Di dalam sebuah apartemen, sepasang sahabat sedari kecil sedang terlibat perdebatan.
Mata wanita itu melotot, menatap tajam sahabatnya yang terlihat sangat santai. Sedangkan sang sahabat hanya memandang wanita itu tanpa banyak bicara.
"Angga, yang benar saja, masa aku harus pakai baju kayak gini sih," keluh sang wanita.
Wanita tersebut bernama Riska. Riska, Angga dan Fajar, mereka sudah berteman dari kecil. Rumah mereka juga berdekatan, orang tua mereka juga berhubungan sangat baik, sehingga tidak heran mereka sangatlah akrab.
"Nggak apa-apa, kamu pakai itu dulu. Toh juga cuma sebentar." Angga membujuk Riska supaya mau memakainya.
"Tapi nggak baju seperti ini juga kali. Pokoknya aku nggak mau pakai ini."
Riska sekali lagi memperhatikan pakaian yang sangat minim dan transparan di tangannya. Bagaimana bisa Angga menyuruhnya memakai pakaian seperti itu pikirnya.
Meskipun mereka berteman sedari kecil, bahkan mereka juga pernah mandi bersama, tapi itu kan saat mereka masih kecil. Sekarang jika Riska memakai pakaian yang terlalu terbuka, Riska akan merasa malu, meskipun itu di depan sahabatnya.
"Riska cantik, kamu tadi kan sudah janji bakal bantuin aku. Dipakai ya bajunya, hanya sebentar kok," bujuk angga.
"Nggak mau. Aku malu Angga kalau harus pakai baju kurang bahan seperti ini. Bagaimana kalau," belum selesai ucapan Riska, bell apartemen Angga berbunyi.
Mereka kompak menoleh ke arah pintu. Mereka yakin jika yang datang adalah alasan Angga meminta Riska untuk memakai lingerie.
"Sekali ini saja, ya. Aku mohon," pinta Angga dengan wajah memelas.
"Kamu mah gitu." Riska cemberut kesal dengan Angga.
Beberapa jam sebelumnya. Mereka tengah mengobrol di cafe milik Fajar. Angga mengatakan permintaannya kepada Riska. Memohon agar Riska mau membantunya untuk menjauhkan sekretarisnya yang selalu mengejarnya.
"Kenapa nggak kamu tolak langsung sih Ga?" tanya Riska heran.
"Aku udah nolak dia berkali-kali, tapi dianya saja yang bermuka tebal, tidak tahu malu."
"Lalu aku bisa bantu kamu apa?"
Angga kemudian menjelaskan rencananya untuk menghempaskan sekretarisnya yang bernama Siska. Begitu mendengar penjelasan Angga, Riska sontak langsung berdiri dan menggebrak meja.
"Kamu gila ya," ucap Riska sambil memukul Angga dengan tasnya.
"Aw, aw, berhenti Riska," ucapnya sambil menahan tangan Riska agar berhenti memukulnya. "Kali ini saja, kamu tolongin aku ya," ujar Angga.
Melihat tatapan putus asa sahabatnya, Riska akhirnya memutuskan untuk membantu Angga.
"Ok, aku bantu, tapi cuma kali ini saja. Tidak ada lain kali," ucapnya final.
" ok, nggak masalah," ucap Angga tersenyum.
*
Yang tidak Riska sangka adalah, Angga memintanya untuk memakai lingerie yang sangat seksi menurutnya. Jika Riska tahu akan disuruh memakai lingerie, Riska tidak akan menyetujui untuk membantu Angga.
Angga menarik Riska memasuki kamarnya, membiarkan Riska untuk berganti pakaian. Tidak bisa disebut pakaian sebenarnya, karena itu sebuah lingerie berwarna hitam yang akan menunjukkan lekukan tubuh Riska saat dia memakainya.
"Kamu ganti ya Ris, kali ini saja. Aku janji nggak akan ada lain kali," pinta Angga. Angga kemudian keluar dari kamarnya, untuk membukakan pintu.
Riska menatap kepergian Angga dengan cemberut. Biar bagaimanapun, sedekat apapun mereka, Riska tetap mempunyai rasa malu, apalagi jika harus memakai pakaian kurang bahan seperti yang di tangannya.
"Ah, aku pakai ini saja," gumamnya sambil mengambil kemeja Angga di lemari. Melempar lingerie yang diberikan Angga padanya tadi.
Tidak butuh waktu lama, Riska mengganti pakaiannya dengan kemeja milik Angga.
"Ini lebih baik," ucapnya sambil melihat dirinya yang memakai kemeja Angga yang kebesaran di badannya. Riska menatap pantulan dirinya di cermin. Kemeja yang kebesaran cukup untuk menutupi setengah dari pahanya.
Melihat jika kemeja Angga bisa sampai setengah pahanya, Riska memutuskan tidak akan memakai celana. Riska hanya akan menggunakan dalaman saja. Apalagi ini untuk membuat sekretaris Angga menyerah padanya.
Saat sedang bercermin, Riska mendengar suara ribut di luar. Sudah pasti itu Angga dan sekretarisnya. Dengan penuh percaya diri Riska lalu mengacak-acak rambutnya, mengusap lipstiknya hingga belepotan di pipinya, membuka dua kancing kemeja bagian atas, sehingga membuat bahunya sedikit terekspos.
"Sempurna," ucapnya sambil berkaca melihat penampilannya sekali lagi.
Riska membuka pintu kamar, membuat Siska dan Angga yang sedang duduk di sofa langsung menoleh padanya.
Mereka menatap dengan pandangan yang berbeda.
"Siapa wanita itu, kenapa berpenampilan seperti itu, apalagi dia baru keluar dari kamar Angga. Tunggu, kamar Angga," batin Siska berkecamuk saat melihat Riska keluar dari kamar Angga dengan berpenampilan berantakan seperti itu.
"Tidak kusangka, Riska bisa terlihat sangat cantik dan seksi di saat yang bersamaan. Tunggu, dia tidak memakai lingerie yang kuberikan, tapi dia memakai kemejaku," batin Angga, menilai penampilan Riska yang malah terlihat sangat seksi di matanya.
"Sayang, kenapa ribut sekali, aku masih mengantuk," ucapnya sambil melangkah mendekati Angga. Riska lalu bergelayut manja di lengan Angga.
"Sayang ayo tidur lagi." Riska menarik-narik tangan Angga.
Angga menahan senyum di bibirnya, melihat Riska yang sedang bergelayut manja di lengannya.
"Akting yang sangat sempurna," batin Angga memuji Riska.
"Sayang, dia siapa?" Riska pura-pura terkejut melihat adanya Siska disana.
Riska kemudian duduk dan memegang kemeja Angga yang melorot di bagian bahunya.
"Maaf, saya tidak tahu jika ada tamu," ucap Riska dengan tampang menyesal.
"Hanya sekertaris yang membawakan dokumen, untuk meminta tanda tanganku." Angga memeluk Riska dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk merapikan rambut Riska yang berantakan.
"Oh, sekertaris kamu, apa sudah selesai?"
"Aku ke ruang kerja sebentar ya, untuk tanda tangan. Kamu temani dia sebentar," ucap Angga.
Sebelum pergi, Angga mencium kening Riska sebentar.
"Dasar cari-cari kesempatan," umpat Riska dalam hati.
Riska buru-buru tersenyum kembali, menormalkan raut wajahnya yang tadi sempat cemberut.
"Oh iya, sampai lupa, mau minum apa Mbaknya?" Riska bertanya sopan.
"Tidak perlu repot-repot, saya juga tidak akan lama disini," jawab Siska, menatap penampilan Riska sekarang.
Jika dalam kondisi normal, Riska pasti akan sangat malu tak tertahankan, tetapi ini memang tujuannya berpenampilan seperti ini, agar wanita di depannya ini berhenti mengejar Angga.
"Oh, ok kalau begitu," ucap Riska tersenyum.
"Apa dia tidak berniat untuk mengganti bajunya," batin Siska sambil menatap Riska.
"Maaf ya Mbak, kan cuma sebentar jadi saya tidak usah berganti baju. Soalnya saya sedang suka sekali memakai bajunya Angga," ucap Riska tanpa malu-malu.
Siska hanya tersenyum menanggapi ucapan Riska.
Perasaan Siska sekarang sedang campur aduk. Sudah bukan rahasia lagi, jika Siska menyukai Angga yang notabenenya adalah atasannya sendiri.
Siska selalu merasa, selama tidak ada wanita di samping Angga, dia masih punya kesempatan untuk memenangkan hati Angga.
Tujuan Siska pergi ke apartemen Angga, selain untuk meminta tanda tangan, Siska juga mencoba peruntungannya. Siska ingin menggoda Angga, dengan dia memakai baju yang seksi seperti yang dikenakannya sekarang. Siska pikir akan ada kesempatan untuknya, apalagi di dalam apartemen Angga, siska sudah mempersiapkan segalanya. Tapi rencana yang sudah disusunnya sedemikian rupa, sekarang hancur tak bersisa.
"Itu, kalau boleh tanya, kamu siapanya Pak Angga ya?" tanya Siska ragu-ragu.
"Oh, kenalkan, namaku Riska, tunangannya Angga," jawab Riska mengulurkan tangannya.
"Tu-tunangan?" ucap Siska dengan tampang bodohnya. Dia tidak menyangka jika atasan yang sudah sejak lama di kaguminya, sudah mempunyai tunangan. Apalagi tunangannya cantik.
Sebagai wanita, Siska tidak bisa, tidak merasa iri dengan kecantikan Riska. Di mata Siska, kecantikan Riska adalah kecantikan yang langka.
"Iya tunangan, kamu pasti Siska kan, sekretarisnya Angga?"
"I-iya."
"Kedepannya kita pasti akan sering bertemu, karena aku nanti akan sering ke kantornya Angga."
"Kok Siska nggak kamu kasih minum sayang?" Angga menyela percakapan tunangan palsunya dengan Siska.
"Sudah selesai, aku masih mengantuk." Riska berdiri, lalu menghampiri Angga dan memeluknya dengan manja.
"Iya, sudah selesai," ucapnya sambil menepuk pelan kepala Riska.
Siska menatap pemandangan di depan matanya dengan perasaan yang campur aduk. Untuk pertama kalinya, dia melihat Angga memperlakukan wanita selembut itu.
Tidak ingin sakit hatinya semakin menjadi, Siska meminta dokumen yang sudah di tanda tangani Angga, dan segera pergi dari apartemennya.
"Ayo sayang, kita antar Siska keluar dulu," ajak Angga, merangkul pinggang Riska dengan mesra.
"Akting yang sangat bagus sayang," ucap Angga begitu Siska sudah keluar.
"Akting yang sangat bagus sayang," ucap Angga begitu Siska sudah keluar.
"Terima kasih sayang untuk pujiannya," ucap Riska lalu memukul dada Angga main-main.
"Tunggu, kenapa kamu tidak memakai lingerie tadi, dan malah memakai kemejaku?" tanya Angga penasaran.
"Menurutku ini lebih baik, aku nggak mau ya, pakai pakaian kurang bahan seperti itu," jawab Riska bersungut-sungut.
"Kenapa aku malah merasa kamu jadi jauh lebih seksi saat memakai kemejaku," batin Angga. Tidak mungkin Angga menyuarakan pikirannya, bisa-bisa dia akan kena pukul Riska lagi.
Sedang asyik-asyiknya mereka bercanda. Pintu apartemen Angga dibuka dari luar, sontak suara pintu yang terbuka, membuat mereka menoleh bersamaan.
"Kakek," ucap mereka bersamaan, begitu melihat jika ternyata Kakeknya lah yang datang.
"Angga, Kakek datang," teriak Kakek.
Angga buru-buru menyembunyikan Riska, agar tidak terlihat oleh Kakeknya. Suara Kakek menghentikan Angga yang sedang sibuk menyembunyikan Riska.
"Kalian," ucap Kakek bingung.
"Kakek, Angga bisa jelasin Kek," ucap Angga, tidak sengaja mendorong Riska ke samping.
Kakek menatap keadaan Angga dan Riska. Keadaan Riska yang berantakan dengan memakai kemeja Angga, lipstik yang belepotan di pipi, sedangkan Angga hanya memakai celana saja. Mau tidak mau Kakek berpikir yang macam-macam tentang apa yang sudah mereka lakukan. Siapapun yang melihat keadaan mereka sekarang, pasti akan berpikir hal yang sama.
Saat Angga ingin menjelaskan kepada Kakeknya, sahabatnya Fajar, juga datang di saat yang tidak tepat.
"Angga, ini pesanan kamu," teriak Fajar, menyusul Kakek.
"Lho, Riska sudah disini?" Fajar menatap Riska yang berdiam diri di samping Angga. Riska menundukkan kepalanya dan memakai kemeja Angga.
"Tunggu, kemeja Angga. Riska memakai kemeja Angga," batin Fajar.
"Ada apa ini Ga? Kenapa Riska bisa memakai kemeja mu?" Fajar meletakkan ayam goreng yang dibawanya di meja, lalu berjalan mendekati kedua sahabatnya.
Fajar meneliti sikap Riska yang hanya menunduk, apalagi dengan keadaan mereka yang membuat orang pasti salah paham.
"Angkat kepalamu Riska Anindita," sentak Fajar.
Riska yang mendengar nada bicara Fajar yang kasar, merasa takut. Seumur hidupnya Fajar selalu berkata lembut, tidak pernah menaikkan suaranya.
Riska tanpa sadar berlindung ke belakang Angga. Tangannya gemetar saat memegang tangan Angga.
"Apa-apaan ini Riska? Ganti baju kamu, cepat!" Fajar kembali berteriak.
"Jangan membuatnya takut Jar," kata Kakek sambil menepuk pundaknya.
"Riska, kamu ganti baju dulu, setelah itu, kita bicara!" Perintah Kakek.
"Baik Kek." Riska langsung berlari ke dalam kamar Angga.
Fajar yang melihat Riska masuk ke dalam kamar Angga, langsung melotot pada Angga.
Angga menjadi kikuk sendiri, di tatap Kakek dan sahabatnya, apalagi dia tidak memakai baju.
"Pakai bajumu!" Perintah Kakek.
"Iya, Kek." Angga berjalan menuju ke kamarnya. Sontak saja Fajar langsung berteriak marah padanya.
"Apalagi? Tadi disuruh pakai baju," kata Angga.
"Riska di dalam," kata Fajar singkat.
Angga melotot kaget. Sungguh dia lupa, jika Riska masih berada dalam kamarnya.
Perasaan jengkel kembali dirasakan Fajar. Sedari kecil mereka sepakat untuk melindungi Riska, sampai nanti Riska menemukan laki-laki yang bisa melindunginya. Tapi apa yang dilihatnya sekarang benar-benar membuatnya marah.
Bukan berarti Fajar menyukai Riska, hanya saja, mereka tumbuh besar bersama. Fajar dan Angga selalu melindungi Riska, bahkan mereka dulu pernah menghajar teman sekelasnya, yang menjadikan Riska bahan taruhan mereka.
Di ruang tamu, Fajar masih menatap tajam Angga. Sedangkan Kakek hanya diam, larut dengan pikirannya sendiri.
Selesai Riska berganti baju, Riska takut untuk keluar kamar. Biar bagaimanapun di luar ada Kakek dan juga sahabatnya.
Riska malu setengah mati, saat tadi mereka melihat keadaannya yang sangat memalukan. Memakai kemeja Angga dan hanya bisa menutupi setengah pahanya. Rasanya, Riska benar-benar ingin bersembunyi di lubang semut.
Riska mondar-mandir di dalam kamar Angga, masih merasa takut untuk bertemu mereka.
"Riska, ayo keluar, ditunggu Kakek sama Fajar." Angga memanggil Riska yang dari tadi tidak keluar kamar.
Riska berlari kecil mendekati pintu kamar. "Apa Kakek dan Fajar marah?" tanya Riska hati-hati.
"Tidak. Ayo keluar dulu, baru kita jelaskan kepada mereka." Riska lalu membuka pintu kamar. "Angga aku takut, tadi saja Fajar sudah marah," ucap Riska pelan.
Angga menatap Riska, merasa bersalah, biar bagaimanapun ini terjadi karena permintaanya. "Tidak apa-apa, aku yang akan jelaskan pada mereka," kata Angga meyakinkan.
Angga menggenggam tangan Riska, niatnya ingin menenangkan Riska yang masih merasa takut, karena tadi di bentak Fajar.
Beda dengan pandangan Kakek dan Fajar, mereka mengira Angga benar-benar memiliki hubungan dengan Riska.
Kakek yang merasa bahagia, karena berfikir, akhirnya cucunya yang selama ini tidak tertarik pada perempuan, mempunyai orang yang dicintai. Apalagi itu wanita itu tumbuh besar bersamanya.
Beda dengan Fajar, dia merasa kesal dengan Angga. Jika memang dia bersama Riska, seharusnya Angga menjaganya. Melihat penampilan Riska tadi, Fajar yakin, mereka sudah melangkah lebih jauh.
Angga dan Riska duduk berdampingan. Riska tidak mau melepaskan genggaman tangan Angga, karena masih merasa takut.
"Jelaskan!" kata Kakek dan Fajar bersamaan.
Angga menatap mereka sebentar, lalu mulai menjelaskan, "Kakek, Fajar, kalian salah paham. Aku dan Riska tidak melakukan apa-apa," jelas Angga.
Fajar berdecak sebal, tentu dia tidak percaya kata-kata Angga begitu saja, setelah apa yang dilihatnya tadi.
Melihat reaksi Fajar yang tidak percaya, Angga kembali menjelaskannya. Namun menurut Fajar, semakin Angga menjelaskan, itu malah terkesan sebagai pembelaan diri.
"Diam." Fajar yang kesal, melempar Angga dengan bantal sofa di belakangnya.
Lemparan Fajar tidak hanya bantal sofa saja, tapi juga ada satu barang yang ikut terjatuh di hadapan mereka.
Melihat adanya benda kecil yang ikut terjatuh, membuat mereka sontak melihat benda itu secara bersamaan.
Fajar yang memang paling dekat, langsung mengambilnya, setelah melihat benda itu, Fajar menatap Angga marah.
"Angga! Kamu benar-benar …!"
Fajar memukuli Angga dengan bantal sofa. Fajar merasa marah dan kecewa dengan apa yang telah dilakukan Angga pada Riska.
Fajar ingin sekali memukul Angga tetapi, walau bagaimanapun, mereka tumbuh besar bersama, membuat Fajar tidak tega jika harus membuat sahabatnya babak belur.
"Cukup Jar!" ucap Kakek.
Kini mereka berempat tengah duduk berhadap-hadapan. Angga dan Riska merasa takut dan tertekan dengan tatapan Kakek dan Fajar.
Riska yang sangat takut, menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mereka.
"Jadi," ucap Kakek meminta penjelasan.
"Kakek, kan Angga sudah bilang tadi. Angga dan Riska tidak melakukan apa-apa. Sumpah," ucap Angga sambil mengangkat tangannya.
"Heh, tidak melakukan apa-apa? Terus maksudnya ini apa?" Fajar melempar alat kontrasepsi ke depan Angga.
Fajar benar-benar marah dan kecewa pada Angga. Mereka bertiga tumbuh besar bersama. Mereka juga berjanji akan menjaga Riska sampai dia menikah nanti.
"Fajar, kita benar-benar tidak melakukan apa-apa," jelas Riska.
"Riska, kamu tahu kan, aku selama ini menjaga kamu. Tidak apa-apa jika kalian memang saling mencintai, tapi kenapa kamu biarkan Angga merusak kamu juga," kata Fajar kecewa.
Riska sadar selama ini, betapa Fajar dan Angga sangat menjaganya. Namun, ini sungguh hanya kesalah pahaman yang tidak bisa dijelaskannya.
Perasaan Fajar sekarang seperti terkhianati. Yang paling membuat Fajar kecewa adalah, Angga yang melanggar janjinya untuk menjaga Riska.
"Fajar!" panggil Riska. Melihat tatapan penuh kekecewaan di matanya. Riska tidak berani lagi mengatakan lebih jauh.
"Jadi, sudah berapa lama kalian bersama?" tanya Kakek yang sedari tadi diam, melihat pertengkaran cucu dan sahabatnya.
"Kakek, kita benar-benar tidak bersama," jelas Angga.
"Siapa yang akan percaya dengan penjelasan kalian, setelah apa yang kita lihat dari awal masuk apartemen?" tanya Kakek.
"Angga, Kakek tidak pernah mengajarimu untuk tidak menghormati wanita."
"Kakek akan sangat malu, saat nanti bertemu dengan Sofyan."
Sofyan adalah Kakek Riska yang sudah meninggal. Mereka dulu sangatlah dekat.
"Kakek, jangan ngomong sembarangan!" bantah Angga. Setiap kali Kakeknya menyinggung tentang kematian, Angga sangat tidak suka.
"Kalian harus segera menikah!" putus Kakek.
Ucapan Kakek, sontak membuat ketiga orang lainnya terkejut. Mereka menatap Kakek untuk melihat, apakah Kakek bercanda atau serius.
"Kakek, aku nggak mau menikah sama Angga, Kek!" Riska menolak gagasan Kakek yang menyuruh mereka untuk menikah.
Kakek adalah satu-satunya sesepuh yang masih hidup diantara keluarga mereka bertiga, sehingga mereka sangat menghormatinya.
Keputusan Kakek kali ini, membuat mereka sangat dilema. Di satu sisi, mereka sangat menyayangi Kakek. Tetapi, untuk menuruti kemauan Kakek, mereka masih tidak yakin.
"Kakek akan bicara dengan Rosyad." Kali ini, keputusan yang diambil Kakek tidak main-main.
"Kakek, kita benar-benar jujur, kita tidak melakukan apa-apa Kakek. Ini semua salah paham." Riska masih mencoba untuk menolak gagasan menikah dengan Angga.
Dalam hidup Riska, tidak pernah terlintas sedikitpun pikiran, untuk menikahi salah satu sahabatnya.
"Apa kalian akan terus begini? Lebih baik kalian segera menikah. Jadi apapun yang kalian lakukan nanti sudah tidak dosa," terang Kakek.
"Akhirnya cucuku bisa menikah juga, apalagi Riska yang akan jadi cucu mantu ku," batin Kakek sangat bahagia.
Kakek sudah lama ingin Angga segera menikah, tapi cucunya itu benar-benar keras kepala. Setiap kali Kakek sudah mengungkit tentang pernikahan, Angga pasti akan segera mengalihkan pembicaraan atau kabur.
Kakek sebenarnya percaya dengan mereka. Tidak mungkin mereka melewati batas. Mereka dididik dengan ketat oleh orangtua mereka, jadi tidak diragukan lagi, mereka jujur. Sekarang ada kejadian seperti ini, Kakek dengan senang hati akan memanfaatkan kejadian ini, untuk memaksa Angga segera menikah. Bukan hal yang buruk, karena Riska tumbuh besar di bawah pengawasannya.
Fajar memikirkan ucapan Kakek. Ada benarnya juga menyuruh mereka untuk segera menikah. Hubungan Angga dan Riska sudah terlalu jauh.
Fajar mungkin akan percaya pada penjelasan mereka di awal, tetapi tidak, setelah Fajar menemukan alat kontrasepsi itu.
Bagi Fajar, alat kontrasepsi itu adalah bukti nyata, dan penjelasan Angga hanyalah alasan untuk menyangkalnya.
"Iya Kek, Fajar juga setuju mereka menikah," kata Fajar tiba-tiba.
Kata-kata Fajar membuat Riska ingin menangis. Riska seperti wanita yang teraniaya, karena tidak ada yang percaya padanya.
Riska menatap Fajar dengan mata berkaca-kaca. Berharap Fajar akan merasa iba padanya, biasanya jika Riska sudah seperti ini, Fajar pasti akan menurutinya.
Fajar yang melihat mata Riska sudah berkaca-kaca, merasa tidak tega. Namun mengingat apa yang sudah mereka lakukan, Fajar akan tetap setuju untuk mereka menikah.
"Tidak perlu menunjukkan wajah seperti itu Ris, aku akan tetap mendukung keputusan Kakek, untuk kalian menikah." Fajar membuang muka, tidak tahan dengan tatapan tidak berdaya dari Riska.
"Ayo Jar, kita kembali dulu, lalu kamu temani Kakek untuk menjelaskan situasinya pada Rosyad. Kamu akan menjadi saksi atas perbuatan mereka," ucap Kakek berpura-pura marah.
"Ayo Kek." Fajar berdiri mengikuti Kakek keluar dari apartemen Angga.
Setelah kepergian Kakek dan Fajar. Dua sejoli itu, kini tengah terdiam duduk di sofa. Merenungi kejadian yang terjadi hari ini.
"Angga, kenapa bisa ada ini?" tanya Riska menunjukkan satu kotak alat kontrasepsi yang ditemukan Fajar tadi.
Angga melihat alat kontrasepsi itu. "Aku juga tidak tahu," jawab Angga bingung.
Seumur hidupnya, Angga tidak pernah menyentuh barang itu, tapi tiba-tiba barang itu ada di apartemennya.
"Jangan-jangan kamu yang punya ya?" Riska melempar alat kontrasepsi itu ke lantai.
"Jahat kamu Ga! Kalau kamu udah punya pacar, kenapa malah minta bantuan aku segala, sampai-sampai Kakek sama Fajar salah paham dengan kita." Riska meraung, memukuli badan Angga.
"Sumpah Ris, itu bukan punya aku. Aku juga tidak tahu itu punya siapa," jelas Angga sambil menghindari pukulan Riska.
"Bohong! Itu pasti punya kamu," tuduh Riska.
"Bukan punyaku! Masa, kamu tidak mengenalku sih Ris," jawab Angga tidak terima dengan tuduhan Riska.
"Kalau bukan punyamu, terus kenapa bisa ada di sini?"
Angga mencoba mengingat-ingat, tidak mungkin dia yang punya, membelinya saja tidak pernah.
Melihat Angga diam, Riska berucap, "Jika bukan punyamu, berarti punya orang lain, siapa yang ke sini belakangan ini?"
Angga mengingat-ingat, siapa yang datang ke apartemennya belakangan ini. Angga kemudian ingat, kemarin malam Randy menginap di sini. Mengingat tabiat Randy yang sering main perempuan, barang itu pasti miliknya.
"Randy," teriak Angga menggebrak meja.
"Ada apa dengan Kak Randy?" tanya Riska bingung.
"Itu milik Randy, kemarin malam dia menginap di sini," ucap Angga.
"Jadi gara-gara Kak Randy, kita bakalan di nikahkan?" Riska berteriak tidak terima.
Riska yang memang sudah mengetahui tabiat Randy, percaya jika alat kontrasepsi itu miliknya.
Jika bukan karena Fajar tadi menemukan benda terkutuk itu, mereka pasti percaya pada mereka, dan mereka tidak akan disuruh menikah. Angga juga bukan orang yang setiap hari akan membersihkan apartemen. Angga hanya akan membersihkannya seminggu dua kali.
"Angga, ini terus bagaimana? Aku belum mau menikah."
Riska ingin menyalahkan Angga atas semua ini, tapi Riska sadar, dia dengan sukarela mau membantu Angga.
Angga terkejut melihat Riska yang menangis, berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya di lutut.
Angga memeluk Riska."Tidak apa-apa, apapun yang terjadi, aku pasti akan melindungi kamu," ucap Angga menenangkan Riska.