Semilir angin masuk ke dalam kamarnya, Karina melihat pantulannya di cermin pagi ini. Ia hirup udara kamarnya yang sudah lama tak ia rasakan.
Setelah perpisahan dengan teman-temannya, Karina tidak pernah sekalipun kembali ke sini. Setelah 7 tahun lamanya, Karina kembali ke kamarnya yang ia gunakan saat ia berada di bangku SMA.
Setelah menyelesaikan masa kuliahnya, Karina juga keluarga kembali ke kota asal. Karina mengirim beberapa lamaran dan berakhir di perusahaan MAHAPRANA'S dengan jabatan cukup tinggi yakni sekretaris perusahaan.
Karina mulai merias dirinya dengan beberapa sentuhan namun tak berlebihan. Ia rapikan kembali rambut juga pakaiannya kemudian bergegas ke dapur untuk menyantap sarapan.
"Semangat ya, Rin. Pasti bisa!" ucap Hani—ibu Karina.
Karina mengangguk patuh. "Semangat Karina udah menggebu banget, Ma. Masa iya anak Mama gak bisa semangat," balas Karina
"Pertahanin semangat itu, Mama pasti selalu dukung!"
Karina menyelesaikan suapan terakhir ke mulutnya, ia lalu menyalimi tangan Hani kemudian pamit berangkat.
Paginya yang sangat indah ini jangan sampai kacau. Tekad Karina sudah sangat kuat, bahkan ia tak segan-segan menandatangani kontrak.
Karina menaiki taksi dan langsung menuju ke tempat tujuan. Dalam mobil, Karina menopang dagunya. Ia pandang jalanan yang terus ia lalui. Bahkan, ia melewati sekolahnya juga.
Begitu banyak Deja Vu di kota ini. Ya, Karina merindukan nya. "Makasih, Pak."
Karina turun dari taksinya setelah beberapa saat. Ia memandang bangunan megah yang membuatnya berpikir, "Ini kantor perusahaan?"
Masih dengan semangatnya, Karina masuk. Ia berjalan menuju meja resepsionis yang tak jauh dari jalan masuk. "Mbak, mau tanya. Ruangan Sekretaris itu dimana, ya?" tanya Karina sambil memandangi langit-langit.
"Oh, Sekretaris baru, ya?" ucap Sang Resepsionis.
Karina mengangguk penuh semangat, "Iya, Mbak. Saya baru masuk hari ini."
"Mari, saya antar." Resepsionis tadi berjalan terlebih dahulu guna memimpin Karina menuju ruang kerjanya.
Sambil berjalan menuju lift, Resepsionis tadi sedikit bercerita tentang atasannya. "Seharusnya ruangan kerja Sekretaris dan CEO itu terpisah, tapi Pak CEO meminta agar di satu ruangan saja," ucapnya.
Dahi Karina berkerut bingung, "Loh? Kenapa? Memangnya Pak CEO nya gak ada urusan pribadi, gitu?"
"Kalau itu saya kurang tahu, tapi seminggu yang lalu Pak CEO mengubah tata letak ruang kerjanya. Awalnya, ruang kerjanya memang terpisah. Tapi setelah merekrut Sekretaris baru, beliau langsung mengubahnya."
Pintu Lift terbuka. "Nah, kita sudah sampai," ucap Resepsionis.
Karina mengangguk dan memperhatikan secara detail lorong yang menghubungkan lift juga ruangan lainnya. "Dilantai ini hanya ada dua ruangan, ruangan kerja mu dengan Pak CEO, juga ruang pribadinya."
Karina hanya ber-oh saat Resepsionis itu menunjukkan pintu yang saling berhadapan.
Setelahnya, ia mengetuk pintu yang ada di jalur kiri. "Pak Marcel, saya membawa Sekretaris baru."
Karina terdiam. "Mbak, Pak siapa tadi?" tanyanya takut salah mendengar. Tak mungkin juga nama CEO ini sama dengan nama laki-laki yang sangat ia benci.
"Pak Marcel. Beliau CEO MAHAPRANA'S, Marcel Mahaprana," jelas resepsionis itu.
Mendengar itu, bahu Karina langsung anjlok. Kepalanya berusaha menerima mentah kenyataan yang baru ia dengar, terdengar suara dari dalam ruangan yang mempersilakan nya masuk.
"Silahkan masuk, Pak CEO sudah menunggu." Resepsionis tadi pamit dan meninggalkan Karina di rasa bimbang yang sangat mendominasi.
Karina meneguk ludahnya saat melangkah masuk. Dan benar saja, wajah Marcel sudah tersenyum penuh arti ke arah nya. Ingin sekali Karina mengamuk sejadi-jadi jika saja ia tak sadar posisinya sekarang.
"Selamat datang Sekretaris baru, saya harap kamu tidak berhenti bekerja akibat tekanan batin, ya?" ucap Marcel. Raut wajahnya tetap sama, menjengkelkan.
"Ini pasti mimpi, nih. Gak mungkin lo Marcel musuh bebuyutan gue, gak mungkin!" bantah Karina.
Marcel hanya tersenyum. "Kenapa kamu berpikir kalau saya bukan Marcel Mahaprana yang sering memancing emosi mu itu?" tanyanya lagi.
"Karena lo itu beda jauh banget sama dia. Gue gak percaya kalo lo berubah semudah itu."
"Saya juga gak percaya kalau kamu masih sama emosinya dengan waktu itu."
Karina mengepalkan tangannya kesal. Ia menggeram dengan hati, kenapa pula keberuntungan bisa menjadi sesial ini!?
"Terserah, Cel. Intinya gue gak jadi kerja di perusahaan ini, lama-lama gue bisa darah tinggi nanti." Karina melangkah keluar perlahan.
Marcel mengeluarkan selembar kertas yang telah di siapkan di berkas khusus. "Kontrak," ucapnya.
Langkah Karina terhenti. Ia berbalik perlahan dengan perasaan bingung. "Apa?"
Marcel tersenyum miring tanpa merubah posisi duduknya. Ia tetap duduk santai menunggu reaksi Karina selanjutnya. Karena setiap aksi maka akan ada reaksi, itulah yang dilakukan Marcel sekarang.
Sesuai dugaannya, Karina kembali mendekat untuk memastikan apa yang barusan Marcel katakan.
"Kontrak?"
"Ya, Kontrak. Kamu membacanya dengan seksama, kan? Saya gak mau sekretaris saya lalai dalam membaca. Apalagi sampai gak bisa baca," ujar Marcel.
"Gue bisa baca!"
Karina termenung sesaat setelah mengatakan nya. Ia memang tidak terlalu memperhatikan isi surat kontraknya karena terlalu senang atas lamarannya yang di terima.
"Jika kamu lupa, akan saya bacakan lagi dengan jelas."
Marcel melirik sebentar wajah Karina yang pastinya sedang menahan kesal terhadapnya, "Dalam surat kontrak tertulis dengan jelas bahwa, calon sekretaris akan bekerja di perusahaan selama 3 tahun lamanya, dan bila melanggar akan dikenakan biaya finalti yang cukup besar. Ingat?" lanjut Marcel.
Karina kini benar-benar termenung. Bisa-bisanya ia menandatangani kontrak se penting itu tanpa membacanya dengan teliti. "Meja mu ada di sana Sekretaris baru," ucap Marcel. Ia menggunakan dagunya untuk menunjuk meja yang berhadapan dengannya.
Walau berhadapan, tapi ada jarak yang memisahkan kedua meja tersebut. Jaraknya cukup luas jadi Karina masih bisa bersyukur karena tidak terlalu dekat dengan pemancing emosi itu.
"Lo juga apa apaan sih? Pake ruangan kita di jadiin satu segala." Bibir Karina komat kamit mengeluarkan isi hatinya.
Marcel terkekeh pelan. "Biar gue bisa pantau musuh gue, kenapa? Gak terima?"
Karina memalingkan wajah kesal namun ia kembali menatapnya dengan tatapan tajam. "Awas lo kalo ngebahas kontrak kontrak lagi! Gue cekik tuh leher!" ancam Karina.
Jujur, Marcel memang masih takut dengan ancaman itu. Memang belum ada korban dari ancaman mulut Karina, tapi jika di pikir, Marcel juga tidak mau jika harus jadi korban pertamanya.
Karina terduduk tenang sebelum kemudian Marcel datang dengan tumpukan kertas. "Periksa ini dalam dua jam, setelah itu kita bakalan ketemu partner bisnis. Jangan buat saya malu!"
Mata Karina membulat sempurna. "Sebanyak ini? Lo pikir gue robot—"
"Peraturan pertama, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika tidak, gaji mu akan saya potong!"
Ingin sekali Karina mencakar wajah menyebalkan Marcel. Semakin lama ia semakin menjadikan uangnya sebagai senjata untuk penyerangan.
"Dasarr!!"
Karina terus menggerutu kesal walau tetap melakukan apa yang Marcel perintahkan.
Karina menopang kepalanya yang mendadak berdenyut dengan kedua tangannya. Matanya hampir mabuk akibat dokumen yang terus menerus Marcel berikan padanya. Dimulai dari dokumen tentang persetujuan, bisnis, hingga janji temu yang harus ia kerjakan.
Tak berhenti sampai di situ, Karina bergumam, "Kenapa tugas sekretaris lebih banyak daripada bos, sih?! Terus si Marcel kerja nya apa dong!? Ish!"
"Kerja gue itu ngeliatin lo kerja, becus atau enggak nya gue yang nentuin". Marcel tersenyum miring di seberang meja Karina. Gadis itu melirik kemudian membuang muka kesal.
"Kalo aja dia bukan bos gue udah gue cekik dia sampe mati!" gumam Karina lagi.
Bohong jika Marcel bilang ia tak mendengar semua yang Karina katakan. Jelas sekali Marcel mendengar setiap perkataan Karina, termasuk ocehan Karina yang kesal terhadapnya.
Waktu mulai berjalan cepat, Karina tak berhenti menatap dokumen juga komputer, tangannya sedari tadi tak lepas dari pulpen juga notebook.
"Ayo," ajak Marcel.
Karina mengangkat kepalanya bingung, "Kemana? Kerjaan gue masih banyak!" ketusnya.
Ia membuang muka dan kembali melanjutkan pekerjaanya. Marcel tetap terdiam, namun beda dengan raut wajahnya. Ia terlihat sedang menahan marah.
Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, Marcel melangkah terlebih dahulu keluar. "Kalau kamu tidak keluar dalam tiga detik, gaji bulan sekarang tidak akan saya berikan!" ancam Marcel.
Mendengar itu, tentu membuat Karina segera merapikan mejanya dari kertas-kertas dokumen. Langkahnya ia pacu lebih cepat guna mengejar langkah Marcel.
"Kita mau kemana, sih!?" tanya Karina dengan nada sebal. Marcel menekan sebuah tombol untuk menutup pintu lift.
"Bukan kah dua jam yang lalu saya sudah bilang jika kita akan menghadiri rapat di kafe Helly? Daya ingat mu harus di asah lagi jika ingin bekerja di perusahaan saya." Marcel melangkah keluar saat pintu lift terbuka.
Karina mengerutkan dahi bingung, "Sejak kapan sih Marcel jadi sok formal?" tanyanya dalam hati.
Pasalnya, terakhir ia bertemu dengan Marcel adalah saat dimana ia mengumumkan dirinya akan pindah. Ia memasuki mobil yang sama dengan Marcel, tepatnya, di sebelahnya.
Karina memandang Marcel dari samping. Terlalu banyak hal yang datang seolah mengingatkan Karina lagi pada masa lalunya di kota ini. Saat ini, Marcel terlihat sangat berbeda dengan anak SMA urakan yang dulu ia kenal.
Marcel yang duduk di sampingnya saat ini, adalah sosok laki-laki dewasa yang begitu banyak berubah. Bahkan, tatapannya juga berubah. Karina bisa rasakan sorot tajam menusuknya setiap kali mata itu melirik ke arahnya.
Pandangan Karina kini menunduk, mengingat lagi saat dimana Marcel mendadak keluar kelas akibat amarah yang menggebu.
Mobil Marcel berhenti tepat di sebelah cafe bernama 'Helly's Cafe' setelah tiga puluh menit perjalanan. Marcel turun diikuti Karina. "Pak, nanti akan saya hubungi jika pekerjaan sudah selesai," ucap Marcel pada supirnya.
"Baik, Pak."
Karina merasa asing di tempatnya sekarang. "Kenapa gak masuk?" tanya Marcel.
"E-enggak, kan dimana mana juga Bos dulu baru sekretaris nya nyusul. Jadi, lo- eh Pak Marcel dulu yang masuk." Lidah Karina mendadak kelu juga mual saat bibirnya mengucap kata 'Pak Marcel'.
Marcel tersenyum tipis kemudian berjalan masuk. Mereka mencari meja yang rekan bisnis Marcel. Setelah berjalan beberapa saat, Marcel menemukan mejanya. Mereka lantas mendekat dan duduk.
"Eh, Renaldi? Atau Rifaldi?" tanya Karina.
Rekan bisnis Marcel itu seketika bangkit dan menjabat tangan Karina. "Karina, ya? Udah lama banget gak ketemu, apa kabar?" tanyanya.
"Baik, tapi gak baik pas kerja sama..." Karina mengarahkan bola matanya ke arah Marcel yang sudah duduk.
"Ngomong-ngomong, gue Renaldi."
"Sudah temu kangennya? Mirip ibu-ibu sosialita aja," ketus Marcel yang wajahnya terlihat masam.
"Ahahah, iya juga. Kalian kan rival pas SMA, bisa bisanya malah jodoh di kantor."
"Jodoh apaan, ini malah apes namanya."
"Sekali lagi bilang apes akan saya potong gaji kamu!" ancam Marcel.
Karina bergidik ngeri setiap kali Marcel berkata sesuatu tentang gajinya. "Eh jangan dong, Mar- Pak maksudnya!"
"Ahhahahhhahahh!"
Renaldi tertawa puas saat melihat peristiwa yang sudah lama tak ia lihat. Tujuh tahun yang telah berlalu, terasa sangat hampa baginya tanpa amukan Karina.
Setelah obrolan ringan itu, Renaldi dan Marcel mulai membicarakan rencana dan strategi perusahaan yang baru. Takutnya jika ada beberapa perubahan pemasaran produk dan lainnya.
Hingga tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sangat berbeda dengan waktu dimana Karina mengerjakan lembaran kertas. Sangat jenuh juga membosankan. Namun sekarang, suasana hatinya perlahan mulai membaik akibat Renaldi yang bercerita banyak hal.
"Sampai ketemu lagi nanti, ya!" ucap Renaldi sambil memajukan mobilnya. Renaldi terburu-buru akibat jadwal lainnya yang harus ia selesaikan.
Karina mengangguk juga melambaikan telapak tangannya, "Dah!"
Kini tinggal keduanya yang masih terduduk santai sambil menikmati pesanan di cafe tersebut. Cafe bernuansa aesthetic dengan gaya luar namun tetap di beri serbuk nusantara. Sangat cocok untuk tempat pemotretan atau hanya sekedar membagikan stories.
"Karina," panggil Marcel.
Karina menyeruput minumannya kemudian menghadap Marcel. "Mau ketemu sama yang punya cafe nya gak?"
Karina mengerutkan dahinya, ia bingung saat Marcel mendadak ingin mempertemukannya dengan seseorang yang belum tentu ia kenal.
"Emangnya siapa?" tanya Karina.
Marcel memanggil salah satu pelayan di cafe itu. "Mbak, bisa tolong panggilkan pemilik cafe ini? Bilang aja kalau Marcel datang bawa kejutan."
Pelayan tadi mengangguk paham dan langsung menghubungi majikannya. "Nyonya sedang dalam perjalanan kemari, Mas. Silahkan di tunggu," kata Pelayan Cafe.
"Oke, terimakasih, ya."
Sepuluh menit penuh keduanya menunggu. Hingga, suara bel pintu kini berdenting sangat keras akibat dorongan pintu yang kuat.
Itu si pemilik Cafe. Melihatnya, mata Karina membulat kaget juga rindu. "Qiaaa!!"
Keduanya saling berpelukan guna menyalurkan rasa rindu pada satu sama lain. "Kenapa gak bilang kalau bangun cafe sih?"
"Lo susah banget di hubungin soalnya, jadi kita pikir lo gak bakal balik lagi," balas Qia.
Karina mengangguk paham, namun langsung menatap intens pada laki-laki yang merupakan bosnya itu. "Lo juga, kenapa telat ngasih tahu, nya? Hah!?"
"Kan kita baru ketemu tadi."
"Huh!"
Marcel menghela nafas pasrah. Tak berselang lama, telepon nya berdering. "Saya jawab telepon dulu, kalian lanjutkan mengobrol," ucap Marcel.
Karina juga Qiandra mengangguk paham. "Qia, lo tahu gak dari sejak kapan Marcel jadi formal kayak gitu? Gue agak gimana kalo ngobrol sama dia, mana gue kejebak jadi sekretarisnya lagi," keluh Karina.
"Oh, lo kerja di perusahaan dia sekarang? Marcel jadi formal kayak gitu kalo gak salah sejak lulus SMA dan lanjutin kuliah jurusan bisnis atau apa gitu gue kurang tahu."
"Lo juga, padahal nanggung mau lulus bareng malah pindah," lanjut Qiandra.
Karina menghela nafas panjang. "Itu ngedadak, Qia. Gue juga gak tahu bakal langsung pindah waktu itu."
"Dan juga-"
"Karina, ayo kembali ke perusahaan." Marcel tiba dengan ekspresi wajah yang berbeda dari biasanya.
Karina sempat menolak. "Nanti aja, gue eh aku eh saya kan lagi reuni sama Qia."
Marcel menatap lekat manik tajam Karina. "Ayo, Karina!"