Bab 1

***

"Naura, jadi luh daftar jadi biarawati?" tanya salah seorang temannya.

"Jadi dong, Aku akan setia pada pendirianku Naya," ucap Naura lembut pada temannya.

"Berarti kamu ga boleh nikah dong, sementara gue mau nikah dan punya anak yang manis dan lucu-lucu," Ucap Naya mantab.

"Iya, Aku aja pengen nikah tapi cowoknya aja yang ga ada," kekeh Mira.

"Ya , Gimana ini udah perjalananku mungkin," Ucap Naura.

"Naura, kamu tuh cantik, pinter the best deh dari kita-kita," ujar Naya heran.

"Gaklah, kita semua cantik dan pinter kok cuma tujuan kita lain aja," Ucap Naura tersenyum simpul.

Di rumah sakit Naura mengitu tes karena masuk ke biarawati itu harus benar-benar suci pemeriksaan pun berlangsung selama Dua jaman.

Setelah pun pulang kerumahnya (di rumah sakit dia tidak tahu apa yang dilakukan Dua Dokter koas yang menanganinya karena dokternya tidak masuk).

"Pak Adrian ini semple sperma bapak yang kemaren saya minta sudah di tes di lab bapak sudah dinyatakan sehat pak," Ucap Dokter sambil menjabat tangan Adrian.

"Te_terimakasih banyak dok," Ucap Adrian sumringah mendengar ucapan Dokter itu.

Sudah tiga minggu perasaan Naura tidak menentu dia pusing sepertinya kurang enak badan dia di suruh Romo pembimbingnya pulang untuk istirahat.

"Anak ibu kok pulang gimana, kamu masih yakin untuk ikut tes itu Nak?" Tanya Ibu Naura sambil duduk di sampingnya.

"Ya, masih dong Bu ini Aku baru pulang dari sana, Aku agak pusing tadi bu," Ucap Naura manja pada Ibunya.

Sebenarnya keluarganya tidak menyetujui keinginan Naura karena dia anak perempuan satu-satunya.

Naura tiga bersaudara dia anak kedua namun demi Anak mereka mengiyakan keinginan Naura.

Tiba-tiba Naura mual dan muntah dan berlari kewastafel dekat kamar mandinya.

"kenapa kamu Nak, " panik Ibunya menghampirinya.

"Gak tau de bu," Ucap Naura lemes.

"Ya sudah. Sebaiknya kita kerumah sakit Ibu takut kamu kenapa -napa," Ucap Ibu Naura pun pergi ke rumah sakit bersama Ibunya.

Di rumah sakit betapa terkejutnya mereka berdua.

"Selamat ya Bu,anak Ibu tengah HAMIL"Ucap Dokter yang menangani Naura.

Betapa hancurnya Ibunya mendengarnya begitu pula dengan Naura.

"Gak mungkin dok saya belum menikah dok dan saya tidak pernah melakukan yang membuat saya mengandung Dok, "Tangis Naura pecah.

" Naura, Ibu kecewa sama kamu," Isak Ibu tidak menyangka kalau putri satu-satunya akan mencoreng nama baik keluarganya.

"Ibu, Aku juga ga tahu Bu demi apa pun Bu saya tidak pernah melakukan yang di larang Ayah sama Ibu jangankan hal ini pacar aku aja ga ada Bu," Tangis isak Naura.

Mereka pun meninggalkan rumah sakit itu. Di rumah Naura benar- benar di sidang.

"Ayo nak jujur sama Ayah, Ayah akan cari laki-laki yang ga bertanggung jawab itu" Lirih Ayah berkaca -kaca.

"Ayah maafin Naura Ayah, tidak tau anak siapa ini Ayah," Ucap Naura bersujud di kaki Ayahnya.

"Ayah terakhir aku ikut tes di rumah sakit mungkin di sana ada Jawabannya" Yakin Naura pada Ayahnya.

Dengan membawa mobil Ayahnya dia menuju rumah sakit Naura berlari menelusuri lorong-lorong rumah sakit tiba-tiba.

"Auuw........!" Naura memegang lengannya.

"Sory, Aku ga sengaja," Ucap laki -laki itu acuh tak acuh.

"Gak...apa aku yang salah ga lihat kamu,"Ucap Naura berlalu pergi meninggalkan laki-laki itu menuju ruangan tempat ia diperiksa tiga minggu yang lalu.

"Dok tiga minggu yang lalu saya ke sini untuk mengikuti tes dok," ucap Naura.

"Terus kenapa mbak?" tanya dokter itu.

" Dok, Sa...Saya ....sekarang lagi_"

"Dok, ini laporannya Dok" Ucap Dokter koas

"Dok. Dokter ini yang menangani saya dok kalau ga salah mereka berdua Dok," Ucap Naura terbata-bata tapi ia yakin.

Dokter koas itu pun terkejut.

"Humm....... Mbak maafin saya mbak saya bukan bermaksud buat mbak jadi ." Ucap Dokter itu gugup.

"Maksudnya apa ini Dok?" Tanya Dokter itu penyasaran.

"Dok, sebenarnya semple sperma Bapak Adrian kami suntikkan ke mbak ini saat mbak ini tes keperawanan Dok," ucap Dokter koas itu terbata-bata.

"Ini ga adil Dok. Bagaimana nasib saya, anak ini," Isak Naura histeris.

"Saya mau tuntut rumah sakit ini dan terutama kamu." tegas Naura.

"Mbak saya tahu Ayah biologis Anak yang mbak kandung ini sebaiknya kita harus cari solusinya mbak," Ucap Dokter itu menenangkan Naura.

"Dok, saya ingin menjadi Biarawati Dok, bagaimana mungkin saya Hamil," Tangis Naura pecah.

"Ini kartu namanya" Ucap Dokter sambil menyodorkan kartu nama pada Naura.

"Oh, Tuhan apa ini jawabanmu atas pertanyaanku mengenai baktiku kepadamu Tuhan." Batin Naura.

Di mobil Naura melirik kartu nama yang diberikan oleh dokter rumah sakit.

"Adrian Admajaya mana mungkin Aku datangin dia dan minta tanggungjawab siapa Aku baginya lagi pula dia juga korban sama sepertiku tapi bagaimana nasibku terutama Anak ini," Lirih Naura menjamah perutnya yang masih rata itu.

Di rumahnya.

"Bagaimana Nak?" Tanya Ibunya langsung.

"Bu, Naura jadi korban malpraktek bu," Ucap Naura layu.

"Jadi bagaimana sayang, apa rencana kamu,yang pasti Ayah akan tuntut rumah sakit itu" Ucap Ayah tegas.

"Yah, Naura ikut keputusan Ayah aja lah, Naur sudah bingung harus bagaimana lagi." Lirih Naura yang di peluk oleh Ibunya.

Keesokan harinya mereka pergi ke rumah sakit meminta pertanggungjawaban rumah sakit itu.

Di kantor Adrian di telpon seseorang.

" Hallo, iya saya Adrian Admajaya ada apa Dok?"

"Apa kah Bapak ada waktu ada yang ingin saya bicarakan"

"ya bentar lagi makan siang bagaimana kalau kita ketemuan di caffe dekat rumah sakit lagi pula kantor saya tidak jauh dari sana Dok," Adrian mematikan ponselnya.

"Ada apa dok bukannya dokter sendiri yang bacakan hasil kesehatan saya" Tanya Adrian penyasaran.

***

Terkuaklah semuanya

Tidak terasa sudah lima Tahun usia pernikahan Adrian dengan Asti tapi mereka belum di karuniai Anak tapi itu tidak membuat mereka kekurangan.

Namun Adrian tidak tahu bahwa Asti berselingkuh dengan sahabatnya sendiri Rangga.

Asti selalu pintar memainkan waktu saat bersama Adrian dan Rangga entah apa yang membuat Asti selingkuh dengan Rangga. 

Padahal apa yang tidak diperbuat oleh Adrian terhadapnya, bahkan ia rela meninggalkan keluarganya demi Asti.

Hari itu Adrian ingin cepat pulang dari biasanya dia tidak sabar melajukan mobilnya pulang untuk menemui istri tercintanya.

Dia parkirkan mobil di pelataran halaman rumahnya. Dia menelusuri setiap ruang rumahnya. Entah suara apa yang membuat Nalon berhenti, betapa terkejutnya dia melihat pemandangan yang tak lazim.

Dia melihat dua insan yang sedang di mabuk kepayang itu sangat menikmati sehingga mereka tidak tahu akan kehadiran Adrian di sana dengan geram Adrian menghempaskan daun pintu kamar tempat dua insan itu berlabu.

Asti dan Rangga seakan tersentak kaget dan langsung memakai baju yang berserakan di lantai kamar tersebut.

Baku hantam pun terjadi "elu anggap apa gue Ga, ini istri gue Ga," hardik Nalon memukuli Rangga.

"Ga ini semua salah loh! Asti ingin Anak .Sementara elu itu ga mampu!" Tangkas Rangga.

"Ga, sudah dong Ga sekarang kamu pulang," Isak tangis Asti memisahkan mereka.

"Untuk apa pernikah ini kita lanjutin lagi dan lu, Ga bukan temen gue lagi." bentak Adrian sambil menunjuk Rangga.

Dan pergi keluar Rumahnya dia menggas mobil dengan kecepatan penuh.

Sudah dua minggu berlalu Rangga bebas berjalan bersama dengan Asti walau dia tahu Asti masih istri sah Adrian.

Sementara Adrian kini hidupnya hampah tanpa canda tawa Asti lagi. Dia bekerja seperti biasa dan dia sudah mantab untuk berpisah dengan Asti dalam benaknya tidak mungkin lagi diteruskan karena ini menyangkut harga diri sebagai laki-laki.

Di sidang pertama Asti tampak mesrah menggandeng selingkuhannya sedangkan dia hanya sendiri tidak ada yang menemaninya. Minggu ke minggu mereka telah resmi berpisah

"Ini sudah saatnya aku bangkit dari keterpurukan." Ucap Adrian optimis.

Bahkan sekarang dia ingin memeriksakan kesehatannya dia yakin bahwa dia laki-laki yang berguna.

"Pak ini hasil labnya pak sebenarnya bapak ini bisa sembuh kok pak asal bapak mau hidup sehat tidak merokok dan jangan sering begadang pak," Ucap dokter yang menanganinya.

."T..terima...kasih dok, " Ucap Adrian gugup bahagia mendengar ucapan dokter barusan.

Dia mengayunkan langkah kakinya menuju mobil di parkiran.

"Aku akan buktikan sama kamu Asti bahwa aku laki-laki sehat," Batin Adrian.

Satu bulan kemudian dia kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya lagi.

Bersambung...

Bab 2

***

Adrian saat itu di rundung cemas karena pertemuannya dengan Dokter yang menanganinya itu. Ada rasa mencurigakan jika Dokter ingin bertemu bisa saja kan dia sendiri ke rumah sakit atau ke tempat praktek Dokter itu?

"Ada apa dok, saya jadi penyasaran," ucapnya pasti.

"Pak, saya minta maaf karena ulah calon Dokter yang tidak bertanggung jawab membuat bapak tengah ada masalah," ujar Dokter itu tanpa berpikir lagi.

"Masalah apa Dok!"

"Bapak, Bapak akan segera mempunyai anak dari seorang wanita yang juga pasien saya pak," tukas Dokter itu.

"Apa? mana mungkin Dok.Yang benar saja Dok, saya ini baru dinyatakan sembuh lalu Dokter bilang kalau saya akan segera punya Anak," pungkas Adrian tidak percaya atas ucapan dokter itu.

"Wanita ini ingin memeriksa kesuciannya pak, tapi malah di sabotasi oleh Dokter koas yang menjadi bimbingan saya ketika saya tidak datang praktek pak" Ucap Dokter itu merasa tidak enak hati pada Adrian.

Adrian terkejut seakan tidak percaya kalau ia akan mempunyai Anak, bangga rasanya kalau ia bukan laki-laki yang gagal tapi mana mungkin dia akan menikahi Ibu dari Anaknya itu karena pernikahan bukanlah mainan.

Apa lagi dia baru kehilangan wanita yang dia kagumi tapi sekaligus ia benci tapi apalah daya Asti ingin memiliki keturunan darinya. Karena itu Asti selingkuh dengan sahabatnya sendiri.

"Ini pak, kartu nama alamat wanita itu pak," Ucap Dokter tersebut seraya memberikan alamat Naura padanya.

"Dok, saya tidak mengerti maksud Dokter menyerahkan ini ke saya. Ini terlalu cepat untuk saya apa benar Anak yang di kandung olehnya adalah darah daging saya 5 tahun lamanya dok saya menantikan dan saya harapkan untuk segera mendapatkan seorang anak ini hanya sekejap saja dokter bilang saya akan mempunyai seorang Anak. Saya bingung saya bahagia atau terkejut karena saya tidak mengenali wanita yang mengandung Anak saya itu dok bagaimana saya untuk mempertanggungjawabkan ke dia dokter sementara saya belum pernah bertemu dengannya." ucap Adrian membatu.

Dia sangat serasa tidak percaya dengan semua ini takdir Tuhan memang begitu penuh dengan teka-teki yang begitu sulit untuk di tebak masih harus di jalani.

Di satu sisi keluarga besar Naura telah berkumpul untuk mencari solusi dan mencari tahu siapa Ayah biologis Anak yang di kandung oleh Naura.

Begitu rumitnya mereka merembukkan masalah yang begitu besar menimpah Naura karena cita-citanya menjadi Biarawati akan kandas karena dia sedang mengandung yang tidak tahu siapa asal usul dari Anaknya dan keluarga besarnya untuk menuntut rumah sakit yang yang yang merugikan dirinya itu tapi sayang malah melintang 2 dokter koas itu hanya di isomasi hanya diberhentikan dan pihak rumah sakit tidak mau tahu karena tidak menyangkut nyawa pasien.

Dokter yang menangani Naura itu hanya memberi alamat agar keluarga Naura bisa menanggapinya dengan jalur kekeluargaan karena laki-laki yang benihnya tumbuh di rahim Naura adalah laki-laki yang baik bahkan keluarga yang terpandang di kota tersebut.

Dengan membulatkan hati kedua orang tua Naura Lideoni menemui keluarga besar Adrian dengan tekad agar Putri satu-satunya bisa menikah dengan Ayah biologis dari Anak yang di kandung Naura.

Keluarga besar Adrian menyambut dengan hangat karena ayah Adrian itu adalah Donatur di gereja yang merupakan milik yayasan Ayah Naura.

Oleh sebab itu mereka tidak mempermasalahkan karena ini sudah takdir Tuhan karena Adrian anak mereka ingin segera memiliki keturunan mungkin ini sudah jalannya mempunyai Anak dari wanita yang tidak ia cintai bukan paksaan tapi ini adalah rencana Tuhan tapi Adrian masih penasaran dengan Naura.

Oleh sebab itu dia ingin terlebih dahulu ingin menemui Naura di kampusnya. Di sisi lain Naura masih membesar hati dia tetap pergi ke kampus seperti biasanya tak ada bedanya karena kandungannya masih terbilang masih kecil.

Hari itu sangat panas menelusuri parkiran hari ini dia akan pulang ke rumahnya dengan menggunakan taxi.

Dia terlihat menunggu taksi di pelataran kampusnya itu cuaca saat itu cukup terik Adrian yang sedari tadi telah menunggunya di parkiran dia mendapatkan alamat serta biodata Naura melalui mata-mata yang ia sewa untuk menyelidiki Naura karena dia tahu hari ini Naura ke kampus.

" Naura Lideoni. " panggil Adrian menghentikan langkah kaki Naura yang menoleh padanya.

Naura mengawasi Adrian karena Adrian memanggilnya.

"Nama kamu Naura Lideoni bukan," Tebak Adrian ragu-ragu.

" Oh sepertinya aku juga pernah melihatmu tapi di mana ya, " ucap Naura menebak-nebak karena mereka sempat bertemu beberapa waktu di rumah sakit saat Adrian ingin mengambil hasil lab-nya.

"Kenalin nama aku"_

"tunggu, Aku buru-buru dan Aku tidak mengenalmu, " ucap Naura ingin berlalu pergi karena dia begitu tertutup dengan orang yang baru ia kenal.

" aku ke sini ini memang ingin menemuimu. Kita perlu bicara, "

"Maaf aku tidak bisa. Aku buru-buru " ucap Naura mempercepat langkahnya.

" Aku tahu kamu lagi mengandungkan, karena Anak itu adalah Anakku." ungkap Adrian pelan tapi begitu menusuk ke telinga Naura dan menoleh seakan marah atas ucapan Adrian yang mengaku dialah Ayah biologis Anaknya.

"Apa buktinya kau adalah Ayah biologis dari Anak yang aku kandung ini, jaga ucapanmu. Berhentilah untuk memperolok karena Aku tidak mengenalmu. Iya Aku memang sedang mengandung bahkan Aku tidak tahu Anak ini dan karena Anak ini Aku kehilangan cita-citaku semua itu membuat aku sangat frustasi. Aku tidak menginginkan Anak ini tumbuh di rahim ku Aku tidak tahu aku harus marah, kecewa, apa Aku masih menginginkan dunia ini karena itu Tuhan menitipkan Anak ini di rahimku mungkin Aku tidak sungguh-sungguh untuk menjadi pelayannya." ujar Naura mengumpat kesal.

" Aku ingin menikahimu, kita akan membesarkan Anak ini bersama-sama."

" tapi Aku tidak ingin menikah denganmu Karena Cinta bagiku itu tidak akan mudah aku akan bersamamu hingga maut yang memisahkan kita nantinya. Bagaimana mungkin aku menjalani rumah tangga tanpa cinta, " ucap Naura.

"kita harus bicara serius Adrian meraih tangan silla udah mereka masuk ke dalam mobil Adrian mereka mampir ke sebuah kafe mereka terlihat bicara serius.

" kau tahu Ayah dan Ibumu sudah datang ke rumahku untuk menemui keluarga besarku dan keluarga besarku menyetujuinya kalau kita berdua akan segera menikah, " ucap Adrian serius.

" Aku yakin semua ini. Ini sudah ada yang mengaturnya kita tinggal menjalani saja tapi aku tidak mau pasrah, aku sangat terpuruk dan aku tidak mau mempermainkan pernikahan hanya karena anak ini "Ucap Naura Lirih.

"Dulu aku sudah pernah menikah bahkan tergolong cukup lama hingga 5 tahun tapi rumah tangga ku kandas juga Karena Aku belum bisa memberikan keturunan untuk istriku sekarang dengan kesalahan yang tidak pernah ku buat kamu dinyatakan mengandung Anakku dan Aku ingin bertanggung jawab untuk menikahimu tapi kau tetap menolaknya kau tidak boleh naif Naura, tidak mudah membesarkan anak tanpa figur seorang ayah ucap Adrian tegas.

bersambung....

Bab 3

***

Setiap insan jika adanya suatu pernikahan pastilah di dasari dengan adanya cinta yang tulus yang bertepi.

Tapi bagaimana dengan Naura dan Adrian?

Naura tetap bersikukuh untuk menolak niat baik dari Adrian tapi semua itu tetap diperjuangkan oleh Adrian. Akhirnya Adrian mendatangi rumah keluarga Naura agar Naura bisa menyetujui keinginannya untuk menikahinya.

" Berhentilah untuk membuat malu Nak! niat baik laki-laki ini jangan kau sia-siakan jika kau hanya membuat kami malu Lebih baik kau pergi dari rumah ini?" ancam Ayah Naura meninggikan suaranya.

Mendengar itu Naura terkejut dia tidak menyangka jika Ayahnya mengatakan hal yang sangat menyakitkan.

"Ayah, bagaimana Aku bisa menikah dengannya Aku akan hidup bersamanya selamanya bagaimana aku bisa hidup dengan orang yang tidak aku cintai Ayah," tukasnya menolak.

"Naura, Aku juga tidak mencintaimu tapi aku rela menikah denganmu dan hidup bersamamu nanti demi anak yang kau kandung itu," sambung Adrian kesal dengan pemikiran wanita yang menurutnya ke kanak-kanakan.

"Beri Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku tidak mau cepat untuk menentukan keputusan, " pinta Naura.

" Hingga perutmu membuncit, dan semua orang tahu kalau kau mengandung dan kau ingin membuat orang tuamu ini malu. Kalau tidak, aku tidak mau lagi dan berpikirlah siapa orang yang akan menikahimu. " pungkas Adrian murka dan meninggalkan kediaman keluarga Naura.

Naura berlari ke kamarnya dan menangis melihat itu Ibunya masuk ke kamar untuk menyusulnya.

"Seharusnya kamu mau saja di nikahi laki-laki itu Nak, kau ingin menanggung aib dan semua itu kau tidak boleh memikirkan egomu saja Nak, pikirkan kami, terutama bayi yang ada dalam perutmu ini, " Ucap Ibunya pelan seraya memegang perut ratanya.

Ibunya pun berlalu dari kamar Naura.

Malam itu Naura tidak bisa tidur dia memikirkan perkataan Adrian laki-laki yang baru di kenalnya itu hingga pagi hari dia yang makan bersama ke dua orang tuanya dan Adik serta dan kakaknya.

"Bu, Ayah, Naura sudah memutuskan jika Naura mau menerima pinangan Adrian. Ayah biologis Anak yang Naura kandung ini, " ujar Naura mantab di sela-sela makan mereka bersama keluarganya.

Ibu dan Ayahnya pun memutuskan untuk pergi kediaman keluarga Adrian dan memberitahu pada orang tua Adrian jika Naura sudah menyetujui pernikahan antara dia dan Adrian.

Mereka juga merundingkan pernikahan kedua Anaknya itu. Tapi Adrian yang baru datang langsung keberatan karena baginya Naura begitu menghinanya seakan wanita itu menganggapnya laki-laki yang murahan.

"Maaf Om, saya keberatan. Biarkan saja Anak Om itu melahirkan Anak tanpa suami. " sangkal yang berlalu dari obrolan mereka.

" tapi Nak, mengertilah, Naura itu masih labil dia masih terlalu naif karena dia ingin menjadi Biarawati. Namun karena kondisinya yang sekarang membuat dia sangat frustasi mengertilah Nak," mohon Ayah Naura dengan wajah tidak semangat.

"Om, saya sangat merasa terhina saya memang ingin menikahinya karena dia mengandung Anak saya. Tapi Om, lihat sendiri seolah saya yang menghamilinya." sergah Adrian mendengus.

"Maafkan Anak Om, sebenarnya Om, tidak setuju jika Naura menjadi Biarawati. Karena Naura adalah putri Om satu-satunya Nak, mungkin inilah jawaban Tuhan jika Naura masih di ikatkan dengan dunia" ujar Ayahnya.

"Baiklah Om, Saya setuju tapi Naura harus menemui saya besok ke kantor. Karena bagaimana pun kami yang akan menikah dan hidup bersama." Ucap Naura tegas.

Ibu dan Ayahnya pulang dari kediaman keluarga Adrian. Dan menceritakan pada Naura. Naura juga menyanggupi Ibunya kalau besok ia harus menemui ke kantornya.

Hari dan jam telah di tentukan Naura menemui Adrian ke kantornya dia mendapatkan alamat dari kartu nama Adrian.

Terlihat Naura menaiki liff dia sedikit mual waktu itu tapi dia berusaha untuk baik dia tetap ingin menemui Adrian.

Naura menemui resepsionis dan menayai ruangan Adrian.

Naura di antar oleh seseorang yang akan menemui Adrian.

"Mbak siapanya Bapak," Tanya wanita yang bertubuh semampai itu pada Naura.

Naura tersenyum mendengar ucapan sekretarisnya Adrian.

"Calon istri saya Melfa," sambung Adrian datar.

Mendengar ucapannya Naura tersenyum tipis seolah mengiyakan perkataan Adrian.

Mendengar ucapan bosnya Melfa tersenyum ramah dan meninggalkan berkas yang ia letakkan di atas meja kantor Adrian dan berlalu pergi dan menutup pintu ruangannya.

"Ada apa kamu menyuruhku ke sini?" Tanya Naura langsung.

"Aku ingin mengajakmu ke butik dan prewed," ujar Adrian langsung.

Naura hanya diam dan mengikuti alur saja.

"Kamu ada tema gak, mungkin kamu ingin pernikahan yang mewah atau yang bagaimana," ujarnya pasif.

"Terserah apa yang kau mau saja," Ucap Naura yang tiba-tiba ingin muntah dan berlari ke toilet untung saja toiletnya ada di ruangan Adrian.

"Kamu tidak apa-apa kan atau kita batalkan hari ini," Ucap Adrian khawatir.

"Tidak. Aku tidak apa-apa, karena ini memang sangat menggangguku," keluh Naura yang akhir-akhir ini hormonnya sering berubah-ubah.

"Jadi Anakku ini sangat mengganggumu ya," Ucap Adrian mendaratkan tangannya ke perut Naura yang masih rata itu.

"Jaga batasanmu kau belum berhak atasku. " Naura menepiskan tangan Adrian.

Adrian tersenyum kecut karena sudah lancang memegang perut wanita yang terlihat tidak menyukainya.

Mereka tetap pergi dan melakukan sesi pemotretan. Mereka juga makan bersama Adrian pun mengantar Naura untuk pulang.

"Berhenti." ucap Naura memegang tangan Adrian yang sedang menyetir mobilnya.

"Aku mau ice cream," Lirih Naura seakan ingin memohon.

Membuat Adrian tersenyum renyah.

"kamu mengidam ya?" ledek Adrian dan memberhentikan laju mobilnya mereka mampir ke kedai ice cream tersebut.

"Kamu mau ice cream rasa apa"

"Vanila blue dan strawberry " seru Naura dengan Penuh semangat membuat Adrian mengguncang lembut pucuk rambut Naura dan Adrian pun memesan ice cream yang di pinta oleh Naura.

Adrian pun datang dengan membawa dua cup ice cream yang sesuai dengan yang di pesan oleh Naura.

Naura sangat lahap memakan icecreamnya.

"pelan-pelan jika kamu mau aku bisa memesannya lagi," Ucap Adrian merasa konyol karena baru ini dia melihat wanita hamil yang mengidam.

***

Telah di sepakati oleh pihak keluarga mereka mengadakan pernikahan yang begitu singkat tapi mewah karena keluarga Adrian adalah salah satu orang yang terpandang di kota tersebut.

Begitu pula dengan orang tua Naura keuskupannya begitu sangat terhormat bahkan undangannya juga melibatkan orang-orang penting mereka melakukan pemberkatan di gereja Katerdal begitu sempurna hiasan corak putih mawar yang begitu sepadan terlihat sederhana tapi mewah kesannya sangat dramatis nuansanya putih dan mas yan sangat mewah.

Saat itu Naura memakai gaun slayer putih yang terjuntai ke bawah hingga menyapu lantai selaras dengan Adrian yang memakai jas slim berwarna putih begitu tampannya dan cantiknya hingga mata tertuju kepada mereka berdua wajah Adrian begitu ramah walau ia tak sebahagia wajahnya karena ini terlalu cepat baginya.

Inilah yang menentukan kehidupan baru Naura dan Adrian saat Pastor berkumandangkan pemberkatan.

"Saudara Adrian Admajaya apakah engkau bersedia menjaga dan melindungi Naura Lideoni dengan baik suka atau pun duka hingga kematian yang akan memisahkan kalian?"

"Saya Adrian Admajaya bersedia menjaga dan melindungi Naura Lideoni baik suka atau pun duka hingga kematianlah yang akan memisahkan kami berdua," Ucap Adrian penuh keyakinan.

Begitu pula dengan Naura

bersambung.....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED