"ADUH!" teriak Runa saat kepalanya terkena lemparan gayung dari tetangga yang benci dengan dirinya.
"Dasar cewek ganjen! Jual diri lo sana di pinggir jalan! Jangan ngelonte di daerah sini! Bikin resah lo, Runa!" teriak wanita dengan daster yang ia angkat hingga sepaha.
"Eh! Suami Ibu aja yang keganjenan! Saya baru pulang kerja, lewat gang depan, malah di colek-colek sama suaminya! Saya hajar sekalian, baru di pelintir begitu udah mengsol tuh tangan, kan! Rasain!" teriak Runa membalas.
"Ada lo di sini resahin tau nggak lo, Runa! Kerja apa yang jam dua pagi baru balik! Ngelonte kan lo!"
Runa melotot, ia menghampiri tetagga dekat rumahnya. "Jangan asal ucap lambe jeber anda ya, Ibu. Saya tanya, ngapain suami Ibu malam-malam masih nongkrong! Nggak dapet service dari istrinya? Pantesaannn." Runa bersedekap, berbicara dengan dagu terangkat.
"Udah kere, belagu lo, Run! Kalau mau jual diri yang jauh sana!" Hina wanita itu. Runa mendengkus dan menekan ujung pipi dalamnya dengan lidah. Ia menatap sinis ke tetangganya itu.
"Lihat ya, Bu, suatu hari saya beli omongan Ibu itu pake duit segepok. Saya lempar ke muka Ibu dan Ibu harus keliling RT ini sambil teriak. Runa bukan orang Kere! Saya minta maaf!. Setuju? Dan saya akan dapatkan uang itu dengan cara yang baik. Bukan melacur kayak Ibu fitnah. Anak Ibu perempuan, baik-baik kalo ngomong! Sialan."
Runa berjalan kembali ke dalam rumah, tampak Adik laki-lakinya yang memakai seragam SMA hanya bisa menghela napas. "Kak, sabar dikit sih, jadi orang, kasihan Ibu sama Bapak kalau heboh lagi gossip tentang lo di sini," ucap Arbi yang sudah memakai sepatunya.
"Biarin aja! Emang tuh mulutnya parah banget. Nuduh gue ngelonte, kampret. Lakinya aja yang gatel colek-colek gue semalam." Omel Runa.
"Kakak sampai kapan kerja jadi cleaning service bioskop itu jadinya, coba cari kerjaan lain, Kak."
"Kalo ada ya gue mau, Bi, tapi apa, yang cepet cuma jadi cleaning service ini. Doain gue deh, Bi, siapa tau ada orang kaya yang mau jadiin gue istri muda. Nggak masalah. Biar lo bisa sekolah, kuliah, dan gue sumpel tuh mulut orang resek!"
Runa begitu emosi. Arbi mencium pipi Kakaknya lalu pamit berangkat sekolah. Runa hanya bisa memasrahkan, fitnah untuk dirinya tak akan pernah berhenti sampai ia membuktikannya suatu hari nanti.
***
Ia duduk di teras, selesai menjemur pakaian miliknya yang ia cuci. Tatapannya menerawang, helanaan napas kasar juga ia tunjukkan. Tubuhnya ia sandarkan pada dinding, mengusap kasar wajahnya karena kesal terus-terusan dihija juga difitnah seperti itu.
Wajah Runa cantik, memang tak sedikit para pria gang rumah mereka menggoda Runa. Padahal, dari segi pakaian pun, ia tak pernah menggunakan pakaian seksi apalagi ketat mencetak tubuhnya. Runa begitu sederhana, hanya memang tubuhnya proporsional dengan rambut panjang lurus sepunggung yang menambah daya tariknya.
Ia merogoh ponsel seri lawas yang lima tahun kebelakang menemani. Ponsel yang hanya biasa ia gunakan untuk berkirim pesan dengan keluarganya, boro-boro untuk bergosip bersama teman-teman, Runa sendiri tak banyak punya teman. Ia sibuk bekerja.
Pintu pagar kecil itu terbuka, seseorang datang dengan membawa keranjang berisi nasi kuning yang sudah rapi dibungkus mika putih. Runa beranjak. "Gue kunci pintu dulu, bentar, ya," ujarnya sembari berjalan ke dalam rumah, mengambil tas selempang untuk menaruh ponsel dan dompetnya.
"Gue taroh sini, ya, Run, di rumah masih ada dua keranjang lagi, isi kue-kue, kita ketemuan di depan aja, nanti jalan ke pasarnya barengan!" teriak tetangga satu RT yang dibantu Runa berjualan hasil masakan ibunya. Lumayan, Runa bisa mengantongi keuntungan dagang lima puluh ribu, untuk tambahan ongkos sehari-hari. Berjualan di pasar hanya lima jam, jika tak cepat laku, jika cepat, dua jam sudah habis.
Runa mengunci pintu. Lalu berjalan keluar pagar yang juga ia gembok. Keranjang kotak seperti keranjang piknik itu dibawa Runa dengan lengannya.
"Oy! Runa! Cewek gatel! Mau jualan apa lo! Hari gini jual diri di pasar mana laku! Malam kalau mau! Banyak tuh yang suka mangkal!" teriak tetangga dekat rumahnya yang tadi pagi melemparnya pakai gayung. Runa diam, ia berbalik badan menatap wanita itu yang berkacak pinggang.
"Apa! Berani lo lihatin gue kayak gitu! Anak tukang gorengan aja, blagu lo. Godain laki orang. Alasan aja lo pulang kerja jam dua pagi. Habis ngelonte, kan, lo! Lo pikir gue nggak tau!" Makinya lagi. Runa berdecih sebal, jika tak ingat sedang membawa dagangan orang, ia sudah menghajar wanita itu dengan tangannya.
"Ck. Udah ngehinanya?" tanya Runa sinis. Menatap penampilan wanita itu dari atas sampai bawah.
"Eh...! Kurang ajar. Berani amat lo lihatin gue kayak gitu. Emang dasar lonte!" teriaknya sambil berjalan menghampiri Runa yang tersenyum sinis diam di tempat.
Keduanya berhadapan. Runa tak gentar. "Sadar diri lu kere! Bukan berarti lu bisa ya ngegodain laki orang." Makinya lagi.
"Bu. Bisa hati-hati kalau ngomong, kan? Yang ngegodain siapa?! Ibu lihat sendiri emangnya? Saya pulang kerja. Pu-lang ker-ja! Tanya orang bioskop tempat saya kerja! Mulutnya hati-hati kalau ngomong. Berbalik ke diri sendiri baru rasa!" Runa kesal. Ia berbalik badan, berjalan kembali namun, ia teriak karena rambutnya di jambak wanita tadi. Runa mencoba melepaskan cengkraman itu namun tak bisa, hingga tetangga lain berkerumun dan melerai. Runa jatuh tersungkur karena di dorong wanita tadi. Perlahan ia beranjak, melihat isi keranjang dagangan masih aman.
Ia berdiri, merapikan kunciran rambutnya lalu menghela napas. Dengan santai ia berjalan kembali ke arah luar gang.
"Enak banget mulutnya, ngatain orang tanpa bukti. Tetangga ratu gosip, biang julid, nggak takut nanti bakal berbalik ke diri dia sendiri." Gumam Runa sembari berjalan semakin ke arah depan gang yang langsung jalan raya.
Ia berjalan kaki hingga ke pasar yang jarak satu kilo meter. Malas naik angkot. Ia berjalan kaki juga sembari menjajaki daganganya. Dan lumayan, dari dua puluh lima nasi kuning, sudah laku tujuh. Runa tak pernah malu berjualan, bekerja keras demi sekolah adiknya, meringankan beban orang tuanya juga, walau, ia mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Baginya, keluarga segalanya.
Orang tua Runa bahkan sudah sering menangis karena Runa selalu dihina padahal tak salah apa-apa, tetangganya lah yang suka termakan omongan orang-orang. Namun, berkali-kali Runa mengingatkan orang tuanya jika tak perlu ambil pusing dengan oceham tetangga julid. Mereka bisanya fitnah. Berbicara seenaknya tanpa melihat bukti apalagi mencoba bertanya secara langsung. Runa kebal dengan hinaan, tapi ia bertekad akan membuat orang-orang tersebut, suatu hari akan malu karena ulahnya dan Runa akan membayar mulut-mulut orang itu dengan uangnya sendiri.
Banyak yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dikehidupan seseorang, sampai mereka bisa dengan gamblang main menilai tindakan orang lain. Nasib Runa begitu, ia yang bekerja sebagai cleaning service di bioskop, harus dianggap jika ia bekerja melonte karena pulang selalu pukul 2 pagi. Mau dijelaskan ke orang-orang juga percuma, toh memang mulut manusia banyak yang sukanya nyinyir tanpa bertanya.
"Hari ini jualan di terminal lagi, Bu, Pak?" tanya Runa yang membantu membawa ember berisi adonan tepung gorengan. Ya, kedua orang tua Runa berjualan gorengan di gerobak, mereka berdua seringnya mangkal di terminal. Sudah belasan tahun mereka jalani. Dulu, saat Runa dan Arbi kecil, Bapaknya bekerja sebagai petugas pengantar surat, tapi karena kecelakaan lalu lintas, membuat Bapak tak lagi bisa bekerja karena tulang kakinya yang patah. Sekarang saja jalannya agak pincang efek operasi.
"Iya, Run. Eh iya, kamu jangan ladenin tetangga depan situ ya, diemin aja. Kalau perlu senyumin, dia udah terkenal mulutnya julid dan tukang tuduh, kan?"
"Yah, Ibu, masa harga diri Runa diinjek-injek Runa diem. Enggak lah, bodoh amat. Sekali-sekali hajar, Bu. Kemarin Runa di timpuk gayung. Kan kurang ajar."
"Ya Allah, kamu di lempar gayung?!" Bapak tampak terkejut. Runa mengangguk.
"Keluarga kita hina amat kayaknya ya, padahal kamu kerja jadi cleaning service, bukan jual diri kayak yang dia hebohin. Ck! Sabar ya, Run, mudah-mudahan nanti nasib kita bisa berubah. Bapak yakin. Arbi, kamu juga hebat, Bapak bangga kamu nggak malu jadi anak tukang gorengan, tapi punya cita-cita jadi polisi."
Arbi duduk di sebelah Bapaknya, meletakkan tas sekolahnya lalu merangkul bahu Bapak. "Kalau kita fokus dengerin omongan orang lain. Nggak akan maju, Pak, akan banyak yang suka sama enggak ke kita. Dibawa santai aja." Arbi tersenyum. Ia lalu beranjak dan membantu merapikan bahan untuk gorengan seperti Ubi, Pisang, Singkong dan adonan bakwan. Sementara Runa membersihkan kaca gerobak dengan kain lap, menata plastik pembungkus juga. Kedua anaknya memang kompak dan harus tumbuh dengan banyak cibiran. Wajar, karena Runa cantik, dan Arbi tampan. Kulit putih juga hidung bangir, membuat keduanya seolah tak dipercayakan orang jika hidup mereka Kere alias melarat alias biasa aja.
"Run, kamu jadi ambil kerja sambilan juga? Nggak cape?" tanya Ibu yang bersiap dengan memakai kerudungnya.
"Nggak. Cuma anter-anter pesenan makanan catering Bu Kathy, itu juga dari jam delapan sampai jam sepuluh, kata Bu Kathy lumayan uangnya, nggak jarang orang-orang kaya raya itu kasih uang lebihan untuk yang antar." Jawaban Runa membuat Bapak dan Ibunya mengangguk.
"Ambil, Kak, lumayan itu. Arbi berangkat ya, mau ke tempat periksa kesehatan dulu, untuk syarat test masuk Akpolnya." Pamit Arbi. Ia bercerita jika sekolahnya mengizinkan ia datang siang setelah pemeriksaan, dan Arbi juga masuk Akpol jika nanti lolos, melalui jalur beasiswa dan rekomendasi yang diajukan sekolah.
"Bi, Arbi! Bentar-bentar ...." Runa merogoh tas kecilnya, lalu memberikan uang lima puluh ribu ke tangan Adiknya itu. "Beli sarapan sama susu, biar nggak lemes ya. Sukses!" ucap Runa menyemangati Adiknya. Arbi mengangguk dan setelah pamit satu persatu, ia bergegas berjalan keluar pagar.
"Kamu masih ada uang simpanan, Run?" tanya Ibu.
"Masih, tenang aja, Bu. Nanti kunci Runa bawa ya, kan cuma sebentar doang, antar-antar pesanannya." Runa menutup pintu kaca gerobak gorengan, lalu Bapak dan Ibu berjalan keluar teras kecil rumah di gang sempit itu.
"Hati-hati ya, Pak, Bu, telepon Runa kalau ada apa-apa, udah Runa isi pulsanya kemarin di HP Bapak," sambung Runa kemudian. Bapak dan Ibu mengangguk. Mereka mendorong gerobak keluar pagar, berjalan bersama keluar gang, menuju ke jalan raya besar. Jarak dari rumah ke terminal bis hanya satu kilometer, gak terlalu jauh, Runa juga tak perlu khawatir.
***
"Kamu bisa nyetir mobil, Run, beneran?" tanya Bu Kathy ragu.
"Bisa, Bu, matic, kan mobilnya? Runa dulu pernah belajar sama temen waktu kerja di tempat kursus mobil. Eh lama-lama jadi bisa, percaya Runa, Bu." Begitu percaya diri wanita 23 tahun itu yang hanya mengenyam pendidikan hingga SMA. Ia lalu pamit dan masuk ke dalam mobil itu. Bu Kathy tersenyum dan meminta Runa hati-hati.
Pelanggan catering harian Bu Kathy memang orang-orang komplek elit. Setiap hari akan ada pengantaran dan mencangkup 4 RT dengan 1 RT hanya ada 15 Rumah dengan ukuran luar biasa besar-besar. Runa di berikan data alamat dan kotak mana milik siapa. Jangan sampai salah intinya.
Runa mulai melajukan Avanza silver itu pelan saat masuk ke area komplek elit. Ia berhenti di pos penjagaan. "Pagi, Pak, saya dari catering Bu Kathy, mau antar makanan." Runa memberikan KTPnya yang di tukar dengan ID Card tamu.
"Biasanya Mas Sony, kok jadi cewek yang antar?"
"Oh, Mas Sony pegang untuk antar ke kantor-kantor, Pak, permisiii..." pamit Runa yang mendapat anggukan satpam.
Ia mulai mengantar sesuai urutan, benar ucapan Kathy, baru sepuluh rumah, ia sudah mendapat tips uang enam puluh ribu. "Masih ada 20 rumah lagi, habis ini, ambil 30 lagi untuk diantar satu jam lagi. Mantap juga duitnya, cash lagi, makasih Bu Kathy..." begitu riang Runa. Ia bisa cepat mengumpulkan uang untuk membeli sepatu Bapak dan Ibu, supaya saat berjualan kakinya tak mudah lelah karena pakai sandal biasa.
Rumah demi rumah sudah ia antar makananya, hingga putaran kedua juga sudah. Tersisa satu, rumah di Blok F nomor 5. Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. Ia turun, membawa kantong besar berisi menu catering hari itu. Sop buntut untuk 5 porsi, Ayam balado satu ekor, lalapan, dan tempe tahu bacem. Dengan total harga setiap hari pengantaran 200ribu rupiah.
"Orang kaya mah bebas aja ya, mau jajan sehari berapa juta juga, ck... ck. Permisi Pak satpam!" Teriak Runa. Tak butuh waktu lama, pagar besar itu bergeser otomatis. Lalu muncul satpam rumah.
"Saya Runa, dari Catering Bu Kathy, mau antar makanan hari ini," ucap Runa seraya menyerahkan kantung besar, tapi satpam menolak. Runa baru tau, kalau ia harus mengantar sampai dalam, di letakkan di atas meja makan dan menatanya. Runa mengangguk, ia mengikuti langkah kaki satpam. Begitu besar rumah itu, ia masuk melalui pintu dapur, lalu meniti beberapa anak tangga dan sampai ke ruang makan. Jelas suasana rumah orang kaya raya terlihat megah. Lampu kristal dan hiasan lainnya juga begitu wah!
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Runa kepada wanita yang tampak bersiap berangkat kerja. Setelan formalnya tampak mewah juga. Runa bergidik sendiri membayangkan berapa harga satu stel baju itu.
"Dari catering Bu Kathy?" tanyanya. Runa mengangguk. "Ditata yang rapi ya, suami saya nanti makan jam sepuluhan, dia maunya cicipin satu satu, jadi kamu atur sebelah kanan makanan kuah, yang kiri sisanya. Mangkuk juga tolong siapin, minta sama Bi Jum. Kalau Sony sudah tau, dia pindah ke pengantaran catering kantor, ya," tanya wanita yang harum tubuhnya juga tercium kemewahan.
"I... iya, Nyonya, tapi apa ini nggak lancang? Saya, sungkan." Runa sedikit ragu.
"Nggak kok, saya minta tolong ya, duh... saya buru-buru. Ini uang tipsnya, tolong lakuin setiap hari ya, nama kamu siapa?"
"Saya, Runa, Nyonya." Jawab Runa. Wanita itu mengangguk. "Saya pamit ya, buru-buru. Makasih Runa, BTW, kamu udah siap nikah nggak?"
"Hah? Maksudnya apa, Nyonya?" Runa menatap Nyonya rumah itu bingung.
"Nanti deh, di obrolin, feeling saya, kamu yang cocok. Tinggalin nomor HP kamu, ya!" Nyonya rumah itu berjalan ke teras depan, supir dan mobil mewahnya sudah menunggu di sana.
Satpam menatap Runa, karena Runa tercengang saat melihat uang tipsnya. 300rb.
"Pak Satpam, ini banyak banget. Ini selembar untuk Bapak ya," uang itu di arahkan ke satpam. Satpam menolak, tapi Runa memaksa.
"Makasih ya, Mbak Runa. Nyonya memang begitu. Ayo Mbak, saya antar ke dapur, ketemu Bi Jum, untuk tau tempat mangkuk dan semuanya."
Runa mengangguk, ia lalu berjalan mengikuti satpam itu. Beberapa kali ia melihat keanehan pada rumah itu, tapi ia tak berani bertanya.
Membayangkan jadi orang kaya, sudah pasti impian setiap orang. Tak terkecuali Runa, yang tak mau hanya pasrah menerima nasib. Saat itu hari kedua ia mengantarkan catering makanan ke rumah-rumah, tak terkecuali rumah Blok F nomor 5 itu. Ia masuk setelah satpam membukakan pagar besar yang bergeser sendiri. "Pagi Mbak Runa, kebetulan, sudah ditungguin nyonya," ujar Pak Satpam. Runa mengangguk. Ia berjalan tak di antar satpam, karena ia sudah tau harus lewat mana. Hari itu, Runa memakai celana jeans, dan baju berkerah warna pink, kulit putihnya semakin bersinar jika ia memakai baju warna itu.
Bi Jum sudah menyambut Runa juga, ia menyapa dan membantu membawakan kantong besar itu. "Runa, ditunggu nyonya, ini biar saya yang siapin." Bi Jum mengambil alih, sementara Runa berjalan ke dalam rumah dengan pandangan ke mana-mana, alias, ia bingung di mana sosok Nyonya rumah itu.
"Runa, sudah datang? Kemari!" Panggil wanita itu. Ia mengangguk dan berjalan ke arah ruang tamu yang sejajar garis lurus dengan ruang makan, sedikit menyerong ke kiri, nah, di situ ruang tamu dengan nuansa minimalis.
"Duduk, Runa," ucap Astari, atau Tari biasa nyonya itu di panggil. Runa masih tak tau apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Tari.
"Kita langsung aja ya, jadi gini, Runa, saya sedang mencari perempuan yang bisa merawat suami saya, karena saya akan sangat sibuk nantinya. Saya nggak mau suami saya kesepian, saya rela jika harus melihat suami saya menikah lagi, bukan tanpa alasan jelas. Itu karena, suami saya buta, Runa. Tiga tahun lalu kecelakaan mobil, dia selamat tapi penglihatannya hilang. Saya akui, saya terpukul, saya kalut, dan saya sedih. Tapi, life must go on, bukan?"
Kalimat Tari terjeda. Runa masih terus menatap dan mencoba mencerna setiap kata yang terlontar.
"Saya mau ada sosok perempuan yang bisa layani kebutuhan dia, baik dalam urusan menemani dia saat kursus huruf braile, makan, menyiapkan pakaian, dan lain hal. Karena saya tidak akan sempat. Perusahaan butuh saya, dan saya harus fokus. Saya mohon Runa, dari sekian banyak kandidat, saya mendadak merasa srek sama kamu padahal baru sekali kita ketemu. Menikah sama suami saya, ya," ucapan Tari membuat Runa menganga.
"Kenapa, harus menikah, Nyonya? Saya bisa kalau bekerja di sini, seperti suster atau perawat?"
Tari justru tertawa. Ia menggelengkan kepala. "Runa, saya nggak mungkin biarin kamu tidur satu kamar sama suami saya tanpa ikatan, hampir tiap malam, suami saya itu suka mengingau tentang kecelakaan itu, dan itu mengganggu jam istirahat saya. Juga, kamu akan tinggal di sini, melakukan banyak hal dengan suami saya, tapi ... di pernikahan ini, tidak ada seks untuk kalian berdua. Saya yang tetap akan bertugas melayani suami saya. Bagaimana? Ini juga nggak cuma-cuma, Runa, saya akan bayar kamu, satu Milliyar."
"Hah!" Runa terkejut bukan main, uang sebanyak itu, membuat keringat dinginnya mengucur deras. Tari tersenyum.
"Saya akan kasih bertahap, pertama 200 juta, minggu ke dua 300 juta, bulan ke dua 300 juta, sisanya, 200 juta, saya berikan dalam bentuk emas batangan. Setuju?" tatapan Tari begitu serius. Runa mengangguk cepat tanpa perpikir panjang, ini kesempatannya. Kesempatan memiliki uang banyak dan membayar mulut-mulut orang-orang itu.
Tapi bagaimana cara dia berbicara kepada orang tua dan adiknya?
***
Bi Jum memberikan secangkir teh melati untuk Runa, ia duduk seorang diri di ruang tamu itu, menunggu Tari yang katanya akan memperkenalkan suaminya. Runa berdebar, bagaimana rupa pria itu, apakah seperti di sinetron-sinetron yang suaminya tua, atau bertubuh subur atau apa.
"Runa," suara Tari terdengar, ia menoleh.
'Ya ampun, ganteng banget'. ucap Runa dalam hati. Bagusnya, pria itu buta, jadi tak perlu lihat ekspresi Runa yang mupeng dan terpesona melihat ketampanan juga postur tubuh tinggi tegap. Tari menggandeng lengan pria itu. Wajahnya di tumbuhi kumis dan janggut sehingga tampak brewok yang alami.
"Vin, ini Runa, yang semalam aku ceritain ke kamu," ucap Tari. Kelvin diam, ia hanya mengulurkan tangan ke arah Runa yang ada di sebelah kanannya, tapi tangan Kelvin lurus ke depan.
Runa beranjak, ia meraih tangan Kelvin. "Runa..., Aruna Dewindari," jawab Runa sambil menatap mata Kelvin yang beriris cokelat.
"Runa setuju nikah sama kamu, kita lakuin ini segara siri aja, ya, Vin. Keluarga nanti aku kasih tau pelan-pelan, termasuk keluarga kamu yang jauh di Turki."
"Turki?" Lirih Runa. Tari mengangguk.
"Keluarga Kelvin di sana, mereka bangun usaha hotel dan restoran, belum soal saham minyak dan lainnya, Kelvin sendirian di sini, cuma ada saya dan keluarga saya, yang juga suka sibuk sama kegiatannya. Jarang bersama-sama," tukas Tari. Runa mengangguk paham, ia kembali duduk. Kali ini Kelvin berada di sebelahnya, diam.
"Kita percepat gimana? Besok bisa? Atau sore ini?" Tari begitu bersemangat, Kelvin diam.
"Saya harus bilang ke Bapak dan Ibu dulu, Nyonya, saya nggak mau sampai Bapak dan Ibu mikir saya yang pergi dari rumah tapi nggak jelas mau ke mana," ujar Runa memohon izin.
"Ok, tapi nikahnya besok ya. Saya harus terbang ke Bali sore harinya. Empat hari saya di sana." Tari menegaskan lagi. Runa mengangguk. Senyum tari merekah sempurna. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa.
"Vin, aku akan urus bisnis kamu, perusahaan kamu harus cepat-cepat naik lagi levelnya kayak waktu kamu pegang, aku minta maaf kasih ide ini ke kamu, aku udah bilang ke Runa, kalau dia harus layanin kamu, tapi nggak untuk urusan seks. Itu tetap tugas aku, paham kan, Vin." Suara Tari memang mendayu-dayu, ia lalu menangkuk wajah Kelvin dan mengecup bibir suaminya. Runa menunduk, ia malu melihatnya.
"Terserah," jawab Kelvin kemudian. Runa melihat sorot mata lain, seperti sendu dan sedih, tapi ia memilih diam. Ia bingung sendiri, bagaimana cara menyampaikan kepada orang tuanya nanti.
***
"Kamu gila, Runa!" Maki Bapaknya. Runa diam, ia perlahan menatap ke sorot mata Bapaknya, lalu berganti ke Ibunya.
"Pak, dia buta, udah gitu kasihan Runa lihatnya. Istrinya bayar Runa satu Miliyar Bapak. Ini kesempatan langka. Pak, izinin ya, Pak, nikahin Runa sama Kelvin. Eh, tuan Kelvin." Runa mencoba memasang senyuman di wajahnya. Bapak dan Ibu menghela napas.
"Apa seambisi ini kamu, nak? Ini bukannya sama aja jual diri kamu?" Kini Ibu yang bersuara. Runa menggelengkan kepala cepat.
"Beda dong, lagian, Bu, Pak, nanti ada perjanjian yang Runa tanda tanganin, udah gitu, ini tuh, kita tidur sekamar, tapi nggak berhubungan badan, Nyonya Tari udah ultimatum itu. Juga, kalau nanti Runa langgar, Runa bisa dihukum penjara, karena dianggap rebut suami Nyonya Tari dan berzina sampai hamil. Amit-amit deh, Bu, Pak. Ini demi uang, kita bisa hidup lebih enak, Ibu sama Bapak nggak usah jualan gorengan. Tetap tinggal di sini, tapi nanti Runa beli rumah kontrakan ini, dan kita renovasi. Arbi juga bisa kuliah jurusan lain kalau nggak jadi masuk akpol. Ya, Bu, Pak," bujuk Runa.
Lama hening terasa, hingga Bapak menganggukan kepala dan membuat Runa lega. Tapi raut wajah Ibu mendadak sendu seraya menatap putrinya. "Jangan sampai tergoda dan kamu hamil ya, nak, besar resikonya." Kata-kata Ibu dijawab anggukan kepala oleh Runa. Ia mengirimkan pesan singkat ke Tari, sebelumnya ia sudah menyimpan nomor ponsel Tari sesaat sebelum pulang ke rumahnya.
Runa merasa lega, ia tersenyum sinis, membayangkan rencana-rencananya untuk orang-orang yang meremehkan, juga menghina ia dan keluarganya.
"Permainan di mulai, gue mau lihat muka lo semua yang udah hina gue dan keluarga gue." Ia bermonolog sendiri.