"Astaga...." Gisca mengembuskan napas frustrasi.
Kesialan macam apa ini? Sudah datang jauh-jauh untuk interview di sebuah perusahaan, Gisca baru mendapat kabar kalau jadwal interview-nya diundur besok.
Oke, ini kelihatannya sepele karena Gisca hanya perlu datang lagi besok, bukan?
Masalahnya adalah ... jarak antara rumah ke tempat interview-nya cukup jauh. Dengan menaiki transportasi umum, Gisca bahkan sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar tidak terlambat.
Rasanya Gisca ingin menginap di tempat terdekat saja agar besok tidak mengulang perjalanan yang melelahkan. Buang-buang waktu, energi dan ongkos saja.
Andai Gisca punya uang banyak, wanita berusia 26 tahun itu pasti memilih mencari penginapan yang mahal. Namun, sempat menyandang status pengangguran selama beberapa bulan membuatnya berpikir ratusan kali untuk mencari penginapan sekalipun dengan harga murah.
"Gisca!"
Itu adalah suara Sela, teman Gisca. Sela sebenarnya satu kampung halaman dengan Gisca, tapi sudah lama ia pindah ke kota ini untuk bekerja. Dan Gisca kini mengikuti jejaknya merantau di sini.
Ah ralat, maksudnya Gisca belum sepenuhnya bisa dikatakan merantau karena wanita itu baru akan menyewa tempat tinggal atau ngekos saat benar-benar diterima bekerja.
Gisca yang sedang duduk di sebuah kafe pun menoleh. Ia memang tengah menunggu Sela.
"Maaf ya lama, tadi saat kamu nelepon ... aku lagi ada kerjaan yang nggak bisa ditunda," ucap Sela sambil menarik kursi di hadapan Gisca. "Sekarang pun aku nggak bisa lama karena harus menemui klien," lanjutnya.
"Enggak apa-apa, kok. Justru aku yang seharusnya minta maaf udah ngerepotin kamu, Sel."
"Jadi gimana? Kamu batal interview?" Sela sengaja langsung ke inti pembicaraan. Ia tidak bohong saat mengatakan sedang tidak senggang.
"Ditunda besok, dan aku sempat bimbang haruskah aku pulang dulu lalu besok ke sini lagi?"
"Gila aja. Mending kamu nginep di tempatku," balas Sela.
"Nah itu. Aku juga berpikiran sama. Aku mau numpang di tempatmu sampai besok. Setelah ada kepastian diterima, aku bakalan nyari tempat tinggal sendiri. Kalau nggak diterima, ya aku pulang lagi ke rumah orangtuaku lalu mengulang lagi, nyari kerjaan lain," jelas Gisca. "Boleh, kan, Sel?"
"Boleh banget. Ya semoga aja kamu diterima, Gis."
Gisca tersenyum. "Makasih banget ya, Sel."
"1703. Itu password unit tempat tinggalku." Sela mengatakannya sambil membuka ponselnya. "Detail alamatnya barusan aku udah kirimkan via chat. Seperti yang tadi aku bilang, aku mau ketemu klien jadi nggak bisa anterin kamu. Kamu bisa naik taksi online ke sana."
"Sekali lagi makasih. Aku nggak tahu gimana nasibku kalau nggak ada kamu di sini."
"Ah, andaikan aku lagi nggak banyak kerjaan. Aku pasti minta izin pulang lebih cepat."
"Enggak apa-apa, kok. Aku ngerti kamu punya kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan. Justru aku berterima kasih banget kamu udah meluangkan waktu buat nemuin aku. Kalau nggak, aku pasti udah luntang-lantung kayak orang ilang."
Sela tersenyum. "Ya udah aku duluan, ya. Aku harus tiba lebih dulu dari klien-ku. Enggak enak kalau bikin mereka nunggu. Pokoknya anggap aja itu apartemen kamu sendiri. Kamu juga boleh pakai baju-baju punya aku."
"Kamu nggak takut kehilangan barang berharga, kan?" canda Gisca.
Sela malah terkekeh. "Kalau takut, mana mungkin aku mengizinkan kamu singgah ke tempat tinggalku."
Baru saja Gisca hendak merespons, Sela kembali berbicara, "Stop bilang makasih lagi! Kamu kayak ke siapa aja. Enggak perlu sungkan, oke?"
"Iya, iya. Kamu hati-hati, ya. Semoga lancar kerjaannya."
Sela mengangguk lalu berdiri. "Aku mungkin pulang agak malam. Oh ya, jangan sungkan juga kalau mau makan apa pun yang ada di rumahku. Gratis."
"Siiip," jawab Gisca. "Sel, sebelum pergi kamu minum dulu gih." Sebelum Sela datang, Gisca memang sudah memesankan minuman untuk temannya itu.
Sela tentu langsung meneguk minumannya dengan buru-buru. Setelah itu, ia benar-benar pergi meninggalkan Gisca.
Setelah kepergian Sela, Gisca langsung memesan taksi online melalui aplikasi andalannya. Sambil menunggu, ia kembali menyesap minumannya. Sungguh segar, apalagi saat cuaca panas seperti ini.
***
Gisca tiba di apartemen Sela dengan selamat. Wanita itu langsung menuju kamar Sela untuk mengganti pakaiannya. Walau bagaimanapun, pakaian untuk interview-nya besok tidak boleh kusut apalagi kotor.
Untung saja postur tubuh Gisca dengan tubuh Sela hampir sama sehingga baju-baju Sela sangat muat di tubuh Gisca.
Setelah mengganti baju, Gisca hanya ingin tidur sebentar. Urusan makan, nanti saja. Apalagi Gisca merasa belum lapar karena di kafe tadi ia sempat menyantap makanan ringan juga.
Waktu menunjukkan pukul 13.25. Gisca pun kini sudah berbaring di tempat tidur, menarik selimut.
Ah, kasur milik Sela rasanya sangat nyaman. Apa mungkin karena Gisca sudah melewati hari yang melelahkan sehingga dengan mudah matanya langsung terpejam. Tidur nyenyak.
Entah berapa lama Gisca tertidur, saking nyenyaknya mungkin sudah lebih dari satu jam.
Tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang.
Gisca yang memang berbaring menyamping, tentu saja terkejut. Tunggu ... apa ini hanyalah mimpi? Terlebih belakangan ini Gisca sering mimpi aneh-aneh.
Hanya saja, yang membuatnya heran, sentuhan dan pelukan yang dirasakannya terasa sangat nyata.
Apalagi kini sentuhan itu semakin intens, dan pelan-pelan mengarah ke titik-titik sensitif di tubuh Gisca.
Tentu saja Gisca langsung tersadar sepenuhnya. Ia sontak membuka matanya saat sentuhan lidah seseorang ke lehernya semakin menjadi-jadi.
Fix, ini bukan mimpi!
Gisca langsung terperanjat. Ia terkejut bukan main saat seorang pria dengan tanpa pakaian atas alias topless, menatapnya tajam.
"Ka-kamu siapa?" tanya Gisca antara takut dan gugup.
Gisca sangat terkejut. Namun, detik berikutnya Gisca mulai waspada, diambilnya guling yang ada di kasur untuk berjaga-jaga siapa tahu pria itu bermaksud macam-macam padanya.
Gisca mulai bepikir, siapa pun pria di hadapannya ini, sangat jelas pria tersebut memiliki akses masuk ke apartemen Sela. Jadi sudah pasti ini adalah orang yang Sela kenal.
Atau jangan-jangan ... pria di hadapan Gisca ini adalah pacar Sela? Hanya itu kemungkinan yang paling masuk akal mengingat apa yang hendak pria itu lakukan cenderung mengarah pada hal vulgar. Gisca yakin, pria ini salah mengira kalau dirinya adalah Sela.
"Tunggu, tunggu ... seharusnya aku yang nanya begitu. Kamu siapa dan kenapa bisa ada di kamar ini?" tanya sang pria.
Sial … kenapa pria itu harus top-less, sih? Jujur, ini kali pertama Gisca melihat pemandangan sialan begini secara langsung. Selama ini ia terbiasa melihatnya di serial drama favoritnya. Dan Gisca refleks menelan ludahnya.
Apa Tuhan memang terkadang sengaja memberikan anugerah ganda pada seseorang? Bagaimana tidak, pria itu sudah memiliki tubuh yang bagus, perutnya kotak-kotak bak roti sobek, ditambah lagi paras yang sangat tampan. Postur tubuhnya pun sangat proporsional sehingga cocok dijadikan model.
"Maaf, sebenarnya kamu siapa?" ulang pria itu.
"A-aku teman Sela." Gisca masih merasa gugup. Namun, ia sudah meletakkan guling ke tempat semula karena sepertinya pria itu tidak akan macam-macam, jadi Gisca tak perlu memukulnya untuk membela diri.
"Jadi kamu teman Sela?"
Gisca mengangguk. Sejujurnya masih ada perasaan syok dengan apa yang baru saja terjadi.
"Sebelumnya sori. Aku nggak tahu kalau kamu ada di sini. Aku kira kamu Sela. Padahal jelas-jelas Sela udah bilang hari ini sibuk banget banyak kerjaan, tapi aku tetap ngira kamu Sela. Apalagi kamu pakai baju Sela."
Gisca masih melongo. Dugaannya benar kalau pria di hadapannya ini pasti salah mengira.
"Oh iya, hampir lupa. Kenalin ... aku Saga, pacar Sela."
Benar lagi dugaan Gisca! Itu pacar Sela!
Memiliki pacar adalah hal normal. Namun, Gisca masih tidak menyangka kalau kehidupan asmara Sela sebebas ini. Pria bernama Saga ini jelas-jelas tadi hendak melakukan hal yang lebih dari sekadar memeluk di ranjang. Semua orang 'dewasa' pasti tahu kelanjutannya akan bagaimana.
"Sumpah demi apa pun, aku nggak bermaksud melakukan hal yang lancang sama kamu," tegas Saga. "Andai tahu ada teman Sela sendirian di sini, aku pasti nggak akan datang," sambungnya.
Tentu saja tanpa dijelaskan pun Gisca sudah tahu ini hanya salah paham dan Saga tidak punya maksud berbuat tak senonoh padanya. Untuk itu, Gisca tidak punya alasan untuk mempermasalahkan apalagi marah pada pria itu.
Selain itu, ada hal yang lebih konyol. Ya, bohong jika Gisca tidak terpesona pada ketampanan Saga. Namun tentu saja ia harus sadar diri dan ingat status hubungan Saga dengan Sela.
"Sadar, Gis! Sadar!"
Ya, Gisca harus secepatnya sadar, jangan jadi teman yang tidak tahu diri. Sekalipun hanya terpesona dalam hati, itu tetap tidak boleh.
"Maaf? Kamu dengar apa yang aku katakan?"
Lamunan Gisca seketika buyar. "Eh?"
Sial, untuk apa Gisca melamun di saat seperti ini?
"Dengar, kok. Aku ngerti ini murni ketidaksengajaan," sambung Gisca.
"Ya, apa yang barusan terjadi ... itu kecelakaan," balas Saga.
Belum sempat Gisca menjawab lagi, suara ponsel otomatis menghentikan pembicaraan mereka. Rupanya itu berasal dari ponsel milik Saga yang diletakkan di meja seberang tempat tidur.
"Sela," gumam Saga.
"Sela nelepon?" tanya Gisca spontan. Entah kenapa ia jadi deg-degan berlebihan, padahal ini murni ketidaksengajaan. Ia takut Sela salah paham.
Saga mengangguk. Pria itu tidak lupa mengambil kausnya kemudian menjauh dari Gisca. Ponsel Saga pun kini sudah menempel di telinganya.
"Halo, Sayang?" sapa Saga pada Sela di ujung telepon sana.
"Sayang ... aku tadi udah bilang hari ini sibuk banget, kan?"
"Iya, anehnya kenapa masih bisa nelepon aku? Sekangen itukah?" Saga berkata setenang mungkin. Seolah tidak terjadi apa-apa. Ah, memang faktanya tidak terjadi apa-apa, bukan?
"Aku lupa bilang kalau apartemenku lagi kedatangan tamu. Teman sekampungku. Jadi, jangan datang dulu, oke?"
"Sejak kapan? Seingatku kemarin nggak ada siapa-siapa."
"Perhari ini. Aku nggak tahu sampai kapan, yang pasti jangan datang dulu. Aku nggak mau bikin Gisca nggak nyaman."
"Oh, jadi namanya Gisca," batin Saga.
"Untung kamu bilangnya tepat waktu. Hampir aja aku mau istirahat tidur siang di apartemen kamu," bohong Saga.
"Astaga. Untung aja. Ya udah aku tutup dulu ya, Ga. Masih banyak kerjaan nih."
"Iya, Sayang. Semangat kerjanya."
Setelah menutup sambungan teleponnya, Saga langsung menoleh pada Gisca yang sedang berjalan ke arahnya.
Sebenarnya, sedari tadi Gisca mencuri dengar apa yang Saga katakan pada Sela di ujung telepon sana. Dan tentu saja Gisca terkejut Saga berbohong.
"Kenapa kamu bohong?" tanya Gisca.
Saga tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia juga yang semula tidak mengetakan atasan sudah kembali memakai kausnya.
"Mencegah urusannya jadi panjang. Ribet nantinya."
"Ya ampun."
"Kalau Sela tahu apa yang kita lakukan tadi, bukankah pertemanan kalian malah jadi canggung dan nggak nyaman? Terlepas kalau itu kecelakaan," jawab Saga. "Baik, kita memang nggak ngapa-ngapain, tapi tetap aja ... bahaya kalau Sela tahu kita 'hampir'. Aku hafal betul sifat dia, kamu juga harusnya tahu karena temennya," lanjut pria itu.
Gisca akui ada benarnya juga, tapi tetap saja bagi Gisca ada yang mengganjal hatinya saat berbohong begini.
"Berbohong demi kebaikan bukan masalah. Aku juga lagi malas berantem. Itu sebabnya aku bilang hampir mau datang ke sini, padahal sebenarnya aku udah di sini," jelas Saga kemudian.
Gisca memilih tidak menjawab. Ia mengerti tujuan Saga. Namun, entah kenapa ia malah jadi tidak enak sendiri, seperti sudah berbuat salah pada orang yang sudah menolongnya.
"Udah, nggak usah dipikirin. Anggap aja nggak terjadi apa-apa di antara kita," kata Saga lagi. "Oh ya, nama kamu Gisca, kan?"
Gisca tidak heran, pasti Sela yang memberi tahu namanya pada Saga.
"Salam kenal, ya. Mungkin kesan pertama pertemuan kita cenderung aneh dan konyol, tapi mau gimana lagi. Kita nggak bisa menebak segala sesuatu yang akan terjadi." Saga lalu mengulurkan tangannya, "Meskipun kita barusan udah saling tahu nama masing-masing, tapi nggak ada salahnya untuk berkenalan secara resmi. Kenalin ... aku Saga," lanjutnya.
Meskipun ragu, Gisca menerima uluran tangan Saga sambil berkata, "Gisca."
Gisca harap, ini adalah kali pertama dan terakhir dirinya berurusan dengan Saga. Entah kenapa firasatnya mengatakan agar dirinya jauh-jauh dengan pria tampan itu. Terlebih tatapan mata Saga memancarkan sesuatu yang sulit Gisca artikan.
"Karena kamu udah telanjur bohong sama Sela ... kamu nggak mungkin di sini terus sampai dia pulang, kan?" tanya Gisca hati-hati. Lebih tepatnya, mengusir Saga secara halus.
"Aku mau pulang sekarang, kok. Tapi sebelumnya mau izin ke toilet dulu."
"Oh, silakan silakan," balas Gisca.
"Kamu nggak mungkin nungguin di kamar terus, kan? Soalnya aku mau pakai toilet yang ada di kamar ini."
"Astaga. Sori. Silakan." Gisca jadi salah tingkah sendiri. Ia lalu cepat-cepat keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.
Sungguh, ini adalah hari yang absurd.
***
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan Sela belum juga pulang. Gisca yang baru saja mencuci piring bekas makan malamnya, kemudian memilih menghabiskan waktu di kamar.
Sialnya, Gisca masih teringat Saga. Ralat, tepatnya bukan Saga-nya yang ia ingat, melainkan kejadian yang mereka alami tadi yang seolah betah dalam pikirannya.
Berusaha mengenyahkan segala hal yang mengganggu pikirannya mengingat besok adalah hari yang menentukan diterima atau tidaknya Gisca, untuk itu Gisca akan berusaha lebih fokus dan konsentrasi. Jangan sampai kejadian konyol yang sepele malah merusak segalanya.
Gisca berbaring dan menarik selimutnya. Saat tubuhnya hendak menyamping, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal pahanya. Dengan tangannya, Gisca berusaha menggapai benda keras tersebut.
Gisca sontak mengernyit saat berhasil mengambilnya, yakni sebuah dompet pria berwarna cokelat. Refleks Gisca langsung terduduk.
Jangan-jangan ini milik Saga yang ketinggalan. Astaga ... bagaimana jika iya bahwa pria itu tidak sengaja meninggalkannya?
Namun, jika tak sengaja, bukankah seharusnya Saga sudah balik lagi untuk mengambilnya karena pria itu pergi dari sini sudah beberapa jam yang lalu.
Daripada penasaran, Gisca dengan hati-hati membuka untuk memeriksanya. Begitu dompet terbuka, sebuah kertas yang dilipat cukup besar dan sengaja diselipkan sembarangan, berhasil menarik perhatian Gisca. Wanita itu perlahan membukanya.
Hai Gisca, ini dompetku. Titip dulu ya, sebagai gantinya, maaf dengan lancang aku bawa dompetmu. Jadi untuk sementara kita bertukar dompet dulu. Kamu boleh pakai uangku sesuka hatimu, begitu juga sebaliknya.
Gisca, mari bertemu lagi untuk menukar dompet masing-masing. Lebih cepat lebih baik. Segera hubungi aku di nomor yang tertulis di balik kertas ini.
~Saga
Gisca lalu membalik kertasnya. "Dasar gila!"
Seharusnya Gisca sudah sadar sejak awal kalau ketampanan Saga digunakan untuk hal-hal seperti ini. Ya, Saga pasti playboy!
Kalau bukan playboy, untuk apa Saga melakukan hal itu? Ah, pokoknya Gisca menyesal sempat terpesona pada pria itu.
Sungguh, Gisca sama sekali tidak tahu kapan dan bagaimana caranya Saga mengambil dompetnya yang disimpan dalam handbag-nya. Gisca juga baru menyadarinya sekarang karena sedari tadi ia memang tidak menggunakan dompetnya lantaran tidak membeli apa pun.
Oh Tuhan, bagaimana ini? Bicara pada Sela pun mustahil. Firasat Gisca jadi semakin buruk. Seharusnya ia tidak terlibat dengan pacar Sela.
Benar, pertemuan antara dirinya dengan Saga hari ini, seharusnya menjadi awal sekaligus akhir interaksi mereka.
Namun nyatanya, sepertinya Gisca terpaksa akan bertemu lagi dengan pria itu.
Astaga ... sebenarnya apa yang Saga inginkan, sih?
Entah pria gila dari mana yang Gisca tengah hadapi saat ini, yang pasti ia masih tidak habis pikir ada pria yang berstatus sebagai 'pacar orang' kini terang-terangan sedang berusaha mendekatinya.
Parahnya lagi, Saga adalah pacar dari Sela. Teman Gisca sendiri! Bukankah sangat tidak waras pria itu berusaha merayunya?
Ya, apa namanya kalau bukan merayu? Dasar playboy sinting!
Percuma tampan kalau ketampanannya digunakan untuk hal kotor seperti itu.
Gisca tentu jangan sampai terbuai. Persetan dengan wajah tampan dan tubuh yang sempurna. Seharusnya ia tidak boleh tergoda. Sangat tidak boleh!
Saat ini, tidak peduli hari sudah malam, selagi Sela belum pulang, Gisca menunggu panggilannya diangkat oleh Saga. Tentunya ia menghubungi nomor Saga yang tertera di balik kertas tadi.
"Halo, dengan Saga di sini," sapa Saga di ujung telepon sana yang sangat sok imut.
"Kamu gila?! Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?" kesal Gisca tanpa mau berbasa-basi.
"Wah, sepertinya aku tahu siapa yang menelepon," balas Saga. "Sejujurnya aku agak kecewa, kenapa baru menghubungi sekarang padahal aku pergi dari tadi sore? Apa kamu baru menemukan dompetku?"
"Sial. Balikin dompet aku sekarang juga!"
"Tentunya kamu harus balikin dompetku juga dong," jawab Saga santai.
"Sebenarnya maksud kamu apa, sih, ngelakuin hal sekonyol ini? Apa kamu nggak mikir ... apa jadinya kalau yang menemukan dompetnya itu Sela? Dia pasti mikir yang nggak-nggak."
"Aku cuma lagi iseng aja, ngisi waktu luang dengan cara mengenal kamu lebih dekat," jawab Saga tanpa merasa berdosa. "Kamu bilang gimana kalau Sela yang nemuin? Hmm, tapi kenyataannya kamu yang nemuin, kan? Bukan Sela."
"Kamu pasti beneran nggak waras. Aku ini teman Sela. Kenapa kamu begini?"
"Loh, memangnya kenapa kalau kamu teman dari pacarku? Bukankah bagus."
"Apa? Bagus kamu bilang?"
"Iya bagus. Kenapa? Kamu mau lapor sama Sela kalau aku begini? Silakan aja kalau mau mencari masalah."
Gisca terdiam. Memang sempat terbesit keinginan untuk menceritakan apa yang dialaminya pada Sela, tapi Gisca tidak siap dengan risiko terburuk. Sekalipun menceritakan yang sebenarnya terlebih dirinya tidak salah, tetap saja Gisca takut perasaan Sela pada Saga bisa mempengaruhi jalan pikiran wanita itu.
Ya, bagaimana jika Sela lebih percaya Saga? Kalau sudah begini, harus bagaimana? Gisca jadi galau sendiri.
"Diam artinya lagi mikir. Dan aku yakin kamu setuju kalau kita ketemu lagi," tambah Saga.
Baiklah, Gisca akan menganggap pertemuannya dengan Saga untuk menukar dompet merupakan terakhir kalinya mereka bertemu.
Gisca merasa Saga adalah tipe pria yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, terbukti pria itu bisa-bisanya memiliki ide menukar dompet agar mereka bertemu lagi.
Ah, andai saja di dompetnya hanya berisi uang saja, Gisca mungkin memilih mengikhlaskannya sekalipun dirinya tidak kaya. Masalahnya adalah ... terdapat barang-barang berharga seperti kartu-kartu identitas yang akan ribet mengurusnya jika sampai kehilangannya. Sungguh, Gisca tidak mau membuang waktu hanya untuk mengurus hal-hal seperti itu.
"Foto KTP kamu cantik juga, ya?" Suara Saga kembali membuyarkan lamunan Gisca. "Eh, tapi aslinya lebih cantik, sih."
"Berisik! Enggak usah banyak omong deh. Mending kasih tahu kapan bisa balikin dompetku."
"Secepatnya dong. Bila perlu, sekarang juga bisa."
"Kamu gila?" Sumpah demi apa pun Gisca masih tidak menyangka beginilah sifat Saga, padahal tadi pria itu tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.
"Entah berapa kali kamu nyebut aku gila. Gimana kalau kamu ikutan gila juga, nemenin aku. Jadi kita gila sama-sama."
"Dasar sinting!"
Saga malah tertawa.
"Aku tunggu di basemen sekarang. Sebelum KTP punyamu aku daftarin pinjol." Saga masih terkekeh. "Buruan sekarang juga, sebelum Sela pulang."
Mengecek isi dompet Saga, Gisca ingin mengumpat saat tidak menemukan satu kartu identitas pun. Rupanya pria itu sangat niat sehingga hanya meninggalkan uang dan catatan saja.
"Dasar licik!" kesal Gisca. "Mau kamu itu apa, sih? Kamu udah punya pacar, ngapain masih ngerayu aku?"
"Ayo, aku tunggu. Aku udah sampai basemen nih." Saga sengaja mengabaikan pertanyaan Gisca.
"Gimana kalau kita ketemu Sela?"
"Itu sebabnya dari tadi aku bilang buruan, sebelum Sela pulang. Hmm, atau kamu mau dompetnya nginep di aku?"
"Astaga." Gisca terpaksa mengambil jaket yang digantung di kamar Sela. "Tunggu sebentar. Aku turun sekarang. Tapi aku cuma mau tukeran dompet aja, ya. Udah itu doang."
"Lah, memangnya mau ngapain lagi selain tuker dompet? Apa mau ngamar dulu? Aku yakin untuk sekarang kamu belum mau."
Gisca tidak menjawab pertanyaan Saga yang semakin melantur. Ia memilih memutus sambungan telepon mereka lalu bergegas menuju basemen, sambil berharap-harap cemas semoga Sela masih di kantornya. Ya, setidaknya sampai Gisca kembali ke kamar, Sela jangan sampai pulang dulu.
Sampai pada akhirnya, di sinilah Gisca berada. Di dalam sebuah mobil yang dikemudikan oleh Saga.
Tadi saat Gisca baru tiba di basemen, sebuah mobil langsung mendekat padanya. Pintu mobil pun dibuka dan Gisca dipersilakan masuk. Ah, lebih tepatnya diancam, jika tidak masuk secepatnya dikhawatirkan Sela memergoki mereka. Untuk itu Gisca terpaksa menuruti permintaan Saga untuk duduk di samping pria itu.
"Sebenarnya kita mau ke mana? Kita hanya perlu tukeran dompet, kenapa nggak di sana aja?"
Sambil menyetir dengan tenang, Saga menjawab, "Kamu serius mau ketahuan sama Sela? Dia hafal mobilku loh. Enggak lucu, kan, saat kita tukeran dompet ... Sela tiba-tiba mendekat dan memergoki kita."
"Sial. Kita nggak lagi berbuat hal vulgar. Justru kamu yang salah di sini. Bisa-bisanya kamu ngelakuin ini ke teman pacarmu yang bahkan baru kamu temui hari ini. Sumpah ya, aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu."
"Lagi berbuat vulgar atau nggak, tetap aja bahaya kalau Sela memergoki kita. Lagian tenang aja, kita nggak akan ke mana-mana, kok. Ini sekarang lagi putar balik."
"Mana dompetku?" tanya Gisca cepat.
"Sabar dong."
"Mana? Cepetan?"
"Ternyata kamu nggak sabaran ya." Sejenak Saga merogoh saku hoodie-nya. "Nih."
Secepatnya Gisca langsung mengambil alih dompetnya. Ia juga tanpa ragu langsung meletakkan dompet Saga secara sembarang di dasbor. Dan di saat yang bersamaan, ponsel Gisca bergetar tanda ada panggilan masuk.
Gawat! Itu dari Sela!