Bab 2

Malam ini aku berhasil membuat mas Ammar menanam benihnya dalam rahimku. Meski tidak dilandasi dengan rasa cinta, tapi setidaknya aku telah berupaya untuk mengikatnya selamanya dalam kehidupanku.

Aku berharap, setelah ini mas Ammar akan menginginkannya lagi. Lagi dan lagi. Hingga tumbuhlah cinta dalam hatinya meski perlahan untukku.

Demi mendapatkan benihnya, aku harus menyingkirkan rasa malu dalam diriku. Demi untuk mendapatkan malam pertamaku aku harus bersimpuh, berlutut memeluk kakinya. Memohon dengan menghiba agar dia mau menyentuhku. Memberikan hak nafkah batin yang belum pernah dia berikan.

Semua itu semata aku lakukan hanya agar aku tidak terus menerus ditekan dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang ingin sekali aku hindari. Karena mendengarnya saja itu sudah menyakitiku. Apalagi jika pertanyaan itu dilontarkan oleh abah atau ummi, mertuaku. Atau dari bibir ayah dan ibuku sendiri.

Rasa-rasanya itu seperti palu godam yang menghantam kepalaku. Tidak hanya mendadak pening jika mendengarnya. Tapi dadaku juga akan terasa sangat sesak.

Mungkin bagi sebagian orang, pertanyaan mengenai kapan menikah dan kapan memiliki anak menjadi salah satu topik yang dianggap basa-basi untuk memulai sebuah perbincangan. Namun, bagi sebagian lainnya, pertanyaan-pertanyaan serupa dengan itu bisa menjadi hal yang cukup sensitif.

Begitu pula denganku. Setiap kali ditanya atau diajak bicara mengenai hal seputar tentang program hamil dan anak, jujur aku seringkali merasa bingung. Sebab aku sendiri tidak tahu hendak memberi jawaban apa yang paling tepat untuk menanggapinya.

"Bagaimana, nduk? Sudah isi, belum?"

"Belum positif juga, ta?"

"Abahmu lho, nduk, selak pingin nimang cucu. Keturunanmu ditunggu-tunggu sebagai generasi penerus keluarga ini."

Kalimat itu seringkali aku dengar bagaikan sebuah teror dalam keluarga ini. Membuat hidupku merasa sangat tidak nyaman dan tertekan.

Dan karena perasaan itulah yang membuatku memaksa mas Ammar untuk menggauliku. Meski aku harus merendahkan diri, meski aku harus mengemis. Aku tidak peduli. Aku campakkkan harga diriku. Yang terpenting adalah dia mau melakukannya. Sesuai dengan keinginanku.

Aku sudah lelah. Aku jengah dengan pertanyaan yang seolah menyudutkan aku. Yang seolah menuduh bahwa aku adalah perempuan tidak normal. Perempuan mandul.

Andai saja ummi tahu, andai aku tidak malu mengakui bahwa putranya belum menggauliku sama sekali. Andai saja....

"Atau jangan-jangan selama ini kamu belum pernah disentuh oleh Ammar?" Tebak ummi suatu pagi saat di dapur.

Tentu saja hal itu membuat hatiku berdesir tidak karuan. Jantungku seolah akan terlepas dari tempatnya. Aku sangat terkejut. Dari mana ummi memiliki pemikiran seperti itu?

"Eh, emmm..., anu...." Aku tidak mampu menimpali perkataan ummi. Aku harus menjawab apa coba? Masa iya, aku harus berkata yang sejujurnya jika aku memang belum pernah disentuh oleh mas Ammar?

"Anu opo, nduk? Anu itu mengandung sejuta makna. Beneran, Ammar belum menyentuhmu?"

"Eh, tidak, mi." Jawabku dusta.

"Kalau iya, berarti kisahmu nggak jauh beda sama film Suhita, nduk. Nasibmu sama kayak si Alina." Ummi terkekeh. Becanda mungkin maksud ummi. Tapi itu nyata seperti tamparan keras bagiku. Menyadarkan posisiku, jika keberadaanku selama ini sama sekali tidak pernah dianggap oleh mas Ammar.

Aku menelan salivaku. Menahan degup jantung yang semakin tidak beraturan. Ini lebih pahit dari kisah Alina, ummi. Jauh lebih pahit dan jauh lebih sakit. Batinku menjerit.

"Tapi apa mungkin, Ammar sampai setahan itu? Kecuali kalau dia tidak normal." Ummi menjeda kalimatnya dengan tawa kecil.

"Masa hidup sekamar selama hampir setahun tidak tergoda sama sekali?"

Aku pura-pura tidak mendengar perkataan ummi. Aku terus memotong sayuran tanpa berbicara.

Bagaimana bisa ummi menyamakan kisah putranya dengan kisah sebuah film yang beberapa bulan yang lalu ditontonnya bersama dengan rombongan jamaahnya?

Ummi adalah sosok perempuan modern. Selain seorang khafidzoh yang cukup mutqin, beliau adalah pecinta satra dan penggemar film bergenre religi. Apalagi yang bertemakan perempuan.

Ummi adalah aktifis perempuan di kota ini. Beliau adalah perempuan yang selalu mengelukan tentang kesetaraan gender. Beliau begitu gencar memerangi budaya patriarki.

Ah, ummi. Ingin rasanya aku menceritakan kisah piluku ini padamu. Seperti para tamu wanita yang datang ke rumah curhat "sahabat perempuan" yang didirikan oleh ummi. Ingin aku memiliki teman bercerita meski hanya sekedar mendengar keluh kesahku. Rasanya itu sudah cukup mengurangi beban pikiran yang selama ini menggelayut dalam otakku.

Bagaimana mungkin aku bisa hamil, ummi? Putramu saja belum pernah menyentuhku, meski hanya sekali.

Pernah muncul keinginan mengatakan hal yang sebenarnya pada ummi. Namun, di satu sisi aku tidak ingin melukai perasaan beliau jika tahu tentang kenyataan ini. Aku juga tidak ingin dikatakan sebagai istri pengadu oleh suamiku sendiri.

Ingin aku bercerita tentang bagaimana mas Ammar selalu menolakku saat aku mencoba merayu. Bagaimana dia selalu menatap risih dan jijik terhadapku. Saat aku melepas hijabku dan berpakaian tipis nan seksi. Menampilkan lekuk tubuhku saat di hadapannya.

Ingin sekali aku bercerita bahwa penolakan demi penolakan yang dia lancarkan telah mematikan rasa cinta yang membara dalam dadaku.

Tidak ada lagi sumber kekuatan yang membuatku bertahan di rumah ini selain abah dan ummi. Jika tidak karena menjaga perasaan kedua orang tua itu, jika tidak karena menjaga perasaan ayah dan ibuku sendiri, jika tidak karena menjaga kehormatan dan marwah keluarga dengan sebutan kyai, tentu saja aku sudah memilih pergi.

Kisah hidupku nyatanya jauh lebih pedih daripada Alina Suhita. Juga lebih menderita daripada Ratna Rengganis. Ini kisahku sendiri. Yang tidak berani mengangkat senjata untuk berperang melawan kelaliman suami sendiri.

"Ammar tidak impoten kan, nduk?"

Aishhh..., ummi. Bagaimana aku bisa tahu jika putramu itu impoten atau tidak? Sedangkan aku sama sekali belum pernah melihat benda keramat milik mas Ammar.

Tentu saja pertanyaan ummi yang terakhir benar-benar mengusik ketenanganku. Ummi sampai bertanya sevulgar itu. Pasti karena ummi terlampau resah dengan tidak kunjung hadirnya cucu di rumah ini. Hingga berpikir sampai ke arah sana. Atau mungkin justru ingin bertanya apakah aku yang mandul? Namun beliau tidak sampai hati? Ah, entahlah....

***

"Jika mas mau menikahiku meski dengan terpaksa, sekarang bisakah jenengan menggauliku dengan terpaksa juga?"

Mungkin urat malu yang aku miliki saat itu telah terputus. Aku bersimpuh di hadapannya. Memohon agar dia mau memberikan nafkah batin untukku.

"Demi abah dan ummi, mas. Sekali ini saja. Lakukan itu, aku mohon." Pintaku menghiba.

Dia diam membeku. Aku peluk lututnya. Merendah serendah-rendahnya bagai pengemis.

"Tolong, tanamkan benihmu dalam rahimku. Abah dan ummi terus saja bertanya kapan mereka punya cucu."

Kalimat demi kalimat yang aku ucapkan membangkitkan amarah dalam dadanya. Dengan kasar, dia menarik pergelangan tanganku agar aku berdiri. Lalu dia dorong tubuhku mundur ke belakang. Kemudian dia hempaskan tubuhku di atas pembaringan.

Malam itu, dia penuhi keinginanku. Meski dengan terpaksa dan hati yang diliputi amarah, benihnya telah dia tanam dalam rahimku.

Penyatuan raga telah usai. Tak mungkin jika mas Ammar tidak menikmatinya. Erangannya dan cengkeramannya saat pelepasan menunjukkan bahwa dia merasa puas.

Mas Ammar membalikkan tubuhnya. Berbaring tepat di samping kananku dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam. Seolah energinya telah terkuras habis. Dia nampak begitu kelelahan. Lalu tidak berselang lama, dengkur halusnya terdengar di telingaku. Dia terlelap.

Sementara aku merasakan seluruh tubuhku remuk redam. Seolah semua persendian bergeser dari tempatnya. Aku berusaha bangkit. Bangun dari pembaringanku dengan susah payah.

Aku benahi selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu aku tatap wajahnya yang sebenarnya tampan dan indah untuk dipandangi. Cukup lama aku mengamatinya. Hidung bangirnya, alisnya yang hitam dan tebal, juga rahangnya yang kokoh, serta kumis dan jambang halusnya selalu berhasil membuatku terpesona padanya. Membuatku jatuh cinta berkali-kali. Pesonanya selalu membuatku berdebar tidak karuan. Ya, aku mencintainya dengan sepenuh jiwa. Meski dia tidak.

Aku mengusap peluh mas Ammar yang tertinggal di tubuhku. Aku merasa ada cairan hangat yang keluar dari bagian intimku. Bercampur dengan bercak warna merah. Mengotori kain sprei yang semula rapi kini menjadi sangat berantakan.

Rasa ngilu pada pertigaan tubuhku sangat terasa. Terbayang dalam pelupuk mataku bagaimana tadi mas Ammar  menyerangku. Dia begitu membabi buta. Antara gelora syahwat dan nafsu amarah menjadi satu.

Air mata yang masih tersisa di pipiku, aku hapus perlahan. Dalam hati aku panjatkan doa kepada sang penguasa alam. Jika benih yang ditanam oleh mas Ammar ini tumbuh, maka aku berharap agar Tuhan menjadikan dia manusia yang lembut hati. Yang akan mengobati segala luka hatiku yang dibuat oleh sang pemilik benih.

Aku mengelus perut datarku. Lalu kembali terisak. Mengingat segala perlakuan buruk suamiku padaku. Aku memeluk lututku sendiri. Berbalut selimut, aku menumpahkan airmata yang sejak tadi terus menerus mendesak untuk keluar.

Lama-lama aku merasa risih juga dengan keadaanku sendiri. Aku usap airmataku meski tidak sepenuhnya kering. Lalu aku beringsut menggeser tubuhku. Meraih pakaian yang terserak di lantai. Aku mengenakannya secara asal. Hanya agar auratku tertutup saat berjalan menuju kamar mandi.

Langkah kakiku tertatih. Aku menggigit bibir bawahku. Merasakan tidak nyaman pada areaku. Aku kembali menangis di bawah shower.

Dari setiap jejak yang ditinggalkan oleh mas Ammar, membuatku merasa sakit hati. Lagi-lagi terbayang semua yang dia lakukan padaku tadi. Sungguh berkesan. Tapi kesan yang buruk.

Aku mempercepat mandiku. Ini sudah larut malam. Aku tidak ingin jatuh sakit karena kedinginan. Maka aku segera membilasnya hingga bersih setelah meratakan sabun dan shampoo. Hingga tidak ada lagi jejak cairan milik mas Ammar yang tertinggal di tubuhku.

Aku mendapati mas Ammar masih terlelap dalam posisi semula. Tidak ingin mengusiknya, maka kini gantian aku yang tidur di sofa. Setelah sebelumnya aku memakai pakaian dan mengeringkan rambutku. Tidak butuh waktu lama, aku jatuh terlelap.

Bab 3

"Masmu mana, nduk?" Tanya abah padaku saat aku menyiapkan sarapan pagi.

Bagaimanapun juga aku harus terlihat baik-baik saja pada dua orang sepuh yang saat ini sedang duduk di kursi makan menunggu sarapan.

"Belum bangun?" Ummi turut bertanya.

"Tadi sudah bangun. Mungkin masih mutholaah." Jawabku. Tentu saja sedikit berbohong. Karena setelah jamaah subuh tadi, mas Ammar kembali tidur.

"Panggil, sana! Bilang kalau abah sudah menunggu." Perintah ummi padaku seraya menyendokkan nasi ke piring abah.

Aku mengangguk pelan. Berjalan bergegas menuju lantai atas. Sejatinya aku merasa enggan berbicara dengannya sejak peristiwa semalam. Tapi demi menghindari opini abah dan ummi jika aku tiba-tiba berubah, maka aku harus kembali bersandiwara.

Aku meraih handle pintu. Memutarnya dan mendorong dengan perlahan. Pintu terbuka. Nampak mas Ammar masih berada di atas tempat tidur. Dengan posisi badan yang menelungkup.

"Mas, bangun." Aku mengulang kata itu sampai tiga kali. Namun dia tidak merespon.

Maka aku beranikan diri membangunkannya dengan menyentuh kakinya.

"Mas, abah dan ummi sudah menunggu untuk sarapan." Ucapku lirih. Takut dia akan terkejut dan kembali marah jika tidurnya terusik. Karena biasanya juga seperti itu jika aku bangunkan.

"Hemmm...."

Mas Ammar hanya menjawab dengan gumaman. Dia menggeliat. Lalu menyibakkan selimutnya. Duduk sebentar. Menatapku dalam dengan tatapan yang tidak mampu aku artikan.

Aku bermaksud kembali ke ruang makan. Namun aku urungkan ketika mas Ammar mencegahku.

"Tunggu aku. Kita turun ke bawah bersama seperti biasa. Kecuali jika kamu sengaja ingin membuat perkara dalam keluarga ini."

Aku kembali terduduk di tempat semula. Menunggu dia, sang imam yang arogan untuk membersihkan diri.

Sudah terbiasa mendengar kalimat bernada intimidasi dari bibir mas Ammar. Maka aku tidak terkejut saat dia mengucapkan kalimat itu. Terlalu biasa. Hingga perasaanku telah mati rasa. Kebas. Tidak lagi aku rasakan kesakitan bertambah. Karena nyatanya rasa sakit yang aku tanggung memang sudah sangat parah.

Aku duduk dengan kepala yang tertunduk. Bahu yang luruh. Dan wajah yang sama sekali tidak berseri.

Rasa sakit dalam hati ini sudah aku rasakan sejak malam pertama pernikahan kami. Kata-katanya selalu tajam. Sekalipun dia tidak pernah memikirkan perasaanku. Juga tidak menghargai betapa tulusnya cintaku terhadapnya.

Perjodohan ini bukan keinginanku. Juga bukan keinginan mas Ammar. Namun sejak aku tahu jika aku telah dijodohkan dengannya, sejak saat itu pula aku belajar untuk mencintainya.

Aku ukir namanya dalam sudut hatiku yang paling dalam. Aku lukis indah wajahnya dalam setiap mimpiku. Juga aku sebut namanya dalam setiap doaku. Tidak ada lelaki lain dalam hidupku kecuali dia seorang. Dialah satu-satunya dan aku harap dia akan menjadi imam yang baik untukku selamanya.

"Tidak perlu kamu memikirkan siapa jodohmu, nduk." Kata ayah suatu hari saat aku lulus sekolah menengah pertama. Sehari sebelum aku masuk ke pesantren tahfidz.

"Jodohmu telah dipersiapkan sejak kamu masih berada dalam kandungan ibumu."

Ya, aku telah dikhitbah sejak aku masih berada dalam kandungan. Menurut cerita ibu, telah terjadi sebuah kesepakatan. Bahwa jika anak yang dilahirkan oleh ibuku adalah perempuan, maka akan dijadikan menantu. Tentu saja demi sebuah misi untuk membesarkan pesantren Al Hikam. Pesantren yang dirintis oleh leluhur mas Ammar. Pesantren di mana ayahku dulu menimba ilmu.

Ayahku adalah santri kesayangan kakek mas Ammar, yang biasa aku panggil dengan sebutan mbah yai. Semula ayah yang akan dijadikan menantu oleh simbah yai. Akan tetapi batal karena putri simbah yai meninggal karena sakit.

Keinginan untuk menjadikan ayah sebagai bagian dari keluarga pesantren Al Hikam tidak pernah lekang. Hingga terjadilah perjodohan antara mas Ammar denganku.

Terkadang aku menyesali kelahiranku yang berjenis kelamin perempuan ini. Karena dari tujuh bersaudara, hanya aku satu-satunya perempuan dan menjadi anak bungsu. Andai aku lahir laki-laki, tentu kisah hidupku tidak akan seperti ini.

Aku terhenyak. Tekejut saat mas Ammar menyipratkan sisa air di tangannya tepat mengenai wajahku. Lamunanku mendadak buyar. Aku menjadi tersadar. Jika segala pengandaian itu tidak ada artinya sama sekali.

"Membayangkan semalam?" Tanyanya sinis.

Aku menatapnya tidak percaya. Aku tidak menduga jika dia akan berkata seperti itu.

Aku menelan salivaku. Lalu kembali menunduk.

"Ingat, aku hanya akan menyentuhmu jika aku yang menginginkan. Jangan pernah lagi merayuku dan merengek untuk meminta jatahmu."

"Nggih, mas." Jawabku pasrah.

"Aku mengerti." Lanjutku lagi dengan suara yang sangat lirih.

Suasana hening sesaat. Kami saling membisu. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Ammar, Rihanna...!" Terdengar suara ummi memanggil. Lalu pintu diketuk dari luar.

Mas Ammar bergegas membukakan pintu.

"Suwi banget, to? Kenapa lama sekali?Abahmu sudah menunggu sejak tadi." Gerutu ummi begitu kami muncul di depannya.

Aku berdiri di belakang mas Ammar.

"Masmu minta dimandiin po, nduk?" Mata ummi berkedip menggodaku. Aku lirik mas Ammar yang menjadi salah tingkah. Lalu memilih berjalan mendahului. Pergi meninggalkan aku dan ummi.

"Eh, boten, ummi." Wajahku memanas. Jika bercermin mungkin aku bisa melihat wajahku yang merona.

"Mandiin juga nggak apa-apa kok, nduk. Mandi bareng juga boleh." Ummi tertawa kecil seraya berjalan di belakang mas Ammar. Aku mengikuti.

"Biar tambah mesra. Tambah semangat juga." Seloroh ummi.

"Ummi bicara apa, sih?" Aku tersipu malu.

Andai ummi tahu, jangankan mandi bersama, tidur seranjang pun kami belum pernah.

"Nduk, tak perhatikan kok jalanmu sedikit aneh, to?"

Aneh? Keningku sedikit berkerut. Aku sudah berusaha berjalan senormal mungkin, loh. Meski rasa ngilu itu masih aku rasa menjalar hingga ke pinggang.

Apakah para orangtua itu pengamatannya memang sangat tajam soal begituan? Sehingga sedikit saja berubah dari biasanya, mereka akan langsung paham?

Mas Ammar yang berjalan di depan kami berlagak seperti tidak mendengar pembicaraan ummi. Sedikitpun dia tidak menanggapi.

"Lebih sering lagi, ya. Biar kami cepat nimang cucu. Lakukan setiap pagi jelang subuh. Itu waktu yang sangat tepat. Juga perhitungkan masa suburmu. Makan makanan yang banyak gizi. Perbanyak konsumsi daging kalau ingin bayi laki-laki...."

Ummi berkata panjang lebar memberikan nasehat bak sedang mengisi ceramah. Aku hanya menjawab dengan nggih-nggih saja.

Aku harap telinga mas Ammar mendengar semua perkataan ummi. Semoga saja dia tidak sedang berpura-pura tuli. Lalu dia melakukan semua apa yang dikatakan oleh ummi atas kemauan dirinya sendiri.

"Lama sekali to, le? Baru bangun?" Tanya abah setelah mas Ammar duduk di kursinya.

"Semalam kerja keras mungkin, bah. Makanya lelah dan kembali tidur." Ummi berkelakar. Abah tersenyum lebar dan menatap kami bergantian.

Aku lirik wajah mas Ammar yang memerah. Apakah dia merasa malu? Seumur hidup baru kali ini aku melihat pipinya bersemu seperti itu.

Aku menyendokkan nasi ke piring mas Ammar. Aku biarkan dia memilih lauknya sendiri. Sementara aku menuangkan air putih, lalu meletakkannya di samping piring makannya.

"Kopiku, mana?" Tanya mas Ammar. Suaranya terdengar canggung.

Aku hendak berlalu ke dapur untuk membuatkan dia secangkir kopi. Biasanya aku menyeduhkannya setiap pagi. Tapi memang sengaja pagi ini aku tidak membuatnya. Menunggunya terlebih dulu meminta.

"Wis, mangano disek. Makan dulu. Kopinya nanti." Ucapan abah menahan langkah kakiku.

"Kasihan istrimu. Sudah sejak subuh tadi dia sibuk masak di dapur." Lanjut abah kemudian.

Aku menatap sebentar ke arah suamiku. Dia memberikan kode dengan dagunya agar aku kembali duduk. Aku menurut.

Sarapan pagi berlangsung tanpa perbincangan. Hingga pada suapan terakhir. Aku merasa tidak nyaman ketika ummi berkali-kali menatapku dengan senyum yang terus merekah. Entah apa yang membuat ummi terlihat begitu sumringah.

"Tetap terus bersikap biasa saja. Jangan pernah berbicara apapun tentang hubungan kita." Ucap mas Ammar ketika abah dan ummi sudah meninggalkan ruang makan.

"Nggih, mas."

"Dan satu hal lagi, jangan pernah menjanjikan mereka untuk segera memberi cucu. Karena jika semalam itu tidak berhasil, aku belum ingin lagi untuk mengulanginya."

"Tapi, bukankah itu hakku, mas? Aku ini istrimu." Protesku lirih.

"Hanya di atas kertas. Aku harap kamu tidak lupa." Jawab mas Ammar ketus seraya bangkit dari tempat duduknya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED