Bab 2

Desahan seorang wanita terdengar menggema di ruang tamu apartemen milik Jack. Ya, saat ini pria itu tengah bersenang-senang dengan salah satu wanita simpanannya bernama Karin.

Setelah keluar dari kediaman Wilson tadi perasaannya menjadi campur aduk. Apalagi setelah gadis yang ingin ia miliki menolaknya dengan mentah-mentah. Harga dirinya seolah dijatuhkan begitu saja oleh gadis itu.

Selama ini tidak ada yang bisa menolak pesona dari seorang Jackson Lee. Tapi, ia tidak percaya jika Michelle justru tidak tertarik sama sekali dengannya. Benar-benar sulit dipercaya, pikirnya.

Karena tidak bisa mendapatkan gadis itu, ia ingin melampiaskan kekesalannya saat ini dengan wanita simpanannya ini. Menyiksanya dalam kungkungan nya sampai ia merasa puas.

"Ahh, Jack ... pelan-pelan," lenguh wanita itu saat merasakan nyeri di gundukan besar miliknya. Jack terlalu kencang meremas miliknya hingga membuatnya tidak tahan dengan rasa sakit itu.

Tapi, sepertinya Jack tidak peduli dan terus memainkan tangannya di sana. Bahkan tangan satunya makin liar mengobrak abrik bagian sensitif lainnya milik Karin. Di saat hampir mencapai klimaksnya, tiba-tiba Jack menghentikan permainan tangannya. Membuat wanita itu mendesah kecewa karena gagal mendapat kenikmatannya.

"Jack, kenapa berhenti. Ayo lanjutkan," keluh wanita itu menoleh ke arah Jack yang sudah menegakkan kembali tubuhnya untuk duduk. Pria itu sama sekali tidak menjawabnya dan malah sibuk membersihkan tangannya dengan sapu tangan.

Karena kesal, wanita itu pun akhirnya ikut bangkit. "Hari ini kau terlihat tidak seperti biasanya. Apa sedang ada masalah?" tanya nya.

"Tidak ada," jawab Jack sangat singkat.

"Tapi, hari ini kau terlihat berbeda sekali. Katakan saja jika memang ada masalah," ujar wanita itu berusaha membujuk.

Jack langsung menuangkan minuman beralkohol dari botol ke gelas kecil yang ada di meja. Lantas, meneguknya perlahan.

"Jack ... " panggil Karin karena tidak mendapat jawaban juga.

"Kau terlalu banyak berpikir," ucap Jack sembari meneguk minumannya lagi hingga tandas.

Mendengar jawaban itu, Karin menangkup kedua rahang tegas milik Jack dan langsung melumat bibirnya dengan sensual. Kedua tangannya kemudian tergerak untuk membelai dada bidang milik pria itu hingga ke perutnya dengan perlahan. Ia berusaha mengembalikan gairah Jack seperti sebelumnya agar bisa memuaskannya lagi.

Tapi sepertinya tindakan itu tidak membuat Jack serta merta membalas lumatan di bibirnya. Terpaksa Karin melepas kembali ciumannya itu.

"Apa ada wanita lain yang mengusik pikiranmu?" tanya nya dengan nada kesal.

"Tidak," jawab Jack dingin.

"Lalu, kenapa kau tidak membalas ciuman ku? Tadi kau juga tidak memuaskan ku. Jadi apa kalau bukan ada wanita lain?"

"Aku sedang tidak ingin membahas itu."

Karin menghela napas pelan, mencoba untuk meredam rasa kesalnya. "Ayolah, sayang. Aku tidak mau kalau kau sampai menduakan ku lagi. Selama ini aku sudah setia bersamamu, melayani mu. Aku bisa memberikan segalanya untukmu selama kau mau. Kurang apalagi aku hingga kau tetap tidak mau konsisten dengan satu wanita?" keluh wanita itu yang membuat Jack langsung berdiri. Sontak ia terkesiap dengan tindakan tiba-tiba itu.

"Sudahlah, tugasmu hanya untuk menyenangkan ku. Bukan untuk mengatur ku."

Jack merapikan kembali kemeja dan celana yang dipakainya. Setelah itu ia memungut jas kerjanya di lantai dan meninggalkan wanita itu.

"Jack!" seru Karin namun tidak dihiraukan pria itu dan dia tetap pergi.

"Sial! Aku pasti akan segera membuatmu berada dalam genggaman ku, Jack," gumam wanita itu menatap nyalang ke arah keluarnya Jack dari apartemen.

***

Setiba di mobil, Jack mendapat panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Dengan malas, ia pun menerima panggilan itu dan menempelkan benda pipih hitam itu ke telinganya.

"Aku ingin bertemu denganmu," ucap seorang gadis dari seberang sana.

Jack mengerutkan keningnya, merasa asing dengan suara itu.

"Kau siapa?" tanya nya.

Terdengar decakan dari lawan bicaranya.

"Aku Michelle. Kita bertemu di kafe Rotella."

Setelah itu panggilan pun berakhir. Jack yang menyadarinya hanya tersenyum, ternyata cepat juga gadis itu berubah pikiran.

Setelah menyimpan ponselnya kembali, pria itu segera menyalakan mesin mobil dan melajukan nya ke kafe yang disebutkan Michelle tadi.

Tidak butuh waktu lama untuk Jack tiba di sana. Setelah masuk ke dalam kafe ia segera menghampiri Michelle yang sudah duduk menunggunya di dekat dinding kaca bagian dalam kafe tersebut.

"Tidak menyangka, jika kau begitu cepat berubah pikiran dan langsung mengajakku untuk bertemu," ucap Jack yang langsung duduk di hadapan Michelle sebelum dipersilakan lebih dulu.

Gadis itu sama sekali tidak heran dengan minusnya attitude yang dimiliki pria itu. "Tidak perlu basa-basi. Aku ingin langsung bicara ke intinya," jawab Michelle.

"Oh, mau membahas apa memang?" tanya Jack dengan tampang santai.

"Berapa banyak yang harus keluarga ku ganti untuk membalas semua kebaikan keluargamu dulu?" tanya Michelle dengan raut wajah serius.

"Berapa banyak? Maksudmu, kau ingin membalas budi dengan uang, begitu?" balas Jack skeptis.

"Tentu saja, kau pikir aku mau menjual diriku untuk semua itu. Jangan mimpi!" jawab Michelle tajam.

Pria di hadapannya langsung terkekeh mendengarnya.

"Kau pikir uang dari keluarga Wilson itu cukup untuk membayar semuanya. Kau juga jangan mimpi, Nona. Semua jasa dari keluarga Lee sama sekali tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki keluarga mu itu!" balas Jack tidak mau kalah.

"Lalu apa yang kau mau? Jangan mempersulit ku," tegas Michelle kesal.

Jack hanya tersenyum sembari menarik segelas minuman di hadapan Michelle. Dengan tidak tahu malu ia langsung meminumnya hingga tandas.

Michelle memasang wajah muak menatap kelakuan buruk pria itu. Jika bukan karena masalah keluarganya yang baru ia tahu tadi dari ibu dan ayahnya, ia juga tidak akan datang kemari dan mengajak pria itu bertemu.

Apalagi ia sadar telah mencium aroma parfum wanita di pakaian Jack. Ia yakin, pria itu pasti baru bertemu dengan wanita simpanannya sebelum datang menemuinya.

"Sial!" batin Michelle.

"Oh, maaf, karena aku sudah meminum minuman mu?" ucap Jack tersenyum tanpa dosa.

"Terserah." Michelle segera membuang wajah, semakin muak dengan sosok di hadapannya.

Pria itu malah tersenyum. "Jika kau masih ingin membalas budi tapi tidak ingin menikah denganku, kau bisa menerima cara lain."

"Apa itu?" sahut Michelle seketika.

Jack mencondongkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Michelle. "Jadi pelayan di rumahku."

Gadis itu sontak melebarkan kedua matanya tak percaya. Apa-apaan itu?

"Kau pikir putri dari keluarga Wilson serendah itu hingga bisa kau jadikan pelayan mu?!" bentak Michelle tak terima.

"Bukankah kau juga seperti itu padaku. Kau bahkan berani menolak ku di hadapan keluarga mu," balas Jack tersenyum sinis.

"Jika kau menolak juga tidak apa-apa, itu berarti keluarga Wilson masih memiliki hutang. Dan mungkin saja perusahaan ayahmu itu akan segera hancur."

"Kau mengancam ku?"

"Menurutmu?"

Keduanya saling melempar tatapan sengit. Tidak ada yang ingin mengalah satu sama lain dengan masalah ini. Tapi, jika Michelle masih bersikeras untuk melawan, perusahaan keluarganya yang akan menjadi taruhannya.

"Oke, aku akan menjadi pelayan di rumahmu," jawab Michelle akhirnya.

Ada kebahagiaan tersendiri saat mendengar jawaban itu. Cepat atau lambat, Jack akan membuat gadis itu menjadi miliknya. Seorang Jackson Lee tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah. Apalagi jika urusan wanita. Ia tidak terima kalau gadis di hadapannya ini tidak bisa ia miliki juga.

"Baiklah, jika itu keputusanmu. Kau bisa datang ke rumahku besok," ujar Jack kemudian.

"Oke."

Michelle langsung bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi.

"Tunggu!" Jack menarik pergelangan tangannya dengan cepat. "Kau tidak berniat untuk membayar terlebih dulu minuman yang sudah kau pesan ini, Nona?" tanya pria itu menunjuk gelas minuman yang sudah ia habiskan tadi.

"Kau yang menghabiskan nya, jadi kau yang bayar!" jawab Michelle dengan ketus, lalu segera menarik kembali tangannya dari Jack. Bergegas ia pergi dari hadapan pria itu karena sudah tidak tahan berlama-lama lagi dengannya.

"Gadis yang menarik."

***

Bab 3

Hari ini Michelle akan pergi ke rumah Jackson. Ia sudah merasa yakin dengan keputusan yang telah ia ambil. Bagaimana pun, keluarganya harus terbebas dari hutang budi dari keluarga Lee. Meskipun ia harus menjadi pelayan untuk Jack. Jika tidak begitu, pria itu pasti tidak akan pernah berhenti mengganggu kehidupannya dan juga keluarganya.

"Michelle, kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Rose terlihat khawatir dengan putrinya.

"Aku yakin, Bu. Sangat yakin!" jawab Michelle mantap.

"Tapi, apa tidak ada cara lain. Kenapa harus dengan cara seperti ini?" tanya tuan Wilson tidak setuju.

"Ini lebih baik, dari pada aku harus menikah dengannya."

Michelle segera menarik koper miliknya keluar dari kediaman. Rupanya di depan sudah ada mobil dan supir Jackson yang menjemputnya.

"Kau siapa?" tanya Michelle bingung.

"Saya supir Tuan Jackson yang diperintahkan untuk menjemput Anda. Silakan masuk." Supir itu membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Michelle.

Tanpa basa-basi lagi, gadis itu pun masuk. Sedangkan supir itu meletakkan koper miliknya ke bagasi belakang. Setelah selesai, ia segera menyusul ke mobil dan membawa Michelle menuju ke kediaman Jack.

***

Mobil berhenti di sebuah mansion mewah milik Jackson. Setelah sang supir membukakan pintu, Michelle langsung turun. Ia terperangah tak percaya menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia pikir, dia akan menjadi pelayan di kediaman keluarga Lee. Tidak disangka ia justru dibawa ke mansion milik Jack sendiri.

Luar biasa. Ia baru ingat jika Jack juga bukan orang sembarangan, sudah pasti ia akan memiliki kediamannya sendiri.

"Mari, Nona?" ujar supir laki-laki itu setelah mengeluarkan koper Michelle dari mobil dan membawakannya masuk.

Michelle mengikuti dari belakang. Saat masuk, ia dibuat makin tak percaya dengan pemandangan di dalam mansion. Selain mewah sekaligus megah, mansion itu juga memiliki puluhan pelayan dan penjaga. Fantastis.

"Selamat datang. Bagaimana, menyenangkan saat menuju kemari?"

Rasa takjub gadis itu perlahan sirna kala pemilik mension memperlihatkan wujudnya.

"Jadi, bisakah aku mulai bekerja sekarang?" tanya Michelle yang tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Jack.

"Oh, rupanya kau semangat sekali ingin bekerja di sini," ujar Jack sedikit tersenyum. Gadis itu tidak menjawabnya.

"Baiklah, kau bisa bekerja. Bibi An yang akan memberitahukan semuanya padamu. Dia kepala pelayan di sini."

Wanita paruh baya yang bernama An itu membungkuk hormat pada Michelle.

"Baiklah, aku pergi dulu. Nikmatilah hari mu bekerja di sini," ucap Jack berlalu pergi dengan di ikuti supirnya tadi meninggalkan mansion untuk menuju ke kantornya.

"Baik, Nona. Mari ikut saya," ujar pelayan itu setelah kepergian majikannya.

Dengan menyeret koper miliknya, Michelle mengikuti langkah wanita itu dari belakang.

"Ini adalah kamar Anda mulai sekarang," ucap pelayan An memperlihatkan sebuah kamar mewah untuk Michelle.

"Ini kamarku? Apa ini tidak salah bibi An?" ujar Michelle tidak percaya.

"Tidak, Nona. Ini memang kamar yang dipersiapkan Tuan untuk Anda," jawab pelayan wanita itu sungguh-sungguh.

"Kenapa tidak di kamar pelayan saja seperti yang lain?"

"Saya tidak tahu, tuan yang memintanya."

"Cih! Orang itu pasti memiliki maksud lain," batin Michelle yang merasa curiga dengan Jack yang memperlakukannya berbeda. Ah, tapi sudahlah. Itu justru bagus untuknya, setidaknya derajatnya tidak akan jatuh bila harus tidur di kamar pelayan.

"Baiklah, terima kasih kalau begitu bibi An," ucap Michelle kemudian.

"Baik. Dan ini seragam untuk Anda bekerja." Pelayan An memberikan pakaian pelayan khas di mansion Jack yang ia ambil dari salah satu pelayan yang ikut dengannya juga.

"Terima kasih," ucap Michelle setelah menerima pakaian itu.

"Anda berganti  lah dan setelah itu kembali ke depan. Saya dan pelayan yang lain akan menunggu dan memberitahu apa saja yang akan Anda kerjakan selama bekerja di sini."

"Hmm," angguk Michelle.

Setelah itu pelayan An dan pelayan satunya undur diri dari kamar Michelle. Seusai menutup pintu, gadis itu segera mengganti pakaiannya.

Michelle menatap dirinya di cermin. Penampilannya kini telah berubah menjadi seorang pelayan.

"Cih, jika bukan karena sayang dengan keluarga ku, aku takkan sudi menjadi pelayan Jack sialan itu!" umpatnya dengan kesal. Lantas, bergegas keluar menemui pelayan An di ruang utama.

***

Setelah mendapat penjelasan banyak dari pelayan An, Michelle langsung melakukan pekerjaan membereskan mansion dengan pelayan lain. Ia tidak percaya, hidupnya yang selama ini seperti tuan putri mendadak berubah dalam sekejap dengan menjadi seorang pelayan.

Awalnya ia melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, tidak lama kemudian, ia merasa risih saat mendengar pelayan lain berbisik-bisik membicarakan dirinya.

"Menyebalkan!" desisnya pelan. Lantas bergegas pergi dari tempatnya dan keluar dari mansion untuk membuang plastik kantong sampah di luar.

Michelle menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Cuaca saat ini sangat panas dan dia lelah karena tidak biasa bekerja bersih-bersih seperti yang ia lakukan sekarang ini.

"Dia sungguhan kaya, tapi untuk apa dia masih menagih hutang dari keluargaku?" gumamnya sambil menatap sekeliling mansion serta halaman yang begitu luas milik Jack.

"Tempat ini begitu luas. Sepertinya aku harus mencari jalan keluar yang aman untuk bisa kabur dari sini jika terjadi apa-apa denganku," ucapnya diselingi tawa hambar.

Setelah puas dengan isi pikirannya, ia pun kembali masuk.

***

"Bibi An, aku ingin tanya sesuatu padamu," kata Michelle ketika mereka tengah menikmati makan siang.

"Tanya apa, Nona?" ujar pelayan itu dengan sopan.

"Sejak kapan Jack, ah, maksudku tuan Jackson tinggal di mansion ini. Kenapa dia tidak tinggal di kediaman Lee, bukankah dia pewaris keluarga itu?"

"Tuan sudah lama tinggal di mansion ini, Nona. Itu karena dia tidak ingin selalu bergantung pada status keluarga Lee. Maka dari itu, dia mendirikan perusahaan sendiri agar tidak perlu tinggal di kediaman Lee lagi dan hidup mandiri."

"Mandiri? Lalu kenapa dia membutuhkan pelayan?" sahut Michelle berniat menyindir.

Pelayan itu hanya tersenyum. "Bagaimanapun, tuan adalah pria lajang yang belum memiliki istri. Tentu saja dia perlu membutuhkan seorang pelayan untuk mengurusinya dan juga kediamannya."

Jawaban menohok pelayan An menusuk tepat ke hati Michelle. Apa maksudnya tadi dia balas menyindir dirinya karena tidak setuju menikah dengan Jack dan malah memilih menjadi pelayannya, begitu?

Lagipula siapa yang sudi jadi istri pria gila itu, pikirnya.

"Apa ada yang ingin Anda tanyakan lagi, Nona?" tanya pelayan itu menyadarkan Michelle dari lamunannya.

"Ah, tidak ada. Terima kasih," jawab Michelle berusaha tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu saya permisi."

Gadis itu mengangguk bersamaan dengan pelayan An yang pergi dari hadapannya.

Di tempat lain, Jack tengah mengawasi Michelle di kantornya sendiri lewat kamera pengawas yang sudah ia pasang di penjuru mansion-nya serta telah terhubung dengan laptop miliknya. Ia sangat penasaran dengan kerja gadis itu, dan apa kira-kira yang akan dia lakukan selama dirinya tidak ada.

Setelah melihat Michelle selesai berbicara dengan pelayan An, ia segera meraih ponselnya dan segera menghubungi nomor kepala pelayannya itu.

"Apa saja yang dia lakukan selama di mansion?" tanya Jack pada pelayan An di seberang sana.

"Dia bekerja dengan sewajarnya, Tuan."

"Tidak melakukan hal yang mencurigakan?"

"Tidak, Tuan."

"Baiklah, awasi dia terus."

Setelah itu panggilan ia matikan. Pria itu menatap kembali layar monitor yang memperlihatkan Michelle tengah sibuk bekerja di mansion-nya.

Ia mendadak tersenyum melihat Michelle mengenakan pakaian pelayan. Terlihat sangat seksi menurutnya.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED