Meisya sedang membutuhkan uang untuk biaya operasi ayahnya yang mengidap penyakit kanker. Meisya bingung harus meminta tolong kepada siapa. Dia tidak mau minta tolong kepada Pelangi lagi, karena perempuan itu sudah banyak membantunya. Meisya malu pada Pelangi. Sahabatnya itu sudah sering memberi bantuan berupa materi padanya, dan Meisya bahkan belum bisa menggantinya. Padahal mereka baru bersahabat kurang dari waktu 1 tahun, tapi Pelangi sudah melakukan banyak hal untuknya. Sedangkan Meisya, dia hanya bisa membantu Pelangi di saat sahabatnya itu kesulitan di salah satu mata kuliah. Tentu saja itu tidak sebanding dengan apa yang Pelangi lakukan untuknya.
Meisya sudah berusaha untuk mencari kerja paruh waktu, namun dia belum mendapatkannya. Mencari pekerjaan part time tidak semudah yang diceritakan di kebanyakan novel. Waktu itu ada teman SMA yang menawarinya, tapi kerjaannya bentrok dengan jadwal kuliah Meisya. Dia masih semester dua, jadwal kuliahnya masih padat. Meisya juga mendapat info lowongan kerja sebagai pelayan di sebuah club and bar yang jam pulang kerjanya kadang hampir dini hari. Itu lebih tidak mungkin lagi. Meisya tidak ingin kuliahnya jadi terganggu, dan pastinya sang ibu tidak akan mengizinkannya kerja di tempat seperti itu.
Saat ini, Meisya, Pelangi dan Mario, kekasihnya Pelangi tengah makan bersama di kantin kampus. Kampus mereka berada di daerah Kota Kembang, Bandung. Meisya sebenarnya merasa tidak enak dengan Pelangi, takut mengganggu sahabatnya itu yang sedang bersama kekasihnya. Dia kadang sungkan untuk makan bertiga dengan mereka, tapi Pelangi sering memaksa untuk ikut makan bersama. Dan Mario, kekasih dari Pelangi itu tampaknya juga tidak keberatan dengan kehadiran Meisya di antara mereka.
Pelangi—sahabatnya, adalah sosok yang baik, cantik, cukup pintar, anak orang berada dan mempunyai kekasih sempurna seperti Mario. Sedangkan Meisya? Dia hanya terlahir dari keluarga sederhana yang bisa kuliah berkat bantuan beasiswa.
Kekasih Pelangi yang bernama Mario itu, cukup terkenal di kampus. Mario adalah kakak tingkat Meisya di kampus, Fakultas Teknik seperti Meisya dan Pelangi juga. Mario mempunyai otak yang cerdas, tajir dan tampan pastinya. Mario dan Pelangi sering dijuluki dengan couple goals sejak satu kampus tahu bahwa mereka berpacaran sejak putih abu-abu.
Awalnya Meisya tidak menyangka bahwa ketua panitia ospek tampan yang sempat dikaguminya itu adalah kekasih dari Pelangi. Dia baru tahu mereka berpacaran, setelah masa ospek. Pelangi mengenalkan Mario kepadanya. Tidak, Meisya tidak patah hati mengetahui itu. Karena dia hanya sekedar mengagumi Mario. Sekarang, sejak awal semester dua kemarin, ada seorang kakak tingkat yang diam-diam disukainya. Seorang mahasiswa program pasca sarjana yang juga merangkap sebagai asisten dosen, Jerry namanya.
Bakso yang di depannya tidak habis oleh Meisya. Dia tidak begitu nafsu makan sejak ayahnya dirawat. Dia bingung harus bagaimana mencari solusi atas perkataan dokter kemarin yang mengharuskan ayahnya untuk segera dioperasi.
Padangan Meisya beralih pada dua sejoli yang berada di depannya. Meisya memperhatikan gerak-gerik Mario yang sedang menyuapi Pelangi makan. Sudah hampir satu tahun dia mengenal lelaki itu. Menurutnya, Mario adalah sosok lelaki yang baik, memang cocok dengan Pelangi. Tiba-tiba Meisya jadi terpikir sesuatu untuk masalah yang sedang dialaminya. Mudah-mudahan rencananya yang sedang ada di kepanya saat ini, bisa berjalan mulus.
"Baksonya kenapa nggak dihabisin, Sya?" tanya Pelangi.
"Gue udah kenyang, Ngi. Tadi di rumah gue sarapannya banyak," ujar Meisya berbohong. Dia tidak ingin Pelangi mengkhawatirkannya.
"Oh, ya udah. Mau balik ke kelas sekarang?"
"Boleh deh!"
"Aku balik ke kelas dulu, Babe! Kamu masih mau di sini?" tanya Pelangi pada Mario.
"Iya, Honey! Aku mau di sini dulu sebentar."
Sebelum tiba di kelas, Meisya berkata pada Pelangi jika ingin ke toilet. Padahal Meisya ingin menghampiri Mario. Perihal masalahnya, Meisya akan meminta bantuan kepada Mario. Semoga saja lelaki itu bisa membantunya. Tidak ada salahnya jika mencoba, bukan?
Meisya kembali lagi ke kantin, namun Mario sudah tidak ada di sana. Meisya celingukan mencari, ternyata lelaki itu sedang duduk di bawah pohon dekat lapangan basket. Dengan ragu, Meisya melangkah ke arahnya.
"Kak Mario," panggil Meisya pelan.
Mario yang sedang memainkan ponsel, mengalihkan pandangannya pada Meisya. "Iya, Sya. Ada apa?" tanyanya dengan kening berkerut melihat Meisya yang tampak gelisah.
Meisya tampak gugup. Dia meremas rok yang dikenakannya.
"Ada apa, Sya?" ulang Mario. "Sini duduk dulu." Dia menepuk tempat kosong di sebelahnya. Setelah Meisya duduk, Mario memberikan sebotol minuman yang tengah dipegangnya pada Meisya.
"Minum dulu."
Meisya menerimanya, membuka tutup botol, lalu meneguknya perlahan.
Tuh kan, Kak Mario itu baik. Semoga aja dia adalah orang yang memang ditakdirkan untuk membantu gue. Diam-diam, sudut bibir Meisya sedikit terangkat.
"Gue mau bicara sesuatu sama Kak Mario," ujar Meisya dengan kepala menunduk. Katakanlah bahwa dia tidak tahu malu, berani-berani ingin meminjam uang pada pacar sahabatnya. Mau bagaimana lagi, Meisya sangat membutuhkannya.
"Penting?"
"Penting banget, Kak!"
Mario manggut-manggut dan mempersilahkan Meisya untuk berbicara. Meisya mulai menjelaskan semuanya, mengenai ayahnya yang harus melakukan operasi, namun terhalang biaya. Dia butuh pinjaman uang.
"Tolong gue, Kak! Gue sangat membutuhkannya," ujar Meisya yang sudah berderai air mata.
"Berapa yang lo butuh?"
Meisya senang Mario sepertinya bisa membantu. "30 juta, Kak."
"Hmmm... banyak juga." Mario menatap Meisya dalam, "Gue bisa bantu lo, tapi... kapan lo bisa ganti uangnya?"
Meisya terdiam. Dia sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan, dari mana dia mendapatkan uang untuk menggantinya? Ibunya hanya seorang penjahit, penghasilannya tidak seberapa. Buat kuliah saja, Meisya bersyukur karena dia bisa mendapatkan beasiswa karena otaknya yang cerdas dari kecil.
"Kalau gue bayarnya nyicil, boleh nggak? Gue nyari kerjaan dulu. Mudah-mudahan sebentar lagi dapet."
"Lama!" decak Mario. "Maaf gue nggak bisa bantu!"
"Kak, gue mohon... "
"Lo nggak sanggup bayar, gue nggak bisa pinjemin."
"Apa gue bisa bayar dengan hal lain?" tanya Meisya dengan menggigit bibir bawahnya.
Mario tertawa. "Lo mau bayar pake apa? Motor yang biasa lo pake aja, harganya nggak ada seperempat dari uang yang mau lo pinjem.”
Meisya tersinggung, tapi memang begitu lah kenyataannya. Memang berapa harga mootor bututnya jika laku dijual? Tidak terhitung kali motornya itu mogok di jalan.
"Gue akan bayar dengan tubuh gue. Gue masih perawan, lo mau dibayar dengan keperawanan gue?" Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Meisya. Dia sendiri juga tidak percaya, bisa-bisanya dia menawarkan hal itu.
Mario cukup terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut Meisya. Seorang sahabat yang selalu Pelangi banggakan, menawarkan sesuatu yang berharga baginya.
"Lo yakin?" tanya Mario dengan mata menyipit. Dia memperhatikan ekspresi Meisya yang tampak tidak yakin dengan apa yang perempuan itu ucapkan baru saja. “Coba lo pikir-pikir lagi, Sya. Lo sadar dengan apa yang lo ucapin barusan?”
Meisya mengangguk.
“Gue yakin!”
Mario berpikir sejenak sambil meneliti Meisya dari kepala sampai ke ujung kaki. Not too bad, batinnya.
"Oke. Ikut gue sekarang!"
"Ke mana?"
"Hotel," jawab Mario santai. "Gue mau lo sekarang dan setelah itu, gue akan langsung transfer uangnya. Dan nggak perlu lo ganti. Anggap aja sebagai bayaran buat lo."
“Hah?!”
Meisya mendadak gelisah. Dia meremas jemarinya gugup. Kenapa begini jadinya? Di satu sisi, dia sangat membutuhkan uangnya. Bagaimana bisa dia mendapatkan uang dalam waktu sekejap? Melacur di club pun, belum tentu bisa mendapatkan sebanyak itu. Lalu, bagaimana jika bertemu dengan pelanggan yang kasar atau menipunya?
Hati Meisya meragu, namun dia tidak punya pilihan lain. Dia sadar, kalau keputusan yang diambilnya ini adalah salah. Demi sang ayah yang sedang kritis, Meisya bisa apa lagi? Saudara dia pun hidup serba pas-pasan semua.
Meisya juga heran dengan Mario. Apa dia tidak memikirkan perasaan Pelangi dengan menerima tawarannya? Yang artinya akan mengkhianati kekasihnya itu. Meisya bukannya tidak memikirkan perasaan Pelangi, namun apa dia ada pilihan lain saat ini?
Mario bangkit dari duduknya, beda dengan Meisya yang masih terdiam.
"Ayo! Kenapa masih diem aja di situ?" tanya Mario yang sudah melangkah lebih dulu, dan berbalik ketika merasa Meisya tidak mengikutinya.
"Se-sekarang, Kak?"
"Iya. Kebetulan gue lagi nggak ada dosen setelah ini."
"Tapi gue masih ada satu mata kuliah lagi."
"Nggak usah masuk, sekali-sekali doang," balas Mario enteng. "Buruan ambil tas lo dulu sana! Gue tunggu di mobil, seberang jalan depan gerbang."
Meisya menghembuskan napas berat. Dia berjalan gontai menuju kelas.
"Ke toilet kok lama banget. Untung aja dosennya belum masuk," ujar Pelangi ketika Meisya baru tiba di kelas.
Meisya menatap sahabatnya itu nanar. Timbul perasaan bersalah dalam dirinya. Dia akan berhubungan badan dengan pacar dari sahabatnya sendiri.
"Ngi, maaf ya, kalau gue ada salah." Meisya memeluk Pelangi erat.
"Kenapa lo tiba-tiba ngomong begini?" Pelangi mengurai pelukannya dan menatap Meisya dengan raut wajah khawatir.
"Are you okay, Sya?"
"Gue nggak apa-apa, Ngi. Cuma sedikit nggak enak badan. Tapi, sekarang kayaknya gue nggak bisa ikut mata kuliah Pak Sobri."
"Gue anterin pulang kalau gitu. Gue mau bolos juga."
"Enggak usah. Gue bisa kok, pulang sendiri. Gue balik dulu." Meisya buru-buru berjalan meninggalkan kelas.
Meisya menatap nanar sprei putih hotel yang terdapat bercak merah. Terlihat bekas darahnya yang sudah mengering. Tidak ada yang perlu disesali, menangis pun tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi. Sesuatu yang telah hilang padanya tidak akan kembali lagi walau dia menangis.
Pandangan Meisya beralih pada seseorang yang dari tadi hingga beberapa saat yang lalu, bergumul dengannya di atas kasur yang sedang ditempatinya saat ini. Wajah Meisya memanas—mengingat Mario yang memperlakukannya dengan lembut hingga mereka berdua menyatu. Untuk pertama kalinya Meisya melihat seorang lelaki dewasa dengan tubuh polos, dan itu adalah pacar dari sahabatnya sendiri. Badan Mario itu bagus, kotak-kotak—seperti aktor luar negri yang Meisya tonton ketika bersama Pelangi di laptop. Meisya menggelengkan kepala, kenapa dia jadi terbayang bentuk tubuh lelaki yang sudah mengambil keperawanannya?
Mario sedang berada di teras kamar menghisap sebatang rokok dengan ponsel yang menempel di telinganya. Tentu saja dia sedang menelepon pacarnya, yang tak lain adalah sahabat dari Meisya sendiri. Dari jauh, Meisya bisa melihat raut wajah senang pada lelaki itu. Seperti tidak ada beban sama sekali, berbeda dengan Meisya yang merasa bersalah karena bermain dengan kekasih dari sahabatnya itu. Dan juga, rasa kehilangan hal berharga dalam hidupnya.
Tak lama, lelaki itu masuk kembali ke dalam kamar dan duduk di pinggir ranjang dekat Meisya tidur.
"Masih sakit?" tanyanya khawatir. Dia paham betul jika perempuan akan merasa kesakitan ketika pertama kali melepas keperawanan. Tadi, dia melakukannya selembut mungkin, tapi tetap saja perempuan yang dimasukinya meringis seperti menahan tangis ketika dia berhasil menerobos selaput darah perempuan itu.
"Iya, tapi nggak apa-apa. Entar juga hilang sendiri sakitnya." Meisya memaksakan senyumnya. "Barusan habis telponan sama Pelangi?"
"Iya."
Meisya manggut-manggut.
"Gue ngerasa bersalah banget sama Pelangi, Kak." Meisya menundukkan kepalanya.
"Nggak usah ngerasa bersalah gitu." Mario meraih tangan Meisya dan menatap perempuan itu penuh arti. "Gue enggak pernah dapet kepuasan dari dia. Jadi wajar kalau gue nyari yang lain."
Meisya mendongak mendengar ucapan Mario.
Mario melanjutkan kembali ucapannya. "Ciuman bibir aja gue nggak pernah sama dia. Padahal gue pengen banget, Sya! Jujur aja, bisa dibilang hasrat seksual gue tinggi. Tapi, gue selama ini bisa nahan ketika bersama Pelangi."
Mario menyentuh bahu Meisya pelan. "Maaf untuk yang baru aja gue lakuin. Dan terima kasih udah jadiin gue yang pertama buat lo." Tapi, lo bukan yang pertama buat gue. Ini adalah pertama kalinya Mario bercinta dengan seorang perawan.
Sejak tingkat 2 di SMA, Mario sudah mengenal yang namanya seks. Dia pertama kali melepas keperjakaannya ketika masih berumur 17 tahun, sebelum mengenal Pelangi. Dia baru berpacaran dengan Pelangi, ketika kelas 3. Namun, dia tidak pernah melampiaskan hasratnya pada perempuan itu. Dia punya perempuan lain, yaitu perempuan yang bisa dia tiduri kapan pun dia mau.
***
Mario mengantarkan Meisya ke rumah sakit setelah dari hotel. Meisya ingin langsung membayar administrasi agar ayahnya bisa langsung dioperasi.
"Terima kasih buat hari ini, Kak. Do'ain semoga ayah gue cepet sembuh," tutur Meisya sebelum turun dari mobil Mario di lobi rumah sakit.
Mario berdehem. Seharusnya dia juga berterima kasih pada Meisya karena perempuan itu sudah memberikan kepuasan padanya. Dia sengaja memberikam transferan uang lebih pada Meisya. Itu terbilang cukup sedikit untuk ukuran membayar perempuan yang masih perawan.
Mario mendesah. Dilihatnya langkah Meisya yang perlahan menghilang masuk ke dalam rumah sakit. Apa dia terlalu kejam pada perempuan miskin yang merupakan sahabat Pelangi itu? Dia telah mengambil sesuatu yang berharga bagi perempuan itu, tanpa berpikir panjang.
Ngapain juga gue pikirin? Toh dia belum tentu bisa mendapatkan uang segitu dalam waktu dekat, walau dia masih virgin.
Sebenarnya nominal uang segitu tidak masalah bagi Mario. Namun, dia juga heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dia sama sekali tidak memiliki hati nurani hari ini? Hanya karena selama 2 bulan ini hasratnya tak tersalurkan, dia menerima penawaran Meisya—padahal dia tahu perempuan itu tampak ragu awalnya. Perempuan yang biasa ditiduri Mario berada di Jakarta, bukan di Bandung. Di Kota Kembang tempat dia mengenyam kuliah ini, namanya bersih. Dia tidak ingin orang-orang mengetahui aslinya dia seperti apa. Dan sekarang, yang telah dilakukannya dengan Meisya, pasti akan ditutupnya rapat-rapat. Makanya, dia hari ini sampai check in di sebuah hotel yang cukup jauh dari keramaian, namun bukan hotel yang murah.
Setelah hari ini, Mario malah kepikiran untuk menjadikan Meisya tempat penyaluran hasrat seksualnya. Meisya berbeda dari Sonya—perempuan yang pernah Mario sentuh. Entah kenapa, Mario ingin merasakan perempuan itu lagi dan lagi. Dia akan mencari cara agar keinginannya bisa terwujud. Mario memang senang bermain perempuan, namun yang berhubungan intim dengannya hanya Sonya seorang. Mario juga selalu memakai pengaman ketika bermain dengan perempuan itu. Dia tidak mau sampai terkena penyakit kelamin. Walau dia tahu, Sonya tidak perawan lagi ketika pertama kali memasukinya. Perempuan itu sudah berjanji hanya akan tidur dengannya saja. Dengan Meisya tadi, dia sama sekali tidak ingin kepikiran untuk memakai pengaman, malah dia juga mengeluarkan di dalam. Makanya, sebelum mengantarkan Meisya ke rumah sakit, dia membeli pil kontrasepsi di sebuah apotik agar Meisya langsung meminumnya. Mario tidak mau mengambil resiko.
Tiba-tiba, Mario jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Meisya. Perempuan lugu yang mengingatkannya dengan seseorang yang disukainya pada masa lalu. Seseorang yang pergi meninggalkannya dan tidak akan pernah kembali lagi. Perempuan yang dicintainya, sebelum kenal dengan Pelangi. Mario pernah mencintai seseorang begitu dalam dan berakhir terpuruk ketika perempuan yang dicintainya pergi meninggalkannya begitu saja. Tak lama, dia mendengar kabar jika perempuan itu meninggal dalam kecelakaan pesawat.
Mario baru bisa bangkit dari keterpurukannya sejak kehadiran Pelangi di sekolahnya. Pelangi yang notabene-nya sebagai adik kelas—mampu membuat hari-hari Mario yang suram, kembali berwarna. Sayangnya, Mario memang melupakan segala kesedihannya. Namun, tidak dengan seks yang telah dikenalnya dari Sonya.
“Lo telat? Ya udah buruan gabung ke barisan di sana, sebelum panitia yang lain ngeliat lo. Bisa kena hukum nanti.”
“Terima kasih, Kak.”
Mario berdehem. Dia menatap punggung perempuan yang sudah mulai menjauh itu. Sejak kemarin, perhatiannya teralih kepada perempuan itu. Menurut pengamatannya, perempuan itu selalu sendiri. Ketika Mario ingin menghampiri kemarin, Pelangi lebih dulu duduk di sebelah perempuan itu. Mario ingat, dia punya kekasih. Mungkin, dia hanya penasaran dengan perempuan itu, tidak ada maksud untuk mendekati atau mengenalnya lebih dekat.
Usai ospek, ketika sudah memasuki perkuliahan, Pelangi mengenalkannya kepada perempuan yang dibantunya ketika hari kedua ospek. Bukan tanpa sebab Mario membantunya waktu itu. Dia teringat seseorang di masa lalunya. Wajah polosnya dan juga sikapnya yang cenderung pendiam.
“Meisya bukan dia,” gumam Mario.
Mario masih tidak menyangka bahwa dia akhirnya meniduri perempuan lugu yang selama ini hanya dia amati dalam diam. Mario sadar jika Meisya hanya sekedar mirip sifatnya dengan seseorang di masa lalunya. Mario hanya menyukai sifatnya saja, tidak lebih. Mereka selama ini sering makan bersama, tentunya dengan Pelangi yang mengajak perempuan itu. Namun, perempuan itu lebih banyak diam. Tidak ceria seperti Pelangi.
Mario tersenyum miring. Perempuan bernama Meisya itu akan dibuatnya agar terus berada di sisinya.
***
Meisya menemui ibunya yang sedang duduk di depan pintu ruang rawat ayahnya.
"Bu," panggil Meisya menyentuh bahu ibunya yang tampak melamun. Tidak menyadari kehadiran Meisya di dekatnya.
Deborah—nama ibunya Meisya, sontak menoleh.
"Kamu kok, ke sini? Ibu udah bilang nggak usah. Biar Ibu aja yang jagain Ayah. Kamu di rumah aja, belajar yang rajin."
Meisya tersenyum. Ibunya memang ingin Meisya kuliah yang rajin dan berharap anaknya itu bisa sukses suatu saat nanti. Tidak sepertinya yang hidup susah. Sekolah hanya sampai kelas 2 SMP saja. Pekerjaan yang bisa dilakukannya saat ini hanya menjahit. Dan pesanannya tidak banyak juga, hanya sedikit yang mau mempercayakan jahitan mereka pada Ibu Meisya. Karena ada banyak bertebaran penjahit yang lebih bagus jahitannya dan juga mengerti banyak tentang model pakaian.
"Aku ke sini bawa kabar gembira untuk Ayah, Bu," ujar Meisya antusias.
Deborah menunggu kelanjutan kalimat Meisya. Penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh anaknya itu.
"Ayah udah bisa dioperasi, Bu! Aku udah mendapatkan uangnya."
"Dari mana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Sya?" tanya Deborah heran. Dia menatap Meisya penuh selidik. Bagaimana tidak, uang sebesar 30 juta bukan lah nominal yang sedikit.
"Ada orang baik yang mau bantu aku, Bu. Nanti kapan-kapan aku kenalin sama orangnya." Meisya sendiri tidak yakin sebenarnya kalau Mario adalah orang yang baik. Kalau Mario orang baik, seharusnya dia mau membantu Meisya dengan ikhlas.
***
"Lo dari mana, Sya?"
Meisya terkejut mendapati Pelangi yang duduk di teras rumahnya dengan pencahayaan yang minim. Beberapa hari di rumah sakit, cuma lampu teras saja yang dinyalakan jika dia pulang malam usai dari rumah sakit. Sedangkan ibunya, bermalam menjaga ayahnya di sana.
"Emm, lo ngapain malam-malam ke sini, Ngi?" tanya Meisya mengalihkan, tanpa menjawab pertanyaan Pelangi. Dia tidak ingin Pelangi tahu jika ayahnya tengah dirawat.
"Gue khawatir sama lo. Dari tadi gue hubungi nggak bisa-bisa. Mana motor lo ditinggal di kampus juga."
"Eh, iya, tadi gue naik ojek online," jawab Meisya yang tentu saja berbohong. Karena tadi dia pergi bersama Mario dari kampus menggunakan mobil lelaki itu.
Pelangi manggut-manggut.
"Terus barusan dari mana?"
"Gu-gue habis cari makan."
"Oh. Ibu dan ayah lo ke mana emang? Udah setengah jam gue di sini, kayaknya nggak ada siapa-siapa di dalam."
"Ibu sama ayah lagi ke rumah saudara gue di Lembang. Maaf, ya, udah bikin lo khawatir. Ponsel gue lagi eror dari tadi siang. Jadi gue matiin aja."
"Lo mau masuk dulu?"
"Boleh deh! Ini gue udah beli sate ayam buat makan malam bareng sama lo. Eh, tahunya lo udah makan di luar."
Meisya mengambil plastik yang berada di tangan Pelangi. "Ayo makan lagi. Gue barusan cuma makan sedikit." Padahal Meisya belum makan sama sekali dari rumah sakit, niatnya tadi ingin membuat nasi goreng saja di rumah. Namun, Pelangi malah membawakan makanan untuknya.
Pelangi begitu baik pada Meisya. Sedangkan Meisya? Dia malah tega berhubungan dengan kekasih sahabatnya itu. Meisya jadi merasa tidak pantas menjadi sahabat Pelangi.