Bab 1

Hanya terdengar suara detakan jam di tengah malam yang begitu sunyi. Jarum jam masih menunjukkan angka satu dini hari, di mana sebagian besar orang-orang sedang lelap-lelapnya di dalam dunia mimpi.

Hal itu tak terkecuali dengan salah satu pemilik kamar di sebuah kediaman. Ia tampak masih tertidur lelap dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya, melindungi pori-pori kulitnya dari udara malam yang semakin dingin walau jendela kamar dan juga pintu balkon sudah ditutup rapat.

Kedua matanya perlahan mengerjap pelan saat merasa ada sesuatu yang membuat tempat tidurnya bergerak. Sebelum ia benar-benar membuka mata, sebuah tangan terasa melingkari perutnya.

Key seketika membuka matanya lebar saat ia mendapati seorang pria yang entah sejak kapan sudah tertidur bersamanya di sana. Dadanya terasa bergemuruh, bersamaan dengan hembusan napas yang menerpa permukaan wajahnya dengan lembut.

"Ra-Rav .... " Gadis itu mendadak gugup, sementara pria di depannya malah semakin mengeratkan tangannya di pinggang milik Key, menarik tubuh gadis itu agar semakin menempel dengannya. Tak peduli bagaimana reaksi Key saat ini yang mati-matian menahan napasnya karena terlalu gugup. Ravano selalu bergerak tiba-tiba, seperti biasanya.

"Tidur, Key," lirih Ravano dengan suara yang serak. Bahkan kedua matanya tak terbuka sama sekali, tapi pria itu seolah menyadari kalau dirinya memang sedang ditatap oleh seseorang.

"Sejak kapan lo di sini, Rav? Kalo sampe ketahuan mama sama papa." Key merengek, setengah berbisik seraya berusaha melepaskan diri dari kungkungan Ravano tapi yang selanjutnya terjadi semakin membuatnya kehilangan akal sehat.

Ravano secara tiba-tiba membuka kedua matanya dan pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada Key. "Gue bilang tidur, Key," tegasnya dengan kedua mata yang menatap dalam ke arah mata milik gadis di depannya.

"Tapi, lo—"

Ravano tak membiarkan Key melanjutkan kalimatnya dan pria itu mengecup pelan bibir yang terus menyita perhatiannya.

"Mama sama papa kan lagi tidur. Jadi, semuanya aman. Irina juga lagi tidur kok." Ravano menunjukkan seulas senyuman tipis dan semakin mendekap Key erat, tanpa tahu kalau gadis itu sedang berusaha mengatur degup jantungnya yang semakin menjadi-jadi.

"Dingin, Key." Setelah menaikkan selimut, Ravano berangsur bergerak ke ceruk leher Key dan membiarkan wajahnya di sana seraya menikmati bau feromon khas milik gadis itu.

Key menelan ludahnya berkali-kali. Walau sudah sering begini, tapi sikap Ravano tetap saja selalu membuatnya sukses tak bisa berpikir dengan jernih. Pada akhirnya, Key menyerah dan ia memilih balas mendekap Ravano.

Berkali-kali ia berpikir kalau semua yang mereka berdua lakukan itu adalah salah, tapi ia juga tak bisa mengalah begitu saja hingga kembali jatuh ke dalam perangkap yang sama, apalagi Ravano yang berkata padanya secara terang-terangan kalau ia tak akan menyerah apapun yang terjadi dan tak peduli keadaannya seperti apa.

Di siang hari, mereka bersikap biasa layaknya saudara terutama saat di sekolah dan juga di rumah tepatnya ketika orang tua mereka ada. Namun akan berbeda jika semua orang sudah tertidur, berpetualang di dalam mimpi.

*

Seorang gadis menengadahkan kepalanya menatap tulisan besar yang terpampang jelas di depan kedua matanya. Mengabaikan rambutnya yang mulai basah karena jutaan rintik hujan.

SMA PELITA

"Mau sampe kapan lo natap tulisan di gerbang?" Seseorang berujar.

Sesuatu menghalangi pandangan gadis itu. Dia menoleh.

"Lo murid baru?" Seorang siswa laki-laki yang tubuhnya lebih tinggi darinya itu berucap lagi. Dengan kedua tangannya yang masih memegang sesuatu, menutupi kepala gadis itu dari hujan, mengabaikan dirinya sendiri.

"Kenapa lo natap gue begitu? Ini bukan pertemuan pertama lo sama gue, 'kan?" Lelaki itu berujar kembali dengan salah satu

Gadis itu masih terdiam menatapnya.

Namanya Leandre Keanna Eirene. Sering dipanggil Key oleh teman-temannya.

"Key!"

Selang beberapa detik kemudian gadis itu mengerjapkan matanya. "Eh? S-sori."

"Ini masih pagi dan lo udah bertingkah aneh. Mikirin apa, hm?"

Gadis yang dipanggilnya Key itu membuang pandangan. Dia segera melangkahkan kedua kakinya, diikuti oleh lelaki itu.

"Jaket lo basah," ucap Key menoleh ke atas kepalanya. "Seragam lo juga."

"Iya, dan itu gara-gara lo." Lelaki itu menurunkan jaketnya begitu mereka berdua sampai di sebuah koridor.

"Gue gak nyuruh lo ngelepas jaket lo, 'kan?" Key menatapnya.

"Dan ngebiarin lo berdiri seharian di depan gerbang sambil hujan-hujanan? Itu yang lo mau? Gue gak mungkin ngelakuin itu, Keanna." Diusapnya pelan puncak kepala Key, membuat gadis itu secara refleks menghindar.

Key membuang napasnya kasar. Kemudian dia mempercepat langkahnya, masih dengan lelaki itu yang mengikutinya di belakang.

"Lo gak nyadar tadi Pak Udin liatin lo? Keliatan tuh. Warna biru, 'kan?" Lelaki itu membuang pandangan, lalu tertawa pelan dengan kedua mata yang masih memandangi penampilan gadis yang berjalan di depannya.

Key melotot. Dia langsung menyilangkan kedua tangannya dan berbalik. "Ravano!"

"Inget, ya. Semua ini gak gratis. Lo harus tanggung jawab karena gara-gara lo, seragam gue jadi ikutan basah." Ravano melingkarkan salah satu tangannya di pinggang ramping Key, bahkan mengusapnya pelan. Hal itu membuat gadis itu melotot karena tindakan Ravano yang terbilang nekat. Ia khawatir jika ada guru atau murid lain yang melihat.

"Rav, ini di sekolah!" Key berusaha memperingatkan. Ia melepaskan tangan Ravano dengan paksa hingga benar-benar terlepas dari tubuhnya. Namun sebelum membiarkan Key pergi, Ravano justru menarik tangan Key hingga gadis itu tertarik ke belakang dan kesempatan itu Ravano gunakan untuk mengecup salah satu permukaan pipi Key.

"Ra-Ravano!!" protes Key dengan wajah yang sudah memerah hingga ke telinga.

Gadis itu buru-buru mengejar Ravano yang sudah lebih dulu berlari menjauhinya. Sementara lelaki itu menoleh padanya dari kejauhan. Dia tersenyum. Ravano Delvin Arion namanya.

Ravano mengedipkan salah satu matanya dari kejauhan, bahkan memberikannya sebuah kiss bye.

"Gue ke kelas duluan!" ucap Ravano sedikit berteriak. Dia juga melambaikan tangan, membuat beberapa siswa yang ada di koridor menoleh ke arahnya.

Key menghentikan pergerakan kakinya. Napasnya sedikit tersengal. Hampir saja, mereka pasti sudah disidang di dalam ruangan BK jika sampai ketahuan. Key semakin tak habis pikir dengan kelakuan Ravano yang semakin hari semakin menjadi. Pernikahan orang tua mereka benar-benar membuat hubungan mereka semakin tak sehat dan itu justru semakin membuatnya terjebak.

Tapi di sisi lain, Key juga merasa senang karena ia bisa bertemu dengan Ravano setiap waktu tanpa harus repot-repot menelepon dan bertukar pesan dengannya. Dan beberapa detik kemudian bibir milik gadis itu membentuk seulas senyuman tipis.

Namun senyuman itu tak bertahan lama karena perlahan menghilang selang beberapa detik setelahnya.

"Ini semua salah, Rav," lirih Key. Ia mengepalkan kedua tangannya. Dengan gontai gadis itu berjalan menaiki satu per satu anak tangga menuju kelasnya. Ia membuang napasnya kasar.

Padahal sebelum semua ini terjadi, ia dan Ravano adalah sepasang anak muda biasa yang saling jatuh cinta. Namun saat tahu kalau ternyata orang tua mereka diam-diam dekat dan bahkan memutuskan untuk menikah, sifat Ravano semakin berubah dan terus menerus membuat Key terjebak di dalam hubungan terlarang tanpa orang tua mereka ketahui.

—bersambung

Bab 2

Derap langkah kaki memenuhi setiap penjuru koridor yang semula sepi. Semua orang berhamburan ke sana kemari karena hujan yang sedari tadi tak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Selain karena bel jam pertama yang baru saja berbunyi, mereka juga ingin cepat-cepat masuk ke dalam kelas.

"Nanti Bu Rima gak masuk. Tugas matematika di buku paket halaman 132 bagian D sama E." Seseorang berujar sembari melihat layar ponselnya. "Ehh ... lo dengerin gue gak?" Dia menyikut gadis di sebelahnya yang sedari tadi menatap ke luar jendela, memperhatikan air hujan yang turun membasahi dedaunan.

Key berkedip dua kali, lalu menoleh. "Hm?"

Temannya menghela napas pelan dan melirik sekilas ke arah papan tulis sebelum akhirnya kembali berucap, "udah ditulis sama ketua kelas," tunjuknya dengan dagu.

Key mengalihkan pandangannya ke sebuah white board di depan sana. "Tugas lagi?" ia berkedip dua kali.

"Ya ... lo sendiri tahu, 'kan? Bu Rima itu lagi hamil jadi ya sering gak masuk." Zaneth Adelia Ivanka, nama gadis itu. Dia kembali menghela napas. "Lagian kenapa gak sekalian ngambil cuti aja sih? Kan bisa diganti sama guru yang lain."

Key hanya tersenyum tipis menanggapinya, merasa sudah biasa dengan tingkah Adel yang selalu seperti itu jika sudah ada tugas dari Bu Rima. "Gue mau ke perpus, mau ngerjain di sana. Lo mau ikut gak? Sekalian nyari buku buat tugas. Lo tahu sendiri kan tugasnya Bu Rima itu kayak gimana."

"Iya, gue ikut." Adel segera mengikuti langkah Key yang telah berjalan mendahuluinya. Tidak lupa dia membawa beberapa alat tulis miliknya.

Mereka berdua akhirnya berjalan menyusuri koridor menuju perpustakaan.

"Hujannya belom berhenti," ucap Adel yang menatap keadaan langit di atas sana.

Sementara Key tidak menggubrisnya, gadis itu kini menghentikan langkahnya hingga membuat Adel berjalan mendahuluinya tanpa gadis itu sadari. Membiarkan gadis berambut ikal itu mengoceh sendiri.

Key mengangkat salah satu tangan dan membiarkan tetesan air itu membasahinya.

'Gue gak benci hujan, tapi kadang hujan bisa bikin semua luka yang ada jadi kenangan yang gak bisa dilupakan.'

Sekelebat bayangan masa lalu menghampiri pikirannya, membuat seulas senyuman terukir di bibir tipisnya.

Dia lalu menurunkan tangannya sebelum fokusnya teralih pada sebuah objek yang ada di depan sana.

Pandangan mereka bertemu dalam sendu.

Di salah satu koridor yang berseberangan dengannya, dengan lapangan basket sebagai sekat pemisahnya, seseorang terlihat menatap ke arahnya dengan tatapan yang- cukup membuatnya sesak.

"Sederas apa pun hujan turun, hujan tetaplah air yang akan selalu menghadirkan suatu kenangan," batin Key.

Dia tersenyum. Namun sepersekian detik kemudian, ukiran bulan sabit itu lagi-lagi menghilang dari bibirnya. Keanna pergi. Gadis itu kembali pergi meninggalkannya.

"Rav? Lo kenapa?" Seseorang menepuk bahunya pelan, membuyarkan segala pikirannya. Cowok itu menoleh dan mendapati seorang gadis cantik berambut sebahu dengan bando berwarna merah di rambutnya. Namanya Silvi, salah satu siswi kelas XII sekaligus siswi yang juga masuk dalam kandidat gadis tercantik di sekolahnya.

Ravano tersenyum tipis. "Gue gapapa kok."

"Gue mau ke kantin. Mau bareng gak?" Silvi menatap wajah Ravano.

"Maaf, gue mau ke perpus. Lagian ini belom istirahat. Kenapa gak diem aja di kelas?" Ravano menatap Silvi selama beberapa saat sebelum ia melangkahkan kakinya dan meninggalkan Silvi yang masih berdiri di sana.

Ravano pergi menuju perpustakaan. Tempat yang selalu bisa membuat hatinya menghangat, membawa dirinya ke dalam sejuta kenangan bersama seseorang bernama Keanna, tak peduli seperti apa sikap gadis itu sekarang.

***

"Ini baru hari Senin dan lo udah bikin basah baju lo," ucap Adel yang diam-diam memperhatikan Key yang sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya. "Mentang-mentang gak upacara," lanjutnya.

"Hehe. Ya abis gimana dong. Gue kan gak bawa baju ganti."

Adel hanya menghela napasnya pelan. "Ya suruh siapa lo hujan-hujanan? Balik aja deh ke kelas. Gue gak mau liat lo demam ntar. Di perpus kan ada AC, lo bisa tambah kedinginan," ujarnya dengan raut wajah cemas.

"Gue gak apa-apa kok, Del. Nanti juga baju gue kering. Tapi ya ... dingin sih. Hehe."

"Salah lo sendiri! Lagian lo aneh sih. Udah tau hujan. Ravano bilang ke gue kalo akhir-akhir ini dia sering ngeliat lo berdiri di depan gerbang sambil liatin nama sekolah yang ada di situ. Kenapa sih? Lo ada masalah?"

"Hah? Ravano?" Key sontak menoleh ke arah Adel.

"Iya, Ravano."

Key memutar kedua matanya. "Dasar ember."

"Lagian lo ngapain berdiri di sana? Nyari perhatiannya Pak Udin?"

"Mendingan gue gak sekolah," ucap Key tanpa mengubah posisinya.

Adel tertawa pelan. "Terus lo ngapain?"

Key terdiam. Melihat itu, Adel hanya mengembuskan napasnya. "Oke, oke. Gue gak maksa lo buat jawab kok."

Key dan Adel memilih meja yang di dekat jendela, seperti biasanya. Mereka berdua kini telah sibuk dengan alat tulis mereka.

"Niat banget Bu Rima nyiksa muridnya," ucap Adel. Key menoleh sekilas, ia sangat tahu kalau sahabatnya itu sangat membenci mata pelajaran bernama matematika. Hal itu membuatnya tertawa pelan.

"Gak usah banyak protes, kerjain aja."

"Tapi ... "

Adel menghela napas, kedua pipinya menggembung. "Iya deh."

Key tersenyum. "Gue mau nyari buku lagi. Kayaknya di buku ini penjelasannya terlalu ribet." Dia beranjak dari tempatnya dan berjalan menjauhi meja sesaat setelah Adel menganggukkan kepala.

Key berjalan menyusuri setiap rak-rak buku besar yang ada di sana, mengamati dengan detail setiap buku paket matematika yang tersusun dengan rapi. Gadis itu berjinjit, mencoba meraih salah satu buku di bagian yang paling atas.

"Lo kapan tingginya sih?" Sebuah tangan tampak mengambil buku itu. Membuat Key membalikkan badannya dan mendapati Ravano yang berdiri tepat di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat.

Key berniat mengambil buku yang ada di tangan Ravano tapi pria itu malah sengaja meninggikan tangannya hingga Key tak bisa meraihnya.

"Enggak gratis," ujar Ravano pelan, namun penuh penekanan.

Key melirik ke sekitarnya sejenak dan ia menatap ke arah Adel yang masih berada di mejanya.

"Rav, lo gila? Ini di perpustakaan, gak usah aneh—"

Ravano meletakkan jari telunjuknya di permukaan bibir Key dan memberi isyarat agar gadis itu diam.

"Gak akan ketahuan kalo lo gak berisik," ujar Ravano seraya mengedipkan sebelah matanya. Perlahan, ibu jarinya turut bergerak ke permukaan bibir Key dan mengelusnya perlahan membuat tubuh gadis itu membeku di sana.

Ravano semakin intens mengusap bibir Key hingga pria itu perlahan mulai mendekatkan wajahnya dan bahkan menarik pelan tengkuk Keanna agar wajah gadis itu semakin mendekat padanya.

Namun di saat bibir mereka hampir bersentuhan, Key dengan segera mendorong tubuh Ravano agar menjauh darinya. Dengan masih mengatur napasnya yang ikut memburu, Key berujar pelan, "Gue harus cepet-cepet kembali atau Adel bakal curiga."

Mendengar itu Ravano menatap seorang murid perempuan yang duduk di meja dekat jendela, kemudian ia menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Ia mengangguk.

"Nih." Ravano memberikan buku di tangannya pada Key.

Key menerima buku yang diberikan oleh Ravano padanya. "Makasih." Ia buru-buru pergi menghampiri Adel kembali dan berusaha bersikap normal seperti biasanya, sementara dalam hati ia masih merutuki kelakuan Ravano. Bisa gawat jika sampai ketahuan oleh penjaga perpustakaan.

"Sibuk, ya?" tanya seseorang. Ia melirik ke arah Adel dan Key yang tengah serius mengerjakan tugas di mejanya.

"Hm."

"Gue ... boleh gabung?"

Key mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Melihat reaksi Key, Ravano secara reflek mengacak pelan rambut gadis itu dengan gemas. Mungkin jika tak ada Adel di sana, ia akan benar-benar memakan habis adik tirinya itu di sana. Kemudian tanpa persetujuan Key, Ravano berjalan menghampiri mejanya dan Adel, membuat Key semakin merasa tak nyaman. Gadis itu bahkan sampai menyesal karena memilih mengerjakan tugas di sana.

"Key, gue gak nger ... ti." Adel menatap Key dan Ravano bergantian.

Ravano hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian menarik salah satu kursi yang berada tepat di sebelah kursi milik Key.

"Mana coba gue liat," ucap Ravano menarik buku milik Adel.

"Gue nanya sama Key!" Adel memelotot dan menarik kembali buku miliknya dari tangan Ravano.

"Yang mana?" Key duduk di kursi miliknya, di antara Adel dan Ravano. Kemudian dia segera menjelaskan bagian yang tidak dimengerti oleh Adel dengan detail.

Tanpa sengaja Key menoleh ke arah Ravano, dan mendapati cowok itu tengah menatapnya sembari menopang dagu. "K-kenapa?"

Ravano tertawa. Dia sangat tahu kalau saat ini Key tengah salah tingkah. Terlihat menggemaskan.

"Gak apa-apa," ucap Ravano tanpa mengubah posisinya. "Lo cantik."

Key tidak bereaksi sama sekali. Gadis itu hanya menatap Ravano dengan ekspresi datar.

"Ekhem!" Adel mencoba mencairkan suasana awkward yang menyelimuti kedua orang itu. "Apa gue boleh pergi?"

Key memelototkan matanya. 'Tugasnya belom selesai! Jangan pergi!' Kurang lebih seperti itulah arti dari tatapan Key.

Adel menghela napasnya, mengerti dengan tatapan sahabatnya itu. "Oke, oke."

Key kembali berfokus pada bukunya. Dia tidak mau berlama-lama berada dalam situasi yang menurutnya canggung bersama Ravano.

— bersambung

Bab 3

Lantunan salah satu lagu milik Ed Sheeran yang sedang dinyanyikan itu pun terhenti. Ravano juga turut menghentikan petikan gitarnya.

"Kenapa berhenti?" Temannya yang berada di sebelahnya itu menatap Ravano bingung.

"Gue lapar. Mau ke kantin bareng gak, Kinn?" tanya Ravano sembari meletakkan gitar yang dipegangnya itu ke atas permukaan meja.

"Dengan senang hati. Gue juga lapar." Temannya itu tertawa pelan dan pergi meninggalkan kelas bersama Ravano.

Namanya Kinn Dhananjaya, teman sebangku Ravano.

"Lo yang bayar kan, Rav?" Kinn menyikut pelan lengan sahabatnya.

Ravano sontak meninju bahu Kinn. "Enak aja lo!"

Kinn tertawa. "Eh, Kak Silvi liatin lo tuh. Dia naksir kali sama lo."

Ravano melirik sejenak ke arah yang Kinn maksud. Seorang siswi yang berada di salah satu sudut koridor itu tengah memperhatikannya dengan senyuman yang sulit diartikan. Sementara teman-temannya yang berada di sana sesekali membisikkan sesuatu padanya hingga gadis itu tersenyum penuh arti.

Ravano menarik salah satu bibirnya dan berkata, "bodo amat. Lebih cantik Keanna!"

Dia kembali membuang pandangannya.

"Sikat aja, Rav. Toh Kak Silvi cantik, kan? Dia yang paling cantik se-kelas dua belas. Eh? Atau se-sekolah?"

Ravano tertawa. "Emangnya lo kira cucian, maen sikat."

Mereka berdua berjalan memasuki kantin yang saat itu sedang cukup ramai.

Kemudian mereka mendekati sang pemilik kantin untuk memesan.

"Oh, Key? Hai." Ravano tersenyum lebar kemudian melambaikan salah satu tangannya begitu dia bertemu Key di sana. Dilihatnya gadis itu juga tengah memesan  bersama Adel yang tak lain adalah sahabatnya. "Lo udah pesen?" tanyanya kemudian.

"Udah barusan," ucap Key singkat tanpa menolehkan kepalanya. Kemudian dia dan Adel berjalan menghampiri salah satu meja yang kosong.

"Baju lo masih basah, Key. Lo gak ngerasa dingin?" tanya Adel.

"Udah lumayan kering kok," jawab Key sembari memperhatikan seragam miliknya. "Lagian tadi gak terlalu basah juga sih." Key membuang napas mengingat Ravano yang rela melepas jaket untuknya. Gadis itu sempat melirik ke arah Ravano yang masih memandanginya, kemudian membuang kembali pandangannya.

"Makanya gak usah hujan-hujanan," timpal seseorang. Kedua gadis itu menoleh.

Ravano duduk di sebelah Key tanpa persetujuan gadis itu. Sementara Kinn duduk di sebelah Adel, sesekali menatap Ravano yang mulai berulah lagi. Jika sudah seperti itu, ia juga tak bisa berbuat banyak walau keduanya adalah sepasang saudara tiri. Toh mereka sedang di sekolah, jadi setidaknya Key masih bisa aman.

"Ngapain lo duduk di sini?" tanya Key dengan kedua alis yang bertaut. Tangannya diam-diam menepis tangan Ravano tanpa pengetahuan Adel.

Ravano menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Gak boleh ya?"

Key tidak menjawabnya dan membuang pandangannya ke arah lain.

Ravano tersenyum simpul. "Ehm ... nanti pulang bareng gue ya?"

"Gue bisa naik angkot."

Ravano terdiam mendengar jawaban Key. Hal yang sudah biasa baginya saat Key menolak tawarannya. Ia sempat menghela napas, lalu kembali berujar, "Sekarang kita serumah loh, Key. Gak baik pulang sendirian pake angkot."

Tak ada jawaban yang dilontarkan oleh Key. Gadis itu memilih memainkan ponselnya dan mengabaikan Ravano yang sudah memainkan ujung-ujung rambutnya dengan jemari tangan.

Tidak lama kemudian seseorang datang membawakan pesanan mereka.

"Makasih, Bi," ucap Ravano.

Adel hanya menatap kedua orang itu dalam diam. Dia paling tidak bisa berkutik ketika Key dan Ravano dalam situasi seperti saat ini. Ia tahu kalau mereka adalah saudara tiri. Tapi entah kenapa Adel merasa kalau sikap Ravano terkadang—

"Heh, Junet! Kenapa lo ngeliatin mereka mulu sih? Cemburu?" Ucapan Kinn sukses membuat Adel memelototkan kedua matanya dan berakhir menabok lengan lelaki itu.

"Ngapain gue cemburu?" Adel memutar kedua matanya. "Mereka kan-"

"Bentar lagi bel, buruan habisin bakso lo, Del." Key dengan cepat memotong ucapan Adel. Sementara sahabatnya itu mendadak gugup dan berdeham tidak jelas.

"Ngomong-ngomong nama gue tuh Zaneth, ya, Kinn! Zaneth!" protes Adel dengan kedua mata yang menatap Kinn tajam.

"Bodoamat." Kinn memakan soto ayam miliknya tanpa mempedulikan ocehan Adel.

Sementara Ravano sesekali melirik Key yang berada di sebelahnya.

*

Key berlari menuju gerbang. Gadis itu melirik ke arah jam tangannya dan membuang napas. Tugas matematika dari Bu Rima memang kelewat kompleks sampai memerlukan waktu dan fokus yang ekstra untuk mengerjakannya. Padahal tadi dia mengerjakan di perpustakaan dengan berbagai macam buku paket. Tapi itu masih tidak cukup dan hanya membuang waktu karena ujung-ujungnya dia mengerjakannya kembali di kelas setelah jam terakhir bersama teman-temannya yang lain.

"Kenapa gak ada taksi lewat sih?" gumamnya. Dia sedikit menyesal tidak menerima tawaran Adel untuk pulang bersama, meskipun arah rumah mereka berlawanan. Baru saja dia hendak melangkah, sebuah motor berhenti tepat di depannya.

"Naik," ucap si pemilik motor sembari membuka kaca helmnya.

"Gue naik taksi," ujar Key usai dirinya berdeham pelan.

"Gue tadi ke kelas lo tapi lo masih ngerjain tugas. Jadi gue nunggu di depan ruang OSIS sampai lo selesai."

"Gue gak pernah nyuruh lo."

Ravano menaikkan kedua bahunya lalu turun dari motornya dan berdiri di sebelah Key.

"Ngapain lo?" Key memandang tajam Ravano di sebelahnya.

"Nemenin lo," ucap Ravano santai. "Mana taksinya?"

Key kembali melirik jam tangannya. "Bentar lagi juga ada yang lewat."

"Oh, ya? Ya udah."

Key menoleh. "Kok lo masih diem? Pulang duluan aja."

"Lo ngusir gue?" ucap Ravano. Ia melipat kedua tangannya di depan dada seraya memutar tubuhnya hingga benar-benar menghadap Key.

"Gue gak ngusir, gue cuma nyuruh lo pulang," tegas gadis itu.

"Sama aja." Ravano menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Besok pagi lo mau berdiri lagi di depan gerbang?" tunjuknya pada gerbang sekolah yang tidak jauh dari mereka.

"Bukan urusan lo."

"Besok gue temenin deh."

Ucapan Ravano membuat Key kembali menoleh padanya. Gadis itu hendak pergi, namun Ravano dengan sigap menahan tangannya.

"Mau ke mana lo?"

"Nyari taksi."

"Lo pulang bareng gue."

"Gak usah," tolak Key sembari berusaha melepaskan tangan Ravano.

"Keanna!" Ravano semakin mencengkeram pergelangan tangan Key semakin kuat.

Key memejamkan kedua matanya rapat. Dia beralih menatap Ravano dengan kedua matanya yang tajam.

"Gue bisa pulang sendiri," tegasnya.

"Tapi mama bisa marah kalo sampai lo pulang sendiri lagi."

"Mama udah nggak ada!"

Ravano terkejut saat melihat mata Key yang berkaca-kaca. Dia pun melonggarkan tangannya, membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya. Tangan Ravano mengepal kuat.

Selalu seperti ini. Key yang sekarang selalu menolaknya, menjauhinya, bahkan mungkin membencinya. Dan Ravano benci karena alasan dari semua itu adalah dirinya.

***

Ravano membuka pintu besar rumahnya. Sesekali dia melirik ke arah gadis yang berjalan di sebelahnya dengan kepala yang menunduk.

"Lo marah?" tanya Ravano. Ia berniat merangkul Key namun gadis itu dengan segera menghindar bahkan menepis tangannya.

"Enggak," jawab Key singkat tanpa menatap Ravano dan berjalan mendahului lelaki itu. Namun saat dia menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, seorang gadis kecil berlari menghampirinya dan langsung memeluknya erat hingga Key hampir saja terjengkang jika dia kehilangan keseimbangannya walau hanya sedikit.

"Yeyyy ... Kakak pulang!" seru gadis yang berusia tujuh tahun itu dengan girang tanpa melepaskan pelukannya. Key sempat menahan napasnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum. Dia mengusap puncak kepala anak itu.

Ravano ikut tersenyum melihatnya. Walaupun senyuman itu bukan untuknya, tapi dia ikut bahagia. Setidaknya dia bisa melihat Key tersenyum begitu tulus pada adiknya.

"Kok tumben pulang telat?" Seorang wanita muncul dari arah yang sama dengan gadis kecil tadi. Salah satu tangannya terlihat membawa sebuah piring yang berisi berbagai macam buah-buahan yang telah dipotong menjadi ukuran kecil. "Kalian pulang bareng, kan?"

Ravano mengangguk ketika sang mama menatapnya. Dia menatap Key.

Senyuman Key memudar. Dia menatap sekilas ke arah wanita itu dan dengan gerakan pelan melepas pelukan Irina, yang tidak lain adalah gadis kecil tadi.

"Ngerjain tugas dulu." Key lalu menatap Irina. "Kakak mau ganti baju dulu," ucapnya lembut dan kembali tersenyum.

Dan Ravano lagi-lagi harus menahan sesak di dadanya. Senyuman itu. Senyuman yang selalu berhasil membuat dunia Ravano runtuh seketika. Ketika senyuman tulus itu hilang, lalu digantikan dengan senyuman yang amat sangat menyakitkan.

Ravano melihat Key yang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Irina sedikit menatap Key kecewa, senyuman anak itu ikut hilang dan mata bulatnya bertemu dengan mata Ravano.

"Kakak lagi marahan, ya?" tanyanya dengan garis lengkungan ke bawah yang tercetak di bibirnya.

Ravano bungkam dan beralih menatap wanita tadi, yang tidak lain adalah mamanya. Wanita itu juga menatap Ravano, kembali menunjukkan senyuman penuh luka. Kemudian Karin berjalan menghampiri Irina yang masih memandangi Key yang sudah naik ke atas.

"Nanti main lagi, sekarang Kak Key mau ganti baju dulu," ucap Karin pada putrinya. "Sekarang makan buah, yuk? Katanya tadi mau buah."

Wajah mendung Irina seketika berubah menjadi kembali cerah. Dia mengangguk, dan langsung menggandeng tangan Karin ke sebuah sofa di depan TV.

Sementara Ravano berjalan menaiki satu per satu anak tangga. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Key. Dengan ragu dia mengetuknya pelan.

"Key," panggilnya.

Tidak ada jawaban.

"Gue tahu lo—"

"Gue lagi ganti baju. Mendingan lo pergi," jawab Key dari dalam.

Ravano mengepalkan tangannya. Dia benci ini. Dia tahu Key berbohong. Dia tahu Key tidak sedang berganti baju. Dia tahu saat ini Key tengah berada di balik pintu kamarnya, terduduk di lantai kamarnya yang dingin sambil memeluk kedua lututnya.

"Key," panggil kembali Ravano dari luar.

"Pergi, Rav!"

Ravano mengusap wajahnya kasar. Tak tahan lagi dengan situasi itu, ia segera merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sana.

Key yang menyadari kalau kunci pintu kamarnya hendak dibuka itu pun segera memasangkan kembali kuncinya namun Ravano lebih cepat dan lelaki itu berhasil menerobos ke dalam kamarnya bahkan mengunci pintunya lagi.

"Dengerin gue dulu, Key. Gue tahu lo masih sulit nerima semua ini. Jujur gue juga sama kayak lo. Tapi pernah gak sih lo berpikir kalau kita berdua juga punya hak buat bahagia, kan? Gak perlu memaksakan diri kalo emang lo gak bisa, karena gue juga sama. Kita bisa ngejalanin semuanya seperti biasa, Key."

"Rav, tapi— kita ini sekarang saudara—"

"Tiri." Ravano menginterupsi, "Kita hanya saudara tiri." Usai mengatakannya, ia segera memeluk Key dengan erat.

Key terdiam setelahnya. Mungkin terdengar salah, tapi pada kenyataannya ia memang masih kesulitan dalam membiasakan diri. Ia selalu berpikir, kalau sejak awal harusnya ia dan Ravano-lah yang berakhir bahagia, bukannya malah orang tua mereka.

Key membuang napas pelan. Tangannya sudah terangkat dan berniat mengusap punggung Ravano tapi justru berakhir dengan meremas seragam lelaki itu saat ia merasa ada benda basah yang bergerak di permukaan lehernya, bergerak sensual hingga menjalar ke telinga.

—Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED