Bab 1

"Mas, kau pulang?"

Satu pertanyaan ringkas terdengar, suara yang serak, lembut, dan halus itu membuat sakit di kepalanya seketika hilang, tapi hanya untuk beberapa detik saja. Ia berpikir ini hanya halusinasinya semata.

Namun, sekali lagi semesta menegaskan bahwa apa yang Rafan dengar tadi bukanlah sebuah ilusi. Tapi memang ada sesuatu yang hidup di dalam kamarnya, di atas ranjang lebih tepatnya. Hal itu ia yakini setelah sepanjang punggungnya merasakan pelukan hangat dan juga desakan tubuh yang semakin mendekat. Semakin lama semakin mendekat dan seperti tengah memaksa untuk ia dekap.

"Kenapa kau diam saja? Peluk aku supaya aku kembali terlelap. Kau tahu aku susah tidur lagi jika ada yang membangunkan. Ini belum pagi, kan?" Yuan meraba-raba mencari tangan Rafan. Setelah mendapatkan tangan itu, segera ia lingkarkan ke pinggang.

Sedikit aneh saat hidung Yuan tertempel di dada bidang Rafan. Keningnya sedikit mengernyit lantaran bau alkohol yang cukup menyengat. Ia sampai sedikit terbatuk saat menghirupnya dalam.

Yuan hampir melempar pertanyaan, namun kembali tertelan begitu pelukan di pinggangnya semakin erat. Rasa nyaman itu membuat ia melupakan keganjilan pada suaminya.

Sementara itu, Rafan yang tengah tidak sadar sepenuhnya mulai merasakan gelenjar aneh dalam dirinya. Ada sesuatu yang mulai bangkit perlahan. Sudah beberapa bulan terakhir ia tidak merasakan ini, dan sekarang tiba-tiba rasa itu hadir kembali.

"Kau ingin sesuatu, Mas?"

Rafan tak menyahut ia jusru melenguh dengan tangan yang sudah bergerak begitu aktif dan sedikit ganas. Nampaknya ia melupakan kenyataan dan statusnya untuk malam ini.

Gerakan Rafan semakin lama semakin kentara bahwa ia tenggelam dalam hasrat yang sudah lumayan lama tak tertuang. Apalagi mendengar lengkuhan Yuan membuatnya bertambah brutal dan semangat. Untuk kali ini, pusing di kepalanya hilang tak bersisa.

"Mas, bisakah kita mulai sekarang? Ini telalu lama, aku tidak kuat," pinta Yuan dengan melas di tengah kegiatannya.

"Kau ingin mulai sekarang?"

Rafan mulai mengambil ancang-ancang, ia menerobos masuk perlahan. Memberantas apa pun yang menghalanginya. Terus melaju dengan bebas dan ah akhirnya kehangatan ia rasakan saat usahanya yang tak seberapa itu tak berujung sia-sia.

Malam itu akhirnya keduanya tenggelam dalam surga dunia yang sudah lama tak Rafan rasakan. Entah berapa kali Rafan menyemburkan cairan kentalnya, entah berapa jam mereka berjibaku dengan malam panas itu, dan entah mengapa rasanya berbeda dari yang dulu ia rasakan. Tapi persetan dengan pikirannya. Ia hanya butuh menyelesaikan apa yang ia mulai.

"Kau semakin lama semakin memabukkan, kau pandai membuat aku terbang. Kau selalu membuat aku lupa bagaimana cara menapak tanah. Aku sangat lelah. Ayo kita tidur, sebentar lagi pagi."

Mereka kembali berpelukan dengan erat. Meski Yuan merasakan sensasi yang berbeda saat bersenggama, ia berusaha abai dan memaksakan matanya untuk terpejam.

°°°

Sinar matahari yang memaksa masuk melalui celah jendela membuat kedua manusia yang berada di atas ranjang itu membuka mata bersamaan. Sisa rasa pusing semalam rupanya masih ada dan sedikit berdenyut-denyut di kening Rafan.

Sepersekian detik berikutnya, Rafan dan Yuan terhenyak dari tempat berbaringnya. Untuk sesaat mereka saling tukar pandang dalam keheningan. Mereka memikirkan hal yang sama. Bagaimana bisa mereka berada dalam satu tempat yang sama dalam keadaan sama-sama polos pula.

"Mas Rafan bagaimana bisa ada di kamarku, Mas?" Yuan bertanya dengan degupan jantung yang masih jelas terasa menggema.

Rafan memindai seisi kamar. Bola matanya berkeliaran ke setiap sudut dan benar, ini bukan kamarnya. Ini kamar adiknya dan juga adik iparnya. Itu artinya dirinya masuk kamar yang salah? Oh tidak. Bagaimana ini?

"Yuan, aku sepertinya tidak sadar masuk kamarmu. Aku semalam mabuk dan hanya ingin segera istirahat tanpa peduli aku salah masuk kamar atau tidak. Sungguh aku tidak sadar sudah masuk kamar yang salah. Ini bukan sesuatu yang aku sengaja." Rafan mulai panik.

"Kau harusnya sadar kalau kau salah masuk kamar saat ada seseorang di ranjangmu. Bagaimana kau lupa dengan statusmu?"

Yuan bicara dengan kesal. Ia marah dan merasa kecewa dalam satu waktu. Ia marah pada dirinya sendiri dan juga Rafan. Namun, di sisi lain ia juga kecewa karena sudah merasa mengkhianati sang suami. Ia merutuki diri sendiri bagaimana bisa tak mengenali laki-laki yang bersamanya ini suaminya atau bukan. Sungguh ia merasa buruk kali ini.

"Sudah aku katakan aku sedang mabuk, Yuan. Aku sakit kepala berat, mana bisa orang mabuk bisa berpikir dengan jernih. Lagipula kau yang dalam keadaan sadar saja tidak mengenali yang masuk kamarmu suamimu atau bukan. Kau tahu suamimu sedang berada di luar kota kenapa pintu tidak kau kunci?"

Keadaan kini berbanding terbalik. Dari semua sisi sepertinya memang Yuan yang banyak salah dibandingkan dengan Rafan. Pria itu tak sadar, ia sedang mabuk. Sementara dirinya yang sehat jiwa raga, dalam kesadaran yang sepenuhnya seharusnya bisa menahan hasrat.

Dalam keadaan genting begini, Yuan masih sempat-sempatnya teringat kejadian semalam. Erangan, lengkuhan, dan juga suara Rafan yang terdengar lebih seksi dibandingkan suaminya. Ia meraba tengkuknya saat kejadian itu masih saja segar dalam ingatannya.

"Oke baiklah. Memang aku yang terlihat sangat salah. Dibandingkan kau yang hanya punya dua kesalahan, kesalahanku lebih banyak. Ini sudah terlanjur dan kita nggak bisa melakukan apa pun selain melupakan. Bagaimana kalau kita lupakan saja kejadian ini dan anggap saja tidak pernah terjadi dan yang paling penting, jangan sampai ada keluarga kita yang tahu. Aku minta maaf."

"Memang apa lagi yang bisa dilakukan selain ini?" jawab Rafan menyingkap selimut lalu kembali menutupnya saat mendengar teriakan pelan dari Yuan.

"Aku mengakui salah bukan berarti kau tidak salah. Meminta maaf atas sebuah kesalahan tidak menurunkan harga dirimu."

"Iya aku minta maaf. Aku juga salah dalam hal ini. Balik badan, aku mau ambil pakaian."

Rafan bangkit dan memakai pakaiannya dengan cepat saat Yuan memutar tubuhnya.

"Dasar wanita, dia mengatakan ingin melupakan semuanya dan menghakui bahwa dia salah. Tapi dia berharap maafku juga." Rafan bergumam sangat pelan.

"Apa kau bilang?"

Yuan refleks berbalik badan. Sedetik kemudian, wanita itu berteriak dengan kencang.

Bab 2

"Tutup mulutmu adik ipar, kau ingin membuat semua penghuni rumah datang ke sini dan melihat keadaan kita?" Rafan kembali melompat ke ranjang seraya membekap mulut Yuan yang berteriak ketika mendapati dirinya yang masih belum mengenakan celana.

Dengan kasar Yuan memindahkan tangan kakak iparnya dari mulutnya, "kau yang salah, dan lagipula kenapa kau naik lagi di ranjangku? Harusnya kau cepat-cepat pakai celana dan keluar dari sini. Oh Tuhan, kau membuat mataku tercemar oleh adik kecilmu itu."

Air muka Rafan berubah menjadi wajah-wajah tak terima sekaligus tercengang. Bagaimana bisa Yuan mengatakan bahwa adiknya ini kecil di saat semalam mereka menghabiskan malam panas dengan dirinya yang tak henti-hentinya memuja betapa nikmatnya adiknya ini.

"Apa kau bilang, adikku kecil? Seharusnya aku merekam kegiatan panas kita semalam supaya aku ada bukti, bahwa kau selalu memuja adik yang kau sebut kecil ini. Di setiap kali aku memberikan hentakan kau selalu–."

"Sudah cukup Rafan, hentikan! Kita akan menghabiskan waktu seharian hanya untuk berdebat, sekarang pergi dari kamarku. Dan jangan ingat-ingat kejadian semalam, kita sudah berjanji akan melupakannya."

Rafan kembali bangkit dari ranjang dan memakai celannya dengan cepat. Sungguh ia baru tahu jika adik iparnya ini cukup menyebalkan. Sudah satu tahun ini Yuan penyandang status sebagai adik iparnya, namun baru tiga bulan belakangan intensitasnya bertemu dengan Yuan jauh lebih sering lantaran dirinya yang setelah menyandang status duda kembali tinggal di rumah kedua orang tuanya.

"Jangan lupa aku adalah kakak iparmu, tidak sopan adik ipar hanya memanggil nama kakaknya," ujar Rafan sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kamar.

Yuan hanya mencebik. Ia sangat kesal pada dirinya sendiri, betapa bodohnya ia yang selalu memberikan pujian di malam panas semalam. Kembali mengingat betapa dahsyatnya penyatuan semalam membuat wanita itu kembali menunduk memperhatikan seluruh tubuhnya, memastikan bahwa tidak ada bekas atau jejak apa pun yang ditinggalkan oleh Rafan. Untunglah hanya ada beberapa gigitan kecil yang berada di bagian tertutupnya.

Yuan memutuskan untuk membersihkan dirinya begitu menyadari bahwa ia sudah harus segera turun untuk melakukan ritual sarapan.

Setelah setengah jam berkutat pada dirinya sendiri, Yuan akhirnya turun ke lantai dasar. Hawa canggung tiba-tiba saja menyeruak saat langkahnya semakin dekat dengan meja makan. Di sana semua orang sudah berkumpul, tak terkecuali Rafan.

"Selamat pagi semuanya," sapa Yuan seperti biasa.

"Selamat pagi, Sayang. Tumben kamu bangunnya belakangan, biasanya juga duluan kamu ketimbang Ibu."

"Ah iya, Bu. Sebenarnya aku udah bangun dari tadi, tapi Mas Danish sempat telepon. Jadi aku lupa waktu," jawab Yuan sedikit gugup dan mendaratkan bokongnya di kursi.

Aroma tubuh Yuan seketika menyeruak dan memaksa masuk di indra penciuman Rafan. Pria itu sedikit kesulitan menelan ludahnya ketika aroma tubuh Yuan berjejal masuk di hidungnya. Bahkan ia sedikit gugup saat ingatannya kembali terlempar pada malam panas semalam.

Ya, ia menyebutnya malam panas. Karena di setiap gerakan, gaya, dan juga lengkuhan wanita itu mampu membuatnya terbakar oleh hasrat terpendam yang sudah lama tak ia salurkan. Ah sungguh, ia merindukan mendiang istrinya saat ini.

Merasa bahwa dirinya tidak mampu berlama-lama berada di dekat Yuan, ia segera menyudahi sarapannya dan berlalu dari meja makan dengan wajah yang menyebalkan di mata Yuan tentunya.

"Yuan," panggil Bu Veronica di sela-sela makannya.

"Iya, Bu."

"Kau belum ada tanda-tanda hamil?" tanyanya dengan hati-hati.

Bu Veronica sebenarnya tidak enak hati ketika menanyakan hal sensitif ini kepada menantunya. Tapi di sisi lain, beliau sangat ingin segera menimang cucu dari hasil pernikahan anak bungsunya ini. Mengingat usianya sudah tidak lagi muda dan beliau juga baru saja kehilangan cucu dari Rafan. Beliau ingin sekali rumah itu segera terdengar suara tangis bayi yang meramaikan hari-hari tuanya.

"Belum, Bu. Ibu yang sabar, ya. Aku juga sama kayak Ibu, kok. Aku juga maunya cepet punya momongan. Baik aku maupun Mas Danish juga punya keinginan yang sama. Mungkin belum dikasih aja."

Jika Bu Veronica merasa tak enak hati ketika bertanya, maka Yuan pun merasakan kesedihan yang dalam. Sudah satu tahun ia menikah, dan tak ada tanda-tanda kehamilan menjadi beban untuknya. Terlebih lagi mengingat kakak iparnya dulu hanya butuh waktu dua bulan saja untuk mengandung.

Mengingat kakak iparnya yang telah tiada membuatnya lagi-lagi teringat Rafan. Setiap kali ia mengingat pria itu, yang ada dalam ingatanya adalah pertarungannya di ranjang.

"Kau Kenapa Yuan? Kepalamu sakit, kau sedang tidak enak badan?" tanya Bu Veronica saat menantunya terlihat memijat pelipisnya.

"Ah nggak kok, Bu. Aku nggak apa-apa, mungkin aku lagi bosan aja karena nggak ada Mas Danish."

"Keluarlah. Ke taman, ke mall, ke salon, atau ke mana pun yang kau mau. Banyak pikiran dan stress berpengaruh juga untuk kesuburan. Pastikan pikiranmu selalu enjoy, bahagia, tenang, dan senang."

Yuan mengangguk mengiyakan perkataan ibu mertunya. Jika dipikir-pikir sudah lama ia tidak keluar rumah. Tak ada salahnya jika ia kali ini merefresh isi kepalanya yang melulu tertuju pada aktivitas panas itu.

Akhirnya pagi itu selesai sarapan ia memutuskan jalan-jalan. Ke salon adalah pilihan pertamanya. Dalam kepalanya sudah ada rencana akan berbelanja untuk dirinya sendiri dan suaminya setelah mempercantik diri. Mendengar kabar bahwa suaminya akan pulang nanti malam keinginan untuk tampil cantik sedang diujung kepala.

Selesai dengan urusan tubuh dan kecantikannya, Yuan langsung melipir ke pusat perbelanjaan. Sebenarnya ia tak terbiasa masuk ke tempat ramai dan sebesar ini seorang diri.

Tempat tujuan pertama yang ia datangi adalah deretan baju tidur yang seksi, tipis, dan menggoda. Banyak sekali lingerie dengan varian warna dan model yang tergantung di sana. Yuan menjereng beberapa lingerie sembari membayangkan bagaimana lekuk tubuhnya, apakah cukup menggoda, apakah dengan model-model dan warna yang membingungkannya bisa menggoda suaminya nanti?

"Yang mana, ya? Gini nih kalau belanja nggak bawa temen. Bingung, kan, mau pilih yang mana? Ini warnanya bagus, tapi yang ini modelnya juga bagus. Yang satu nggak suka warnanya, yang satu nggak suka modelnya." Yuan menimbang-nimbang dan mengamati dua lingerie yang berada di tangan kanan kirinya.

"Kau bingung menentukan yang mana? Bagaimana kalau ini?" Sebuah suara terdengar sangat dekat. Ia menurunkan kedua lingerie yang ia junjung setinggi ujung kepalanya. Dan seketika kedua matanya membulat.

Bab 3

"Bagaimana bisa kau ada sini, Rafan?" Yuan menoleh ke kanan dan kiri, ia tak menjumpai siapa pun di sini kecuali Rafan. Tidak ada sekretaris atau setidaknya bawahan pria itu. Untuk apa pria ini datang ke pusat perbelanjaan di jam kerja seperti ini? Batinnya.

"Memangnya kenapa kalau aku ada di sini? Ini di tempat umum, siapa pun berhak ke sini asal punya duit. Adikku menyukai warna cerah, ini bagus untuk menggodanya nanti malam."

Rafan mengambil lingerie yang masih berada di tangan Yuan dan mengembalikannya ke tempat semula lalu menyodorkan lingerie pilihannya. Tak kunjung diterima Yuan, pria itu menarik tangan wanita itu dan meletakkannya di gantungan lingerie yang ia bawa. Sedetik kemudian, lingerie itu sudah berpindah tangan. 

Yuan yang tercengang dan masih shock hanya bergeming. Tak ada perlawanan ataupun kalimat yang wanita itu keluarkan. Ia hanya mampu menatap Rafan yang nampak biasa saja setelah kejadian semalam. Padahal ia dengan susah payah berusaha melupakan, tapi yang ada malah pria ini muncul terus di pikiran dan sekarang ada di depannya. Sungguh ia hanya bisa mematung di tempat, untuk menelan salivanya saja terasa sulit. 

"Aku ada sesuatu yang lain untukmu, Yuan." Rafan merogoh saku jasnya dan, "krim untuk menutupi karya ku yang ada di balik pakaianmu. Ini sangat ampuh," bisiknya di telinga Yuan yang membuat jantung wanita itu terasa berhenti berdetak seketika. 

Yuan baru bisa menggerakkan tubuhnya ketika Rafan sudah pergi dari hadapannya. Buru-buru ia merogoh tas mungil yang talinya tersampir di pundak. Ia menatap krim yang berukuran kecil dan sedikit panjang. 

'Apa-apaan ini.'

Dengan kesal ia kembali memasukkan krim itu ke dalam tas. Hilang sudah mood-nya untuk berbelanja. Ia berjalan menuju kasir dengan tanpa sadar membawa lingerie yang diberikan oleh Rafan. Ia baru sadar ketika sudah sampai kasir dan menyerahkan baju itu pada pekerja. Meskipun dalam hati ia merutuki kebodohannya, ia tetap saja membawa barang itu pulang. 

°°°

Malam harinya, Yuan berkutat di depan cermin. Setelah ia membersihkan diri, kini ia ingin mempercantik diri. dengan menggunakan make up tipis, ia sudah siap menyambut kedatangan sang suami. 

Yuan dengan was-was duduk di tepi ranjang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat terdengar mobil masuk pekarangan rumah. Ini adalah pertama kalinya bagi keduanya terpisah untuk beberapa hari. Itulah sebabnya, Yuan sedikit gugup malam ini. Apalagi jika mengingat lingerie yang ia kenakan adalah pilihan Rafan. Ah sudahlah, lupakan asal usul lingerie ini. 

"Surprise!" kata Yuan dengan bibir yang merekah. 

Untuk sejenak Danish terdiam seraya mengamati keadaan kamarnya. Bunga mawar tersebar di seluruh ranjang. Lampu temaram yang menyala dan juga ada beberapa lilin di sudut kamar membuat suasana romantis seketika memenuhi ruangan. 

"Apa ini, Yuan? Kau menyiapkan semua ini? Kita bukan lagi pengantin baru. Untuk apa semua ini?" 

Reaksi Danish sungguh diluar dugaannya. Ia menunggunya dengan sabar sepanjang hari, rindu yang teramat dalam membuat detik-detik ini begitu istimewa. Tapi kalimat yang terdengar dari mulut Danish sedikit mencubit hatinya. Sangat jelas tak ada senyum atau kebahagiaan di bibir pria itu. Yuan kecewa, tapi sebisa mungkin tak ia tunjukkan. 

"Ya memang kita bukan pengantin baru, tapi ini adalah pertama kalinya kita berpisah selama satu minggu. Tentu saja perpisahan ini membuat aku merindukanmu, Mas. Dan dengan cara inilah aku menyambutmu. Kau juga rindu aku, kan?" Yuan berjalan mendekat. 

"Nggak begini juga, Yuan. Kau, kan, tahu, aku perjalanan dari luar kota dan jauh. Aku cape, aku mau bersih-bersih, habis itu istirahat. Jangan berusaha menggodaku, biarkan suamimu ini merehatkan badan. Kalau kau merindukan yang lain, besok akan aku beri." Danish mengusap puncak kepala wanita itu dan mengecup keningnya singkat, lalu melipir ke kamar mandi. 

Yuan masih mematung di tempat. Kenapa suaminya tiba-tiba terlihat berubah? Tak biasanya laki-laki itu tidak menghargai usaha dan kerja kerasnya. 

'Ah mungkin memang Mas Danish kecapean aja. Dia nggak berubah, Yuan. Nggak usah overthinking.'

Wanita itu membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Meskipun dalam hati dan logikanya kini tengah ribut, ia berusaha untuk tetap berpikir positif. Ia berusaha keras untuk meyakini bahwa suaminya itu memang keletihan. 

"Mau aku buatkan kopi atau minuman lain? Atau kau mau makan sesuatu?" Yuan bertanya saat suaminya baru saja membuka pintu kamar mandi. Ia mengganti lingerinya dengan pakaian tidur setelah menyiapkan baju tidur untuk sang suami. 

"Tidak perlu. Aku mau langsung tidur."

Yuan mengangguk dan membawa tubuhnya untuk berbaring di ranjang kosong samping suaminya. Meskipun dalam hatinya ia cukup bertanya-tanya apa yang membuat suaminya seperti berubah menjadi acuh. Seumur-umur tidak pernah Yuan diperlakukan seperti ini oleh Danish. Pikiran yang ingin berpikir positif itu ternyata tidak sejalan dengan kata hatinya. 

°°°

Pagi harinya, matahari muncul di balik cakrawala dengan lembut, menyinari dunia dengan sinar keemasan. Suara burung bernyanyi dengan gembira, menyapa hari baru yang penuh potensi. Udara segar pagi mengisi paru-paru dengan kehidupan, dan embun di daun-daun memberikan kilauan magis yang menghipnotis. 

Di seberang jendela, taman bunga mulai mekar dengan indahnya. Bunga-bunga mawar, anggrek, dan tulip memberikan tampilan yang mengagumkan. Seekor kupu-kupu beterbangan di antara bunga-bunga itu, menambahkan sentuhan kecantikan alami. 

"Aku suka pagi hari," kata Yuan memandangi taman samping rumah yang ada di bawah sana. 

Sebuah rangkulan yang ia rasakan di sepanjang perutnya membuatnya sedikit terkejut. Di detik berikutnya, ada sebuah beban di pundaknya, bukan beban yang berat. Ia menyukai beban kepala suaminya itu. 

"Secangkir kopi sepertinya cukup untuk menghangatkanku pagi ini."

"Kau merindukan kopi buatanku? Aku akan segera kembali dan membawanya."

"Kau yang terbaik."

Yuan dengan semangat baru menuruni anak tangga satu persatu dan menuju dapur. Ia akan membuatkan kopi spesial seperti biasanya untuk sang suami. Senyum terukir sejak tadi, bgaimana tidak? Sikap suaminya kembali seperti biasanya, itu artinya memang semalam ia benar-benar kelelahan. Sungguh Yuan merasa bersalah karena berpikir yang tidak-tidak semalam. 

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Yuan untuk membawa secangkir kopi itu ke kamar. Namun, begitu ia membuka pintu tak ia dapati suaminya di sana. Mendengar gemericik air di kamar mandi, Yuan tidak perlu bertanya ke mana perginya suaminya. 

Ponsel yang berada di atas nakas berdering bersamaan saat Yuan meletakkan secangkir kopi buatannya. Keningnya pun mengernyit, pasalnya ini masih terlalu pagi untuk menelepon seseorang. 

"Ae-in?" Kening Yuan tambah mengernyit ketika melihat nama kontak yang menelpon suaminya sepagi ini. 

Yuan hampir saja menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Namun, secepat kilat sebuah tangan menyambar ponsel itu dan menatapnya dengan tatapan tajam seolah tatapan mata itu menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Yuan adalah sesuatu yang lancang. 

"Siapa yang menghubungimu sepagi ini, Mas? Siapa Ae-in?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED