Bab 1

Duarrr ….

Duarrr …..

Gemuruh langit bersahutan menyambarkan kilatan. Suara mirip ledakan yang bertubi-tubi datang membuat malam dingin itu terasa kian mencekam. Di balik suasana yang kian menyeramkan ini, di waktu tengah malam, seorang ibu yang tengah mengandung akan mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan seorang bayi ke dunia. Bayi mungil yang akan jadi malaikat kecil nan menggemaskan.

Wanita yang menggunakan pakaian pasien dan kain jarik yang melilit di pinggangnya telah bermandikan peluh sekujur tubuh. Rasa yang ia alami saat ini benar-benar luar biasa. Untuk kedua kalinya, ia diberikan kesempatan sebuah titipan dari Tuhan lagi. Ini sungguh kesempatan yang luar biasa, diluar sana banyak yang kesulitan untuk memiliki anak,sedangkan dia, Tuhan begitu mudah memberikannya lagi kepercayaan.

Sembilan bulan sudah dia mengandung, selama sembilan bulan pula dia merasakan bagaimana nikmatnya segala keluhan yang dialami ibu hamil lain. Mulai dari mual muntah, susah tidur, sering kencing, mudah lapar, tidak enak berbaring dengan posisi apapun dan lain-lain.

Jika kebanyakan ibu hamil bahagia ditemani dan disayang oleh suami, tidak dengan ibu hamil yang satu ini. Dia sudah menyandang status single karena sudah bercerai, bahkan keterangan kehamilannya juga dipalsukan karena proses perceraian tidak bisa dilakukan saat pihak istri tersebut mengandung. Jalan satu-satunya saat ingin berpisah adalah dengan berkata bahwa saat ini dia tidak tengah hamil, alasan perceraian pun dibuat simple agar tak memakan waktu lama, Jika banyak laporan yang diajukan, otomatis proses perceraian yang biasanya memakan waktu tiga sampai empat bulan menjadi lebih lama.

Dalam keadaan proses melahirkan seperti ini dan juga bertaruh nyawa, dia dalam kesendirian tak ditemani siapa-siapa. Iub dan anak pertamanya menunggu di rumah. Saat ini juga hujan badai, jadi lebih baik keluarganya di rumah saja. Dia datang ke tempat praktek bidan ini tadi saat rasa mulas baru ia rasakan, hanya membawa dua tas yang satu isinya perlengkapan bayi yang satunya lagi perlengkapan miliknya..

“Aduhh …. Mules, Bu,” rintihnya sambil memeluk bola besar yang biasanya digunakan untuk senam hamil. Dari tadi sia berruku agar rasa sakitnya tertahankan. Namanya mau melahirkan, pasti ada rasa mulas yang menjalar dari depan perut hingga bagian pinggang, bedanya mulas ini lebih kuat dari mulas dismenore alias mulas di hari pertama menstruasi.

“Sabar, Bu … Sabar. Ya gini namanya lahiran. Semua sama, kan!” ujar seorang bidan yang mengusap pinggang ibu yang baru mengalami pembukaan dua ini.

Perjalanan masih panjang. Ibu hamil yang sedang dalam proses persalinan harus menunggu dulu hingga pembukaan kesepuluh, Barulah setelah mulut rahim terbuka sepuluh senti, proses persalinan pun dilakukan. Umumnya pada persalinan pertama lebih dari sepuluh jam dan persalinan kedua kurang dari sepuluh jam, anak ketiga dan keempat lebih cepat prosesnya karena sudah terbiasa.

Meski sudah pengalaman dua kali, rasanya masih sama. Sakitnya membuat ingin membanting barang dan menjambak orang. Kaki dan tangannya sampai dingin, wajahnya memerah dan penuh dengan keringat.

Duuarrr …. Suara petir kembali terdengar.

“Benar tidak ada riwayat penyakit berat dan persalinan yang lalu lancar kan, Bu?” tanya bidan itu lagi. Sang bidan khawatir jika terjadi komplikasi pada saat persalinan. Jika dalam keadaan hujan seperti ini ada kegawatdaruratan, otomatis proses merujuknya akan sulit. Perlu ke rumah bapak RT dulu untuk meminjam mobil darurat dan menempuh perjalanan setidaknya dua jam untuk sampai di rumah sakit besar.

Tak semua bidan dan pasien yang memiliki kendaraan sendiri untuk pergi ke rumah sakit saat keadaan gawat darurat. Di kampung ini, hanya mobil pak RT saja yang biasa digunakan untuk antar jemput pasien yang harus dirujuk.

“Benar, Bu. Tidak ada!” Dia menggelengkan kepalanya pelan.

Perjuangan melelahkan ini berlanjut hingga empat jam. Ibu hamil yang tak ditemani oleh keluarganya ini pun mengalami kejadian pecah ketuban. Waktu sekarang sudah dini hari dan hujan pun masih tak mau untuk berhenti. Hujan ini seakan menjadi pengiring proses kelahiran ini.

“Saya periksa dalam lagi, ya, Bu.” Bidan ini menuntun pasiennya agar kembali berbaring di bed dan dia segera mengambil sarung tangan medis. Keterampilan indra perasa pada tangan yang menentukan apakah jumlah pembukaannya benar atau tidak.

“Silahkan!” Wanita ini hanya bisa pasrah dan menyerahkan keselamatannya pada bidan yang ada di hadapannya ini. Mau bagaimanapun, dengan cara apapun, yang penting bayi lahir sehat dan selamat.

Saat rasa mulas kembali melanda, dua jari tangan bidan bersiap untuk masuk lewat celah sempit hangat penuh lendir. Bergerak memutar dan meraba bagian gerbang yang biasanya semakin tipis dan membuka.

“Tarik napasnya!” Dia memberikan aba-aba.

“Satu, dua, tiga.” Dia meraba dengan kedua tangan untuk menghitung seberapa lebar pembukaan saat ini dan ketebalan gerbangnya.

Saat dirasa benar, dia pun memberitahukannya pada pasien. “Pembukaannya sudah lengkap. Kita mulai proses persalinannya, ya!” Bidan ini segera mendekatkan alat-alatnya. Kini di sebelah kanannya sudah tersedia bak instrumen isi gunting, tali untuk mengikat tali pusat, jarum jahit, benang jahit, alat suntik dan alat klem. Di sebelah kirinya sudah ada asisten yang akan membantu karena penolong proses persalinan diharuskan dua bidan.

“Masih ingat caranya?” tanyanya karena harus mengajari lagi pasien caranya mengejan yang baik saat persalinan. Wanita yang terbaring lemas hanya menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala.

“Tarik napas dari hidung, kumpulkan energi semuanya di perut, dorong perlahan dengan energi perut setelah capek mendorong ibu keluarkan napasnya perlahan dari mulut.” Bidannya sampai mencontohkan, tak hanya dengan ucapan saja. Mereka berdua akan sama-sama mengejan.

“Yuk bisa, yuk!” ajaknya agar sang pasien melakukannya dengan baik dan benar.

“Eeeeee ….” Satu kali percobaan telah dilakukan, tapi ini energinya kurang baik, masih lemas dan tidak membuat kemajuan bayi. Maklum baru permulaan.

“Eeeeemmm ….” Percobaan kedua erangannya lebih kuat dan energi yang ditambahkan lumayan baik. Ini sebuah kemajuan yang bagus.

“Emmmhh ….” Kali ini hanya suara erangan kecil karena energinya semua terkumpul di bagian perut.

“Ayok lagi!” bimbingnya lagi agar pasien tak menyerah. Dalam proses mengejan, pasien sesekali diberikan minuman teh manis agar energinya bertambah dan tidak mengalami dehidrasi. Beruntung bidannya sabar dan telaten, jika tidak mungkin akan bosan membimbing pasien. Beruntung pasiennya juga sabar dan ikut apa kata bidan yang menolongnya.

“Yok bisa, yok!” Dia mengajak pasiennya kembali mengejan.

Sang ibu menarik napas panjang lalu mengejan. “Eeeee ….” Yang ini sudah lumayan bagus dan ada kemajuan kepala bayi.

“Emmmmhh ….” Yang ini lebih bagus lagi karena pasiennya begitu mendengarkan arahan bidan.

Sudah lima belas menit dia mengejan tapi kemajuan kepala janinnya masih kurang baik, akhirnya dilakukan lagi.

Sebelum mengejan, dia mengusap perut lebih dahulu lalu berucap, “Adek lahir, Yuk. Bunda udah pengen lihat kamu ke dunia, jangan nakal, ya!” Mungkin dengan cara ini, bayi ikut bekerja sama agar cepat keluar dari tubuhnya.

“Emmh ….” Da mengejan lagi sampai matanya memerah dan keringat pun semakin bercucuran.

“Ayok baru nongol dikit kepalanya!” Kepala bayi sudah terlihat enam senti di depan bagian inti ibunya. Bidan meminta ibu kembali mengejan agar kepala bayinya cepat keluar.

“Emmhh ….” Kepala bayi pun kini terlihat. Tangan kakak bidan di bagian atas, tangan kirinya di bagian bawah bayi. Bidan pun melakukan sangga susur hingga bagian tubuh bayi keluar semuanya. Kini bayi mungil yang kulitnya pucat bercampur lendir darah pun sudah lahir ke dunia.

“Owaaaa …. Owaaa ….” Tangisannya mengudara, beradu kencang dengan gemuruh suara hujan.

Aroma darah bercampur lendir dan amis dari ketuban pun menusuk indra penciuman meski ditutup oleh masker medis.

Duarrrr …. Suara petir kembali terdengar.

“Bayinya laki-laki, Bu!” ujar bidan ini setelah mengecek bayinya apakah bagian tubuhnya lengkap semua. Bagian tali pusat pun diklem lalu digunting.

“Owaaa …. Owaa ….” Bayi yang kini dibalut kain jarik pun ditempelkan di dada ibu untuk melakukan inisiasi menyusu dini.

Beruntung tidak ada gangguan saat proses melahirkan. Kini tinggal mengeluarkan plasenta saja. Bagian paha atas pasien disuntikkan oksitosin lalu tak lama kemudian, setelah dilakukan peregangan tali pusat, plasenta pun lahir.

“Lengkap!” ucapnya pada sang asisten.

“Tidak ada robekan!” Beruntungnya tidak ada robekan jalan lahir sehingga tak usah dilakukan penjahitan.

“Bagian tubuh bawah pasien pun dibersihkan dari sisa darah, air ketuban dan kotoran lain.

“Owaa ….” Bayi laki-laki ini matanya sedikit membuka melirik ke arah ibunya, bibirnya mengatup dan membuka saat menempel di puncak gunung bundanya.

“Anak bunda yang tampan, jadi jagoan, ya, Nak. Maaf mama hanya bisa mendidik kamu sendirian.” Dia mengecup pipi yang menyerupai bakpao. Rasanya lega sekali saat bayi sudah berhasil dilahirkan, rasa mulasnya juga berkurang. Kini perutnya hanya mengalami sedikit kontraksi guna untuk mengecilkan ukurannya.

“Owa ….” Maaf ayah kamu gak bisa nemenin kita disini, ya!” Sedih rasanya melahirkan bayi sendirian seperti ini. Di ruangan lain, ada yang mau melahirkan juga, cuma yang itu ditemani oleh suami dan mertuanya. Ada rasa iri seketika, tapi ya mau bagaimana lagi, toh takdir hidup dia seperti ini, jadi janda saat hamil dan melahirkan pun sendiri.

“Bunda janji akan bahagiain kamu, Nak!” Air mata pun menetes dan perasaannya begitu terharu biru.

Inilah awal dari kisah pilu seorang wanita yang harus menjadi ibu tunggal yang kuat. Awal dimana wanita yang rapuh dan lemah berusaha untuk kuat demi kedua anaknya. Kisah pilu dan mengharukan ini berawal dari kejadian di masa lalu. Masa dimana dia harus melewati banyak cobaan untuk sampai di titik ini.

Bab 2

Sembilan bulan yang lalu. Di ruang konsultasi bidan desa yang pintunya tertutup rapat, Rachel dengan gelisah berbaring di ranjang pemeriksaan. Rambutnya yang diikat setengah menyebar di bantal sedikit acak-acakan, kaos gombrong yang ia pakai disibak ke atas menunjukkan sebagian perutnya. Ruangan itu begitu sunyi sehingga hanya suara napas yang bisa terdengar. Rachel mengerutkan kening dengan tidak nyaman, wajah kecil kurus yang menunjukkan sedikit perasaan gugup. Ia menggigit bibir, pandangannya tidak sejenak pun berpaling dari bidan yang berdiri di sampingnya.

“Gimana Bu, apa hasilnya?” Rachel tak bisa tidak bertanya saat bidan mengoleskan gel dingin ke atas perutnya, karena ia benar-benar penasaran, ingin tahu hasilnya.

“Bu ya sabar, toh. Baru juga mau dilihat udah nanya hasilnya. Emangnya sulap apa?” Bidan Mirna menimpali dengan nada bercanda. Untung dia sabar menghadapi Rachel yang saat ini panik.

Ditegur begitu, Rachel hanya bisa nyengir dan merasa sedikit canggung. Habis ya namanya orang panik kan bikin rusuh.

“Kemarin pake testpack hasilnya gimana?” Bidan mengajukan pertanyaan untuk memastikan. Semua pemeriksaan tidak lengkap jika tanpa anamnesa yang lengkap.

“Garisnya dua, tapi yang satu samar hampir nggak kelihata gitu, Bu.” Rachel menjawab dalam satu kali tarikan napas. Dia berharap yang samar itu tak menjadi jelas dan dia kini tak dalam keadaan tengah mengandung.

Mata Bidan Mirna tidak beralih dari layar ketika dia kembali bertanya, “Tesnya berapa kali?” Jika hanya satu kali kan tidak cukup, butuh beberapa kali agar lebih pasti.

“Dua kali, Bu. Tadi pagi sama kemarin lusa.” Rachel mengingat-ingat, tapi yang lebih akurat itu jika tesnya dilakukan saat baru bangun tidur dan saat alat dicelupkan pada air kencing yang baru pertama kali keluar dari tubuh.

“Dua, duanya begitu? Samar juga ?” Bu bidan ini memandang Rachel seperti polisi yang tengah mengintrogasi penjahatnya saja.

Rachel mengangguk. “Iya, dua-duanya samar. Apa karena saya pake yang murah kali ya, Bu? Makanya hasilnya nggak jelas?” Sungguh pertanyaan yang bodoh. Kalau dalam keadaan gugup begini, mana bisa berpikiran jernih.

Rachel agak rendah hati waktu ia bilang pakai test pack murah. Habis mau bagaimana lagi, uang belanja yang diberi suaminya sehari lima puluh ribu. Setelah dipakai untuk beli beras, cabai, sayur, dan lauk paling banyak hanya tersisa sepuluh ribu. Dan itu jatah buat Alea, putrinya. Kalau beli alat test pack yang mahal, nanti dia tak punya uang untuk jajan anak pertamanya.

Umur Alea baru empat tahun, kalau lihat temannya beli ini itu dia mau juga. Ada teman mainnya jajan ciki, dia kepingin. Ada tukang cilok atau tukang ice cream langsung diberhentikan dengan teriakan cempreng. Dengan uang lima puluh ribu dari Jo, Rachel harus pandai-pandai mengatur menu untuk makan keluarga tiga kali sehari, belum untuk jajan anaknya. Karenanya, sewaktu Rachel sadar haidnya bulan ini belum datang, ia hanya mampu membeli test pack seharga tiga ribu di apotek sekitar tempat tinggalnya.

Entah kenapa hasil tesnya sepertinya kurang akurat. Dua garis yang samar membuatnya ragu-ragu, maka dari itu pagi tadi begitu sang suami berangkat dengan motornya untuk mencari nafkah sebagai ojek online, Rachel mengambil uang simpanan yang ia tabung dari sisa uang jajan Alea. Kemudian menitipkan Alea ke tetangga kontrakan supaya ia bisa bergegas pergi ke tempat praktik bidan paling dekat. Rachel sengaja memilih bidan, biarpun agak jauh dari rumah kontrakannya, tapi biaya periksa lebih murah. Fasilitas di sini juga lumayan lengkap, minimal ada alat USG.

Menanggapi pertanyaan Rachel, Bidan Mirna tersenyum dan menjawabnya dengan sabar, “Nggak juga ah, semua test pack sama aja. Hasil test pack bisa samar biasanya karena hormon hCG yang dihasilkan masih sangat rendah jadi belum bisa terdeteksi sepenuhnya. Nanti kalau usia kehamilan bertambah, hormon hCG dalam tubuh bumil meningkat, hasil test pack akan semakin jelas. Oh iya, hari pertama mens terakhirnya kapan?”

Rachel mengingat-ingat dengan ekspresi yang sangat serius, “Lupa, soalnya sering nggak teratur. Kayaknya antara tanggal 5 sampai 10 deh, Bu, lebih dari dua minggu. Kalau nggak salah pas imunisasi balita bulan lalu.”

Bidan melihat kalender kegiatan di atas meja, “Itu sih sudah mau sebulan, tapi nggak minum apa-apa kan? Kayak pil atau jamu terlambat datang bulan gitu?”

Rachel menggeleng. Sudah tiga minggu ternyata, bisa-bisanya dia lalai. Hatinya perlahan mulai diliputi perasaan cemas. Berbagai spekulasi berkecamuk dalam benaknya.

Aku takut hamil, pikir Rachel dengan gelisah dan gusar.

Bidan di sampingnya hanya memandang layar USG dengan serius, satu tangannya yang memegang alat pemindai menyusuri perut Rachel yang memiliki sedikit lipatan lemak.

Alis Bidan Mirna mengerut hampir menyatu dengan keningnya yang lebar, terurai dengan cepat. Disusul senyum muncul di wajahnya yang ayu keibuan. “Nah, kelihatan juga akhirnya.”

Rachel melihat layar yang dalam pandangannya sama, agak gelap. Firasatnya buruk. “Apanya yang muncul, Bu?”

“Kantung rahim. Lihat, nih, bulatan hitam dalam kantung rahim, artinya sudah ada calon bayi disana.”

Bidan mengatakan kepada pasien di sebelahnya apa yang telah dia amati, dia menoleh dan mendapati bahwa pasiennya sedang menatap dengan mata yang membulat. Rachel memegang tangan Bidan Mirna erat-erat, seolah-olah ia tidak percaya. Matanya yang bening semakin berkilau diselimuti genangan air mata. Bidan Mirna mengira itu adalah air mata bahagia.

“Ha-hamil? Jadi beneran saya hamil, Bu?” Wajah pucat Rachel Amanda semakin putih, seputih kertas.

Hasil ini memang sudah sesuai prediksinya, tapi tetap saja Rachel merasa tak siap dan juga takut. Memiliki bayi artinya bertambah tanggung jawab, bertambah pengeluaran. Paling ia khawatirkan itu reaksi suaminya nanti.

Berapa harga susu bayi paling murah sekarang? Belum popoknya, baju, imunisasi, obat-obatan, mainan, produk perawatan bayi, dan lain-lain. Semua mahal!

Dengan kondisi perekonomian mereka sekarang, rasanya tidak mungkin buat Rachel dan Jonathan menambah beban satu anak lagi. Jangan lupa biaya untuk Allea yang semakin besar semakin membengkak. Terus terang Rachel prihatin, mungkin karena gizi Alea tidak cukup, putri sulungnya tumbuh begitu mungil. Rachel bahkan kuat mengangkatnya dengan satu tangan. Di umur Alea yang masih kecil dan serba kekurangan, tak mungkin Alea sanggup punya adik lagi.

Bidan yang tidak tahu jalan pikiran Rachel dengan cepat mencetak gambar hasil USG, lalu mengangkat kelopak matanya untuk melihat Rachel yang masih termenung dengan wajah kacau. Dahi wanita itu kembali mengeriput. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu pasien yang begitu muram dengan kehamilannya. Padahal setahu Bidan Mirna pasien di hadapannya ini punya suami, jadi apa yang harus ditakutkan?

“Iya, benar Mbak Rachel.” Bidan mengambil tiga lembar tisu, memberikannya kepada Rachel yang langsung digunakan oleh wanita itu buat membersihkan sisa gel dari perutnya. Sembari menunggu Rachel, bidan berjalan lagi ke mejanya. “Kondisi janinnya sehat, tapi tetap harus hati-hati lho. Jangan berhubungan dulu dengan suami sampai benar-benar kuat.”

Nasihat itu menimbulkan rona merah di wajahnya karena malu-malu. Bayangan Jonathan, suaminya yang memang terlalu bersemangat saat memberikan nafkah batin berkelebat sepintas di benak Rachel. Sesaat kemudian ia menyesali kebodohannya yang merasa selama ini baik-baik saja biarpun kadang memakai kontrasepsi atau kadang tidak saat berhubungan suami istri.

Tetapi punya satu bayi lagi? Benarkah dirinya dan Jo akan memiliki seorang bayi lagi.

Seolah tidak percaya, dia melihat kembali foto USG itu dengan cermat, dan baru lima kali setelah membaca setiap data dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Melihatnya terus terdiam, Bidan Mirna yang memeriksanya bertanya, “Kok malah bengong, Mbak Rachel? Harusnya senang dong dapat rejeki lagi.”

Bibir mungil Rachel ditarik membentuk senyum yang terlihat agak terpaksa. “I-iya, Bu.

Benar, anak ini adalah rejeki. Kenapa dia harus takut dengan rejeki yang dianugerahkan oleh Tuhan?

Sekarang yang harus dia pikirkan adalah cara bagaimana dia menyampaikan kejutan ini kepada Jonathan.

Bab 3

Ketika Rachel keluar dari puskesmas, hari sudah terik, kira-kira sekitar jam sebelas siang. Ayunan langkah Rachel sedikit tergesa, takut awan gelap yang sejak tadi tergantung di langit berubah menjadi tetesan hujan. Semalam Alea mengompol, jadi Rachel menjemur satu-satunya alas tidur yang mereka miliki, kalau itu sampai basah kehujanan. Alamat keluarganya harus tidur di lantai beralaskan karpet nanti malam.

Rachel sedikit mengeluh dengan cuaca yang memang agak membingungkan. Seharusnya bulan kelima ini sudah masuk musim kemarau, tetapi curah hujan malah semakin tinggi. Tanpa sadar Rachel mengembuskan napas berat. Hujan adalah rejeki untuk sebagian orang, dan hambatan untuk sebagian orang yang lain. Terutama suaminya yang menggantungkan diri sebagai ojek motor online.

Penghasilan pengemudi ojek online tergantung banyaknya aktivitas orang. Jika hujan begini, orang kebanyakan malas keluar, kalaupun sudah telanjur atau terpaksa keluar mereka pasti lebih memilih naik taksi online dari pada motor. Otomatis pendapatan Jo berkurang, uang belanja berkurang. Sudah hampir seminggu ini Jonathan hanya membawa uang kurang dari seratus ribu tiap harinya, yang harus dibagi untuk cicilan motor, token listrik, bayar kontrakan dan makan.

Sebenarnya, Rachel kasihan dengan sang suami yang mencari nafkah seorang diri untuk kebutuhan anak istrinya. Apalagi sebelum menikah dengannya, Jonathan yang anak orang kaya itu tidak terbiasa bekerja keras. Yah, dari latar belakang keluarga dia dan suaminya memang jauh berbeda.

Jauuuh banget!

Jonathan itu warga Indonesia peranakan Cina atau istilah kerennya sekarang CINDO. China Indonesia. Keluarganya punya bisnis perdagangan besi tua yang omsetnya milyaran. Bisa dibilang pengepul dan pemasok besi tua seindonesia adalah keluarga Jonathan.

Menjadi bungsu dan satu-satunya anak laki-laki dari tiga orang kakak perempuan, sudah pasti dia dimanjakan. Seperti orang tua lainnya, orang tua Jonathan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik. Khusus Jonathan, dari masuk taman kanak-kanak sampai SMA sekolahnya dipilih sekolah internasional yang paling bagus di antara yang terbagus. Lulus SMA, ia mendaftar ke perguruan tinggi swasta yang terbaik. Orangtuanya, terutama ibunya menaruh harapan yang besar pada Jonathan. Pendidikannya sudah diatur dengan cermat, setelah lulus dari Fakultas Ekonomi, Jonathan melanjutkan S2 nya ke Stanford Graduate School of Business. Lulus dalam dua tahun, barulah dia menjalankan perusahaan keluarga, lalu menikah dengan wanita dari satu etnis yang setara, dan punya anak yang lucu. Namun skenario indah yang dirancang oleh orang tua Jo mulai kacau di tahun menjelang kelulusan Jonathan.

Demi mengejar tanda tangan dosen pembimbing yang mau liburan ke luar negeri, Jonathan sampai menyusul ke bandara. Saat itu sudah tengah malam, dan dia dalam keadaan kecapekan setelah begadang menyusun ulang skripsinya. Nahas, dalam perjalanan pulang, mobil yang ia kendarai menabrak pembatas jalan. Jonathan dibawa ke klinik kecil untuk perawatan pertama.

Di klinik itulah pertama kali Jonathan bertemu dengan Rachel yang saat itu bekerja sebagai perawat. Karena sering bertemu dan nyaman dengan kelembutan dan kesabaran Rachel saat menangani pasien, ia akhirnya jatuh cinta. Ditaksir anak orang kaya yang gantengnya mirip bintang film Korea, bukannya senang dan menerima, Rachel malah menolak bahkan menghindar.

Selalu saja ada alasan Rachel setiap kali Jonathan datang ke klinik untuk menjemputnya untuk diantar pulang atau sekadar keluar makan siang bareng. Katanya lagi lembur lah, banyak pasien lah. Atau kalau alasannya sudah keseringan dipakai, ia menyelinap lewat pintu belakang lalu naik ojek untuk pulang ke kosan. Biar saja Jonathan menunggu di parkiran, toh kalau sudah malam, orang itu bisa pulang sendiri.

Tahu Rachel menghindarinya, Jonathan tidak menyerah. Ia ganti strategi dengan mengirim makanan, jajanan atau minuman yang sedang viral atau dari restoran terkenal. Jo mengirim bukan cuma satu atau dua porsi, tapi banyak. Semua karyawan di klinik dari mulia OB, satpam sampai dokter yang praktek pun kebagian.

Sudah pasti semua senang, dan mulai membantu Jonathan untuk mendapatkan Rachel. Bahkan seniornya yang galak ikutan bilang. “Udah sih, Rachel. Nggak usah jual mahal, makmur kamu nanti nikah sama dia. Nggak kerja di klinik kecil lagi, bisa-bisa dibuatin klinik sama si Jo.”

Saat itu mereka sedang jaga malam. Mana hujan-hujan dingin, perut lapar. Mau beli makanan sudah tidak ada yang jualan, cek stok makanan di pantry hanya ada mie sama telur. Cabe, saos atau yang pedas-pedas tidak ada. Mana enak makan mie kalau nggak pedas? Jadi urung deh mereka masak.

Di saat yang paling tepat itu, tiba-tiba pintu klinik terbuka. Semua mengira ada pasien gawat. Tak tahunya yang datang orang-orang suruhan Jonathan yang mengantarkan bakso rusuk dan mie ayam mercon sama pastel, risol, tahu isi, dan lumpia yang semuanya gendut-gendut buatan bakery terkenal.

Mengangkat plastik gorengan, perawat yang lain bilang, “Lihat nih, orang kaya sih beda, beli gorengan aja di Holland. Udah Rachel, gas aja, biar kita kebagian makanan enak terus.”

“Tau ih Rachel, kalau aku jadi kamu, langsung minta di bawa ke KUA saat ini juga buat dihalalin.”

Mendengar kata-kata itu, saat itu Rachel menjawab. “Gimana dibawa ke KUA orang kita aja beda agama.“

Fakta yang Rachel ucap membuat semua yang meledeknya barusan bungkam. “Tahu enggak yang paling berat itu menjalani hubungan yang beda dimensi sama beda agama. Misalkan, misalkan nih, aku terima Jonathan iseng aja awalnya dari pada jomblo, gitu kan kata kalian kemarin. Terus hubungan kami makin dalam eh tiba-tiba harus putus karena beda agama. Apa nggak sakit banget ini hati? Jadi daripada nantinya sakit dan gagal move on, mendingan enggak usah diterima dari sekarang.”

Pikir Rachel, Jonathan akhirnya akan menyerah setelah satu bulan tak mendapat tanggapan darinya. Siapa yang tahu pria itu benar-benar gigih dan serius, menghadapi penolakan demi penolakan Rachel. Perempuan mana yang enggak baper lihat kesungguhan Jo yang sedemikian rupa?

Hampir setengah hidup kayaknya Jo mengejar Rachel. Syukur deh, akhirnya hati wanita muda itu benar-benar luluh.

Rachel tahu hubungan ini pasti ditentang oleh bapak ibunya, jadi ia memilih diam-diam pacaran dengan Jonathan. Begitu juga Jo, ia tidak pernah bilang apa-apa tentang Rachel ke keluarganya. Hubungan yang disembunyikan dan tanpa restu itu tak baik, lama-kelamaan Rachel juga ingin keluarga kedua belah pihak tau.

“Tenang aja ya, Sayang. Kalau sudah waktunya, nanti kamu pasti aku kenalin ke keluarga aku.” Joe mencium punggung tangan Rachel dan mengusapnya lembut.

“Iya, kamu juga, suatu saat nanti aku kenalin ke ibu dan keluargaku,” sahut Rachel kala itu. Perasaannya agak cemas karena sudah lama tak menceritakan hubungan ini pada ibunya.

“Pasti bapak sama keluargamu langsung setuju, orang ganteng begini calon menantunya.” Joe tersenyum penuh rasa percaya diri. Dia sudah punya modal pendidikan dan tampang, kalau soal kekayaan juga jangan ditanya.

Rachel menanggapi kata-kata Jonathan yang narsis dengan senyum meledek. “Percuma ganteng kalau enggak bisa diajak shalat berjama’ah.” Perkataan ini seperti sebuah sindiran halus.

Dan Jonathan langsung kehilangan kepercayaan dirinya saat itu juga.

Rachel pun merasa tak enak hati. “Kok diam?”

“Ternyata berat ya, Sayang?” tanya Jo sambil memandangi mata indah yang bentuknya sangat mengagumkan ditambah warna kecoklatannya yang begitu tajam.

Tangan Rachel yang membelai rambut Jonathan berhenti di udara, “Apanya?”

“Hubungan kita,” kata Jonathan seraya memeluk pinggang Rachel dan menenggelamkan wajahnya ke dalam perut sang gadis.

“Enggak apa-apa kita jalani aja dulu.” Rachel hanya bisa pasrah, toh hatinya sudah jatuh pada pria yang kini ada di hadapannya ini.

“Tapi tau enggak, di antara semua ini yang paling berat apa?” Jonathan tidak mau membahas masalah ini lagi, jadi dia mengubah topik pembicaraan dengan bermain tebak-tebakan. Mungkin ini akan jadi guyonan receh.

“Apa?”

“Apalagi, ya cintaku padamu lah!” Dia terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Gombal!” biarpun bibirnya cemberut, tapi wajah Rachel semringah.

“Kok gombal sih, mau bukti?”

“Apa buktinya?”

“Nih aku buktiin!” Jonathan dengan segera bangun, dan menyerang Rachel dengan kelitikan bertubi-tubi di pinggang dan ketiaknya.

“Ampun, ih, ampun! Sudah dong, berhenti. Geli tau!” Biarpun Rachel memohon, tetapi tangan Jonathan tidak berhenti.

Ketika ia mulai kepayahan, Rachel sudah berbaring di bawahnya dengan wajah memerah dan dadanya naik turun akibat napas yang terengah-engah.

Dua pasang mata yang memiliki warna netra berlainan saling bertatapan. Binar mata Jonathan membuat Rachel tergoda. Ingat! dua-duanya adalah insan yang sudah dewasa, mereka bisa mengikuti insting liar jika khilaf disertai situasi dan kondisi yang menunjang.

Jonathan menaikan tangannya hingga hinggap pada dagu Rachel, mengelusnya seringan bulu hingga mata sang empu terpejam menikmati sentuhan kekasihnya.

Taman tempat mereka berpacaran kebetulan sepi sekali, hanya ada suara embusan angin dan air dari danau yang tidak jauh dari situ.

"Awas!” Rachel meminta Jonathan agar turun dari tubuhnya. Jonathan tidak mau menurut, dia malah terkekeh. Seolah tidak mendengar, pria itu sama sekali tidak menimpali.

Tangan kekar Jonathan yang sehalus bulu menjalar, meraba seluruh inci wajah Rachel, melakukannya selamban mungkin. Tubuh Rachel terasa memanas oleh sentuhan-sentuhan itu, sentuhan yang seharusnya tidak Jonathan lakukan karena takut berlanjut ke adegan yang tidak seharusnya.

Bibir Rachel menjadi pemandangan yang menarik bagi Jonathan. Saat bibir itu hendak terbuka dan mengatakan sesuatu, Jonathan secepat kilat membungkamnya dengan bibirnya sendiri, tangannya yang tadi membelai pindah ke tengkuk Rachel, mencegah kepala itu menjauh dari kepalanya sendiri.

Hangat, licin, basah dan manis. Ini yang Jonathan rasakan saat bibirnya membelai dan menghisap bibir Rachel. Entah setan apa yang menguasai keduanya hingga sekarang tidak sadar akan suatu batasan.

Lama Jonathan menghisap bibir Rachel hingga membuat tubuh kekasihnya menegang. Jonathan menjauhkan bibirnya sendiri tanpa melepas tengkuk Rachel dari tangannya, hanya memberikan waktu untuk saling mengambil napas, mengisi paru-paru dengan oksigen agar napas mereka tidak terlalu terengah-engah. Setelah dirasa pasokan oksigen cukup untuk bekal lagi, Jonathan menempelkannya bibirnya lagi, memaksa mulut lawannya terbuka, tanpa aba-aba menjelajah ke dalam, mencari lawan yang serupa dengan lidahnya yang telah menjulur, saling membelit, menari-nari di dalam relung kata.

Ciuman ini begitu memabukkan sampai-sampai membuat pertahanan Rachel runtuh, tubuhnya lemas dan pasrah mau diapa pun. Suhu tubuh Rachel yang meningkat hingga pipinya bersemu merah.

Tangan Jonathan begitu piawai sudah menurunkan resleting gaun yang Rachel pakai, bahkan menurunkan resleting celana miliknya juga.

Lidah Jonathan menyusuri leher dan dada Rachel hingga membuat dia melenguh, sensasi saat lidah menyentuh permukaan tubuh Rachel membuat matanya merem melek. Sensasi ini sungguh gila!

Irama jantung keduanya berdetak lebih cepat dan mereka sudah dalam kuasa birahi yang tinggi. Insting liar dewasa mereka membuat keduanya menginginkan sesuatu yang lebih.

Jari-jari panjang yang kokoh itu kembali membelai, dari tengkuk melewati leher dengan hati-hati, turun lagi ke dua gunung kembar dan meremasnya, mengeluarkan satu gunung dan langsung dilahap habis oleh Jonathan.

Hisapan-hisapan kecil membuat Rachel semakin kalang kabut, sampai-sampai seluruh bulu tubuh berdiri semua, seolah ikut mendamba sentuhan tangan dan hisapan di dadanya.

Perlahan jari jemari Jonathan merambah turun sampai menyentuh rok Rachel dan menaikkannya sedikit, menurunkan celana persegi tiga yang menutupi lembar surgawi sang gadis.

Jempol jari Jonathan membelai bibir bawah yang berada di celah 'wanitanya' yang telah terpejam dengan tubuh gemetar. Hasrat keduanya semakin bergejolak.

Jonathan meremas sebelah bokong Rachel pelan, tidak terburu-buru, membelai bagian tubuhnya itu di balik gaunnya, lalu meremas permukaan yang lain.

Jonathan pun mampu melesatkan miliknya masuk terburu-buru, berhasil merobek benteng pertahanan Rachel dan berhasil membuat Rachel benar-benar menjadi miliknya seorang.

Mereka kalut dalam hasrat, membuat gerakan mengayun maju dan mundur, menabur-naburkan benih bibit di pesawahan tanpa takut bibit itu tumbuh.

Gelombang-gelombang cinta membuat keduanya menikmati gerakan itu hingga sampai di puncak kenikmatan, semburan bibit dari Jonathan memenuhi lahan milik Rachel. Setelah merasa lelah penyatuan itu dilepaskan dan mereka kembali membenarkan pakaian mereka lagi.

Huhhhhh ….

Mengingat masa lalunya, Rachel kembali menghela napas.

Seandainya saat itu mereka bisa menahan diri dan saat itu dirinya tidak mengandung Alea, akankah Jonathan sekarang masih bersamanya?

Seandainya Alea tidak pernah lahir, akankah Jonathan menuruti perintah ibunya untuk putus dengannya kemudian meneruskan kuliahnya ke luar negeri?

Seandainya ia tidak menikah dengan Jonathan. Mungkin sekarang ia masih bekerja, mempunyai penghasilan sendiri. Bukannya menjadi beban suami.

Atau, seandainya orang tua Jonathan tidak berbuat kejam dengan menutup semua jalan mereka, terutama jalan Rachel untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, mungkin kehidupan dan perekonomian mereka tidak akan seburuk sekarang.

Ada banyak pertanyaan ‘seandainya’ dalam kepala Rachel. Dan dia tidak akan pernah mendapat jawabannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED