Bab 1

Bertahan atau Tersiksa

Keduanya bukanlah sebuah pilihan, tetapi sudah menjadi tuntutan

»|«

Hari Sabtu yang ke 18 kalinya, dilingkari pada kalender itu. Pintu kamarnya di buka oleh Irma, Mamanya.

“Apa yang kamu lihat? Cepat mandi, jangan lupa bersolek secantik mungkin.”

Jihan Adiztya, gadis yang akan menginjak usia 18 tahun tersebut menghela nafasnya kasar, berjalan dengan gontai ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hanya butuh waktu 10 menit, Jihan keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang di pakainya.

Setiap malam Minggu sudah menjadi rutinitas untuk dirinya berpenampilan cantik dari sore hingga tengah malam. Jihan merasa seperti putri Cinderella yang berubah menjadi cantik dalam sekejap hingga melupakan siapa dirinya sendiri.

Jihan menatap tubuhnya yang terbalut gaun mini berwarna fanta yang sangat kontras. Warna kulitnya tidak seputih susu, namun warna kulitnya bersih dan cocok untuk warna kulit di Indonesia.

Tubuhnya kecil dan berisi di usianya saat ini, wajahnya pun tergolong cukup menarik untuk di lihat. Tatapannya berubah menjadi buram tertutup oleh genangan air di pelupuk matanya.

Jihan menggeleng, mencoba mengedipkan matanya berkali-kali agar tak menangis. “Astaga! Lo udah buang-buang waktu.”

Kaki jenjang yang menggunakan heels setinggi tujuh sentimeter itu menuruni anak tangga dengan langkah yang cukup tergesa-gesa. “Maaf, Pa, Ma.”

“Enggak apa-apa, telat 5 menit masih bisa Papa beri toleransi asalkan kamu bisa menarik hati Bara, lelaki yang akan kamu temui malam ini,” ucap Rehan, Papanya dengan nada yang dingin.

Perjalanan yang di lewati sangat lancar tanpa ada hambatan seakan mendukung untuk perjodohan kali ini. Jihan tersadar dari lamunannya, ketika Irma menarik tangannya yang kini posisinya menjadi di antara Irma dan Rehan.

“Ingat! Jaga sikap dan jadi seanggun mungkin, supaya perjodohan kali ini kamu enggak di tolak lagi.”

Jihan mengangguk, lalu melebarkan senyumnya seolah tak ada apa-apa. Padahal jauh di lubuk hatinya ini sedang di landa kegundahan setiap kali ada pertemuan dua keluarga di lakukan.

Rehan dan Irma berdiri saat melihat kedatangan keluarga Rama. Hal tersebut membuat Jihan ikut berdiri dari duduknya menyambut mereka bertiga.

“Selamat malam, Pak Rama.”

Rama tersenyum. “Tidak usah formal begitu, apalagi kita akan menjadi besan.” Lelaki itu menoleh ke arah Bara. “Kenalkan diri kamu.”

Bara tersenyum mengulurkan tangannya ke hadapan Jihan yang langsung di balas oleh gadis itu. “Perkenalkan saya Bara Baskara.”

“Jihan Adiztya,” balas Jihan dengan senyum manisnya yang membuat Bara terpesona selama beberapa saat.

“Sebelum berbicara ke masalah inti, lebih baik kita makan malam terlebih dahulu,” ucap Rama.

»|«

Makan malam telah usai. Kini, saatnya untuk Rama dan Rehan berbicara penting mengenai hubungan kedua anak mereka ke depannya.

“Berhubung Bara setuju, saya tak ingin basa-basi lagi. Sebelumnya, Jihan setuju juga dengan perjodohan ini ‘kan?”

Rehan tersenyum menatap Jihan seolah memberi kode dengan tatapan tajamnya itu. “Tentu saja, Jihan setuju sejak dia tahu kalau akan di jodohkan. Betul ‘kan, nak?”

“Iya, Pak Rama. Jihan percaya dan menerima perjodohan ini karena Jihan yakin pilihan orang tua adalah yang terbaik.”

“Masa remaja kamu, gimana?” tanya Nita seraya memegang tangan Jihan.

“Enggak apa-apa, Bu Nita. Jihan ikhlas selagi bisa menjadi istri yang di idamkan oleh Mas Bara.”

Kelima orang yang ada di meja makan ini tersenyum mendengar jawaban dari mulut Jihan.

Bara memegang kedua tangan Jihan dengan senyum di bibirnya. “Saya percaya kamu yang terbaik untuk saya.” Lelaki itu menoleh kepada kedua orang tuanya. “Percepat pernikahan kami bulan depan, Pa.”

“Baiklah, dua bulan lagi setelah acara kelulusan Jihan, pernikahan segera di laksanakan di tanggal 11 Juli nanti.”

»|«

Esok harinya.

Jihan menempelkan sticky notes yang sudah di tulisnya ke cermin rias yang ada di kamarnya. Tertulis sebuah tanggal dimana dia dan Bara akan melaksanakan sebuah pernikahan yang di dalamnya tak terdapat ikatan cinta. Pikirannya melayang saat acara makan malam kemarin.

Petir bergemuruh membuyarkan lamunan Jihan akan kejadian tadi malam. Dia berjalan ke belakang pintu kamarnya mengambil sepatu heels-nya lalu berjalan keluar kamar setelah memakainya.

“Ma, Jihan hari ini harus keluar rumah sebentar. Mas Bara ngajak Jihan makan di luar.”

“Ya sudah, taklukan hati dia. Kalau perlu kamu jangan pulang ke rumah sebelum dia bertekuk lutut di hadapan kamu.”

Jihan mengangguk berjalan keluar rumah untuk menemui Bara yang sudah berada di depan rumah. Tanpa menunggu lama, Jihan langsung masuk ke dalam mobil putih milik Bara. “Kita mau kemana, Mas?”

“Makan malam dulu, ya. Setelahnya kita jalan-jalan supaya kenal lebih dekat lagi.”

“Iya, Mas.”

Mobil Bara berhenti di salah satu restoran khas Jepang. Keduanya turun dari mobil dan berjalan dengan tangan yang saling berpegangan. Lebih tepatnya, Bara yang memegang tangan Jihan.

Selagi menunggu pesanan datang, Bara menatap Jihan yang membuatnya kembali terpesona hanya melihat wajahnya yang sedang menatap ke luar jendela.

“Jihan.”

Jihan menoleh dengan senyum yang mengembang. “Iya, Mas?”

“Kamu enggak keberatan dengan perjodohan ini? Apalagi kamu masih sekolah.”

“Enggak, Mas. Lagi pula menikah muda apa salahnya?”

Bara menggenggam tangan Jihan. “Jika ada masalah bisakah kamu berbagi dengan saya? Kita lewati bersama-sama.”

Hal itu sontak membuat hati Jihan bergetar karena tak pernah mendapat perhatian khusus seperti ini.

“Terima kasih, Mas. Aku akan coba lebih terbuka lagi. Begitu pula sebaliknya, Mas juga bisa ‘kan terbuka dengan Jihan?”

“Iya.”

Percakapan itu terpotong karena pesanan mereka sudah datang dan memutuskan untuk menghabiskan makanan masing-masing.

»|«

Hujan deras mengguyur kota malam ini membuat Jihan dan Bara terjebak macet. Keduanya tak memiliki tujuan setelah makan malam tadi.

“Kayaknya cuaca malam ini kurang mendukung, kita pulang aja, ya?”

“Ehm– terserah, Mas Bara aja.”

“Oke, saya antar kamu pulang lagi.” Bara tersenyum seraya menoleh kepada Jihan.

Mobil Bara berhenti tepat di pekarangan rumah Rehan. Sebelum Jihan turun dari mobilnya, dia menahan sebentar gadis itu. “Besok pagi, saya jemput untuk berangkat ke sekolah kamu.”

Jihan mengangguk seraya tersenyum. “Mas, enggak akan mampir dulu?”

“Enggak perlu, sudah terlalu malam buat bertamu. Setelah ini langsung istirahat, ya. Saya pamit pulang sekarang.”

“Hati-hati, Mas.” Tangan Jihan terulur untuk mencium punggung tangan Bara membuat sang empu melongo dibuatnya.

Setelah itu, Jihan keluar dari mobil Bara dan berjalan masuk ke dalam rumah saat mobil lelaki itu sudah menjauh.

“Kenapa pulang?”

Pertanyaan ini langsung di lontarkan oleh sang Mama membuat Jihan menatapnya diam.

“Mas Bara yang anter pulang, Ma. Lagi pula besok Mas Bara mau anter Jihan sekolah.”

“Bagus, tandanya Bara sudah mulai tertarik dengan kamu,” ucap Rehan seraya menepuk bahu putrinya.

“Jihan pamit ke kamar dulu.”

Di kuncinya kamar itu, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya.

“Ke depannya akan ada apa lagi yang terjadi?”

»|«

Bab 2

Memasang topeng agar terlihat baik adalah keseharianku

»|«

“Jihan!”

Jihan menoleh saat namanya di panggil oleh seorang gadis berambut sebahu, dia adalah Resa, teman satu kelasnya.

“Hari ini, lo enggak usah piket. Soalnya kemarin lo udah isi jadwal piket orang. Jadi, sekarang di ganti sama orang yang kemarin enggak piket.”

Jihan mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan Resa yang berada di sampingnya.

“Eh! Sekarang razia, woy!”

Seketika kelas tersebut riuh dengan para siswa ataupun siswi. Kebanyakan dari mereka membawa barang yang di larang sekolah. Berbeda dengan Jihan yang santai sekali karena dirinya tahu, jika untuk kelas 12 akhir tidak akan ada razia sebab sudah bebas.

“Han, lo bisa enggak, jangan halangi kita yang mau nyembunyiin barang di tempat itu? Awas!”

Tubuh Jihan terdorong oleh Sherly yang sibuk menyimpan seluruh barang yang di bawanya ke sekolah.

“Dih,” decih Jihan pelan seraya menaikkan bahunya acuh, memilih memainkan ponselnya dengan posisi berdiri di samping papan tulis.

Namun, yang terjadi keadaan kelas semakin kacau membuat Beni dan Dion selaku ketua serta wakil ketua kelas sempat kelimpungan di buatnya.

Dengan malas, Jihan berjalan hendak membuka pintu kelas tetapi sudah lebih dulu di ketuk oleh salah satu guru mata pelajaran Sejarah di sekolahnya. “Jihan, lagi apa?”

Dikantongi ponselnya seraya menutup sedikit pintu kelas. “Kenapa, Bu?”

“Lagi pada ngapain? Ada kuis, ya?”

Jihan menggeleng. “Enggak ada, Bu. Kebetulan lagi jam kosong, ada yang bisa di bantu?”

“Hari ini ada promosi kampus lagi dari Universitas di Bandung. Bantu keadaan menjadi kondusif, ya?”

Mata Jihan melirik pada ke lima mahasiswa di belakang Bu Ani yang ternyata lelaki semua sedang tersenyum kepadanya. “Ehm– langsung bicara sama Beni aja, ketua kelasnya, Bu,” tolak Jihan dengan sehalus mungkin.

“Kamu aja, deh. Ibu masih harus antar perwakilan ke kelas lain.”

Jihan hanya bisa mengangguk pasrah, lalu tersenyum kepada mereka. “Sebentar, ya, kakak-kakak.” Setelah itu, Jihan mengintip ke dalam kelasnya. “Hey, instruksi sebentar! Hari ini ada promosi kampus lagi.”

Semuanya bersorak antara senang karena razia tidak jadi, namun tak urung kesal sebab sudah bersusah-payah menyembunyikan barang yang ada.

“Info yang lo bilang itu palsu tahu enggak sih, Dan!” Sherly melempar kertas yang sudah gulung olehnya kepada Dani.

“Gue juga tahu dari kelas sebelah!” jawab Dani tak terima di salahkan.

Jihan menghela merasa lelah, lalu menoleh menatap Beni yang kebetulan sedang menatapnya. “Ben, suruh diem, gih!”

Tangan Beni mencolek ujung dagu lancip Jihan. “Oke, Jihan sayang.”

Jihan kembali berdiri tegak menatap kelima mahasiswa di hadapannya. “Maaf ya, kak. Tadi di dalam lagi kurang kondusif, mohon dimaklumi. Mari, kak.”

Pintu kelas tersebut terbuka dengan lebar membuat keadaan kelas seketika hening saat kelima mahasiswa masuk ke dalam kelas.

“Sebelumnya, perkenalan dahulu, ya. Nama saya Daniel Ranendra.”

“Nama saya Kenzo Syahputra. Kami berdua sebagai informan di kegiatan promosi kali ini. Untuk kakak yang di balik layar laptop itu adalah Arfiano, kalau yang memegang kamera adalah Revan Rakana dan yang memegang brosur itu Genta Nathaleon.”

Daniel menggulung lengan almamaternya hingga sebatas siku. “Kami semua perwakilan dari Universitas Tanah Jawa yang ada di Bandung.”

“Jauh amat, sampai ada di Bogor.”

Celetukan dari Dani mendapat sorakan dari teman siswi di kelas ini membuat lelaki itu mendengus sebal. “Monggo, lajutkan pembicaraannya, Kang.”

Daniel dan Kenzo kembali melanjutkan pembicaraannya hingga selesai. Saatnya pembagian brosur oleh Genta, tepat di meja Jihan yang duduk bersama Kia. Dengan sengaja Genta menyelipkan sebuah notes kecil di telapak tangan Jihan.

Jihan menunduk guna membuka kertas tersebut yang terdapat sebuah tulisan kecil.

Pulang sekolah nanti, kutunggu di halte dekat sekolah ya, cantik.

Jihan tersenyum kecil, lebih tepatnya sinis. Dengan mata yang kembali tertuju pada proyektor, tangannya menyobek kertas itu dan membuangnya di bawah meja.

»|«

Pukul 1 siang, Jihan mengecek ponselnya guna melihat notifikasi yang masuk. Selepas istirahat tadi, Bara meneleponnya untuk memberitahu bahwa lelaki itu akan menjemput.

Berhubung hari ini, ada jadwal treatment di salon membuatnya hendak menghubungi Bara. Namun, niatnya terhenti saat panggilan masuk dari lelaki itu.

“Jihan?”

“Iya, Mas?”

“Maafkan saya, hari ini ada rapat mendadak yang tidak saya tahu. Saya sudah memesan ojek online untuk kamu pulang. Hati-hati, ya.”

Jihan menghela pelan. “Iya, enggak apa-apa, Mas. Semangat kerjanya untuk hari ini.”

“Terima kasih, Jihan. Kabari saya setelah sampai rumah.”

“Iya.”

Panggilan tersebut berakhir seiring helaan nafas keluar dari mulutnya.

“Kenapa?” Suara berat milik lelaki datang dengan tiba-tiba.

Jihan menoleh ke samping kanannya dengan cepat. “Kak–” Dia menggantungkan ucapannya sebentar sebab bingung siapa sosok di depannya saat ini.

“Genta.” Seulas senyum manis menghiasi wajah Genta.

“Yang ngajak ketemuan di halte?”

Genta menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya terkekeh canggung. “Iya, ini juga mau ke sana.”

“Ngapain? Orang aku udah disini.” Jihan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Genta. “Kakak itu laki-laki, harusnya temui aku duluan, bukan aku yang temui kakak.”

Wajah Genta bersemu karena malu. “Iya, ngomong-ngomong aku pernah lihat kamu ada di hotel Alaska waktu itu. Pernah di booking?” Namun, sedetik setelahnya Genta memukul bibirnya yang kelewat mulus sekali saat berbicara.

Jihan melipat kedua tangannya di depan dada. “Ini cowok, to the point banget sih,” gerutu batinnya. “Memang kakak mau apa?”

Genta mengusap dagunya. “Mau aja kamu ikut kajian.”

“Ngapain?” Kening Jihan mengerut bingung.

“Kajian lah, siraman rohani. Kali aja hati kamu jadi adem,” ucap Genta dengan senyum khasnya.

“Secara enggak langsung kakak sebut aku hawanya panas, ya?” Jihan berjalan satu langkah untuk berbisik. “Aku dan kakak itu berbeda.”

Setelah berbisik seperti itu, Jihan berjalan mundur, lalu berbalik guna berjalan meninggalkan Genta yang terdiam.

Daniel, Kenzo, Fian dan Revan menghampiri Genta dengan tawa yang menghiasi.

Revan merangkul bahu Genta. “Seorang Genta, coy. Ditolak sama cewek, mana bening banget lagi.”

“Dia ‘tuh punya manis. Jadi, cantiknya enggak bikin bosan,” sahut Fian.

Daniel berhenti dari tawanya. “Awal mula pertemuan yang cukup menguras harga diri.”

“Minta di getok semuanya.”

“Eh– gue enggak ikutan, ya.” Kenzo menggeleng lalu berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya. Dia memilih pergi lebih dulu meninggalkan sahabatnya yang masih sibuk meledeki Genta.

»|«

Bab 3

Aku kembali dibodohi oleh orang yang mengaku baik padaku

»|«

Jihan merapikan tempat yang sempat berantakan karena tertiup angin malam. Saat ini, dia sedang menemani Bara untuk makan malam di sebuah restoran terbuka yang terdapat di salah satu hotel Bogor.

Langkah kaki Bara yang terdengar dari sepatu pantofelnya membuat Jihan menoleh, memberikan senyum khas miliknya. “Sudah selesai, Mas?”

“Sudah. Kalau begitu Mas antar pulang sekarang, ya?” ajakkan Bara langsung di balas anggukan oleh Jihan.

Seperti malam-malam sebelumnya, Jihan selalu di jemput atau kadang-kadang melakukan janji temu dengan calon suaminya hanya untuk menemani Bara makan malam sekaligus melakukan pendekatan lebih dalam lagi.

Uluran tangan kokoh itu di sambut dengan lembut oleh Jihan yang tersenyum seperti biasanya. “Mari, Mas.”

Bara tersenyum, semakin terkagum pada Jihan yang dapat menyesuaikan diri dengannya cepat. Padahal dalam jarak umur, mereka berdua terpaut cukup jauh yaitu lima tahun. Bukankah jika bersama mereka akan memiliki perbedaan yang kontras serta seringnya bertengkar karena pertentangan yang tak sejalan?

Jihan berdiri dari duduknya di bantu Bara. Pegangan tersebut terlepas karena gadis itu menduk untuk membenarkan letak roknya yang sempat terlipat. Setelah selesai, keduanya pergi meninggalkan restoran tersebut tanpa menyadari ada mata yang memperlihatkan tajam dengan senyum memandang remeh pada Jihan dan Bara.

»|«

Hari pertama Ujian Nasional.

Pagi hari di SMK Pramudya kekhawatiran sekaligus kekhawatiran yang terjadi di antara para siswa-siswi. Tak ada siswa yang nongkrong di warung samping sekolah untuk merokok, ada siswi yang bergosip ria di kantin ataupun di depan kelas. Hanya ada penampakan yang memegang buku serta ocehan-ocehan yang mengingat pelajaran.

Jangan salah sangka, meski begitu tetap saja ada siswi yang bergosip dan siswa laki-laki pun tak segan untuk ikut bergosip ria karena penasaran.

Bagaimana tidak, foto Jihan yang memakai gaun pendek bersama Bara di sebuah restoran hotel pada malam hari itu mengundang berbagai asumsi dan tersebar dari satu ponsel ke ponsel lainnya, meski belum sampai ke telinga guru.

Semalam, Jihan pulang terlalu larut setelah menemani Bara makan malam. Alhasil, dia harus bekerja keras untuk kembali membaca materi hingga dini hari dan berakhir dengan bangun terlambat.

Setelah turun dari mobil Bara yang mengantarnya, pasang mata langsung tertuju pada Jihan yang saat ini sedang merapikan rambut juga seragam yang dikenakannya. Sebenarnya, hal seperti itu sudah biasa Jihan lakukan karena gadis itu selalu rapi dan menomorsatukan penampilan karena kedua orang tuanya juga terlihat.

Namun, karena foto-foto tersebut pemandangan hal seperti itu menimbulkan cibiran tersembunyi juga pandangan yang meremehkan untuk Jihan yang tidak menyadarinya.

“Pasti dia baru aja di apa-apain sebelum turun tadi”, bisikan itu hadir setelah melewati perjalanannya sehingga tak mendengar.

Setelah menyimpan tasnya, Jihan berjalan ke luar kelas dengan buku paket di tangan memilih untuk membaca lagi materi yang belum selesai.

Dari ujung koridor, Kia berjalan menjauh dari acara gosip dadakan bersama teman-temannya tadi. “Gue ke Jihan dulu,” ucapnya tawa dari teman-teman pergosipannya tadi.

“Dor!”

Jihan berdecak pelan saat tau pelaku yang sudah membuat terkejut, lalu kembali melanjutkan membaca.

“Han, gimana persiapan lo untuk hari pertama Ujian Nasional hari ini?” tanya Kia duduk di samping Jihan yang sedang menunduk membaca buku di bangku depan kelas mereka.

Kebetulan Jihan dan Kia satu ruangan saat ujian nanti. “Gue lihat lo enggak lepas mantengin itu buku, bikin pusing jadinya. Lo fokus banget,” kekeh Kia, lalu merangkul bahu Jihan.

Jihan terkekeh. “Lo pikir apaan, ya? Ini penentu UN akhir kita tau!” Tangannya menoyor pelan kening Kia. “Emangnya lo yang masih sempet-sempetnya nyantai di saat begini?”

Kia menggerutu sebal, balik menoyor kepala Jihan ke samping. “Otak gue enggak semampu itu, lulus aja gue masih bersyukur.”

Jihan tertawa sebagai jawaban, lalu menutup buku paketnya. Tak lama, bel berbunyi membuat beberapa siswa-siswi yang mengamati sekitar koridor berlari masuk ke dalam ruangan masing-masing dengan rusuh. Begitu pula dengan Jihan dan Kia.

Jihan duduk lebih dulu, berdiskusi dengan Kia yang terhalang satu meja dengan Jihan. Seperti biasa, para siswa-siswi yang mengungkapkan dua puluh di kelas tersebut mempersiapkan kartu ujian setelah latihan komputer.

Jihan melongokkan kepalanya ke samping dari sekat pembatas, menoleh pada Kia yang ternyata sedang melihat ke arahnya. “Semangat!” Bibir Jihan berucap tanpa suara dengan tangan yang terkepal seolah memberi isyarat penyemangat pada sahabatnya.

“Lo juga,” balas Kia tanpa suara.

»|«

Bukannya pulang selepas ujian, tapi siswa-siswi itu memilih menongkrong di dekat warung untuk melanjutkan kembali gosip tadi pagi.

Ketika Jihan memutuskan untuk pulang lebih dulu menggunakan taksi online, Kia berbelok arah untuk bergabung dengan teman-teman pergosipannya.

Ya, Jihan di bodoi oleh orang-orang yang dia anggap baik dan tulus. Teman-teman yang dia anggap sebagai seperjuangan UN, tapi berbicara tentang buruk tentangnya.

Kia mengedarkan rumor dari sebuah foto yang diambil saat melihat Jihan makan malam bersama Bara. Bagaimana sahabat Jihan itu bisa tau, yaitu dengan menguntitnya.

Tak tau apa motif yang di lakukan Kia pada Jihan yang jelas-jelas adalah sahabat dekat dari awal menginjakkan kaki di sekolah ini.

Resa sebagai saksi perbuatan Kia hanya bisa menghela napasnya dan bingung untuk mencari cara agar Jihan tau tanpa perasaanya.

Nyatanya, semua teman tak ada yang bisa di percaya dan dibohonginya Jihan masih tersenyum pada orang-orang di sekitar selama dia datang ke sekolah.

»|«

Kebetulan, Resa bertemu dengan Jihan yang sedang cuci tangan di wastafel sekolah. Rasanya mulut gadis berambut sebahu itu sudah ingin berbicara pada Jihan.

“Han?”

Jihan berdehem, lalu tersenyum singkat sebagai balasan.

“Lo oke?” tanya Resa sambil memandang Jihan dari kaca.

“Hah?” Jihan mengernyit bingung. “Maksud lo apa sih?”

“Gue Cuma khawatir lo kenapa-kenapa, Han. Anak-anak sekolah enggak semuanya baik-baik saja, lo-”

“Termasuk lo?” Jihan berbalik untuk menghadap Resa.

Resa mengangguk. “Iya, gue emang bukan orang baik, tapi gue Cuma pengen kasih tau kalau mereka semua ngomongin tentang lo. Pelakunya adalah orang yang paling dekat sama lo.”

Jihan mendelik tak suka. “Lo ngawur banget, Sa.”

Resa menghela napasnya pelan. “Gue Cuma mau ngasih tau lo itu, jangan marah sama gue ya?”

Setelah alas bahu teman, Resa berlalu pergi meninggalkan Jihan sendiri.

“Apa yang enggak gue tau selama ini?” gumam Jihan termenung di depan koridor toilet.

»|«

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED