“Halo. Duduklah, Serenna.”
Madamme Bianca mempersilakanku untuk duduk. Sedangkan Anna meninggalkanku di ruangan ini seorang diri.
Aku menggigit bibirku, canggung lagi takut.
“Aku sudah mengetahui dirimu dari Anna. Kau belum berusia 18 tahun, kan?”
Kugelengkan kepalaku. “Saya berusia 17 tahun.”
Setidaknya, di usiaku yang tergolong belia ini, aku sudah mendapatkan kartu identitas dari pemerintah negara Westtia. Meskipun tahun depan, aku baru boleh bekerja.
Aku menganggukkan kepala.
Madamme Bianca pun mengulurkan perjanjian kontrak di depanku. Isinya adalah perjanjian pekerjaan paruh waktu. Ternyata, satu hari aku hanya akan mendapatkan satu klien dalam jangka waktu satu bulan sebagai masa percobaan. Sedangkan di bulan depannya, aku baru boleh mendapatkan klien lebih dari satu dalam satu hari.
Sebelum menandatangi kontrak, aku mencoba untuk bertanya. “Seberapa jauh ... hubunganku dengan klien nantinya? Aku tak bisa ... untuk tidur bersama dengan mereka.”
Perempuan gemuk di depanku ini tertawa. Bibir merahnya itu menganga lebar dengan tawanya. “Hahaha! Hahahah!”
Aku terdiam, merasa itu tak lucu.
Karena tanggapanku yang super dingin, Madamme Bianca pun menyipitkan mata. “Bukankah kepuasan klien adalah prioritas perusahaan?”
“Aku tetap tak bisa melakukannya.” Aku menegaskan. Sama sekali aku menjunjung tinggi keperawananku ini. Bejat mana yang mau mencabuliku, tak akan kubiarkan sedikit pun!
Lebih baik aku mati daripada berzina.
Bukannya aku sok suci, tetapi tindak keji itu hanya akan merugikanku.
“Hahaha. Rupanya kau adalah orang yang keras kepala.”
“Aku akan angkat kaki dari tempat ini sekarang, jika kau akan memberikan keleluasaan bagi klien untuk menjamah tubuhku.”
“Hahaha. Sombong sekalii kau, Nona Muda. Kau sudah kuberikan pekerjaan, tetapi kau masih menawar?”
“Kau yang akan kehilangan aset seperti diriku. Muda dan cantik. Aku yakin, kau akan mendapatkan banyak klien.”
Senyuman jahatku terpulas. Aku tak berbohong, kok. Wajahku memang cantik. Luar biasa, bahkan. Dengan kecantikanku, aku bisa menaklukan satu pria hanya dalam waktu sepuluh menit.
Jangan tanya seberapa banyak lelaki di sekolah yang menaksirku.
Madamme Bianca juga menyadari, wajah dan bentuk tubuhku yang proporsional lagi sintal bak gitar spanyol ini menggaet banyak pelanggan. Ia mendengus. “Cih. Baiklah. Aku akan memberikan peraturan khusus untukmu. Sebagai gantinya, kau hanya mendapatkan bayaran 100$ per jam.”
“Itu sudah lebih dari cukup untukku.”
Deal. Perjanjian ini selesai. Aku dan Madamme Bianca bersepakat. Perempuan gendut itu juga mengatakan kalau aku harus merahasiakan perlakukan khusus atas diriku. Karena, tak banyak ‘pria nakal’ yang meminta lebih daripada seharusnya. Mereka yang melanggar kontrak sendiri.
Dan terkhusus untuk diriku, Madamme Bianca akan mewanti-wanti klien dengan alasan aku yang masih belia.
“Kalau begitu, akan kuberikan kau kartu identitas baru nantinya. Semua orang di sini juga demikian. Mereka punya identitas baru.”
Madamme Bianca memberikan kartu nama baru untukku. Queen Aprodithe, mahasiswa Universitas S, jurusan Ilmu Komunikasi, berusia 20 tahun. Yah, profil yang cukup bagus.
Ketika aku selesai membaca kartu namaku, Anna muncul dengan wajah panik. “Ada klien baru yang mendadak datang. Ia akan membayar berapa pun untuk pertemuannya yang urgent ini.”
“Berikan saja Camelia atau Jean. Mereka sangat profesional.” kata Madamme Bianca.
Anna menggelengkan kepalanya. “Sayangnya, semua talent saat ini sedang pergi. Aku sudah membuatkan jadwal untuk mereka semua sejak kemarin.”
Madamme Bianca pun terantuk kepadaku.
Aku meringis. “Jangan bilang kalau ....”
“Tidak ada pilihan lain. Daripada menolak klien?” tanya Madamme Bianca.
Aku membuang napas panjang. Menelan ludahku sendiri. Padahal, aku tak ingin bekerja sekarang. Maksudku, sekarang ini!
Masih ada beberapa hal yang kuurus. Seperti Louise, Manager Toko yang pasti akan gencar mencariku karena aku menghilang di shift malam nanti. Setidaknya aku harus menjelaskan kepadanya.
Akan tetapi ...
“Kau harus berangkat. Sekarang juga.” Madamme Bianca memutuskan. Sebuah hal yang tak bisa diganggu gugat.
Manakala aku bangkit untuk menghadapi klien, Madamme Bianca mengingatkan.
“Ingat, nama barumu adalah ... Queen Aprodithe.”
* * *
Ketika aku keluar dari ruangan Madamme Bianca, Anna memberikan overview terkait dengan klien. Ia bernama Claude Weston. Tak kusangka, dia adalah seorang CEO muda berusia 28 tahun. Ia melanjutkan usaha orang tuanya sebagai desainer pakaian Cladius. Aku bahkan tahu, harga pakaian merk Cladius saja bisa mencapai jutaan dollar. Tak heran, Ia sangat-sangat-sangat kaya. Begitulah kata Anna.
“Kenapa orang se-kaya dia ada di sini? Bukannya orang kaya seperti dia bisa dengan mudah cari pacar?”
“Huh. Justru itu. Banyak orang kaya yang kesusahan cari pacar. Perempuan yang gila harta dan bisa menjilat, atau perempuan yang cinta setengah mati bisa menjadi bumerang bagi mereka.”
“Mereka tak mau ambil pusing. Memilih untuk pergi bersama dengan kita. Tak punya resiko.”
Aku manggut-manggut. Benar juga apa yang dikatakan oleh Anna.
Kami pun masuk ke dalam ruang tamu VVIP. Aku melihat Claude yang sudah bangkit. Kupikir, dia adalah om-om yang berjenggot dan berkumis.
Tetapi, dia malah tampan! Pakaiannya jelas branded produknya sendiri. Ia juga menggunakan jam tangan merk GUCCY yang berjuta-juta. Aku yakin, pakaiannya itu bisa untuk menghidupiku selama satu bulan. Saking mewahnya.
Karena aku bengong, Anna pun melemparkan pandangannya kepadaku. Ia mendelik.
“Ah, perkenalkan namaku Queen Aprodithe. Panggil saja Queen, Tuan.”
Tanpa kuduga, mendadak Claude menggebrak meja. Matanya itu melotot sampai mau lepas dari tempatnya. “Apa-apaan kau!? Kenapa kau membawa bocah sekecil ini?! Dia bahkan hampir seumuran dengan adikku!! Bukannya dikira berpacaran, kami seperti kakak-adik!!!”
Dia menggertak. Marah. Sangat amat menakutkan.
Jantungku bahkan berdebar saking takutnya.
Herannya, Anna tetap tenang. “Memangnya Tuan Claude mau pergi bersamaku atau atasan tempat ini yang berusia empat puluh tahunan?”
“Tetapi, kenapa aku disandingkan dengan anak sekecil dia?! Dia terlihat ringkih! Mana bisa menghadapi orang tuaku!”
“Aku tak bisa pergi dengannya!”
Seketika, tanganku terkepal. Kemarahanku menjelma. Kenapa om-om ini menolakku? Apa maksudnya aku tak bisa menghadapi orang tuanya? Dia meremehkanku?! YANG BENAR SAJA!
Rahangku bergemerutuk. Perasaan takutku melenyap. Hangus entah ke mana. Bergantian dengan amarah yang besar.
“Tuan, aku sudah berusia dua puluh tahun. Wajahku ini memang awet muda! Tetapi, jangan sampai Tuan merendahkanku hanya karena aku masih muda!”
“Oh, kau berani berkata songong padaku?!”
“Memangnya kenapa? Adakah alasan aku untuk tak bicara? Tuan sendiri tadi yang mengatakan, kalau seseorang yang dibutuhkan untuk bertemu orang tua Tuan adalah yang berani?”
“Apakah Tuan memandang nyaliku ini kurang?”
Claude menyeringai. Ia masih tampak meremehkanku. Namun, dia pun berkata. “Baiklah. Aku akan membawamu. Aku lihat sendiri apakah mulut besarmu itu bisa menghadapi orang tuaku.”
Anna mengerjap. Ia menggelengkan kepalanya.
Namun, tekadku sudah membara. Aku ini memang masih terlalu muda. Emosiku masih bergejolak dan tak stabil.
Tetapi, aku ingin membuktikan kepada si Claude sialan ini, kalau aku juga bisa menghadapi orang tuanya. Memangnya segila apa sih orang tua Claude!
“Ayo kita berangkat.”
Claude pun berjalan di depanku dengan langkahnya yang lebar.
* * *
Kami berdua masuk ke dalam mobil. Gila abis. Mobilnya ini sangat amat luar biasa. Desainnya begitu mewah. Kursinya nyaman dan empuk. Sudah pasti, dia ini sangat amat kaya raya!
Sepanjang perjalanan, Claude menjelaskan tugasku. Yah, tugasnya sederhana. Aku hanya perlu bertemu dengan orang tuanya. Membuktikan kalau dia bukanlah bujang lapuk.
“Sialan kedua orang tuaku itu. Dia berpikir aku ini tak laku-laku.”
“Padahal standarmu saja yang terlalu tinggi.” gumamku tanpa sadar. Lelaki semacam Claude yang dingin nan menyebalkan, mana mungkin mau dengan perempuan rendahan.
Kriterianya kujamin sangat tinggi. Cantik dengan kulit putih bersinar, kepribadian mempesona, terlebih dengan kekayaan yang setara.
Laki-laki kan mencari yang sebanding. Sedangkan wanita mencari yang lebih tinggi derajatnya.
“Cih. Kau paham juga, bocah kecil.”
Aku mendengus. Lihat apa kataku?
“Mungkin nanti orang tuamu tak akan suka padaku.”
“Tentu saja. Aku saja kalau tak terpaksa, tak ingin pergi dengan gadis miskin yang udik.”
Ingin sekali rasanya kucekik saja leher Claude. Sudah dibantu, malah tak tahu diri. Jauh-jauh deh lelaki macam dia!
Aku memutuskan untuk menutup mulutku. Tak ada gunanya berbicara dengan patung yang kejam lagi sombong. Lebih baik aku memikirkan strategi macam apa yang akan kuhadapi, tatkala bertemu dengan orang tua Claude.
* * *
BYURRR!!!
Adegan yang semula kukira hanya di televisi belaka pun benar-benar terjadi kepadaku. Aku disiram air! Aku. Disiram. Air!!!
Tuan Erick, Ayah Claude mendadak marah kepadaku manakala aku memperkenalkan diri! Dia menyimpulkan dari penampilanku yang baginya terlihat biasa saja. Dia sudah tahu, kalau pakaianku bukan merk mahal.
“Gadis miskin! Beraninya kau berpacaran dengan Claude!! Aku pikir kalau Claude berpacaran, dia akan memiliki pacar yang sepantaran!”
“Tetapi, apa ini?! Dia bahkan masih mahasiswa!! Kau hanya menghasut Claude, kan?!”
Aku tetap tersenyum pada kondisi tersebut. “Kita tak tahu masa depan seseorang, Tuan Erick.”
PLAK!!
Ia menampar pipiku. Dengan sangat keras. “Jangan berbicara apa pun, perempuan penggoda! Mulutmu itu tak pernah sekolah!!”
Seketika, Tuan Erick pun memanggil petugas. Para petugas berdatangan dengan cepat. “BAWA PERGI GADIS JALANG TAK TAHU DIRI INI!!”
Kuberikan seringai terburukku. “Aku tak akan pernah melepaskan Claude. Sedikit pun.”
Erick berubah kalap. Ia menjambak rambutku. “Apa kau bilang?!!!”
Situasi di sini berubah sangat runyam. Aku tetap diam saja. Sedangkan Odeth, Ibu Claude dan anaknya itu bersikeras melerai kami.
Tetapi, tarikan rambut dari Tuan Erick sangat kencang. Kepalaku terasa pedas. Kulit kepalaku tertarik. Aku menahan diri untuk tak menangis.
Tuhan, kenapa pekerjaanku juga semenyedihkan ini? Aku harus direndahkan dan terluka.
Sungguh, ini adalah sebuah pertemuan yang gagal. Gagal total.
* * *
“Sudah kuduga Ayahku akan begitu.” kata Claude manakala kami berdua bisa terbebas dari Tuan Erick. Para petugas menenangkan Tuan Erick, sementrara Claude membawaku pergi secepat mungkin.
Beberapa karyawan mencuri-curi pandang ke arahku. Apalagi kalau bukan tampilanku yang acak-acakan. Rambutku yang basah menjuntai ke sana kemari. Dan lagi, pakaianku juga ikut basah.
Claude melirik ke arah tubuhku. Ah, sudah pasti bajuku menerawang. Mau bagaimana lagi. Toh nanti juga aku tinggal naik taksi untuk pulang.
PLUK.
Mendadak sebuah jas pun jatuh ke tubuhku. “A-apa ini?”
“Di sini kau masih pacarku.”
Dia pasti merasa bersalah. Apalagi aku sudah ditampar, dijambak, disiram air lagi. Triple combo.
Manakala aku hendak memberhentikan taksi, ia mencegatku. “Aku antarkan saja. Masa iya aku membiarkanmu berkeliaran dengan rambut dan baju yang basah.”
Dia ingin membalas keburukan orang tuanya rupanya. Tetapi, aku menolaknya dengan halus. Bahaya jika Claude tahu rumahku.
Identitas Queen Aprodithe harus dirahasiakan. “Terima kasih, tetapi lain kali saja.”
Kutolak halus permintaan darinya. Lantas aku pun pergi dengan taksi yang muncul di depanku.
Ah, sial ...
Saat aku menyalahkan nasib di dalam taksi, sebuah pesan pun masuk. Kubuka ponselku sendiri. Pesan dari Anna.
[Tuan Claude sudah membayarkan kepada kami. Besok kau datang ke kantor untuk mengisi data rekening dan juga mengurus hal lainnya.
NB. Dia juga memberikan tip cukup banyak untukmu. Kerja bagus, Queen.]
Aku menghela napas. Semuanya memang bisa dibayarkan dengan uang ya... Bahkan termasuk harga diriku.
Ingatan mengerikan tadi memasuki otakku. “Semoga aku tak perlu bertemu dengan Tuan Erick lagi.”
Bisa gila aku kalau bertemu dengan Tuan Erick ataupun kasus yang hampir sama dengan Claude.
* * *
Ketika pulang ke indekos, aku menyalakan ponselku. Kulihat ponselku dengan banyak sekali panggilan tak terjawab. Tentu saja ini berasal dari Louise.
Manager toko toserba tempatku bekerja dulu sangat mengkhawatirkan diriku. Ia mengirimiku pesan berkali-kali. Juga mengatakan kalau Ayahku berada di sana.
“Ah ... Kenapa masalah selalu datang kepadaku tanpa aku meminta?”
“Apakah tak bisa aku bernapas sejenak?”
Sebuah telepon pun masuk. Sepertinya Louise sudah tahu kalau ponselku telah aktif. Aku menyeringai, “Halo, Louise.”
“Kau tak mau datang ke sini?” suaranya berbisik-bisik.
“Ah, soal itu ... Aku minta maaf, Louise. Aku berniat untuk mengundurkan diri dari toko. Tapi, aku belum sempat memberikan surat pengundurkan diri.”
“Kau akan keluar?! Hei, jangan bercanda!!” Nadanya yang berbisik itu berubah panik.
Mendadak, suara lain terdengar tumpang tindih. Berikutnya, aku mendengar suara dari orang yang paling kubenci. Tak lain dan tak bukan adalah ayahku yang keparat itu!!
“Wah-wah ... Kau pikir aku tak mendengarnya?! Kau mau keluar, hah?! Pulanglah, keparat!”
“Ayah!”
“Anak setan! Aku selama ini sudah menyekolahkanmu dan mengeluarkan –“
BIP!! Sengaja aku matikan ponselku. Aku masih tak mau mendengar ocehan buruk Ayahku lagi.
Aku tahu ini adalah tindakan durhaka dan paling jahat.
Namun, apa yang bisa aku lakukan jika aku mendengarkannya? Dan dia akan memarahiku lagi?
Aku tak bisa.
Sudah cukup berat dengan pekerjaanku dan masalah keuanganku sendiri. Tak perlu direpotkan lagi dengan sosok Ayah yang seperti benalu.
Ayahku masih sehat bugar, semestinya dia berpikir untuk menghidupi dirinya sendiri. Seharusnya.
* * *
Seusai pulang sekolah, aku segera datang ke Cupid Company. Aku mengurus data administrasi yang kemarin belum tuntas kuselesaikan. Dan juga mendapatkan jadwal lain pada hari ini.
Kulihat biodatanya. Namanya adalah Edwin Petterson. Tujuannya hanya ingin berjalan-jalan berdua di akuarium saja.
“Hanya ini?” tanyaku tak percaya.
“Ya. Ada banyak kok laki-laki yang ingin berjalan-jalan dengan perempuan. Salah satunya Edwin ini.”
Aku manggut-manggut. Menuju ke ruang lain untuk mengganti pakaian.
Sungguh rasanya aku bersyukur. Tak lagi bertemu dengan klien menyebalkan sebagaimana Claude kemarin. Aku bisa menikmati akuarium dengan lega nanti.
Sengaja menggunakan gaun berwarna putih dengan rok pendek di atas lutut. Memperlihatkan kakiku yang jenjang dan juga tubuhku yang indah.
Aku meringis, memberikan pulasan terakhir di bibirku supaya merona indah.
Kulangkahkan kaki dengan penuh percaya diri. Tiba di ruang tamu, aku membeliak kaget...
Ternyata ... Dia adalah Edwin. Salah satu teman satu kelas tatkala kelas X.
“Serenna?” Ia bertanya.
Aku mengerjap.
* * *