Bab 1

"Mbok mohon dengan sangat Den Raven, tolong bawa Bu Celine ke rumah sakit. Ibu sedang sakit keras, Den. Sudah seminggu ini badannya panas seperti terbakar api. Hidungnya juga mimisan. Mbok rasa penyakit Bu Celine ini bukan penyakit biasa. Ibu perlu di opname di rumah sakit sepertinya, Den," mohon Mbok Darmi pada mantan majikannya. Saat ini ia berada di rumah Raven Atharwa Al Rasyid. Mantan majikan laki-lakinya. Setelah Celine Brata Kesuma bercerai dengan Raven, ia tetap ikut dengan Celine. Karena sedari bayi merah pun, ia telah mengasuh Celine. Dan hari ini ia khusus ke rumah Raven, karena Celine jatuh sakit. Ia ingin meminta bantuan Raven. Ia tidak tau lagi harus mencari bantuan ke mana. Karena keluarga besar Brata Kesuma telah memutuskan hubungan keluarga dengan Celine.

"Maaf ya, Mbok. Saya sudah capek selama dua tahun ini terus saja dibohongi oleh Celine. Mbok ingat tahun lalu, sewaktu dia bilang Ibell sakit keras dan butuh dana seratus juta? Apa yang terjadi setelah saya mentransfer dananya? Dia malah menggunakan uang itu untuk pelesiran keluar negri," geram Revan.

"Lantas tahun lalu. Saat dia bilang dia sedang sakit parah dan minta bantuan pengobatan lima puluh juta. Tapi apa hasilnya? Uangnya dia pakai berjudi dan mabuk-mabukkan. Makanya saya tidak mau lagi mentransfer biaya bulanan Ibell padanya. Tetapi langsung meminta Ibell mengambilnya ke sini setiap bulan. Apa yang terjadi? Anak itu hanya datang tiga kali dan selanjutnya si Mbok lah yang mengambil. Lama-lama anak itu makin mirip dengan sifat ibunya. Keras kepala sekali," keluh Revan geram. Ia capek menghadapi tingkah ibu dan anak yang selalu saja membuatnya naik darah.

"Kalau saya yang menjenguknya ke sana 'kan tidak baik. Saya ini sudah bercerai dari ibunya. Takutnya akan timbul fitnah yang tidak-tidak kalau saya keseringan ke sana."

Curahan hati Revan ditanggapi Mbok Darmi dengan helaan napas berat. Beginilah nasib seorang anak yang kedua orang tuanya bercerai. Di bola ke sana ke mari dan dijadikan pelampiasan kekesalan orang tuanya.

"Walaupun Den Raven sudah cerai dari Bu Celine, tapi Ibell 'kan tetap anak Aden. Aden wajib menjenguknya di rumah. Ibell masih 10 tahun. Masih anak-anak. Mungkin dia malu kalau dia yang terus datang ke sini menemui Aden kalau dia rindu." Mbok Darmi berusaha memberi pengertian pada mantan majikannya.

"Siapa suruh dia dulu malah memilih tinggal bersama ibunya setelah Celine keluar dari penjara? Reksi begitu sayang padanya dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Tapi dia malah mempersulit diri sendiri. Anak itu sekarang susah sekali diatur. Memang punya anak dari orang seperti Celine itu adalah suatu kesalahan besar."

Ibell yang berdiri di pagar rumah mendengarkan semuanya dalam diam. Ia memang tidak ikut dengan Mbok Darmi ke teras rumah. Namun ia mengintip dari sela-sela pagar. Makanya ia bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Ibell mengusap matanya yang kini berair. Berarti di mata daddynya dia adalah sebuah kesalahan. Ibell sedih. Ia bukannya mau mencari susah dengan ikut mommynya setelah mommynya bebas dari penjara. Ia hanya kasihan pada mommynya. Opa dan omanya sudah membuang mommynya dari daftar silsilah keluarga Brata Kesuma. Teman-teman mommynya juga semua ikut-ikutan menjauhi mommynya. Ibell tidak tega melihat mommynya terpuruk seorang diri. Oleh karena itulah dia memutuskan untuk ikut dengan mommynya.

Mengenai dia tidak mau mengambil jatah bulanan ke rumah daddynya. Itu semua karena ibu mama tirinya, Oma Astri, selalu saja menyebutnya si penagih hutang. Karena dia selalu datang ke sana untuk mengambil uang, setiap tanggal satu setiap bulannya. Makanya ia segan kalau harus ke sana. Ia malu.

"Pulanglah, Mbok. Maaf saya dan suami tidak bisa membantu Celine, karena dia bukan apa-apa kami lagi. Lain kalau itu masalah Ibell. Kami pasti akan turun tangan. Karena apapun yang terjadi, Mas Raven adalah ayahnya. Tetapi kalau masalah Celine, maaf saja, kami tidak bisa membantu."

Reksi menghampiri suaminya dan memintanya masuk ke dalam rumah. Sedari tadi ia hanya menjadi pendengar yang budiman.

"Tolonglah, Den. Bu Celine benar-benar sakit keras. Ibu bahkan -"

"Ayok, Mbok. Kita pulang saja. Mommy dan Ibell cuma kesalahan dalam hidup daddy."

Ibell yang sedari tadi mendengarkan dalam diam menerobos masuk. Ia tidak tahan lagi melihat si mboknya terus memohon-mohon. Ia kasihan pada si mboknya.

"Daddy tidak usah khawatir. Ibell janji, mulai hari ini dan seterusnya, Ibell tidak akan pernah ke rumah ini lagi untuk menemui Daddy. Ibell tidak mau kalau setiap kali Daddy melihat Ibell, Daddy akan teringat kembali pada kesalahan Daddy. Permisi."

Ibell menghela lengan Mbok Darmi. Mengajaknya keluar rumah. Saat tiba di perempatan jalan, ia mengajak Mbok Darmi naik ke dalam angkot yang kebetulan sedang melintas. Ia meninggalkan rumah daddynya dengan satu tekad. Bahwa untuk seterusnya ia tidak akan sudi kembali ke rumah daddynya lagi. Mulai hari ini ia hanya punya mommynya dan Mbok Darmi.

Akan halnya Raven, ia baru tersadar saat Ibell telah berlalu. Ia merasa bersalah. Ibell memang masih kecil. Tapi ia pasti mengerti tentang penolakan. Makanya Ibell pergi. Raven sadar ia telah terpeleset kata. Tidak seharusnya ia berucap seperti itu. Ketika Raven tersadar dan mulai berlari ingin mengejar angkot tersebut, Reksi menahan tangannya.

"Mas, aku tidak keberatan kalau Mas menemui Ibell, menafkahi Ibell dan menyayangi Ibell. Karena Mas itu memang ayahnya. Aku juga menyayanginya, Mas. Walaupun aku ini hanya ibu sambungnya. Tetapi kalau Mas menemui Celine, itu lain cerita. Aku tidak akan mengizinkan. Mas ingat 'kan kejadian saat Celine mencium paksa Mas  dan menyebarkannya di medsos dengan caption rindu mantan?"

Revan terdiam. Celine memang keterlaluan. Itulah makanya ia tidak mau lagi menemui Ibell di rumah Celine. Celine itu licik seperti ular.

"Mas ingat 'kan betapa sakit hati dan malunya Aku ditertawakan semua. Belum lagi mama yang terus saja memarahiku karena mengganggap aku ini tidak becus menjaga suami.

Jangan jatuh di lubang yang sama sampai dua kali, Mas. Itu konyol namanya. Kalau Mas ingin minta maaf pada Ibell atas kata-kata yang tidak sengaja Mas ucapkan tadi, Aku setuju Mas. Kita memang tidak pantas berbicara seperti itu. Karena apapun yang terjadi dalam hubungan kalian dulu, Ibell tidak pernah minta dilahirkan. Besok saja kita sama-sama menemui Ibell di rumahnya. Ayo sekarang kita masuk Mas. Sudah malam."

Dengan apa boleh buat, Raven mengikuti saran istrinya untuk kembali ke rumah.

Tapi yang terjadi keesokan harinya adalah, anak mereka, Raphael, terserang typhus. Mereka sekeluarga pun sibuk mengurus Raphael seharian di rumah sakit. Masalah Ibell akhirnya terlupakan.

***

Seminggu telah berlalu.  Raphael telah sembuh. Dan hari ini Raven dan Reksi bermaksud mengunjungi Ibell untuk meminta maaf.

Saat ini mereka tengah mencari rumah kontrakan Celine yang baru. Karena ternyata Celine telah pindah kontrakan sejak setahun yang lalu. Untung saja tetangga Celine tau alamat Celine yang baru. Kalau tidak, entah ke mana mereka akan mencari Ibell. Nomor ponsel Celine selalu berganti, dan Mbok Darmi tidak mempunyai ponsel.

Dan di sini lah sekarang mereka berada. Di jalan sempit kavling kontrakan Celine yang baru. Jujur,

Raven merasa sangat bersalah saat melihat betapa kumuhnya tempat tinggal anaknya, sementara rumahnya sendiri laksana istana. Reksi juga bereaksi sama. Wajahnya mendung saat melihat betapa menyedihkan kehidupan anak tirinya.

"Maaf, Bapak mencari siapa?" Seorang ibu-ibu berdaster dan anaknya yang masih SD, heran melihat ada orang kaya yang singgah dikontrakkan mereka yang kumuh.

"Saya mencari rumah Bu Celine. Rumahnya yang mana ya?" tanya Revan gelisah. Wajah sang ibu mendadak terlihat sedih.

"Bapak sudah terlambat. Bu Celine sudah meninggal dunia lima hari yang lalu."

Innalilahi wainalilahirojiun.

Raven dan Reksi tersentak kaget. Ternyata Mbok Darmi memang tidak berbohong.

"Bu Celine sakit apa ya, Bu?" Terbata-bata Raven akhirnya bisa bersuara juga.

"Sakit demam berdarah, Pak. Tetapi tidak dibawa ke rumah sakit. Soalnya mereka tidak mempunyai biaya, Pak. Kasihan, Ibell sampai berulang kali tidak sadarkan diri. Ayahnya entah di mana, eh ibunya meninggal pula? Bukannya kami semua mensyukuri orang yang sudah meninggal ya, Pak. Tetapi Bu Celine itu menang selalu membuat masalah. Membawa laki-laki ke rumah, mabuk-mabukan, belum lagi kalau rentenir-rentenir itu datang. Habislah Mbok Darmi dan Ibell yang dimaki-maki. Karena biasanya Bu Celine melarikan diri setiap dikejar hutang," adu si ibu semangat.

Hati Raven remuk. Dia sangat menyesal karena terlambat mengetahui neraka seperti apa saja yang telah dilalui oleh putri kecilnya. Celine memang brengsek!

"Se--sekarang Ibell dan pengasuhnya ada di rumah Bu?"

"Nah, itu dia hal yang membuat kami semua semakin tidak tega melihat nasib Ibell. Pemilik kontrakan kemarin mengusir mereka karena tidak mampu membayar uang kontrakan. Kami semua juga tidak tau merek pindah ke mana. Para rentenir sudah dari kemarin bolak balik ke sini mencari Mbok Darmi dan Ibell. Kami mendengar rentenir itu bilang akan menjual Ibell pada salah satu agen perdagangan anak di luar negri untuk menebus hutang Bu Celine."

"Apa? Kurang ajar sekali mereka. Akan saya binasakan mereka semua kalau berani-berani menyentuh Ibell," geram Revan.

"Bapak siapanya?" Si ibu heran melihat Raven yang tiba-tiba emosi.

"Dia ayahnya, Bu," sela sang  anak berseragam merah putih yang berdiri di samping sang ibu.

"Bagaimana kamu tahu kalau saya ayahnya?" ucap Raven heran.

"Warna mata kalian sama. Juga karena photo yang dibuang Ibell minggu lalu. Dia menyobek photo ini separuh. Dan membuang bagian wajah Om dan istri Om ke tong sampah. Saya memunggutnya ."

Anak SD itu pun kemudian mengeluarkan potongan photo dari saku celana merah putihnya. Menyerahkan potongan photo yang sudah disobek itu kepada Raven.

Raven tergugu. Ia ingat photo itu. Photo itu diambil saat Ibell merayakan ulang tahunnya yang kedelapan. Photo itu sebenarnya berlima. Ibell berdiri di tengah. Diapit oleh Ory dan Dewa, di sebelah kiri dan dirinya serta Reksi di sebelah kanan. Rupanya Ibell hanya menyimpan photonya beserta Ory dan Dewa saja. Ibell membuang photonya dan Reksi!

***

Delapan tahun kemudian.

"Neng, itu kue-kuenya udah Mbok susun semua ya? Yang keranjang merah untuk warung Cang Rohim, dan yang keranjang biru punya Bude Ratih. Jangan sampai ketuker ya, Neng? Terus nanti singgah ke warungnya Ceu Esih. Minta uang hasil penjualan kue kemarin. Mbok mau belanja. Bahan-bahan untuk membuat kue kita sudah habis," seru Mbok Darmi. Beginilah kehidupan mereka sekarang. Demi menyambung hidup mereka berdua berjualan kue-kue basah yang dititipkan ke warung-warung. Mereka bekerja keras berdua demi menyambung hidup. Pertama-tama memang tidak mudah. Namun lama kelamaan mereka terbiasa juga. Hidup memang keras.

"Siap, Mbok."

"Emangnya si Eneng mau diplonconya jam berapa?" tanya Mbok Darmi sembari menguleni adonan kue.

"OSPEK namanya sekarang, Mbok. Bukan plonco lagi. Jam delapan pagi, Mbok. Mbok sekarang harus belajar jadi orang tua zaman now. Biar gaul dan nggak kudet gitu lho, Mbok," goda Ibell. Ia senang sekali mencandai pembantu rumah tangga yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.

"Oalah, Neng. Si Mbok sudah tua. Nggak perlu nganeh-nganehi. Mbok ya berangkat sekarang aja tho Neng. Selak kesiangan nanti di OSEPEKnya."

Ibell tertawa mendengar cara Mbok Darmi menyebut OSPEKnya dengan logat jawa medok.

"Siaaap Mbok. Ibell berangkat ya?Assalamualaikum." Setelah menyalim tangan keriput Mbok Darmi, gadis remaja berusia delapan belas tahun itu pun siap menyongsong hari dengan penuh semangat. Mengantarkan keranjang-keranjang kue setiap pagi dan sore, sudah menjadi tugasnya sehari-hari. Demi menyambung hidup Ibell telah terbiasa bekerja keras sejak ia berumur 10. Bersama Mbok Darmi mereka berdua bahu membahu belajar mempertahankan hidup.

Keesokan harinya, Ibell tiba di kampus pada pukul 07.30 WIB. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum acara pengenalan mahasiswa baru dimulai. Ibell buru-buru melipir ke kantin. Ia bermaksud merayu si pemilik kantin agar bisa menitipkan kue-kue buatannya di situ.

Saat tiba di kantin, Ibell memperhatikan kalau kantin sangat ramai. Sepertinya peluang untuk menitip kue akan disetujui si pemilik kantin. Mudah-mudahan saja usulnya diterima.

"Selamat pagi, Bu. Saya mahasiswi baru di kampus ini. Saya lihat kantin Ibu cukup ramai ya, Bu? Saya boleh tidak menitip kue-kue basah saya di sini?" Ibell menampilkan senyum iklan pasta gigi terbaiknya pada si ibu pemilik kantin.

"Memangnya si Non mau nitip kue-kue apa saja?"

"Saya punya banyak jenis kue-kue basah yang super enak dan juga murah meriah, Bu. Ada kue lapis, pukis, lemper, klepon, putu ayu, pai susu, pancake durian, cup cake, muffin semua juga ada, Bu. Ibu juga bisa request kalau ada yang mau pesan banyak untuk acara-acara ulang tahun, aqiqah atau kawinan dan lain-lain. Ini kartu nama saya. Kalau Ibu berminat, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya ya Bu? Oh ya, perkenalkan, nama saya Ibell, Bu."

Ibell menyalami si ibu dengan hangat. Saat memindai jam di pergelangan tangannya, Ibell baru sadar kalau ia nyaris terlambat. Ia pun segera meminta diri.

Karena takut terlambat, Ibell  berlari-lari kecil menuju aula. Karena di sanalah semua mahasiswa baru akan berkumpul.

"Aduh!" Ibell merasa tiba-tiba saja dia membentur tembok. Ia nyaris sukses terjengkang, kalau saja sepasang lengan kuat tidak menahan kedua bahunya.

"Mata kamu ke mana hah? Kalau jalan itu, matanya difungsikan dengan baik. Jangan cuma dipakai untuk cuci mata melihat senior-senior ganteng saja. Mengerti kamu, Cami?"

Bab 2

Sembari meringis, Ibell mengelus-elus keningnya. Karena terburu-buru, sepertinya ia telah menabrak bahu seseorang. Ibell berinisiatif meminta maaf. Ia memang teledor. Berlarian di kampus tanpa melihat ke arah depan. Raut wajah Ibell berubah kecut saat menatap seraut wajah muram menatapnya dalam. Pria seram inilah yang telah ditabraknya. Ibell melirik sekilas namun menyeluruh. Penampilan pria ini rapi sekaligus mahal dengan setelan kemeja berompinya. Namub tampak kontras dengan sejumlah tatoo yang mengintip lengannya. Kemejanya memang digulung hingga sebatas siku.

"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja menabrak Bapak. Saya terburu-buru karena ingin ke aula. Bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa baru lainnya. Sekali lagi saya minta maaf."

Ibell membungkukkan sedikit tubuhnya dan kembali menunduk. Gesture seperti ini memang sudah terbentuk sejak bertahun-tahun lalu. Tepatnya saat dia memutuskan untuk tidak lagi menjadi bagian dari klan Artharwa Al Rasyid maupun Brata Kusuma. Sejak keputusan itu ia buat, Ibell selalu berusaha untuk menyembunyikan wajahnya.

Semakin sedikit orang yang memandangnya, maka semakin kecillah peluang mereka untuk melihat kemiripannya dengan mommynya. Itu artinya, semakin kecil juga kemungkinan para rentenir-rentenir mengenalinya. Ia lelah terus mereka kejar-kejar untuk menagih hutang mommynya. Kornea mata coklat brandynya memang mirip dengan daddynya. Tetapi wajah orientalnya adalah warisan genetika dari keluarga mommynya. Hanya ekspresi wajah mereka lah yang sangat berbeda. Air muka mommynya itu seksi-seksi culas. Sementara dirinya cenderung introvert.

Mbok Darmi, pengasuh mommynya sedari bayi, mengatakan bahwa menatap dirinya sama saja seperti dia menatap mommynya. Oleh karena itulah, ia sangat suka menunduk. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari semua orang yang berkemungkinan mengenal keluarga kedua orang tuanya.

"Nama kamu siapa?" Lamunan Ibell buyar. Pria seram itu mengajaknya berbicara

"Ibell, Pak."

"Nama panjangnya?"

"Ibellllllll, Pak," jawab Ibell asal. Ia memang tidak suka menyebut nama lengkapnya.

"Ternyata selain tidak punya mata, kamu juga tidak punya otak. Jika kebetulan mata kuliah yang saya ajarkan adalah mata kuliah wajibmu, bersiaplah mendapat nilai E dari saya!"

Pria seram ini seorang dosen rupanya.

"Jikalau saya mampu mengikuti mata kuliah Bapak dengan baik, dan bisa menjawab semua ujian dengan benar, apa akan Bapak beri nilai E juga?"

"Kamu menantang saya, Cami?" Netra hitam itu semakin kelam saat menatapnya dalam.

"Saya bukan menantang, Pak. Saya hanya bertanya. Jikalau Bapak merasa itu adalah suatu tantangan, saya minta maaf."

Ibell kembali meminta maaf. Masalah di hidupnya sudah sangat berat. Ia tidak ingin mencari musuh lagi di sini. Istimewa pada dosennya.

"Fine. Coba nanti kita sama-sama lihat apakah otak kamu itu ada isinya. Atau otakmu memang ada isinya, tetapi letaknya saja yang salah." Dan pria seram berompi hitam itu pun berlalu begitu saja dari hadapannya.

Ternyata pria itu adalah salah satu dosen di kampus ini. Dosen apaan itu? Dosen tapi tatto bertebaran di sekujur tubuh. Jangan-jangan mata kuliah yang akan diajarkannya adalah cara memalak orang yang baik dan benar, serta jurus-jurus dasar untuk mengintimidasi orang!

Ibell sama sekali tidak takut menghadapi mata kuliah apapun di kampus ini. Bukannya sombong. Ia memang sudah pintar sejak kecil. Itu terbukti dengan ia selalu mendapat bea siswa sejak dari Taman Kanak-Kanak. Ia bisa masuk ke kampus elit ini juga karena bea siswa. Jadi sudah pasti otaknya itu ada isinya.

Ibell kembali berlari menuju aula. Namun kali ini dia lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya. Ia takut menabrak orang sembarangan lagi.

Sesampainya di aula, semua mahasiswa baru dikumpulkan menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari delapan orang. Ibell tergabung dalam kelompok 13 bersama dengan Armita, Lea, Annisa, Reno, Panca, Malik dan Galih. Kelompok mereka diberi nama Ayam Sayur.

"Selamat datang para mahasiswa-mahasiswi baru sekalian. Saya Galaksi Andromeda, mewakili para panitia dan senior-senior lainnya berharap agar acara OSPEK ini dapat semakin mengakrabkan kita sebagai sesama mahasiswa. Selain itu kalian semua bisa belajar untuk beradaptasi dengan ritme belajar di universitas. Karena belajar di universitas itu, sudah pasti berbeda dengan saat kalian masih SMU. Jika sistem belajar kalian dulu adalah selalu menerima ilmu begitu saja dari para guru, sekarang sebagai seorang mahasiswa kalian sudah harus menerapkan cara belajar jemput bola. Yang artinya kalian sendirilah yang harus belajar keras. Menyerap semua ilmu dari para dosen tanpa harus disuapi lagi. Akhir kata, saya ucapkan selamat menikmati masa pengenalan kampus baru ini. Semoga ke depannya, kita sebagai sesama mahasiswa dapat bekerja sama dengan baik. Terima kasih."

Tepuk tangan membahana terdengar. Para Cami memandangi sosok Galaksi dengan sorot mata memuja. Sebagian memandang secara terang-terangan, dan sebagian lagi hanya berani mencuri-curi pandang. Tidak terkecuali beberapa senior cantik yang juga diam-diam mencuri pandang pada rekan sesama panitia mereka.

"Aje gile itu, Kak Galaksi. Kok bisa ganteng maksimal gitu ya? Makan apalah itu manusia tiap hari, sampai doi bisa bersinar seperti itu?" Armita, teman baru Ibell, nyaris mimisan memandang Galaksi yang baru saja meninggalkan posium.

"Etdah, lo kata dia lampu pertromaks pake bersinar segala? Tugas besok tuh pikirin. Jangan senior ganteng aja yang lo mimpiin." Galih menoyor kepala Mita. Mereka berdua memang berasal dari SMU yang sama. Jadi sudah saling mengenal lama.

"Nasib orang jelek ya begini ini. Selalu saja mematahkan impian seseorang, sebagai bentuk manifestasi dari ketidakmampuannya menerima kenyataan." Armita menjebikan bibirnya. Galih memutar bola mata. Siap untuk kembali mengejek Armita.

"Sebagai sesama orang jelek, dilarang keras saling menyindir keminusan wajah masing-masing. Lo itu ya, ekspektasi merasa secantik Raisa. Tapi realita mah kaya badak jawa," cibir Galih.

Arnita langsung menjambak brutal rambut berpomade Galih, karena telah menyinggung masalah berat badannya. Wanita mana yang tidak mengamuk dikatain badak jawa coba?

Acara berbalas celaan itu baru berhenti, setelah para senior mulai memberikan tugas baru kepada mereka semua.

Saat panitia menyatakan istirahat selama lima belas menit, helaan nafas lega berjamaah terdengar dari teman-teman barunya. Walaupun cuma lima belas menit, tapi itu cukup membuat mereka bisa menarik nafas sejenak, sebelum disiksa kembali oleh para senior.

Ibell beranjak mencari spot-spot yang agak sepi untuk mulai mengisi perut. Ia memang tidak suka dengan keramaian.

Ibell meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah duduk cukup lama berdiri di aula. Hanya mendengar kata-kata sambutan dari para senior dan juga panitia-panitia OSPEK saja sampai dua jam lamanya. Bagaimana kakinya tidak kram coba?

Dari pukul empat pagi tenaganya telah dipakai untuk bekerja. Ditambah dengan menjadi pesuruh para senior di sini, tubuhnya serasa remuk semua. Sejurus kemudian, suara gemuruh di perutnya mulai berdemo meminta jatah. Ibell merasa lapar. Dengan semangat, Ibell membuka kotak bekalnya. Isi bekalnya hari ini adalah nasi goreng sosis kesukaannya. Baru saja makan pada suapan ketiga, tanpa Ibell sadari, ia menggigit cabai rawit acar yang pedasnya seperti membakar lidahnya. Ibell refleks menyambar air minum. Karena gerakan tergesa-gesanya, botol air minumnya malah tumpah.

"Nih. Minum saja air mineral saya. Masih bersih kok. Belum saya buka." Ibell yang sedang kepedasan meraih begitu saja air minum kemasan yang disodorkan seseorang padanya. Ia memang membutuhkan air minum untuk menetralisir rasa pedasnya. Setelah minum beberapa tegukan besar, Ibell mengucapkan terima kasih pada penolongnya. Ternyata orang itu adalah salah satu seniornya yang berpidato tadi.

"Terima kasih Kak..." Ibell berpikir sejenak. Ia berusaha mengingat nama ketua panitianya ini. Oh ya, namanya ketua panitianya ini adalah Galaksi Andromeda.

"Galaksi Andromeda," sahut Ibell canggung. Setelah mengucapkan kata terima kasih, Ibell kembali membuang tatapan.

"Ck! Kalau lagi ngomong sama orang, dipandang dong lawan bicaranya. Jangan nunduk-nunduk terus seperti nyari koin jatuh."

Ibell kaget saat Galaksi memegang dagunya. Menengadahkan wajahnya ke atas.

"Ah, benar dugaan saya. Memang kamu ternyata orangnya. Mata coklat brandy ini memang langka." Galaksi berguman sendiri. Ibell mengerutkan keningnya.

"Maksud Kakak apa? Maaf Saya nggak ngerti?" Ibell bingung. Galaksi tersenyum hingga menghadirkan dekik di kedua pipi. Galaksi mendekatkan wajahnya hingga tinggal sejengkal dari wajah Ibell.

"Kamu benar-benar tidak mengenali saya, Ibell?" Mendengar pertanyaan Galaksi, Ibell mencoba mempertegas pandangannya pada selebar wajah Galaksi. Kali ini ia menatapnya dalam-dalam. Mencoba menggali ingatan lebih dalam. Namun Ibell tidak merasa kenal.

"Kamu ingat anak laki-laki yang suka ikut Mang Dadang pulang makan siang, sebelum si mamang mengantarkannya kembali ke komplek sebelah? Yang suka membeli kue lemper dan klepon karena dia bilang kue di rumahmu itu aneh-aneh bentuknya. Ingat Ibell ompong?" Mata Ibell langsung menyala mendengar julukan yang paling dia benci dari anak orang kaya komplek sebelah rumahnya.

"Kamu, Galaksi anak majikannya Kang Dadang?"

BINGO!

"Berarti kamu sudah ingat sekarang. Apa kabar Ibell ompong yang sekarang sudah tidak ompong lagi?" Galaksi tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia sama sekali tidak menyangka akan menemukan putri ompongnya di kampus ini.

"Jangan panggil Ibell ompong lagi. Saya 'kan sudah tidak ompong lagi sekarang!" Ibell yang bahkan tidak pernah merajuk pada siapa pun kecuali Mbok Darmi, untuk pertama kalinya bersikap manja pada seseorang. Dan orang itu adalah senior di kampus barunya ini. Demi apalah dirinya bersikap aneh seperti ini? Ibell menepuk keningnya sendiri. Sadar kalau dia telah bersikap berlebihan.

Drttt... drttt... drttt...

Galaksi belum menjawab pertanyaannya, namun ponselnya bergetar. Ibell heran karena Mbok Darmi menghubunginya pada jam-jam seperti ini.

"Ha--"

"Hallo, Neng. Gawat. Ini ada rentenir-rentenir baru di rumah kontrakan kita, Neng. Sekarang mereka sedang mengacak-acak kontrakan. Mereka malah sudah mengambil teve dan laptop si Eneng. Bagaimana ini, Neng?

Ibell lemas. Bahu kecilnya mencelos. Terus-terusan berjuang seperti ini kadang-kadang membuatnya frustasi juga. Setelah menarik nafas berulang kali, Ibell baru bisa menjawab telepon Mbok Darmi dengan hati yang lebih tenang. Dia tidak ingin semakin menakuti Mbok Darmi.

"Ya udah nggak apa-apa, Mbok. Yang penting mereka tidak menyakiti si Mbok. Ibell nanti sore baru bisa pulang, Mbok. Si Mbok baik-baik aja di rumah ya? Biar saja mereka mengambil apa saja. Yang penting si Mboknya tidak diapa-apain. Ibell tutup dulu teleponnya ya, Mbok?"

Ibell merasa begitu merana. Ia membayangkan harus lari lagi dan mulai mencari kontrakkan baru. Yang artinya uang keluar baru lagi. Tanpa sadar ia sudah menangis tanpa suara. Pandangan kosong ke depan. Ia bahkan melupakan kehadiran Galaksi, yang mendengarkan semua permasalahannya.

Akan halnya Galaksi, ia tidak menyangka kalau kehidupan Ibell masih sengsara seperti dulu. Tidak tahan melihat netra coklat brendy itu meneteskan air mata, Galaksi refleks memeluk pelan bahu Ibell. Mencoba menenangkannya.

Tanpa mereka sadari, seseorang berompi hitam, melihat adegan itu dari jendela ruangannya. Sosok itu mendesis sinis.

"Dasar perempuan murahan. Tidak ibu, tidak anak, kelakuannya sama-sama menjijikkan. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya."

Mengacak-acak kontrakkanmu itu hanya pemanasan saja. Kita akan segera melihat acara puncaknya sebentar lagi!

Bab 3

Galaksi menghentikan mobilnya sesuai dengan aba-aba yang diberikan oleh Ibell. Mbok Darmi telah berdiri di teras. Menunggu kepulangan Ibell. Wajah tuanya penuh dengan kecemasan akan nasib mereka ke depannya.

"Neng, kita sebaiknya mulai  nyari kontrakan baru. Mbok takut besok-besok mereka bakalan ngerusuhin si Eneng lagi. Mbok khawatir Eneng nanti diapa-apain sama mereka. Eneng sekarang udah besar. Bahaya kalau dekat-dekat mereka." Dalam kecemasan Mbok Darmi mengajak Ibell duduk di kursi plastik teras. Kebingungan harus berbuat apa. Mbok Darmi bahkan melupakan kehadiran teman Ibell. Ia sangat cemas.

Dalam kebingungan yang sama, Ibell menatap Mbok Darmi dengan pandangan penuh kengerian. Satu-persatu ingatan tentang masa lalu, berdesakan keluar. Mereka yang diseret keluar dari rumah, dibentak-bentak sepanjang jalan agar melunasi hutang-hutang ibunya kembali memasuki benaknya. Ibell ketakutan dan mulai gemetaran tidak terkendali.

Ibell mempunyai kebiasaan gemetaran hebat, kalau sedang dalam keadaan panik luar biasa atau pun ketakutan. Karena di saat itu benaknya seakan diserbu oleh ratusan monster yang keluar dari kolong tempat tidurnya. Mereka seakan-akan berlomba memakannya. Itu semua bermula saat mommynya selalu menakut-nakutinya apabila ia tidak bisa tidur. Sementara mommynya sudah tidak sabar ingin dugem bersama teman-temannya yang telah menunggu di mobil.

Mommynya mengarang cerita, bahwa di bawah kolong tempat tidurnya, ada segerombolan monster yang tinggal di sana. Apabila ia nakal dan tidak mau tidur, maka mereka semua akan keluar dan beramai-ramai menyantapnya sebagai menu makan malam. Sewaktu kecil biasanya Ibell akan langsung berkeringat dingin dan ketakutan. Akibatnya ia malah semakin tidak bisa tidur.

"Neng... Neng... udah nggak apa-apa, Neng. Nggak ada monster di sini. Monsternya sudah pergi. Udah Neng!Udah ya? Lihat Mbok Neng, Lihat Mbok!" Mbok Darmi memeluk anak majikannya sambil terus berusaha mengarahkan wajah Ibell agar menghadap padanya.

"Ampun... Ampun! Tolong jangan makan Ibell. Ampun!" Ibell yang masih saja terbawa ilusi masa lalu, terus berjongkok sambil membenamkan wajah di antara lututnya. Mencoba meredam kengerian yang mulai merasuki jiwanya. Dia takut!

Galaksi Andromeda sejenak terpana memandang keadaan Ibell. Dia bukanlah orang yang gampang baper terhadap sesuatu ataupun seseorang. Teman-teman kampusnya malah menjulukinya raja tega. Karena berkali-kali menolak pernyataan cinta dari rekan-rekan maupun adik kelasnya. Tetapi kalau sekedar ena ena just for fun dengan mereka semua, Galaksi oke-oke saja. Asalkan sesuai dengan seleranya. Lo dapet enaknya, gue juga dapat mengosongkan kantong sperma. Juga dengan satu syarat, no commitment. Ya, ia memang sebejat itu!

Tapi entah kenapa kali ini ia  ingin memeluk seorang perempuan tanpa modus untuk menidurinya. Pelukan yang ingin diberikannya kali ini adalah murni pelukan untuk, apa ya? Ia sendiri pun susah untuk menjabarkannya. Sedikit rasa nyaman mungkin.

"Neng, sadar Neng! Lihat Mbok Neng. Ini Mbok Darminya Eneng."

"Oh, Mbok Darmi. Maaf ya tadi Ibell agak kacau pikirannya. Hehehe... Mbok gini cantik mana mungkin jadi monster ya, Mbok ya? Kalau Mbok jadi monster nanti Ibell sama siapa?" Ibell yang mulai tersadar, segera memeluk erat si mboknya seakan-akan takut ditinggal.

"Ibell hanya punya si mbok. Ibell cuma punya si mbok." Ibell berguman berulang-ulang. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau si mboknya tetap bersamanya.

"Bagaimana kalau Ibell dan Mbok Darmi sementara tinggal di rumah saya saja dulu. Mau?" Galaksi berjongkok di samping Ibell yang masih memeluk erat mboknya di teras rumah.

"Aden ini siapa ya? Kok rasa-rasanya Mbok pernah lihat. Tapi di mana ya? Sek... sek... sek... ini Den Galaksi majikan kecilnya Mang Dadang toh? Yang dulu suka beli kue-kuenya si Mbok?" Mbok Darmi tertawa gembira. Ia ingin raut wajah tengih si bocah yang kini telah dewasa.

"Hahahah... iya, Mbok. Wah si Mbok langsung inget. Nggak kayak seseorang. Harus dikasih clue berkali-kali dulu baru inget." Galaksi melirik Ibell yang terlihat malu dan serba salah. Ibell tidak nyaman karena telah memperlihatkan kelemahannya tanpa sengaja.

"Hehehe. Den Galaksi sudah dewasa sekarang ya? Nguanteng lagi. Apa kabar Mang Dadang, Den? Masih jadi supirnya Den Galaksi ndak?"

"Mang Dadang sudah pensiun sekarang, Mbok. Kasihan sudah tua masak disuruh kerja terus? Sekarang beliau sudah kembali ke desa. Berkumpul dengan anak cucunya. Tawaran saya bagaimana Mbok? Mau tinggal sementara di rumah saya, sebelum kita mencari rumah kontrakan yang baru?" Mbok Darmi memandang Ibell. Meminta pertimbangan tanpa suara. Ibell menggeleng tegas.

"Terima kasih tawarannya, Kak. Tapi Ibell rasa tidak perlu. Ibell sudah capek terus melarikan diri dari mereka. Ibell akan mencoba menyelesaikannya sendiri satu persatu. Entah dengan cara mencicil atau apa. Ibell capek hidup seperti buronan, Kak. Sekarang Ibell masuk dulu ya, Kak? Mau menyelesaikan tugas untuk besok. Kalau tidak selesai,  bisa kena hukum nanti satu kelompok." Ibell mengalihkan pembicaraan.

"Kamu kelihatannya sangat capek, Ibell. Ayo kita masuk. Kakak bantu menyelesaikan tugasmu." Ibell mengiyakan. Galaksi sudah berbaik hati mengantarnya pulang. Tidak ada salahnya membiarkannya singgah sebentar.

Saat mengerjakan tugas, Ibell sudah sangat lelah. Ia hanya sempat menulis tugasnya separuh. Karena ia telah tertidur pulas dalam posisi duduk. Kepalanya terkulai di meja belajar.

Alhasil Galaksi lah yang menyelesaikan salinan tugas Ibell, yang rangkumannya  mencapai dua lembar halaman double folio. Galaksi merasa tangannya mulai kram karena kelamaan menulis.

Semua demi putri ompongnya. Tidak apa-apalah. Tanam budi saja dulu, biar metik hasilnya nanti lebih gampang. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Masuk ke toilet saja bayar kan?

Galaksi tidak tahu, bahwa yang namanya cinta itu bisa menyamar dalam bentuk apapun. Bisa dalam bentuk kasihan, simpati, suka bahkan benci. Dia tinggal masuk diam-diam. Menelusup perlahan melalui kisi-kisi relung hati, dan selanjutnya menguasai benaknya dengan bayangannya. Untuk selanjutnya merajai hatinya untuk selamanya.

***

Ibell turun dari angkot dengan dua keranjang kue ditangan kanan dan kirinya. Bu Manan, Ibu kantin kampus ternyata jadi memesan kue-kue basah dari Ibell. Rupanya saat Ibell ketiduran semalam, Mbok Darmi lah yang mengangkat teleponnya dan sekaligus bangun lebih pagi untuk membuat kue-kue pesanan Ibu kantin tersebut. Ibell juga kaget sekaligus lega, saat tahu bahwa tugas kelompoknya telah diselesaikan dengan baik oleh Galaksi. Jujur, setelah sekian lama terbiasa hidup mandiri tanpa pernah merasa dimanja dan didukung oleh siapapun, sudut hatinya sedikit tersanjung saat menerima perhatian dari seseorang, apalagi itu dalam bentuk lawan jenis yang semenawan Galaksi. Ayolah, bagaimana pun Ibell adalah seorang gadis remaja belasaan tahun yang hatinya mulai merasakan debar-debar aneh saat berdekatan dengan lawan jenisnya.

Bunyi bel panjang menandakan bahwa semua kelompok MABA wajib apel pagi dan mulai berkumpul dilapangan. Ibell dan ke tujuh temannya dalam satu kelompok pun mulai berbaris memanjang kebelakang dan Ibell lah yang berdiri paling depan sebagai ketua kelompok. Sebenarnya kemarin Ibell sudah menolak pengangkatannya sebagai ketua kelompok secara sepihak itu. Karena rata-rata kelompok yang lain ketuanya 99% adalah laki-laki. Hanya Ibell dan Rosni saja yang perempuan. Itu jika kita diperbolehkan untuk melihat KTP Rosni, sehingga kita bisa membaca kolom jenis kelamin yang ternyata ditulis perempuan. Coba kalau tidak, pasti semua orang akan mengira kalau Rosni itu laki-laki. Dia terlihat ganteng alih-alih cantik.

"Ayo semua ketua kelompok mulai mengumpulkan tugas-tugas yang kemarin diberikan. Setelah itu kita akan mengadakan sesi permainan ketangkasan. Setiap kelompok yang kalah, wajib mendapatkan hukuman yang akan dibacakan sesuai dengan nomor yang mereka di pilih dalam amplop ini. Jadi hukumannya sifatnya random. Ayo sekarang kalian silahkan mempersiapkan diri, sementara kami memeriksa tugas kalian semua." Ranti senior wanita cantik dan baik hati mulai memberikan perintah.

"Saya sama sekali tidak menyangka, kalau dalam tugas pertama saja, kalian sudah berani bertindak curang. KAMI SANGAT KECEWA SEKALI!!!"

Arjuna Wigunatra, salah seorang senior yang paling sadis mulutnya memandang beringas pada Ibell.

"Kelompok Ayam Sayur, maju depan semua!!!" Ibell, Armita, Lea, Annisa, Reno, Panca, Malik dan Galih dengan wajah pias mulai melangkah cepat kedepan.

"Siapa yang bertanggung jawab untuk menyalin resume ini?"

"Saya Pak."

"Nama?"

"Isabelle, Kak."

"Isabelle, kamu punya hubungan apa dengan Galaksi Abdromeda?" Pertanyaan yang sangat ambigu itu membuat semua kepala menoleh penasaran pada Ibell. Berbagai ekspresi wajah pun tampak disana. Ada yang kaget, heran  tapi sepertinya lebih banyak yang mencemooh.

"Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan kak Galaksi, Kak?"

"Kalau begitu mengapa bisa Galaksi yang menulis resume ini? Saya sangat hafal dengan tulisan tangannya. Kamu masih mau menyangkal? Saya bahkan melihat dengan mata kepala Saya sendiri kalau kamu semalam diantar pulang olehnya dan dia juga baru keluar dari rumahmu pada pukul sebelas malam. Bisa kamu jelaskan semua ini pada Saya?

Manusia mental penipu seperti kamu ini cocoknya balik ke negri asal mu saja sana. Sepertinya disana para penipu dan tukang KKN lebih bisa diterima, kulit pucat." Decih Arjuna seolah-olah Ibell adalah orang yang paling hina sedunia.

"Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan cinta Saya kepada negeri ini, Saya ingin mengatakan bahwa, negeri yang anda sebut sebagai negeri para penipu dan KKN itu 90% menghukum oknum pelaku nya dengan hukuman mati, setelah sebelumnya mereka wajib meminta maaf pada public atas perbuatan mereka yang merugikan bangsa dan negaranya. Bukannya malah senyum-senyum sambil dadah-dadah manjah di teve, dan setelahnya masih bisa mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Coba katakan kepada saya, negara yang mana yang bersikap lebih permisif terhadap penipuan dan KKN?

Lagi pula menurut UU No.3 tahun 1946 tentang Kewarga Negaraan Indonesia, UU No.2 tahun 1958 Tentang penyelesaian Kewarga Negaraan Indonesia, bahkan sampai UU No.12 tahun 2006 Tentang Kewarga Negaraan Republik Indonesia. Semua poin-poin nya mengindikasikan bahwa Saya adalah WARGA NEGARA INDONESIA. Dan itu VALID. Bukan warga negara negeri yang Kakak sebutkan tadi, yang saya bahkan tidak pernah menginjakkan kaki kesana!" Suasana dilapangan menjadi begitu sunyi saat Ibell dengan berani membalikkan semua argumen dengan cerdas, dan lugas. Arjuna tampak merah padam wajahnya menahan malu karena ditelanjangi begitu rupa oleh anak kemarin sore. Sementara Ibell, mata coklat brandy nya tampak menyala-nyala saat seniornya ini berniat membantai nya dengan hal-hal yang berbau SARA. Tidak seorang didunia ini bisa memilih dimana dia akan dilahirkan dan RAS apa yang akan dia dapatkan. Kesemuanya itu memang sudah diatur sedemikian rupa oleh semesta bukan?Satu yang pasti, semuanya adalah makhluk ciptaan Tuhan.

"Memang benar kak Galaksi kemarin mengantar Saya pulang. Benar juga kak Galaksi yang menyalin resume tugas kami. Saya ketiduran saat mengerjakannya semalam. Jadi mungkin kak Galaksi yang melanjutkannya. Saya bersalah Kak Juna. Saya minta maaf, Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan Saya bersedia dihukum."

"Sebagai warga negara yang baik, tentu kelompok Ayam Sayur ini tidak keberatan dihukum menghormat bendera sampai tiba saat sesi berikutnya bukan?" Arjuna pun mengeluarkan senyum manisnya yang sepertinya malah terlihat seringai dimata Ibell dan kelompok Ayam Sayurnya.

Ternyata otak kamu memang berisi, gadis kecil. Sayang sekali orang secerdas kamu harus habis pelan-pelan ditangan Saya karena dosa warisan ibumu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Tears

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED