Aku menyeka air mata dari sudut mataku dan menatap langit kelabu di luar jendela.
Seperti biasa, musim hujan di sini terasa dingin.
Ponselku pun berdering. Telepon dari Vincent.
"Abella, apa kamu habis mengeluh pada ayahku lagi?"
"Syafana dan aku akhirnya punya waktu berduaan, tapi kamu malah mengacaukannya!"
"Kuperingatkan, ya! Kalau kamu berani ikut campur dalam urusanku lagi, akan langsung kublokir semua kartu kreditmu!"
Dulu, aku pasti akan secara otomatis meminta maaf dan menundukkan kepalaku walaupun aku tidak salah.
Sekarang, aku menyahut dengan tenang, "Terserah kamu."
Vincent terdiam sesaat di ujung telepon sana. Dia pasti terkejut dengan sikapku yang acuh tak acuh, tetapi dia lalu tertawa dan berkata.
"Jangan sok licik, Abella. Selama kamu masih jadi istriku, aku bisa menyiksamu habis-habisan dengan seratus cara."
Aku sudah pernah melihat cara kerja Vincent.
Aku masih ingat saat pertama kali memergoki Vincent berselingkuh. Waktu itu, aku dengan naifnya mengira bahwa Reyhan yang merupakan ayah angkat Vincent akan memberiku keadilan. Namun, yang kudapat malah balas dendam gila Vincent.
Vincent mengancamku dengan nyawa ibuku, dia memaksaku berlutut di balkon saat suhu sedang begitu dingin.
Aku juga harus berulang kali menampar pipiku hingga wajahku bengkak.
Di saat aku sedang dihukum malam itu, Vincent justru asyik meniduri kekasihnya di kamar sebelah.
Aku akhirnya dibawa ke rumah sakit karena hipotermia.
Hari itu, cuaca sangat dingin. Aku terbaring di tempat tidur UGD dengan tubuh yang gemetar kesakitan.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk diam saja terlepas dari seberapa kejamnya Vincent.
Aku seperti robot yang mati rasa dan hanya fokus menjaga martabat sebagai istri Vincent.
Aku terus bertahan dan mengalah, tetapi sekarang ibuku dan anakku telah tiada.
Pernikahan kontrak ini akhirnya berakhir.
Aku menutup telepon, lalu berdiri dan menelepon rumah duka untuk memesan jadwal kremasi ibuku.
Saat aku kembali ke pintu kamar rawat, sosok yang kukenal menghalangi jalanku.
Vincent yang berdiri di pintu sambil mengenakan setelan hitam itu menatapku dengan tegas.
"Kok nggak berpura-pura lagi?" cibir Vincent. "Kamu bisa jalan-jalan setelah kecelakaan itu. Tubuhmu kuat sekali, sepertinya nggak perlu terus dirawat."
Vincent perlahan mendekat, lalu berujar dengan nada yang sangat serius, "Istriku sayang, aku berencana membawa Syafana tinggal di vila. Dia masih muda dan belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah .... Setelah kamu keluar dari rumah sakit, pulanglah dan jadilah pengasuh kami."
Vincent mencondongkan tubuhnya ke telingaku dan berkata dengan nada senang yang mengerikan, "Ekspresimu yang kesakitan adalah rangsangan terbaik bagiku di ranjang."
Setelah itu, Vincent memegang wajahku dengan tangannya dan matanya berkilat senang.
Dia ingin melihatku menangis, hancur, bahkan memohon dan memelas seperti yang biasa kulakukan.
Namun, kali ini aku tidak melakukannya. Aku hanya balas menatap Vincent seolah-olah dia adalah orang asing.
Vincent pun kehilangan minat dan mendorongku menjauh. Lalu, dia menoleh berbalik dan memanggil perawat di sebelahnya.
"Mana anakku? Hasil tesnya sudah keluar? Bawa dia ke sini, aku mau melihatnya."
Wajah perawat muda itu pun memucat, ekspresinya menjadi panik.
Aku menjawab dengan suara lembut, "Anak itu ... dibawa pergi oleh ayahmu. Anak kita ...."
Belum sempat aku memberi tahu Vincent bahwa anak kami telah tiada, ponsel Vincent pun berdering.
"Halo?"
Ekspresi Vincent sontak berubah, sorot tatapannya tampak agak takut.
"… Apa! Kamu kecelakaan mobil? Syafana, Sayang, kamu baik-baik saja? Kamu di mana!"
Setelah itu, Vincent menutup telepon.
"Plak!" Sebuah tamparan kencang pun mendarat di pipiku dengan nyaring.
"Abella, apa yang kamu lakukan pada Syafana! Kalau sampai dia kenapa-kenapa, aku bersumpah nggak akan pernah memaafkanmu!"
Tubuhku yang sudah lemas, ditambah tamparan Vincent itu membuatku menubruk pagar besi di belakangku sehingga dadaku terasa begitu nyeri.
"Aku saja baru saja selesai operasi, apa yang mungkin kulakukan padanya ...."
Perawat muda itu segera membantu aku dan berkata dengan panik, "Tuan Vincent! Kalau kamu begini, bisa-bisa pasien mati!"
Vincent memelototiku dengan tajam, lalu memalingkan wajahnya.
Perawat muda itu menatapku dengan iba.
Pipiku tampak merah dan bengkak, sekujur tubuhku gemetar.
Setelah kembali ke tempat tidur, dokter menyuruhku beristirahat.
Sementara itu, aku akhirnya mengetahui mengapa Vincent kehilangan kendali.
Kematian anak kami membuat Reyhan sangat bersedih. Dia segera mengerahkan semua kekuatan keluarga untuk membunuh Syafana.
Syafana keliru mengira kalau aku sedang balas dendam kepadanya, jadi dia sengaja membesar-besarkan kecurigaannya kepada Vincent.
Vincent yang marah pun kembali mendatangiku di kamar rawat dan menyerangku.
Untuk menenangkan Syafana, Vincent dengan marah mencabut statusku sebagai pemegang saham di Keluarga Gredi dan mentransfer kepemilikan sahamku kepada Syafana.
Vincent juga menghabiskan miliaran untuk membeli hak penamaan sebidang bintang dari sebuah lembaga astronomi.
Ada 20 bintang yang dia beli dan dia namakan semuanya "Syafana".
Vincent juga menulis sebuah keterangan di media sosial: [Aku membeli langit berbintang ini supaya hanya dia seorang yang bersinar.]
Keterangan itu menyertai sebuah foto yang menunjukkan Vincent dan Syafana sedang berciuman di sebuah observatorium pribadi.
Dalam wawancara yang diadakan, Syafana memamerkan cincin berlian di tangannya dan berkata dengan bangga.
"Aku nggak pernah menganggap diriku sebagai simpanan. Kalau seorang wanita nggak mampu menaklukkan hati suaminya, wanita itu pantas jadi janda."
"Abella menikahi Vincent semata-mata demi uang Keluarga Gredi, tapi aku berbeda. Aku benar-benar tulus mencintai Vincent."
Syafana mengunggah ulang video wawancara itu media sosialnya.
Sekelompok penggemar fanatiknya yang tidak berotak itu pun mulai menghinaku di kolom komentar, mereka juga memaksaku untuk menyerah kepada Syafana.
Setelah sekian tahun berlalu, ternyata trik Vincent untuk merayu kekasihnya tetap sama.
Aku ingat Vincent juga menggunakan metode seperti ini untuk membujukku saat itu.
Dia tahu bahwa aku berasal dari keluarga miskin dan tidak pernah merayakan ulang tahun dengan pantas sejak aku masih kecil.
Saat aku berusia 20 tahun, Vincent memberiku 20 hadiah.
Dari kalung emas yang kudapatkan semenjak berusia satu tahun, hingga vila dan mobil sport.
Waktu itu, Vincent mengatakan bahwa semua hadiah ini adalah kompensasi atas penderitaanku selama 20 tahun hidupku.
Aku masih ingat malam itu, di bawah langit berbintang, Vincent menggenggam tanganku dan berkata penuh kasih sayang.
"Abella, aku kehilangan orang tuaku sejak kecil. Mulai sekarang, aku akan memperlakukan ibumu seperti ibuku sendiri dan membangun keluarga yang paling bahagia bersamamu."
Aku pun luluh oleh kehangatan Vincent, aku secara naif mengira bahwa aku telah menemukan seseorang yang tepat untuk menghabiskan hidup bersamaku.
Setelah keseruan mendapatkan hal baru memudar, Vincent segera jatuh cinta pada orang lain.
Kami pernah sepakat akan pergi kencan ke pantai untuk menyaksikan matahari terbit.
Tiba-tiba, Vincent tidak bisa dihubungi selama perjalanan. Beberapa jam kemudian, aku baru tahu bahwa Vincent sengaja mengambil jalan memutar untuk mengantarkan bunga kepada perempuan lain.
Vincent meninggalkanku sendirian di pinggiran kota, bahkan tanpa sinyal telepon.
Hari itu, aku berjalan kaki puluhan kilometer sendirian. Aku tiba di rumah dengan kaki yang berdarah.
Seharusnya, aku langsung menyadarinya saat itu.
Bahwa Vincent adalah tipe orang yang egois dan seenaknya, dia tidak akan pernah memberikan hatinya kepada siapa pun.
Aku pun meninggalkan komentar di bawah unggahan video Syafana.
[Semoga kalian berbahagia dan segera dikaruniai keturunan.]
Tidak lama kemudian, Syafana menghapus unggahan video tersebut.
Lalu, Vincent menelepon untuk menanyaiku.
Aku tidak mengangkat telepon dari Vincent. Aku malah memblokir nomornya dengan tenang sebagaimana dia selama ini memperlakukanku.
Hari ini adalah hari jasad ibuku dikremasi.
Aku mengurus prosedur keluar dari rumah sakit lebih cepat.
Meskipun dokter yang merawatku merasa khawatir, dia tidak dapat membujukku dan malah berinisiatif untuk menemaniku.
Aku pun menerima guci abu itu dari pegawai.
Tidak seperti dugaanku, aku justru tidak merasa sedih.
Yang kurasakan hanyalah belenggu yang mengingatku selama sepuluh tahun ini ….
Akhirnya benar-benar terputus pada saat ini.
Ibu dan anakku telah tiada, aku hanya seorang diri.
Setibanya di rumah dan membuka pintu ruang tamu, aku melihat Vincent dan Syafana sedang duduk di sofa.
Begitu melihatku pulang, Vincent segera menutup ritsleting celananya.
Namun, bekas ciuman yang ada di sekujur tubuh dengan jelas memperlihatkan betapa hebohnya sesi mereka tadi.
Aku tidak merasa sedih ataupun marah.
Aku berjalan ke kamar tidur seolah-olah tidak melihat apa pun.
Saat keluar lagi, Syafana telah pergi. Hanya tinggal Vincent yang sedang duduk dan minum.
Begitu aku keluar, Vincent mendongak.
"Abella, katanya kamu sudah keluar dari rumah sakit. Kamu pergi ke mana siang ini?"
"Nggak ada hubungannya denganmu," sahutku. Aku tidak ingin terlalu banyak menjelaskan.
Ekspresi Vincent mendadak menjadi suram. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan melemparkannya ke hadapanku.
"Apa ini?"
Layar ponsel Vincent menunjukkan hasil tangkapan layar dari rekaman kamera pengawas saat aku dan si dokter yang merawatku berdiri di pintu garasi.
Dokter itu mengantarku turun dari mobil dan sedang menyerahkan sebotol air, kepalanya tertunduk saat dia mengatakan sesuatu kepadaku.
Sebenarnya, dokter itu sedang mengingatkanku agar jangan lupa datang di jadwal kontrol berikutnya.
"Kenapa kamu berpura-pura polos dan murni?" cibir Vincent sambil selangkah demi selangkah mendekat.
"Aku melihatmu lagi bermesraan dengan dokter itu."
Vincent membanting gelas anggurnya, lalu berjalan ke arahku dengan marah.
"Abella, apa kamu nggak tahan sendirian? Kamu pasti lagi menyalahkanku karena mengabaikanmu, 'kan? Kalau begitu, aku akan mengabulkan permintaanmu!"
Vincent pun merobek pakaianku dengan kasar dan menarikku ke arah tempat tidur.
Aku sontak mati-matian meronta dengan takut. "Vincent! Kamu gila, ya! Aku ini baru keluar dari rumah sakit!"
Namun, Vincent yang sudah kehilangan akal sehatnya mengabaikanku dan menggigit bahuku.
Aku langsung mendorong pria itu menjauh dan menamparnya.
Vincent sontak menjadi murka, tetapi dia menolak untuk menyerah dan menarikku lagi. Dia berusaha meniduriku, tetapi pada akhirnya malah membenturkan kepalaku ke sudut meja.
Darah pun perlahan menetes dari dahiku.
Vincent sontak tertegun dan refleks memapahku.
"Kenapa kamu nggak menghindar ...."
Aku terhuyung mundur beberapa langkah dan mencoba berbicara, tetapi tubuhku tidak sanggup menopangku.
Pandanganku pun menggelap dan tubuhku terjatuh ke atas lantai.
Entah berapa lama waktu berlalu. Yang jelas, aku perlahan tersadar karena mendengar suara pertengkaran sengit antara Vincent dan ayahnya.
Saat membuka mata, aku mendapati diriku berbaring di ranjang rumah sakit yang dingin.
Begitu melihatku siuman, Vincent pun menghela napas lega. Dia menatap ayahnya dengan ekspresi kesal.
"Inikah istri sempurna yang Ayah pilihkan untukku? Dia bahkan nggak pulang di saat hari sudah malam gara-gara sibuk berkencan sama pria lain di luar sana!"
"Kencan apa!" tegur Reyhan dengan tubuh yang gemetar karena marah. "Kamu tahu nggak kemarin Abella pergi ke mana untuk melakukan apa!"
"Ayah, semuanya sudah berlalu," selaku dengan nada bicara yang tegas.
Reyhan menatapku. Amarahnya mereda setelah melihat sorot lelah dan penuh tekad dalam pandanganku.
Dia pun mengibaskan tangannya dengan acuh tak acuh.
"Karena dia sudah siuman, berarti urusanku di sini selesai. Syafana masih menungguku, jadi aku pergi dulu."
"Berhenti kamu!" bentak Reyhan.
"Ayah nggak peduli kamu mau ke mana hari ini, tapi besok kamu harus pulang ke rumah Ayah bersama Abella!"
Belum sempat Reyhan selesai bicara, sosok Vincent telah keluar dari pintu dan menghilang.
Reyhan pun menghela napas dan menyodorkan surat cerai kepadaku.
"Ayah sudah mengurus surat ceraimu dengan Vincent. Begitu kamu tanda tangan, pernikahan kalian akan benar-benar berakhir."
"Abella, besok adalah hari pemakaman putra kalian. Ayah harap kamu bisa datang untuk mengantarnya."
Aku menatap pria tua yang rambutnya sudah beruban itu dan akhirnya hatiku melunak.
Keesokan paginya, aku datang ke rumah lama Keluarga Gredi dengan mengenakan pakaian hitam.
Sejak lahir, akulah yang mengurus anakku.
Sayangnya, takdir berkata lain. Bayi yang baru berusia satu bulan itu harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
Aku menghapus air mataku, hatiku terasa hampa seolah-olah semua yang mengikatku ke dunia ini telah hilang.
Vincent sama sekali tidak muncul, bahkan hingga anak kami dikuburkan.
Beberapa jam kemudian, dunia maya pun menjadi heboh.
Foto Vincent dan Syafana yang sedang mencoba gaun pengantin di studio pengantin kelas atas tersebar.
Syafana pun mengirim pesan dengan angkuh.
[Terus kenapa kalau kamu punya anak? Pada akhirnya, yang Vincent pilih itu aku.]
[Oh ya, apa kamu pikir Vincent yang merawatmu saat kamu pingsan? Waktu itu dia terus bersama denganku.]
[Kami ada di kamar rawat VIP di sebelahmu. Kami mencoba banyak posisi baru, kasurnya empuk juga.]
Aku tidak memberikan tanggapan. Aku hanya meneruskan semua pesan dan foto itu ke Reyhan.
Setelah itu, aku mengambil sebuah kotak hadiah berbahan kulit.
Pihak rumah sakit memberiku cap telapak kaki dan foto kaki bayiku di hari dia dilahirkan.
"Nak, Ibu akan selalu menyayangimu," bisikku.
Aku pun melepas cincin berlian yang melingkari jari manisku dan mengucapkan selamat tinggal kepada Reyhan.
Malam itu, Vincent kembali ke rumah lama Keluarga Gredi dengan tubuh yang berbau alkohol.
Suasana di ruang tamu terasa suram dan dingin, hanya ada satu lampu gantung yang menyala.
Meja panjang yang berada di tengah dilapisi kain beludru hitam dan diterangi lilin.
Sebotol mawar putih berdiri dengan tenang di bagian depan.
Vincent sontak tertegun dan refleks mengambil setengah langkah mundur.
"Siapa ... yang meninggal? Apa ... ibunya Abella?"
Vincent langsung menjadi panik, dia bergegas menemui para pelayan untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ini? Mana Abella? Bagaimana kondisi ibunya? Dia pasti sedih sekali, 'kan? Aku harus menemaninya."
Reyhan pun bangkit berdiri dari balik kegelapan, lalu melemparkan surat cerai ke dada Vincent dengan kasar.
"Ibu Abella sudah meninggal dunia! Lalu, hari ini adalah hari ketujuh setelah kematian putramu yang usianya bahkan belum ada satu bulan itu!"
"Abella juga sudah pergi!"