Bab 2

Sembari meringis, Ibell mengelus-elus keningnya. Karena terburu-buru, sepertinya ia telah menabrak bahu seseorang. Ibell berinisiatif meminta maaf. Ia memang teledor. Berlarian di kampus tanpa melihat ke arah depan. Raut wajah Ibell berubah kecut saat menatap seraut wajah muram menatapnya dalam. Pria seram inilah yang telah ditabraknya. Ibell melirik sekilas namun menyeluruh. Penampilan pria ini rapi sekaligus mahal dengan setelan kemeja berompinya. Namub tampak kontras dengan sejumlah tatoo yang mengintip lengannya. Kemejanya memang digulung hingga sebatas siku.

"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja menabrak Bapak. Saya terburu-buru karena ingin ke aula. Bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa baru lainnya. Sekali lagi saya minta maaf."

Ibell membungkukkan sedikit tubuhnya dan kembali menunduk. Gesture seperti ini memang sudah terbentuk sejak bertahun-tahun lalu. Tepatnya saat dia memutuskan untuk tidak lagi menjadi bagian dari klan Artharwa Al Rasyid maupun Brata Kusuma. Sejak keputusan itu ia buat, Ibell selalu berusaha untuk menyembunyikan wajahnya.

Semakin sedikit orang yang memandangnya, maka semakin kecillah peluang mereka untuk melihat kemiripannya dengan mommynya. Itu artinya, semakin kecil juga kemungkinan para rentenir-rentenir mengenalinya. Ia lelah terus mereka kejar-kejar untuk menagih hutang mommynya. Kornea mata coklat brandynya memang mirip dengan daddynya. Tetapi wajah orientalnya adalah warisan genetika dari keluarga mommynya. Hanya ekspresi wajah mereka lah yang sangat berbeda. Air muka mommynya itu seksi-seksi culas. Sementara dirinya cenderung introvert.

Mbok Darmi, pengasuh mommynya sedari bayi, mengatakan bahwa menatap dirinya sama saja seperti dia menatap mommynya. Oleh karena itulah, ia sangat suka menunduk. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari semua orang yang berkemungkinan mengenal keluarga kedua orang tuanya.

"Nama kamu siapa?" Lamunan Ibell buyar. Pria seram itu mengajaknya berbicara

"Ibell, Pak."

"Nama panjangnya?"

"Ibellllllll, Pak," jawab Ibell asal. Ia memang tidak suka menyebut nama lengkapnya.

"Ternyata selain tidak punya mata, kamu juga tidak punya otak. Jika kebetulan mata kuliah yang saya ajarkan adalah mata kuliah wajibmu, bersiaplah mendapat nilai E dari saya!"

Pria seram ini seorang dosen rupanya.

"Jikalau saya mampu mengikuti mata kuliah Bapak dengan baik, dan bisa menjawab semua ujian dengan benar, apa akan Bapak beri nilai E juga?"

"Kamu menantang saya, Cami?" Netra hitam itu semakin kelam saat menatapnya dalam.

"Saya bukan menantang, Pak. Saya hanya bertanya. Jikalau Bapak merasa itu adalah suatu tantangan, saya minta maaf."

Ibell kembali meminta maaf. Masalah di hidupnya sudah sangat berat. Ia tidak ingin mencari musuh lagi di sini. Istimewa pada dosennya.

"Fine. Coba nanti kita sama-sama lihat apakah otak kamu itu ada isinya. Atau otakmu memang ada isinya, tetapi letaknya saja yang salah." Dan pria seram berompi hitam itu pun berlalu begitu saja dari hadapannya.

Ternyata pria itu adalah salah satu dosen di kampus ini. Dosen apaan itu? Dosen tapi tatto bertebaran di sekujur tubuh. Jangan-jangan mata kuliah yang akan diajarkannya adalah cara memalak orang yang baik dan benar, serta jurus-jurus dasar untuk mengintimidasi orang!

Ibell sama sekali tidak takut menghadapi mata kuliah apapun di kampus ini. Bukannya sombong. Ia memang sudah pintar sejak kecil. Itu terbukti dengan ia selalu mendapat bea siswa sejak dari Taman Kanak-Kanak. Ia bisa masuk ke kampus elit ini juga karena bea siswa. Jadi sudah pasti otaknya itu ada isinya.

Ibell kembali berlari menuju aula. Namun kali ini dia lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya. Ia takut menabrak orang sembarangan lagi.

Sesampainya di aula, semua mahasiswa baru dikumpulkan menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari delapan orang. Ibell tergabung dalam kelompok 13 bersama dengan Armita, Lea, Annisa, Reno, Panca, Malik dan Galih. Kelompok mereka diberi nama Ayam Sayur.

"Selamat datang para mahasiswa-mahasiswi baru sekalian. Saya Galaksi Andromeda, mewakili para panitia dan senior-senior lainnya berharap agar acara OSPEK ini dapat semakin mengakrabkan kita sebagai sesama mahasiswa. Selain itu kalian semua bisa belajar untuk beradaptasi dengan ritme belajar di universitas. Karena belajar di universitas itu, sudah pasti berbeda dengan saat kalian masih SMU. Jika sistem belajar kalian dulu adalah selalu menerima ilmu begitu saja dari para guru, sekarang sebagai seorang mahasiswa kalian sudah harus menerapkan cara belajar jemput bola. Yang artinya kalian sendirilah yang harus belajar keras. Menyerap semua ilmu dari para dosen tanpa harus disuapi lagi. Akhir kata, saya ucapkan selamat menikmati masa pengenalan kampus baru ini. Semoga ke depannya, kita sebagai sesama mahasiswa dapat bekerja sama dengan baik. Terima kasih."

Tepuk tangan membahana terdengar. Para Cami memandangi sosok Galaksi dengan sorot mata memuja. Sebagian memandang secara terang-terangan, dan sebagian lagi hanya berani mencuri-curi pandang. Tidak terkecuali beberapa senior cantik yang juga diam-diam mencuri pandang pada rekan sesama panitia mereka.

"Aje gile itu, Kak Galaksi. Kok bisa ganteng maksimal gitu ya? Makan apalah itu manusia tiap hari, sampai doi bisa bersinar seperti itu?" Armita, teman baru Ibell, nyaris mimisan memandang Galaksi yang baru saja meninggalkan posium.

"Etdah, lo kata dia lampu pertromaks pake bersinar segala? Tugas besok tuh pikirin. Jangan senior ganteng aja yang lo mimpiin." Galih menoyor kepala Mita. Mereka berdua memang berasal dari SMU yang sama. Jadi sudah saling mengenal lama.

"Nasib orang jelek ya begini ini. Selalu saja mematahkan impian seseorang, sebagai bentuk manifestasi dari ketidakmampuannya menerima kenyataan." Armita menjebikan bibirnya. Galih memutar bola mata. Siap untuk kembali mengejek Armita.

"Sebagai sesama orang jelek, dilarang keras saling menyindir keminusan wajah masing-masing. Lo itu ya, ekspektasi merasa secantik Raisa. Tapi realita mah kaya badak jawa," cibir Galih.

Arnita langsung menjambak brutal rambut berpomade Galih, karena telah menyinggung masalah berat badannya. Wanita mana yang tidak mengamuk dikatain badak jawa coba?

Acara berbalas celaan itu baru berhenti, setelah para senior mulai memberikan tugas baru kepada mereka semua.

Saat panitia menyatakan istirahat selama lima belas menit, helaan nafas lega berjamaah terdengar dari teman-teman barunya. Walaupun cuma lima belas menit, tapi itu cukup membuat mereka bisa menarik nafas sejenak, sebelum disiksa kembali oleh para senior.

Ibell beranjak mencari spot-spot yang agak sepi untuk mulai mengisi perut. Ia memang tidak suka dengan keramaian.

Ibell meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah duduk cukup lama berdiri di aula. Hanya mendengar kata-kata sambutan dari para senior dan juga panitia-panitia OSPEK saja sampai dua jam lamanya. Bagaimana kakinya tidak kram coba?

Dari pukul empat pagi tenaganya telah dipakai untuk bekerja. Ditambah dengan menjadi pesuruh para senior di sini, tubuhnya serasa remuk semua. Sejurus kemudian, suara gemuruh di perutnya mulai berdemo meminta jatah. Ibell merasa lapar. Dengan semangat, Ibell membuka kotak bekalnya. Isi bekalnya hari ini adalah nasi goreng sosis kesukaannya. Baru saja makan pada suapan ketiga, tanpa Ibell sadari, ia menggigit cabai rawit acar yang pedasnya seperti membakar lidahnya. Ibell refleks menyambar air minum. Karena gerakan tergesa-gesanya, botol air minumnya malah tumpah.

"Nih. Minum saja air mineral saya. Masih bersih kok. Belum saya buka." Ibell yang sedang kepedasan meraih begitu saja air minum kemasan yang disodorkan seseorang padanya. Ia memang membutuhkan air minum untuk menetralisir rasa pedasnya. Setelah minum beberapa tegukan besar, Ibell mengucapkan terima kasih pada penolongnya. Ternyata orang itu adalah salah satu seniornya yang berpidato tadi.

"Terima kasih Kak..." Ibell berpikir sejenak. Ia berusaha mengingat nama ketua panitianya ini. Oh ya, namanya ketua panitianya ini adalah Galaksi Andromeda.

"Galaksi Andromeda," sahut Ibell canggung. Setelah mengucapkan kata terima kasih, Ibell kembali membuang tatapan.

"Ck! Kalau lagi ngomong sama orang, dipandang dong lawan bicaranya. Jangan nunduk-nunduk terus seperti nyari koin jatuh."

Ibell kaget saat Galaksi memegang dagunya. Menengadahkan wajahnya ke atas.

"Ah, benar dugaan saya. Memang kamu ternyata orangnya. Mata coklat brandy ini memang langka." Galaksi berguman sendiri. Ibell mengerutkan keningnya.

"Maksud Kakak apa? Maaf Saya nggak ngerti?" Ibell bingung. Galaksi tersenyum hingga menghadirkan dekik di kedua pipi. Galaksi mendekatkan wajahnya hingga tinggal sejengkal dari wajah Ibell.

"Kamu benar-benar tidak mengenali saya, Ibell?" Mendengar pertanyaan Galaksi, Ibell mencoba mempertegas pandangannya pada selebar wajah Galaksi. Kali ini ia menatapnya dalam-dalam. Mencoba menggali ingatan lebih dalam. Namun Ibell tidak merasa kenal.

"Kamu ingat anak laki-laki yang suka ikut Mang Dadang pulang makan siang, sebelum si mamang mengantarkannya kembali ke komplek sebelah? Yang suka membeli kue lemper dan klepon karena dia bilang kue di rumahmu itu aneh-aneh bentuknya. Ingat Ibell ompong?" Mata Ibell langsung menyala mendengar julukan yang paling dia benci dari anak orang kaya komplek sebelah rumahnya.

"Kamu, Galaksi anak majikannya Kang Dadang?"

BINGO!

"Berarti kamu sudah ingat sekarang. Apa kabar Ibell ompong yang sekarang sudah tidak ompong lagi?" Galaksi tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia sama sekali tidak menyangka akan menemukan putri ompongnya di kampus ini.

"Jangan panggil Ibell ompong lagi. Saya 'kan sudah tidak ompong lagi sekarang!" Ibell yang bahkan tidak pernah merajuk pada siapa pun kecuali Mbok Darmi, untuk pertama kalinya bersikap manja pada seseorang. Dan orang itu adalah senior di kampus barunya ini. Demi apalah dirinya bersikap aneh seperti ini? Ibell menepuk keningnya sendiri. Sadar kalau dia telah bersikap berlebihan.

Drttt... drttt... drttt...

Galaksi belum menjawab pertanyaannya, namun ponselnya bergetar. Ibell heran karena Mbok Darmi menghubunginya pada jam-jam seperti ini.

"Ha--"

"Hallo, Neng. Gawat. Ini ada rentenir-rentenir baru di rumah kontrakan kita, Neng. Sekarang mereka sedang mengacak-acak kontrakan. Mereka malah sudah mengambil teve dan laptop si Eneng. Bagaimana ini, Neng?

Ibell lemas. Bahu kecilnya mencelos. Terus-terusan berjuang seperti ini kadang-kadang membuatnya frustasi juga. Setelah menarik nafas berulang kali, Ibell baru bisa menjawab telepon Mbok Darmi dengan hati yang lebih tenang. Dia tidak ingin semakin menakuti Mbok Darmi.

"Ya udah nggak apa-apa, Mbok. Yang penting mereka tidak menyakiti si Mbok. Ibell nanti sore baru bisa pulang, Mbok. Si Mbok baik-baik aja di rumah ya? Biar saja mereka mengambil apa saja. Yang penting si Mboknya tidak diapa-apain. Ibell tutup dulu teleponnya ya, Mbok?"

Ibell merasa begitu merana. Ia membayangkan harus lari lagi dan mulai mencari kontrakkan baru. Yang artinya uang keluar baru lagi. Tanpa sadar ia sudah menangis tanpa suara. Pandangan kosong ke depan. Ia bahkan melupakan kehadiran Galaksi, yang mendengarkan semua permasalahannya.

Akan halnya Galaksi, ia tidak menyangka kalau kehidupan Ibell masih sengsara seperti dulu. Tidak tahan melihat netra coklat brendy itu meneteskan air mata, Galaksi refleks memeluk pelan bahu Ibell. Mencoba menenangkannya.

Tanpa mereka sadari, seseorang berompi hitam, melihat adegan itu dari jendela ruangannya. Sosok itu mendesis sinis.

"Dasar perempuan murahan. Tidak ibu, tidak anak, kelakuannya sama-sama menjijikkan. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya."

Mengacak-acak kontrakkanmu itu hanya pemanasan saja. Kita akan segera melihat acara puncaknya sebentar lagi!

Bab 3

Galaksi menghentikan mobilnya sesuai dengan aba-aba yang diberikan oleh Ibell. Mbok Darmi telah berdiri di teras. Menunggu kepulangan Ibell. Wajah tuanya penuh dengan kecemasan akan nasib mereka ke depannya.

"Neng, kita sebaiknya mulai  nyari kontrakan baru. Mbok takut besok-besok mereka bakalan ngerusuhin si Eneng lagi. Mbok khawatir Eneng nanti diapa-apain sama mereka. Eneng sekarang udah besar. Bahaya kalau dekat-dekat mereka." Dalam kecemasan Mbok Darmi mengajak Ibell duduk di kursi plastik teras. Kebingungan harus berbuat apa. Mbok Darmi bahkan melupakan kehadiran teman Ibell. Ia sangat cemas.

Dalam kebingungan yang sama, Ibell menatap Mbok Darmi dengan pandangan penuh kengerian. Satu-persatu ingatan tentang masa lalu, berdesakan keluar. Mereka yang diseret keluar dari rumah, dibentak-bentak sepanjang jalan agar melunasi hutang-hutang ibunya kembali memasuki benaknya. Ibell ketakutan dan mulai gemetaran tidak terkendali.

Ibell mempunyai kebiasaan gemetaran hebat, kalau sedang dalam keadaan panik luar biasa atau pun ketakutan. Karena di saat itu benaknya seakan diserbu oleh ratusan monster yang keluar dari kolong tempat tidurnya. Mereka seakan-akan berlomba memakannya. Itu semua bermula saat mommynya selalu menakut-nakutinya apabila ia tidak bisa tidur. Sementara mommynya sudah tidak sabar ingin dugem bersama teman-temannya yang telah menunggu di mobil.

Mommynya mengarang cerita, bahwa di bawah kolong tempat tidurnya, ada segerombolan monster yang tinggal di sana. Apabila ia nakal dan tidak mau tidur, maka mereka semua akan keluar dan beramai-ramai menyantapnya sebagai menu makan malam. Sewaktu kecil biasanya Ibell akan langsung berkeringat dingin dan ketakutan. Akibatnya ia malah semakin tidak bisa tidur.

"Neng... Neng... udah nggak apa-apa, Neng. Nggak ada monster di sini. Monsternya sudah pergi. Udah Neng!Udah ya? Lihat Mbok Neng, Lihat Mbok!" Mbok Darmi memeluk anak majikannya sambil terus berusaha mengarahkan wajah Ibell agar menghadap padanya.

"Ampun... Ampun! Tolong jangan makan Ibell. Ampun!" Ibell yang masih saja terbawa ilusi masa lalu, terus berjongkok sambil membenamkan wajah di antara lututnya. Mencoba meredam kengerian yang mulai merasuki jiwanya. Dia takut!

Galaksi Andromeda sejenak terpana memandang keadaan Ibell. Dia bukanlah orang yang gampang baper terhadap sesuatu ataupun seseorang. Teman-teman kampusnya malah menjulukinya raja tega. Karena berkali-kali menolak pernyataan cinta dari rekan-rekan maupun adik kelasnya. Tetapi kalau sekedar ena ena just for fun dengan mereka semua, Galaksi oke-oke saja. Asalkan sesuai dengan seleranya. Lo dapet enaknya, gue juga dapat mengosongkan kantong sperma. Juga dengan satu syarat, no commitment. Ya, ia memang sebejat itu!

Tapi entah kenapa kali ini ia  ingin memeluk seorang perempuan tanpa modus untuk menidurinya. Pelukan yang ingin diberikannya kali ini adalah murni pelukan untuk, apa ya? Ia sendiri pun susah untuk menjabarkannya. Sedikit rasa nyaman mungkin.

"Neng, sadar Neng! Lihat Mbok Neng. Ini Mbok Darminya Eneng."

"Oh, Mbok Darmi. Maaf ya tadi Ibell agak kacau pikirannya. Hehehe... Mbok gini cantik mana mungkin jadi monster ya, Mbok ya? Kalau Mbok jadi monster nanti Ibell sama siapa?" Ibell yang mulai tersadar, segera memeluk erat si mboknya seakan-akan takut ditinggal.

"Ibell hanya punya si mbok. Ibell cuma punya si mbok." Ibell berguman berulang-ulang. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau si mboknya tetap bersamanya.

"Bagaimana kalau Ibell dan Mbok Darmi sementara tinggal di rumah saya saja dulu. Mau?" Galaksi berjongkok di samping Ibell yang masih memeluk erat mboknya di teras rumah.

"Aden ini siapa ya? Kok rasa-rasanya Mbok pernah lihat. Tapi di mana ya? Sek... sek... sek... ini Den Galaksi majikan kecilnya Mang Dadang toh? Yang dulu suka beli kue-kuenya si Mbok?" Mbok Darmi tertawa gembira. Ia ingin raut wajah tengih si bocah yang kini telah dewasa.

"Hahahah... iya, Mbok. Wah si Mbok langsung inget. Nggak kayak seseorang. Harus dikasih clue berkali-kali dulu baru inget." Galaksi melirik Ibell yang terlihat malu dan serba salah. Ibell tidak nyaman karena telah memperlihatkan kelemahannya tanpa sengaja.

"Hehehe. Den Galaksi sudah dewasa sekarang ya? Nguanteng lagi. Apa kabar Mang Dadang, Den? Masih jadi supirnya Den Galaksi ndak?"

"Mang Dadang sudah pensiun sekarang, Mbok. Kasihan sudah tua masak disuruh kerja terus? Sekarang beliau sudah kembali ke desa. Berkumpul dengan anak cucunya. Tawaran saya bagaimana Mbok? Mau tinggal sementara di rumah saya, sebelum kita mencari rumah kontrakan yang baru?" Mbok Darmi memandang Ibell. Meminta pertimbangan tanpa suara. Ibell menggeleng tegas.

"Terima kasih tawarannya, Kak. Tapi Ibell rasa tidak perlu. Ibell sudah capek terus melarikan diri dari mereka. Ibell akan mencoba menyelesaikannya sendiri satu persatu. Entah dengan cara mencicil atau apa. Ibell capek hidup seperti buronan, Kak. Sekarang Ibell masuk dulu ya, Kak? Mau menyelesaikan tugas untuk besok. Kalau tidak selesai,  bisa kena hukum nanti satu kelompok." Ibell mengalihkan pembicaraan.

"Kamu kelihatannya sangat capek, Ibell. Ayo kita masuk. Kakak bantu menyelesaikan tugasmu." Ibell mengiyakan. Galaksi sudah berbaik hati mengantarnya pulang. Tidak ada salahnya membiarkannya singgah sebentar.

Saat mengerjakan tugas, Ibell sudah sangat lelah. Ia hanya sempat menulis tugasnya separuh. Karena ia telah tertidur pulas dalam posisi duduk. Kepalanya terkulai di meja belajar.

Alhasil Galaksi lah yang menyelesaikan salinan tugas Ibell, yang rangkumannya  mencapai dua lembar halaman double folio. Galaksi merasa tangannya mulai kram karena kelamaan menulis.

Semua demi putri ompongnya. Tidak apa-apalah. Tanam budi saja dulu, biar metik hasilnya nanti lebih gampang. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Masuk ke toilet saja bayar kan?

Galaksi tidak tahu, bahwa yang namanya cinta itu bisa menyamar dalam bentuk apapun. Bisa dalam bentuk kasihan, simpati, suka bahkan benci. Dia tinggal masuk diam-diam. Menelusup perlahan melalui kisi-kisi relung hati, dan selanjutnya menguasai benaknya dengan bayangannya. Untuk selanjutnya merajai hatinya untuk selamanya.

***

Ibell turun dari angkot dengan dua keranjang kue ditangan kanan dan kirinya. Bu Manan, Ibu kantin kampus ternyata jadi memesan kue-kue basah dari Ibell. Rupanya saat Ibell ketiduran semalam, Mbok Darmi lah yang mengangkat teleponnya dan sekaligus bangun lebih pagi untuk membuat kue-kue pesanan Ibu kantin tersebut. Ibell juga kaget sekaligus lega, saat tahu bahwa tugas kelompoknya telah diselesaikan dengan baik oleh Galaksi. Jujur, setelah sekian lama terbiasa hidup mandiri tanpa pernah merasa dimanja dan didukung oleh siapapun, sudut hatinya sedikit tersanjung saat menerima perhatian dari seseorang, apalagi itu dalam bentuk lawan jenis yang semenawan Galaksi. Ayolah, bagaimana pun Ibell adalah seorang gadis remaja belasaan tahun yang hatinya mulai merasakan debar-debar aneh saat berdekatan dengan lawan jenisnya.

Bunyi bel panjang menandakan bahwa semua kelompok MABA wajib apel pagi dan mulai berkumpul dilapangan. Ibell dan ke tujuh temannya dalam satu kelompok pun mulai berbaris memanjang kebelakang dan Ibell lah yang berdiri paling depan sebagai ketua kelompok. Sebenarnya kemarin Ibell sudah menolak pengangkatannya sebagai ketua kelompok secara sepihak itu. Karena rata-rata kelompok yang lain ketuanya 99% adalah laki-laki. Hanya Ibell dan Rosni saja yang perempuan. Itu jika kita diperbolehkan untuk melihat KTP Rosni, sehingga kita bisa membaca kolom jenis kelamin yang ternyata ditulis perempuan. Coba kalau tidak, pasti semua orang akan mengira kalau Rosni itu laki-laki. Dia terlihat ganteng alih-alih cantik.

"Ayo semua ketua kelompok mulai mengumpulkan tugas-tugas yang kemarin diberikan. Setelah itu kita akan mengadakan sesi permainan ketangkasan. Setiap kelompok yang kalah, wajib mendapatkan hukuman yang akan dibacakan sesuai dengan nomor yang mereka di pilih dalam amplop ini. Jadi hukumannya sifatnya random. Ayo sekarang kalian silahkan mempersiapkan diri, sementara kami memeriksa tugas kalian semua." Ranti senior wanita cantik dan baik hati mulai memberikan perintah.

"Saya sama sekali tidak menyangka, kalau dalam tugas pertama saja, kalian sudah berani bertindak curang. KAMI SANGAT KECEWA SEKALI!!!"

Arjuna Wigunatra, salah seorang senior yang paling sadis mulutnya memandang beringas pada Ibell.

"Kelompok Ayam Sayur, maju depan semua!!!" Ibell, Armita, Lea, Annisa, Reno, Panca, Malik dan Galih dengan wajah pias mulai melangkah cepat kedepan.

"Siapa yang bertanggung jawab untuk menyalin resume ini?"

"Saya Pak."

"Nama?"

"Isabelle, Kak."

"Isabelle, kamu punya hubungan apa dengan Galaksi Abdromeda?" Pertanyaan yang sangat ambigu itu membuat semua kepala menoleh penasaran pada Ibell. Berbagai ekspresi wajah pun tampak disana. Ada yang kaget, heran  tapi sepertinya lebih banyak yang mencemooh.

"Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan kak Galaksi, Kak?"

"Kalau begitu mengapa bisa Galaksi yang menulis resume ini? Saya sangat hafal dengan tulisan tangannya. Kamu masih mau menyangkal? Saya bahkan melihat dengan mata kepala Saya sendiri kalau kamu semalam diantar pulang olehnya dan dia juga baru keluar dari rumahmu pada pukul sebelas malam. Bisa kamu jelaskan semua ini pada Saya?

Manusia mental penipu seperti kamu ini cocoknya balik ke negri asal mu saja sana. Sepertinya disana para penipu dan tukang KKN lebih bisa diterima, kulit pucat." Decih Arjuna seolah-olah Ibell adalah orang yang paling hina sedunia.

"Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan cinta Saya kepada negeri ini, Saya ingin mengatakan bahwa, negeri yang anda sebut sebagai negeri para penipu dan KKN itu 90% menghukum oknum pelaku nya dengan hukuman mati, setelah sebelumnya mereka wajib meminta maaf pada public atas perbuatan mereka yang merugikan bangsa dan negaranya. Bukannya malah senyum-senyum sambil dadah-dadah manjah di teve, dan setelahnya masih bisa mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Coba katakan kepada saya, negara yang mana yang bersikap lebih permisif terhadap penipuan dan KKN?

Lagi pula menurut UU No.3 tahun 1946 tentang Kewarga Negaraan Indonesia, UU No.2 tahun 1958 Tentang penyelesaian Kewarga Negaraan Indonesia, bahkan sampai UU No.12 tahun 2006 Tentang Kewarga Negaraan Republik Indonesia. Semua poin-poin nya mengindikasikan bahwa Saya adalah WARGA NEGARA INDONESIA. Dan itu VALID. Bukan warga negara negeri yang Kakak sebutkan tadi, yang saya bahkan tidak pernah menginjakkan kaki kesana!" Suasana dilapangan menjadi begitu sunyi saat Ibell dengan berani membalikkan semua argumen dengan cerdas, dan lugas. Arjuna tampak merah padam wajahnya menahan malu karena ditelanjangi begitu rupa oleh anak kemarin sore. Sementara Ibell, mata coklat brandy nya tampak menyala-nyala saat seniornya ini berniat membantai nya dengan hal-hal yang berbau SARA. Tidak seorang didunia ini bisa memilih dimana dia akan dilahirkan dan RAS apa yang akan dia dapatkan. Kesemuanya itu memang sudah diatur sedemikian rupa oleh semesta bukan?Satu yang pasti, semuanya adalah makhluk ciptaan Tuhan.

"Memang benar kak Galaksi kemarin mengantar Saya pulang. Benar juga kak Galaksi yang menyalin resume tugas kami. Saya ketiduran saat mengerjakannya semalam. Jadi mungkin kak Galaksi yang melanjutkannya. Saya bersalah Kak Juna. Saya minta maaf, Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan Saya bersedia dihukum."

"Sebagai warga negara yang baik, tentu kelompok Ayam Sayur ini tidak keberatan dihukum menghormat bendera sampai tiba saat sesi berikutnya bukan?" Arjuna pun mengeluarkan senyum manisnya yang sepertinya malah terlihat seringai dimata Ibell dan kelompok Ayam Sayurnya.

Ternyata otak kamu memang berisi, gadis kecil. Sayang sekali orang secerdas kamu harus habis pelan-pelan ditangan Saya karena dosa warisan ibumu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Tears

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED