Iring-iringan pelayat tampak menghadiri pemakaman di area Tempat Pemakaman Umum yang tak jauh dari sebuah desa. Para pelayat yang tak seberapa itu berjalan mengikuti keranda yang dipikul empat orang pemuda dan berhenti di depan sebuah liang besar yang baru selesai digali.
Di samping liang, keranda itu lalu diturunkan. Penutup keranda yang dilapisi kain berwarna hijau lantas dibuka. Tampak jasad yang tertutup kain jarik panjang menyelimuti tubuh yang sudah kaku. Seorang gadis muda terlihat menangis saat jasad itu diangkat dan bersiap untuk dimakamkan.
"Zahra, kamu yang ikhlas, Nak. Doakan ibumu agar diterima di sisi Allah. Jangan buat beban ibumu dengan air matamu itu," ucap seorang ibu yang duduk di samping gadis muda yang berusia 23 tahun itu.
Gadis itu menyeka wajahnya yang basah karena air mata dengan sapu tangan dan berusaha menahan air matanya agar tidak kembali jatuh. Tatapannya tertuju pada jenazah ibunya yang sudah diletakkan di dalam liang lahat.
Walau sudah berusaha untuk tidak menangis, tetapi air bening itu selalu mencari celah untuk keluar. Tanpa isakkan, hanya tangisan tanpa suara yang mengiringi kepergian sang bunda untuk selamanya.
Tanah basah menutupi jasad yang terbaring kaku dengan diiringi sebait doa yang dipanjatkan untuk sang bunda. Doa yang mengantar kepergian untuk menghadap Sang Khalik. Doa dari seorang anak yang telah kehilangan kasih sayang, kehilangan tempat untuk berteduh, dan kehilangan tempat untuk mengadu.
Pusara bertuliskan nama dari jasad yang sudah dimakamkan itu tertancap di atas tanah makam dengan diiringi taburan bunga yang menutupi tanah merah.
Satu per satu pelayat kemudian meninggalkan area pemakaman. Sementara sang gadis masih duduk di depan makam sambil menyentuh papan pusara seraya menciumnya. Air matanya kembali jatuh saat mengenang kebersamaan dengan sang bunda untuk terakhir kalinya.
"Zahra, maafkan Ibu, Nak." Seorang wanita paruh baya tampak menangis sambil membelai lembut puncak kepala anak gadisnya itu.
"Ibu, jangan menangis lagi. Zahra akan menemani Ibu. Zahra tidak akan meninggalkan Ibu sendirian."
Zahrana, gadis muda yang penurut. Tak pernah sekali pun dia membantah ucapan ibunya. Gadis yang berusia 23 tahun itu tampak ayu. Wajah cantik nan polos ala gadis desa begitu melekat pada dirinya. Tak sedikit para ibu yang membandingan anak gadis mereka dengan dirinya. Di mata mereka, Zahrana adalah anak yang baik. Gadis penurut yang tidak pernah membantah ucapan ibunya. Gadis yang menjadi bunga desa karena kecantikannya yang alami.
Namun, semua itu tidak sebanding dengan kehidupannya yang harus merasakan kegetiran setiap kali melihat ayahnya pulang dalam keadaan mabuk.
Ya, ayahnya adalah seorang pemabuk ulung. Setiap pulang ke rumah, lelaki yang sudah tidak muda lagi itu selalu dalam kondisi mabuk. Tak hanya itu, perhiasan sang istri yang disimpan untuk masa depan anak gadisnya, harus diikhlaskan lantaran dicuri olehnya hanya untuk membeli minuman keras. Bukan hanya itu, uang yang disimpan di dalam lemari juga raib untuk dipakai modal berjudi.
Kebiasaan mabuk dan berjudi sudah menggerogoti hidupnya sejak tiga tahun lalu. Tepatnya, setelah sawah dan tanahnya habis disita rentenir karena tidak sanggup membayar hutang.
Sejak saat itu, kehidupan Zahrana berubah drastis. Gadis manis yang bercita-cita melanjutkan kuliah di kota terpaksa harus kandas karena sudah tidak lagi memiliki biaya. Dengan terpaksa, dia dan ibunya harus bekerja keras untuk menghasilkan pundi-pundi uang demi mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Walau begitu, Zahrana tidak berputus asa. Dengan sepenuh hati, dia membantu ibunya bekerja menjadi buruh cuci di rumah salah satu tetangganya.
Hasil menjadi buruh cuci hanya bisa mencukupi kebutuhan makan selama seminggu. Itu pun kalau tidak diambil paksa oleh ayahnya. Terkadang, mereka bisa sedikit berhemat jika ada tetangga yang berbaik hati memberi sedikit beras.
Dari hari ke hari, kebiasaan ayahnya semakin menjadi. Dia selalu pulang di tengah malam sambil mengetuk pintu rumah dengan kasar. Jika belum dibuka, dengan marahnya dia akan menendang pintu yang terbuat dari bahan triplek itu hingga berlubang. Bau alkohol seketika menyeruak begitu dia memasuki rumah. Di saat seperti itu, Zahrana dan ibunya memilih untuk mengunci diri di dalam kamar.
"Widya, mana makananku? Cepat buka pintu!" Lelaki itu mengetuk dengan kasar pintu kamar Zahrana karena dia tahu istrinya bersembunyi di kamar anak gadisnya itu.
"Bu, jangan keluar! Biarkan saja Bapak begitu. Aku takut Bapak akan berbuat kasar lagi pada Ibu." Zahrana memegang tangan ibunya agar tidak keluar, tetapi sekuat apa pun dia memohon ibunya tetap memilih untuk keluar.
Walau kecewa, Zahrana tahu kalau semua yang dilakukan ibunya karena bakti terhadap sang suami. Bakti yang tak sepatutnya dibayar dengan sebuah tamparan.
"Bapak kenapa menampar Ibu? Apa Bapak sudah tidak lagi menyayangi kami?"
Zahrana menangis saat melihat ibunya ditampar. Pipi kiri wanita itu memerah dengan bekas telapak tangan yang terlihat di kulit wajahnya.
"Bapak sungguh keterlaluan! Kenapa Bapak tega menampar Ibu? Apa kami bersalah hingga Bapak seperti ini?" Zahrana masih menangis sambil memeluk ibunya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Beraninya kamu membentakku!"
Lelaki itu menarik paksa tangan Zahrana dan berusaha mengeluarkannya dari dalam rumah, tetapi istrinya melerainya hingga terjadilah percekcokan.
"Pak, jangan lakukan ini pada anak kita! Dia tidak salah apa-apa. Jika Bapak marah, marah saja padaku, jangan pada Zahrana!"
Wanita itu mencoba membela anaknya, walau dia tahu dirinya akan mendapat konsekuensi atas tindakannya itu.
Benar saja, wanita itu kemudian dijambak dan tubuhnya dilempar ke tembok. Kepalanya terbentur dengan sangat keras di dinding rumahnya hingga membuatnya memegang kepala yang mulai terasa pusing.
"Ibu!" pekik Zahrana saat melihat ibunya terduduk sambil memegang kepalanya yang basah dengan darah segar. Darah yang keluar dari sela-sela rambutnya yang mulai memutih.
Bukannya kasihan, lelaki itu malah kembali menarik paksa Zahrana untuk keluar dari dalam rumah. Tatapan matanya begitu liar sambil menatap ke arah Zahrana yang menangis mengiba.
"Pak, jangan lakukan ini pada kami! Tolong kasihani aku dan Ibu. Biarkan aku melihat Ibu!"
Gadis itu menangis mengiba dan memohon untuk sekadar melihat keadaan ibunya, tetapi lelaki itu malah melemparnya keluar dari dalam rumah hingga terduduk di depan halaman.
"Pergi kamu dari rumahku! Dasar anak pembawa sial! Aku menyesal karena sudah membawamu ke rumah ini. Dasar anak pelacur!"
Bagaikan sebuah godam menghantam dadanya. Rasanya begitu sakit, hingga membuatnya menangis dalam diam. Ucapan yang terdengar sangat menyakitkan hatinya. Ucapan yang sering didengarnya jika lelaki itu.mulai marah-marah.
Walau begitu, Zahrana tidak peduli. Dia berusaha bangkit dan membuka pintu rumah yang sudah terkunci. Satu per satu tetangga mulai berdatangan, tetapi mereka hanya mampu melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.
Kelakuan lelaki itu sama sekali tidak bisa dilerai. Pernah mereka melerainya, tetapi dia membalasnya dengan memukul istrinya hingga lebam. Walau sudah dilapor ke polisi, tetapi lagi-lagi dia hanya mendapat hukuman penjara beberapa hari saja. Setelah itu, dia pun dibebaskan dan kembali mengulangi perbuatannya. Akhirnya, mereka tidak ingin lagi ikut campur dan tak peduli padanya.
Namun, malam itu menjadi petaka bagi Zahrana. Dia berusaha membuka pintu yang sudah terkunci, tetapi pintu tidak bisa terbuka. Bahkan, dia berusaha mendobrak, tetapi sama saja. Melihat kondisi ibunya yang melemah, membuatnya memutar otak untuk bisa masuk ke rumah.
Dari balik kaca jendela, dia melihat ibunya berusaha menahan kaki lelaki itu untuk tidak pergi. Ayahnya telah keluar dari kamar sambil membawa beberapa lembar uang seratus ribuan, hasil dari mereka mencuci. Uang yang menjadi harapan untuk satu minggu ke depan.
Melihat suaminya ingin membawa uang itu, Widya berusaha menahannya, tetapi kembali dia harus merasakan tendangan demi tendangan yang mengarah ke kepalanya.
Melihat perjuangan ibunya, Zahrana berteriak histeris sambil mendobrak pintu, "Jangan pukul ibuku! Aku mohon, jangan pukul ibuku!"
Zahrana berteriak sambil berusaha membuka pintu. Tidak lama kemudian pintu pun terbuka. Lelaki itu keluar dan mendorong tubuh Zahrana agar menjauh darinya. "Minggir anak haram!"
Zahrana tidak peduli dengan ucapan ayahnya. Dia memilih masuk ke rumah untuk melihat ibunya. Betapa dia terkejut saat melihat ibunya terkapar dengan luka di kepala yang mengeluarkan cairan merah.
"Ibu!" Zahrana meraih kepala sang ibu ke atas pangkuannya. Air matanya jatuh melihat ketidakberdayaan ibunya saat berusaha menyentuh wajahnya. Dengan tangan gemetar, Zahrana meraih tangan ibunya yang penuh darah dan meletakan di pipi kirinya.
"Anakku, maafkan Ibu, Nak. Ibu telah menyeretmu dalam kehidupan yang kejam ini. Jangan dengarkan apa kata bapakmu karena bagi Ibu kamu adalah permata hati dan satu-satunya anakku. Walau aku bukan Ibu kandungmu, tetapi bagi Ibu kamu adalah darah dagingku."
Zahrana mengangguk dengan isak tangis yang tak mampu ditahan. Wajah ibunya telah berlumuran darah. Rambutnya yang beruban telah merah berlumuran darah.
Satu per satu tetangga berdatangan, tetapi terlambat karena wanita paruh baya itu kini telah terdiam dan takkan lagi merasakan sakit. Matanya kini terpejam dengan senyum terakhir yang ditujukan pada Zahrana. Senyum seorang ibu yang begitu mencintai buah hatinya.
Zahrana menangis dan berontak saat jasad ibunya dipisahkan dari pelukannya. Dia menangis karena tidak ingin berpisah dari wanita yang sudah menjaga dan menyayanginya sejak dirinya masih bayi.
Ya, Zahrana adalah anak yang didapat dari seorang wanita yang memintanya untuk menjaga bayi perempuan berselimut putih saat ditinggal ke kamar mandi. Wanita itu tak pernah kembali untuk mengambil bayinya, hingga membuat Widya terpaksa membawa pulang bayi itu ke rumahnya.
Malam itu adalah malam terakhir Zahrana bersama ibunya. Malam di mana dia merasa hidupnya sudah tidak lagi berharga. Malam di mana dia tidak lagi percaya dengan cinta.
Baginya, cinta hanya suatu perasaan palsu yang tak lagi berharga. Cinta tak lagi mempunyai tempat di hatinya hingga membuatnya bertekad untuk tidak akan pernah merasakan jatuh cinta.
Penggalan kisah sehari lalu masih terbayang diingatannya. Ucapan ibunya masih terngiang di telinganya. Kini, dia masih duduk seorang diri di depan makam ibunya.
Air matanya tak lagi jatuh walau matanya telah bengkak karena sedari malam terus menangis, tetapi entah mengapa, saat ini air bening itu enggan untuk jatuh dan berganti dengan gerimis yang perlahan turun membasahi bumi.
Walau air hujan sudah membasahi sekujur tubuhnya, Zahrana bergeming. Dia masih setia duduk memandangi papan pusara bertuliskan nama ibunya. Nama yang akan selalu dikenang hingga akhir hayatnya.
"Ibu, maafkan aku karena harus pergi meninggalkan Ibu sendirian di sini. Aku janji akan selalu mengunjungi Ibu. Ibu tidak usah mengkhawatirkanku karena aku akan baik-baik saja."
Gadis itu lantas bangkit dan mencoba memantapkan hatinya yang masih goyah. Namun, dia harus bisa menerima kenyataan. Sudah saatnya dia berani melangkah seorang diri. Dia harus berani menapaki jalan kehidupan yang akan dilalui.
Dengan tegar, dia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan makam yang kini tak terlihat. Perlahan namun pasti, dia berjalan meninggalkan masa suram walau diiringi dengan air mata.
Dari halaman, dia menatap sekitar. Terlihat beberapa tetangga sedang membersihkan rumahnya.
Bendera kuning masih terpasang di gang depan rumah. Melihat kedatangannya, salah seorang wanita menghampirinya.
"Zahra, ayo ke dalam. Ibu sudah menyiapkan makanan untukmu. Dari semalam, Ibu lihat kamu belum makan apa-apa. Ayo, Nak!"
Wanita itu memapah Zahrana masuk ke rumah. Setibanya di depan pintu, langkah Zahrana terhenti.
"Ada apa? Kenapa berhenti? Ayo, kita ke dalam!"
Zahrana memaksakan kedua kakinya untuk melangkah walau itu sangatlah sulit. Bekas darah di lantai sudah tidak lagi tampak, tetapi kejadian semalam tidak bisa hilang dari ingatannya. Suara ibunya masih terngiang hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Zahra, ikhlaskan kepergian ibumu. Ibu tahu kamu kehilangan, tetapi ibumu pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini. Ayo, makanlah dan setelah itu kamu harus beristirahat. Mulai malam ini hingga malam ke tujuh, kami akan menemanimu. Jadi, jangan khawatir karena ayahmu tidak akan berani datang ke sini. Ibu yakin, tidak lama lagi ayahmu pasti akan ditangkap oleh pihak yang berwajib."
Lelaki itu telah dinyatakan buron karena melakukan pembunuhan tidak berencana terhadap istrinya sendiri. Pemukulan yang berujung pada kematian hingga membuatnya dicari para penegak hukum.
Tanpa mereka sadari, seorang lelaki yang sedari tadi duduk di atas sepeda motor tampak memperhatikan mereka dari seberang jalan. Wajahnya tertutup helm. Setelah memperhatikan Zahrana, lelaki itu kemudian pergi.
Satu per satu tamu yang hadir di acara tahlilan tujuh hari kematian Widya mulai meninggalkan rumahnya. Acara yang diadakan berkat bantuan warga yang bahu membahu memberi sumbangan untuk membantu Zahrana sejak hari pertama ibunya meninggal. Hingga hari ketujuh, tak henti warga sekitar memberikannya bantuan. Entah berupa sedikit uang ataupun makanan.
Bagi mereka, Zahrana dan ibunya adalah orang yang sangat baik. Sejak dulu, Widya dikenal sebagai wanita yang pemurah.
Sebelum jatuh miskin, dia sering membantu warga yang datang meminta bantuan kepadanya. Entah berupa uang maupun bantuan lainnya. Dengan senang hati, dia akan memberikan tanpa memaksa untuk segera dikembalikan.
Karena kebaikannya itulah, warga sekitar dengan senang hati membantu Zahrana. Mereka tahu, saat ini gadis itu sangat terpukul dengan kematian ibunya. Kematian karena perbuatan ayahnya yang bejat.
"Nak, kalau kamu mau, kamu boleh tinggal bersama Ibu."
Bu Rina, tetangga dekat yang sudah menemani Zahrana sejak kematian ibunya. Wanita paruh baya itu menawarkan diri untuk membantunya. Bukan tanpa sebab dia mengajak Zahrana, tetapi karena rasa simpati pada gadis yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
Hubungan mereka cukup dekat. Bahkan, dia sempat menggoda Zahrana untuk menjadi menantunya. Secara, dia mempunyai seorang putra yang bekerja di kota. Putra yang tak pernah datang mengunjunginya dan hanya mengirimkan uang yang cukup besar bagi orang desa sepertinya.
"Terima kasih, Bu. Aku akan tetap tinggal di rumah ini. Ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja." Zahrana tersenyum seakan ingin menunjukkan kalau dia mampu menghadapi cobaan yang baru saja menderanya.
Wanita itu hanya bisa menerima keputusan Zahrana. Dengan terpaksa, dia kembali ke rumahnya.
Zahrana memandangi rumahnya dan masuk ke sana. Suasana rumah kembali sepi setelah tujuh hari rumah itu didatangi tetangga yang datang melayat maupun sekadar berkunjung untuk menemaninya.
Rumahnya sudah terlihat bersih dan diperbaiki oleh warga. Dan kini, dia harus kembali menjalani kehidupan seorang diri. Menjalani kehidupan tanpa ibu yang selalu memberinya semangat dan dukungan.
Zahrana duduk di atas kasur di mana dia dan ibunya sering tidur bersama. Dia meraih bantal guling yang sering dipakai oleh ibunya dan memeluknya seiring air mata yang perlahan jatuh. Wangi tubuh ibunya masih bisa tercium, hingga membuatnya mengeratkan pelukannya.
Isakkan tangis terdengar ketika kenangan bersama ibunya kembali muncul. Kenangan di mana mereka selalu bercanda dan tertawa bersama.
Zahrana membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata yang sudah beberapa malam terjaga. Rasa lelah dan kantuk seketika mengganggunya, hingga membuatnya terlelap dalam pelukan bayangan sang bunda yang memeluknya erat.
Zahrana terlelap begitu nyenyak. Wajah cantiknya terlihat polos dengan gurat kesedihan yang masih tampak. Kulitnya yang putih bersih membuatnya terlihat seperti putri tidur yang sedang terlelap.
Malam semakin larut. Suasana desa terlihat sepi. Yang terdengar hanya suara binatang malam yang saling bersahutan.
Di depan jalan, terlihat sebuah mobil van berwarna hitam berhenti tak jauh dari rumah Zahrana. Posisi rumahnya memang berhadapan dengan jalan utama.
Tiba-tiba, pintu samping mobil itu terbuka. Dua orang lelaki kemudian keluar setelah memperhatikan situasi yang menurut mereka sudah aman. Setelah memastikan situasi, mereka kemudian berjalan ke arah rumah Zahrana dan berputar menuju pintu belakang.
Bagian belakang rumah Zahrana dibangun dengan semi permanen. Bangunan dapur hanya menggunakan bahan papan dengan pintu sederhana yang terbuat dari triplek membuat pintu itu dengan mudah dapat dibuka. Dan benar saja, dua orang lelaki yang mengenakan baju hitam dan penutup wajah terlihat memasuki ruangan dapur sambil mengendap-endap.
"Tunggu di sini. Aku akan masuk ke dalam," ucap salah satu lelaki yang kemudian masuk ke dalam kamar di mana Zahrana sedang tertidur pulas.
Di depan pintu, lelaki itu masih sempat berdiri dan memperhatikan sekitar. Di atas meja, dia melihat satu toples kecil berisikan amplop hasil dari takziah warga yang datang menghadiri acara tahlilan tujuh hari. Wajahnya seketika tersenyum sembari melihat Zahrana yang masih tertidur.
Perlahan, dia berjalan ke arah tempat tidur dan berdiri sambil memperhatikan Zahrana yang masih terlelap. Dari balik sakunya, dia mengeluarkan sapu tangan berwarna putih dan satu botol kecil cairan bening. Cairan itu lantas ditumpahkan sedikit demi sedikit di atas sapu tangan itu.
Lelaki itu kembali memperhatikan Zahrana. "Seharusnya dari dulu aku tidak membawamu ke rumah ini. Kamu hanyalah anak yang membawa kesialan pada rumah tanggaku. Seharusnya dari dulu aku sudah melakukan ini padamu."
Tanpa belas kasih, lelaki itu kemudian menutup hidung Zahrana dengan sapu tangan. Gadis itu terkejut saat hidungnya ditutup dengan paksa. Tubuhnya berontak ingin melakukan perlawanan, tetapi nyatanya tubuhnya perlahan terdiam dengan mata yang kini terpejam.
Melihat Zahrana yang kini terbius, lelaki itu kemudian berjalan menuju lemari dan mengambil sertifikat rumah yang tersimpan di bawah lipatan pakaian. Tak hanya itu, toples berisikan amplop yang belum dibuka tak luput dari jarahannya. Setelah mengambil beberapa barang yang dianggap berharga, lelaki itu kemudian keluar dan memanggil temannya untuk masuk.
"Bawa dia!" perintahnya sambil menunjuk ke arah Zahrana yang sudah tak berdaya.
Lelaki itu kemudian masuk dan mengangkat tubuh Zahrana ke atas punggungnya. Setelah memastikan situasi, mereka kemudian meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju mobil yang masih menunggu. Tanpa kendala, mereka berhasil membawa Zahrana pergi dari rumahnya dan menghilang di kegelapan malam.
Saat menjelang pagi, Bu Rina datang dan mengetuk pintu rumah Zahrana yang belum juga terbuka. Padahal, biasanya sepagi itu Zahrana sudah bangun dan membuka jendela rumahnya serta menyapu halaman.
"Zahra, apa kamu sudah bangun, Nak?" Suara Bu Rina terdengar di balik pintu. Sambil mengetuk, dia terus memanggil nama gadis itu.
"Sudah jam sembilan kenapa Zahra belum juga bangun?" batin wanita itu yang mulai terlihat khawatir.
"Bu Rina, ada apa?" tanya salah satu tetangga yang berjalan mendekatinya.
"Ini, Zahrana kenapa belum bangun juga? Padahal, biasanya dia sudah bangun dari subuh, tetapi hari ini kok aneh."
"Iya, Bu. Biasanya 'kan dia sudah bangun. Coba kita ketuk lagi pintunya. Siapa tahu dia masih tertidur karena kelelahan."
Mereka kembali mengetuk pintu, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban. Karena khawatir, mereka akhirnya mendobrak pintu dan berlari masuk ke kamar. Mereka terkejut saat melihat rumah itu telah kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, hingga Bu Rina menemukan sebuah surat yang diletakkan di atas meja.
Wanita itu kemudian membuka lembaran kertas tak terlalu besar itu dan membacanya. Betapa dia terkejut setelah membaca isi surat itu.
"Bu, apa yang tertulis di kertas itu?" tanya salah satu tetangga yang penasaran.
Wanita itu terdiam karena tidak yakin dengan apa yang baru saja dibacanya. Semalam, Zahrana bilang padanya kalau dia akan tetap tinggal di rumah ini walau harus hidup sendiri. Namun, isi surat itu mengatakan hal yang berbeda. Zahrana telah pergi dan akan menjual rumah itu.
"Bu, apa ini tidak aneh? Apa mungkin Zahrana tega meninggalkan rumah peninggalan ibunya? Kalaupun pergi, dia akan pergi ke mana? Dia tidak pernah meninggalkan desa, tetapi kenapa dia pergi dan hanya meninggalkan surat ini?"
Kepergian Zahrana yang tiba-tiba menimbulkan kecurigaan bagi tetangganya. Pasalnya, gadis itu pergi tanpa membawa satu pun pakaian. Lemarinya masih penuh dengan pakaian yang terlipat rapi.
Walau ada kejanggalan dalam kepergian Zahrana, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu hilang bagaikan ditelan bumi, hingga satu per satu para tetangga meninggalkan rumahnya dan menutup kembali pintu rumah yang kini tak berpenghuni.
Sementara itu, Zahrana tengah terbaring tak berdaya di salah satu ruangan yang gelap. Ruangan yang tidak memiliki penerangan itu hanya diterangi cahaya matahari yang memaksa masuk dari balik ventilasi kayu.
Perlahan, Zahrana membuka matanya dan ingin mengucek matanya yang nanar, tetapi dia terkejut ketika tangannya tidak bisa digerakkan.
"Aku di mana? Kenapa tempat ini sangat gelap? Kenapa juga tanganku diikat?" batin gadis itu sambil menggerakkan tubuhnya, tetapi lagi-lagi dia tidak berdaya karena kedua kaki dan tangannya diikat dengan cukup kuat.
Menyadari dirinya yang kini terikat, Zahrana berusaha berontak dan berteriak, tetapi suaranya tidak terdengar karena mulutnya telah disumpal dengan kain. Di saat dia berusaha melepaskan diri, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka.
"Sebaiknya simpan tenagamu itu. Sekuat apa pun, kamu tidak akan bisa melepaskan diri. Jangan berpikir untuk lari dari sini karena kamu sudah dijual pada kami. Tenanglah, sebentar lagi kamu akan menjalani kehidupan yang lebih enak."
Dua orang lelaki yang baru masuk itu tampak tertawa hingga membuat Zahrana ketakutan.
Ruangan yang gelap semakin membuatnya takut dan menangis dalam diam. Ditambah dengan kenyataan yang baru saja didengarnya, kalau dirinya telah dijual entah oleh siapa. Yang dia tahu, semalam dia masih tidur di dalam kamarnya, tetapi kini dia terbangun di dalam sebuah ruangan yang gelap dan pengap.
Zahrana menangis dalam ketakutan ketika dirinya dibawa ke dalam sebuah mobil van berwarna hitam. Kedua matanya ditutup dengan tangan dan kaki yang diikat saat keluar dari ruangan itu.
Tak sampai di situ saja, mulutnya pun dibekap hingga tidak bisa berteriak. Yang bisa dilakukannya hanya menangis saat mobil itu melaju dan membawa dirinya entah ke mana.
Di dalam mobil, Zahrana mencoba untuk tetap tenang walau sebenarnya hatinya gelisah memikirkan nasib diri.
Suara deru mobil masih terdengar menyusuri lalu lalang jalan yang terdengar ramai. Namun, tak lama kemudian mobil itu berhenti.
Zahrana semakin ketakutan saat dirinya dipaksa keluar dari dalam mobil itu. Walau dia menolak dan mempertahankan diri untuk tidak keluar, tetapi apalah dayanya yang kembali tidak berkutik saat tubuhnya dibawa dengan paksa.
Zahrana tidak bisa mengelak saat tubuhnya diangkat dengan paksa. Walau terus berontak, tetapi semua sia-sia. Dia pasrah saat mendengar derap kaki yang menaiki anak tangga dan pintu yang terbuka. Di dalam sebuah ruangan, tubuhnya diletakkan.
"Pergilah, tugas kalian sudah selesai!" ucap seorang lelaki yang terlihat duduk di dalam ruangan itu sambil melemparkan sebuah amplop besar yang berisikan lembaran uang pada tiga orang lelaki yang membawa Zahrana.
Melihat lembaran uang di dalam amplop, ketiga lelaki itu tersenyum puas. "Terima kasih, Bos. Jika ada barang baru, kami akan membawanya pada Bos."
Ketiga lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Zahrana yang kini duduk ketakutan di sudut ruangan. Ikatan di kedua kaki dan tangannya dan juga penutup mata dan mulutnya belum juga dilepas, hingga membuatnya semakin ketakutan saat dia mendengar langkah kaki yang menuju ke arahnya.
Zahrana berusaha menghindar saat dia merasakan sentuhan tangan yang menyentuh wajahnya. Embusan napas seseorang bisa dirasakan begitu dekat di telinganya, hingga membuatnya mundur ke belakang.
"Kenapa kamu menghindar dariku? Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Tenanglah."
Zahrana merasakan ikatan penutup matanya sedang dibuka. Untuk sesaat, dia terdiam, hingga penutup mata itu terlepas. Matanya terasa silau saat dirinya membuka mata perlahan. Samar-samar pandangannya tertuju pada seorang lelaki yang kini duduk di depannya.
"Kenapa? Apa sekarang kamu masih takut padaku?" Lelaki itu tersenyum sambil membelai rambut Zahrana yang menutupi setengah wajahnya.
"Rupanya, ayahmu tidak ingin memilikimu, hingga dia tega menjualmu pada mereka. Dan sekarang, mereka sudah menjualmu padaku. Jadi, sekarang kamu adalah milikku. Paham!"
Zahrana terkejut saat mendengar ucapan lelaki itu. Dia tidak percaya kalau ayahnya tega melakukan ini padanya. Dia telah dijual oleh ayahnya sendiri.
Zahrana menundukkan wajahnya yang kini menangis. Sekasar apa pun sang ayah, dia tidak pernah berpikir kalau ayahnya bisa berbuat setega itu kepadanya.
"Sudahlah, tidak usah berpura-pura menangis. Air matamu itu hanyalah air mata palsu. Wanita seperti kalian tidak pantas untuk dikasihani!"
Lelaki itu kemudian berdiri dan mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusan yang tergeletak di atas meja. Asap rokok mengepul saat dia mengisap rokok yang sudah menempel di sudut bibirnya.
Zahrana menatap lelaki yang kini membelakanginya. Penampilannya terlihat maskulin. Lelaki dengan postur tubuh yang sempurna itu terlihat mengenakan setelan jas berwarna hitam.
Zahrana kembali memperhatikan sekitar ruangan dan dia terkejut saat melihat tempat tidur di dalam ruangan itu. Tak hanya itu saja, sebuah botol minuman beralkohol tampak teronggok di atas meja.
Perlahan, lelaki itu membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati Zahrana yang tampak mulai ketakutan. Air matanya sudah membasahi pipinya dengan tatapan mengiba.
Zahrana menggelengkan kepalanya saat tangan lelaki itu mulai menyentuh pipinya yang basah. Wajah lelaki itu kini berada tepat di depannya. Seketika, Zahrana memejamkan matanya sambil memundurkan tubuhnya kebelakang, tetapi aksinya itu terhenti karena tubuhnya terhalang tembok ruangan itu.
Zahrana tidak menyerah begitu saja. Dia masih berusaha menghindar dari sentuhan lelaki itu yang kini mengarah ke bagian lehernya. Melihat perlawanan Zahrana, lelaki itu hanya tersenyum sambil mengikuti Zahrana yang terus menghindar darinya.
"Baiklah, sudah cukup main-mainnya. Aku sudah tidak ingin lagi bermain-main denganmu. Sekarang, kamu harus melakukan tugasmu!"
Tiba-tiba saja, lelaki itu meraih tubuh Zahrana dan membawanya ke atas tempat tidur. Tubuhnya diempas begitu saja di atas ranjang empuk itu.
Tanpa basa-basi, lelaki itu kemudian membuka jasnya, hingga yang tertinggal hanyalah kemeja putih yang masih melekat di tubuhnya.
Zahrana terkejut saat lelaki itu kini berbaring di sampingnya dan membuka kain yang sedari tadi membekap mulutnya.
"Aku mohon, jangan lakukan ini padaku!" ucap Zahrana mengiba dengan air mata yang membasahi wajahnya saat lelaki itu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.