Jakarta 2005
Suara ayam jantan milik tetangga berkokok nyaring. Membangunkan penghuni komplek perumahan, yang terletak di pinggiran Ibu Kota. Anak lelaki berusia empat tahun, beranjak bangun mencari ibunya, karena tidak berada di sampingnya. Mengelilingi seluruh ruangan, dalam rumah minimalis, khas perumahan sederhana, yang hanya terdapat ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, juga kamar mandi. Tetapi tidak ditemukannya sosok perempuan yang telah melahirkannya.
"Ibu.... Ibu!" tangis anak lelaki berwajah tampan itu, sambil terus mencari ibunya. Namun, hanya ruangan kosong yang ditemui.
Untuk ukuran anak kecil yang masih balita, Ken termasuk pemberani. Pagi masih buta, tetapi kaki kecil Ken justru melangkah keluar, untuk mencari keberaadaan ibunya. Bu Hendi, tetangga sebelah rumah keluarga Pak Cavero Suwardana--papa Ken—melihat anak tetangga itu tampak kebingungan, lalu menghampiri bocah lelaki yang sering meramaikan rumahnya.
"Ken, ada apa, Nak? Lagi nyari siapa?" tanya Bu Hendi sambil mengelus lembut kepala Ken.
"Nyari ibu, Bulik," jawab Ken, dengan tetap memperhatikan sekelilingnya, kalau-kalau ibunya muncul.
"Memang ibu kemana, Sayang? di rumah nggak ada?" Kembali perempuan yang baru setahun menikah itu meminta penjelasan pada Ken.
"Ken nggak tahu, tapi pas bangun tidur, ibu sudah nggak ada." Raut kecemasan tercetak jelas pada wajah bocah yang sudah ingin sekolah itu.
"Ya sudah, Ken ikut ke rumah Bulik dulu sampai ibu datang. Mungkin ibu lagi ke pasar, kita tunggu ibu, ya." ajak Bu Hendi pada Ken. Setelah menutup pintu rumah Ken, Bu Hendi membawa anak lelaki yang mengidolakan superman itu ke dalam rumahnya.
Sampai di rumah bercat kuning gading, Pak Hendi menyongsong kedatangan istrinya, dengan tatapan heran. Pagi buta begini sudah bersama Ken? Rasa penasaran lelaki jebolan Fakultas Tekhnik ITB bergejolak. Bu Hendi meminta suaminya untuk mengajak Ken salat subuh dulu. Sedang dirinya yang sedang halangan, menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Begitu dua lelaki beda generasi itu selesai salat, Dinda—istri Hendi—juga telah menata tiga piring nasi goreng di atas meja makan. Khusus untuk Ken, nasi goreng tanpa cabai dengan sosis berbentuk kembang.
Selesai sarapan, Ken izin mau pulang untuk mandi. Tetapi Hendi memintanya untuk mandi di rumahnya saja. Masih ada beberapa baju Ken tersimpan di almari kamarnya. Sambil menunggu Ken selesai mandi, Dinda menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada bocah lelaki yang lebih sering bersama mereka dari pada ibunya, saat Wardana harus tugas keluar kota.
Bagi keluarga Hendi, terutama Dinda, tidak jadi masalah kalau Murwani--ibu Ken--sering menitipkan Ken pada dirinya. Dinda justru merasa senang, karena ada teman saat Hendi harus berangkat kerja. Entah punya kesibukan apa Murwani di luar rumah, karena selama mereka bertetangga, setahunya Murwani hanya ibu rumah tangga.
Hendi memutuskan untuk menghubungi Wardana, yang rupanya sedang dinas ke Bandung. Bersyukur hari ini, lelaki yang berprofesi sebagai anggota TNI AU itu, sudah bisa pulang. Wardana mengabarkan, kalau sampai Jakarta sebelum dzuhur. Dia juga meminta tolong pada keluarga Hendi, untuk titip Ken sampai dirinya datang. Tentu Hendi dan Dinda tidak keberatan. Sedikit ada kelegaan di hati lelaki berdarah campuran Jawa dan Bali itu.
Rassed Kennan adalah anak yang penurut, tidak rewel apalagi cengeng. Wardana sebisa mungkin menyiapkan Ken menjadi anak lelaki yang tangguh dan kuat, sejak dirinya mengetahui perselingkuhan sang istri. Wardana tidak terkejut, ketika Hendi memberitahukan tentang kepergian istrinya dari rumah. Lelaki berkulit sawo matang itu, sudah memperkirakan kalau hari ini akan datang juga, cepat atau lambat. Wardana masih bisa bersyukur, Ken tidak dibawa pergi ibunya. Hanya bocal lelaki itu, penyemangat hidup dalam keterpurukan saat ini.
Kedatangan Wardana disambut dengan gembira oleh Ken. Sudah lebih dari dua pekan mereka terpisah jarak. Murwani tidak mengizinkan dua lelaki beda generasi itu saling berkominikasi. Ketika Ken meminta pada ibunya, untuk menelpon sang papa, maka perempuan itu akan membuat alasan, kalau papanya sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Begitu juga sebaliknya, kalau Wardana menghubungi dan ingin berbicara pada anak lelakinya, Murwarni beralasan kalau Ken sudah tidur atau sedang bermain ke rumah temannya.
Wardana sangat berterima kasih pada keluarga Hendi, yang sudah sering direpotkan, dengan menitipkan Ken pada mereka. Pernah, saat wardana mendapat tugas mendadak untuk perbaikan radar di Natuna. Sedang Ken tidak ada yang menjaga karena istrinya sedang pergi. Dengan terpaksa, Ken dibawa ke Halim. Entah nanti mau dititipkan pada siapa? mungkin anggota atau letingnya. Dinda sempat mendengar kebingungan Wardana sebelum berangkat, langsung menghububgi suaminya. Tidak lama Hendi sudah berada di Lanud Halim Perdanakusuma, setelah meminta izin pada atasannya.
Dari kejauhan, tampak Ken menangis sambil memandang kearah papanya, yang sibuk mempersiapkan keberangkatan. Hati Hendi terasa tercubit melihat kenyataan, Ken yang masih belia harus mengalami hal demikian. Lelaki berperawakan tinggi kurus itu, berlari menuju tempat Ken berdiri. Wajah bocah yang sudah basah oleh airmata, seketika ceria, begitu melihat Om Hendinya datang. Disong-songnya lengan kecil yang terbuka lebar, lalu diangkatnya ke dalam gendongan Hendi.
"Anak ganteng, kenapa nangis?" tanya Hendi, sambil mengusap airmata Ken dengan tissue, yang selalu tersedia dalam tas punggungnya.
"Ken takut ditinggal papa. Sekarang ada Om Hendi, jadi nggak takut lagi," celoteh Ken dengan gaya khas bocahnya.
Wardana mendekat saat melihat Ken dalam gendongan Hendi. Perwira dengan dua cekung di kedua pipinya saat tersenyum itu, memang sering mengajak Hendi dan istrinya main ke Halim, sehingga rekan juga anggota yang lain sudah tidak asing dengan lelaki asal Ponorogo Jawa Timur tersebut. Sehinga dengan mudah, Hendi melewati pemeriksaan di pintu masuk bandara khusus VIP.
"Mas, besok-besok lagi kalau mau dinas luar, biar Ken sama Dinda saja. Apa Mas sudah nggak percaya lagi sama kami, hingga membawa Ken seperti ini?" Suara Hendi sedikit tercekat. Wardana tahu, bahkan sangat paham kalau suami istri yang belum juga diberi amanah anak itu, sangat menyayangi Ken. Perwira muda itu, hanya merasa tidak enak merepotkan tetangganya terus menerus.
"Bukan begitu, Hen, aku takut kalau merepotkan kalian terus." Wardana menjawab dengan rasa bersalah menyelimuti hati.
"Nggak ada yang repot, Mas. Justru kami senang kalau ada Ken di rumah. Buat temen Dinda juga. Ken, aku bawa ya, Mas. Fokus saja dengan tugas yang Mas emban," ucap Hendi sambil menepuk pundak Wardana. Lalu dibalas pelukan hangat dari tentara berpangkat Letnan Satu tersebut. Begitu pesawat yang membawa Wardana take off, Hendi mengajak Ken pulang.
Begitulah kehidupan yang harus dijalani Wardana, setelah kepergian Murwani dari rumah. Tanpa membuang waktu, sepulang dari Natuna, Wardana segera mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan istrinya. Dibantu beberapa teman dan anggota POM AU, akhirnya saksi juga sudah didapat. Ayah Ken sudah mengajukan cuti untuk pulang ke Tegal. Lelaki berusia tiga puluh tahun itu, harus menceritakan apa yang sedang menimpa rumah tangganya, pada kedua orang tuanya. Walau dengan resiko, pasti akan membuat hati Ajik dan Biangnya kecewa.
Suasana ruang keluarga rumah orang tua Wardana, sedikit menegangkan. Kemarin Wardana menjemput Murwani dari Semarang. Hari ini, keluarga besar mereka sedang membahas kelanjutan rumah tangga keduanya. Mertua Wardana saat ini merasa tertampar oleh kelakuan anak perempuannya. Dulu ketika mereka meminta restu untuk menikah, keluarga Pak Hidayat menentang keras. Mereka berpikir jika anak gadisnya menikah dengan tentara, maka kehidupannya akan sengsara. Tetapi semua dapat dipatahkan dengan tanggung jawab Wardana, yang begitu menyayangi istrinya dan berusaha selalu membahagiakan keluarga.
Berkali Pak Hidayat meminta maaf pada Wardana, juga kedua orang tuanya. Bu Hidayat bahkan sampai memohon pada menantunya, supaya memberikan kesempatan kedua pada Murwani, yang masih tetap ingin mempertahankan pernikahannya. Sedang Wardana masih berpikir untuk mempertimbangkan kembali semuanya. Di tengah perdebatan yang alot, karena mempertahankan argument masing-masing, tetiba muncul lelaki selingkuhan Murwani.
Masih dengan sangat jelas, Wardana merekam dalam ingatan, wajah lelaki yang tertangkap basah, sedang berbuat asusila dengan istrinya, di kamar hotel empat bulan lalu. Saat itu, Wardana bersama beberapa anggota intel, juga POM AU, menggerebek tempat yang disewa pasangan selingkuh tersebut.
Dengan beraninya, lelaki yang belakangan diketahui bernama Prapto, berkata tegas kalau Murwani sedang hamil anaknya. Wardana meradang, perwira muda itu merasa harga dirinya sudah direndahkan, juga dipermalukan. Karena sikap lancang Prapto, Ferdi--adik bungsu Wardana—langsung menghadiahi bogem mentah pada wajah Prapto.
Tubuh lelaki perusak rumah tangga Wardana itu, sampai terhuyung kebelakang. Ferdi sudah merangsek maju untuk melanjutkan aksinya, tapi langsung dicegah Surya--adik kedua Wardana--perang mulut antara Prapto dan Ferdi tidak terelakan Lagi. Wardana yang pada dasarnya perndiam dan tidak suka keributan, segera mencengkeram krah baju Prapto, lalu menyeret lelaki itu keluar. Surya dan Ferdi mengikuti dari belakang begitu juga Murwani.
"Tetap di rumah dan jangan berani keluar! Urusan kita belum selesai!" teriak Wardana pada Murwani yang seketika membantu dalam berdirinya.
Wajah tampan wardana sudah memerah menahan amarah. Tubuh Prapto sampai terseret, karena kuatnya cengkraman dan tarikan tangan Wardana. Sesampainya di tanah lapang, dilemparkannya tubuh Prapto hingga tersungkur. Tanpa berpikir panjang, Wardana menerjang lelaki bertubuh tambun itu. Pukulan demi pukulan mendarat di wajah selingkuhan sang istri, sebagai pelampiasan kemarahan.
Emosi sudah menguasai lelaki dengan alis mata tebal tertata rapi. Bahkan teriakan peringatan kedua adiknya sudah tidak dihiraukan lagi. Ferdi berusaha menahan tubuh tegap kakaknya, tetapi pemuda berkulit bersih itu kewalahan menghadapai tenaga Wardana. Surya berusaha membantu adiknya untuk menghentikan aksi kakak mereka.
"Bli, sudah!" teriak Ferdi sambil berusaha menarik lengan Wardana. Tetapi tidak diidahkan Wardana sedikitpun.
"Ingat Ken, Bli!" Suara Surya saat menyebut nama anak lelakinya, seketika mengembalikan kesadaran Wardana.
Prapto sudah babak belur karena perbuatan Wardana. Kemungkinan kalau Surya tidak menyebut nama Ken, lelaki pembuat onar itu bisa saja terbunuh di tangan Wardana. Tidak mau mengambil resiko dan membahayakan kakanya, Surya dibantu beberapa tetangga, yang menyaksikan kejadian tadi, membawa Prapto ke rumah sakit.
Wardana diikuti Ferdi kembali kerumah, untuk menyelesaikan permasalahan dengan istrinya. Tatapan tajam Wardana mengarah pada Murwani. Sedang wanita itu justru hanya menunduk dengan airmata yang sudah membasahi wajahnya. Keputusan Wardana kali ini sudah bulat untuk berpisah dengan istrinya.
Berkas gugatan cerai sudah masuk ke pengadilan agama. Setelah keputusan cerai dari pihak satuan Wardana dikabulkan. Walau memakan waktu cukup lama, karena memang tidak mudah bagi seorang abdi negara untuk mengajukan proses cerai tanpa alasan yang kuat. Beruntung Wardana punya bukti dan saksi kuat yang membenarkan perselingkuhan istrinya. Terlebih ada janin tidak berdosa hasil hubungan gelap mereka, hal itu sangat membantu Wardana untuk memperoleh putusan dengan cepat.
Enam bulan sudah Wardana resmi menyandang status duda. Hak asuh Ken jatuh pada lelaki berbadan tegap terlatih itu. Saat Wardana bekerja Ken tetap dititipkan di rumah Hendi. Dinda yang paling merasa bahagia dengan kondisi ini, bukan maksud menari di atas peceraian tetangganya. Tetapi mengingat sikap Murwani pada Ken terkadang membuat dirinya merasa prihatin terhadap anak lelaki itu.
Awal tahun ajaran baru Wardana memasukkan Ken ke PAUD yang berjarak satu kilo meter dari gerbang komplek. Ken sudah sangat ingin sekolah semenjak menginjak usia tiga tahun. Murwani sebagai ibu kurang memperhatikan apa yang dibutuhkan anaknya. Rona bahagia terlihat jelas di wajah bocah berhidung mancung itu. Mengenal dunia baru. Bertambah teman, juga mendapat pembelajaran baru dari guru-gurunya. Ken cukup cepat menyerap apa yang diajarkan. Bersyukur kepintaran papanya menurun secara genetik pada Ken.
Ken merasa senang sudah bersekolah. Aktifitas kesehariannya lebih terarah. Masalah baru mulai timbul saat salah satu ibu teman Ken bergosip di sekolah tentang keluarga anak lelaki tersebut, terutama tentang ibunya. Pada awalnya tidak mengganggu Ken. Sampai akhirnya bocah lelaki tampan itu menerima perundungan dari beberapa teman yang usianya lebih di atasnya. Mereka mengejek Ken. Bahkan sampai melakukan kekerasan secara fisik.
“Ken nggak disayang ibunya, makanya ditinggal pergi.” Kekerasan verbal demikian yang membuat Ken jadi rendah diri.
Sudah dua hari Ken ogah-ogahan saat papanya meminta bersiap untuk berangkat sekolah. Wardana merasa heran dengan tingkah jagoan kecilnya. Hari ini dirinya mendapat bebas tugas setelah beberapa hari mengerjakan jaringan radar di Tarakan. Sambil menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, tentara yang ternyata jago masak itu memancing obrolan dengan bocah yang memasang wajah manyun.
“Ken, hari ini papa libur. Gimana kalau pulang sekolah kita main ke Play Ground yang di mall,” ucap Wardana dengan meletakkan sepiring spageti tuna kesukaan Ken.
“Nggak usah sekolah aja, Pah. Langsung ke mall!” teriak Ken kegirangan.
“No…. no…. jagoan papa harus tetap sekolah dulu. Baru kita main,” tegas ucap Wardana pada Ken.
“Ya papa. Nggak asyik!” wajah Ken semakin murung dan bibirnya bertambah maju beberapa senti. Ini yang terkadang membuat Wardana begitu miris melihat anak lelakinya yang tampan, cerdas, dan sama sekali tidak rewel justru malah ditinggalkan ibunya begitu saja.
Bulir bening mulai mengaburkan pandangan Wardana. Hatinya masih terasa sakit jika teringat tentang kegagalan pernikahannya, terlebih ada anak yang menjadi korban keegoisan orang tuanya. Tanpa terasa lelah air mata sudah membasahi kedua pipinya. Ken yang melihat papanya menangis langsung memeluk erat leher idolanya tersebut.
“Maafin Ken ya, Pah. Ken sudah bikin papa sedih.” Suara Ken bergetar menahan tangis.
Wardana tersadar lalu segera menghapus air matanya. Memeluk tubuh mungil Ken sebagai jawaban kalau dirinya sudah baik-baik saja. Dikecupnya puncak kepala anak lelaki penyemangat hidup. Wardana lantas mulai menuapkan spageti ke mulut Ken. Ditatapnya wajah Ken yang lebih mirip Murwani dari pada dirinya. Wardana begitu bangga mempunyai anak lelaki yang sangat pengertian.
Dalam perjalanan menuju sekolah yang biasanya ramai dengan celoteh Ken kini hanya keheningan yang menemani. Dalam benak Wardana masih berkecamuk ada apa sebenarnya yang terjadi pada Ken sampai-sampai berniat bolos sekolah. ‘Lebih baik nanti tanyakan pada gurunya saja. Siapa tahu beliau lebih paham tentang apa yang membuat Ken berubah sikap.’ batin Wardana.
Bangunan dengan dinding bergambar aneka binatang dan bunga warna warni berdiri dengan kokoh. Empat ruangan belajar, satu aula, serta satu ruangan untuk staf pengajar. Berbagai macam permainan untuk melatih motorik anak juga terpasang di halamannya. Wardana mengandenga tangan kecil Ken memasuki gerbang bangunan tersebut. PAUD Permata Hati tempat sekolah Ken. Beberapa guru menyambut kedatangan muri-murid yang sebagian besar masih ditemani ibu mereka, tetapi tidak dengan Ken.
Bu Anggun dan Miss Irawati guru kelas Mentari—kelas Ken—terlihat tersenyum saat melihat Ken berjalan manja satu langkah di belakang papanya. Ken memberikan salam pada dua gurunya lalu meletakkan tas serta kotak bekalnya di tempat yang sudah disediaka. Wardana berbincang sebentar dengan dua guru anaknya tersebut. Meminta waktu untuk membahas tentang perubahan sikap Ken akhir-akhir ini.
“Assalamuaikum Bu. mohon ijin minta waktu sebentar untuk membahas tentang Ken, bisakah?” tanya Wardana sopan pada dua perempuan yang masih lajang tersebut.
“Waalaikumsalam, Pak. Insyaallah bisa. Nanti dengan Bu Anggun saja, kebetulan saya ada pembelajaran bahasa inggris di kelas langit,” jawab Miss Irawati dengan lembut. Guru Ken yang satu ini memang sejak dari pertama sudah mencuri perhatian duda keren tersebut. ‘Adem kalau lihat wajah Miss Ira’ begitu kata hati Wardana.
“Dengan siapa saja bisa Miss. Terimakasih atas waktunya,” jawab Wardana dengan senyum yang membuat Bu Anggun semakin terpesona.
“Mari Pak. Kebetulan pagi ini kelas Ken ada pembelajaran Agama bersama Ustad Fahmi. Slahkan ke kantor,” Bu Anggun mempersilahkan Wardana untuk menunggu di kantor terlebih dahulu.
Ruangan lima kali lima meter dengan beberapa set meja dan kursi kerja untuk staf pengajar di PAUD ini. Satu set sofa terletak di tengah-tengah ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu. Berhadapan langsung dengan meja kepala sekolah. Wardana menunggu Bu Anggun sambil memperhatikann sekeliling ruangan. Ring… ring… tanda bel masuk berbunyi. Tidak lama Bu Anggun memasuki ruangan kantor lantas duduk di hadapan Wardana.
“Maaf Bu sebelumnya kalau mengganggu waktu Bu Anggun,” Wardana membuka percakapan.
“Nggak apa-apa, Pak. Semua demi tumbuh kembang Ken. Apa yang ingin Bapak tenyakan tentang Ken?” jawab Bu Anggun dengan lembut. Tatapan kagumnya tidak bisa lepas dari wajah duda muda itu.
“Beberapa hari terakhir Ken seperti malas untuk bersekolah. Apalagi dua hari terakhir Ken sama sekali tidak mau berangkat kalau tidak dibujuk terlebih dahulu,” jelas Wardana.
“Memang Pak, di dalam kelas Ken juga lebih banyak melamun, seperti tidak fokus dalam menerima pelajaran. Saya dan Miss Ira sebagai wali kelas Ken sudah menanyakan pada Ken dan melakukan observasi pada aktifitas Ken selama di sekolah, dan kami sudah mendapatkan hasil….” Bu Anggun sejenak menghela napas mengingat apa yang terjadi pada anak didiknya tersebut.
“Apa hasilnya, Bu?” Wardana penasaran karena Bu Anggun menjeda penjelasannya.
Dengan tatapan penuh harap Wardana memandang guru berambut hitam sebatas pundak itu. Jelas Bu Anggun yang ditatap seketika merona pipinya. Wardana melihat perubahan itu lalu berdehem untuk keluar dari situasi yang bisa membuat salah paham pada guru anaknya.
“Ehem…”
“Eh, maaf Pak. Saya mewakili pihak sekolah sebelumnya meminta maaf pada Bapak selaku orang tua Ken. Kami merasa kecolongan karena hal ini terjadi di sekolah kami. Ken mendapat perundungan dari beberapa murid dari kelas di atas Ken. Rupanya hal itu yang membuat Ken jadi rendah diri dan tidak mau bersekolah,” penjelasan Bu Anggun cukup membuat Wardana terkejut. Dirinya sama sekali tidak menyangka kalau anaknya akan mengalami hal yang melukai perasaannya.
“Lalu pihak sekolah sudah mengambil tindakan apa pada anak yang melakukan perundungan terhadap Ken? Dan bagaimana reaksi orang tuanya mengetahui anaknya sudah berbuat jahat demikian?” jujur Wardana merasa penasaran dengan hal tersebut.
“Kami sudah memberikan peringatan dan skorsing selama satu minggu. Kebetulan hari ini Pak Wardana datang ke sekolah. Maka kami akan menjembatani mediasi antara Bapak dengan orang tua anak tersebut untuk meminta maaf pada Bapak dan Ken,” Bu Anggun meminta ijin untuk menghubungi orang tua kakak kelas Ken tersebut.
Tidak lama datanglah Murwani dengan seorang perempuan paruh baya. Wardana tersenyum masam mendapati kenyataan kalau anak sambung mantan istrinya sudah melukai hati anak kandungnya. Murwani tampak terkejut melihat Wardana sudah menunggu di kantor. Tadi Bu Anggun mengabarkan kalau orang tua murid yang mendapat perundungan dari anak sambungnya sudah hadir di sekolah, tetapi justru ada mantan suaminya di sana. Berarti Ken yang mendapat perlakuan buruk dari Edo anak suaminya sekarang.
Wardana merasa beruntung karena yang menjadi mediator adalah Miss Ira, sehingga dirinya tidak merasa canggung. Wardana mendengarkan penuturan perempuan paruh baya yang datang bersama Murwani. Dengan lantang dan tegas perempuan yang ternyata ibu Prapto tersebut membela Edo cucu kesayangannya. Tanpa tahu kejadian yang sebenarnya, nenek tersebut justru menyalahkan Ken. Sampai-sampai menyalahkan ibunya Ken yang tidak becus mendidik Ken. Tanpa sadar Wardana tertawa sambil memandang sinis kearah Murwani. Sedang yang ditatap hanya menunduk.
“Kenapa anda tertawa! Lelaki macam begini yang nggak bisa mendidik bini, makanya anaknya juga ikut bengal!” bentak Bu Nenden—nenek Edo—pada Wardana tanpa mau mendengar penjelasan dari Miss Ira yang tahu kejadian sebenarnya.
Dengan masih tersenyum Wardana hanya mengucapkan terimakasih dan meminta maaf pada Bu Nenden dengan tetap melirik tajam pada mantan istrinya. Justru Bu Nenden merasa tidak dihormati oleh Wardana karena tawa lelaki berhidung mancung itu belum juga reda. Miss Ira yang melihat gelagat tidak baik segera menengahi dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Ken dengan Edo. Pada awal penjelasan Bu Nenden tidak percaya bahkan tidak terima jika Edo yang dituduh melakukan perundungan, tetapi setelah Miss Ira memanggil Pak Ahmad—penjaga sekolah—dan Bu Esmeralda—ibu teman akrab Edo—yang menyaksikan kejadian tersebut selain Miss Ira.
Setelah mendengar penuturan para, Murwani meminta maaf pada Wardana. Saat mantan istrinya itu ingin meminta maaf pada Ken, papanya langsung melarangnya. Wardana hanya tidak mau Ken kembali terluka. Biar cukup hanya dirinya yang menerima hal penoreh hati ini. Kali ini tidak hanya Wardana yang terluka tetapi Murwani juga merasa hancur saat dirinya dilarang menemui Ken. Hatinya begitu rindu dengan anak sulungnya. Celoteh Ken yang dulu terasa berisik di telinganya sekarang begitu dirindukannya.
Murwani telihat murung setelah keluar dari kantor PAUD. Jalannya terasa lamban hingga tertinggal jauh oleh mertuanya. Saat melewati ruang kelas Ken, airmata Murwani sudah tidak terbendung lagi. Perempuan yang sebelum menikah berprofesi sebagai model yang cukup diperhitungkan sepak terjangnya di atas catwalk itu, baru merasa menyesal telah meninggalkan anak lelakinya. Semakin teriris batin Murwani saat mendapati anak sambungnya justru berbuat jahat pada anak kandungnya.
Tatapan nanar Murwani hanya tertuju pada bocah berkulit bersih dengan mata agak sipit. Hati Murwani terasa tercabik setelah menerima kenyataan kalau dirinya sekarang hanya bisa memandang dari kejauhan tanpa bisa memeluk raga kecil yang dulu selalu diabaikannya. Akhirnya hanya penyesalan yang membuat dirinya bagai di neraka dunia. Terlebih karena tersiksa rindu pada buah hatinya. Pukulan keras di bahu kanan Murwani membuat perempuan yang sedangserius melihat kedalam kelas mentari terkejut setengah mati.
“Ngapain kamu masih di sini? Ditunggu dari tadi nggak muncul-muncul ternyata malah bengong kayak sapi ompong aja. Buruan, kesiangan kita nanti!” suara Bu Nenden lumayan kencang hingga membuat beberapa orang yang melintas menatap heran kearah mereka.