"Paman ...."
Wak Yanto memberikan perhatian kepada suara yang sedang memanggilnya.
"Saya talak satu, Kinarsih Aninda," suara Badai pelan tapi pasti.
Terdengar oleh semua pasang telinga di sana. Semua terhenyak, tak ada yang bicara. Hening dan hampir menghilangkan kewarasanku. Apa yang barusan kudengar? Sepertinya telingaku sedang rusak.
"Anak setaaan!!!!!!" teriak Wak Yanto menghambur menyerang Badai.
Ia menendang brutal pada Badai yang sedang duduk. Tidak lebih dari dua jam yang lalu, laki-laki itu mengesahkanku sebagai istrinya. Sangat lancar sekali lidahnya menyucapkan kalimat syahadat lalu di iringi kalimat akad. Lalu sekarang dia mengucapkan kalimat talak. Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya?
Semua orang di sana dengan cepat menarik tubuh Wak Yanto agar menjauh dari Badai. Tubuh tuanya terhuyung jatuh. Kopiah tanda kemuliaannya jatuh begitu saja, terinjak oleh kerumunan yang mencegahnya berbuat lebih. Wak Yanto mengamuk tak terkendali.
"Lepas! Lepaskan! Jangan halangi aku untuk membunuh manusia iblis ini! Tak punya hati nurani, biadab!!!"
Wak Yanto berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang memeganginya.
"Waaak!!!" teriakku menghampirinya.
Bahkan aku sampai terjatuh karena menginjak mukenahku sendiri. Aku langsung memeluknya dan mengusap dadanya yang terasa panas. Mungkin deritaku tak sebanding dengan rasa malu Wak Yanto. Aku ditalak setelah hitungan jam setelah disahkan. Andai telingaku ini pekak saja, itu lebih baik daripada mendengar ucapan kejam yang keluar dari mulut laki-laki yang seharusnya kupanggil suami.
"Minggir Arsih! Anak dajjal ini semakin menginjak-injak kehormatan keluarga ini. Dengan tulus kuserahkan keponakanku padamu, tanpa memberatkanmu sedikit pun tapi kalian anggap sampah!!!" teriak Wak Yanto menatap sekelilingnya.
Kemarahannya sungguh membuat siapa pun merinding. Tampak semua yang ada di sana hanya diam menyaksikan Wak Yanto terus mengumpat dan mengamuk. Wak Erni hanya meruncingkan matanya sinis menatap kami. Tak ada sedikit pun ia merasakan penderitaan suaminya apalagi kepedihanku.
"Maaf ya Yan, di sini Badai sudah memenuhi permintaanmu 'kan, menikahi Kinarsih," ketus ibunya Badai tanpa beban. Bahkan sekarang wajahnya terlihat lebih santai daripada saat aku akan dinikahi. Sungguh hitamnya hati manusia.
"Lalu dengan seenaknya dia menceraikan keponakanku setelah akad dalam hitungan jam?! Kalian keterluan! Tak punya perasaan!"
Wak Yanto melempar Badai dengan air gelas mineral yang tersusun rapi di depannya. Melempari berkali-kali hingga air gelas mineral itu hampir habis. Beberapa pecah dan menyemburkan air hingga Badai basah kuyup.
"Kami tidak pernah menyangka juga Badai akan menceraikan Kinarsih. Itu sudah murni keputusannya. Kita 'kan tidak bisa memaksa anak kami mencintai Kinarsih," sambut ayah badai yang berkumis tebal itu.
"Kinarsih sedang meng---. Astagfirullah ya Allah ... astagfirullah ...."
Wak Yanto tersendat lalu terus berdzikir, mengelus dadanya. Sesekali ia memegangi perutnya. Pasti ia sangat merasa kepedihan yang mendalam. Aku hanya bisa terus menangis di sampingnya.
Badai yang sedari tadi meringis kesakitan berusaha bangkit.
"Maafkan saya, Paman. Saya tidak bisa memaksa hati saya. Yang penting saya sudah menikahinya seperti keinginan Paman," ujar Badai takut berani, berlindung di balik punggung ayahnya.
"Anjing! Tapi tidak begini caranya setan! Kamu semakin menginjak harga diri keluargaku dan kehormatan putriku!"
Seolah tak peduli, Badai menatapku. Aku menunjukkan air mataku padanya, mengharapkan hatinya iba padaku. Aku masih berharap dia meminta maaf, meski tidak padaku tapi pada pamannya.
"Maafkan aku Kinarsih, aku tidak bisa terus mencintaimu," ucapnya parau.
"Tidak, Badai! Jangan ceraikan aku! Bagaimana dengan ...."
Aku tercekat, tak mampu meneruskan ucapanku. Hanya air mataku yang terus jatuh tanpa jeda hingga membuatku tersendat-sendat.
"Kita sampai di sini saja. Jangan cari aku lagi. Kamu bukan siapa-siapa bagiku," ujar Badai tanpa beban. Sekarang ia sedang melangkah keluar tanpa sekali pun sudi menoleh.
Aku langsung lemas. Tak ada tenagaku meski hanya sekedar menarik nafas. Ini hantaman yang sangat kuar biasa memporak-porandakkan hatiku. Melihat ayah dari janinku menjauh yang diikuti kedua orang tua dan saudaranya, jantungku seperti menyusut. Mereka sama sekali tidak menatapku apalagi menenangkanku. Aku mengerti sekarang, betapa busuknya keluarga itu.
Wak Yanto dibawa masuk ke dalam kamarnya. Ia dipapah oleh sahabat-sahabatnya yang ikut menyaksikan pernikahan yang mungkin hanya aku yang mengalaminya sepanjang sejarah hidup mereka. Dinikahi lalu diceraikan di waktu yang sama. Sungguh kemalangan apa lagi yang tidak aku rasakan?
"Masuklah ke kamarmu, Kinarsih. Kamu janda sekarang, jaga sikapmu," sinis istri pamanku meninggalkanku. Suaranya berlalu begitu saja. Aku bangkit dan berlari akan menyusul masuk ke dalam kamar Wak Yanto. Namun, perempuan kriting itu menepisku dengan sangat kasar.
"Wak, tolong. Arsih mau melihat keadaan Wak Yanto. Bantu Wak! Biarkan Arsih melihat kondisinya. Biasanya kalau dipijit telapak kakinya, Wak Yanto lebih baik."
"Heh! Sudah kau bawa kehinaan di keluarga ini, masih berani kamu sok peduli dengan keluarga ini! Kamu tahu, kamu itu pelaku yang telah sangat kejam mencoreng kehormatan keluarga ini Arsih! Minggir kamu! Bisa mati suamiku melihatmu sekarang!"
Tak peduli kepala dan bahuku terbentur dinding, aku benar-benar berusaha masuk namun dengan sangat tidak berperasaan, Wak Erni menjambakku lalu mendorongku dengan keras. Ya Allah, sudahlah sakit di hati ini tak berperi, ditambah pula dengan siksaan fisik dari wanita yang seharusnya bisa memberikan kasih sayang, setidaknya rasa kasihan.
"Pergi kamu, perempuan pembawa sial!"
Pintu itu berhasil ditutup dan tinggallah aku yang masih mematung, seolah malam ini seperti mimpi terburuk. Bagaimana bisa laki-laki yang kuyakin menjadi pelabuhan terakhirku memperlakukanku sekejam ini? Ini sangat kejam. Lebih baik dia tidak menikahiku daripada diangkat seperti ratu, dijanjikan harapan lalu dibuang tercampakkan seperti ini.
"Badai ... mengapa kamu setega ini?" lirihku sendirian dalam gelapnya kamarku.
Aku merasa lebih nyaman tanpa penerangan. Amat pekat seperti kehidupanku yang tak bertuah. Yatim saat usia tujuh tahun dan hidup dalam kemiskinan bersama sosok ibu selama sepuluh tahun. Genap tujuh belas tahun, aku kehilangan ibuku untuk selamanya. Di usia yang dinantikan para remaja karena begitu manis namun bagiku adalah awal dari lengkapnya kesengsaraan hidupku. Lalu sejak menjadi yatim piatu, aku harus tinggal bersama uwakku, kakak laki-laki dari ayahku.
Hidup rupanya makin tidak bertuah karena di sini, aku tidak diterima oleh istri dan anaknya. Aku seperti menjadi alas kaki, benar-benar tidak dihargai. Menjadi pembantu rasanya lebih bernilai karena mereka tidak hanya memanfaatkan tenagaku, tapi juga mengoyak-ngoyak rasa percaya diriku sebagai manusia yang merdeka.
"Ibu ... Bapak ...!!!"
Aku terus memanggil kedua orang tuaku. Tangisku tak terhenti. Aku meraung, meratap dan memukul diriku sendiri. Beberapa kali kutemukan diriku tersadar seolah bangun dari tidurku. Lalu aku kembali mengingat aroma parfum yang kusukai, terakhir pergi meninggalkan kepingan hatiku yang remuk redam tak bersisa lagi. Aku terus menangis hingga aku tidak mengingat apa-apa lagi.
Duar! Duar! Duar!
Suara pintu yang dipukul degan sentakan yang sangat kasar membangunkanku. Entah dari tidur atau pingsan, aku tidak tahu. Dengan tubuh lemah, aku berusaha bangkit. Samar mataku menoleh jam dinding, sudah pukul tujuh pagi. Aku langsung terperanjat. Subuhku terlewati. Astaghfirullah!
"Buka pintumu, Arsih!" teriak Wak Erni, istri pamanku. Suaranya yang melingking benar-benar membuat gendang telingaku seperti akan pecah. Buru-buru aku membuka pintu kamar.
"Maaf, Wak. Arsih sholat dulu," lirihku perlahan masih berusaha menjaga keseimbanganku berdiri. Kepalaku masih terasa pusing.
"Sholat apaan kamu jam seginian?!"
"Arsih benar-benar gak dengar adzan, Wak. Permisi, takutnya makin siang," ucapku berusaha melewati tubuh gendutnya.
Baru satu langkah kaki berpindah, rambutku langsung ditariknya dengan sangat keras. Aku langsung tersungkur mundur sembari memegang pangkal rambutku sendiri.
"Aaakkhh! Sakit sekali, Wak! Jangan! Tolong lepaskan!"
"Jangan sok alim kamu, ya! Kalau kamu benar-benar wanita baik-baik, wanita soleha, taat agama, kamu tak akan sampai hamil di luar nikah begini!"
"Ampun, Wak! Maafkan Arsih!" teriakku meringis kesakitan.
Tak peduli eranganku yang memilukan, wanita tua gempal itu mendorong kepalaku ke arah dinding. Aku terbentur dan seketika terasa berdenyut nyeri isi otakku. Hanya air mata yang terus mengalir untuk meredakan sakitnya. Kupegangi kepalaku sendiri. Rasanya, amat hina diri ini, sama sekali tak memiliki harga.
"Jangan nangis kamu! Seolah-olah kamu ini korban! Kamu itu pelaku! Pelaku yang tega mencoreng nama baik keluarga! Dimana kami letakkan wajah kami karena hasil dari perbuatan menjijikkanmu itu, Arsih?! Kamu memang keterlaluan!"
"An-andai malam itu, Wak Er gak paksa aku keluar sama Badai, pasti lah bencana ini tidak akan terjadi," lirihku sembari menyesapkan isakanku.
"Apa katamu?!"
Plaaaak!
Sebuah tamparan mendarat di bibirku, seolah memang sengaja untuk menghentikanku bicara. Aku langsung menutup mulut dengan air mata yang semakin deras. Ingin rasanya aku melawan tapi itu mustahil. Dia uwakku, istri kakak laki-laki dari ayahku. Darimana bisa datang nyaliku? Aku hanya bisa menahan sakit.
"Jaga bicaramu itu, ya! Jangan sampai ada yang mendengarnya dan menganggapnya benar. Jangan salahkan orang lain atas dosa besarmu. Kamu yang terlalu gatal jadi perempuan!" berang Wak Erni. Kedua bola matanya melotot seperti akan keluar dari tempatnya karena terlalu marah.
"Hentikan tangismu itu dan cepat siapkan sarapan! Ingat, kamu itu di sini hanya keponakan suamiku. Aku yang berkuasa di sini, jadi jaga sikapmu!"
Dengan napas menderu-deru, Wak Erni meninggalkanku yang meringkuk ketakutan. Setelah kejadian semalam, bagaimana aku bisa terus menjalani hariku meskipun sebagai pembantu di rumah ini?
Meski terseok-seok dalam sesegukan, aku tetap mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh. Kumohon ampun atas semua dosa besar dan kecilku, yang terlihat mau pun yang tersembunyi. Meskipun aku penuh noda, bukankah Allah, Tuhanku Maha Pengampun? Aku meyakini, rahmat dan kasih sayangNYA jauh lebih luas.
Setelah sholat, aku sangat enggan bangkit dari sajadahku. Justru aku semakin tergugu karena merasa benar-benar amat sedih. Kondisi ini adalah titik nadirku yang paling dahsyat. Aku sudah jatuh dalam jurang yang tidak akan bisa keluar lagi. Kehormatanku sudah rusak, namaku sudah hancur, tidak ada lagi yang bisa kubanggakan dari diriku ini. Demi apapun, jika bunuh diri itu boleh, sungguh aku ingin bunuh diri. Ooh ... nasib jiwa di kandung badan. Menyesal tidak merubah situasi, tapi aku benar-benar dalam kegamangan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan takut dengan suara detik jam dinding karena aku tahu, semakin lama, yang di perutku ini akan membesar. Ya Allah ... jantungku berderap amat kencang karena rasa takutku yang luar biasa. Kemana kubawa aib ini??!!!
"Arsih!"
Suara wanita jahat itu terdengar menggelegar dari dalam rumah, menghancurkan pikiranku yang kalut. Karena kamarku terpisah di luar, jadi suaranya terbawa udara sebagian namun tetap bisa membuat sakit telingaku bersama hatiku. Dia benar-benar tak peduli, jika suaranya yang memanggilku seperti majikan itu didengar tetangga. Setiap hari seperti itu, seolah-olah memang aku ini pembantunya. Tak punya pilihan, aku langsung melipat mukenahku dan bergegas keluar.
"Buat nasi goreng, sayur bayam bening dan tongkol balado. Tambahkan telur ceplok untuk Rasyid. Jangan boros bumbu. Kopi buat uwakmu juga belum. Sampah semalam juga masih berserakan. Kerja yang cepat, jangan banyak gaya!"
Setelah mengucapkan runtutan perintahnya, Wak Erni dengan pongah berjalan menuju kamarnya lalu menutup pintu dengan suara keras. Sejak aku datang ke rumah ini tiga tahun yang lalu, ia memang seperti itu. Bagai ratu tak pernah mau menyentuh pekerjaan rumah. Aku hanya berusaha menarik napasku dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan. Sabarlah wahai tubuh, sabarlah wahai jiwa. Penderitaan ini pasti akan berakhir. Pasti akan tamat, setidaknya mungkin saat nyawaku sudah tidak di badan lagi, batinku meracau.
"Mohon bekerjasama ya, Nak," ucapku mengelus perutku yang masih rata.
Aku berusaha sekuat tenaga mengerjakan semua tugasku dengan baik. Meski aroma piring kotor dan bawang merah kupas seperti bangkai yang membuat perutku seperti diaduk. Berkali-kali aku mencoba untuk memuntahkan isi perutku. Aku menahan diriku bersama air mataku yang terus menetes sedih.
"Badai, mengapa kamu harus datang dalam kehidupanku jika hanya menambah penderitaanku?" lirihku sendirian.
Masih seperti mimpi rasanya kejadian semalam. Badai menikahiku lalu menalakku begitu saja. Seperti sampah bahkan lebih busuk lagi.
"Kopi Wak-mu!" teriak Wak Erni.
Segera kusesap sendiri air mataku. Sungguh wanita itu keterlaluan. Sejak ada aku di rumah ini, membuatkan kopi untuk suaminya sendiri ia segan. Dengan cekatan, segera kusiap kopi lalu bergegas membawanya ke teras depan. Tempat dimana Wak Yanto membuka hari setelah berjalan-jalan pagi.
"Kopinya, Wak," ucapku seperti biasa meletakkan cangkir bening khusus milik Wak Yanto.
Laki-laki itu tak berbicara sepatah kata pun. Kuberanikan diri menoleh wajahnya. Yang terlihat hanya gurat kesedihan, kemarahan dan kekecewaan yang kental. Aku kembali menunduk lalu melihat ke arah tempatnya biasa menyimpan kopiah. Selalu setiap pagi, aku yang bertugas menyimpan kembali kopiah itu di kamarnya. Wak Yanto memiliki rutinitas sholat subuh berjamaah.
"Mana kopiahnya, Wak? Biar Arsih simpan di dalam," tanyaku memberanikan diri.
"Hari ini aku tidak sholat subuh berjamaah. Mukaku sudah tercoreng oleh arang aib yang begitu hitam. Aku sudah tak memiliki kehormatan lagi di kampung ini."
Setelah mengucapkan itu, Wak Yanto langsung berdiri dan masuk ke dalam rumah. Luar biasa perih hatiku mendengar ucapannya. Laki-laki yang menjadi waliku, pengganti ayahku sudah kuhancurkan harga dirinya. Bibirku bergetar bersamaan dengan tubuhku mengigil sakit. Kembali air mataku jatuh dan kali ini setiap tetesannya yang keluar terasa begitu perih di kelopak mataku.
Apakah mati lebih baik untukku saat ini?
Pahit manis dan asam asin hidup sudah kulewati. Kehilangan ayah lalu disusul ibu juga sudah kulalui. Sekarang aku kehilangan suamiku. Tapi tidak, aku masih memiliki kesempatan. Masih ada waktu. Suamiku hanya menjauh, bukan jiwanya meninggalkan raga. Peluang untuk memperbaiki masih sangat lebar.
"Akan kutemui Badai hari ini. Tidak peduli dengan cara apa pun, aku harus keluar dari rumah ini," lirihku bertekad sendirian.
Segera kuselesaikan tugas pagiku menyiapkan sarapan dan membereskan cucian piring. Tadi aku sempat mendapatkan omelan karena belum mengepel rumah. Sekarang kuberanikan diri menyampaikan niatku dengan beralasan, keluar membeli perlengkapan make up.
"Hanya sebentar saja, Wak. Jerawat Arsih tumbuh dimana-mana," kilahku terburu-buru.
"Mau jadi janda gatal kamu? Sudah menjanda, baru mau bebelian make up segala."
Wak Erni mencebik dengan ketus padaku yang sedang memakai sandal. Wanita itu bahkan sedang asik menikmati pisang goreng yang baru saja kusuguhkan. Sepertinya teh manis hangat buatanku juga menambahkan energi untuknya mencaciku.
"Awas saja kalau kamu telat pulang!" ancamnya lagi dengan mata melotot seram.
"Iya, Wak," jawabku sekenanya.
Aku langsung keluar dari gerbang besi berwarna hitam yang menutupi setengah rumah uwakku. Sempat kumenoleh ke belakang, merasa lucu dengan takdir. Kukira setelah menikah dengan Badai, aku tidak lagi tinggal di sini. Rupanya tidak, Allah masih menghukumku.
"Ojek!" seruku pada beberapa pria dewasa yang duduk di atas motornya. Mereka memang dikenal sebagai ojek desa yang biasa mengantar warga ke pasar kota. Namun ketika aku yang meminta jasa mereka, kompak mereka menggeleng.
"Ke desa Duman saja, Pak! Saya akan lebihkan ongkosnya!" seruku lagi masih mencoba berpikir positif.
"Maaf ya, kami tidak mau ketiban sial. Bonceng perempuan hamil di luar nikah itu nakjis!" timpal salah satu dari mereka yang disambut anggukan dari temannya yang lain.
Nyeees ....
Hatiku luar biasa perih sekali. Rupanya berita itu sudah menyebar luas. Bahkan perutku belum terlihat buncit, masih sangat rata. Aku tidak punya pilihan selain menunduk malu dan terus berjalan. Tekadku sudah kuat. Meski sehari penuh aku berjalan, Badai harus kutemui hari ini juga.
"Iiih ... bukannya itu Kinarsih, keponakannya Yanto?"
"Yang hamil di luar nikah terus langsung dicerai kan?!" sambut yang lain.
"Kasihan ...."
"Siapa suruh jadi perempuan tak punya harga diri. Tak guna dia berhijab! Uwaknya itu kan laki-laki soleh, tiap hari sholat di masjid, kecolongan juga. Ya dasarnya dia perempuan gatal!"
Rentetan kalimat-kalimat gunjingan dari ibu-ibu yang sedang berkumpul sembari memilih sayur dan lauk terdengar begitu nyaring di telingaku seolah sengaja agar aku mendengarnya. Engsel lututku seperti sedang dilepas satu-satu hingga membuat kakiku lemas untuk terus berjalan. Namun aku berbicara pada diriku sendiri agar tetap kuat. Aku hanya perlu terus melangkah agar tak mendengar lagi.
"Ojek, Mbak!"
Aku langsung menoleh dengan mata yang sudah dipenuhi bulir bening. Air mataku tak kuasa kutahan lagi. Suara barusan itu seperti malaikat penolong bagiku meskipun aku harus membayar mahal. Aku langsung naik tanpa mengucapkan apa-apa.
"Kita kemana, Mbak?"
"Duman, Pak!"
Setelah dua puluh menit perjalanan motor, aku pun sampai di depan gerbang rumah Badai. Kuserahkan seratus ribu dengan mata yang terasa bengkak karena sepanjang jalan, aku terus menangis.
"Terlalu banyak, Mbak!"
"Bawa saja, Pak karena Bapak masih mau membawa saya yang jadi sampah masyarakat," ucapku pelan kembali dengan wajah yang terasa panas.
"Kita semua sama kok Mbak, hanya beda cara melakukan dosa. Tapi Allah Maha Pengampun kan? Sampeyan jangan sampai lupa itu. Ya sudah, terimakasih ya, Mbak. Semoga rezki Mbak berlipat-lipat."
Aku mengangguk haru. Ucapan tukang ojek tadi seperti embun yang membasahi hatiku yang gersang dan putus asa. Aku tidak peduli, di dompetku sudah tak ada sisanya lagi. Pria itu pantas mendapatkan kelebihan ongkosku.
Sekarang aku seperti memiliki kekuatan untuk kembali berdiri tegak. Aku akan berusaha kembali memperbaiki keadaan. Badai tak perlu meminta kesempatan ke-dua karena akulah yang akan menawarkannya lebih dulu. Aku akan melupakan yang semua terjadi demi janin di kandunganku ini.
"Siapa?" terdengar suara dari dalam ketika kumengetuk pintu. Aku mengenal suara itu.
"Assalamu'alaikum, Bu," salamku mencoba menunjukkan wajah teramahku.
"Untuk apa kamu di sini?"
"Sa-saya ingin bertemu Badai, Bu," jawabku santun.
Wanita itu menunjukkan wajah tak sukanya. Ia bahkan tak menanggapi ucapanku. Justru matanya yang menelisik dari ujung kaki sampai ujung kepalaku. Bibirnya bergetar, mencebik. Mungkin dia sedang berpikir, kalimat apa yang tepat untuk mengusirku.
"Lihat kunci mobilku gak, Ma?!" teriak seseorang dari dalam. Jantungku tiba-tiba berdesir kuat. Suara itu begitu indah di telingaku.
"Badai ...," desisku meremas ujung bajuku. Sungguh aku gugup.
"Pergilah dari sini. Jangan menghancurkan hari anakku," ucap ibu Badai dengan suara yang ditekannya.
Aku menggeleng. Wanita tua itu justru mendorongku dengan kasar. Aku hampir tersungkur jatuh. Tapi, tak akan semudah itu aku menyerah. Aku mencoba berjinjit dan mencari keberadaan Badai.
"Kau sudah diceraikan! Untuk apa kamu ke sini lagi?!" Tampak wajah ibunya Badai merah padam menahan kesal.
"Saya ingin memperbaiki hubungan kami, Bu. Biarkan saya bertemu Badai. Kasihan anak di perut saya," jawabku mencoba mengiba.
Dengan teganya, wanita itu menutup pintu dengan suara dentuman yang keras. Aku terpekur, terperanjat hebat. Tidakkan dia memiliki sedikit rasa empati sebagai sosok yang dituakan? Setidaknya kepada sesama wanita. Ya Allah, betapa hina diri ini di mata manusia.
Braaak!
Braaak!
Aku menggedor pintu itu dengan kasar.
"Badai! Aku di sini!" teriakku tanpa peduli jika ibunya semakin membenciku.
"Keluarlah! Kita perlu bicara!" lanjutku lagi.
Terus saja kupukul-pukul daun pintu itu hingga tanganku terasa panas. Sampai Badai keluar menemuiku, aku tetap tidak akan menyerah! Saat tanganku kembali mendarat pada daun pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka. Aku berusaha sekuatku untuk menahan tanganku agar tidak sampai mengenai wajah yang berada tepat di depanku.
"Ba-badai, Ma-maafkan aku," lirihku karena tak bisa menahan dengan sempurna untuk tanganku melayang ke wajahnya. Syukur saja tidak keras. Dengan sigap kuelus bahu, dan merapikan kerah bajunya.
"Maafkan aku," ulangku sekali lagi.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Arsih. Kita sudah bukan suami istri."
Suara Badai mendesis pelan tapi seperti sembilu menyayat hati. Tangannya menghentikan tanganku yang sedang mengelus bajunya.
"Janin ini, demi janin ini. Tolong lunakkan hatimu, Badai. Mari kita bersama. Hidup sebagai pasangan suami istri. Aku rela jika kamu tak memberikanku nafkah. Aku siap menjadi pembantu di rumah siapa pun untuk mendapatkan sesuap nasi asalkan kamu mau tetap bersamaku."
"Kamu gila," timpal Badai membuang wajah.
"Aku mohon. Kasihan anak ini, Badai. Dia tidak bersalah sehingga harus dilahirkan dalam keluarga tak lengkap begini. Jika kamu tak mencintaiku lagi, kamu pasti mencintai darah dagingmu ini," rayuku.
Tak peduli soal harga diri lagi, aku meraih tangan Badai membawanya menyentuh perutku. Namun belum sampai tangannya mendarat, dia sudah menepisku kasar.
"Lepaskan. Aku tidak memiliki waktu untuk hal tak waras seperti ini. Pulanglah. Aku akan meminta orangku mengantarmu. Jadikan yang ini terakhir kamu datang mencariku," ucap laki-laki itu pongah.
"Tidak ...," lirihku menahan semua kemalangan nasibku.