata Karin memperkenalkan Jones pada kakaknya. Padahal jauh sebelum Karin mengenal Jones, Aruna lebih dulu mengenal pria itu.
Aruna memaksakan senyumnya, dan membalas jabatan tangan Jones, karena pria itu mengulurkan tangannya.
“Aruna,” ucap Aruna singkat.
Aruna langsung membawa tamunya masuk ke dalam rumahnya, Karin sampai takjub melihat rumah Aruna dan isinya dia pun penasaran dengan suaminya Aruna yang bernama William tersebut.
“Wah...Kak Aruna rumahnya unik banget sih, aku kayanya betah di sini dari pada di hotel nanti,” ucap Karin berdecak kagum melihat seluruh ruangan rumahnya.
“Semua yang design William, kakak tidak begitu paham,” kata Aruna mempersilahkan keduanya duduk di sofa empuk yang menghadap langsung ke kolam renang dengan pemandangan pepohonan hijau. Sementara Aruna sendiri langsung mengambil minuman dan kue untuk mereka ke dapur. Aruna menghela napas sambil sedikit melirik sebentar pada Jones yang terlihat sedang berdiri mengamati pemandangan dan menaruh tangannya di dada.
Aruna membuat orange juice segar untuk keduanya, namun saat dia hendak menaruh batu es ke dalam gelas satu persatu dia terkejut dengan pria yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya.
“Aku jadi penasaran suamimu, pria yang sudah mampu meluluhkan hatimu.”
“Dia pria baik, tidak sepertimu pengecut,”ucap Aruna dingin. Dia sudah selesai membuat juice hendak membawa minuman dan kue tersebut namun Jones mencekal tangannya.
“Jones! Please jangan buat aku marah!”
Jones tersenyum tipis kemudian Mendekati Aruna. “Aku memang sudah lama merindukan itu Aruna, dua tahun aku tidak lagi melihat kamu marah bahkan merajuk padaku.”
“Kamu gila!”
Aruna langsung meninggalkan Jones di dapur kemudian menemui adiknya, entah misi apa yang Jones akan rencanakan kenapa dia bisa menikahi adiknya Karin.
“Minumlah Karin, kakak tadi sempatkan bikin kue.”
“Wah kakak istri hebat! Pintar dalam segala hal, suami Kakak beruntung bisa mendapatkan Kak Aruna."
“Suamimu mana?”tanya Aruna, sengaja dia bertanya demikian karena takut apa yang keduanya katakan tadi terdengar.
“Dia katanya ke toilet, kebelet pipis.” Aruna manggut-manggut, entah dia juga bingung apa lagi yang harus dia tanyakan apalagi saat Jones sudah duduk kembali di hadapannya.
Dengan rasa tidak malu, Karin memeluk Jones dan sedikit merajuk pada suaminya.
“Jones, aku betah tinggal di Bali, sepertinya akan menyenangkan dari pada tinggal di Jakarta.”
“Memang kamu ingin tinggal di sini, aku bisa saja mewujudkannya Karin. Itu hal kecil bagiku.” Jones langsung mengedipkan sebelah matanya pada Aruna membuat hati Aruna menciut.
Gila! Ide gila Aruna pikir jika Jones dan Karin malah ingin tinggal di Bali.
Aruna membiarkan keduanya beristirahat, sementara dirinya menyiapkan makan siang untuk mereka berempat nanti, tadi William sudah mengabarkan jika pekerjaannya sudah selesai dan dirinya akan segera pulang.
Tiga puluh menit berlalu, saat Aruna selesai menyiapkan makanan untuk makan siang bersama Karin, terdengar bunyi klakson mobil yang Aruna yakini itu mobil suaminya, Aruna langsung tersenyum, dia keluar menemui suaminya, seperti biasa menyambut kepulangannya.
“Bagaimana sayang sudah selesai?”kata Aruna sambil mengambil tas kerja William kemudian mengecupnya lama, entah kenapa rasanya ingin sekali dirinya terlihat mesra dengan suaminya di hadapan Jones.
“Sudah, hanya tanda tangan lalu mengobrol sebentar dengan Nicolas, setelah itu pulang. Bagaimana adikmu mereka sudah sampai?”tanya William sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah, dari dalam ruangan dua pasang mata mengamati keduanya, terutama Jones, pria itu bergemuruh saat melihat Aruna dan suaminya terlihat mesra dan harmonis.
“Sudah Will, mereka sudah ada di dalam,” kata Aruna memaksakan senyumnya. Padahal entah kenapa dirinya merasa tidak karuan karena menyadari jika Jones adalah tamunya.
“Aku juga sudah membeli kado untuk mereka.”
“Mana?”tanya Aruna karena dia tidak melihat suaminya itu membawa kotak atau paperbag.
“Nanti kita kasih ke mereka.”
William masuk, kemudian tersenyum saat melihat Karin dan Jones dia langsung menjabat tangannya pada Jones dan adik Aruna. William tidak menyangka jika ternyata Aruna memiliki adik yang begitu cantik walau keduanya William pikir jauh berbeda, Aruna tinggi bak model namun Karin terlihat kecil mungil memiliki tubuh ramping. Dari raut wajahnya keduanya tampak tidak mirip seperti bukan kakak adik.
“Pasti suami Kak Aruna,” ucap Karin terlihat antusias saat bertemu dengan suami Aruna. Dia sudah membayangkan sedari tadi jika suami Aruna sekeren ini, namun nyatanya lebih keren dari yang dia bayangkan. William langsung mengangguk kemudian duduk di hadapan keduanya, Aruna pun ikut duduk di samping suaminya.
Jones dari tadi hanya diam, entah kenapa tatapannya terpaku pada Aruna, sesekali matanya mengamati William yang sedang membicarakan aktivitasnya hari ini. Dia cemburu dengan kenyataan melihat Aruna ternyata lebih bahagia setelah menjauh darinya.
“Aku hampir lupa sesuatu, Aruna tadi pagi memesan untuk dibelikan kado, dan saya pun tidak begitu paham kado apa yang pantas untuk kalian."
William mengambil dompetnya, kemudian memberikan selembar kertas Check in hotel untuk keduanya.
Karin langsung melotot dan mengambil kertas tersebut dengan sangat antusias.
“Bulgari Hotel?” William mengangguk.
“Jones kamu tahu kan ini tempat yang pernah aku perlihatkan Padamu. Tempat ini tidak murah loh Kak Aruna,”Karin merasa senang mendapatkan hadiah spesial dari Kakak iparnya tersebut. sepertinya impiannya terwujud pergi dan menikmati tempat yang menarik di Bali dengan suaminya.
“Ya cocok lah untuk kalian bulan madu,” timpal Aruna, dia melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya, agar kemesraan keduanya terlihat.
“Tapi tidak seru juga jika kalian tidak ikut gabung,” ucap Jones tiba-tiba.
“Aku pikir bagaimana, jika nanti malam kita having fun di sana,” ajak Jones pada keduanya.
“Tapi kami ada dinner berdua malam ini, apa kalian juga mau ikut, kita mau ke klub malam paling terkenal di Bali,” ucap William terlihat lebih antusias.
Aruna langsung melongo, dia jelas tidak setuju jika kedua makhluk ini ikut bersamanya. Rasanya dia ingin secepatnya keduanya enyah dari rumahnya.
“Aku setuju, sudah lama aku tidak minum,” kata Karin tiba-tiba. William pun langsung mendapat jawaban jika Karin suka minum alkohol.
“Oke siapa takut!” Jawab Jones, membuat Aruna mendesah pelan. Jika William tahu siapa Jones, mungkin pria itu akan membunuhnya saat itu juga.
Setelah obrolan mereka selesai, mereka langsung makan siang, dan merencanakan untuk nanti malam, entah kenapa Jones jadi terlihat lebih bersemangat dengan William, sementara Aruna hanya menikmati makanannya saja tanpa berkomentar sedikit pun. Saat selesai makan Aruna masuk ke dalam kamarnya sambil memeijit pelipisnya dia duduk di tepi ranjang.
“Hai kenapa sayang kok kelihatan bengong sih,” tanya William saat pria itu masuk ke dalam kamarnya, William langsung mendekati Aruna kemudian menegcup pelan bibirnya.
“Aku sedikit lelah,” kata Aruna berdusta. William tersenyum langsung duduk di samping istrinya.
“Kamu tahu, aku selalu bilang lelahku dan lelahmu akan berkurang jika kita melakukannya.”
“Will! Ada tamu, kamu jangan gila!”
“Dia adikmu, mereka juga sama sedang beristirahat mungkin mereka pun melakukan hal yang sama seperti kita, tidak biasanya kamu menolak suamimu sendiri Aruna.” William memang benar, entah kenapa hanya ada Jones datang kembali, dia bersikap begini pada suaminya sendiri. Padahal dia belum pernah menolak William meskipun tubuhnya merasa letih. Tidak ingin membuat suaminya curiga saat itu juga Aruna mengalungkan tangannya pada leher suaminya, lalu menariknya dalam Ranjang King size miliknya, saat keduanya bercumbu, bayangan masa lalu Aruna tiba-tiba muncul begitu saja dalam benaknya hingga Aruna menjerit membuat karin juga Jones yang sedang di dalam kamar sebelah terkejut.
Apa yang terjadi pada masa lalu Aruna ?
Satu tahun Aruna berhasil melupakan masa lalu dirinya yang kelam, namun hari ini sejak dirinya kembali bertemu Jones , seolah trauma itu muncul kembali. Bayangan kelam yang menimpa Aruna seakan membuat luka lama tertoreh kembali.
“Sayang kenapa? Apa yang terjadi!”
“Maafkan aku Will, bayangan bajingan itu muncul kembali, “ucap Aruna lirih menunduk sambil terisak. William langsung menangkup tubuh istrinya kemudian menutup tubuhnya dengan selimut, sungguh dia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah dia berusaha mati-matian untuk menyembuhkan trauma itu satu tahun ini, namun kali ini istrinya seakan kembali seperti dulu.
“Kamu tatap mata aku, relaksasi pikiranmu, tarik napas dalam-dalam lalu buang,” ucap William dengan penuh perhatian pada istrinya. Dan Aruna pun mengikuti instruksi suaminya tersebut. Dari dalam kamar Karin langsung menggedor pintu kamar Aruna, dia tidak tahu apa yang terjadi pada keduanya.
“Kak, apa yang terjadi?”
“Ti-tidak Karin, kakak tidak apa-apa.”
“Aku ambilkan minum dulu,” ucap William.
Aruna mencekal tangan suaminya, meminta maaf sekali lagi.
“Hai sayang, jangan merasa bersalah aku paham kok,” ucap William selalu memahami kondisi istrinya, sebab jika traumanya tidak muncul kembali Aruna selalu membuat dirinya puas.
Aruna menatap punggung suaminya keluar dari kamarnya, sungguh dia sangat merasa bersalah jika begini.
“Will, apa yang terjadi dengan Aruna, kenapa dia,” tanya Kirana saat dia sama berada di dapur untuk mengambil air minum.
“Dia sedikit sakit, tapi tidak apa-apa istirahat lah, aku dan Aruna mau tidur siang.”
“Ta-tapi.” Karin memegang tangan William, dan pria itu pun menatap tangan Karin yang memegangnya, dengan cepat Karin melepaskan tangan tersebut.
“Aku-sedikit khawatir dia berteriak seperti itu.”
“Tidak apa-apa,” kata William mencoba tersenyum. Karin menghela napasnya saat pria itu langsung meninggalkannya. Sementara sambil berjalan William teringat masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan Aruna. Saat itu Aruna seperti orang yang terlihat ketakutan entah apa yang terjadi dengan dirinya dia bertemu dengan Aruna di sebuah klub malam cukup terkenal di Jakarta, setelah minum dengan kliennya untuk membicarakan bisnis. Karena Iba William membawanya ke apartemen miliknya. Dan dia menggantikan pakaian Aruna yang sudah robek tersebut dari situlah tumbuh cinta di antara keduanya, William pun tidak menyangka jika dia langsung jatuh hati setelah pertemuan kedua mereka. Karena usianya tidak muda lagi William langsung menikahi gadis tersebut. Pernikahan keduanya tidak lantas di restui oleh keluarga besar Aruna. Namun tetap berlangsung karena beberapa persyaratan yang keluarganya ajukan. Hingga dengan tekad bulat William membawa Aruna untuk menetap di Bali dan menyembuhkan istrinya. William sudah tahu bagaimana masa lalu Aruna namun wanita itu enggan menceritakan siapa yang membuat masa depannya hampir hancur. Itulah kenapa alasan William tidak lagi mengizinkan Aruna kembali bekerja setelah menikah.
“Kalau kamu sakit, kita tidak usah ke klub dan bersenang-senang di Bulgari hotel,” ucap William saat kembali dengan membawa air putih di tangannya, tentu saja Aruna langsung menggeleng, dia tidak mau merusak acara yang sudah di rancang sejak dari tadi, dia harus berusaha sembuh meski terkadang bayangan itu sesekali kembali muncul dalam ingatannya.
“Aku tidak apa-apa Will, please jangan merusak acara yang sudah kita rancang, aku tidak enak pada Karin dia begitu antusias mendapatkan kado darimu.”
“Tapi kamu yakin tetap akan keluar rumah sayang, aku jadi khawatir?”
Aruna tersenyum kemudian menggenggam tangan suaminya.
“Aku tidak apa-apa, asalkan selalu bersama kamu.” William mengecup kening Aruna lama, dia kemudian ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk istrinya keduanya pun tidur siang.
Karin sedikit heran dengan sikap suaminya, dia tidak biasanya diam terus seolah tidak menikmati liburannya.
“Kenapa aku lihat kamu tidak bersemangat? Apa aku salah karena membawamu ke sini, bukan langsung ke hotel? “tanya Karin sambil menghampiri suaminya setelah dirinya mengambil air putih di dapur, Jones langsung menarik istrinya ke dalam kurungannya dan mendudukkan Karin di atas tubuhnya, Karin tersenyum berharap kali ini dirinya berhasil membawa Jones ke pusaran gairah.
“Ah tidak Karin, aku merasa lelah saja, mungkin aku sedikit cape dan ingin beristirahat.”
Ucapan itu membuat Karin sedikit mendesah kesal pada suaminya, harus dengan cara apa agar Jones sedikit luluh pada dirinya, sejak menikah Jones belum pernah menyetubuhinya, dia hanya bermain-main dengan jari dan bibirnya saja. Jika begini kapan dirinya akan hamil!
Aruna memoles wajahnya flowles, dia sudah mengenakan dres merah maron selutut, terlihat memesona karena dibalut dengan kalung berlian yang suaminya berikan. Rambutnya digerai cruly menambah kesan anggun pada wanita tersebut. William yang sedari tadi menatap dari belakang Aruna tak henti-hentinya tersenyum, rasanya dia ingin menyesap bibir istrinya yang sudah merah merona itu.
“Sayang kamu begitu menggoda, aku sudah tidak tahan, ingin rasanya kita di kamar ini saja menghabiskan malam minggu di sini.”
“Kamu ngaco Will, Karin bisa marah,” kata Aruna sambil tersenyum dia merapikan sekali lagi rambutnya setelah itu menghadap pada suaminya.
“Bagaimana penampilanku? Tanya Aruna meminta pendapat pada suaminya.
“Harusnya tidak begini, ini hanya membuat mata orang-orang menatap wajah cantik istriku, rasanya tidak rela,” kata William sedikit merajuk.
“Kamu lucu Will, aku akan mempermalukan kamu, jika penampilanku tidak sempurna, istri direktur namun kucel aku tidak mau.” Aruna sedikit tertawa.
“Oke-oke baiklah, kali ini kamu menang, aku biarkan malam ini kamu bebas, agar hatimu juga ikut senang,” kata William akhirnya, agar istrinya tidak teringat masa lalunya, malam ini dia membebaskan istrinya, dia akan menuruti apa yang diinginkan istrinya.
Keduanya akhirnya keluar kamar, bukan hanya Karin yang terlihat terpukau dengan penampilan Aruna tapi juga Jones, pria itu makin merasa iri dengan pasangan Aruna dan William mereka tampak terlihat serasi.
“Sepertinya sudah pada siap, yuk!” Kata William, mengajak pasangan Karin dan Jones. Karin menggenggam tangan suaminya mengikuti langkah Aruna dan William masuk ke dalam mobil Alphard milik William. Mereka langsung melesat ke klub malam.
~Boshe VVIP Club Bali~
Sebuah Bar karaoke dengan teknologi cahaya dan suara yang termodern menciptakan suasana wow saat mengunjunginya.
Suara riuh para wanita dan pria yang sedang menari dengan dipimpin DJ kelas atas sungguh memekakkan telinga Karin, juga Aruna. Namun bagi Jones dan William hal ini sudah biasa.
Untuk sesaat Karin bertukar kaget melihat geliat kehidupan manusia malam, ada perempuan dan laki-laki yang mencolok bercumbu di hadapannya. Ini gila menurutnya namun dia paham bagaimana kehidupan malam.
Wiliam langsung menuju ke pelayan menunjukkan di mana tempat yang dia pesan beberapa jam yang lalu, pelayan langsung menggiring ke sebuah ruang VVIP yang William pesan. Tidak ada lampu terang di dalamnya, hanya ada lampu sorot warna-warni yang menembak ke sana kemari sebuah lampu disko berputar di tengah ruangan dan musik pun terdengar sangat keras.
Bar tender langsung meracik beberapa minuman yang William pesan, lalu menyuguhkan pada mereka. Beberapa kali Karin melempar pandang ke arah sofa, di sana penuh dengan sepasang muda-mudi tampak mereka sedang terbahak-bahak entah apa yang ditertawakan. Para pelayan hilir mudik membawa nampan berukuran besar, sementara bau minuman, asap rokok, dan parfum segala rupa bercampur membentuk atmosfer.
William langsung mengajak bersulang, untuk sementara, mereka lupa apa yang membebani pikiran mereka masing-masing dan menikmati hingar bingar klub malam.
Malam semakin larut, suasana klub malam sempurna tampak semakin ramai. William langsung mengajak Aruna turun dari tempat duduknya mereka menari saling berhadapan. Beberapa saat keduanya saling berangkulan dan ketika musik semakin mengeras, gerakan mereka pun saling menghayati. Karin menyusul dan ikut menari bersama Jones sambil membawa gelas berisi minuman semua hanya berjarak dua sampai tiga meter saja. Pukul dua dini hari mereka masih kuat di klub tersebut namun kesadaran Mereka masih penuh hanya saja Karin pada saat itu yang sudah lima puluh persen tingkat kesadarannya.
“Bagaimana kalau kita main Truth or Dare seperti kebanyakan pasangan,” kata Aruna tiba-tiba niatnya dia ingin menunjukkan kemesraan dengan suaminya di hadapan Jones, namun pria itu malah langsung antusias.
“Ayo siapa takut!” Jones tersenyum menyeringai pada Aruna dan William pun mengangguk setuju.
“Aku ikut saja, “kata Karin sambil memijit pelipisnya.
Permainan melibatkan pilihan bagi kedua pasangan tersebut,
Jika memilih Truth maka pasangan harus jujur dengan menjawab pertanyaan yang di berikan lawan mainnya, sedangkan jika Dare keduanya harus melakukan tantangan atau tindakan yang membutuhkan keberanian.
Satu buah botol bir yang sudah kosong mereka putar, jika berhenti di hadapannya, berarti dia yang harus memilih Truth atau Dare dan pertanyaan akan diajukan oleh lawan mainnya. Permainan pun di mulai William langsung bersorak dengan Jones untuk menambah keseruan mereka dalam bermain, Aruna langsung memutar botol tersebut dengan kencang dan mereka pun harap-harap cemas, botol tersebut langsung berputar dan berhenti tepat di hadapan Karin.
“Truth or Dare,” tanya Aruna. Baik Karin dan Jones berpandangan sambil tersenyum, William pun ikut antusias dan sesekali meneguk minumannya.
“Aku pilih Truth!” Jawab Karin, sambil sedikit terhuyung.
Muncul pertanyaan dari mulut William tiba-tiba entah kenapa dia penasaran dengan cara mereka bermain adegan ranjang.
“Kapan pertama kalinya, kalian melakukan hubungan badan.”
Jones langsung menjawab pertanyaan konyol William namun matanya menatap penuh pada Aruna.
“Sebelum menikah saya pernah melakukannya dengan wanita lain.” Karin yang sudah mabuk berat hanya tersenyum kecut lalu mengatakan sesuatu yang membuatnya semuanya terkejut,
“Aku masih perawan Jones belum pernah menyentuhku!” Jawaban jujur Karin itu langsung membuat gelak tawa, mereka tahu jika Karin memang sudah mabuk berat, padahal pernyataan Karin benar adanya. Bukankah orang mabuk akan mengatakan jujur?
Botol diputar kembali, kali ini Jones memutar dengan sangat cepat dan berhenti tepat di hadapan William, sontak William tertawa entah kesadarannya pun tampak sudah berkurang, sementara Aruna sendiri sudah meringkuk lemah dengan minuman alkohol yang suaminya terus tuangkan ke gelas miliknya.
“Truth or Dare!”
“Dare!”ucap William tak bertanya lagi pada istrinya karena Aruna sudah mabuk berat. Jones tersenyum dia langsung berpikir memberikan tantangan terkonyol untuk William.
“Ciumlah lawan pasangan kamu, jika dia tidak berontak tidurlah dengannya.” William langsung terbatuk dia tertawa dibuatnya. Kesadarannya semakin berkurang namun dia langsung mengangguk dengan tantangan yang Jones berikan.
“Aku tidak takut dengan tantangan itu! Jika dia hanya menamparku itu tidak berasa! Ucapnya tertawa lepas.
Jones tersenyum miring, dia langsung menaruh sesuatu pada minuman istrinya dan William. Sesaat William meminumnya hingga tandas begitu pun Karin yang selalu langsung di cekoki ulah suaminya. Jones langsung menyuruh dua pelayan yang kebetulan sedang melewati mejanya, untuk membopong kedua pasangan itu ke dalam mobil, sementara Jones sendiri membopong Aruna.
“Terima kasih Mas,” ucap Jones, dia memberikan empat lembar pecahan seratus ribu pada pelayan yang membantunya. Jones menutup pintu mobilnya, tersenyum menyeringai menatap William, Aruna dan Karin terkapar, Jones kemudian melesatkan mobilnya menuju Bulgari hotel, dia yakin pengaruh dari obat tersebut tidak akan lama lagi akan bereaksi. Dia ingin tahu bagaimana kehebatan William dalam menggagahi istrinya, dan dia juga ingin tahu bagaimana reaksi Aruna saat melihat suaminya sendiri bercinta dengan adiknya. Sungguh Jones sudah tidak sabar melihat drama keluarga Brata setelah ini.