Pras menyeringai. Diisap sekali lagi rokok di selipan tangannya. Asap langsung mengepul tinggi. Bibirnya yang menghitam ia basahi dengan cairan pekat yang tersedia di sampingnya. Tanpa perlu gelas. Langsung dari botol berwarna gelap di mana ada beberapa jenis di sana.
“Nyerah, kan, Neng?”
“Berengsek!”
Pria itu tertawa kencang. “Pintarnya mulut lo yang manis itu memaki.” Ia pun bangkit. Rokok yang masih tersisa itu dilempar begitu saja. Ruangan ini pengap juga pencahayaannya minim. Tapi ia bisa melihat dengan jelas, betapa gadis di depannya ini sangat cantik.
Hasrat terpendamnya sudah tersulut dan bangkit tanpa bisa dikendalikan.
Sejak pertama kali Pras melihatnya, ia tahu, cepat atau lambat, gadis yang bersimpuh karena terikat ini pasti menjadi miliknya.
Hanya miliknya.
Ia berlutut menyamakan posisi sang gadis. Memaksa gadis itu untuk menatapnya. Dicengkeram kuat wajah yang ternyata halus sekali menyapa permukaan tangannya. Bola mata gadis inilah yang berbahaya. Hitam, legam, berbinar terang penuh semangat, juga serupa boneka.
Elok sekali.
Membuat Pras menggila hanya ditatap sekelebatan olehnya. Dulu. Dua tahun lalu. Itu juga penuh dengan amarah dan benci. Sama seperti sekarang. Tapi kali ini, amarah itu berkobar jauh kuat di sana. Kebencian yang terarah padanya sangat besar tapi Pras mana peduli.
Selama sudah ia dapatkan, ia tak peduli apa yang gadis ini rasakan.
“Abang mau dengar sekali lagi makiannya,” kata Pras dengan seringai tipis. Matanya tak beralih ke mana-mana kecuali pada mata seelok boneka ini.
“Bajingan!” desis sinis sang gadis. Meski agak kesulitan, ia berhasil mengucapkan kata-kata barusan.
Sumpah demi apa pun, ia berjanji akan memaki pria di depannya ini sampai mati. Semua lontaran kata kasar yang tak pernah terbayang meluncur dari bibirnya, sudah ia lafazkan dengan penuh yakin. Tak peduli juga kalau keselamatannya terancam. Dan segala hal yang ia miliki bisa saja direnggut dengan cara paling keji.
Ia tak peduli.
Sejak diseret sebagai pembebas hutang ayahnya dari para preman berkedok rentenir ini, asanya sudah ia matikan. Dirinya hanya seonggok daging yang dihargai seratus juta rupiah. Yang akan diperas sampai habis inti sari kehidupannya.
Ia yakin itu.
Maka saat mereka kembali bertemu, di ruangan yang pengap serta tercium bau alkohol yang tak ia sukai ini, ia bersumpah tak akan memberi maaf semua orang yang membuatnya seperti ini. Akan ia tuntut segala sakit hatinya di pengadilan Tuhan kelak. Tak apa di dunia ini ia menjadi sampah. Tak apa.
Asal nanti semuanya mendapatkan balas yang setimpal. Itu sumpahnya.
“Bibir Neng pernah pakai lipstik?” tanya Pras yang semakin mencondongkan diri. Bicara tepat di atas bibir sang gadis yang masih ia cengkeram wajahnya ini. “Sepertinya iya. Abang cium aroma strawberry. Manis sekali.” Pras kembali menyeringai.
“Lepas!” desis Lavi. Lavina Diandra lebih tepatnya.
“Oke.” Pras begitu saja melepas cengkeramannya. Terdengar rintihan pelan keluar dari mulut sang gadis yang ia hidu aromanya meski sekilas tadi. Aroma yang begitu memabukkan. “Neng tahu harus apa, kan, di sini?”
Lavi memilih tak menjawab. Wajahnya ia palingkan dari pria yang masih menatapnya tajam penuh intimidasi.
“Peraturan pertama,” Pras bukan lagi mencengkeram wajah Lavi tapi menekan bagian bawah leher gadis itu dengan cukup kuat. Membuat mata gadis itu terbeliak kaget. Lagi-lagi ia harus bertemu kembali dengan sorot bengis milik Pras. “Jangan pernah buang muka kalau Abang bicara.”
Pras menekan lebih keras karena Lavi tak memberi respons. “Paham maksud Abang?”
Ada anggukan kecil yang ia dapati sebagai jawaban dan membuat Pras puas meski sedikit. Ia longgarkan sedikit saja tekanan yang diberikan pada bagian leher jenjang nan mulus milik Lavi. Rasanya ingin ia lumat dan isap dengan kuat. Tapi itu belum saatnya.
“Peraturan kedua.” Pras kembali bicara. “Tiap kali Abang masuk ke kamar Neng nanti, Neng harus memakai pakaian yang sudah tersedia di sana. Melayani Abang dengan senyum terbaik.” Lalu Pras semakin mendekat dan berbisik penuh penekanan. Tapi sebelumnya, ia sengaja meniup penuh hasrat pada cuping telinga Lavi. Membuat gadis itu memejam kuat dengan tubuh mulai gemetar. “Penuhi kamar Neng dengan desahan dan nama Abang.”
Lavi ingin sekali menangis kuat, berlari sejauh mungkin, keluar dari tempat yang sangat ia benci ini. Dalam pejam yang ia lakukan, bayang masa depannya sudah tamat. Tak ada lagi sesi kuliah bersama para dosen kesukaannya. Bercengkerama akrab bersama temannya di perpustakaan lengkap dengan banyak tugas. Bekerja dengan giat untuk tambahan biaya kuliahnya.
Segalanya telah sirna.
Tak ada tanggapan dari Lavi yang membuat Pras berdecak. Sekali lagi Pras menekan batang tenggorokan sang gadis dan kali ini jauh lebih menyakitkan ketimbang sebelumnya. “Jangan buat Abang marah, Neng.”
Masih juga belum ada tanggapan yang malah membuat Pras semakin dibakar gairah juga amarah.
“Jawab!” hardik Pras dengan suara serupa petir. Sangat menakutkan dan membuar Lavi langsung mengangguk dengan cepatnya.
Hal itu membuat Pras tersenyum puas tapi masih belum melepaskan cengkeramannya. Masih ada satu hal yang ia tekankan untuk Lavi.
“Peraturan ketiga,” kata Pras. Kali ini ia bicara dengan sorot mata penuh perintah. Tak boleh dibantah dan sekali dilanggar, Lavi tahu, hukuman berat pasti akan menghampiri. Entah apa itu, Lavi tak tahu.
“Sekali menjadi wanita Abang, selamanya wanita Abang. Neng enggak akan bisa lepas begitu saja karena ....” Cekalan itu Pras lepaskan. Lavi pergunakan dengan sangat untuk menghirup udara sebebas mungkin. Meski pasokan oksigen di ruangan ini sudah bercampur dengan asap dari rokok, tapi itu lebih baik dari saat tangan kekar itu menekan lehernya.
Lavi juga terbatuk karena tarikan napasnya mungkin terlalu buru-buru. Ditanggapi dengan cengiran konyol dari Pras seolah hal itu biasa terjadi. Pria itu berjalan menuju mejanya, membuka laci yang tertutup rapat, mengacaknya sebentar untuk mencari satu benda yang cukup penting untuknya.
Stempel naga kembar.
Simbol yang menunjukkan dirinya sebagai seorang penguasa di Bagian Selatan ini. Ada dua stempel di sana. Salah satunya hanya ia gunakan untuk memberi tanda pada orang-orang khusus di sisinya. Satunya lagi, untuk orang-orang yang tunduk pada kuasanya. Yang sering kali ia jadikan sebagai bagian anggota Naga Kembar.
Ia menimbang sejenak. Stempel apa yang sesuai dengan gadis ini? Seringai licik itu kembali hadir. Di tangannya, sudah ia pilih apa yang ia rasa sesuai.
Stempel itu ia persiapkan dengan menyalakan tombol otomatis. Yang semula ia rasa dingin pada bagian punggung stempel, mulai menghangat yang artinya alat itu bekerja dengan baik. Sembari menunggu suhunya tepat, ia kembali mendekat pada Lavi.
“Buka bajunya, Neng.”
Mata Lavi melotot sempurna.
“Ah, Abang lupa. Neng terikat.” Pras terkekeh seolah menertawakan kebodohannya. “Abang yang bantu kalau begitu.”
“Jangan!” teriak Lavi tak terima. Ia berusaha untuk mundur dan menyingkirkan tangan Pras yang mulai membuka baju Lavi. Meski usaha itu sia-sia.
Bisa saja Pras mengingatkan kembali dua peraturan tadi, tapi tidak. Ia ingin bermain sejenak dengan gadis incarannya ini. Menyenangkan memiliki mainan baru di hidupnya kali ini.
Sampai akhirnya, kemeja yang Lavi kenakan terbuka sempurna. Kancingnya ditarik paksa oleh Pras dengan tawa puas dalam tiap tarikannya. Wajah Lavi memelas, berteriak minta ampun, tapi Pras tak peduli. Di depannya kini, tersaji dua gundukan dada yang sangat indah. Terbusung turun naik seiring dengan deru napas Lavi yang tak beraturan.
Mata gadis itu menyoroti Pras dengan memelas. “Ampuni saya, Bang,” katanya dengan cicitan.
“Abang bukan Tuhan, Neng.” Pras menyeringai. Lawannya tak akan bisa berkutik. Buktinya, untuk sekadar menepis tangan yang kini mulai menggerayangi dada sang gadis saja, tak bisa dilakukan. Kulit selembut sutera ini begitu menggoda. Aroma parfum yang dikenakan Lavi benar-benar membuat Pras mabuk kepayang. Meski dadanya masih terganjal dengan bra yang dikenakan, keindahannya sudah sangat menggoda Pras untuk sekadar diremas.
Tapi tidak.
Itu masih bisa ditahan. Yang ia lakukan sekarang justru menjilatinya. Dengan sangat lembut, penuh perasaan, penuh godaan, serta … satu isapan kuat ia beri di sisi kanan. Yang awalnya Lavi tak merespons sampai terdengar geraman tertahan menyapa pendengaran Pras.
Setelah cukup puas membuat banyak tanda kemerahan di sana, Pras mengusap bibirnya yang basah karena perbuatannya barusan. Ia tak tahan lagi tapi … ah! Stempel!
Segera saja stempel yang sudah ia persiapkan, menyapa permukaan dada itu. Membuat Lavi melolong kuat.
Kesakitan.
Sementara Pras menyeringai puas. Tanda itu menimbulkan jejak kemerahan yang tak akan bisa dihapus selamanya.
“Selamat datang, wanitanya Abang.”
****
Hallo, selamat datang di kisah yang Canis bawa. Semoga suka yaaa. jangan lupa follow akun aku
Lavi menggigil bukan lantaran dingin yang menyapa permukaan kulitnya. Tapi karena sakit yang mendera di sekitar dada. Rasa ngilu itu membuat hampir seluruh tubuhnya terbakar. Ia bahkan tak berani sekadar melirik pada bagian luka yang terasa perih serta sakit sekali ini.
“Kurang ajar!” desisnya tak terima. Tangannya terus mengepal untuk membantu melenyapkan muak yang semakin membumbung tinggi. Hanya pada satu sosok yang meninggalkan ia begitu saja di ruangan pengap penuh dengan asap rokok itu. Pria yang sudah ia ikrarkan untuk dibenci sepanjang usianya.
Sekali lagi, ia meringis kesakitan.
Tak lama setelah ditinggalkan tadi, ada seorang wanita bertampang dingin dan kaku menghampirinya. Bukannya bertanya apa yang Lavi rasakan, malah Lavi dapatkan satu jambakan kuat hingga ia merasa, banyak helaian rambutnya lepas.
Sialan wanita itu!
Ditahan segala sakit yang dirasakan sekarang. Jangan sampai ada jeritan meminta belas kasih, karena Lavi yakin, semua orang yang ada di tempat ini tak memiliki hati.
“Gue bisa jalan sendiri!” hardik Lavi tak terima. Berusaha melepaskan diri tapi kekuatan wanita itu cukup kuat. Apa dia wanita jelmaan pria? Tapi tidak. Wajahnya dirias dengan make up yang cukup tebal. Pemilihan warna merah pada bibirnya semakin mempertegas kalau wanita ini tak ingin berurusan dengan Lavi. Apa Lavi ingin bertemu wanita ini?
Mana mungkin!
“Jangan banyak omong! Ikut saja!”
“Lepas!!!” Lavi mencekal tangan yang masih menjambak rambutnya itu.
Si wanita tadi, melirik sekilas lalu menyeringai tipis. Dalam sekali tarikan, ia sedikit membuat Lavi terhuyung dan terjatuh menubruk tembok yang ada di samping kanannya.
“Sudah gue lepas,” katanya dengan kekehan.
Lavi menatap si wanita dengan sorot tajam dan ia ingat baik-baik wajah yang kini berjalan dengan angkuhnya. Suatu saat nanti, akan ia balas perlakuan kasar wanita ini. Dari gerak jemarinya yang terkesan meremehkan, ia ingin agar Lavi mengikutinya. Lavi pun segera bangkit seraya berdecih tak suka. Meski gemetaran karena sakit yang mendera dadanya semakin terasa.
Sementara wanita tadi, Tari namanya, berjalan dengan dengusan kesal. Ia tak menyangka kalau ada wanita baru di rumah empat lantai yang dijadikan markas Naga Kembar.
Rumah milik sang penguasa Bagian Selatan, pemilik klan Naga Kembar, Benjamin Noah Prasetyo, atau yang lebih senang dipanggil ‘Pras’. Sang pemimpin yang dikenal kejam. Tak peduli apa yang menghalangi. Kalau tujuan itu sudah ia tetapkan maka kemenangan harus ada di tangannya. Pemimpin Bagian Selatan yang disegani baik kawan juga lawan. Menguasai wilayah yang cukup luas di Bagian Selatan ini.
Semua kegiatan dunia penuh dengan kegelapan; narkoba, perjudian, prostitusi, klub malam, korupsi dengan banyak pihak untuk melancarkan urusan, pembunuh bayaran, pengawal bayaran, serta banyak lagi yang lainnya, dipimpin oleh Pras langsung. Ia bahkan tak segan untuk turun tangan begitu ada masalah yang melibatkan Bagian Selatan.
Tari membenci gadis yang berjalan di belakang meski tak ia kenali namanya. Ia tak sudi berjabat tangan dengan gadis ini. Bahkan nantinya, akan ia tunjukkan siapa yang berkuasa di rumah besar ini. Terutama karena Tari adalah wanita yang paling dekat dengan Pras saat ini. Keadaan itu berjalan sudah hampir dua tahun lamanya. Tari bisa merasakan banyak keuntungan berada di dekat Pras terutama dalam hal kuasa.
Siapa yang tak mengenal Tari? Wanita dari Pras yang disegani? Pras tak pernah berkunjung ke ruangan lain selain milik Tari. Wanita yang ada di rumah ini ada beberapa, tapi semuanya patuh pada perintah Tari. Namun, ia merasa kedatangan gadis yang tadi ia temui, sangat mengganggunya.
Bagaimana tidak?
Dua jam sebelum kedatangan Lavi.
Satu demi satu Tari melucuti pakaiannya. Bergerak sesensual mungkin untuk menarik perhatian Pras yang duduk di tepian ranjang. Mata sang penguasa menatapnya lekat. Hal itu juga yang membuat Tari bersemangat untuk terus menggoda Pras. Lagi pula, sudah hampir seminggu Pras tak pulang. Katanya, ada urusan di Bagian Timur. Dan orang yang pertama dikunjungi Pras adalah Tari.
Siapa yang tak berbunga-bunga mendapatkan perlakuan sespesial ini dari penguasa yang terkenal namanya sampai penjuru wilayah?
Kimono yang dikenakan sebagai pelapis terluar dari lingerie, menyapa lantai dengan gerak yang demikian lambat. Sengaja. Meski nantinya Pras bermain dengan kasar, Tari menggoda dengan kelembutan yang ia miliki.
Dadanya yang hanya separuh terbungkus kain tipis berwarna merah, tersembul menantang. Tari tahu kalau Pras paling suka menyentuh bagian tubuh yang sedang dipamerkan itu. Bagaimana remasan serta pijatan lembut yang nantinya akan Tari terima dari Pras, sudah membuat hilang akal. Tapi Tari tak ingin segera melempar diri dan langsung menuju inti permainan mereka yang penuh dengan desah nantinya.
Sabar.
Tari masih ingin meliuk penuh godaan tepat di depan Pras. Di bawah pencahayaan lampu kamar yang temaram, justru menambah nilai intim di antara mereka berdua. sengaja Tari mengusap lengannya dengan sesensual mungkin. Kakinya yang jenjang juga ia buat melangkah dengan gerak dramatis. Hingga akhirnya langkah itu terhenti di depan Pras.
“Aku kangen,” kata Tari sembari menunduk, berbisik, dan membiarkan sorot mata Pras jatuh pada belahan dadanya. “Abang kangenkah?”
Tangan pria itu langsung menahan pinggang Tari agar tak banyak bergerak. Sedikit mengangkatnya untuk duduk di pangkuan Pras. Hal ini langsung membuat Tari tersenyum lebar.
“Enggak sabar, ya, Bang?”
“Menurut lo saja?” Tangan satunya, Pras gunakan untuk meremas dada yang sejak tadi menantangnya untuk disentuh. “Gerak di atas sini. Jangan diam,” perintah Pras.
Ucapan itu langsung disetujui oleh Tari. Akan tetapi, sebelum jemari lentik Tari berusaha untuk meraih kepala gesper yang menahan jeans yang Pras kenakan.
“Buka dulu, Abang,” bisik Tari selembut mungkin.
Pras membiarkan jemari itu melucuti celananya. Tangannya sudah menemukan mainan baru; selain dada Tari yang memang ia sukai untuk dipermainkan, jangan lupakan bokong sintal yang sejak tadi juga sudah menggodanya untuk diremas. Maka, itulah yang ia lakukan.
Begitu usahanya membuahkan hasil, Tari menyeringai. “Sepertinya, memang ada yang kangen berat.”
“Jangan terlalu banyak bicara. Cepat puaskan.” Pras langsung meraup bibir Tari dengan ciuman penuh nafsu. Tak memberi jeda sedikit pun bagi si wanita untuk sekadar mengisi paru-parunya. Ditahannya tengkuk Tari agar bisa ia perdalam ciumnya.
Sementara di atas pangkuan Pras, Tari mulai bergeliat menggoda. Membuat sesuatu yang sejak tadi sudah menegak, semakin menegang karena gerakan Tari.
Ciuman itu dilepaskan begitu saja. Sebuah keuntungan bagi Tari, karena akhirnya bisa mengambil udara sebanyak mungkin. Tapi sepertinya, Pras hanya memberi sedikit sekali kesempatan untuk Tari bernapas lega. Ketika ujung lidah Pras gunakan untuk menyapu permukaan dada Tari, ia merasa sensasi yang begitu didamba.
Permainan Pras baru dimulai.
Dan Tari tahu kapan akan berakhir. Sampai mereka berdua benar-benar kelelahan, lalu bangun esok harinya.
“Abang!” desah Tari begitu salah satu dadanya memenuhi mulut sang pria. Tangannya tak kuasa untuk menahan diri dari sekadar menyentuh rambut Pras yang ikal tebal ini. Aroma maskulin dari sang pria sudah sejak tadi memenuhi indra penciuman Tari. Serupa candu yang terus membakar Tari agar bisa mengimbangi gerak Pras, Tari semakin bersemangat untuk menggodanya.
Meski mereka belum memasuki satu sama lain, sungguh, ini sudah membuat Tari setengah gila.
Tari menggeram tertahan. Lumatan yang dadanya terima berubah menjadi isapan yang kuat. Seperti seorang bayi yang kelaparan akan makanan dari tubuh sang ibu, maka itulah yang Pras lakukan. Mengisap sekuat tenaga. Meski agak sakit, tetap memberi sensasi yang membuat Tari semakin pening.
Ia sudah tak sabar untuk segera dihujam di bagian bawah sana. Tari juga yakin kalau Pras pasti menunggu hal ini. Maka sekali lagi, jemari lentik itu ia arahkan pada bagian intim yang Pras miliki. Tegang. Mengacung tegak. Kuat. Dan pastinya membuat Tari mendesah hebat. Memenuhi kamarnya ini dengan banyak nama Pras ketika mereka bersatu nanti.
Namun ….
“Bos!”
Pintu terbuka begitu saja. Tari langsung memeluk Pras dan menyembunyikan wajahnya. Meski dirasa tak perlu, mengingat semua orang juga tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan berdua di kamar ini, Tari tetap tak ingin diketahui wajahnya yang dibakar gairah.
“Sejak kapan masuk ke kamar ini tanpa izin?” kata Pras dengan nada tak suka. “Ganggu gue saja!”
“Maaf, Bos.” Sejak melihat apa yang bosnya lakukan, si pria tadi menunduk. Dan semakin menunduk karena suara sang bos kentara sekali kemarahannya.
“Ada apa?” Ia tak peduli dengan gangguan yang terjadi. Karena itulah Pras kembali melanjutkan kegiatannya. “Jangan berhenti bergerak, Tari. Lo tahu harus apa.”
Tari agak ragu, tapi tak mau membantah ucapan Pras. Ia pun kembali menggerakkan pinggulnya. Sementara Pras kembali mempermainkan dada Tari juga memelintir ujung puting yang sudah membusung menggoda ini.
“Kami sudah membawa gadis yang Bos incar,” kata Rudi, si pesuruh berkepala plontos dengan tindikan di telinga kanannya.
Gerak Pras berhenti begitu saja. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia menyingkirkan Tari yang ada di pangkuannya. Dengan cepat juga Pras mengancingkan kembali celana.
“Di mana dia?”
“Di ruang kerja, Bos.”
Tanpa pamit, juga tanpa mengatakan apa pun, Pras pergi meninggalkan Tari dengan ribuan tanya.
Barulah Tari tahu, gadis seperti apa yang dibawa para pesuruh Pras ke sini. Tak akan Tari biarkan gadis ini menjadi ancaman di masa depan.
Tidak akan.
Tangannya mengepal kuat disertai dengan gigi yang beradu pertanda kekesalannya memuncak semakin tinggi. Ia juga tak bisa menemukan Pras di rumah ini. Rudi bilang, Pras menuju Diskotek Flown karena ada urusan.
Andai saja tak ada gangguan dari gadis yang Tari tahu masih mengikutinya, pastilah tadi ia sudah terbang ke nirwana dunia bersama Pras.
Sial sekali!
“Masuk,” perintah Tari dengan kasar.
Menunjuk pada satu kamar yang terletak di lantai dua rumah besar ini. Banyak yang tinggal di lantai dua ini termasuk para wanita simpanan lain yang jarang Pras kunjungi. Termasuk ia tempatkan gadis yang mengganggu kesenangannya ini. Sementara ia tinggal di lantai tiga di kamar yang cukup luas dan tertata indah. Di sebelah kamarnya sudah jelas adalah milik Pras.
Lavi menatap wanita itu dengan tatapan menghunus. Ia masih terdiam di belakang sang wanita. Melongok sekilas pada kamar yang akan ia tempati entah sampai kapan. Aroma pengap serta pencahayaannya sangat minim di sini.
“Masuk, gue bilang!” Tari menarik Lavi dengan sekali sentak. “Jangan banyak ulah atau lo tahu akibatnya!”
Lavi sama sekali tak bicara. Hanya matanya yang terus menatap Tari dengan tajam. Hal ini juga membuat kemarahan dalam diri Tari semakin besar. Membuatnya melayangkan tamparan cukup kuat pada wajah Lavi. Tari berharap ada ketakutan di sorot mata Lavi karena tindakannya. Sayangnya, hal itu tak terjadi.
Lavi justru semakin menantang Tari. Meski tangannya memegangi wajah yang terasa panas karena tamparan Tari barusan.
“Lo!” tunjuk Tari dengan murkanya. “Berani lo bertingkah di sini, gue enggak akan segan bikin lo tersiksa!”
Satu dorongan kuat Lavi terima sampai ia terjerembap. Persis sekali dorongan tadi juga mengenai dadanya yang makin terasa ngilu. Lalu, pintu itu tertutup begitu saja dengan suara bantingan yang cukup keras. Baginya, pintu itu serupa dengan jalan kebebasannya. Yang kini sudah tak ada lagi cahayanya.
Sama seperti dirinya yang kini memeluk kaki. Menangis, memikirkan nasib buruk apa yang akan menimpanya. Entah sampai kapan ia akan berada di sini. Rasanya, Lavi ingin memilih untuk mati saja.
“Semua ini karena Ayah!” desisnya di antara derai air mata yang sejak tadi menguasai.
“SIALAN!!!”