"Kedatangan ku kemari untuk menikahi putri kalian," ucap seorang pria pada sepasang suami istri di hadapannya.
Suami istri yang bernama Wilson dan Roselyna itu terperangah kaget. Kedatangan tak terduga dan penuturan dari pria itu barusan membuat mereka terkejut.
"Me-menikah?" tanya tuan Wilson memastikan sekali lagi bahwa dia tidak salah mendengar tadi.
"Benar."
"Tapi, Michelle masih sekolah dan belum selesai dari perguruan tingginya. Apa mungkin dia mau—"
"Itu bukan urusanku. Yang aku inginkan hanya bisa menikah dengan putrimu," potong Jack menatap angkuh ke arah tuan Wilson.
Pria paruh baya itu menelan ludahnya sudah payah. Takut, bila berhadapan dengan Jack yang merupakan orang terkaya di kota S, China ini. Selain itu, Jack juga berasal dari keluarga yang terpandang. Meski Wilson juga termasuk keluarga kaya, namun masih jauh sekali dibandingkan dengan keluarga yang bermarga Lee milik Jackson itu.
"Tapi ... kenapa harus putri kami? Dia hanya gadis muda yang tidak sepadan dengan Anda. Kenapa Anda tidak mencari wanita yang lebih pantas untuk Anda dan keluarga Anda?" ucap tuan Wilson memberanikan diri berkata demikian.
"Karena aku hanya menginginkan putri dari keluarga Wilson. Aku tidak peduli dengan wanita lain," jawab Jack.
Sepasang suami istri di hadapannya memicing tidak yakin dengan jawaban Jack. Pasalnya, mereka tahu bagaimana kehidupan liar seorang Jackson Lee.
"Ingatlah bagaimana keluarga Lee membantu keluarga kalian selama ini," ucap Jack mengingatkan mereka berdua tentang jasa yang pernah keluarga Lee berikan pada perusahaan milik Wilson yang hampir bangkrut waktu lalu.
"Kau pikir aku mau menikah dengan pria hidung belang sepertimu. Menjijikan!"
Seruan Michelle yang baru turun dari kamarnya mengalihkan pandangan semua orang di ruang tamu. Begitu pun dengan Jack yang langsung menoleh dengan sudut bibir terangkat menatap gadis cantik itu. Gadis yang sangat ingin ia miliki.
"Menjijikan? Apa kau sendiri sudah pernah mencicipi tubuhku, Nona, hingga kau bicara demikian?" ucap Jack menggoda dengan tidak tahu malunya.
"Cih, tidak perlu mencicipinya pun aku sudah tahu kalau kau itu menjijikan!" balas Michelle meremehkan.
Jack menyunggingkan sedikit senyumnya mendengar kalimat itu. "Aku suka gaya bicaramu, Nona," ujarnya.
"Ma-maafkan atas ucapan putri kami, Tuan Jack. Dia tidak bermaksud menyinggung mu," ucap Rose yang mulai cemas. Ia khawatir jika nanti pria itu murka dengan putrinya.
"Aku sengaja, kenapa ibu harus minta maaf padanya?"
"Michelle!"
"Hanya karena dia dari keluarga terpandang, maka kita harus tunduk padanya. Keluarga kita juga bukan keluarga yang remeh, untuk apa kita harus takut dengannya?" Michelle menatap tidak senang pada Jack.
Pria itu sendiri tampak santai menyeruput secangkir kopi yang sebelumnya sudah disuguhkan untuknya. Membuat gadis itu bertambah tidak suka dengan sikap angkuhnya.
"Cih!"
"Michelle, jaga sopan santun mu!" pinta Rose.
"Dengan orang ini?" Michelle menunjuk ke arah Jack yang langsung meliriknya. Lantas, pria itu meletakkan kembali cangkir kopinya di meja hadapannya.
Dengan begitu santainya ia merapikan jas hitamnya dan kemudian menyandarkan diri kembali ke punggung kursi dengan satu kaki berada di atas kaki satunya. "Apa yang kurang dariku hingga kau begitu benci denganku, Nona. Apa sebelumnya kita pernah ada masalah?" ucapnya dengan menyilang kan kedua tangan di bawah dada.
Michelle menatap tajam pria itu. Sungguh tidak punya rasa malu, seolah pria itu tidak memiliki kesalahan sama sekali dalam hidupnya. Kepribadian dan kehidupannya dengan banyak wanita di luar sana sudah bukan sedikit lagi orang yang tahu. Mana mungkin Michelle tidak akan membenci pria semacam itu.
"Heh, harusnya kau tanyakan sendiri pada dirimu. Apa yang membuat gadis sepertiku sangat benci denganmu," jawab gadis itu kemudian.
Jack langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Michelle.
"Tuan,"
Tuan Wilson menahan istrinya agar tidak bertindak gegabah, walau ia tahu kekhawatiran yang sedang dirasakan wanita itu.
"Aku tahu, itu karena aku tidak menjadikan mu salah satu wanitaku seperti mereka, bukan?" ucap Jack tepat di depan wajah Michelle.
"Brengsek!"
Jack menangkap tangan Michelle yang hendak menamparnya. Sudut bibirnya tersungging, senang karena telah berhasil mempermainkan gadis itu.
"Enyahlah. Kehadiranmu tidak diterima lagi di kediaman ini," usir gadis itu menarik kasar tangannya dari cengkraman Jack.
"Apa ini berarti kau menolak Jackson Lee?" tanya Jack menatap sinis.
"Tentu saja, silakan pergi."
"Hahaha ... aku tidak menyangka putri dari keluarga Wilson sangat berani menolak seorang Jackson Lee."
Tuan Wilson dan nyonya Rose terdiam membeku mendengar gelak tawa Jack. Pria angkuh dan gila itu pasti akan melakukan apapun bila keinginannya sampai ditolak.
"Kau pasti akan menyesal karena telah menolak ku, Nona," ancam Jack dengan nada lirih.
Gadis di hadapannya tidak gentar sama sekali. Untuk apa ia harus takut dengan seorang psikopat seks seperti Jackson.
"Tidak akan. Enyahlah!" usir Michelle dengan berani.
Jack tersenyum mendengarnya. Sungguh gadis yang menarik untuknya.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi, keluarga kalian harus ingat bagaimana dulu keluarga Lee telah banyak membantu keluarga Wilson. Tanpa keluarga Lee, Wilson tidak akan ada apa-apanya seperti sekarang ini. Kalian tahu cara berbalas budi, 'kan?" ucap Jack menatap tuan Wilson yang masih terduduk takut bersama istrinya.
"Satu lagi, Tuan Wilson. Kuharap, kau bisa membujuk putrimu ini." Jack melirik Michelle sekilas, "Jika tidak ... yah, Anda tahu sendiri lah," tambahnya diakhiri sebuah senyuman yang sulit diartikan. Setelah itu, ia melangkah pergi meninggalkan kediaman Wilson.
"Kenapa kalian selalu berurusan dengan orang itu?" ujar Michelle kesal.
"Michelle," sahut Rose menatap tajam putrinya karena telah menyinggung Jack dan menyebabkan masalah baru untuk keluarganya.
"Cih, menyebalkan!"
Michelle langsung pergi menuju kembali ke kamarnya di lantai atas. Kesal dan kecewa, itulah yang ia rasakan pada kedua orang tuanya sekarang.
"Sudahlah. Kita jelaskan saja nanti padanya agar mengerti," ujar tuan Wilson pada istrinya.
"Aku hanya tidak ingin jika Michelle mendapat masalah dengan pria itu," sahut Rose sedih.
"Tenang saja." Tuan Wilson mengusap punggung Rose untuk menenangkan nya.
Desahan seorang wanita terdengar menggema di ruang tamu apartemen milik Jack. Ya, saat ini pria itu tengah bersenang-senang dengan salah satu wanita simpanannya bernama Karin.
Setelah keluar dari kediaman Wilson tadi perasaannya menjadi campur aduk. Apalagi setelah gadis yang ingin ia miliki menolaknya dengan mentah-mentah. Harga dirinya seolah dijatuhkan begitu saja oleh gadis itu.
Selama ini tidak ada yang bisa menolak pesona dari seorang Jackson Lee. Tapi, ia tidak percaya jika Michelle justru tidak tertarik sama sekali dengannya. Benar-benar sulit dipercaya, pikirnya.
Karena tidak bisa mendapatkan gadis itu, ia ingin melampiaskan kekesalannya saat ini dengan wanita simpanannya ini. Menyiksanya dalam kungkungan nya sampai ia merasa puas.
"Ahh, Jack ... pelan-pelan," lenguh wanita itu saat merasakan nyeri di gundukan besar miliknya. Jack terlalu kencang meremas miliknya hingga membuatnya tidak tahan dengan rasa sakit itu.
Tapi, sepertinya Jack tidak peduli dan terus memainkan tangannya di sana. Bahkan tangan satunya makin liar mengobrak abrik bagian sensitif lainnya milik Karin. Di saat hampir mencapai klimaksnya, tiba-tiba Jack menghentikan permainan tangannya. Membuat wanita itu mendesah kecewa karena gagal mendapat kenikmatannya.
"Jack, kenapa berhenti. Ayo lanjutkan," keluh wanita itu menoleh ke arah Jack yang sudah menegakkan kembali tubuhnya untuk duduk. Pria itu sama sekali tidak menjawabnya dan malah sibuk membersihkan tangannya dengan sapu tangan.
Karena kesal, wanita itu pun akhirnya ikut bangkit. "Hari ini kau terlihat tidak seperti biasanya. Apa sedang ada masalah?" tanya nya.
"Tidak ada," jawab Jack sangat singkat.
"Tapi, hari ini kau terlihat berbeda sekali. Katakan saja jika memang ada masalah," ujar wanita itu berusaha membujuk.
Jack langsung menuangkan minuman beralkohol dari botol ke gelas kecil yang ada di meja. Lantas, meneguknya perlahan.
"Jack ... " panggil Karin karena tidak mendapat jawaban juga.
"Kau terlalu banyak berpikir," ucap Jack sembari meneguk minumannya lagi hingga tandas.
Mendengar jawaban itu, Karin menangkup kedua rahang tegas milik Jack dan langsung melumat bibirnya dengan sensual. Kedua tangannya kemudian tergerak untuk membelai dada bidang milik pria itu hingga ke perutnya dengan perlahan. Ia berusaha mengembalikan gairah Jack seperti sebelumnya agar bisa memuaskannya lagi.
Tapi sepertinya tindakan itu tidak membuat Jack serta merta membalas lumatan di bibirnya. Terpaksa Karin melepas kembali ciumannya itu.
"Apa ada wanita lain yang mengusik pikiranmu?" tanya nya dengan nada kesal.
"Tidak," jawab Jack dingin.
"Lalu, kenapa kau tidak membalas ciuman ku? Tadi kau juga tidak memuaskan ku. Jadi apa kalau bukan ada wanita lain?"
"Aku sedang tidak ingin membahas itu."
Karin menghela napas pelan, mencoba untuk meredam rasa kesalnya. "Ayolah, sayang. Aku tidak mau kalau kau sampai menduakan ku lagi. Selama ini aku sudah setia bersamamu, melayani mu. Aku bisa memberikan segalanya untukmu selama kau mau. Kurang apalagi aku hingga kau tetap tidak mau konsisten dengan satu wanita?" keluh wanita itu yang membuat Jack langsung berdiri. Sontak ia terkesiap dengan tindakan tiba-tiba itu.
"Sudahlah, tugasmu hanya untuk menyenangkan ku. Bukan untuk mengatur ku."
Jack merapikan kembali kemeja dan celana yang dipakainya. Setelah itu ia memungut jas kerjanya di lantai dan meninggalkan wanita itu.
"Jack!" seru Karin namun tidak dihiraukan pria itu dan dia tetap pergi.
"Sial! Aku pasti akan segera membuatmu berada dalam genggaman ku, Jack," gumam wanita itu menatap nyalang ke arah keluarnya Jack dari apartemen.
***
Setiba di mobil, Jack mendapat panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Dengan malas, ia pun menerima panggilan itu dan menempelkan benda pipih hitam itu ke telinganya.
"Aku ingin bertemu denganmu," ucap seorang gadis dari seberang sana.
Jack mengerutkan keningnya, merasa asing dengan suara itu.
"Kau siapa?" tanya nya.
Terdengar decakan dari lawan bicaranya.
"Aku Michelle. Kita bertemu di kafe Rotella."
Setelah itu panggilan pun berakhir. Jack yang menyadarinya hanya tersenyum, ternyata cepat juga gadis itu berubah pikiran.
Setelah menyimpan ponselnya kembali, pria itu segera menyalakan mesin mobil dan melajukan nya ke kafe yang disebutkan Michelle tadi.
Tidak butuh waktu lama untuk Jack tiba di sana. Setelah masuk ke dalam kafe ia segera menghampiri Michelle yang sudah duduk menunggunya di dekat dinding kaca bagian dalam kafe tersebut.
"Tidak menyangka, jika kau begitu cepat berubah pikiran dan langsung mengajakku untuk bertemu," ucap Jack yang langsung duduk di hadapan Michelle sebelum dipersilakan lebih dulu.
Gadis itu sama sekali tidak heran dengan minusnya attitude yang dimiliki pria itu. "Tidak perlu basa-basi. Aku ingin langsung bicara ke intinya," jawab Michelle.
"Oh, mau membahas apa memang?" tanya Jack dengan tampang santai.
"Berapa banyak yang harus keluarga ku ganti untuk membalas semua kebaikan keluargamu dulu?" tanya Michelle dengan raut wajah serius.
"Berapa banyak? Maksudmu, kau ingin membalas budi dengan uang, begitu?" balas Jack skeptis.
"Tentu saja, kau pikir aku mau menjual diriku untuk semua itu. Jangan mimpi!" jawab Michelle tajam.
Pria di hadapannya langsung terkekeh mendengarnya.
"Kau pikir uang dari keluarga Wilson itu cukup untuk membayar semuanya. Kau juga jangan mimpi, Nona. Semua jasa dari keluarga Lee sama sekali tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki keluarga mu itu!" balas Jack tidak mau kalah.
"Lalu apa yang kau mau? Jangan mempersulit ku," tegas Michelle kesal.
Jack hanya tersenyum sembari menarik segelas minuman di hadapan Michelle. Dengan tidak tahu malu ia langsung meminumnya hingga tandas.
Michelle memasang wajah muak menatap kelakuan buruk pria itu. Jika bukan karena masalah keluarganya yang baru ia tahu tadi dari ibu dan ayahnya, ia juga tidak akan datang kemari dan mengajak pria itu bertemu.
Apalagi ia sadar telah mencium aroma parfum wanita di pakaian Jack. Ia yakin, pria itu pasti baru bertemu dengan wanita simpanannya sebelum datang menemuinya.
"Sial!" batin Michelle.
"Oh, maaf, karena aku sudah meminum minuman mu?" ucap Jack tersenyum tanpa dosa.
"Terserah." Michelle segera membuang wajah, semakin muak dengan sosok di hadapannya.
Pria itu malah tersenyum. "Jika kau masih ingin membalas budi tapi tidak ingin menikah denganku, kau bisa menerima cara lain."
"Apa itu?" sahut Michelle seketika.
Jack mencondongkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Michelle. "Jadi pelayan di rumahku."
Gadis itu sontak melebarkan kedua matanya tak percaya. Apa-apaan itu?
"Kau pikir putri dari keluarga Wilson serendah itu hingga bisa kau jadikan pelayan mu?!" bentak Michelle tak terima.
"Bukankah kau juga seperti itu padaku. Kau bahkan berani menolak ku di hadapan keluarga mu," balas Jack tersenyum sinis.
"Jika kau menolak juga tidak apa-apa, itu berarti keluarga Wilson masih memiliki hutang. Dan mungkin saja perusahaan ayahmu itu akan segera hancur."
"Kau mengancam ku?"
"Menurutmu?"
Keduanya saling melempar tatapan sengit. Tidak ada yang ingin mengalah satu sama lain dengan masalah ini. Tapi, jika Michelle masih bersikeras untuk melawan, perusahaan keluarganya yang akan menjadi taruhannya.
"Oke, aku akan menjadi pelayan di rumahmu," jawab Michelle akhirnya.
Ada kebahagiaan tersendiri saat mendengar jawaban itu. Cepat atau lambat, Jack akan membuat gadis itu menjadi miliknya. Seorang Jackson Lee tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah. Apalagi jika urusan wanita. Ia tidak terima kalau gadis di hadapannya ini tidak bisa ia miliki juga.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Kau bisa datang ke rumahku besok," ujar Jack kemudian.
"Oke."
Michelle langsung bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi.
"Tunggu!" Jack menarik pergelangan tangannya dengan cepat. "Kau tidak berniat untuk membayar terlebih dulu minuman yang sudah kau pesan ini, Nona?" tanya pria itu menunjuk gelas minuman yang sudah ia habiskan tadi.
"Kau yang menghabiskan nya, jadi kau yang bayar!" jawab Michelle dengan ketus, lalu segera menarik kembali tangannya dari Jack. Bergegas ia pergi dari hadapan pria itu karena sudah tidak tahan berlama-lama lagi dengannya.
"Gadis yang menarik."
***
Hari ini Michelle akan pergi ke rumah Jackson. Ia sudah merasa yakin dengan keputusan yang telah ia ambil. Bagaimana pun, keluarganya harus terbebas dari hutang budi dari keluarga Lee. Meskipun ia harus menjadi pelayan untuk Jack. Jika tidak begitu, pria itu pasti tidak akan pernah berhenti mengganggu kehidupannya dan juga keluarganya.
"Michelle, kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Rose terlihat khawatir dengan putrinya.
"Aku yakin, Bu. Sangat yakin!" jawab Michelle mantap.
"Tapi, apa tidak ada cara lain. Kenapa harus dengan cara seperti ini?" tanya tuan Wilson tidak setuju.
"Ini lebih baik, dari pada aku harus menikah dengannya."
Michelle segera menarik koper miliknya keluar dari kediaman. Rupanya di depan sudah ada mobil dan supir Jackson yang menjemputnya.
"Kau siapa?" tanya Michelle bingung.
"Saya supir Tuan Jackson yang diperintahkan untuk menjemput Anda. Silakan masuk." Supir itu membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Michelle.
Tanpa basa-basi lagi, gadis itu pun masuk. Sedangkan supir itu meletakkan koper miliknya ke bagasi belakang. Setelah selesai, ia segera menyusul ke mobil dan membawa Michelle menuju ke kediaman Jack.
***
Mobil berhenti di sebuah mansion mewah milik Jackson. Setelah sang supir membukakan pintu, Michelle langsung turun. Ia terperangah tak percaya menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia pikir, dia akan menjadi pelayan di kediaman keluarga Lee. Tidak disangka ia justru dibawa ke mansion milik Jack sendiri.
Luar biasa. Ia baru ingat jika Jack juga bukan orang sembarangan, sudah pasti ia akan memiliki kediamannya sendiri.
"Mari, Nona?" ujar supir laki-laki itu setelah mengeluarkan koper Michelle dari mobil dan membawakannya masuk.
Michelle mengikuti dari belakang. Saat masuk, ia dibuat makin tak percaya dengan pemandangan di dalam mansion. Selain mewah sekaligus megah, mansion itu juga memiliki puluhan pelayan dan penjaga. Fantastis.
"Selamat datang. Bagaimana, menyenangkan saat menuju kemari?"
Rasa takjub gadis itu perlahan sirna kala pemilik mension memperlihatkan wujudnya.
"Jadi, bisakah aku mulai bekerja sekarang?" tanya Michelle yang tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Jack.
"Oh, rupanya kau semangat sekali ingin bekerja di sini," ujar Jack sedikit tersenyum. Gadis itu tidak menjawabnya.
"Baiklah, kau bisa bekerja. Bibi An yang akan memberitahukan semuanya padamu. Dia kepala pelayan di sini."
Wanita paruh baya yang bernama An itu membungkuk hormat pada Michelle.
"Baiklah, aku pergi dulu. Nikmatilah hari mu bekerja di sini," ucap Jack berlalu pergi dengan di ikuti supirnya tadi meninggalkan mansion untuk menuju ke kantornya.
"Baik, Nona. Mari ikut saya," ujar pelayan itu setelah kepergian majikannya.
Dengan menyeret koper miliknya, Michelle mengikuti langkah wanita itu dari belakang.
"Ini adalah kamar Anda mulai sekarang," ucap pelayan An memperlihatkan sebuah kamar mewah untuk Michelle.
"Ini kamarku? Apa ini tidak salah bibi An?" ujar Michelle tidak percaya.
"Tidak, Nona. Ini memang kamar yang dipersiapkan Tuan untuk Anda," jawab pelayan wanita itu sungguh-sungguh.
"Kenapa tidak di kamar pelayan saja seperti yang lain?"
"Saya tidak tahu, tuan yang memintanya."
"Cih! Orang itu pasti memiliki maksud lain," batin Michelle yang merasa curiga dengan Jack yang memperlakukannya berbeda. Ah, tapi sudahlah. Itu justru bagus untuknya, setidaknya derajatnya tidak akan jatuh bila harus tidur di kamar pelayan.
"Baiklah, terima kasih kalau begitu bibi An," ucap Michelle kemudian.
"Baik. Dan ini seragam untuk Anda bekerja." Pelayan An memberikan pakaian pelayan khas di mansion Jack yang ia ambil dari salah satu pelayan yang ikut dengannya juga.
"Terima kasih," ucap Michelle setelah menerima pakaian itu.
"Anda berganti lah dan setelah itu kembali ke depan. Saya dan pelayan yang lain akan menunggu dan memberitahu apa saja yang akan Anda kerjakan selama bekerja di sini."
"Hmm," angguk Michelle.
Setelah itu pelayan An dan pelayan satunya undur diri dari kamar Michelle. Seusai menutup pintu, gadis itu segera mengganti pakaiannya.
Michelle menatap dirinya di cermin. Penampilannya kini telah berubah menjadi seorang pelayan.
"Cih, jika bukan karena sayang dengan keluarga ku, aku takkan sudi menjadi pelayan Jack sialan itu!" umpatnya dengan kesal. Lantas, bergegas keluar menemui pelayan An di ruang utama.
***
Setelah mendapat penjelasan banyak dari pelayan An, Michelle langsung melakukan pekerjaan membereskan mansion dengan pelayan lain. Ia tidak percaya, hidupnya yang selama ini seperti tuan putri mendadak berubah dalam sekejap dengan menjadi seorang pelayan.
Awalnya ia melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, tidak lama kemudian, ia merasa risih saat mendengar pelayan lain berbisik-bisik membicarakan dirinya.
"Menyebalkan!" desisnya pelan. Lantas bergegas pergi dari tempatnya dan keluar dari mansion untuk membuang plastik kantong sampah di luar.
Michelle menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Cuaca saat ini sangat panas dan dia lelah karena tidak biasa bekerja bersih-bersih seperti yang ia lakukan sekarang ini.
"Dia sungguhan kaya, tapi untuk apa dia masih menagih hutang dari keluargaku?" gumamnya sambil menatap sekeliling mansion serta halaman yang begitu luas milik Jack.
"Tempat ini begitu luas. Sepertinya aku harus mencari jalan keluar yang aman untuk bisa kabur dari sini jika terjadi apa-apa denganku," ucapnya diselingi tawa hambar.
Setelah puas dengan isi pikirannya, ia pun kembali masuk.
***
"Bibi An, aku ingin tanya sesuatu padamu," kata Michelle ketika mereka tengah menikmati makan siang.
"Tanya apa, Nona?" ujar pelayan itu dengan sopan.
"Sejak kapan Jack, ah, maksudku tuan Jackson tinggal di mansion ini. Kenapa dia tidak tinggal di kediaman Lee, bukankah dia pewaris keluarga itu?"
"Tuan sudah lama tinggal di mansion ini, Nona. Itu karena dia tidak ingin selalu bergantung pada status keluarga Lee. Maka dari itu, dia mendirikan perusahaan sendiri agar tidak perlu tinggal di kediaman Lee lagi dan hidup mandiri."
"Mandiri? Lalu kenapa dia membutuhkan pelayan?" sahut Michelle berniat menyindir.
Pelayan itu hanya tersenyum. "Bagaimanapun, tuan adalah pria lajang yang belum memiliki istri. Tentu saja dia perlu membutuhkan seorang pelayan untuk mengurusinya dan juga kediamannya."
Jawaban menohok pelayan An menusuk tepat ke hati Michelle. Apa maksudnya tadi dia balas menyindir dirinya karena tidak setuju menikah dengan Jack dan malah memilih menjadi pelayannya, begitu?
Lagipula siapa yang sudi jadi istri pria gila itu, pikirnya.
"Apa ada yang ingin Anda tanyakan lagi, Nona?" tanya pelayan itu menyadarkan Michelle dari lamunannya.
"Ah, tidak ada. Terima kasih," jawab Michelle berusaha tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
Gadis itu mengangguk bersamaan dengan pelayan An yang pergi dari hadapannya.
Di tempat lain, Jack tengah mengawasi Michelle di kantornya sendiri lewat kamera pengawas yang sudah ia pasang di penjuru mansion-nya serta telah terhubung dengan laptop miliknya. Ia sangat penasaran dengan kerja gadis itu, dan apa kira-kira yang akan dia lakukan selama dirinya tidak ada.
Setelah melihat Michelle selesai berbicara dengan pelayan An, ia segera meraih ponselnya dan segera menghubungi nomor kepala pelayannya itu.
"Apa saja yang dia lakukan selama di mansion?" tanya Jack pada pelayan An di seberang sana.
"Dia bekerja dengan sewajarnya, Tuan."
"Tidak melakukan hal yang mencurigakan?"
"Tidak, Tuan."
"Baiklah, awasi dia terus."
Setelah itu panggilan ia matikan. Pria itu menatap kembali layar monitor yang memperlihatkan Michelle tengah sibuk bekerja di mansion-nya.
Ia mendadak tersenyum melihat Michelle mengenakan pakaian pelayan. Terlihat sangat seksi menurutnya.
***